Sabtu, 21 Maret 2009

Puluhan Petani Kudus Ikuti Diklat Budidaya Tebu dengan Panen Cepat

Kudus, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Al-Mawaddah Kabupaten Kudus menggelar pelatihan Teknik Budidaya Tanaman Tebu bagi petani di Kudus, Selasa (23/8). Pelatihan ini diharapkan membuka paradigma baru di kalangan petani tebu bahwa untuk bisa panen menanam tebu tidak membutuhkan waktu tahunan.

Acara yang digelar di aula Pesantren Al-Mawaddah Honggosoco, Jekulo, Kudus, diikuti sebanyak 20 peserta petani yang berasal dari Kudus. Puluhan petani itu selama lima hari akan menerima materi yang disampaikan oleh para praktisi dan pakar berpengalaman dalam budidaya tebu.

Puluhan Petani Kudus Ikuti Diklat Budidaya Tebu dengan Panen Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Petani Kudus Ikuti Diklat Budidaya Tebu dengan Panen Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Petani Kudus Ikuti Diklat Budidaya Tebu dengan Panen Cepat

Kepala P4S Al-Mawaddah Sofiyan Hadi mengatakan, selama pelatihan yang akan berlangsung mulai 23-27 Agustus ini para peserta akan lebih ditekankan untuk berdiskusi langsung dengan narasumber sekaligus praktik.

"Dari total waktu yang tersedia selama 40 jam, 10 persennya teori. Selebihnya praktik. Karena kami ingin mengedukasi petani sekaligus bagaimana menjadi pengusaha," kata Sofiyan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara itu Koordinator Penyuluh Pertanian Kabupaten Kudus Ir Budi Sulistiyanto berharap pascapelatihan para petani dapat menghasilkan produk unggulan ke depannya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Tanaman tebu ini merupakan tanaman prioritas nasional, selain padi, susu, dan kakao (kopi-coklat). Jadi apabila nanti setelah pelatihan ini dapat dihasilkan produk unggulan tentu akan luar biasa," ujarnya.

Menurut Budi, sejauh ini petani tebu di Kudus mulai dari proses penanaman sampai pengolahan masih menggunakan cara konvensional, yakni bergantung pada luas lahan seperti persawahan. "Maka P4S Al-Mawaddah ini berkewajiban mendidik, melatih petani tebu. Bagaimana nanti para petani ke depan tidak cuma menanam lalu menjual begitu saja. Melainkan bisa mengolahnya menjadi produk siap jual," terangnya.

Ia menambahkan, tebu saat ini tidak harus ditanam di lahan seperti persawahan. Lahan kering pun dapat ditanami tentunya dengan varietas yang disesuaikan dengan kontur tanah.

Pada pelatihan ini tampak hadir narasumber Koordinator Penyuluh Pertanian Kudus Ir Budi Sulistiyanto, Dosen UGM dan Penemu Varietas Baru Tebu Ir RMT Gembong Danudiningrat, Kepala BBPP Ketindan Malang Edi Suprapto. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 18 Maret 2009

Lajnah Falakiyah Bimbing Penentuan Arah Kiblat

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Lajnah Falakiyah PBNU, Rabu (1/5) malam, menggelar Pelatihan Hisab-Rukyat yang kedua di Masjid an-Nahdlah, gedung PBNU, Jakarta Pusat. Kali ini, Lajnah Falakiyah mengulas materi cara menentukan arah kiblat yang benar.

Lajnah Falakiyah Bimbing Penentuan Arah Kiblat (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Bimbing Penentuan Arah Kiblat (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Bimbing Penentuan Arah Kiblat

Dalam kesempatan itu, Lajnah Falakiyah mengundang Ismail Fahmi dari Subdit Pembinaan Syariah dan Hisab Rukyat Kemenag RI sebagai pemateri. Ismail memaparkan beragam dalil, teori, dan petunjuk teknis berkenaan dengan arah garis lurus ke Masjidil Haram.

Menurut dia, masyarakat masih banyak yang tidak memperhatikan aspek arah kiblat dalam proses pembangunan tempat ibadah. Karena kurang teliti, sejumlah masjid dan mushalla yang ia temui tidak benar-benar lurus dengan arah Ka’bah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kebanyakan mereka masih menyamakan arah kiblat dengan arah barat. Padahal, barat tidak bisa jadi patokan,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pelatihan Hisab-Rukyat diikuti sekurangnya oleh 20 peserta dari Banten, Jakarta, dan sekitarnya. Peserta pelatihan dikenalkan dengan sejumlah garis khayal bumi, seperti garis lintang, garis bujur, dan garis ekuator. Tak hanya menetapkan koordinat Ka’bah, peserta juga dituntut praktik menghitung besaran sudut dari titik posisi pencari kiblat berada melaui rumus trigonometri.

Ismail mengaku telah menyederhanakan sejumlah konsep rumit penentuan arah kiblat demi kepraktisan proses pembelajaran. Dia menambahkan, berbagai prangkat modern yang muncul sekarang turut memfasilitasi proses penentuan arah kiblat kian sederhana.

“Yang penting di benak kita tertanam bahwa ilmu falak itu sebetulnya mudah,” tuturnya.

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan