Rabu, 31 Mei 2017

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

Indramayu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Tak punya cukup dana guna ikuti Latihan Kader Utama (Lakut), Muhammad Hizbullah rela menjual dua ayam yang ia punya.

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hizbullah Jual Dua Ayam demi Ikut Kaderisasi IPNU

"Mau jual hape, tapi 50 (ribu) aja gak bakal dapet," ujar Bul, panggilan akrabnya, sembari menunjukkan ponsel miliknya yang layarnya retak-retak di Musalla PCNU Kabupaten Indramayu, Sabtu, (4/2).

Semangat tinggi Hizbullah dalam mengikuti kaderisasi pernah dilakukan oleh sahabat karibnya, Taufik, yang sekitar dua bulan lalu telah meninggalkannya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Opik, begitu ia biasa dipanggil, mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) dengan berjualan es kelapa muda. Ia bermimpi mengikuti jenjang kaderisasi tertinggi pelajar NU, yakni Lakut.

Menurut penuturan pengurus PC IPNU Indramayu Mumin, dalam keadaan kritis, Taufik tidak bisa diajak interaksi mengingat ia mengalami masalah pada sarafnya. Tetapi, ketika kata Lakut diperdengarkan, kader militan yang status akun Facebooknya penuh dengan ajakan kegiatan IPNU itu merespons dengan menganggukkan kepalanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Kalau kita ngomong Lakut, kepalanya mengangguk-angguk," ucap Mumin menggebu-gebu berbagi cerita pada Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid.

Katanya, PC IPNU Indramayu "ngotot" ingin menjadi tuan rumah Lakut untuk wilayah III Pantura itu karena khusus untuk menghormati perjuangan dan dedikasi Taufik.

"Ini kita hadiahkan khusus untuknya," ujarnya di hadapan rekan-rekan instruktur pimpinan pusat dan pimpinan wilayah.

Sebelum menutup acara, Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid secara khusus meminta semua peserta, panitia,dan instruktur mengirimkan hadiah Al-Fatihah untuknya. Seusai itu, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh Wakil Sekretaris Bidang Kaderisasi PP IPNU Abdullah Muhdi. (Syakirnf/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Lomba Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 29 Mei 2017

Pemerintah Siapkan Keppres Hari Santri 22 Oktober

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan Keputusan Presiden (Keppres) yang menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri.

"Tanggal 22 Oktober akan ditetapkan sebagai Hari Santri sedang ditunggu Kepresnya," kata Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa.

Pemerintah Siapkan Keppres Hari Santri 22 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Siapkan Keppres Hari Santri 22 Oktober (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Siapkan Keppres Hari Santri 22 Oktober

Ia menyebutkan penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri berdasar masukan dari berbgai pihak termasuk menteri terkait.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Mereka memberikan dukungan terhadap rencana penetapan Hari Santri tanggal 22 Oktober. Tanggal itu bukan hari libur nasional," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pramono menyebutkan kemungkinan pada 22 Oktober 2015 akan ada acara cukup besar di Jakarta, tetapi pada tanggal 22 Oktober 2015 juga ada rencana Presiden Jokowi menerima Ratu Denmark.

"Karena itu perlu pengaturan dan penyesuaian waktu," kata Pramono Anung. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan, IMNU, Sejarah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 28 Mei 2017

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Samarinda, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Awang Faroek Ishak mengingatkan masyarakat di daerah itu untuk meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) dari Marawi, Filipina.

"Pertempuran sengit antara pasukan Filipina melawan militan ISIS di Marawi, tentu harus menjadi perhatian. Bukan tanpa alasan, sebab waktu tempuh lokasi pertempuran itu hanya tiga jam dari wilayah pulau terluar Kaltim dan Kalimantan Utara," kata Awang Faroek, di Samarinda, Jumat (16/6).

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Kaltim Ingatkan Masyarakat Waspadai Masuknya ISIS Filipina

Gubernur mengimbau seluruh pihak agar meningkatkan kewaspadaan terkait kemungkinan masuknya kelompok ISIS yang melarikan diri dari Marawi.

"Kita perlu meningkatkan kewaspadaan sebab jangan sampai aksi dan gerakan radikal dari Filipina masuk dan menyusup ke wilayah Indonesia, khususnya Kaltim dan Kalimantan Utara. Kalau itu terjadi maka dikhawatikan nantinya bisa saling mencurigai dan menimbulkan pertentangan antaragama," tuturnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Oleh karena itu, para alim ulama, pemuka masyarakat, tokoh pemuda khususnya kepada forum maupun paguyuban yang sudah terbentuk untuk terus meningkatkan kewaspadaan dini, guna mencegah potensi gerakan radikalisme ataupun aksi-aksi terorisme masuk ke Kaltim," terang Awang Faroek.?

Pemprov Kaltim bersama seluruh pemangku kepentingan kata Awang Faroek, menyadari sepenuhnya bahwa tantangan semakin hari kian kompleks dan beragam.?

Termasuk lanjutnya, tuntutan perubahan dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara, sehingga kewaspadaan dini perlu terus ditingkatkan dalam upaya mencegah timbulnya potensi konflik.?

Pemprov Kaltim tambah Gubernur, terus berupaya membina kehidupan dan kerukunan hidup antarumat beragama.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Hal itu guna terciptanya kehidupan masyarakat yang seimbang dan selaras, sekaligus dapat mengatasi berbagai masalah sosial budaya sebagai dampak globalisasi dunia yang mungkin dapat merusak mental bangsa dan menghambat kemajuan umat beragama," paparnya.

Kaltim, kata dia, saat ini telah terbentuk beberapa forum maupun paguyuban yang memiliki peran dan tugas yang penting dan strategis dalam pembinaan kerukunan hidup antarumat beragama, sehingga tidak terjadi konflik seperti yang terjadi pada daerah lain di tanah Air.?

Gubernur menyatakan, keberadaan forum dan paguyuban yang mempunyai tugas dan fungsi memelihara kedamaian, ketentraman dan ketertiban masyarakat termasuk memfasilitasi terwujudnya kerukunan umat beragama di Kaltim, benar-benar dilaksanakan sesuai dengan tupoksinya.?

"Koordinasi dan dialog bersama dengan pihak terkait pemkab/pemkot, TNI/Polri, termasuk para tokoh dan pemuka agama yang tergabung dalam Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan forum lainnya, sangat membantu dalam mencegah konflik," tuturnya.?

Hingga saat ini, tandas Awang Faroek, kerukunan hidup umat beragama di Kaltim secara kualitatif dapat dikatakan berjalan cukup baik dan kehidupan antarumat beragama cukup harmonis. Situasi kondusif tersebut harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 27 Mei 2017

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Sumedang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tengah menyiapkan tiga bus bagi warga NU setempat untuk turut menghadiri Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015.

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjalanan ke Muktamar, NU Sumedang Ziarahi Makam-makam Wali

Rombongan terdiri dari para anggota dan pengurus lembaga, lajnah, dan badan otonom, dan pengurus Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) setempat. Rencananya, bus akan berangkat pada 30 Juli 2015 dengan rute perjalanan yang didahului dengan ziarah ke makam-makam para wali.

Sembari menuju ke lokasi Muktamar NU di Jombang, rombongan peziarah akan berdoa, antara lain, di makam Sunan Gunung Jati, Raden Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Giri.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menjelang perhelatan akbar tersebut, PCNU Sumedang juga mengadakan konsolidasi dengan semua pengurus dan Nahdliyyin tentang calon ketua dan calon rais aam PBNU yang akan dilipih nanti waktu Muktamar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Untuk menyikapi itu semua, Sadulloh selaku ketua PCNU Sumedang mengatakan bahwa sampai saat ini PCNU Sumedang belum menentukan pilihannya, baik untuk ketua umum dan rais aam PBNU.? Walaupun demikian PCNU Sumedang akan tetap mendukung siapapun yang terpilih nanti.

“Mudah-mudahan waktu muktamar nanti akan tetap kondusif,” ujar Sa’dulloh. Dalam pemilihan rais aam, PCNU Sumedang mendukung penerapan sistem pemilihan Ahlul Halli wal Aqdi atau mekanisme pemilihan tak langsung. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 25 Mei 2017

Pemkot Pontianak Wacanakan Syarat Khatam Quran untuk Masuk SMA

Pontianak, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Pemerintah Kota Pontianak, akan mensyaratkan masuk SMA/sederajat negeri di kota itu, bagi umat Muslim harus punya sertifikat khatam baca Al-Quran, kata Wali kota setempat, Sutarmidji.

Pemkot Pontianak Wacanakan Syarat Khatam Quran untuk Masuk SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkot Pontianak Wacanakan Syarat Khatam Quran untuk Masuk SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkot Pontianak Wacanakan Syarat Khatam Quran untuk Masuk SMA

"Sertifikat khatam Al-Quran tersebut harus ditandatangi oleh setingkat wali Kota Pontianak, kalau tidak maka murid yang bersangkutan akan dilakukan bimbingan khusus agar bisa cepat dalam mengenal Al-Quran," kata Sutarmidji dalam sambutannya pada acara khataman Al-Quran secara massal di Masjid Raya Mujahidin Pontianak, Ahad.

Sutarmidji menjelaskan, persyaratan tersebut dilakukan, agar generasi mendatang, terutama umat Muslim, tidak ada lagi yang tidak bisa membaca Al-Quran.

"Kedepan, saya targetkan, semua murid SD yang Muslim sudah harus bisa baca tulis Al-Quran, tamat SMP sudah khatam Al-Quran," ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Wali Kota Pontianak Sutarmidji menambahkan, tahun depannya, acara khataman Al-Quran akan lebih besar lagi, yang tetap akan dipusatkan di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.

"Hari ini ada sekitar 1.100 anak-anak SD yang mengikuti khataman Al-Quran massal hari ini, yang sekitar 90 persen dari murid-murid guru ngaji tradisional," ujarnya.

Menurut dia, selama ini, banyak masyarakat menilai sudah tidak ada lagi murid-murid dari guru ngaji tradisional. "Hari ini kami buktikan, ternyata masih banyak murid-murid dari guru ngaji tradisional yang ada di Kota Pontianak," ujarnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sutarmidji menambahkan, pelaksanaan khataman Al-Quran ini, memang benar-benar anak-anak yang khatam 30 juz Al-Quran dari guru-guru ngaji tradisional.?

"Tujuan dilakukannya khataman Al-Quran dan pembelajaran agama tersebut, agar generasi mendatang paham betul tentang ajaran agam Islam, sehingga tidak berbuat yang menyimpang, seperti menggunakan narkoba dan lain sebagainya," kata Sutarmidji.

Selain itu, dia juga meminta para penyuluh agama Islam dan guru ngaji agar mengajarkan kepada generasi muda bagaimana shalat yang baik dan benar menurut agama Islam. "Sehingga tidak ada lagi anak-anak muda yang tidak tahu bagaimana shalat yang baik dan benar," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan, Bahtsul Masail, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 23 Mei 2017

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jamiyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mutabaroh An-Nahdliyyah (Jatman) Provinsi Lampung menggelar Musyawaroh Idaroh Wusto (Musidwus) V yang dilaksanakan di Komplek Islamic Centre Lampung Timur. Musidwus yang berlangsung dari tanggal 15 Juni sampai dengan 18 Juni 2012 ini dilaksanakan untuk memilih kepengurusan Jatman Provinsi Lampung masa khidmat 2012-2014.

Sementara kepengurusan Jatman Pringsewu yang terdiri dari segenap Perwakilan dan Pengurus Thariqah di Kabupaten Pringsewu ikut serta dalam kegiatan tersebut. Pelepasan Rombongan dilakukan di Pendopo Kabupaten Pringsewu oleh Bupati Pringsewu KH. Sujadi Saddad pada tanggal 15 Juni 2012.

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Yahya Terpilih sebagai Mudir Jatman Lampung

Dalam pengarahannya, KH Sujadi mengharapkan Kegiatan Musidwus dapat berlangsung sukses dan rombongan dari Jatman Pringsewu dapat mengikuti kegiatan dengan baik dan aktif dalam sidang-sidang komisi yang akan dilakukan di Musidwus tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rombongan yang berjumlah 17 orang ini berangkat ke lampung Timur dan tiba pada pukul 15.00 WIB. Setelah melakukan registrasi peserta, rombongan mengikuti Acara Pembukaan yang diikuti oleh seluruh rombongan dari 14 kabupaten yang ada di Provinsi Lampung.

Salah satu sambutan Pembukaan yaitu dari Danrem Lampung yang mengharapkan seluruh Jamaah Thariqah yang ada di Provinsi Lampung untuk ikut andil bagian dalam menjaga keutuhan NKRI dan mengisi kemerdekaan yang telah diraih.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam Musidwus kali ini, terpilih sebagai Rais yaitu KH. Jamaluddin Al-Bustomi dan sebagai Mudir yaitu Habib Yahya As-Segaf. Sebagaimana diketahui bahwa Habib Yahya As-Segaf adalah Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Jati Agung Pringsewu yang dikenal energik dengan wawasan keilmuan yang sangat tinggi. Ia juga pernah menjadi Mudir Aam Jatman Kabupaten Tanggamus ketika Pringsewu masih berada di bawah Pemerintah Daerah Kabupaten Tanggamus.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Santri Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 22 Mei 2017

Penguatan Syuriyah Harus Jadi Pembicaraan di Muktamar

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Banyak perkembangan baru yang terjadi di internal Nahdlatul Ulama. Karena itu, Muktamar ke-33 NU mendatang harus bisa memberikan solusi atas sejumlah persoalan yang dihadapi jamiyah ini, termasuk soal penguatan posisi syuriyah di semua tingkatan.

Penguatan Syuriyah Harus Jadi Pembicaraan di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Syuriyah Harus Jadi Pembicaraan di Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Syuriyah Harus Jadi Pembicaraan di Muktamar

"Di antara yang harus menjadi perhatian adalah posisi syuriyah yang mestinya lebih dominan dan kuat serta berwibawa bila dibandingkan dengan tanfidziyah," kata H Muslimin Abdilla, Senin (13/4).

Sekretaris PCNU Jombang ini menandaskan bahwa dengan banyaknya peristiwa politik serta perkembangan organisasi di berbagai kepengurusan NU, terkadang ditemukan ketidakharmonisan hubungan antara syuriah dan tanfidziyah. "Bila ada kejadian seperti ini, mestinya komando berada di bawah syuriyah," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena dalam pandangannya, eksistensi dari NU adalah kebangkitan ulama yang direpresentasikan dalam jajaran syuriah. "Bahkan untuk memastikan superioritas ulama, dalam kegiatan konferensi hingga Muktamar NU di semua tingkatan, para kandidat ketua tanfidziyah serta ketua umum terlebih dahulu dimintakan persetujuannya kepada rais terpilih," ungkapnya. Bila ternyata rais atau rais am terpilih tidak setuju dengan salah seorang kandidat ketua umum atau ketua, maka secara otomatis yang bersangkutan tidak bisa bersaing dan dipilih sebagai calon, lanjutnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Keadaan ini semestinya memberikan pesan bahwa pemangku jabatan tertinggi di NU adalah kepengurusan syuriah yang memang diisi para kiai dan ulama pilihan. "Dan dalam perjalanan kepengurusan NU di semua tingkatan harusnya juga berlaku ketentuan tersebut, yakni para kiai dan ulama yang berada di kepengurusan syuriyah menjadi penentu bagi arah dan gerak NU," katanya. Sedangkan posisi tanfidziyah adalah pelaksana seluruh kebijakan strategis yang telah ditentukan para kiai dan ulama di syuriyah, lanjutnya.

Muslimin membandingkan betapa berwibawanya kepengurusan NU di awal pendirian. "Dalam sejarahnya, para pendiri atau muassis NU yang notabene para ulama-lah yang demikian dominan dalam perjalanan gerak dan langkah jamiyah," katanya.

Sedangkan peran tanfidziyah hanya menjadi pelayan dan pelaksana seluruh kebijakan strategis berdasarkan amanah hasil keputusan muktamar dan konferensi setempat.

"Dengan cukupnya waktu yang tersedia jelang muktamar, maka pembicaraan seputar masalah ini hendaknya mendapatkan perhatian para peserta muktamar," katanya. Tidak hanya fokus dalam membincang calon rais am maupun ketua umum, pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 18 Mei 2017

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) dalam doa di Istana Negara memuji Allah SWT atas nikmat kemerdekaan yang dikaruniakan kepada Bangsa Indonesia. Mbah Moen menyebut kemerdekaan Indonesia dari negara penjajah merupakan sebuah nikmat besar Allah yang patut disyukuri oleh anak bangsa Indonesia.

“Ya ilâhana, Agustus syahrul mu‘azzham ‘indanâ wa syahrul mu‘azzham ‘indaka (Agustus adalah bulan agung bagi kami dan bulan agung bagi-Mu),” kata Mbah Moen dalam salah satu rangkaian doanya pada majelis zikir Hubbul Wathan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (1/8) malam.

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Agustus Bulan Mulia Bangsa Indonesia dan Bulan Agung di Sisi Allah

Pada bulan Agustus Kaukirim utusan-Mu. Pada bulan Agustus ini Kauberikan pada kami nikmat hurriyah (kemerdekaan) wal istiqlal (berdikari). Kami sudah merdeka 72 tahun lalu, kata Mbah Moen dalam doanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mbah Moen juga meminta kepada Allah SWT untuk memberikan kekuatan kepada para pemimpin Republik Indonesia.

“Ya Allah, keberagaman Indonesia adalah nikmat-Mu. Semua ini meski berbeda-beda pada hakikatnya adalah satu, sesuai dengan firman-Mu li ta‘ârafû (untuk saling memahami). Kami berbeda-beda suku, ratusan bahasa, dan berbeda agama,” tegas Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia juga memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa.

Doa Mbah Moen ini diamini oleh ratusan jamaah yang hadir. Tampak puluhan ulama dan kiai dari pelbagai daerah di Indonesia, Presiden Jokowi, Wapres Jusuf Kalla, dan jajaran kabinet. Zikir ini diadakan dalam rangka mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada bulan Agustus. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, Warta, Amalan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 17 Mei 2017

Lakpesdam NU Cirebon Gelar Safari Khittah dan Halaqah Kaum Muda

Cirebon, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dalam rangka memeriahkan bulan harlah ke-82 Nahdlatul Ulama, Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Cirebon menyelenggarakan serangkaian acara, antara lain Safari Khittah NU dan Halaqah Kaum Muda NU.



Lakpesdam NU Cirebon Gelar Safari Khittah dan Halaqah Kaum Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Cirebon Gelar Safari Khittah dan Halaqah Kaum Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Cirebon Gelar Safari Khittah dan Halaqah Kaum Muda

Acara lainnya adalah bedah buku "Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan", launching pengajian dua bulanan, dan pengkaderan aktivis muda NU Cirebon. Sementara beberapa perlombaan seperti Cerdas Cermat ke-NU-an, karya tulis, marhabanan, dan musabaqah qiraatul kutub (MQK) dilaksanakan oleh Muslimat  NU dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon.

Acara safari khittah NU adalah kunjungan beberapa tokoh tua NU Cirebon bersama Para pengurus Lakpesdam NU Cirebon ke beberapa Majelis Wakil Cabang (MWC) atau kepengurusan NU di tingkat kecamatan. Sedikitnya ada 40 MWC di Cirebon.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Para kiai tua yang akan turut serta dalam rombongan bersama PC Lakpesdam NU Cirebon antara lain KH. Hasanudin Kriyani (Rais Syuriah), KH Syarif Utsman Yahya, KH Ibnu Ubaidillah Syatori, KH Hussein Muhammad, dan KH Aqsol Amri bersama PC lakpesdam NU Cirebon.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Di tingkat Cirebon safari ini adalah yang kedua. Rombongan safari khittah nanti akan mengunjungi beberapa MWC yang sudah siap," kata Ketua PC Lakpesdam Cirebon Ali Mursyid.

Safari ini nanti akan membincang beberapa hal penting seperti Khittah NU 1926 atau seputar asas dan cita-cita pendirian NU, tentang faham Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia, dan sejarah gerakan sosial NU.

Sementara itu halaqoh kaum muda NU yang diadakan PC Lakpesdam NU Cirebon akan bersifat Nasional yang akan mengundang para aktivis muda NU dari berbagai daerah. Konsep halaqoh tidak jauh berbeda dengan acara musyawarah warga NU dan muktamar pemikiran seperti sempat diakan beberapa waktu lalu.

Namun menurut koordinator acara halaqoh Nuruz Zaman, pertemuan kaum muda NU kali ini lebih khusus akan membincang gerakan-gerakan NU berkaitan dengan peran sosial-kemasyarakatan. Halaqah nasional ini akan diadakan pada puncak harlah ke-82 NU pada 31 Januari 2008 mendatang.(nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 16 Mei 2017

Kang Said: Indonesia Lebih Toleran dari Eropa dan Amerika

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua Umun PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, Indonesia memiliki keterbukaan lebih ketimbang negara-negara di Amerika dan Eropa soal menghargai kemajemukan agama. Di Tanah Air, penganut agama tak hanya menikmati kebebasan tapi juga penghargaan atas setiap hari besar keagamaannya, misalnya dengan penetapan hari libur nasional.

"Kita bisa lihat, di Amerika dan Eropa tidak ada itu yang namanya libur Idhul Fitri untuk umat Islam. Di Prancis, pemakaian jilbab juga dilarang," katanya di hadapan utusan PCNU se-Indonesia timur dalam acara Pra-Muktamar yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4).

Kang Said: Indonesia Lebih Toleran dari Eropa dan Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Indonesia Lebih Toleran dari Eropa dan Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Indonesia Lebih Toleran dari Eropa dan Amerika

Padahal di Indonesia, tambahnya, umat Budha dan Konghuchu yang meski pengikutnya tak seberapa, tetap merasakan keleluasaan merayakan hari agungnya. Menurutnya, hal ini dikarenakan umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia sangat mengormati perbedaan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kang Said, sapaan akrabnya, menyebut sikap keberislaman ini sebagai karakter Islam Nusantara sebagaimana yang dimiliki NU. Ia menegaskan bahwa Islam Nusantara tak melihat Islam sebagai doktrin aqidah dan syariah semata, melainkan juga tentang akhlak dan peradaban.

Kiai asal Cirebon, Jawa Barat, ini menyampaikan, Islam tak boleh lepas dari tanah air dan kebudayaan setempat. Karena itu, nasionalisme dan menghargai kearifan lokal bagi NU penting untuk menciptakan suasana keberagamaan yang damai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Man laila lahul ardlun laisa lahut tarikh. Wa man laisa lahut tarikh laisa lahu dzakirah. Barangsiapa tak punya tanah air maka ia tak punya sejarah. Dan barangsiapa tidak memiliki sejarah maka dia tidak memiliki karakter," ujar Kang Said.

Menurut pandangannya, dalam konteks hidup bernegara, cinta Tanah Air harus menjadi prioritas melebihi kelompok termasuk Islam. Hal inilah, kata Kang Said, yang tidak terdapat pada mayoritas Muslim di Timur Tengah sehingga dilanda konflik tak berkesudahan. "Islam saja tidak cukup, harus ada komitmen kebangsaan," tuturnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pondok Pesantren, AlaNu Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 14 Mei 2017

Asal-Usul Istilah Puasa Berasal dari Bahasa Sanskerta

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan?



Pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta M. Jadul Maula mengatakan, puasa berasal dari bahasa Sansekerta, upawasa. Menurut ahli bahasa Sansekerta, upawasa bermakna ritual untuk “masuk” ke Yang Ilahi.?

Asal-Usul Istilah Puasa Berasal dari Bahasa Sanskerta (Sumber Gambar : Nu Online)
Asal-Usul Istilah Puasa Berasal dari Bahasa Sanskerta (Sumber Gambar : Nu Online)

Asal-Usul Istilah Puasa Berasal dari Bahasa Sanskerta

Namun, kata dia, di Jawa dipakai juga istilah lokal, pasa, kemudian berkembang menjadi puasa yang bukan dari bahasa Sanskerta.?

Pasa artinya kekangan, mengekang, menahan sesuatu dari. Jadi, tradisi puasa sudah dikenal oleh agama-agama terdahulu, bahkan sebelum Hindu-Budha,” katanya ketika dihubungi Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan dari Jakarta,? Rabu (31/5). ?

Makna-makna puasa tersebut,lanjutnya, selaras dengan makna shaum atau shiyam di dalam ajaran Islam, yang berarti menahan diri dari makan, minum dan hubungan seksual, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut dia, puasa pada masa pra Islam, jika dilihat dari akar katanya, bertujuan spiritual. Karena makan, minum, serta berhubungan seksual cenderung menjauhkan atau melupakan kepada Tuhan.?

“Jadi, puasa itu bukan semata gerakan pasif defensif terhadap keinginan nafsu dan syahwat, tetapi sebetulnya gerakan aktif jiwa dan ruh kita mendekat kepada Tuhan,” lanjutnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kyai, Olahraga Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 10 Mei 2017

“Kang Bejo Jilid 2” Karya Mustasyar NU Karanganyar Diluncurkan

Karanganyar, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setelah sukses dengan buku “Kang Bejo” jilid pertamanya, Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, KH Abdullah Sa’ad meluncurkan buku keduanya, “Kang Bejo Jilid 2”.

“Kang Bejo Jilid 2” Karya Mustasyar NU Karanganyar Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)
“Kang Bejo Jilid 2” Karya Mustasyar NU Karanganyar Diluncurkan (Sumber Gambar : Nu Online)

“Kang Bejo Jilid 2” Karya Mustasyar NU Karanganyar Diluncurkan

Buku yang berisi inspirasi dan kesaksian Gus Dullah, sapaan akrabnya, yang didapat dari para gurunya tersebut diluncurkan bersamaan dengan Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad saw dan haul para wali dan masyayikh, di Pondok Pesantren Al-Inshof Sulurejo Plesungan Karanganyar, Ahad (10/4).

Ditegaskan Gus Dullah, pemberian judul buku “Kang Bejo” ini dimaksudkan agar para pembaca mendapatkan keberuntungan.?

“Saya ingin memberikan sentuhan yang berbeda, yaitu agar pembaca yakin bahwa sungguh percaya dengan firman Allah dan Sabda Rasul-Nya akan mendapatkan keberuntungan (kang bejo),” ungkapnya.

Sementara itu, Rais Syuriyah PCNU Karanganyar KH Ahmad Hudaya memberikan apresiasi atas penulisan buku “Kang Bejo” jilid 2 ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Buku Kang Bejo, isinya mahabbah, belajar cinta kepada Allah dan Nabi. Dulu, buku Kang Bejo pertama, seluruh hasil penjualannya untuk membangun masjid, semoga bisa tercapai,” kata Kiai Hudaya.

Selain peluncuran buku, Pesantren Al-Inshof juga mengadakan beberapa rangkaian acara yang dimulai sejak Sabtu (9/4). Acara yang diselenggarakan antara lain majelis manaqib, burdah, marawis gambus jalsah. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Lomba, Nasional Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 08 Mei 2017

Dari Benturan ke Konsolidasi: Tentang NU dan Buku Putih 1965

PENGURUS Besar Nahdlatul Ulama menerbitkan Benturan NU-PKI 1948-1965, buku yang dimaksudkan sebagai ‘buku putih’ untuk mengklarifikasi tentang keterlibatan NU dalam kekerasan 1965 dan posisi historis NU di masa lalu terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI).

Menarik, bahwa setelah sekian lama hidup dalam semacam ketabuan berbicara tentang PKI, komunitas Nahdliyin mulai berani berbicara tentang satu fragmen sejarah yang gelap dan berdarah, yang melibatkan mereka dengan salah satu ‘hantu’ dari masa lalu yang sering ditabukan di kalangan warga Nahdliyyin sendiri: PKI.

Kehadiran buku ini tak pelak berada pada situasi yang kontradiktif. Di satu sisi, ada keharusan untuk berbicara mengenai hal yang selama ini ditabukan, karena kesimpangsiuran yang menempatkan warga NU sebagai satu-satunya pelaku kekerasan dalam tragedi 1965 (imej yang secara sistematis dikonstruksi oleh diskursus neoliberal untuk mengaburkan peran militer, intelijen, dan kepentingan pengusaha asing dalam peristiwa 1965, dan untuk mengadudomba kekuatan rakyat yang terbentuk hari ini). Di sisi lain, ada keengganan yang masih kuat di kalangan NU sendiri untuk mengakui bahwa, ya, NU adalah pelaku, meskipun bukan satu-satunya, dan bahwa peran NU dalam kekerasan anti-komunis sangatlah signifikan.

Dari Benturan ke Konsolidasi: Tentang NU dan Buku Putih 1965 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dari Benturan ke Konsolidasi: Tentang NU dan Buku Putih 1965 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dari Benturan ke Konsolidasi: Tentang NU dan Buku Putih 1965

‘Buku putih’ ini menandai gejala yang, di satu sisi, kontra terhadap diskursus dominan dan hegemonik, namun di sisi lain, masih tetap berada dan memperkuat diskursus dominan dan hegemonik.

Siapapun warga Nahdliyin mengetahui bahwa tidak pernah mudah berbicara tentang sejarah 1965 tanpa sentimen kecemasan dan ketakutan tertentu. Dalam arti itu, sejarah 1965 telah mewariskan suatu sikap yang memaksa warga Nahdliyyin untuk berhati-hati berbicara, karena ini menyangkut suatu peristiwa yang telah memaksa orang-orang tua mereka dahulu sebagai eksekutor bagi rangkaian kekerasan tersebut. Suatu sikap kehati-hatian yang lebih disebabkan oleh keengganan untuk mengakui bahwa apa yang dilakukan generasi terdahulu merupakan suatu kesalahan, karena ini menyangkut ‘harga diri:’ mengakui bahwa mereka bersalah, berarti mengakui bahwa kita adalah cucu-cucu dan anak-keturunan dari pelaku kekerasan. Kehati-hatian ini sebenarnya merupakan suatu wilayah yang rentan, karena dengan segera, warisan ingatan sejarah 1965 justru di sisi lain menjadi warisan dendam yang kembali menjustifikasi kekerasan itu sebagai keharusan, dan bukan kesalahan yang harus dikritik dan diintrospeksi.

Demikianlah, dalam beberapa diskursus di kalangan NU sendiri, terdapat suara-suara dominan yang kembali mereproduksi wacana dan ketakutan-ketakutan lama tentang ‘bahaya komunisme,’ dan dengan demikian menganggap bahwa apa yang dulu dilakukan NU sudah benar dan sudah menjadi keniscayaan.

Apa yang ditakutkan di balik keengganan itu berkisar antara sentimen psikologis yang membuat warga Nahdliyin tidak mau dicap, menurut kategori-kategori HAM hari ini, sebagai ‘penjahat kemanusiaan’ atau sebagai keturunan dari ‘penjahat kemanusiaan,’ dan antara sentimen politis tentang perbedaan fundamental dan mendasar antara NU dan PKI sebagai dua entitas politik yang tidak mungkin bertemu dan niscaya berkonflik (NU agamis/PKI sekuler, NU moderat/PKI radikal, dst.). Kedua sentimen itu campur aduk sedemikian rupa sehingga dalam ketabuan yang sekian lama itu, warga Nahdliyyin tidak berani mempertanyakan sendiri apa alasan utama mereka mempermasalahkan PKI sedemikian rupa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak ada diskusi yang intens, terbuka, dan terus-terang di kalangan NU sendiri tentang apa sebenarnya yang menjadi ketakutan mereka terhadap peristiwa 1965 dan PKI. Setiap diskusi tentang hal tersebut selalu digiring, dengan satu dan lain cara, agar menjadi bahan renungan dan introspeksi secara individual agar peristiwa itu tidak berulang, dan agar tidak beredar desas-desus yang tidak perlu yang akan dapat meresahkan ‘masyarakat,’ dalam hal ini masyarakat warga Nahdliyyin yang dipandang ‘awam’ atau tidak tahu-menahu.

Penabuan itu terbukti tidak efektif, dan pada akhirnya, fragmen sejarah berdarah itu mau tidak mau harus kembali dibicarakan secara terbuka. Penabuan itu juga menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara ingatan generasi tua yang menghendaki agar persoalan itu tidak diungkap secara publik, dan terkadang masih menjustifikasi diri bahwa NU tidak melakukan kesalahan dalam tragedi itu, dan kegelisahan generasi muda yang selalu mencari tahu mengenai mata rantai yang hilang dalam gerakan kerakyatan yang mereka bangun, pasca-eksterminasi massal 1965, serta dalam sejumlah kasus, mereka yang penasaran dengan keterlibatan orang tua atau kakek-nenek mereka dalam rentetan peristiwa 1965.

Kultur dan kekhasan tradisi Nahdliyyin yang tidak memungkinkan generasi muda melawan generasi tua—karena rasa takzim dan persambungan batin yang terikat antara santri dan kiainya—mempunyai efek ganda bagi kesenjangan itu. Karena memori samar-samar tentang kasus 1965 itu berhenti mereproduksi sentimen balas dendam antara NU dan para tertuduh PKI (ketika pada era Orde Baru kelompok-kelompok militer tetap melancarkan propaganda anti-komunis), dan inilah yang memberi ruang bagi generasi muda NU, terutama pasca-Reformasi, untuk mencari sejarah yang hilang itu dengan caranya sendiri dan menggalang aksi-aksi perdamaian di akar rumput. Namun, kesenjangan itu di sisi lain juga mereproduksi pengabaian, kesenyapan, ‘kenaifan’ kolektif dalam jangka waktu yang lama, di mana warga Nahdliyyin, dengan ditutup-tutupi akses untuk mewacanakan kasus 1965, demi alasan untuk tidak mengungkit-ungkit luka sejarah, tidak diajak benar-benar mengerti duduk persoalan kasus ini dan keterlibatan NU di dalamnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengabaian, kesenyapan, dan ‘kenaifan’ itu pastinya akan berakhir, karena berbagai bukti dan referensi sudah membuka mata bahwa kekerasan 1965 dan pasca-1965 merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara struktural untuk menghancurkan gerakan kerakyatan, dengan menjadikan massa PKI sebagai tumbal, dan memuluskan agenda-agenda ekonomi-politik pasca-Orde Lama. Diakui atau tidak, faktanya telah terjadi kekerasan yang massif, penghilangan paksa, dan penahanan tanpa proses hukum terhadap mereka yang dituduh komunis, yang dampaknya masih kuat dirasakan hingga hari ini. Dan dalam rentetan peristiwa itu, warga Nahdliyyin adalah salah satu elemen yang paling strategis untuk dimobilisasi dalam percepatan proses kekerasan sistematis itu, mengingat basis massa Nahdliyyin yang besar dan merupakan kekuatan yang paling diperhitungkan selain massa PKI sendiri.

Tidak perlu disinggung lagi bahwa yang paling diuntungkan oleh konfrontasi antara dua kekuatan massa terbesar ini adalah militer. Konflik antara NU dan PKI melempangkan jalan bagi kekuatan militer, yang di era Orde Baru menunjukkan watak yang sebenarnya sebagai kekuatan yang otoriter dan represif. Sementara NU ‘berjasa’ memfasilitasi naiknya militer, NU pada era Orde Baru pada akhirnya dieksklusi dari panggung, karena dianggap kekuatan massa yang potensial, dan warga Nahdliyyin tetap termarjinalisasi dan tidak mendapatkan kompensasi apa-apa dari ‘jasa’-nya.

Kenyataan pahit selama Orde Baru, idealnya menjadi pembelajaran bagi warga Nahdliyin bahwa dalam kasus 1965, bukan saatnya lagi mencari siapa pihak yang paling dipersalahkan, NU atau PKI. Karena keduanya, pada dasarnya, merupakan korban dari proses penghancuran gerakan kerakyatan secara struktural yang berlangsung dalam transisi antara Orde Lama dan Orde Baru. Dalam hal ini, diskusi yang berkutat semata-mata pada siapakah yang paling berhak dianggap korban antara NU dan PKI, antara ‘kita’ dan ‘mereka,’ akan menjebak ke dalam konteks yang sempit dan parsial, karena memisahkan konteks yang lebih luas yang melatari konflik antara dua massa besar itu.

Tetapi, bukankah ‘buku putih’ ini, dengan dijuduli ‘Benturan NU-PKI,’ tetap bergerak dalam logika yang parsial itu? Jika demikian, pertanyaannya: siapakah yang kembali diuntungkan dengan logika parsial itu? Jika ‘buku putih’ ini semata-mata untuk mengklarifikasi posisi NU sebagai korban PKI, bukankah klarifikasi itu pada gilirannya, dengan mengabaikan konteks struktural yang lebih luas, akan ‘memutihkan’ juga peran militer?

Fakta konflik antara NU dan PKI yang coba diangkat ‘buku putih’ itu dapat berkembang ke dalam dua kemungkinan: menebalkan kembali keengganan untuk mengakui kesalahan NU dalam peristiwa 1965 dan pasca-1965, dengan demikian, mundur sekian langkah dari gagasan progresif Gus Dur yang sudah mengakui kesalahan itu, sekaligus mendorong NU secara tanpa sadar ke dalam pelukan rezim impunitas dan tatanan neoliberal yang tidak mengakui kejahatan kemanusiaan pada 1965 dan tidak menghendaki bersatunya anasir kerakyatan.

Atau, membuka titik terang bagi diskusi yang lebih terbuka tentang kemungkinan konsolidasi antara NU dan gerakan-gerakan kerakyatan, yang model pengorganisasiannya dahulu mungkin pernah dieksperimentasikan oleh PKI dan yang lain-lain, tetapi keburu gagal karena dihancurkan. Kemungkinan kedua ini mensyaratkan, tentu saja, pengenalan secara terbuka dan objektif terhadap peran PKI dalam sejarah Indonesia—keberhasilan dan kegagalannya, baik dan buruknya, kelebihan dan kekurangannya, dst.; terhadap apa itu komunisme sebagai suatu gagasan sosial dan politik, terhadap segala hal yang dulu begitu identik dengan PKI, yang, karena penabuan sekian lama, menjadi terdengar begitu menakutkan.

Bukan hal yang aneh, bahwa Gus Dur — lagi-lagi Gus Dur — sebagai warga Nahdliyyin memulai hal itu dengan membaca pada usia dini tulisan-tulisan Karl Marx dan Lenin, dan membawanya berkenalan dengan gagasan-gagasan yang dulunya dianut PKI tanpa harus menjadi PKI. Contoh Gus Dur itu hanya simptom bagi ‘buku putih’ ini: keberanian buku ini untuk menyandingkan NU dan PKI dalam satu tarikan napas yang sama, ‘NU-PKI’— satu hal yang nyaris tidak terbayangkan beberapa puluh tahun silam di kalangan warga Nahdliyyin—bisa jadi menandai awal baru bagi warga Nahdliyyin untuk memikirkan relasi baru antara NU dan PKI, bertolak dari kekelaman masa lalu bersama (common past), untuk memulai suatu fase yang lebih maju daripada rekonsiliasi kultural (islah) yang selama ini sudah terbangun. Bisa jadi. Selama ‘buku putih’ itu tentu saja tidak dianggap sebagai satu-satunya buku sejarah resmi tentang 1965 yang mengikat dalam kurikulum pembelajaran sejarah kaum Nahdliyyin.

*Ketua Tanfidziyah PCI NU Prancis

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Olahraga, Pemurnian Aqidah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 07 Mei 2017

10 Ribu Peserta Meriahkan Harlah Bersama NU Cilongok

Banyumas, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan? . Tak kurang 10 ribu peserta mengikuti karnaval dan jalan sehat dalam rangka memperingati hari lahir Nahdatul Ulama (Harlah NU) dan Badan-badan otonomnya di Lapangan Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas pada Ahad (29/3).?

Kegiatan ini diselenggarakan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas ini diikuti oleh pengurus dan anggota MWC NU, LP Maarif NU, Muslimat NU, GP Ansor NU, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Cilongok.

10 Ribu Peserta Meriahkan Harlah Bersama NU Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Ribu Peserta Meriahkan Harlah Bersama NU Cilongok (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Ribu Peserta Meriahkan Harlah Bersama NU Cilongok

Ketua Panitia, Nafi Fairus Maulana mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar pengurus MWC NU dan badan otonom di bawahnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan semangat berorganisasi dan mencari kader-kader NU yang handal," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menjelaskan, peringatan harlah kali ini merupakan penggabungan peringatan harlah ke-89 Nahdatul Ulama, Harlah ke-69 Muslimat NU, Harlah ke-81 GP Ansor, Harlah ke-68 Fatayat NU, Harlah ke-61 IPNU dan Harlah ke-60 IPPNU tahun 2015.?

"Kegiatan ini memang sengaja disatukan, meskipun rangkaian kegiatannya sudah dimulai sejak bulan Januari," katanya.

Nafi menambahkan, peserta terbagi menjadi dua kategori, yakni kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan umum. Kategori PAUD terdiri dari anak-anak Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak (TK) di bawah naungan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Kecamatan Cilongok.

Sedangkan Kategori umum terdiri dari siswa-siswi MI, MTs, MA, SMK, anggota dan pengurus MWC NU, LP Maarif NU, Muslimat NU, GP Ansor NU, Fatayat NU, IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Cilongok.

"Untuk kategori PAUD start dari Lapangan Desa Karanglo menggunakan kendaraan bermotor, sedangkan untuk kategori umum start dari Lapangan Desa Cikidang dengan jalan kaki, nantinya semua peserta finish di Lapangan Kecamatan Cilongok" katanya.

Sementara itu Ketua MWC NU Kecamatan Cilongok Kiai Arif Mufti berharap dengan kegiatan tersebut dapat memupuk semangat persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.

Sehingga, kata dia, dapat terhindar dari faham-faham yang melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya, seperti ISIS yang saat ini sedang mengancam Islam di dunia. "Semoga Islam Indonesia semakin jaya,” katanya.?

Adapun untuk pemenang karnaval, untuk Kategori PAUD juara 1 diraih oleh TK Diponegoro 07 Desa Panusupan dengan total nilai 1.040, juara 2 diraih oleh TK Diponegoro 86 Pernasidi dengan total nilai 975, dan juara 3 diraih oleh Kelompok Bermain Taman Hati Desa Panembangan dengan total nilai 940.

Kemudian untuk Kategori Umum, Juara 1 diraih oleh MTs Maarif NU 2 Cilongok dengan total nilai 149, juara 2 diraih oleh SMP Maarif NU 1 Cilongok dengan total nilai 146, dan juara 3 diraih oleh Pimpinan Ranting (PR) IPNU-IPPNU Desa Gununglurah dengan total nilai 145. (Agus Riyanto/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, AlaSantri, Sejarah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 05 Mei 2017

Muslimat NU Probolinggo Upayakan Data Valid Anggota

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo, Ahad (26/3) mengadakan diskusi antara pengurus Pimpinan Cabang (PC) dengan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Lumbang. Diskusi itu bertema “Menyatukan Langkah Untuk Membangun Muslimat NU Kabupaten Probolinggo”.

Kegiatan yang diikuti 50 orang pengurus Muslimat NU ini dihadiri Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Lumbang Kiai Syaiful dan segenap pengurus PAC Muslimat NU Kecamatan Lumbang.

Muslimat NU Probolinggo Upayakan Data Valid Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Upayakan Data Valid Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Upayakan Data Valid Anggota

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj. Nurayati mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merefleksi kembali kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan sekaligus memvalidkan data anggota by name by addres mulai dari segi pendidikan maupun ekonomi.

“Serta mendata jumlah UKM yang dimiliki Muslimat NU. Dengan demikian, data yang kita miliki bisa digunakan sebagai acuan d? lam pelaksanaan program sel? njutnya. Sehingga kegiatan yang kita lakukan sesu? i dengan potensi masing-masing PAC,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Melalui diskusi ini Nurayati mengharapkan nantinya ada keselarasan antara kegiatan anak ranting, ranting, PAC dan PC berdasarkan potensi dari masing-masing daerah. “Permasalahan yang semakin komplek bisa cepat teratasi,” pungkasnya.

Sementara Ketua MWCNU Kecamatan Lumbang Kiai Syaiful menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini sangat positif sekali dan perlu untuk terus ditingkatkan. Pasalnya dengan kegiatan ini, komunikasi antar pengurus Muslimat NU di semua tingkatan akan terjalin dengan baik sehingga program kerja bisa terlaksana tepat sasaran dan tepat waktu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kegiatan ini tentunya bisa semakin mempererat jalinan tali silaturrahim diantara sesama pengurus Muslimat NU. Sehingga ke depan, para pengurus Muslimat NU bisa bersama-sama menghadapi tantangan NU yang semakin kompleks,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax, Kajian Islam, Pemurnian Aqidah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 04 Mei 2017

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung melakukan aksi teatrikal di depan gedung Gymnasium UPI pada Rabu, 18 Desember 2013.

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Gelar Aksi Solidaritas untuk Mahasiswa Kesulitan Biaya

Gerakan tersebut tercetus sebagai solidaritas atas mahasiswa UPI yang sedang mengalami kesulitan biaya di tengah bayaran kuliah yang sangat mahal, terutama mahasiswa baru yang sampai saat ini menyandang status penangguhan. Teatrikal tersebut bersamaan dengan acara wisuda bagi mahasiswa UPI yang telah menyelesaikan proses studinya.

“Gerakan ini merupakan propaganda yang bertujuan untuk memberikan pencerdasan kepada semua orang bahwa di UPI masih banyak mahasiswa yang saat ini kebingungan untuk membayar SPP,” cetus Mujia Rosiadi selaku Kordinator Lapangan aksi tersebut melalui per rilis yang dikirim kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, Kamis (19/12).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Aksi itu dilakukan dengan membagikan tulisan mengenai kondisi mahasiswa yang terancam cuti paksa, penampilan seni, shalat berjamaah, doa bersama dan penyebaran kencelng (celengan) bagi yang ingin memberikan bantuan.

Muhammad Ridwan selaku Ketua PMII Komisariat UPI memaparkan, aksi ini merupakan inisiatif sekaligus bentuk follow up Mapaba, karena yang mempersiapkan gerakan ini adalah anggota PMII yang baru saja menjalani proses kaderisasi pertama tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ridwan juga menjalaskan bahwa sebenarnya di UPI terdapat lembaga yang menampung anggaran dana untuk mahasiswa yang tidak mampu, hanya saja karena kemarin UPI dilaporkan terindikasi korupsi sehingga lembaga tersebut sedang dalam proses audit dari Inspektorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Namun yang anehnya, audit tersebut telah berjalan lama dan sampai sekarang belum ada keputusan dari Dikti. Hal itu menjadi alasan bagi UPI untuk tidak mengeluarkan dana bagi mahasiswa yang membutuhkan, padahal dana yang ada mencapai miliyaran.

Ketua angkatan Mapaba ke-7 Komisariat UPI Deden Indra berharap semakin banyak orang yang sadar bahwa pendidikan itu bukan hanya kebutuhan orang kaya tetapi seluruh manusia, yang kaya dan miskin. “Ternyata, di balik kebahagiaan yang diwisuda, masih banyak mahasiswa yang mencari uang untuk biaya kuliah,” ungkapnya.

Gerakan tersebut berakhir dengan pembacaan do’a, dan seluruh peserta aksi kembali ke tempat. (Abdulllah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Quote, Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 02 Mei 2017

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Mercon atau petasan, tidak ada hubungannya dengan Islam. Penggunaannya pada hari Raya Idul Fitr atau Lebaran oleh sebagian kalangan dianggap bid’ah sesat karena tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW serta tak berfaidah sama sekali.?

Namun, Berita Nahdlatul Oelama (selanjutnya BNO) berpendapat lain, mercon untuk semarak Lebaran merupakan bagian syiar Islam. Tengok misalnya pada majalah yang diterbitkan HBNO di Surabaya tersebut terbitan 7 November 1940 halaman 15:?



NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Mercon Lebaran Masa Penjajahan Belanda

Sampik sekarang masih banyak orang Islam yang berkelebihan sikep pada mertjon; ada jang anti dan ada jang keliwat dojan ja’ni sampik jang djenggoten, atau sampik meloepakan jang lebih perlu apa lagi sampik oetang atau gade-gade.? Keduanya menurut pikiran Garagoesy, nama ini entah penulis entah kelompok atau majalah lain, yang ada pada majalah itu, sama salahnya. Ia mengatakan,?



Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jang pertama hendak menghilangkan keramaiannya hari orang Islam memperlihatken hari besarnya. Jang pertama bilang: itoe mertjon boekan perintah agama. Itoe memang betoel.? Namun, kata penulis itu, apa mercon saja yang bukan perintah agama yang dilakukan kalangan Muslimin saat Idul Fitri? Kenapa mercon saja yang dimusuhi sedang perkara-perkara yang memusuhi Islam 10 ribu persen dipelihara. Namun sayangnya penulis tidak merinci perkara-perkara tersebut.

Lantas penulis mengajak untuk mengkaji kembali tentang larangan membakar mercon tersebut waktu itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari mana asalja anti mertjon itoe? Kan kembali kepada orang-orang jang soedah terkenal…nggak soeka sama Islam!!! Mereka bilang itoe pemborosan. Jah, itoe betoel kalau kelewat bates. Tapi apa tidak ada lain matjem pemborosan jang dipiara baik oleh mereka? Dan kaloek kita kritik kita dapat tjap ….kolot?Sepertinya memang mercon dilarang waktu itu. Pelarangnya tiada lain adalah pemerintah Hindia Belanda. Kalaupun tidak dilarang, pemerintah jajahan waktu itu mengatur atau membatasi penggunaan mercon. Majalah tersebut pada No 1 tahun 10 (diperkirakan edisi Oktober 1940), mengutip berita dari Balai Pustaka.



Atas nama Legercommandant dikabarkan:

Berhoeboeng dengan larangan memasang petasan (mertjon) maka banjaklah timboel pertanyaan. Oleh sebab itoe diterangkan disini, bahwa larangan itoe mengenai segala matjam petasan dan jang sebangsanya. Djadi bukan petasan (mertjon atau bedil-bedil jang biasa sadja, melainkan djuga kembang api dan petasan banting).?

Oleh karena berhoeboeng dengan lebaran jang akan datang ini banjak permintaan jang masoek, maka sekarang lagi dipertimbangkan diberi tidaknja izin orang memasang petasan itoe, djadi diberi tidaknja atas larangan tersebut.?

Tidak lama lagi bisa rasajnadiberitakan poetoesan tentang itoe.?

Pada edisi tahun ke-10 BNO mengangkat berita berjudul “Mertjon Waktoe Lebaran” seperti berikut:?



Dengan memperloeas jang telah ditentoekan dalam beslitnya 28 Augustus 1941 Nr.4068/G.S. III-9, soedah diizinkan oleh Leggercommandant membakar mertjon pada malam sebeloem 1 Sjawal (21 Oktober) dan pada 1 Sjawal (22 Oktober) tetapi dalam hal itoe haroeslah diperhatikan djoega apa-apa jang ditentoekan dan atau jang dilarang oleh Bestuur.?

(D.v.O. verstrekt)?

Sekadar diketahui, BNO memiliki moto “Majalah Islamiyah Umumiyah”. Terbit dua minggu. Pada tiap jilid, dijelaskan Made Redacteuren j.m. K.H. Hasjim Asj’arie Teboeireng Djombang, j.m. K.H. Abduwahab Chasbullah Soerabaja, j.m. K.H Bisri Denanjar Djombang. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Syariah, Berita, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan