Selasa, 27 Desember 2011

GP Ansor Kadur Gerilya Shalawatan di 10 Desa

Pamekasan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kadur Kabupaten Pamekasan tampak konsisten menjalankan program kerjanya. Salah satunya, bergerilya ke 10 desa sembari shalawatan.

Program tersebut digerakkan oleh pengurus Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor Kadur yang melibatkan sebagian pengurus ranting, Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), Barisan Ansor Serba Guna (Baanar), serta pengurus Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) GP Ansor Kadur.?

GP Ansor Kadur Gerilya Shalawatan di 10 Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Kadur Gerilya Shalawatan di 10 Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Kadur Gerilya Shalawatan di 10 Desa

Kegiatan yang dimulai usah Magrib hingga larut malam tersebut, masih terlihat Ahad (12/2) malam di kediaman salah seorang pengurus Ansor Kadur Ubaidillah, Desa Bangkes, Kadur, Pamekasan.

Dalam kesempatan itu, Ketua MWCNU Kadur Kiai Baidlowi Absom hadir memimpin zikir dan tahlil. Setelah itu, berlanjut shalawatan yang diiringi dengan tabuhan rebana dan gambus modern.

Gerilya shalawatan tersebut sudah berlangsung tiga bulanan, bergantian di rumah pengurus Ansor yang tersebar di 10 desa. Kini, yang terlaksana sudah di Desa Kadur, Kertagena Tengah, dan Bangkes.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Bulan depan di kediaman Kepala Baanar sahabat Lif Khodir di Desa Gagah. Kita targetkan nanti pelaksanaannya tersebar di seluruh kediaman pengurus," ujar Ketua MDS Rijalul Ansor Kadur, Muhammad Salam Bakir.

Sementara itu, Sekretaris GP Ansor Kadur Fathorrahman menegaskan, kegiatan tersebut besar manfaatnya: Di samping menuai pahala, juga dapat memperkuat solidaritas antar-pengurus.

"Melalui shalwat, kita berharap kelak dapat syafaat dari Nabi Muhammad Saw. Selain itu, pengurus Ansor Kadur tambah kompak dan bersemangat dalam mengabdi pada agama dan negara lewat GP Ansor NU," tukas Fathorrahman.?

Kegiatan shalawatan ini terbilang tidak terlalu memberatkan bagi tuan rumah: tidak perlu disuguhi nasi, tapi cukup kopi dan camelan sekadarnya. Guna meringankan tuan rumah, pengurus juga sumbangan Rp10 ribuan tiap acara. (Hairul Anam/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 02 Desember 2011

Daerah Minta SARBUMUSI NU Perkuat Advokasi Buruh

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Barat Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama Wari Maulana meminta pengurus Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama yang dilantik di PBNU Jumat (23/9) untuk memperkuat pembelaan kepada buruh-buruh yang bersengketa dengan perusahaan. ?

Daerah Minta SARBUMUSI NU Perkuat Advokasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Daerah Minta SARBUMUSI NU Perkuat Advokasi Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Daerah Minta SARBUMUSI NU Perkuat Advokasi Buruh

Tahun ini di Jawa Barat, katanya, yang ditangani Sarbumusi ada lima kasus. Namun, hanya satu yang bisa diselesaikan, sementara yang lainnya belum. ?

“Sarbumusi agar lebih memperkuat tim pembelaan buruh supaya perusahan tidak seenaknya melakukan pemutusan kerja sepihak. Perlu memperkuat pembelaan,” katanya yang turut hadir dalam pengukuhan tersebut. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara DPC Sarbumusi Kabupaten Bekas Abdul Jalil meminta DPP Konfederasai Sarbumusi untuk berusaha keras mensosialisikan tingkat basis. “Nama Sarbumusi udah diakui ILO, itu susah. Serikat-serikat pekerja yang ada sekarang saja belum masuk. Ini kesempatan yang besar sekali untuk Sarbumusi mensosialisaskannya,” jelasnya yang juga turut hadir di pengukuhan.

Ia setuju dengan apa yang dikatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bahwa Sarbumusi ke depan harus berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat buruh sebagai manusia dengan jalan marhamah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Presiden Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Nahdlatul Ulama Syaiful Bahri Anshori mengakui bahwa saat ini persoalan buruh sangat banyak. Pengalaman di lapangan, Sarbumusi telah melakukan advokasi buruh di Jember, Sidoarjo, Jakarta, dan Riau. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax, Warta Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 09 Oktober 2011

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Jember, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Bukan karena latah jika NU saat ini ikut berteriak soal pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Sebab, pergerakan NU memang mempunyai benang  sejarah  yang cukup kuat dengan beridrinya NKRI. Demikian dikemukakan oleh Menpora RI, Imam Nahrawi saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Pancasila Final, NKRI Harga Mati, Khilafah No" di auditorium Universitas Islam Jember (UIJ), Sabtu (14/5). 

Menurut Menpora, NU sebagai salah satu ormas yang memiliki sejarah dan turut andil dalam pendirian NKRI, maka seharusnya mempertahankan NKRI. "Oleh karena itu, mari kita pertahankan sejarah itu dengan baik. Jangan sampai ada oknum yang tidak memiliki sejarah, lalu mengatakan Indonesia harus diubah," ujarnya.

Imam Nahrawi meminta agar NU tetap kuat dan solid  mengawal NKRI dan Pnacasila. NKRI, katanya, adalah harga mati, dan siapapun tidak boleh menentangnya. Ini bukan karena adanya gejala atau gerakan yang mengancam Pancasila dan NKRI belakangan ini, namun karena hal tersebut sudah menjadi sikap bangsa yang tidak bisa ditawar lagi. "Yang terpenting saat ini adalah eksekusinya seperti apa karena NKRI adalah memang sudah harga mati tidak boleh siapapun menantang. Apabila ada yang menantang maka harus keluar dari NKRI," ujar Menpora.

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan UIJ, Abdullah Syamsul Arifin (Gus A`ab) mengatakan bahwa NU sejak lama berkomitmen mengawal dan menjaga Republik Indonesia dan siap menghadapi siapapun yang akan mengotak-atik NKRI. Terkait dengan ormas yang menentang NKRI, PCNU Jember sudah mengambil langkah, diantaranya mendorong pemerintah pusat, Kemenkumham dan Kemendagri untuk membubarkan ormas-ormas penentang NKRI dan Pancasila.

"Pemkab Jember kami harap membuka forum untuk menutup kegiatan ormas penentang Pancasila dan merongrong NKRI," jelas Gus Aab yang juga Ketua PCNU Jember itu. (Aryudi A Razaq/Zunus)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, Makam, Sejarah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 07 Oktober 2011

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pesatnya perkembangan informasi dan teknologi dewasa ini, Pengurus dan Anggota Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) harus mampu memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat seiring perkembangan zaman.

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman

Hal ini ditegaskan oleh Ketua PW IPPNU Provinsi Lampung Amalia Fadhila saat hadir di arena Konferensi Cabang ke 2 PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Pringsewu yang dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Sabtu (22/4).

Amalia Fadhila yang menahkodai PW IPPNU Lampung periode 2017-2020 ini juga mengajak agar pelajar NU saat ini ikut mewarnai dunia maya dengan rajin menulis.?

"Mari tuangkan pikiran kita melalui media-media sosial khususnya yang bernafas NU," ajaknya dihadapan para peserta Konferensi yang terdiri dari Pengurus PAC, Ranting dan Komisariat yang telah terbentuk di Pringsewu.

"Kita sekarang hidup di dua dunia, Dunia Nyata dan Dunia maya. Jangan hanya jadi user saja yang gampang termakan hoax. Mari cerdas hidup didunia maya dan mengisinya dengan konten yang benar dan menyejukkan," ajaknya dihadapan peserta Konferensi yang juga dihadiri oleh Pengurus PW IPNU Lampung, Pengurus NU, Banom di Pringsewu dan beberapa undangan dari ormas kepemudaan diluar NU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Konferensi yang mengangkat tema "Satukan Tekad untuk Memantapkan Roda Organisasi" ini dibuka oleh Wakil Sekretaris PCNU Pringsewu Muhammad Faizin. Dalam sambutannya, ia juga mengajak pengurus IPNU dan IPPNU Pringsewu untuk mampu menjawab tantangan zaman dengan terus berbenah menyiapkan diri melanjutkan Jamiyyah NU.

"IPNU dan IPPNU merupakan Kawah candra dimuka pembentukan kader kader penerus NU. Jadi mari tingkatkan keilmuan baik dibidang agama maupun dibidang ? organisasi sebagai modal membesarkan Jamiyyah," terangnya seraya berharap seluruh PAC dan Ranting di Kabupaten Pringsewu dapat dibentuk kepengurusannya.

Bagi para senior IPNU dan IPPNU ia mengajak untuk segera menyiapkan diri untuk aktif berkiprah di Organisasi atau Badan Otonom lainnya yang ada di NU sesuai dengan jenjang umurnya seperti Ansor dan Fatayat. "Ayo move on. Cinta IPNU dan IPPNU boleh. Tapi Banom lainnya sudah menunggu kalian," pungkasnya disambut senyum para pengurus yang sebentar lagi paripurna.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pada acara Konferensi tersebut juga dibagikan sejumlah piala dan penghargaan kepada para pemenang lomba yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Konferensi tersebut. Lomba yang dipertandingkan antara lain Bulu Tangkis, Kaligrafi dan berbagai lomba lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 22 September 2011

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal

Lamongan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengerahkan 25 ribu anggota satuan tugas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk membantu mengamankan gereja-gereja selama perayaan Natal di Jawa Timur.

"Kami sudah berkoordinasi dan memerintahkan semua personel Banser untuk terjun langsung mengamankan gereja-gereja yang tersebar di Jatim," ujar Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur Alva Isnaeni di sela Konferensi Wilayah Ansor di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Sabtu.

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal

Ia mengatakan, setiap tahun Ansor membantu aparat menjaga keamanan selama perayaan Natal.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tahun ini, ia melanjutkan, anggota Banser akan mulai membantu aparat melakukan tugas pengamanan sejak 23 Desember hingga 27 Desember 2013.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Anggota Banser, ia menjelaskan, tidak hanya akan membantu mengamankan gereja tapi juga membantu mengatur lalu lintas kendaraan di jalanan sekitar gereja.

Bahkan, menurut dia, dalam beberapa pekan ini anggota Densus 99 Banser sudah turun ke lapangan untuk memantau kondisi wilayah.

"Densus 99 Banser ini bertugas mengamati dan mencari tahu atau memetakan kerawanan yang akan terjadi. Berdasarkan laporan yang kami terima, ada beberapa daerah sudah disasar oknum tak bertanggung jawab, seperti Surabaya, Malang dan kawasan Mataraman," kata dia.

Ia menambahkan, Banser sukarela membantu menjaga keamanan gereja selama perayaan Natal. "Ini wujud konkret Banser sebagai penjaga kebhinekaan," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Pesantren, Pahlawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 10 September 2011

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng

Pada awal Lebaran (Syawwal 1434 H), Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan mendapatkan kesempatan untuk menelusuri jejak para penyebar Agama Islam di Kabupaten Tuban. Di daerah yang mendapat julukan sebagai Kota Wali ini, kami berziarah ke makam para wali, menelusuri goa-goa yang konon pernah disinggahi para wali dan berkunjung ke tempat bersejarah lainnya.

Tentang julukan Tuban sebagai Kota Wali ini, dari penuturan tokoh dan masyarakat setempat yang menjelaskan hal ini dikarenakan banyaknya wali yang dilahirkan, pernah bermukim atau dimakamkan di kota pesisir pantai utara ini. Sebut saja Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan lain sebagainya. Juga karena banyaknya pesantren berdiri yang berdiri di tanah Tuban.

Sebelum disebut sebagai daerah wali, Tuban pernah pula disebut sebagai Bumi Ranggalawe (merujuk pada tokoh pada zaman sebelum Majapahit yang bernama Ranggalawe). Bahkan pernah juga disebut sebagai Kota Tuak, karena memang terkenal sebagai penghasil minuman tuak.

Namun, beberapa tahun belakangan, sejak tampuk pimpinan Bupati dipegang oleh tokoh dari kalangan pesantren, KH Fathul Huda, trademark sebagai Kota Wali kembali dimunculkan. Hingga sekarang, daerah ini menjadi salah satu destinasi utama rombongan ziarah Walisongo dari berbagai penjuru Tanah Air.

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng

Makam di Tengah Hutan

Perjalanan di Tuban dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yakni dua hari. Dimulai dari daerah Alas Pakah, sekitar 7 Km dari kota. Di daerah antara Pakah dan Palang, terdapat sebuah makam, yang masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Sunan Geseng.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sunan Geseng ini adalah murid dari Sunan Kalijaga. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Kyai Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya sehingga merelakan badannya menjadi hangus (Jawa : geseng).

Untuk menuju ke makam, kami harus masuk sedikit ke dalam area hutan, di mana jalan menuju lokasi masih dipenuhi dengan rimbunnya pohon-pohon jati dan pepohonan besar lainnya. Sampai di kompleks makam yang masuk dalam kawasan Desa Gesing Kecamatan Semanding, akan ada pelataran yang cukup luas. Di tempat tersebut hanya ada dua bangunan utama, masjid dan makam yang terletak di sebelah baratnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sampai di makam, terdapat gapura yang bernuansakan seperti masuk ke sebuah pura, bertuliskan Makam Sunan Geseng. Di sana kami bertemu dengan Sutaji, sang penjaga makam. Dia menjelaskan sedikit banyak tentang bangunan itu. Kompleks makam kemudian direnovasi mulai tahun 1985-an. Dananya diperoleh dari masyarakat sekitar dan peziarah yang ikut membantu. “Bangunan pertama dulu cuma patok (makam), belum seperti sekarang, Mas,” kata Sutaji yang sedang ditemani dua istrinya.

Masuk ke dalam ruangan makam, terdapat penerangan 4 lampu dan satu lampu di atas makam. Di ruangan tersebut terdapat dua makam, yakni makam Sunan Geseng. “yang sebelahnya itu istrinya, namanya Siti Zubaedah,” terang Sutaji.

Masing-masing makam panjangnya kurang lebih 2 m. Di sekelilingnya terdapat pagar kayu sehingga para peziarah tidak dapat memegang langsung makam.

Pada saat kami berziarah, terdapat beberapa rombongan peziarah, yang diantaranya mengaku datang dari Lamongan. Pemimpin rombongan tersebut, Suwandi, mengaku pada hari itu mereka sudah berziarah ke makam para wali, dinataranya Sunan Ampel dan Sunan Lamongan. Rencananya setelah itu mereka juga akan ke makam Sunan Bonang.

Setiap harinya memang terdapat banyak peziarah yang datang ke makam Sunan Geseng. Mereka kebanyakan datang dari daerah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Para peziarah ada yang datang dengan menaiki motor adapula yang datang rombongan dengan menaiki bus. Mereka terus berdatangan, padahal mereka tahu bahwa di daerah lain juga terdapat makam dengan nama yang sama.

Ya, seperti juga makam aulia yang lainnya, makam ataupun juga petilasan Sunan Geseng ini, di beberapa tempat lainnya diyakini sebagai makamnya. Selain di Desa Gesing ini, ada pula di Kediri, Purworejo, Pati yang berada di Pegunungan Kendeng utara dan lain-lain. Dan tentunya setiap daerah tersebut masyarakatnya meyakini bahwa makam Sunan Geseng tersebut bersemayam.

Belum sampai satu jam kami di tempat itu, senja telah tiba. Waktunya untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan, agar kami tidak kemalaman di tengah hutan Pakah. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nusantara, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 23 Agustus 2011

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ribuan santri dari seluruh penjuru pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo mengikuti apel akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 di alun-alun Kota Kraksaan, Ahad (22/10) pagi.

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara komandan upacara adalah anggota Satkorcab Banser Kota Kraksaan Moh. Fauzi Zamani dan perwira upacara adalah Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan Taufiq.

Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa peringatan HSN ke-3 ini mengambil tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Oleh karenanya santri harus mengimplementasikan tema ini dengan mengamalkan ilmu dan budaya santri saat pulang ke halaman masing-masing.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Tetaplah menjadi seorang santri tatkala sudah selesai menimba ilmu dan pulang ke rumah masing-masing. Jadilah manusia yang mampu membuat tersenyum kedua orang tuamu,” katanya.

Hasan mengajak para santri dan segenap elemen masyarakat untuk bersyukur karena pada momentum 22 Oktober 2017 yang merupakan Hari Santri Nasional (HSN) masih diberi nikmat berupa sehat dan luang waktu sehingga bisa memberikan penghargaan kepada NU berupa HSN yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Semoga penghargaan ini mampu kita syiarkan kepada seluruh rakyat Indonesia sehingga bisa mewujudkan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan Allah),” harapnya.

Lebih lanjut Hasan menambahkan di dalam NKRI santri harus terus mengamalkan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) yang digariskan NU. “Maknai Resolusi Jihad itu bagian dari hubbul wathon minal iman sebagaimana KH Hasyim Asyari memfatwakan. Fatwa itu keluar dari ulama tatkala NKRI merdeka dan terancam masuknya kembali penjajah,” tambahnya.

Menurut Hasan, santri itu seperti paku yang dipukul sampai tidak terlihat. Begitu dia tampak dipukul lagi sehingga tidak kelihatan. Padahal paku ini adalah bagian terkuat dari sebuah bangunan. “Itulah santri yang meskipun tidak terlihat tetapi menjadi sebuah kekuatan yang besar. Inilah makna pengamalan dari akhlaqul karimah yang harus ada dalam setiap diri santri,” terangnya.

Bagi NU jelas Hasan, mempertahankan NKRI sebagai santri wajib hukumnya. “Semoga santri di Kabupaten Probolinggo diberi sehat walafiat, ilmunya manfaat dan barokah serta menjadi anak soleh dan solehah dan mampu meneruskan cita-cita kedua orang tuanya,” pungkasnya.

Apel akbar peringatan HSN ke-3 ini juga diiringi dengan paduan suara oleh siswa dan siswi MA Pondok Pesantren Darul Lughah wal Karomah Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan. Dalam kesempatan ini, grup paduan suara ini melantunkan lagu Syubbanul Wathon, Hari Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Sholawat Nahdliyah, Indonesia Raya dan Mars Banser.

Pada apel akbar peringatan HSN ke-3 ini juga dibacakan ikrar santri oleh Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam dan PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati. Serta pembacaan teks Resolusi Jihad oleh pengurus Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Ghazali Bahar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah, Hikmah, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 11 Agustus 2011

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya

Yogyakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Pusat Lakpesdam Nahdlatul Ulama menggelar Pelatihan Project Cycle Management (PCM) dan Pelatihan Financial Management (FM) PNPM Peduli di Hotel Santika Yogyakarta, Selasa-Sabtu (31 Oktober-3 November 2012). 

Pelatihan diikuti 56 peserta yang terdiri dari Project Officer (PO) dan Financial Officer (FO) dari 28 cabang, pelaksana PNPM Peduli di 10 Provinsi seluruh Indonesia. Acara itu juga dihadiri PBNU, Kemenkokesra, PSF, PWNU DIY dan undangan lainnya.

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya

Ketua PP Lakpesdam NU, Yahya Ma’shum menjelaskan PNPM Peduli Lakesdam NU sebagai program pengurangan kemiskinan telah melewati phase pilot, yaitu dari Juni 2011-Juni 2012. Saat ini, program dalam masa lanjutan, yaitu phase antara dari phase pilot ke phase berikutnya yang dimulai sejak Juli 2012 dan akan berakhir pada Desember 2012. Banyak capaian dan hambatan ditemukan selama pelaksanaan program.

Namun demikian, mengacu kepada hasil monitoring, supervisi dan asistensi yang dilaksanakan pengurus pusat Lakpesdam NU, cabang-cabang pelaksana PNPM Peduli masih membutuhkan peningkatan kapasitas tentang siklus pengelolaan proyek (Project Circle Management [PCM]).  

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lebih jauh Yahya menjelaskan, secara  tujuan Pelatihan adalah adalah untuk meningkatkan kapasitas cabang-cabang, pelaksana PNPM Peduli dalam mengelola PNPM Peduli. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Secara khusus, tujuan pelatihan PCM adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan cabang dalam mengidentifikasi, merencanakan, melaksanakan, memonitoring dan mengevaluasi program. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan cabang dalam merumuskan gagasan dan rencana program ke dalam kerangka logis program (logical framework). Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan cabang dalam mendokumentasikan seluruh kegiatan-kegiatan program. Meningkatkan kemampuan mengenali/ mengidentifikasi, mencatat  dan menggunakan data perkembangan program di lapangan secara detil serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan cabang dalam penulisan laporan program,” tegas pria berpenampilan kalem ini.

Sementara, Deputi Kemenkokesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Ir Sujana Royat, DEA dalam pemaparannya dihadapan peserta pelatihan menjelaskan, PNPM Peduli adalah salah satu bentuk terobosan yang dilakukan untuk memberdayakan rakyat marjinal yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh program pemerintah.

”Seluruh pelaksana PNPM Peduli harus bekerja dengan hati, bukan hanya sekedar menjalankan program berdasarkan TOR, karena PNPM Peduli adalah jihad kita semua untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” tutur sang Deputi Menteri yang juga berasal dari keluarga Nahdliyin ini.

Dalam sesi tanya jawab yang dipandu Sekretaris PP Lakpesdam, Lilis Nurul Husna, tiga orang peserta yakni dari Indramayu, Bantul dan Tuban mengajukan berbagai pertanyaan kepada Deputi Menkokesra, diantaranya soal rakyat miskin yang mengalami kesulitan akses dalam pelayanan kesehatan dan ditolak oleh rumah sakit. 

Mendapat pertanyaan dari peserta pelatihan, Deputi Menkokesra, Sujana Royat langsung menjawabnya dengan lugas, bahwa pemerintah telah menggariskan tidak boleh ada rakyat Indonesia yang ditolak oleh rumah sakit ketika mereka sakit dan harus di rawat di rumah sakit manapun. 

“Apabila ada rumah sakit yang menolak rakyat miskin yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan maka bisa langsung melaporkan melalui SMS pengaduan Menkokesra ke nomor 085880001949, dengan menyebutkan nama pasien, nama rumah sakit dan direktur rumah sakit tersebut, pasti laporan itu akan langsung ditindak lanjuti ke Crisis Centre Menteri Kesehatan dan akan langsung ditindak,” tegas Sujana.

Para peserta pelatihan nampak puas menerima penjelasan Deputi Menkokesra, setelah acara dialog berahir, peserta pelatihan PCM kembali mengikuti jalannya pelatihan dengan berbagai agenda yang telah disiapkan panitia. para peserta akan mendapatkan materi tentang Penguatan Visi Ke NU an, Pemetaan marginalitas dalam konteks global dan refleksi posisi CSO/Cabang di Indonesia, Konsep Project Cycle Management dan berbagai materi lainnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Doa, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 13 Juli 2011

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Momen lebaran atau Idul Fitri dimanfaatkan oleh mayoritas masyarakat untuk mengunjungi para leluhurnya, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Selain mendoakan, hal ini juga sebagai tanda penghormatan seseorang kepada para orang tua agar selalu menjadi pelajaran sehingga tradisi baik tetap terawat.

Terkait hal ini, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan bahwa bersyukurlah seseorang yang memunyai leluhur terhormat dan mulia. Sebab, hal ini tentu akan menjadi sejarah tersendiri untuk terus membangun kemuliaan leluhur di masa depan.

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu

“Jika kita punya leluhur terhormat dan mulia, maka bersyukurlah karena engkau terlahir dari keluarga terhormat dan mulia,” ujar Kiai Moqsith, Senin (11/7) dalam akun Facebook miliknya.

Namun, lanjutnya, jangan terlena dengan keluhuran masa lalu yang menyebabkan seseorang lupa membangun keluhuran di masa kini dan masa depan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jika kita tak punya leluhur hebat, maka itu pun bukan akhir dari segalanya,” tegas Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Justru menurutnya, kita punya kesempatan membangun keluhuran di masa sekarang dan masa datang tanpa terbebani dengan keluhuran di masa lalu. Kita bisa membangun keluhuran dengan "rileks" karena tak ada leluhur hebat yang membebani.

“Sungguh, betapa banyak orang menjadi luar biasa sekalipun terlahir dari keluarga biasa. Tak sedikit orang terjatuh menjadi asfala safilin walau terlahir dari keluarga ala illiyin,” tutup Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sunnah, Sholawat, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 12 Juli 2011

Bupati Sragen: Tanpa Resolusi Jihad, Tak Ada Peristiwa 10 November!

Sragen, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan -

Ribuan orang berkumpul di Lapangan Alun-alun Kabupaten Sragen Jawa Tengah, untuk mengikuti upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2016, Sabtu (22/10). Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati hadir dalam acara tersebut bersama dengan sejumlah tokoh baik dari sipil maupun militer.

Bupati Sragen: Tanpa Resolusi Jihad, Tak Ada Peristiwa 10 November! (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sragen: Tanpa Resolusi Jihad, Tak Ada Peristiwa 10 November! (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sragen: Tanpa Resolusi Jihad, Tak Ada Peristiwa 10 November!

Dalam sambutannya, Yuni, membacakan amanat dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terkait momentum Hari Santri.

“Tanpa Resolusi Jihad NU tentu tidak pernah ada peristiwa 10 Nopember. Tanpa Resolusi Jihad NU, kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945, tentu akan tercabik-cabik kembali oleh upaya pengambilalihan kedaulatan yang dimotori tentara NICA. Inilah wujud ajaran dari Hadratussyeikh yang meletakkan kewajiban bela negara adalah sama pentingnya dengan kewajiban membela agama,” tegas Bupati.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dia juga mengajak para peserta upacara, untuk menjadikan momentum HSN, sebagai pneguhan kesetiaan mengawal dan mempertahankan NKRI.

“Marilah kita jadikan momentum Hari Santri, 22 Oktober ini, untuk meneguhkan kesetiaan mengawal dan mempertahankan Pancasila, NKRI serta UUD 1945,” kata dia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara itu, Ketua PCNU Sragen, KH. Dr. Agus Budiharto mengatakan para santri, selain harus bias mengaji, juga tidak meninggalkan kewajiban mereka mengenyam pendidikan bangku sekolah. “Santri itu harus lengkap, sekolah dan mengaji,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 02 Juni 2011

IPNU Sambeng Rutin Sambangi Ranting-ranting

Lamongan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sambeng, Lamongan, Jawa Timur, secara bergilir menyambangi pimpinan ranting IPNU di daerah setempat. Kegiatan rutin ini digelar seminggu sekali dalam rangka konsolidasi dan sosialisasi program.

Ahad (21/9) kemarin, IPNU Sambeng bertandang ke Pimpinan Ranting IPNU Desa Wonorejo, Kecamatan Sambeng. Kunjungan sejumlah pengurus PAC IPNU Sambeng disambut 30 kader IPNU di desa itu.

IPNU Sambeng Rutin Sambangi Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Sambeng Rutin Sambangi Ranting-ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Sambeng Rutin Sambangi Ranting-ranting

Ketua PAC IPNU Sambeng Aryo Toha mengatakan, kesuksesan tingkat anak cabang selalu berawal dari kesuksesan di tingkat ranting. Tanpa keaktifan pimpinan ranting, menurutnya, PAC IPNU Sambeng tak ada artinya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Karena kaderisasi dimulai dari bawah dan saya yakin kalau kaderisasi itu terstruktur dengan baik maka akan membawa kemajuan di organisasi itu sendiri,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Acara tersebut dimulai pukul 08.00-12.00 WIB itu berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan hangat dari peserta. “Saya sangat senang sekali karena dari PAC IPNU Sambeng rutin menyambangi kami dan sosialisasi terkait program PAC,” ucap Cahyono, Ketua Pimpinan Ranting IPNU.

Forum pertemuan tersebut mengusung tema “Konsolidasi Organisasi dan Penguatan Ranting”. Pada kesempatan ini PAC juga menyosialisasikan program terdekat, yaitu Lakmud (Latihan Kader Muda) dan Diklat Administransi.

Selain itu PAC IPNU Sambeng juga mendata seluruh anggota ranting IPNU setempat, yang kemudian masuk ke dalam basis data PAC IPNU Sambeng.

“Saya harap dari setiap sambang rutin ke ranting-ranting kita bisa menyerap aspirasi dari para kader dan membuatkan program yang berjenjang dan berkelanjutan demi IPNU untuk NU, dari PAC untuk Indonesia,” harap Syahroni, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi IPNU Sambeng. (Asyhari/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 13 Mei 2011

Profil Ahwa: KH Makhtum Hannan, Cirebon

KH Makhtum Hannan dilahirkan di Cirebon, 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah. KH. Abdul Hannan adalah putra Kiai Toyyib bin Kiai Masina bin Kiai Juman bin Kiai Mansur bin Kiai Abbas bin Kiai Subki bin bin Kiai Kamali bin Kiai Abdurrahim bin Syeikh Abdul Latif bin Mas Buyut bin Sunan Ratna Geulis/Kikis bin Sunan Raja Desa bin Sunan Bahuki bin Khatib Arya Agung bin Dalem Suka Hurang bin Sayid Maulana Faqih Ibrahim bin Syaikh Abdul Muhyi --- Sunan Giri bin Maulana Ishaq.

KH Makhtum belajar ilmu agama pada ayahnya, KH. Abdul Hannan, pamannya, KH. Masduki Ali dan juga kakanya KH. Amrin Hannan. Selain itu, ia pernah belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu pada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ust. Fadhil. Juga mesantrrn di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syeikh Masduki dan Syeikh Mansur bin Khalil.

Profil Ahwa: KH Makhtum Hannan, Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Ahwa: KH Makhtum Hannan, Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Ahwa: KH Makhtum Hannan, Cirebon

Sepulang mesantren KH. Makhtum Hannan meneruskan pondok pesantren ayahnya di Babakan Ciwaringin – Cirebon. Tahun 1960 bersama kiai-kiai lain mendirikan Madrasah al-Hikamus Salafiyyah (MHS) tingkat, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, dan Mahad Ali.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tahun 1963 KH Makhtum Hannan bersama pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin lainnya mendirikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model. KH Makhtum mendirikan Jamiyyah Hadiyu dan Istighatsah. Cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah tiga: Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. ? Bahkan jaringannya sudah tersebar di Jawa maupun Luar Jawa.

Sejak tahun 1996 setiap malam Jumat KH Makhtum Hannan memimpin istighatsah bertempat di Maqbarah KH. Abdul Hannan. Setiap bulannya diadakan Istighatsah Kubro yang diikuti ribuan orang dari pelosok-pelosok Desa dan luar daerah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di samping mengajar santri putra-putri, setiap hari selama 12 jam KH Makhtum Hannan sibuk melayani tamu dari semua lapisan masyarakat yang datang dengan pelbagai macam keperluan dan kepentingan: pejabat, pengusaha, pedagang, petani, pengurus organisasi, mahasiswa, bahkan tamu-tamu dari luar negeri. Mereka umumnya meminta nasihat, masukan, dan doa agar segala tujuan dan kepentingannya tercapai.

Melalui pendekatan hikmah, KH Makhtum banyak memberikan pendampingan kepada pengusaha, pedagang, petani dan nelayan. Banyak dari mereka yang sukses dan berhasil. (Jamaluddin Mohammad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan IMNU, Daerah, Humor Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 11 Mei 2011

Pelopor Keselamatan Berlalulitas, Ansor Kota Ternate Bermitra dengan Kepolisian

Ternate, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sebagai mitra kerja dalam masyarakat Polres Kota Ternate Bersama GP Ansor Kota Ternate melakukan Pelatihan dan sosialisasi dalam Berlalulintas dan Pengamanan. Kegiatan berlangsung selama dua hari, tanggal 23-24 Januari 2018.

Pelopor Keselamatan Berlalulitas, Ansor Kota Ternate Bermitra dengan Kepolisian (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelopor Keselamatan Berlalulitas, Ansor Kota Ternate Bermitra dengan Kepolisian (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelopor Keselamatan Berlalulitas, Ansor Kota Ternate Bermitra dengan Kepolisian





Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Polres Kota Ternatediikuti oleh Banser GP Ansor Kota Ternate dimulai dengan penyampaian materi oleh Kasat Binmas Polres Kota Ternate AKP Aris AB.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia memberikan arahan bahwa pelatihan ini sebagai upaya membangun mitra antara kepolisian dan GP Ansor Kota Ternate untuk bisa bersama melakukan pengamanan di masyarakat pada hari-hari besar keagamaan, dan juga pembinaan yang berkaitan dengan karakter kebangsaan dan juga revolusi mental di kalangan organisasi kepemudaan.

Rahdi Anwar, Ketua GP Ansor Kota Ternate mengatakan selain pemberian materi, kegiatan diisi juga dengan simulasi penanganan kemacetan lalulintas dan pengamanan demonstrasi, kisruh pilkada dan event keagamaan.

"Harapan besar GP Ansor Kota Ternate selesai kegiatan ini Banser GP Ansor Kota Ternate mampu menerapkan secara langsung di masyarakat menjadi pelopor dalam berlalulitas dan membudayakan keselamatan berlalulitas dalam aktivitas,  dan turut berperan aktif dalam pengamanan event keagamaan yang dilaksanakan masyarakat," kata Rahdi.

Kegiatan tersebut adalah bagian dari program kerja PC GP Ansor Kota ternate tahun 2018 pada program membangun mitra-mitra kerja sebagai upaya memperkenalkan peran GP Ansor dalam setiap sektor pemerintah, kepolisian, militer dan masyarakat dengan program program yang keagamaan sosial budaya dan keamanan guna mewujudkan situasi kondusif. (Abdulharis Doa/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 05 Mei 2011

Jalan Keluar Atasi Ketimpangan Ekonomi melalui Distribusi Tanah

Lombok Barat, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Kebutuhan atas tanah adalah mutlak. Dalam Islam hal ini terkait dengan hifdhun nafs (hak hidup) dan hifdhul mal (hak atas properti). Salah satu bagian dari hifdhun nafs adalah hidup yang layak, dan salah satu bagian dari hifdhul mal adalah keseimbangan ekonomi (at-tawazun al-iqtishadi).

Jalan Keluar Atasi Ketimpangan Ekonomi melalui Distribusi Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan Keluar Atasi Ketimpangan Ekonomi melalui Distribusi Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan Keluar Atasi Ketimpangan Ekonomi melalui Distribusi Tanah

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU Abdul Moqsith Ghazali saat menyampaikan laporan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah pada sidang pleno yang digelar di Pondok Pesantren Darul Quran, Bengkel, Lombok Barat, Sabtu (25/11).

"Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu adalah anti ketimpangan termasuk di dalamnya ketimpangan ekonomi," ucapnya.

Menurut Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah yang fokus pada isu-isu konseptual dan tematik, ada beberapa hal yang ditawarkan oleh Islam untuk menangani ketimpangan, di antaranya zakat, infak dan sedekah. 

Negara memiliki tanggung jawab yang besar untuk menciptakan keseimbangan ekonomi melalui pendekatan preventif dan kuratif. Namun sekarang ketimpangan itu sudah nyata dan terjadi. Maka setidaknya ada empat jalan keluar yang bisa ditempuh: 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pertama, menarik kembali tanah yang didistribusikan oleh pemerintah secara berlebihan. Kedua, menarik kembali tanah Hak Guna Usaha yang tidak manfaat atau bermanfaat, tetapi tidak sebagaimana semestinya. 

Ketiga, membatasi Hak Guna Usaha untuk pengusaha baik jumlah lahan maupun waktu pengelolaan dengan prinsip keadilan.

Keempat, mendistribusikan tanah yang dikuasai negara untuk fuqara dan masakin (kalangan fakir miskin), baik dalam bentuk tamlik (hak milik) atau ghairu tamlik (bukan hak milik) dengan prinsip keadilan. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam laporannya, Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah juga menyinggung soal hak atas tanah. Komisi ini menyerukan agar tanah tidak dimonopoli oleh sebagian sehingga menciptakan ketimpangan. Komisi yang fokus pada materi perundang-undangan ini juga mendorong adanya payung hukum untuk kepentingan ini.

Sidang pleno dipimpin oleh Ketua PBNU Robikin Emhas. Turut duduk di atas panggung Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Rais Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU H Marsudi Syuhud. Sidang pleno diikuti oleh seluruh peserta Munas-Konbes NU 2017 yang terdiri dari delegasi PWNU seluruh Indonesia, utusan pondok pesantren, dan lain sebagainya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 25 April 2011

Rasulullah, Raja, hingga Ulama Ternyata Juga Memakai Akik

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kesukaan manusia terhadap batu mulia atau akik ternyata sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum berkembangnya agama Islam. Hanya saja, fenomenanya mungkin tidak seperti demam akik yang sekarang melanda Indonesia.

Rasulullah, Raja, hingga Ulama Ternyata Juga Memakai Akik (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah, Raja, hingga Ulama Ternyata Juga Memakai Akik (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah, Raja, hingga Ulama Ternyata Juga Memakai Akik

KH Said Aqil Siroj menjelaskan, Rasulullah memakai akik Yaman. Karena itulah ada yang menganggap memakai akik sebagai hal yang mustahab, atau sunnah dalam tingkatan yang rendah. Kiai Said menjelaskan, sunnah bertingkat-tingkat, mulai dari sunnah muakkad, ghoiru muakkad sampai dengan mustahab.

“Rasulullah memang memakai cincin, bahkan beliau menyerukan mas kawin pakai cincin,” katanya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain Rasulullah para raja dalam sejarah Islam seperti Harun Al Rasyid, salah satu raja gemilang dalam Islam juga selalu memakai cincin.?

“Imam Syahrowardi, salah satu ulama berpengaruh dalam Islam juga memakai batu cincin,” paparnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menambahkan, ada kitab yang secara khusus ? membahas tentang cincin, yaitu Al Jawahir atau Book of Precious Stones karangan Imam al Biruni. ? Al Biruni mengklasifikasikan setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.

“Saya belum membaca detail. Katanya kalau merah katanya berani. Kalau kuning pengasihan, kalau biru dan hijau itu dingin dan sejuk,” katanya.

Kiai Said mengungkapkan, mempercayai sebuah batu memiliki kekuatan lebih dibandingkan dengan batu biasa juga boleh karena proses pembentukan batu tersebut memang berbeda dengan batu biasa sehingga secara rasional pun, nilainya berbeda. Karena itulah, batu jenis tertentu dianggap sebagai batu mulia.

“Memandang batu sebagai bagian dari seni boleh, lebih dari itu juga boleh-boleh saja,” imbuhnya.?

Ia sendiri memiliki beberapa koleksi batu mulia, tetapi tidak banyak. “Saya memakai blue safir,” katanya sambil menunjukkan lingkaran batu indah yang ada di jarinya. Jenis lain yang dimiliki adalah zamrud. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 31 Maret 2011

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sejumlah 6 tokoh agama kota Bandung menyampaikan orasi kebangsaan lintas agama pada acara dalam rangka Haul Gus Dur ke-7 yang digelar oleh Pengurus Cabang PMII kota Bandung, Rabu (28/12) kemarin, di halaman gedung PCNU setempat.

Jopie Rattuseorang Pendeta Kristen mengungkapkan Gus Dur orangnya sederhana. Kata “sederhana” kelihatannya cuma singkat, tapi kata sederhana punya makna yang dalam. “Apa yang beliau sampaikan mengena pada hati saya,” ungkapnya dihadapan puluhan mahasiswa yang hadir dalam Haul itu.

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Tokoh Lintas Iman Ini Ungkap Jiwa Sederhana dan Semesta Gus Dur

Menurut pendeta Jopie, Gus Dur adalah pembela minoritas, apalagi minoritas yang tertindas. Pemikiran Gus Dur yang visioner dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi saat ini.Jadi ada pemikiran Gus Dur itu seharusnya menjadi format bagi orang-orang yang memimpin di negeri ini.

“Dia orang yang berani mempertaruhkan dirinya untuk bangsa. Hari ini kita memperingatinya untuk merenung, bisakah menjalankan prinsip apa yang disampaikan beliau?Negeri ini membutuhkan generasi-generasi yang sama seperti apa yang Gus Dur sampaikan,” ujarnya.

Sementara Eko Supeno pemuka Buddha mengajak untuk membudayakan dan melestasrikan pemikiran Gus Dur, sebagaimana dalam kitab Suci agama Buddha di bab 1 dan ayat 1 yakni tentang pentinya pikiran itu sebagai pelopor, pemimpin, dan pembentuk dalam kehidupan.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Harus kita lestarikan adalah pemikiran Gus Dur yang hebat dan cemerlang untuk kebersamaan dan keutuhan NKRI.Jadi, mahasiswa harus mempunyai pemikiran besar seperti Gus Dur. Pemikiran besar itu positif, inovatif, kreatif, dan produktif,” sambung Pemuka Buddha itu.

Lain lagi penuturan Fam Kiun Fat. Ia menceritakan masa mudanya saat pembuatan KTP tidak boleh mencantumkan Kong Hu Chu sebagai agamanya. Namun semenjak Gus Dur mengeluarkan Keppres Nomor 6 tahun 2000 yang mencabut Intruksi Presiden Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Umat Kong Hu Chu dan Tionghoa kembali mendapatkan hak sipil mereka.Makan di mata umat agamanya, Gus Dur adalah pahlawan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Marilah kita pemuda bersatu untuk membuat satu kekuatan. Dalam ajaran Kong Hu Chu, semua umat bersaudara. Karena kita sama-sama berdarah merah bertulang putih, itulah merah putih,” ajak kepada para mahasiswa lintas agama yang hadir pada acara itu.

Agus Sugiarto pemuka Katolikmempunyai pandangan lain. Baginya, Gus Dur itu orang kudus, artinya orang suci. Dalam tradisi gereja Katolik, setiap orang kudus itu selalu diperingati saat orang itu wafat. “Gus Dur mempunyai empati yang luar biasa. Ketika ada kaum minoritas yang tertindas, jiwa Gus Dur itu tergerak batinnya untuk membela,” lanjut Agus.

Yang terpenting bagi Gus Dur adalah bagaiamana negara indonesia bisa berkembang dan sejahtera, keadilan dirasakan di seluruh tanah air. “Kita sebagai generasi muda, mudah-mudah jiwa dan spirit Gus Dur itu mari kita lanjutkan dan kembangkan dan sebarkab kepada setiap orang yang kita jumpai, karena yang diperjuangkan adalah kebenaran dan keadilan,” pintanya.?

Oleh karena sering berjumpa dengan kiai NU, ia menjadi sangat hafal bahwa kalangan kiai NU jelas-jelas mempertahankan empat pilar yang disingkat menjadi PBNU, jelas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. “Luar biasa,” sanjungnya disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin.

Adapun pemuka Hindu yang kali ini diwakili oleh I Nengah Kondra menerangkan Gus Dur menurut pandangan Hindu adalah sosok yang memilik sosok jiwa semesta. Dalam konsep hindu itu adalah pengakuan secara universal bahwa setiap manusia adalah sama, bersaudara. Saudara itu satu ruh, kalau kita Indonesia berarti satu negara Indonesia.?

Sosok Gus Dur dalam Hindu adalah sosok yang mengamalkan 3 hal yang menyebabkan manusia berbahagia. Pertama, manusia itu selaras dengan Tuhan, beribadah dengan kepercayaan masing-masing. Itu dipelihara oleh Gus Dur.?

Kedua, keharmonisan sesama manusia. Itu juga merupakan sesuatu yang sangat ditekankan pada saat pemerintahan Gus Dur, sehingga kesempatan saling bertolentasi bertumbuh sampai sekarang. Ketiga, keselarasan manusia dengan alam. Tiga konsep ini yang sangat ditekankan pada masa pemerintah Gus Dur.?

“Saya sangat mengagumi dan meneladani Gus Dur, tetapi sayang sekali disetiap kegiatan keagamaan, saya belum belum sampai bersalaman dengan beliau. Tetapi saya menanamkan dalam hati bagaimana konsep pemikiran kebhinekaan Gus Dur dapat saya teladankan kepada yang lainnya,” kagumnya.

Sedangkan menurut Wahyul Afif Al-Ghafiqi seorang pengasuh pesantren di Bandung menuturkan bahwa Kiai Abdurrahman Wahid adalah salah satu karunia Allah bagi Indonesia. Santri yang pernah menjadi presiden. Dan kapan lagi Indonesia mempunyai santri menjadi presiden.

“Kita sering dengar bahwa istana negara itu jadi istananya rakyat memang benar di masa Gus Dur, santri tidak pakai sepatu, memakai sendal jempit hendak ketemu Gus Dur, tanpa protokoler, termasuk saya. Jadi kalau sekarang situasi bangsa sedang seperti ini, kangennya luar biasa,” tuturnya.

Mantan aktivis PMII Bandung itu meyakini bahwa Gus Dur itu mengamalkan ajaran Rasululllah bahwa membela siapapun yang tertindas, siapapun yang teraniaya, tidak perduli dari kalangan apapun. Bahkan kita sendiri yang mengikuti bingung mencari pembenaran dari apa yang dilakukan oleh Gus Dur.

“Gus Dur itu asli kiainya, mondoknya di mana-mana, gelar pengakuannya juga banyak. Mana ada kiai jadi Dewan Kesenian Jakarta, sampai jadi pengamat sepak bola,”paparnya dari pengalamannya berjumpa Gus Dur. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pemurnian Aqidah, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 14 Maret 2011

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

Jember, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Terjadinya beberapa kasus sengketa kepemilikan masjid membuat miris banyak pihak. Sebagai tempat ibadah yang nota bene milik umat, masjid sebenarnya tidak perlu disengketakan, tapi kenyataannya tidak sedikit masjid yang menjadi rebutan warga atau antar oknum takmir.?

Itulah yang mendorong Lembaga Takmir Masjid Nadlatul Ulama (LTMNU) Jawa Timur menggelar Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid.?

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Jatim: Sertifikasi Masjid Untuk Menghindari Sengketa

“Sertifikasi tanah wakaf masjid itu salah satu tujuannya untuk menghindari masjid dari kemungkinan timbulnya sengketa,” tukas Ketua LTMNU Jawa Timur H Ali Mas’ud Kholqillah di kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan sela-sela Pelatihan Manajemen Masjid dan Sosialisasi Sertifikasi Tanah Masjid di aula STAIN Jember, Sabtu (16/2). ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ali Mas’ud menambahkan, pihaknya mendorong adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan tertib administrasi, khususnya terkait dengan sertifikasi tanah masjid. Sebab, kejelasan status tanah masjid juga ? akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi jamaah.?

Di samping itu, juga supaya jelas siapa pemilik masjid itu. “Sebab, seperti kita ketahui, karena ketidakpahaman pengurus masjid, tidak sedikit masjid NU beralih tangan kepada pihak lain, yang tidak sepaham dengan NU,” ulasnya sambil menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mendata jumlah masjid di Jawa Timur.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di tempat yang sama, Ketua LTMNU Cabang Jember, H Muhammad Hasin menyatakan pihaknya siap memfasilitasi masyarakat yang ingin membuat sertifikat tanah masjid.?

“Kami siap mengkomunikasikan dengan notaris atau BPN untuk pembuatan sertifikat itu,” tukasnya.?

Pensiunan guru agama tersebut menambahkan, saat ini pihaknya tengah mendata jumlah masjid di Kabupaten Jember, yang diperkirakan mencapai 2500 buah. Dari pendataan itu, akan diketahui berapa jumlah masjid yang belum bersertifikat. ?

“Kalau belum disertifikat, kita dorong, tapi juga terserah mereka,” urainya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Aryudi A Razaq

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Anti Hoax, Kajian Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 19 Januari 2011

KH Hasyim Muzadi dan Filosofi Buah Nangka

Pada Ahad, 13 November 2016, KH Hasyim Muzadi berkunjung ke City Forest and Farm Arum Sabil, Jember, Jawa Timur. Kawasan seluas 35 hektar ini adalah milik tokoh NU, H. Arum Sabil, yang diproyeksikan sebagai tempat pendidikan dan pelestarian berbagai macam tanaman pohon buah Nusantara. Di tempat itu, sejumlah tokoh nasional, juga telah berkenan menamam pohon buah.

Saat itu, oleh H Arum Sabil, Kiai Hasyim diberi sejumlah pilihan pohon buah untuk ditanam. Di antaranya adalah pohon durian dari berbagai varietas unggul, manggis, duku, matoa dan pohon nangka. Dalam pikiran H. Arum, Sang Pencerah –begitu ia menyebut Kiai Hasyim—pasti memilih pohon durian, manggis, duku, atau pohon langka. Namun ternyata di luar dugaan, beliau memilih pohon nangka.

KH Hasyim Muzadi dan Filosofi Buah Nangka (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi dan Filosofi Buah Nangka (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi dan Filosofi Buah Nangka

H. Arum penasaran terkait pilihan pohon Kiai Hasyim. Sebab, pohon nangka bukan pohon langka, buahnya juga bukan favorit yang dicari banyak orang. Pohon nangka sampai saat ini masih banyak tumbuh "liar" di halaman-halaman rumah di perdesaan. Sehingga bagi H. Arum tidak ada yang istimewa dengan pohon nangka.

Dengan rasa penasaran yang masih membelit pikirannya, H. Arum begitu senang menyaksikan dan melayani Kiai Hasyim menanam pohon nangka di lembah Barokah, kawasan City Forest and Farm Arum Sabil.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena masih penasaran, H. Arum lantas bertanya kepada beliau. "Kenapa Kiai memilih pohon nangka?”

“Memang kenapa kalau saya memilih pohon nangka?" jawab Kiai Hasyim enteng.

"Kiai, pohon nangka itu kan sudah banyak ditanam oleh masyarakat. Kenapa tidak memilih pohon yang langka atau yang buahnya punya nilai ekonomi yang baik?" tanya H. Arum lagi.

"Pohon dan buah nangka bila dirawat dengan baik, maka rasa dan aromanya bisa dinikmati. Tetapi jika dibiarkan, tidak dijaga dan dirawat, maka yang didapat hanya aroma dan tidak akan ada rasa dan selera untuk menikmatinya karena busuk di dalam. Sama halnya dengan kehidupan. Apabila setiap pribadi atau institusi alat negara maupun swasta kemasyarakatan bila keberadaannya tidak dijaga dan dirawat dengan akhlaq dan iman, maka yang didapat hanyalah pesona tampilan permukaan, tapi busuk di dalam karena penuh dengan pertikaian dan kedustaan," urai sang pencerah.

Pohon buah nangka, bukan cuma filofosinya yang bagus, tapi secara ekonomi buah nangka juga menjanjikan asalkan dikelola dan dikemas dengan baik. Buktinya, di banyak toko modern sekarang dijual kripik nangka dengan harga mahal. Untuk menjadi buah yang baik, ia harus dijaga dan dirawat. Sebab, jika tidak dirawat, bisa-bisa isinya busuk meski harum dan kelihatan bagus dari luar.

Setelah mengungkapkan filosofi buah nangka, beliau berdiri sambil menengadahkan tangan untuk berdoa. Dalam bait-bait doanya, terdangar jelas beliau memohon kepada Allah agar bangsa dan negara ini diberikan keselamatan dunia dan akhirat.

Usai berdoa, H. Arum memohon beliau untuk memberikan nama empat bukit dan satu lembah di kawasan City Forest and Farm Arum Sabil. Beliau terdiam sejenak sambil berfikir, lalu muncullah penamaan empat bukit itu. Yaitu bukit amanah, bukit barokah, bukit cinta, bukit damai dan lembah sejahtera. Tidak dijelaskan alasan Kiai Hasyim memberikan nama-nama itu. Tapi yang pasti semuanya menggambarkan kesejukan dan tanggung jawab. Sebuah cerminan dari sikap keseharian sang pencerah. (Arydui A. Razaq)



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan