Selasa, 31 Oktober 2017

Hukum Puasa, Tapi Tinggalkan Shalat

Shalat merupakan ibadah pokok dalam Islam dan wajib dikerjakan bagi orang yang sudah memenuhi persyaratan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa shalat ialah amalan pertama yang dilihat (hisab) Allah di hari akhirat kelak (HR Ibn Majah).

Bahkan dalam hadits lain dikatakan, “Antara hamba (mukmin) dan kafir ialah meninggalkan shalat,” (HR Ibnu Majah). Maksudnya, meninggalkan shalat dapat menjadi perantara seorang untuk menjadi kafir.

Hukum Puasa, Tapi Tinggalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Puasa, Tapi Tinggalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Puasa, Tapi Tinggalkan Shalat

Dua hadits yang dikutip di atas menunjukan betapa pentingnya mengerjakan shalat. Terlebih lagi, terdapat kesepakatan ulama (ijma’) bahwa shalat termasuk kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Siapapun yang sudah memenuhi persyaratan, mesti mengerjakannya dalam keadaan apapun dan sesulit apapun. Selain puasa, terdapat kewajiban pokok lain yang hukumnya setara dengan shalat, seperti puasa, haji, dan zakat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kemudian, bagaimana hukumnya mengerjakan puasa, tetapi tidak mengerjakan shalat? Apakah puasanya masih dihukumi sah mengingat shalat sebagai amalan utama dan pokok?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti merinci terlebih dahulu atau paling tidak bertanya kepada orang yang tidak shalat tersebut, kira-kira apa alasannya meninggalkan shalat. Apakah karena mengingkari kewajibannya atau lantaran malas. Sebab keduanya memiliki implikasi hukum yang berbeda-beda. Hasan Bin Ahmad al-Kaf dalam Taqriratus Sadidah fi Masail Mufidah menjelaskan:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ?: ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ?........? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ada dua kondisi orang yang meninggalkan shalat: meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya dan meninggalkan shalat karena malas. Orang yang masuk dalam kategori pertama, maka ia dihukumi murtad. Sementara orang yang meninggalkannya karena malas, hingga waktunya habis, maka ia masih dikatakan muslim.”

Berdasarkan pendapat ini, orang yang tidak mengerjakan shalat karena mengingkari kewajibannya, puasanya batal secara otomatis. Sebab dia sudah dianggap murtad dan keluar dari Islam termasuk hal yang dapat membatalkan puasa. Sementara puasa orang yang tidak mengerjakannya karena malas atau sibuk, statusnya masih muslim dan puasanya tidak batal secara esensial.

Kendati puasanya tidak batal secara esensial atau secara hukum fikih tidak dianggap batal dan tidak wajib qadha, namun puasanya tidak bernilai apa-apa dan pahalanya berkurang. Dalam Taqriratus Sadidah disebutkan:

? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? – ? ? ? ?- ? ? ? ? ?.

Artinya, “Pembatalan puasa itu dibagi menjadi dua kategori: pertama, pembatalan yang merusak pahala puasa, namun tidak membatalkan puasa itu sendiri. Kategori ini dinamakan muhbithat (merusak pahala puasa) dan tidak diwajibkan qadha; kedua, sesuatu yang dapat membatalkan puasa dan merusak pahalanya. Bila melakukan ini tanpa udzur, maka wajib mengqadha puasa di hari lainnya. Kategori ini dinamakan mufthirat (membatalkan puasa).

Menurut penulis, meninggalkan shalat itu dapat dikategorikan sebagai muhbithat al-shaum. Dia tidak merusak keabsahan puasa, tetapi dia merusak pahala puasa. Sehingga, ibadah puasa yang mereka kerjakan tidak bernilai di hapadan Allah. Meskipun demikian, dia diharuskan untuk tetap berpuasa sebagaimana mestinya dan mengqadha shalat yang ditinggalnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Syariah, Sejarah, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 30 Oktober 2017

Pelajar NU Larangan Lor Ziarahi Makam Pendiri IPNU-IPPNU

Wonosobo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dalam rangka memperingati harlah organisasi, puluhan pelajar NU Larangan Lor kecamatan Garung menziarahi makam pendiri IPNU di kompleks makam keluarga KH Munawir Dongkelan dan pendiri IPPNU di kompleks makam pesantren Sunni Darussalam Tempelsari Maguwoharjo Sleman, Sabtu (8/3).

Pelajar NU Larangan Lor Ziarahi Makam Pendiri IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Larangan Lor Ziarahi Makam Pendiri IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Larangan Lor Ziarahi Makam Pendiri IPNU-IPPNU

Ketua panitia Ulfi Hamdan mengatakan, “Ziarah ke makam pendiri IPNU-IPPNU merupakan upaya untuk menghidupkan perjuangan-perjuangan para pendiri di samping pelestarian tradisi ziarah.”

Ditemani beberapa rekan dari PC IPNU Sleman, rombongan ziarah mengelilingi kota Yogyakarta untuk berziarah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Ranting Larangan Lor merupakan ranting pertama yang menziarahi makam pendiri IPNU dan IPPNU. Peziarah makam pendiri bisasanya kader pelajar NU setingkat cabang atau wilayah,” terang kang Hamdan yang juga lurah pesantren Sunni Darussalam.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dengan berziarah ke makam para pendiri organisasi, para pelajar NU diharapkan tidak melaupakan akarnya, kata Hamdani.

Seorang anggota rombongan Uswatun Khasanah mengatakan, kegiatan ini sangat berkesan. Ini pertama kali kami diajak ziarah ke makam pendiri IPNU dan IPPNU. “Selain mengetahui letak makamnya, kami banyak mendapat cerita perjuangan mereka dari rekan-rekan IPNU Sleman,” kata Uswatun. (Ubaidillah Faqih/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pencipta Syair Asmaul Husna

Bagi sebagian kita,  amalan Asmaul Husna sudah tidak asing lagi. Dalam setiap acara mujahadah atau pengajian, Asmaul Husna menjadi selalu ada. Tidak hanya itu, Asmaul Husna sudah menjadi bacaan ‘wajib’ sebelum kegiatan belajar mengajar di madrasah atau sekolah.

Amalan Asmaul Husna yang sudah dijadikan tradisi ini, tidak bisa lepas dari peran sosok seorang dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas)  H Amdjad al Hafidz. Ia yang bertempat tinggal di Jl Bledak Kanti II/3  Perumnas Tlogosari Semarang ini adalah pengarang nadhoman atau syiiran atau syair Asmaul Husna sehingga memudahkan setiap orang membaca dan menghafalkan. 

Asmaul Husan tidak hanya tersebar ke pelosok desa atau daerah di Indonesia , tetapi  sudah  diamalkan umat mancanegara. Berikut petikan wawancara Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan dengan H Amdjad yang juga pengasuh Mujahadah Al Asmaul Husna saat berada di Kudus, 22 September 2013 lalu. 

Bagaimana awal ceritanya Asmaul Husna menjadi amalan /bacaan majlis mujahadah ? 

Pencipta Syair Asmaul Husna (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencipta Syair Asmaul Husna (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencipta Syair Asmaul Husna

Pada tahun 90-ansaya bersama jamaah mujahadahan membaca  do’a-do’a  dengan harapan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Setelah ditunggu lama, tanda-tanda  harapan itu belum juga muncul. Sehingga pada Juni 1999, para jamaah saya ajak mengamalkan  Asmaul Husna dengan syair biasa. Kita tahu asmaul husna adalah nama-nama kebesaran Allah yang berjumlah 99. Alhamdulillah, setelah beberapa waktu mengamalkanya,  kejiwaan jamaah yang stres pelan-pelan hilang dan kelihatan menjadi bahagia. Meskipun dhohirnya masih sama, tapi sudah kelihatan bahagia. 

Lalu ide menulis nadhoman Asmaul Husna? 

Pada waktu itu, lagu-lagu agama dengan irama datar kurang diminati.  Tiba-tiba kehendak Allah, Asmaul husna kami beri awalan bismillah bada’na/ walhamduli rabbina dan akhiran do’a yang berbentuk syiiran/nadhoman. Saya memandang untuk memudahkan orang mengamalkan dan menghafalkan. Proses penyusunannya selama satu bula dengan perbaikan sambil jalan. Ketika ada bacaan yang kurang tepat sesuai irama syair, baru diperbaiki. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bagaimana respon masyarakat adanya nadhoman ini? 

Setelah tersusun dan disebar ke masyarakat ternyata banyak yang mengamalkan. Mulai dari masyarakat biasa, pejabat dan mahasiswa. Hingga kini Asmaul Husna didengungkan di berbagai kumpulan atau jam’iyahan di pelosok  pedesaan karena semua mahasiswa (unwahas) menyebarkan amalan agung ini di daerahnya masing-masing. Bahkan juga diamalkan santri yang mukim di mancanegara seperti Hongkong dan  Taiwan dengan cara melalui HP. Negara timur tengah (Arab) penyebarannya lewat umroh dan haji . 

Apa barokah atau khasiat yang dirasakan setelah mengamalkan Asmaul Husna? 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selama yang saya dan jamaah rasakan, usai membaca mendapat hasil jiwa (hati) semakin tentram dan tenang. Bila semua masyarakat bangsa ini mengamalkan Asmaul Husna, kita tunggu saja Indonesia akan makmur. Barokah asmaul  husna akan membawat tiga hal yang menjadi ukuran bangsa makmur yakni majunya pendidikan, semangat tinggi sumber daya manusianya dan tersedianya sarana lengkap dan modern mulai fisik dan ilmu pengetahuan. 

Harapan bapak kepada masyarakat ? 

Kami berharap masyarakat seluruh dunia selalu mengamalkan asmaul husna supaya menjadi ahli dzikir. Dengan begitu, akan mendapat kekuatan dalam amal, sikap  dan kehidupan akan menjadi makmur. Semuanya  tergantung ketekunan dan Insya Allah mengabulkan. Buktinya para jamaah mendapat ketenangan jiwa dan tentram. Dan pada saat diakhirat nanti akan masuk surga sebagaimana penjelasan Nabi bahwa barang siapa yang membaca asma Allah akan masuk surga.(Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax, Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tidak terasa, sudah dua tahun lebih kita ditinggalkan sosok kiai kharismatik, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh. Selasa (17/5), suasana kawasan Mergosono Kota Malang tampak ramai dengan ‘luberan’ jamaah yang hadir di acara Haul Masayikh dan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Nurul Huda. Kiai Masduqi, demikian ia biasa disapa, wafat pada 1 Maret 2014 sebelum purna tugas sebagai Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015.

Kiai yang lahir di Desa Saripan (Syarifan) Jepara, Jawa Tengah pada 1 Juli 1935 ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana namun sangat dermawan. Ketika ada pedagang keliling, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono ini biasanya membeli dagangannya, meski tidak membutuhkan. Hal ini dilakukan semata-mata agar pedagang tersebut senang mendapatkan rezeki untuk keluarganya.

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masduqie Machfudh, Kiai Sederhana yang Dermawan

Tak hanya peduli dengan orang lain, Kiai Masduqi juga termasuk orang yang sangat berhati-hati (wira’i) dan sangat teguh pada syariat Islam. “Abah itu hidupnya sangat sederhana, tapi punya sifat loman (dermawan). Beliau memang lebih mengutamakan orang lain. Selain itu, beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam. Mantan Rais Syuriyah PBNU ini dikenal anti menggunakan dan menerima uang yang tidak jelas sumbernya atau uang syubhat,” tutur Gus Isroqunnajah tentang sosok abahnya, Almaghfurlah KH. Masduqie Machfudh, saat ditemui penulis, beberapa waktu lalu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dilahirkan dari keluarga yang kokoh dan fanatik terhadap ajaran agama, Kiai Masduqi kecil dikenal sebagai pribadi anak yang mandiri. Hal ini tidak lepas dari didikan kedua orang tuanya, Kiai Machfudh dan Nyai Chafsoh. Tidak heran, karena bila ditelusuri dari nasab ibunya, mantan Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur ini masih dalam garis keturunan seorang waliyullah, Syaikh Abdullah al-Asyik bin Muhammad. Yakni, jogoboyo dari kerajaan Mataram. Alkisah, salah satu keampuhan Syaikh Abdullah al-Asyik adalah setiap ada marabahaya yang akan mengancam kerajaan, beliau memukul bedug untuk mengingatkan penduduk. Meski cukup dari rumahnya, suara bedug ini terdengar ke seantero kerajaan Mataram.

KH Masduqi Machfudz dikenal sebagai sosok sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Corak kehidupan keluarga sama sekali jauh dari citra kemewahan. Kesederhanaan yang sudah dibiasakan Kiai Machfudh ayahnya, sangat membias pada keluarga Kiai Masduqi. Terlebih sejak kecil, kiai yang juga sahabat dekat presiden RI ke-4 Gus Dur ini, sangat gigih dalam menekuni bidang keilmuan terutama ilmu agama. Salah satu prinsip hidupnya adalah kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan tercapai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena ayah dan ibunya sangat religius, sehingga sikap dan pandangan hidupnya juga ala santri. Kiai Masduqi kecil sebenarnya tidak diperbolehkan oleh sang ayah untuk belajar di sekolah umum, cukup di pesantren saja. Tetapi larangan itu tidak mematahkan semangat Kiai Masduqi mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan secara komprehensif. Bahkan, dengan semangat yang berapi-api, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri.? Kiai yang memiliki 9 anak ini menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan lain untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Hal ini dilakukannya selama bertahun-tahun, mulai 1945 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Jepara yang diasuh Kiai Abdul Qodir, hingga? saat sudah menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Ketika menuntut ilmu di pesantren, Kiai yang juga mantan Ketua MUI Jatim ini memang terlihat kapasitas keilmuan yang melebihi santri-santri lain seusianya. Mulai dari dari ilmu nahwu, sharaf, fiqih, tauhid dan ilmu lainnya. Hal ini juga diakui oleh Sang Guru ketika mondok di Krapyak, KH. Ali Ma’shum. Berbeda dengan santri-santri lain yang membutuhkan waktu hingga belasan tahun, namun Kiai Masduqi hanya perlu 3 tahun untuk menguasai semua bidang keilmuan tersebut.

Sejak lulus dari Krapyak, tahun 1957 Kiai Masduqi mulai mengajar di berbagai sekolah di Tenggarong, Samarinda dan Tarakan Kalimantan. Kemudian 1964 melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang (sekarang UIN Maliki), sekaligus sebagai dosen Qiroatul Qutub, bahasa Arab, akhlak dan tasawuf. Di tengah kesibukan sebagai dosen dan pengasuh pesantren, kiai yang juga ayah dari Direktur Ma’had Sunan Ampel Aly KH. Dr Isroqunnajah ini masih sempat melayani pengajian di berbagai masjid di daerah Jawa Timur, terutama yang sulit dijangkau oleh kebanyakan dai, mubaligh dan kiai lainnya.

Pesantren Nurul Huda yang dirintis Kiai Masduqi, bermula dari mushala kecil yang berada di Mergosono gang III B. Mushala yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah ini mulai digalakkan sejak Kiai Masduqi berdomisili di daerah tersebut. Karena keahliannya dakwah, banyak mahasiswa yang akhirnya nyantri kepadanya hingga mushala kecil tersebut berubah menjadi pesantren sesungguhnya.

Uniknya, dalam pendirian pesantren yang saat ini berlantai tiga itu, KH. Masduqie Machfudh belum pernah meminta sumbangan dari masyarakat sedikitpun. Kiai yang masih memiliki ikatan saudara dengan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) ini hanya mengandalkan amalan shalawat sebanyak sepuluh ribu kali. Dengan berkah shalawat itulah, Kiai Masduqi berharap kepada Allah SWT untuk pesantren dan keselamatan keluarganya. Terbukti, sekarang Pondok Pesantren Nurul Huda bisa berdiri megah. (Baca juga: Kisah Keajaiban Shalawat yang Dialami Kiai Masduqie Machfudh)

Kiai yang terkenal sangat teguh prinsip ini merupakan salah satu ulama yang mumpuni dalam memberikan materi dalam tiap mauidhohnya. Bukan hanya ilmu agama, namun juga pemahamannya terkait masalah teknologi, sosial dan budaya. Sehingga, audiensnya pun merasa puas karena cara penyampaiannya mengikuti tingkat kemampuan jamaahnya. Tidak heran, banyak santrinya yang sekarang menjadi kiai besar panutan umat. Di antaranya, KH Marzuki Mustamar (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim/Imam Besar Densus 26), KH Chamzawi (Rais Syuriyah PCNU Kota Malang), KH. Dahlan Thamrin (Mantan Ketua PCNU Kota Malang), Prof Dr Ali Shidiqie (Mantan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi RI), Prof Dr KH. Khusnul Ridho (mantan ketua STAIN Jember), Dr Habib MA (dosen senior Universitas Muhammadiyah Malang), KH. Dr Muzakki MA (Tanfidziah PCNU Kota Malang), dan Kiai Abdullah Syam (Pendiri Pesantren Rakyat, Posdaya).



Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Malang



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Pendidikan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 29 Oktober 2017

Lakpesdam NU Ngawi Dorong Masyarakat Pantau Pembangunan Desa

Ngawi, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Lakpesdam NU Ngawi mengajak masyarakat untuk terlibat langsung dalam perencanaan dan pembangunan desa. Lakpesdam NU melihat pentingnya partisipasi masyarakat dalam rangka mendampingi ketepatan program pembangunan desa.

Ketua Lakpesdam NU Ngawi Husaini Amar meminta partisipasi masyarakat terutama unsur NU dalam pembangunan desa. Peran unsur masyarakat secara menyeluruh ini, kata Husaini, dijamin dalam UU Desa tahun 2014 dalam proses perencanaan dan pembangunan desa.

Lakpesdam NU Ngawi Dorong Masyarakat Pantau Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Ngawi Dorong Masyarakat Pantau Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Ngawi Dorong Masyarakat Pantau Pembangunan Desa

“Keberadaan desa perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan demokratis sehingga dapat menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” kata Husaini di hadapan puluhan warga dalam diskusi UU Desa Tahun 2014 di aula kantor Lakpesdam NU, Rabu (3/9).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ajakan Husaini Amar ini diamini Bapedda Ngawi Sri Widodo. Menurutnya, UU Desa telah menetapkan, setiap desa mendapat alokasi anggaran khusus dari APBN. Sri Widodo mengajak warga Ngawi untuk mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran tersebut. (Agus susanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Fragmen, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU

Sidoarjo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Acara "Pondok Aswaja" yang diadakan oleh IPNU-IPPNU Sidoarjo, Sabtu hingga Ahad (4-5/7) kemarin di Pondok Pesantren Chusnaini desa Klopo Sepoloh Sukodono Sidoarjo Jawa Timur, mendapatkan apresiasi dan respon positif dari Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan.

Gus Wawan sapaan akrabnya menyatakan bahwa acara itu sangat penting sekali buat perkembangan generasi bangsa. Karena, di dalam Pondok Aswaja para peserta diberikan wawasan atau dibekali khazanah keilmuan dan mendapatkan faham Aswaja. Dimana sekarang sedang tren dikatakan Islam Nusantara.

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Sidoarjo Sampaikan Apresiasi untuk IPNU-IPPNU

"Jadi tema yang diangkat oleh IPNU-IPPNU Sidoarjo yakni "Pengamalan Aswaja An-Nahdliyah untuk mewujudkan kesejahteraan di masyarakat" sangat tepat. Karena tema tersebut merujuk dari tema Islam Nusantra yang digagas dalam Muktamar ke-33 NU mendatang," katanya kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, Sabtu (4/7).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Saat ini, banyak paham-paham yang masuk ke Indonesia. Maka generasi penerus bangsa membutuhkan keimanan, membutuhkan pemahaman agama dan membutuhkan keyakinan yang jelas. Bagaimana menyikapi hidup, bagaimana menyikapi sebagai bangsa dan negara.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Disinggung terkait kepengurusan IPNU-IPPNU Sidoarjo yang menjadi soko guru dari Jawa Timur. Pria yang pernah menjadi Ketua PW IPNU Jawa Timur masa khidmah 2005-2007 itu mengaku bahwa sejarah PW IPNU dari masa kemasa tidak pernah lepas dari peran kader Sidoarjo.

Menurut dia, sebelum dirinya menjabat hingga sekarang, kepengurusan IPNU-IPPNU di Jatim tidak pernah lepas dari kader IPNU-IPPNU Sidoarjo. Baik Ketua, Wakil maupun Sekretaris nya berasal dari Sidoarjo.

"Menurut saya, Sidoarjo itu memang pola pendidikan dan kaderisasinya sangat bagus. Sehingga layak untuk menjadi penopang di kepengurusan PW Jatim," tegas Gus Wawan. (Moh Kholidun/Anam)

Foto: Gus Wawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pendidikan, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 28 Oktober 2017

Gedung NU Waykanan Diresmikan

Waykanan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gedung PCNU Waykanan Provinsi Lampung diressmikan oleh Bupati Bustami Zainudin di Kampung Tiuh Balak I Kecamatan Baradatu pada Rabu (8/10).Peresmian disaksikan Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri dan pengurus NU setempat.

Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung NU Waykanan Diresmikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung NU Waykanan Diresmikan

"Mari bersyukur atas berdirinya gedung ini," kata Bupati Bustami di Waykanan yang berada sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung.

Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri mengapresiasi dan bersyukur atas rampungnya pembangunan gedung dua lantai berukuran 13 m  x 11 m yang didirikan di atas tanah 30 m x 17 m itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Alhamdulillah, kantornya mewah, warnanya seperti PKB. Saya memberanikan menyebut PKB karena setiap bulan ada kontribusi bagi NU," ujar KH Sholeh.

Berdirinya gedung NU yang peletakan batu pertamanya dimulai pada Jumat (7/3) tersebut, menurut Ketua PCNU Waykanan Kiai Nur Huda, merupakan kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdliyin.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Dana pembangunan gedung ini berasal dari Bupati Bustami Zainudin Rp 350 juta, lalu bapak Ir Agusman Effendi Rp 10 juta, lalu Bupati Bustami menambah lagi Rp 6 juta dan Rp 50 juta," kata Ketua PCNU Waykanan itu pula.

PCNU, Kiai Huda menambahkan, diamanati melalui bantuan dan Alhamduillah bisa selesai dibangung berkat bantuan Allah SWT dan Bupati Bustami Zainudin.

Hadir pada kegiatan itu mantan Ketua PCNU Waykanan KH Chumaery, Rais Syuriah PC NU Waykanan KH Abdurahman, Wakil Bupati Raden Nasution Husin, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Gino Vanollie, Kepala Kantor Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Syahrul Syah, Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Leaderwan, Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi AB Munir.

Terlihat pula Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Waykanan Yonie Aliestiadi, Ketua Muslimat NU Binti, Ketua Fatayat NU Sri Widarti. Adapun pengamanan dilakukan PC GP Ansor melalui Barisan Ansor Serbaguna (Banser). (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail, Nahdlatul, Daerah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pelantikan di Hotel Mewah, Ansor-IPNU-IPPNU Dikritik

Tegal, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Memprihatinkan. Mungkin kata-kata itu yang bisa di selipkan di sela-sela acara pelantikan bersama antara PC Ansor, PC IPNU-IPPNU kota Tegal dan 4 PAC Ansor yakni kecamatan Tegal barat, kecamatan Tegal timur, kecamatan Tegal selatan dan kecamatan Margadana.

Di tengah kemeriahan acara pelantikan bersama karena dilakukan di hotel Riez Jl Gajah Mada, sebuah hotel yang cukup mewah di kota Tegal, terselip keprihatinan karena tidak jalanya organisasi dan banyaknya ranting serta PAC di kota Tegal yang berhenti baik dari Ansor ataupun IPNU-IPPNU walaupun ada pengurusnya.

Pelantikan di Hotel Mewah, Ansor-IPNU-IPPNU Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelantikan di Hotel Mewah, Ansor-IPNU-IPPNU Dikritik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelantikan di Hotel Mewah, Ansor-IPNU-IPPNU Dikritik

“Saya merasa prihatin dengan banyaknya ranting IPNU-IPPNU yang tidak jalan. Dari 32 ranting yang ada, hanya 5 ranting yang jalan, yakni ranting Margadana, Tunon, Bandung, Debong tengah dan Debong kulon, sementara 27 ranting tidak jalan. Sedang dari 4 PAC yang ada, yang jalan hanya 2, yaitu kecamatan Margadana dan Tegal selatan. Mudah-mudahan dengan pelantikan ini IPNU-IPPNU kedepan bisa lebih baik lagi,” kata Erwin Riyadi, ketua PC IPNU kota Tegal, dalam wawancaranya dengan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan setelah berlangsungnya acara pelantikan, Ahad (21/11), di ruang lobi hotel Riez.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Oleh karenanya, lanjut Erwin, prioritas program IPNU-IPPNU kota Tegal kedepan adalah, menghidupkan kembali ranting dan PAC yang tidak jalan serta tidak meninggalkan belajar, berjuang, bertaqwa sebagaimana moto IPNU-IPPNU yang diimplementasikan dalam berbagai kegiatan, yang bersifat fisik agar sehat jasmani, seperti porseni antar pelajar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sedang agar sehat ruhaninya akan diupayakan kegiatan-kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan para Salafu Shalih seperti Istigosah, doa bersama dan pengajian-pengajian dalam rangka menumbuhkan kesadaran beragama dikalangan pelajar dan pemuda.

“Kegiatan menumbuhkan kesadaran beragama dikalangan pelajar dan pemuda tetap perlu dilakukan, karena era globalisasi yang ditandai dengan derasnya arus informasi dan sangat mudahnya mengakses informasi serta layanan konten di internet baik yang bermanfaat ataupun sampah dengan sangat mudah kita dapatkan, maka benteng moral generasi sekarang lebih khusus pelajar harus diperkokoh, dengan cara mempertebal keimanan melalui pengajian-pengajian,” kata Erwin, yang hingga sekarang masih berstatus sebagai mahasiswa STAIBN Slawi.

Semantara kondisi Ansor di kota Tegal juga tak jauh berbeda. Dari 49 kelurahan yang ada di kota Tegal, terdapat 27 ranting Ansor. Dari 27 yang jalan hanya 3 ranting, yaitu Kalinyamat kulon, Margadana dan Kejambon. Sedang 24 ranting Ansor tidak jalan walaupun ada pengurusnya. 4 PAC yang adapun tidak efektif berjalan.

“Oleh karenanya, sama seperti IPNU, prioritas program PC Ansor kota Tegal kedepan adalah menghidupkan kembali Ansor yang tidak jalan serta konsolidasi ke dalam,” ungkap Hasan Mustofa Kamil kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, di sela-sela acara pelantikan bersama.

Dalam sambutanya, ketua PW Ansor Jawa Tengah, Jabir Al Faruqi, mengajak kepada kader NU baik Ansor ataupun IPNU untuk menjadikan momen pelantikan, sebagai momen kebangkitan dalam Fastabiqul Khaerat.

“Kita bangga dengan sahabat-sahabat Ansor dan Banser di Magelang yang sigap dan tanggap dalam penanganan bencana akibat meletusnya gunung merapi. Sejak pertama meletus Ansor dan Banser ada di garda depan dalam penanganan pengungsi sehingga timbul istilah pengungsi yang turun dari gunung sebagai kaum Muhajirin. Sedang mereka yang menolong pengungsi adalah kaum Ansor,” katanya seperti menggambarkan peristiwa hijrah di zaman Nabi SAW.

Acara pelantikan bersama yang dirangkai dengan seminar nasional tentang pluralisme di Indonesia, menyedot perhatian para undangan. Hadir dalam kesempatan tersebut, PP IPNU-IPPNU, PP Ansor, PW  IPNU-IPPNU, Ansor, PC NU kota Tegal, PC PMII kab Tegal, BEM STAIBN, MUI kota Tegal, ranting IPNU dan Ansor se kota Tegal. (fth)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 27 Oktober 2017

Didesak Arab, UNESCO Tangguhkan Pameran Yahudi di Paris

Paris, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) pada Jumat (17/1) menangguhkan pameran mengenai 3.500 tahun hubungan orang Yahudi dengan Israel, setelah ada desakan negara-negara Arab karena dapat merusak upaya perdamaian.

Pameran berjudul "The 3,500 Year Relationship of Jewish People to the Holy Land" itu menurut rencana dibuka pada Selasa pekan depan (21/1) di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis.

Didesak Arab, UNESCO Tangguhkan Pameran Yahudi di Paris (Sumber Gambar : Nu Online)
Didesak Arab, UNESCO Tangguhkan Pameran Yahudi di Paris (Sumber Gambar : Nu Online)

Didesak Arab, UNESCO Tangguhkan Pameran Yahudi di Paris

Tetapi, UNESCO mengumumkan, menerima surat dari 22 anggota Kelompok Arab yang menyatakan kecemasan mereka bahwa pameran itu dapat berdampak negatif pada upaya perdamaian dan perundingan, yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain itu, menurut UNESCO, ada sejumlah masalah "yang yang belum diselesaikan menyangkut kemungkinan masalah-masalah sejarah menyangkut teks dan visual yang masih diperdebatkan" dalam pameran yang diselenggarakan bersama dengan Simon Wiesenthal Center.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Dalam konteks ini, disesalkan, UNESCO telah menangguhkan pembukaan pameran itu," demikian pernyataan resmi UNESCO di Paris.

Selain itu, UNESCO menyampaikan, "Konsensus mengenai keputusan-keputusan UNESCO dan resolusi-resolusi menyangkut Timur Tengah adalah sangat penting, untuk menghindari konfrontasi dan politisisasi."

Pembatalan pameran itu terjadi saat hubungan UNESCO dengan Israel berada pada titik rendah, setelah Palestina menjadi anggota badan itu pada Oktober 2011.

Saat menanggapi keputusan itu, Israel dan sekutu kuatnya Amerika Serikat (AS) memotong dana untuk UNESCO, yang menimbulkan krisis keuangan pada badan itu dan menyebabkan ratusan karyawan badan itu berada dalam bahaya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaSantri, Fragmen, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lika-liku Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin

Pukul 08.00 Wita, Saya dijemput pak Abas dengan sepeda motor. Kurang lebih 1 jam perjalanan darat, tibalah kami di sebuah dermaga kecil, di suatu kampung ? di Kabupaten Banjar, Sambil menunggu jemputan, saya sempatkan nderes dapat 50 ayat.

Kemudian datanglah klotok; perahu bermesin, yang akan membawa saya ke lokasi acara Isra Miraj diadakan yakni Desa Bakambat. Tampak para penjemput sebanyak 5 orang; pak tua berumur sekitar 60 tahun, juru mudi, dan 3 orang panitia. Semua berpakaian bagus, bersih dan sederhana. Wajah mereka kelihatan gembira dan bersemangat.

Perjalanan akan ditempuh sekitar satu jam. Menyusuri sungai Bunipah anak Sungai Barito; sungai terbesar kedua di pulau Kalimantan, setelah sungai Kapuas. Kemudian kami melewati muara sungai Barito yang terhubung langsung dengan laut Jawa dan masuk ke sungai Bakambat, yang sekaligus menjadi nama bagi desa terpencil yang terletak di tepi Laut Jawa.

Lika-liku Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lika-liku Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Lika-liku Dakwah Kader Dai LDNU di Banjarmasin

Desa ini bagian dari kecamatan Aluh-aluh, kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Di perjalanan saya sempat berbincang dengan pak tua yang setia memayungi saya dari pancaran sinar matahari yang cukup terik, sembari menyaksikan kapal-kapal tongkang berisikan ratusan ton batubara yang siap merapat ke kapal perusahaan asing yang menunggu di Laut lepas.

Kata pak tua, acara sudah mulai sejak pukul 7.30 wita dengan membaca Maulid al-Habsyi, yang menjadi tradisi masyarakat Kalimantan Selatan setiap mengadakan peringatan ? hari besar Islam. Pak tua juga menginformasikan bahwa desa Bakambat yang akan di datangi termasuk desa tertinggal secara perekonomian.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setelah satu jam, tibalah kami di desa Bakambat. Saya menaiki dermaga kecil yang cukup tinggi dengan tangan yang gemetar hebat, karena sudah tiga tahun ini bagian tubuh sebelah kanan dalam kondisi stroke ringan selalu bereaksi pada saat diperlukan keseimbangan tubuh ketika turun dan menaiki tempat tinggi. Beruntung saya dibantu panitia yang dengan sigap memegang tangan kanan saya.

Dengan perlahan, saya menyusuri jembatan kecil dari kayu-kayu yang bersusun seadanya, karena kalau terpeleset atau tersandung sedikit saja, bisa terjatuh. Saya dipersilahkan ke rumah salah satu warga untuk istirahat sejenak sekedar menunggu panitia mempersiapkan pergantian acara. Terdengar doa penutup maulid sdh dibacakan, tanda pembacaan maulid sudah selesai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tuan rumah menyuguhkan minuman dan makanan kecil. Pak Tua yang selalu mendampingi saya berpesan agar dalam ceramah yang akan disampaikan nanti dijelaskan juga mengenai pentingnya sedekah dan infaq supaya masyarakat mendapatkan motivasi untuk memberikan sumbangan pada setiap kegiatan keagamaan yang diadakan di Masjid.

Sekitar 10 menit kemudian kami beranjak ke lokasi acara; sebuah masjid tua yang terletak di tengah permukiman penduduk. Sesampainya di masjid, acara segera dimulai setelah saya dipersilahkan duduk ditempat penceramah. Di masjid telah penuh jamaah laki dan perempuan. Remaja dan dewasa. Rupanya satu kampung hadir semua.

Saya yang lemah ini segera saja kosongkan diri dari merasa tahu, berusaha untuk connectkepada Allah Sang Maha Alim, memohon anugrah dan bimbingan kepadaNya agar hati berisi ilmu dan lisan dapat berucap menyampaikannya ,....itulah pelajaran yang saya dapatkan dari KH. Wahfiudin, wakil talqin TQN Suryalaya, ketika mengikuti pelatihan kader dakwah yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama.

Mulailah saya menyampaikan ceramah mengenai Isra Miraj Nabi Muhammad SAW dan pelajaran yang dapat diambil darinya. Salam saya ucapkan, bismillah saya mulakan, hamdalah saya sertakan, kedua kalimah syahadat saya iqrarkan, shalawat dan salam pun saya mohonkan untuk sang pengemban risalah suci; Baginda Nabi Mulia Sayyiduna Muhammad SAW berikut keluarga dan para sahabat serta pengikut jejaknya hingga akhir masa.

Bahasan dalam ceramah yang saya sampaikan adalah sebagai berikut:

Maha Suci Engkau, tiada ilmu bagi kami kecuali yang sudah Kau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah Sang Maha Aliim Sang Maha Hakiim

Ya Allah kami meminta pada Mu, demi musyahadah rahasia-rahasia para pecintaMu, dengan pertemuan khusus antaraMu dengan pemimpin semua RasulMu ketika kau isra kan dia di hari ke dua puluh tujuh yang mulia, kiranya Kau rahmati sedih dukanya hati kami

Subhana = Maha Suci Allah, sehingga tidak berguna prasangka apa pun terhadap peristiwa isra miraj

Alladzi Asra Bi Abdihi = Allah memperjalan Nabi Muhammad SAW secara utuh, dengan jasad dan ruh ke seluruh dimensi, sehingga bisa bertemu dengan ruh-ruh para nabi.

Laylan = Waktu malam berasal dari surga yang dipindah ke dunia, sebagai waktu para pecinta mengiba karena taubat dan kerinduan kepada Allah. Berbeda dengan siang yang berasal dari terangnya gejolak Nerraka Jahannam, kini menjadi ajang hiruk pikuk duniawi. Maka di surga tiada lagi gelap dan di neraka tiada lagi terang.

Saat Miraj, Nabi Muhammad SAW dengan kaum Nabi Musa AS yang menghuni Tanah Perak berkilauan, di balik 70 gunung sesudah Jabal Qaaf (antara langit dan bumi). Mereka bertahmid karena bertemu Nabi Muhammad SAW dan memohon diajarkan Alquran, Sholat dan seluruh Syariat Islam. Kaum itu memiliki keistimewaan; Rumah mereka tak berpintu dan ruangannya sangat luas (melambangkan hati yang ikhlash dan ridho), Masjidnya jauh dari rumah (kesungguhan beribadah), Kuburan selalu berada di halaman rumah (selalu memikirkan nasib sesudah kematian), Tidak pernah sakit (tidak berbuat dosa), dalam setahun hanya satu warga yang wafat (hidup sehat dan panjang umur), wajah murung (takut terhadap siksa dihari kiamat), memungut hasil sawah dan haasil ternah secukupnya (bersift Qonaah). Itulah para wali; kekasih Allah.

Sholat sebagai Hadiah oleh-oleh Nabi Muhammad SAW dan Hidayah Allah SWT, didalam al-Quran selalu berdampingan dengan perintah Zakat, menunjukkan ibadah mahdhah harus disempurnakan dengan ibadah sosial/ mutaadiyah. Disinilah pentingnya infaq dan shodaqoh sebagai padanan perluasan makna zakat, dalam menyempurnakan berbagai ibadah mahdhah. Sebagaimana cerita tentang pecinta nabi yang banyak membaca sholawat namun menolak untuk bersedekah karena sipeminta tidak bisa membuktikan kemiskinannya, maka dalam mimpinya ia ditolak Nabi Muhammad SAW karena nabi menyindirnya dengan menanyakan apa bukti cintanya?

Itulah isi ceramah yang saya sampaikan selama kurang lebih satu jam. Kemudian saya tutup dengan permohonan maaf dan salam. Acara selanjutnya adalah pembacaan tahlil dan doa. Usai acara saya diminta untuk membacakan doa "penerang hati pada dua wadah besar berisi telur bebek dan beberapa keranjang besar berisi pisang. Telur dan pisang akan dibagikan kepada jamaah yang menginginkannya dengan mahar lima ribu rupiah sebagai infaq untuk masjid. Jamah pun segera menyerbu telur dan pisang tersebut. Sungguh unik, semoga harapan mereka terkabul karena kerendahan hati dan persangkaan baik, amin.

Kemudian saya bersama beberapa tokoh masyarakat beranjak ke rumah salah satu warga yang berada di dekat masjid untuk makan siang. Usai makan siang dan berbincang sejenak melanjutkan pembicaraan yang tertunda pada saat kedatangan saya, lantaran waktu yang tidak memungkinkan, saya pun berpamitan. Kemudian saya diminta berkunjung ke rumah warga yang lain untuk suatu keperluan.

Sesampainya di rumah warga tersebut, saya disuguhi minuman dan makanan ringan. Beberapa saat kemudian tibalah waktu zhuhur, maka saya mohon izin untuk melaksanakan shalat zhuhur berjamaah dengan pak Abas, mengantar saya dengan sepeda motor saat berangkat dari rumah.

Sesudah shalat zhuhur saya diminta memilihkan nama bayi dan membacakan doa yang kemudian ditiupkan pada air putih sebagai wasilah agar hajat terkabul. Saya kemudian berpamitan untuk pulang, karena perahu yang akan mengantarkan saya pulang sudah disiapkan. Sekitar jam 2.00 wita kami pulang dengan perahu bermesin yang menempuh perjalanan selama satu jam, ketika sampai di dermaga tujuan, kembali menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor selama kurang lebi satu jam.

Kemudian tibalah di rumah, tepatnya di belakang terminal induk kota Banjarmasin Jalan A. Yani kilometer 6. Alhamdulillah, selesailah dakwah untuk hari ini sebagai bagian dari belajar mensyukuri bagian tubuh yang sehat yang lebih banyak,dan latihan bersabar atas bagian tubuh yang diberi sakit, dengan berbagi manfaat untuk umat.***?

Muhammad Halabi

Penulis adalah Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) Lembaga Dakwah NU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul Ulama, Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pembubaran Ormas Anti-NKRI dan Kebebasan Berserikat

Oleh Pandu Dewanata



Penolakan atas pawai Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Tulungagung, Jawa Timur menjadi perhatian publik baru-baru ini. Sabtu, 1 April 2017, 200 personel Banser Tulungagung dan Trenggalek membubarkan pawai HTI yang hendak menuju ke Surabaya untuk mengikuti kirab. Bahkan ketegangan antara GP Ansor-Banser dan HTI tidak hanya terjadi kali ini saja, pada Tahun 2016 di Jember kejadian yang hampir serupa juga terjadi.?

Pembubaran Ormas Anti-NKRI dan Kebebasan Berserikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembubaran Ormas Anti-NKRI dan Kebebasan Berserikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembubaran Ormas Anti-NKRI dan Kebebasan Berserikat

Wacana untuk membubarkan HTI yang dimunculkan GP Ansor-Banser Jatim dua hari yang lalu menjadi mengemuka juga di media massa cetak dan elektronik. Abid Umar Faruq selaku Satkorwil Banser Jatim mengemukakan bahwa HTI merupakan organisasi makar yang tidak mengakui dan menolak Pancasila dan UUD 1945 (Detik, 2/4/2017). Tentu kekhawatiran GP Ansor-Banser cukup dapat dipertimbangkan karena menyangkut ideologi negara dan keutuhan bangsa. Namun di sisi lain wacana tersebut mendapat respon negatif dari berbagai kalangan.?

Tulisan ini memang tidak secara khusus membahas HTI dan pergerakannya, namun membahas ormas anti-NKRI secara umum. Karena terdapat keraguan soal pembubaran ormas anti-NKRI dimungkinkan secara hukum. Selain itu terdapat juga keraguan mengenai benturan antara jaminan kebebasan berserikat dalam UUD 1945 dan pembubaran ormas anti-NKRI. Untuk itu tulisan ini berusaha menjawab keraguan-keraguan tersebut berdasarkan aspek hukum.

Kebebasan Berserikat dalam UUD 1945 & UU Ormas

Kecenderungan berorganisasi dalam perkembangannya menjadi salah satu kebebasan dasar manusia yang diakui secara universal. Tanpa adanya kemerdekaan berserikat seseorang tidak dapat mengekspresikan pendapat menurut keyakinan dan hati nuraninya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam UUD 1945 terdapat dua pasal yang menjamin kebebasan berserikat. Pertama, Pasal 28 UUD 1945 yang berbunyi Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang. Kedua, Pasal 28E ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Jika ditarik kesimpulannya, kedua pasal ini sama-sama menjamin kemerdekaan berserikat namun hanya Pasal 28 yang menetapkan kemerdekaan berserikat dengan undang-undang.

Sebagai bentuk dari jaminan kebebasan berserikat terdapat UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas yang mengatur mengenai pelaksanaan kebebasan berserikat oleh ormas. Tidak hanya hak dari ormas maupun hal-hal yang bersifat administratif, namun juga kewajiban, pembatasan, dan larangan. Sebagai contoh pada Pasal 2 UU Ormas menggariskan bahwa setiap ormas yang ada di Indonesia tidak boleh mempunyai asas bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Secara umum kebebasan berserikat memiliki batasan yang diperlukan dalam masyarakat demokratis demi keamanan nasional dan keselamatan publik, mencegah kejahatan, melindungi kesehatan dan moral, serta melindungi hak dan kebebasan yang lain. Lebih tegas, Sam Issacharoff menyebutkan bahwa negara berwenang melarang atau membubarkan suatu organisasi yang mengancam demokrasi, tatanan konstitusional/dasar negara, serta masyarakat (Sam Issacharoff, 2006: 6).?

Artinya negara demokratis tidak hanya menjamin hak kelompok tertentu, namun juga menjamin dan melindungi dasar negara di sisi lain. Namun pembubaran ormas harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mencederai kebebasan berserikat sendiri. Secara prosedural pembubaran ormas diputus terlebih dahulu oleh pengadilan untuk menjamin keadilan.

NU Harus Bersikap

Dalam Pasal 59 ayat (2) UU Ormas disebutkan larangan-larangan untuk ormas sebagai berikut :?

a. melakukan tindakan permusuhan terhadap suku, agama, ras, atau golongan;

b. melakukan penyalahgunaan, penistaan, atau penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia;

c. melakukan kegiatan separatis yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

d. melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial; atau

e. melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.





Bahkan ayat (4) menegaskan bahwa Ormas dilarang menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila. Apabila dilihat sekilas Pasal 59 ayat (2) huruf c dan Pasal 59 ayat (4) UU Ormas dapat menjadi dasar hukum untuk membubarkan ormas anti-NKRI.

NU dan Nahdliyin memiliki tugas luhur untuk menjaga keutuhan Indonesia. Dalam menghadapi ormas anti-NKRI, NU telah menunjukkan tindakan-tindakan nyata. Bukan tidak mungkin tindakan hukum bisa dilakukan NU di kemudian hari. Penulis berpendapat bahwa Nahdliyin harus berhati-hati dalam menafsirkan hukum, karena memahami pasal-pasal dalam suatu undang-undang tanpa membaca penjelasannya akan menimbulkan kesalahpahaman. Penjelasan Pasal 59 ayat (4) menyebutkan hanya Atheisme dan Komunisme/Marxisme yang dianggap bertentangan dengan Pancasila. Sedangkan Pasal 59 ayat (2) huruf c harus dimaknai bahwa ancaman kedaulatan NKRI harus didahului dengan adanya aksi-aksi separatis atau memisahkan diri dari NKRI. Pun demikian dari seluruh poin-poin yang tertera dalam Pasal 59 ayat (2) UU Ormas, dimana sebuah pelanggaran atas larangan harus disertai dengan perbuatan.?

Bagaimana NU harus bersikap? NU beserta warganya harus terlibat aktif dalam mengawasi pergerakan dari ormas yang disinyalir anti-NKRI. Mungkin saat ini belum terdapat ancaman nyata yang dirasakan oleh masyarakat, namun bukan berarti potensi ancaman tidak akan muncul di masa yang akan datang.?

Sebelum adanya putusan pembubaran ormas dari Pengadilan Negeri terdapat permohonan pembubaran ormas yang diajukan oleh kejaksaan. Pengajuan oleh kejaksaan hanya dapat terlaksana ketika terdapat permintaan tertulis dari menteri Hukum & HAM. Menurut penulis NU maupun Nahdliyin dapat ? menunjukkan bukti-bukti bahwa suatu ormas telah melakukan tindakan yang dilarang dalam UU Ormas kepada menteri Hukum & HAM. Disinilah NU sebagai masyarakat sipil harus terlibat apabila ancaman tersebut telah terjadi.

Namun semua pihak harus tetap menghormati proses hukum yang berjalan, karena kewenangan untuk membubarkan ormas anti-NKRI ada di tangan negara. Tentu penafsiran hukum dari menteri Hukum & HAM, jaksa, dan hakim yang dapat dibenarkan di mata hukum. Sehingga NU dan nahdliyin tidak perlu ikut gaduh dalam mengatasi kondisi demikian sebagai sikap kita meneladani teduhnya kyai-kyai NU. Wallahu a’lam bishshawab.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Unpad dan anggota KMNU Padjadjaran

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan IMNU, Kiai, Lomba Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 26 Oktober 2017

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Oleh KH Zakky Mubarak

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah. Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Peristiwa Penting Para Nabi pada 10 Muharram

Hari sepuluh Muharram atau hari Asyura merupakan hari bersejarah. Menurut beberapa riwayat disebutkan, banyak peristiwa penting terjadi di hari itu pada masa yang lalu, di antaranya disebutkan sebagai berikut: (1) Nabi Adam alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya. (2) Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan. (3) Selamatnya Nabi Ibrahim alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar. (4) Nabi Yusuf alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah. (5) Nabi Yunus alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu. (6) Nabi Ayyub alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan. (7) Nabi Musa alaihissalam dan umatnya kaum Bani Israil selamat dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah. Beliau dan umatnya yang berjumlah sekitar lima ratus ribu orang selamat memasuki gurun Sinai untuk kembali ke tanah leluhur mereka. Banyak lagi peristiwa lain yang terjadi pada hari sepuluh Muharram itu, yang menunjukkan sebagai hari yang bersejarah, yang penuh kenangan dan pelajaran yang berharga.

Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ibnu Abbas seorang sahabat, saudara sepupu Nabi yang dikenal sangat ahli dalam tafsir al-Qur’an meriwayatkan bahwa saat Nabi berhijrah ke Madinah, beliau menjumpai orang-orang Yahudi di sana mengerjakan puasa Asyura. Nabi pum bertanya tentang alasan mereka berpuasa. Mereka menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Allah telah melepaskan Musa dan Umatnya pada hari itu dari (musuhnya) Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Musa berpuasa pada hari itu, dalam rangka bersyukur kepada Allah”. Nabi bersabda : “Aku lebih berhak terhadap Musa dari mereka." Maka Nabi pun berpuasa pada hari itu dan menyuruh para sahabatnya agar berpuasa juga." (HR. Bukhari; No: 1865  & Muslim, No: 1910)

Abu Musa al-Asy’ari mengatakan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan dijadikan oleh mereka sebagai hari raya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Berpuasalah kamu sekalian pada hari itu." (H.R. Bukhari, No: 1866; Muslim, No: 1912)

Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura merupakan hari bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa. Kita hendaknya menyambut hari itu dengan banyak mengambil pelajaran yang bermanfaat dari sejarah masa lalu. Kita menyambutnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah, agar senantiasa berada dalam bimbingannya, yaitu dengan jalan:

Pertama, mengerjakan puasa sunnah pada hari Asyura atau tanggal 10 Muharram. Keutamaan puasa pada hari ini diantaranya disebutkan dalam hadits Nabi:

? ? ? ? ? ?: ? ? ? 

"Nabi shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari Asyura, beliau menjawab: “Puasa pada hari Asyura menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim, No: 1977) 

Dalam hadits yang lain, Rasulullah menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Sesungguhnya shalat yang terbaik setelah shalat fardhu adalah shalat tengah malam dan sebaik-baiknya puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yang kamu menyebutnya bulan Muharram." (HR. Nasa’i, No: 1614)

Kedua, mengerjakan puasa Tasu’a atau puasa sunnah hari kesembilan di bulan Muharram. Mengenai puasa ini Ibnu Abbas meriwayatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ?)

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda : “Tahun depan Insya Allah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah s.a.w. wafat”. (H.R. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089).

Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram. Kita disunnahkan berpuasa selama 2 hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

Ketiga, memperbanyak sedekah. Dalam menyambut bulan Muharram diperintahkan agar memperbanyak pengeluran dari belanja kita sehari-hari untuk bersedekah, membantu anak-anak yatim, membantu keluarga, kaum kerabat, orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan. Semua itu hendaknya dilakukan dengan tidak memberatkan diri sendiri dan disertai keikhlasan semata-mata mengharap keridhaan Allah.

Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Siapa yang meluaskan pemberian untuk keluarganya atau ahlinya, Allah akan meluaskan rizki bagi orang itu dalam seluruh tahunnya.” (HR Baihaqi, No: 3795)

Dengan memperingati hari Asyura, kita dapat mengambil pelajaran dari perjuangan para Nabi dan Rasul terdahulu. Misi mereka pada dasarnya adalah sama menegakkan aqidah Islamiyah, meyakini ke-Esaan Allah subhanahu wataala yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Peristiwa masa lalu merupakan cermin bagi kita untuk berusaha memisahkan kebenaran dan kebathilan, memisahkan yang baik dan buruk, agar dapat meratakan jalan bagi kita untuk menjangkau masa depan. Semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang ada dalam alam semesta ini merupakan pelajaran yang bermanfaat bagi orang-orang yang mempergunakan akalnya. Pergantian siang dan malam, pergantian musim dan pada segala sesuatu di alam ini terdapat tanda, bahwa sesungguhnya Allah itu adalah Maha Esa dan Maha Kuasa.





Penulis adalah Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 25 Oktober 2017

Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik

Setiap manusia tentu ingin menjadi orang yang baik. Karena sejatinya kehidupan akan membaik ketika manusia pun juga memulai kebaikan dari dirinya sendiri terlebih dahulu.?

Kebaikan yang selalu mereka dambakan, bukanlah tak berarti. Melainkan kebaikan itulah yang akan membantu mereka meraih ridho Allah Taala. Karena Allah adalah dzat Yang Maha Baik, maka Allah juga mencintai hamba yang baik.?

Dalam kitab Nashoihul Ibad, Karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang merupakan syarah atas kitab Syekh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqolani (Ibnu Hajar Al-Asqolani) dijelaskan, terdapat 3 kriteria seorang hamba yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik. Syekh Nawawi berkata:

Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Ciri Hamba yang Dikehendaki Baik

? ? ? ? ? ? ? ?

Ketika Allah menghendaki seorang hamba untuk menjadi orang baik, maka Allah menguatkan agamanya.?

Ciri yang pertama adalah agama seorang hamba tersebut dikuatkan oleh Allah. Dikuatkanlah keimanannya. Sehingga hamba tersebut tetap teguh menapaki jalan kebaikan, meskipun godaan malang melintang. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ?

Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik maka dikuatkanlah ia dalam perkara agama.

Lebih lanjut dalam kitab Nashoihul Ibad dikatakan:

? ? ? ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dizuhudkanlah hamba tersebut didalam perkara dunia.

Hamba yang baik, adalah hamba yang tidak tergiur sedikitpun akan gemerlap dunia. Ia berpikir bahwa dunia hanyalah tempat singgah semata. Hanya perkara yang fana. Hamba yang baik hanya mengingat satu perkara, yaitu janji Allah akan kehidupan akhirat yang kekal adanya. Ia ingat betul akan peringatan Rasulullah tentang perkara dunia, bahwa:

? ? ? ? ?

Cinta dunia adalah pokok dari segala keburukan.

Imam Nawawi menjelaskan ciri ke tiga dengan kalamnya:

? ? ? ?

Dan diperlihatkanlah aib-aib dalam dirinya sendiri.

Hamba yang baik tidak sibuk dengan sesuatu yang tidak berguna. Mencari-cari aib sesamanya. Membicarakan keburukan orang lain. Terlebih, merasa dirinya lebih baik dan memandang orang lain terlalu buruk. Sungguh, hal tersebut jauh dari diri seorang hamba yang baik. Hamba yang baik adalah hamba yang tidak pernah membicarakan keburukan orang lain.?

Ia oleh Allah disibukkan dengan aib-aib pribadinya. Ia disibukkan dengan berintrospeksi diri, Muhasabatun Nafsi. Mencari-cari kekurangan diri sendiri untuk kemudian ia perbaiki agar kelak ia benar-benar menjadi hamba yang baik. Hal ini senada dengan perkataan ulama ahli hikmah:

? ? ? ? ? ? ?

Beruntunglah bagi orang yang disibukkan dengan aib pribadinya dari pada aib-aib manusia.

Terlepas dari itu semua, Badul Hukama, sebagian ulama ahli hikmah juga menerangkan bahwa sesungguhnya manusia sudah bisa meraba-raba nasibnya apakah ia ditakdirkan manjadi orang baik atau sebaliknya yaitu dengan melihat aktifitas sehari-harinya. Apakah ia dimudahkan dalam kebaikkan ataukah tidak. Jika iya, maka ia benar-benar ditakdirkan menjadi orang baik. Karena mereka (ulama ahli hikmah) berkata:

? ? ? ? ?

Tiap-tiap manusia itu dimudahkan untuk apa ia diciptakan.

Jadi, ketika seorang hamba selalu diliputi dengan kebaikan-kebaikan, maka beruntunglah manusia itu. Ia ditakdirkan menjadi orang baik. Jika sebaliknya, na’udzubillah min dzalik.





(Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari pengajian yang diampu oleh Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Grobogan, Jawa Tengah, KH Muhammad Shofi Al-Mubarok.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Inilah Lagu Ayo Mondok Pesantrenku Keren

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Saiful Ridjal, salah satu kader NU asal Lumajang, Jawa Timur, menciptakan lagu berjudul "Ayo Mondok Pesantrenku Keren" sebagai ajakan kepada semua yang mendengarkan untuk mengaji sekaligus memahami pesantren.

Lagu yang dibuat dalam versi anak-anak tersebut dinyanyikan oleh Dani Abdurrahman Althof. Anak kelahiran 10 Maret 2008 ini tak lain adalah putra Saiful sendiri yang memang hobi menyanyi.

Inilah Lagu Ayo Mondok Pesantrenku Keren (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Lagu Ayo Mondok Pesantrenku Keren (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Lagu Ayo Mondok Pesantrenku Keren

Meski tak pernah tinggal di pesantren, Saful Ridjal yang sejak muda gemar mencipta lagu mengaku senang bisa berkontribusi kepada NU. Ia dibesarkan dari seorang ayah yang dulu nyantri di Tebuireng dan ibu yang menjadi pimpinan Muslimat NU di Lumajang.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Apa yang bisa saya berikan untuk NU, saya berikan, demi perkembangan NU," kata mantan pengurus Gerakan Pemuda Ansor Lumajang ini melalu sambungan telepon, Ahad (25/10) petang.

Dalam lirik lagu tersebut disinggung soal hormat kepada kiai dan harapan terhadap limpahan ilmu bermanfaat, serta mengaji demi masa depan yang cerah nan damai tanpa kekerasan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gerakan Nasional "Ayo Mondok" dimotori dan diluncurkan Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMINU) pada awal Juni 2015. Meski sempat menuai pujian dari Ketua Pengurus Pusat RMINU KH Abdul Ghaffar Rozien (Gus Rozin), lagu ciptaan Saiful Ridjal ini belum mendapat keputusan dari RMINU sebagai lagu resmi gerakan nasional "Ayo Mondok".

Lagu Ayo Mondok Pesantrenku Keren kini bisa diunduh dan didengarkan dalam versi MP3 di website Radio NU (radio.nu.or.id) pada kanal "Download". Penciptanya juga sudah mengunggah lagu ini di situs berbagi video Youtube sejak puncak peringatan Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015.

Saiful yang juga kontributor Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Lumajang ini telah mempersilakan RMINU atau PBNU untuk menjadikan lagu ini sebagai bagian dari lagu gerakan Ayo Mondok jika dipandang pantas dan layak. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail, Berita, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 23 Oktober 2017

Lomba Video Pendek dan Meme Meriahkan Perkemahan Pramuka Madrasah

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Jelang Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) III 2017 yang akan diselenggarakan di Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, di media sosial diadakan sejumlah lomba yang dibuka untuk umum, diantaranya lomba video pendek dan lomba meme. Menurut Kasubdit Kesiswaan Direktorat KSKK Madrasah, Abdullah Faqih, lomba tersebut untuk ? meramaikan pra acara PPMN ke-3 yang membawa slogan "Kreatif, Terampil dan Berkarakter."

"Lomba menyambut acara PPMN III 2017 untuk mengajak masyarakat ikut serta meramaikan," katanya, di Jakarta, Sabtu (15/04/2017)

Lomba Video Pendek dan Meme Meriahkan Perkemahan Pramuka Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Video Pendek dan Meme Meriahkan Perkemahan Pramuka Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Video Pendek dan Meme Meriahkan Perkemahan Pramuka Madrasah

Pada kesempatan tersebut, Faqih menegaskan, lomba video dan lomba meme juga sebagai instrumen sederhana atas spirit kreatifitas di kalangan Pramuka Madrasah. Harapannya, praacara PPMN tahun ini bisa lebih meriah.

"Harapannya menjelang acara PPMN di Mei besok, bisa lebih meriah" tambahnya.

Dikatakan, di media sosial diadakan sejumlah perlombaan, juga diramaikan tagar #PPMN2017. Dijelaskan, tagar tersebut selain sebagai identitas kegiatan tahun ini, juga sekaligus sebagai sarana komunikasi di dunia maya agar terkonsolidasikan sehingga bisa saling mengenal satu dengan yang lain.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"PPMN III juga diramaikan tagar #PPMN2017 dan #PramukaMadrasah sebagai sarana silaturahmi melalui media sosial," pungkasnya.

PPMN III 2017, rencananya diadakan di Bumi Perkemahan Sengkawang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Provinsi Bangka Belitung, dai tanggal 14 sampai 20 Mei 2017. Hadir dalam acara tersebut sedikitnya 1000 peserta dari perwakilan tiap-tiap provinsi di Indonesia. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pondok Pesantren, Nahdlatul Ulama, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Radikalisme dalam Masjid

Judul: Benih-Benih Islam Radikal di Masjid; Studi Kasus Jakarta dan Solo

Penulis: Ridwan al-Makassary (Ed.)

Pengantar: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat

Penerbit: CSRC, UIN Jakarta

Radikalisme dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Radikalisme dalam Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Radikalisme dalam Masjid

Cetakan: I, 2010

Tebal: xxxii+358 Halaman

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Peresensi: Ahmad Syauqi, SH, M.Hum*

Keberadaan masjid sebagai pertanda bahwa Islam sebagai agama masih eksis di muka bumi ini. Eksistensi masjid merupakan ikon kejayaan Islam, karena masjid sebagai pertanda tempat beribadan umat Islam. Kalau ada pertanyaan apa yang paling Islam dari masjid? Jawabnya sangat sederhana; salatnya. Selain itu merupakan akulturasi dan hasil ijtihad. Seperti kubah tidak ada dalam tradisi Arab. Di Eropa kubah identik dengan gereja. Jadi kubah merupakan Islamisasi kultural oleh umat Islam. Menara (manarot) yang merupakan bagian penting dari masjid juga bukan dari Islam. Mulanya adalah tempat api untuk memuja para dewa dari bangsa Majusi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Fungsi masjid di dalam Islam tidak hanya sebatas sebagai tempat ibadah, melainkan multifungsi. Dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika Nabi mau menyelesaikan persoalan yang terkait dengan persoalan umat Islam semuanya dilaksanakan di masjid. Sehingga masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat, melainkan berfungsi sebagai tempat musyawarah, pendidikan, lembaga perekonomian, seperti baitul mal, tempat pelatihan aneka keterampilan (skill), hingga latihan perang.

Dalam catatan sejarah, tidak sedikit kita temui dalam beberapa literatur, data yang menunjukkan tentang alih fungsi tempat ibadah. Seperti masjid yang berubah menjadi gereja, dan tidak sedikit pula gereja yang menjadi masjid. Dinamika itu terjadi karena masing-masing agama mempunyai visi dan misi untuk mengajak umat agar memeluk, masuk dan menjadi pengikutnya sehingga berjumlah banyak dan menjadi kuat.

Tetapi Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin dalam perkembangannya tetap menampilkan sebagai agama berwajah ramah dan damai. Karena hingga kini, belum ada data yang menampilkan dikala Islam datang kemudian menghancurkan tempat ibadah agama lain. Di mata dunia, umat muslim merupakan masyarakat yang memiliki karakter ramah dan damai. Tetapi dalam dasawarsa ini, sifat itu tercoreng akibat maraknya aksi-aksi kekerasan dan teror bom, yang dipicu oleh peningkatan pemikiran Islam radikal di Indonesia.

Pasca runtuhnya kekuasan Orde Baru yang dinahkodai Soeharto, beralih menjadi masa reformasi ada perbincangan serius di kalangan umat Islam sendiri tentang kondisi masjid sebagai tempat peribadatan muslim. Hal itu wajar terjadi karena umat Islam Indonesia tergolong dalam beberapa kelompok. Mulai dari yang mengaku dirinya sebagai golongan Islam moderat (al tawassuth) yang wakili oleh NU dan Muhammadiyah hingga yang golongan radikal seperti Wahabi, Salafi, HTI, Front Pembela Islam (FPI), TMI, LDII dan kelompok Islam liberal sekarang justru banyak diminati anak muda muslim. Dua kelompok Islam (moderat dan radikal) sama-sama mempunyai pengikut besar jumlahnya dan mempunyai masjid sebagai tempat peribadatan masing-masing.

Melihat adanya beberapa aliran diatas, maka kasusnya berbeda dengan yang kita dapati pada waktu sebelumnya. Kalau dulu banyak tempat ibadah agama tertentu menjadi tempat peribadatan agama lain, di Indonesia justru terjadi yang sebaliknya. Masjid milik kelompok Islam tertentu mulai dikuasai oleh kelompok Islam yang mempunyai pemikiran radikal.

Akibat tindakan yang dilakukan kelompok Islam radikal, akhirnya muncul adanya kekhawatiran dari ormas Islam akan kehilangan masjidnya. Tidak heran jika ada anekdot mengatakan, jika orang NU salat di masjid Muhammadiyah, sandalnya hilang. Kalau orang Muhammadiyah, salat di masjid NU, maka masjid NU-nya yang hilang. Sedangkan kalau orang PKS salat di masjid Muhammadiyah, maka jamaah masjidnya yang hilang.

Menyikapi hal diatas, dua ormas terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah membuat kebijakan. Kebijakan yang dimaksud adalah PBNU mengeluarkan rekomendasi tentang sertifikasi masjid-masjid NU agar tidak diambil oleh kelompok Islam radikal. Sementara PP Muhammadiyah? mengeluarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP) Muhammadiyah No. 149/Desember 2006 agar hasil amal usaha Muhammadiyah tidak dicablok oleh kelompok Islam radikal.

Lalu, benarkah ada pemikiran radikal di masjid dan seberapa jauh masjid digunakan sebagai locus persemaian pemikiran radikal? Buku Benih-Benih Islam Radikal di Masjid; Studi Kasus Jakarta dan Solo yang merupakan hasil penelitian garapan Centre for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta yang isinya banyak menyajikan data-data secara akurat dalam rangka menjawab pertanyaan tersebut diatas.

Sederhananya buku ini ingin menampilkan kepada para tokoh agamawan, pemerhati, peneliti, akademisi, pimpinan ormas? Islam, seperti NU dan Muhammadiyah dan masyarakat sendiri. Bahwa dari data yang dihasilkan di lapangan, ada ketidaksamaan pendapat/pemikiran antara elit-elit agamawan dengan pengikutnya. Misalnya, para elit agama (NU dan Muhammadiyah) wacana tentang NKRI sudah final dan tidak bisa digantikan dengan sesuatu apa pun, data di bawah (grass root) masih menunjukkan bahwa umat Islam yang berkeinginan wajib mendirikan negara Islam 21% dan umat Islam wajib memperjuangkan khilafah angkanya mencapai 32% (hl. 91).

Contoh lain tentang formalisasi syari’ah. Elit-elit agama sering beranggapan bahwa hukum di Indonesia telah mengakomodasi hukum syari’ah dan tak perlu memperjuangkan hukum formal, dari data yang dihimpun jamaah masih beranggapan wajib memberlakukan pidana Islam 31%, umat Islam wajib memperjuangkan Piagam Jakarta 45%, Negara berwenang mengatur cara pakaian 60% (hl. 52). Dan masih banyak ketimpangan opini lainnya, misalnya tentang terorisme, tindakan FBI yang semakin brutal, aliran Ahmadiyah, isu gender, dan faham pluralisme.

Pemikiran Islam radikal –jujur dan tidak perlu ditutup-tutupi– memang mulai menggejala di beberapa masjid di Indonesia, tidak sedikit pula masjid yang moderat. Tetapi kalau pemikiran-pemikiran radikal terus berkembang dan ada upaya-upaya strategis yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal, maka akan berbahaya terhadap wajah masa depan Islam Indonesia yang dinilai oleh bangsa luar sebagai masyarakat muslim yang ramah dan damai.



*Ketua Umum PP IPNU
Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ansor Cirebon Gelar Kajian Strategis Pemberdayaan Ekonomi

Cirebon, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Cirebon  menggelar kajian strategis dengan tema Short-term Economic Projections: Membaca peluang Pemberdayaan Ekonomi Komunitas di Kabupaten Cirebon” di Aula Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Buntet Pesantren, Cirebon, Kamis (4/4).

Ansor Cirebon Gelar Kajian Strategis Pemberdayaan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Cirebon Gelar Kajian Strategis Pemberdayaan Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Cirebon Gelar Kajian Strategis Pemberdayaan Ekonomi

Acara yang dihadiri oleh puluhan perwakilan badan otonom NU, pelajar, santri, pemerhati ekonomi, dan lainnya ini bertujuan untuk menganalisis peluang ekonomi dan support enterpreneursip bagi generasi muda, khususnya para generasi muda yang aktif dalam kiprah keNUan. 

“Berawal dari sulitnya membaca peluang ekonomi bagi generasi muda NU di Cirebon, serta pentingnya membangun sikap kemandirian organisasi dalam bidang ekonomi, maka sangat dirasa perlu bagi kami PC. GP Ansor untuk memfasilitasi kegiatan semacam ini, intinya karena generasi muda NU harus kuat di bidang ekonomi,” ujar Fariz Elt Fuad Hasyim, Ketua PC. GP Ansor Kab. Cirebon.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hal senada juga disampaikan oleh Taufik Hidayat, ketua panitia. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen PC. GP Ansor Cirebon untuk terus melakukan penguatan komunitas dan organisasi, salah satunya adalah melalui penguatan di bidang ekonomi. 

“Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan bagi generasi muda NU Cirebon untuk mengembangkan dan menguatkan pengetahuan di bidang ekonomi, dengan pengetahuan di bidang ekonomi yang kuat maka akan melahirkan harapan yang baik bagi organisasi maupun masyarakat secara luas,” papar Taufik.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Forum kajian ini menghadirkan pembicara antara lain H. Dudung Mulyana, M.Si (Sekda Kab. Crebon), Zaenal Arifin Waud, S.Ag (Wakil DPRD Kab. Cirebon), dan Anita Kusumawardani (Ketua Forum CSR) dan akan ditindak lanjuti dengan bentuk kerjasama dengan beberapa instansi seperti dinas koperasi (Dinkop) dan dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Kab. Cirebon melalui penguatan dan pengembangan koperasi Ansoruna.

Kegiatan yang dihadiri oleh ratusan peserta ini merupakan agenda PC. GP Ansor Kab. Cirebon dalam menyambut Haul Pondok Pesantren Buntet dan Hari Lahir Kab. Cirebon. Selain forum kajian, hari ini juga digelar bakti sosial berupa donor darah bagi seluruh aktifis muda NU. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax, Pemurnian Aqidah, Kajian Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dirikan CBP-KKP untuk Kenalkan IPNU-IPPNU di Sekolah

Malang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sebagai upaya untuk mengenalkan kiprah IPNU-IPPNU di kalangan pelajar SMP NU Pakis, Malang yang masih menggunakan OSIS, PC IPNU-IPPNU Malang mengawali dengan pembentukan Corps Brigade Pembangunan (DBP dan Korps Kepanduan Putri (KKP) di sekolah tersebut, Kamis, 16/5).

Dirikan CBP-KKP untuk Kenalkan IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan CBP-KKP untuk Kenalkan IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan CBP-KKP untuk Kenalkan IPNU-IPPNU di Sekolah

Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar karena mendapat dukungan penuh dari kepala SMP NU Pakis beserta Waka kesiswaan.

Kepada para pelajar di sekolah tersebut, mereka dikenalkan dengan materi ke-IPNU-IPPNU-an oleh Teguh Bagus Nur Cahyo (Sekretaris PC IPNU) dan Ika Rosaria Fathony (Wakil Ketua II PC IPPNU), dilanjutkan materi tentang ke-CBP-KPP-an oleh Komandan CBP-KPP Saiful Kurniawan dan Anggita Putri. Setelah materi selesai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setelah pemberian materi selesai, dilanjutkan dengan pembentuk struktur organisasi dan pemilihan Komandan CBP-KPP, dengan memilih Aji Febriansyah (CBP) dan Cindiatul Laili (KPP).?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ika Rosaria

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail, Khutbah, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rais ‘Aam: Kalau NU Ikut Berteriak, Negara Bisa Kacau

Surabaya, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Seminar nasional dan bahtsul masail kebangsaan yang diselenggarakan oleh Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur di Masjid Agung Sunan Ampel, Kamis (11/5), mendapat sambutan antusias dari penziarah Makam Sunan Ampel.

Seminar nasional yang mengambil tema “Manhaj Beragama ala Walisongo; Perekat Persaudaraan Islam dan Persatuan Nasional” ini dihadiri langsung Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dan matan wakil ketua umum PBNU H Asad Said Ali.

Rais ‘Aam: Kalau NU Ikut Berteriak, Negara Bisa Kacau (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam: Kalau NU Ikut Berteriak, Negara Bisa Kacau (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam: Kalau NU Ikut Berteriak, Negara Bisa Kacau

Menyinggung tentang kelompok Islam garis keras, Kiai Ma’ruf menyerukan warga NU untuk tetap di NU, tidak ikut arus ke mana-mana. Baginya, NU itu besar. "Islam Radikal paling memiliki 30 ribu anggota dan pemerintah tidak takut pada mereka," jelas Kiai Maruf dengan nada santai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kebanyakan ormas yang terindikasi radikal, menurutnya, selalu berteriak-teriak. Pemerintah tidak gentar menghadapi mereka. "Tapi pemerintah takut pada NU. NU dehem (deham) saja pemerintah akan kalang kabut. Kalau NU ikutan berteriak dan terbakar negara akan kacau," tegas Kiai Maruf.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Maka dari itu, Rais ‘Aam PBNU mengimbau NU harus tenang, santun dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. "Acara seperti inilah yg diharapkan oleh pemerintah. Merumuskan masalah, mencari jalan keluar, lalu direkomendasikam kepada pemerintah," tutup Kiai Maruf. (Rof Maulana/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 22 Oktober 2017

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian

Kudus, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Mendengar nama KH Anwar Zahid, masyarakat tentu  tidak asing lagi. Dari rekaman ceramahnya yang beredar, kiai asal Bojonegoro Jawa Timur ini sudah dikenal dengan gaya kocaknya saat menyampaikan taushiyah.

Tidak mengherankan, setiap pengajian yang menghadirkan kiai ini selalu dipenuhi para jamaah. Seperti halnya dalam acara pengajian halal bi halal dan HUT kemerdekaan ke 69 RI di halaman Masjid Al Muttaqin dukuh Lahar desa Puyoh Dawe Kudus Jawa Tengah, Sabtu siang (16/8) lalu.

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gaya KH Anwar Zahid Kocok Perut Jamaah Pengajian

Di depan ratusan warga puyoh dan sekitarnya itu, pengasuh pesantren Attarbiyah Islamiyyah Asysyafi”iyah Jawa Timur ini mampu menyedot perhatian jamaah yang hadir. Dari penampilannya di atas panggung sangat kalem, komunikatif dan bahasanya sangat lugas nan kocak namun mampu memberikan pemahaman atas intisari yang disampaikan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

 

KH Anwar tidak banyakmenggunakan dalil-dalil Al-Qur’an atau Hadits. Ia hanya mengutarakan makna dari dalil yang dijadikan dasar tema pengajian. Kiai yang terkenal dengan tagline Qulhu ae lek ini mengakui jarang mengutip dalil berbahasa Arab di setiap ceramahnya.

 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Alasannya, kalau saya banyak dalil nanti malah kamu-kamu ndak paham. Mending bahasa Jawa toh yang saya sampaikan juga arti dari dalil tersebut. Selain itu,  aku juga gak begitu hafal dalil,”ucapnya penuh canda yang disambut tawa jamaah.

Pada kesempatan itu, KH Anwar banyak mengutarakan beberapa tema ceramah dari makna halal bi halal hingga HUT kemerdekaan. Ia mengajak warga untuk meningkatkan amal kebajikan usai melaksanakan puasa ramadhan.

“Karena bulan syawal adalah bulan peningkatan. Bila kita meningkat ibadah kita, berarti puasa ramadlan lulus ataupun berhasil. Begitu pula sebaliknya,” terangnya.

KH Anwar memang telah menjadi kerinduan warga untuk melihat secara langsung sosok kiai gaul ini. Saking kocaknya, ceramah satu setengah jam seakan masih kurang sehingga banyak jamaah yang ingin kiai Anwar tidak buru-buru mengakhiri ceramah.

Tetapi karena waktu tidak memungkinkan, Kiai Anwar menutup dengan doa bersama. Usai acara, warga pun berebut naik ke atas panggung untuk bersalaman.

“Betul betul kiai gaul mas, ceramahnya berisi juga membuat saya tertawa lepas. Tadi sempat terpingkal saya mendengar gaya bahasa kiai Anwar,” tutur Irfan salah seorang warga memberi kesan kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan.

Di Kudus, Kamis malam (21/8) ini KH Anwar Zahid kembali dijadwalkan hadir pada pengajian dalam rangka HUT Perusahaan rokok Sukun di Desa Gondosari Gebog Kudus. (Qomarul Adib/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 21 Oktober 2017

PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo Santuni Yatim Piatu

Gresik, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) Lintang Songo Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) memberikan santunan kepada panti asuhan penyantun yatim piatu dan dhuafa Mutiara Ihlas Kota Baru Driyorejo Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

"Kami mengajak kepada sahabat-sahabati serta pengurus PK PMII Lintang Songo Unusida untuk bersosial dan mengajarkan solidaritas sebagai tanggung jawabnya. Selain itu, mengimplementasikan dan mengaplikasikan salah satu nilai dasar pergerakan yakni Hablum Minannas (hubungan sesama manusia)," kata ketua PK PMII Lintang Songo Unusida Moch Zakariya Dimas Prata, Sabtu (19/12).

PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Lintang Songo UNU Sidoarjo Santuni Yatim Piatu

Melalui santunan itu diharapkan dapat membentuk kader- kader yang memiliki rasa solidaritas dan loyalitas untuk bergerak dalam hal sosial. Bukan hanya sebagai mahasiswa atau kader hedonis (hanya penggembira saja), namun bisa menjadi kader yang ideologis dan bisa mempertanggung jawabkan tugas sosial nya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Terutama peduli dengan masyarakat sekitar yang lebih membutuhkan uluran tangan kita. Karena kami adalah uluran tangan dan penyambung lidah masyarakat," imbuh Dimas.

Sementara itu ketua yayasan panti asuhan penyantun yatim piatu dan dhuafa Mutiara Ihlas, Machmudi berharap kepada generasi muda agar bisa selalu aktif pada dunia sosial. Karena sebagian besar anak sekarang hanya apatis akan sosial. Padahal hidup bersosial itu penting.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Machmudi menjelaskan, di panti asuhannya memiliki 96 anak asuh yatim, piatu dan dhuafa. Pihaknya menaruh harapan besar agar para anak asuhnya bisa terfasilitasi penuh. Ia juga mengharapkan uluran tangan dari masyarakat dengan ikhlas untuk perkembangan panti asuhannya. Pasalnya, saat ini panti tersebut masih mempunyai bangunan kecil yang tak cukup dibuat tidur oleh para anak yatim.

"Di sini bukan hanya membantu secara pendananaan saja, melainkan pembentukan skill dan prestasi anak-anak. Beberapa prestasi yang pernah diperoleh anak kami diantaranya pernah menjadi 10 besar pidato bahasa Inggris tingkat Nasional, harapan olimpiade Matematika," jelas Machmudi.

Ia menambahkan, salah satu anak telah menjadi penulis dan telah menerbitkan satu novel yang berjudul One Quantum. Novel itu diterbitkan di Jogjakarta dan sudah beredar dibeberapa toko buku.

Panti asuhan penyantun yatim piatu dan dhuafa Mutiara Ihlas 7.2 No.19 Jl. Penca Warna II B / U.19 itu memiliki visi membentuk anak-anak yang bertaqwa, beriman, intelektual dan siap bersaing. Di panti itu sendiri mempunyai kegiatan ekstra antara lain pencak silat dan pernah beberapa kali menyabet juara umum di tingkat kabupaten. Tak hanya itu saja, beberapa anak asuh nya juga berhasil membawa prestasi medali di tingkat Jawa Timur hingga se-Jawa Bali. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Santri, Pertandingan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Bandar Lampung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sejumlah kader PC PMII Bandar Lampung dari pelbagai perguruan tinggi menggelar orasi dan penggalangan 1000 tanda tangan bagi terciptanya demokrasi terhormat di Bandar lampung, Lampung, Rabu (8/1). Mereka mengajak warga Lampung menolak demokrasi transaksional, demokrasi umbar janji, dan demokrasi halal-haram hantam.

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Ketua PC PMII Bandar Lampung Hendri Badra mengatakan, setelah merdeka 68 tahun, kematangan demokrasi yang diharapkan masyarakat masih sangat jauh dari harapan rakyat. “Republik ini masih terkungkung dengan kegalauan sistem demokrasi,” kata Hendri, Rabu (8/1).

Elit politik dan negarawan pada era Orde Lama berasal dari kalangan terdidik dan aktivis. Sementara pada Orde Baru, kata Hendri, elit politik diramaikan kalangan militer. Sedangkan saat ini, pengusaha juga turut andil dalam sistem kenegaraan. Buktinya banyak pengusaha melibatkan diri dalam partai besar selain membuat partai baru.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Berangkat dari sejumlah pertimbangan di atas, PC PMII Bandar Lampung menggelar aksi kali ini. Aksi ini mengambil bentuk orasi berjalan dari Gedung Juang hingga Tugu Adipura.

Hendri berharap aksi ini bisa menciptakan pemilu 2014 dan legislatif bersih supaya pemilihan umum kembali pada khittahnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, PC PMII Bandar Lampung membuka posko pengaduan dugaan kecurangan pemilu di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Tokoh, Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan