Selasa, 27 Maret 2012

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Memperingati satu tahun kepemimpinan Jokowi-JK menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) limpah ruah ke jalan pada Senin (19/10) untuk mengingatkan pemerintah bahwa mereka sudah satu tahun menjadi nakhoda negeri ini, namun kehidupan rakyat semakin susah, ekonomi Indonesia semakin buruk, dan berbagai persoalan sosial terus terjadi.

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ingatkan Jokowi-JK Atas Setahun Pemerintahannya

Hal itu disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII DKI Jakarta Mulyadin Permana bahwa ada ratusan ribu kader PMII seluruh Indonesia, khususnya di DKI Jakarta turun ke jalan mengkritik kinerja Jokowi-JK sebagaimana diinstruksikan oleh Pengurus Besar (PB) PMII.?

PMII DKI Jakarta bersama PB PMII dan beberapa cabang PMII terdekat seperti PC PMII Ciputat, PC PMII Bekasi dan PC PMII Bogor menggelar demonstrasi di depan istana negara supaya bisa didengar langsung oleh Presiden Jokowi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Ratusan ribu kader PMII seluruh Indonesia hari ini turun untuk mengingatkan dan mengevaluasi kerja Jokowi-JK selama 1 tahun ini, khususnya para kader PMII Jakarta yang ada di 35 kampus," tutur Mulyadin.

Mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control tidak boleh lupa dan terlena dengan popularitas kepemimpinan Jokowi-JK, tetapi harus melihat secara jernih dan obyektif semua persoalan yang hadir karena ketidakmampuan pemerintah mengurus rakyatnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Mahasiswa (PMII) mengajak seluruh rakyat untuk menyadari apa saja yang telah diperbuat oleh pemerintah saat ini, kita tidak boleh terlena, apalagi tertidur melihat segala persoalan yang muncul," tegas Mulyadin.

Persoalan yang paling mencolok saat ini adalah soal ekonomi Indonesia yang merosot bahkan hampir terjadi krisis akibat Rupiah yang terus melemah, perusahaan-perusahan mulai mem-PHK-kan karyawannya, terjadi krisis dan konflik sosial seperti di Tolikara Papua dan Singkil Aceh, pembakaran hutan dan bencana asap, serta kebijakan impor pangan yang menyengsarakan para petani.

Atas segala persoalan tersebut, PMII mengindikasikan pemerintah tidak bekerja maksimal mengurus negara dan rakyat. Penyerapan anggaran di kementerian-kementerian pun tidak maksimal untuk kesejahteraan rakyat. Padahal rakyat saat ini sedang susah dimana harga kebutuhan terus naik sejak pencabutan subsisdi BBM oleh pemerintah beberapa bulan lalu. Ironisnya, utang luar negeri terus ditumpuk oleh pemerintah untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur yang tidak menyentuh langsung kesejahteraan rakyat, malah akan membebani rakyat karena utang dibayar oleh rakyat.

"Kita ingat janji Jokowi-JK ketika menaikkan harga BBM bahwa subsisdi BBM akan dialokasikan kepada proyek-proyek infrastruktur, namun faktanya negara ngutang 300 Triliun buat proyek-proyek tersebut, nah mana janji Jokowi-JK? Ke mana uang subsidi BBM? jangan-jangan dikorupsi oleh penguasa!" tegas Mulyadin.

Aksi PMII berjalan lancar dengan berjalan kaki dari stasiun Gambir menuju istana negara. Ratusan mahasiswa bernyanyi dan meneriakkan yel-yel yang dipimpin koorlap aksi melalui mobil komando. Belum lama aksi berjalan di depan istana, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan ratusan polisi. Karena semangat mahasiswa yang menggebu-gebu, mahasiswa mendorong polisi, dan disikapi represif oleh aparat kepolisian. Polisi memukul mahasiswa, menembakkan gas air mata, dan membubarkan massa aksi secara paksa. Ada puluhan mahasiswa yang terluka akibat pukulan dan injakan polisi.

"Kami sangat menyayangkan tindakan represif aparat kepolisian yang membubarkan paksa dengan memukul, menginjak dan menembakkan gas air mata kepada mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi depan istana. Ketua Umum PC PMII Jakarta Pusat sampai terluka parah karena diinjak-injak oleh polisi. Oleh karena itu, kami meminta polisi bertanggungjawab atas pemukulan kader-kader kami," tutur Mulyadin.

"Kami tidak ingin perjuangan kami mengevaluasi 1 tahun pemerintahan Jokowi-JK dinodai dengan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh aparat kepolisian yang digaji oleh rakyat," lanjut Mulyadin.

Dalam aksi Evaluasi 1 tahun Pemerintahan Jokowi-JK tersebut, PMII menuntut:

1. Tinjau ulang proyek infrastruktur yg berasal dr pinjaman luar negeri

2. Stabilkan nilai tukar rupiah

3. Percepat serapan APBN

4. Cabut ijin perusahaan pembakar hutan

5. Tolak impor pangan, wujudkan kedaulatan pangan

6. Wujudkan kedamaian beragama, negara harus menjamin hak beragama setiap warga negara

7. Usut tuntas kasus atas nama agama khususnya di Tolikara Papua dan Singkil Aceh. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 12 Maret 2012

Kebangkitan Umat (Juga) di Tangan Perempuan

Oleh Robbah MA

Tanggal 26 Maret kemarin menjadi puncak peringatan Harlah ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama. Ribuan anggota Muslimat dari berbagai penjuru daerah berbondong-bondong memenuhi Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur. Sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama, Muslimat telah membuktikan diri dengan benar-benar hadir di tengah umat.

Dalam sejarahnya, posisi perempuan acapkali ditempatkan pada posisi kelas dua. Stigma negatif tak bisa dilepaskan begitu saja dari kaum perempuan. Istilah ‘konco wingking’ (teman belakang) juga sering digunakan untuk mencerminkan hal negatif dari perempuan.

Namun kini, harus diakui sikap menomorduakan kaum hawa berangsur mulai berubah. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia telah memberikan ruang kepada kaum perempuan. Melalui Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Fatayat, dan Muslimat membuktikan bahwa Nahdlatul Ulama, secara nyata, telah memberikan perhatian besar atas hak-hak perempuan.

Kebangkitan Umat (Juga) di Tangan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Umat (Juga) di Tangan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Umat (Juga) di Tangan Perempuan

Muslimat, walau dalam proses berdirinya diwarnai perdebatan alot, namun dalam kiprahnya telah membuktikan bahwa berdirinya organisasi ini tidaklah mengecewakan. Muslimat hadir dengan serangkaian program kegiatan untuk turut membangun bangsa.

Hal inipun diakui Presiden Joko Widodo. Sebagaimana dilansir situs resmi Nahdlatul Ulama, pada puncak Harlah Muslimat kemarin (26/3), presiden menyampaikan apresiasi kepada Muslimat. Presiden menilai, bahwa selama 70 tahun berdiri, Muslimat telah memainkan peran yang sangat besar bagi bangsa dan negara. Muslimat berperan mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan hingga penangkalan radikalisme. Tentu apa yang disampaikan oleh presiden bukanlah hal yang berlebihan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Perempuan dalam sejarah?

Sejarah mencatat, baik dalam konteks keislaman maupun kenegaraan, perempuan telah memainkan peran penting. Terdapat tokoh-tokoh perempuan yang menjadi pemimpin, ulama, perawi hadits, dan peran lain yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Pada masa Nabi Muhammad, tercatat ada 1.232 perempuan yang menerima dan meriwayatkan hadits. Ummul Mukminin, Sayyidah Aisyah, bahkan tercatat sebagai bendaharawan hadits dengan 2.210 hadits. Asy-Syifa’, seorang perempuan yang pernah ditunjuk Khalifah Umar sebagai manajer pasar di Madinah.

Tak berhenti di situ, Nusaibah binti Ka’ab tercatat dalam sejarah sebagai perempuan yang memanggul senjata melindungi Nabi Muhammad ketika perang Uhud. Ada lagi Ar-Rabi’ binti Al-Mu’awwidz, Ummu Sinan, Ummu Sulaim, dan Ummu Athiyah yang beberapa kali ikut turun ke medan laga. Belum lagi Khadijah, istri pertama Rasulullah, seorang pebisnis sukses, yang berperan penting dalam kesuksesan dakwah Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam (Siradj, 2012: 245).?

Dalam bidang keilmuan bisa pula dihadirkan contoh manaqib Imam Syafi’i yang menyebutkan bahwa tokoh yang wafat pada 204 hijriah ini pernah berguru pada 16 ulama perempuan. Sementara kepemimpinan, di tanah Mesir pernah muncul Ratu Syajaratuddur, seorang penguasa putri dari Dinasti Mamalik. Di tanah Aceh Darussalam pula, sejumlah putri istana pernah menjadi raja atau sultan (Siradj, 2012: 248-250).

Selain yang telah disebut di atas, bagaimana peran kaum perempuan yang lain? Dalam kaitannya dengan sejarah Indonesia, selain kepemimpinan putri istana di Aceh Darussalam, Nyai Solichah Wahid Hasyim dan Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri bisa menjadi contoh lainnya (Baso, 2015: 194-200).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ada tiga peristiwa, yang paling tidak dapat mewakili bagaimana peran Nyai Solichah Wahid Hasyim. Pertama, Nyai Solichah Wahid Hasyim mengambil inisiatif untuk mengumpulkan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, baik laki-laki atau perempuan, untuk menyikapi situasi genting pasca Gerakan 30 September 1965. Kedua, ketika program Keluarga Berencana digulirkan pemerintah, Nyai Solichah turut menyosialisasikan dan melakukan pendekatan terhadap Nahdliyyin, guna turut andil dalam mengendalikan laju penduduk. Ketiga, ketika terjadi konflik di internal Nahdlatul Ulama, kelompok Cipete dan kelompok Situbondo, Nyai Solichah tampil mendekati, menjembatani dan mengarahkan pertemuan diantara dua kelompok yang berkonflik. ?

Sementara Ibunda Kiai Saifuddin, ia berperan penting dalam penyelamatan salahsatu ruh pergerakan, buku Mencapai Indonesia Merdeka, karya Soekarno. Saat itu, polisi kolonial Belanda terjun ke desa-desa yang disinyalir menjadi sarang aktifis nasionalis. Para polisi ini menggeledah rumah warga untuk mencari buku Soekarno tersebut, sebab isinya dianggap berbahaya. Ibunda Kiai Saifuddin, yang kala itu didatangi dua orang untuk diberi amanah mengamankan buku penting tersebut, tampil dengan menyimpan buku Soekarno itu dalam periuk nasi.

Hal yang tak terduga (baca: menyimpan buku dalam periuk nasi) akhirnya menyelamatkan buah pemikiran Soekarno. Langkah cerdas perempuan ini dapat menyelamatkan buku Mencapai Indonesia Merdeka, sehingga gagasan-gagasan sang proklamator (masih) dapat dikonsumsi publik.

Sekali lagi, dalam konteks sejarah, peran perempuan tidaklah mungkin diabaikan. Kini, di era modern dengan segenap derap langkahnya wanita bergerak, membangun, berkontribusi di wilayahnya masing-masing.

Pun bagi Muslimat. Program kegiatan yang dicanangkan harus senantiasa memberikan kemanfaatan. Dan deklarasi anti narkoba yang digelorakan pada puncak harlah ke 70 kemarin, telah menunjukkan hal itu. Muslimat bergandengan tangan dengan pemerintah untuk memeberantas narkoba; perusak generasi bangsa.?

Diumur yang tak lagi muda ini, Muslimat harus konsisten berpihak kepada umat. Muslimat tidak boleh terombang-ambing oleh arus politik dan kesenangan sesaat. Hal ini penting, sebab tak lama lagi Pilkada serentak jilid dua akan digelar. Dalam hal ini, suara Muslimat pasti menjadi rebutan.

Muslimat harus menjadi panutan. Muslimat harus berperan aktif dalam dakwah keagamaan yang santun dan eksklusif. Mandiri dengan ekonomi kreatif. Cerdas dengan pendidikan yang inovatif. Perempuan-perempuan Nahdlatul Ulama tak boleh ragu untuk menjadi pelopor kebangkitan umat.?





Penulis adalah? Mahasiswa Filsafat Politik Islam, UIN Sunan Ampel.? Koord. Lembaga Pers Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU)? UIN Sunan Ampel periode 2013-2014. ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Hikmah, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan