Selasa, 25 Desember 2012

Cinta Tanah Air, KMNU Malaysia Tadabbur Alam di Mahameru

Malang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Cinta tanah air bagian dari iman (Hubbul wathan minal iman). Itulah salah satu dasar dan alasan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama International Islamic University Malaysia (KMNU IIUM) menggelar program pendakian bertajuk “Ekspedisi Semeru KMNU IIUM 2015”.

Koordinator Tim Ekspedisi Ahmad Bayuni mengatakan, program tersebut merupakan program unggulan KMNU Malaysia tahun 2015. Dalam rilis yang diterima Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, program ini telah dirancang sejak tiga bulan silam. “Tim kami telah mempersiapkan segala kebutuhan pendakian. Mulai dari alat perlengkapan hingga logistik. Juga fisik yang sehat dan prima,” kata Bayuni.

Cinta Tanah Air, KMNU Malaysia Tadabbur Alam di Mahameru (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Tanah Air, KMNU Malaysia Tadabbur Alam di Mahameru (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Tanah Air, KMNU Malaysia Tadabbur Alam di Mahameru

Para anggota Tim Ekspedisi Semeru KMNU IIUM kali ini, lanjut Bayuni, berjumlah 23 pendaki, terdiri dari 15 mahasiswa dan 8 mahasiswi. Mereka memulai aktivitas dengan berkumpul di stasiun kereta api Malang. Lalu melanjutkan perjalanan menggunakan angkot menuju pasar Tumpang.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mereka lalu mengikuti tes kesehatan di Puskesmas Tumpang untuk mendapatkan surat keterangan sehat. “Ini salah satu syarat wajib bagi pendaki sebelum naik gunung,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penasehat KMNU IIUM Haris Alfian menuturkan, setelah bermalam di rumah warga, keesokan harinya Tim Ekspedisi melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pane menggunakan Jeep. Mereka lalu mendaftar dan di-briefing petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) tentang tata cara dan peraturan pendakian.

“Lalu, Tim Ekspedisi mulai bergerak melewati bukit-bukit yang curam dan terjal. Setelah sekitar 5 jam, kami sampai di danau Ranu Kumbolo. Air danau tersebut dianggap suci oleh masyarakat Tengger. Dari situ lah keindahan alam gunung Semeru mulai nampak,” kata Haris.

Bagi Shofiatina, salah satu tim pendaki putri, pendakian ini tidak hanya having fun semata. Akan tetapi, kami di sini bisa tadabbur alam dengan menikmati dan merasakan langsung betapa besar dan indahnya ciptaan Tuhan. Kegiatan ini sekaligus bisa memantapkan rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air,” ujar Shofi.

Tim Ekspedisi, kata Haris, mengarungi padang safana yang ditumbuhi bunga Edelweis hingga sampai di Kalimati, tempat peristirahatan para pendaki. Saat tepat pukul 00.00 WIB, tim bersiap menggapai puncak tertinggi pulau Jawa itu. Setelah membaca tahlil dan doa bersama, tim mulai bergerak menyusuri perbukitan terjal.

Setelah melewati Arcopodo, dijumpai sebuah gundukan pasir yang tinggi besar menjulang. Sekitar pukul 5 pagi, tim berhasil menginjakkan kaki di Puncak Mahameru dengan ketinggian 3676 meter di atas permukaan laut (MDPL). “Kami langsung sujud syukur atas segala ciptaan dan nikmat Allah ini,” ujarnya.

Menurut Haris Alfian, kegiatan ini merupakan pertama kali menjejakkan kaki di puncak tertinggi Jawa. Sungguh luar biasa bagi kawan-kawan KMNU. Insya Allah, tahun depan kami akan melanjutkan tadabbur alam ke Gunung Rinjani Lombok, NTB,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah)

? Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Aswaja, Kajian, Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 05 Desember 2012

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia

Pati, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Indonesia merupakan negara dengan penduduk terbesar keempat sedunia dengan 245 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang besar setelah China (1,4 miliar jiwa), India (700 juta jiwa), dan Amerika (350 juta jiwa), penduduk negara ini berpotensi menuai banyak perbedaan, utamanya dari berbagai sektor baik etnis, budaya, bahasa dan agama.

Sebab jumlah penduduk yang besar sama artinya menimbulkan intrik perbedaan yang tidak kalah kecil. Hal itu menjadi pokok perbincangan Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama RI dalam Suluk Maleman bertajuk Bhinneka Tunggale Ilang; Meruwat Perbedaan Merawat Nusantara di Rumah Adab Indonesia Mulia, Jalan Diponegoro 94 Pati, Sabtu (21/03/15) malam.

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Beragama adalah untuk Memanusiakan Manusia

Perbedaan, katanya, adalah sunnatullah. “Kita harus pandai-pandai menyikapi perbedaan. Jangan sampai berobsesi untuk menyeragamkan perbedaan. Sebab itu melanggar sunnatullah,” jelasnya kepada ratusan hadirin.

Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini menekankan perbedaan sudah jelas tercantum dalam nashsuuba waqabaila”, Tuhan menciptakan manusia bersuku dan berbangsa-bangsa.

Di ayat lain, Tuhan bisa saja menjadikan umat manusia, ummatan wahidah, makhluk homogen. Tetapi maksud mulia dari Allah ialah agar umat manusia fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Wakil Ketua MPR RI 2009-2014 itu menambahkan, perbedaan perlu diunduh hikmahnya. “Agar satu sama lain mengisi, melengkapi, dan saling menyempurnakan,” lanjutnya.

Untuk menyikapi perbedaan ditempuh dengan kearifan dan kebijaksaan. Sebab perbedaan itu indah asal bisa mengambil sisi-sisi positif. “Salah satu cara merajut perbedaan yang dilakukan para pendahulu ialah dengan nilai-nilai agama,” imbuh lelaki 52 tahun ini.

Dalam memahami nilai-nilai agama perlu ilmu pengetahuan dan wawasan luas. Dengan pengetahuan yang luas harapannya dalam memandang tidak mudah menyalahkan.

Politisi PPP itu menyontohkan angka 4 ialah hasil penambahan 2+2. Sehingga tak boleh menyalahkan orang yang bilang itu hasil dari 2 x 2, 10 - 6 maupun 100 - 96. Hal itu menurutnya sejalan dengan orang menjalani syariat dan tasawuf.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Orang setaraf syariat, sebut dia, dalam beribadah berorientasi pada pahala dan takut kepada neraka. Sehingga posisinya abid, hamba dan ma’bud, Tuhan berbeda. Sedangkan pelaku tasawuf antara manusia, asyiq dan masyhuq, Tuhan, setara.?

Kedua pelaku jalan menuju Tuhan itu mempunyai cara berbeda untuk menuju sang Khaliq namun dengan cara berbeda. Sehingga keduanya perlu disatukan agar mencapai kesempuraan.

Memanusiakan Manusia

Beragama, tegas Lukman, ialah untuk memanusiakan manusia. Karena tujuannya sama meski dengan jalan agama yang berbeda-beda: Islam, Kristen, Hindu dan Budha. Hal itu sejalan dengan Islam Rahmatan Lil Alamin.

Wali Songo, paparnya, dalam menebar Islam di Nusantara tidak dengan pertumpahan darah tetapi dengan kearifan tanpa mengubah tradisi yang berlangsung di Jawa.

Karenanya bangsa dengan penduduk besar juga berpotensi besar terpecah belah. “Solusinya dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan serta soliditas sebagai bangsa serta menghadapi beragam masalah dengan kearifan,” ungkap Lukman Hakim.

Kepada Anis Sholeh Baasyin, penggagas Suluk Maleman memberikan apresiasi sebab kegiatan merupakan upaya untuk mengedukasi generasi muda sebagai modal untuk menghadapi globalisasi agar keutuhan bangsa senantiasa terawat dengan baik. ?

Hadir juga dalam kesempatan itu Lily Wahid (Mantan Anggota DPR RI), Agus Sunyoto (sejarawan), KH Abdul Ghofur Maimoen (tokoh agama) serta Ilyas (akademisi). Juga dimeriahkan penampilan Sampak Gusuran pimpinan Anis Sholeh Baasyin. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Syariah, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 01 Desember 2012

Satkornas Banser: Jangan Berhenti Kawal Kebhinekaan

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan -

Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Anton Charliyan memberikan penghargaan Police Honorary Award kepada PW GP Ansor setempat sehubungan penilaian obyektif sebagai organisasi penebar perdamaian. Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni mengapresiasi prestasi membanggakan itu.

"Tapi yang perlu kita catat bersama, prestasi tersebut bukan tujuan, sehingga harus dimaknai bagian dari proses yang terus menerus harus diperjuangkan. Kader Ansor dan Banser jangan pernah berhenti memperjuangkan perdamaian dalam kebhinekaan," ujar Alfa, di Jakarta, Senin (7/11).

Satkornas Banser: Jangan Berhenti Kawal Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkornas Banser: Jangan Berhenti Kawal Kebhinekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkornas Banser: Jangan Berhenti Kawal Kebhinekaan

Kasatkornas Banser itu meminta, prestasi tersebut selalu dijadikan penyemangat untuk menjaga dan mengisi pembangunan bangsa Indonesia.

"Selaku Kasatkornas saya mengucapkan selamat dan bangga atas prestasi itu. Penghargaan tersebut adalah bukti nyata dan konkret GP Ansor dan Banser di Sulsel berkomitmen dalam menjaga kebhinekaan dan kedamaian di daerah itu, bukan hanya sekedar jargon," kata dia lagi.

Kasatkornas Banser tersebut selanjutnya mengajak seluruh pihak dan kader untuk mengimplementasikan kedamaian dan menjaga eksistensi bangsa dalam kerangka NKRI.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Police Honorary Award diberikan bagi para tokoh masyarakat dan organisai massa dan kepemudaan yang selama ini memberikan dedikasi demi terciptanya perdamaian.

Sehingga diberikan penghormatan Khusus oleh Kapolda sebelum penyerahan piagam perhargaan itu. (Gatot Arifianto)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan