Kamis, 07 Agustus 2014

Pilpres 2014: PNI-NU vs PSI-Masyumi?

Pemilihan umum presiden dan wakil presiden atau Pilpres 2014 memang menyedot perhatian seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali warga nahdliyin. Dalam sistem demokrasi yang mengandalkan “suara terbanyak” setiap organisasi massa memang menjadi pusat perhatian.

Menariknya, pemilu kali ini hanya diikuti oleh dua calon dan otomatis hanya berlangsug satu putaran sehingga persaingannya lebih terasa. Berbagai warna partai politik yang berebut perhatian massa pada pemilu legislatif April lalu dan ingin kembali berkontestasi dalam Pilpres mau tidak mau harus menggabungkan diri atau berkoalisi ke dalam dua kutub persaiangan.

Menariknya lagi, hasil koalisi politik yang terbentuk sangat mirip dengan era politik tahun 1950-an, antara PNI-NU melawan PSI-Masyumi. PNI yang berubah nama menjadi PDIP dan NU yang mendelegasikan hak politiknya ke PKB mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sementara PSI yang bermetamorfosis menjadi Gerindra dan Masyumi yang menjelma ke dalam barisan partai Islam mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Pengelompokan ini tentu mengenyampingkan partai-partai politik “warisan orde baru” yang ikut bergabung ke dalam dua kutub itu.

Pilpres 2014: PNI-NU vs PSI-Masyumi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilpres 2014: PNI-NU vs PSI-Masyumi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilpres 2014: PNI-NU vs PSI-Masyumi?

Entah disengaja atau kebetulan, namun hasil koalisi yang terbentuk itu sudah cukup menjelaskan bahwa politik aliran atau politik berbasis ideologi itu masih ada di Indonesia, dan formatnya masih sama dengan yang dulu. Di ingkungan NU, menyebrangnya beberapa aktivis NU ke kubu yang lain setelah penetapan calon juga mengingatkan bahwa pada saat NU menyatakan keluar dari Masyumi, sebagian aktivis NU masih betah dan ingin tetap bertahan di Masyumi.

Terlepas dari kepentingan dan persaingan politik antara dua kutub koalisi, baik dulu maupun sekarang, koalisi itu masih memperlihatkan bahwa berbagai kekuatan politik yang berkumpul dalam kedua kutub itu mempunyai basis massa yang sama. Yang satu beranggotakan kalangan tradisionalis dan berorientasi nasional, sementara kutub lainnya diisi oleh kalangan modernis dan berorientasi transnasional. Dengan bahasa lain, satu kutub berorientasi populis sementara kutub lain lebih elitis.

Kecenderungan itu tidak hanya menyangkut soal pandangan politik dan paham ekonomi, tetapi juga sampai pada masalah sikap dan pemahaman agama. Secara sepintas mungkin tampak aneh kenapa komunitas muslim nahdliyin lebih enjoy bersahabat dengan masyarakat yang dulu disebut marhaen, dari pada bekerjasama dengan kelompok muslim lain yang modernis. Namun jika dilihat lebih jeli, cara beragama kedua kelompok ini ternyata sama. Klasifikasi yang dipopulerkan Clifford Geertz antara santri dan abangan itu tidak tepat karena terminologi abangan yang kemudian diidentikkan dengan kaum marhaen yang lekat dengan berbagai tradisi keagamaan itu juga ada pada diri santri dan komunitas pesantren sebagai basis nahdliyin. Jadi koalisi itu terbentuk atas persamaan karakter dan jati diri.

Namun apakah benar Pilpres 2014 menjadi sebuah pertarungan ideologi? Jawaban pastinya tentu menunggu hasil Pilpres 9 Juli 2014. Apakah masyarakat memilih berdasarkan ideologi, atau apakah ideologi sudah tidak menjadi penentu arah perjalanan negeri ini? Kita lihat saja nanti. (A. Khoirul Anam)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ubudiyah, Kajian Islam, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 02 Agustus 2014

Minum Kopi Luak?

Hampir setiap orang mengerti kopi. Biji kopi yang dibungkus buah kopi dikeringkan, lalu disangrai untuk selanjutnya ditumbuk menjadi bubuk. Bubuk kopi inilah yang berikutnya diolah menjadi umumnya bahan minuman kopi. Tetapi kopi luak sedikit berbeda meskipun perbedaannya sedikit. Namun begitu, implikasi hukumnya perlu dipertimbangkan.

Kopi luak merupakan biji kopi yang kerap menjadi konsumsi luak. Luak hewan sejenis kucing dengan bulu bintik-bintik yang memiliki kegemaran memakan ayam, juga kopi, dan juga makanan lainnya. Biji kopi yang menjadi kotoran luak inilah yang disebut kopi luak.

Minum Kopi Luak? (Sumber Gambar : Nu Online)
Minum Kopi Luak? (Sumber Gambar : Nu Online)

Minum Kopi Luak?

Lalu bagaimana hukumnya mengonsumsi bubuk kopi yang diolah dari biji kopi yang keluar dari dubur luak? Hukumnya bergantung dari proses pengolahannya. Karena, hukum umum yang berlaku, segala benda yang keluar dari kemaluan depan atau belakang dihukumnya najis.

Terkait kopi luak, Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk syarah Al-Muhadzab menjelaskannya dengan baik,

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

قال أصحابÙ? ا رحمه الله إذا أكلت البهمÙ? Ø© حبا وخرج Ù…Ù? بطÙ? ها صحÙ? حا فإÙ? كاÙ? ت صلابتها باقÙ? Ø© بحÙ? Ø« لو زرع Ù? بت فعÙ? Ù? Ù‡ طاهرة لكÙ? Ù? جب غسله ظاهره لملاقاة الÙ? جاسة لاÙ? Ù‡ واÙ? صار غذاء لها فمهما تغÙ? ر الى الفساد فصار كما لو ابتلع Ù? واة وخرجت فأÙ? باطÙ? ها طاهر ÙˆÙ? طهر قشرها بالغسل وإÙ? كاÙ? ت صلابتها قد زالت بحÙ? Ø« لو زرع لم Ù? Ù? بت فهو Ù? جس ذكر هذا التفصÙ? Ù„ هكذا القاضى حسÙ? Ù? والمتولى والبغوى وغÙ? رهم

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Sahabat kami Ra berkata, ‘Ketika binatang menelan sebuah biji, lalu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka harus dilihat dari kerasnya biji itu. Kalau kerasnya biji itu tetap dalam arti ketika biji itu ditanam lantas tumbuh, maka biji itu terbilang suci. Tetapi biji itu wajib dicuci karena permukaannya bersentuhan dengan najis. Karena, meskipun biji itu merupakan makanan binatang itu, artinya ketika biji itu cenderung menjadi rusak seperti biji yang ditelan binatang, lalu keluar dari duburnya, maka bagian dalam bijinya terbilang suci. Kulit bijinya pun bisa suci bilamana dicuci. Tetapi jika kekerasan biji itu hilang artinya ketika biji ditanam tidak tumbuh, maka hukum biji itu najis.’ Demikian disebutkan secara rinci. Begitulah dikatakan Qadli Husen, Al-Mutawalli, Al-Baghowi, dan ulama lain.” Wallahu Alam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul, Doa, Amalan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 01 Agustus 2014

Demi Perdamaian Dunia, GP Ansor akan Gelar Halaqah Internasional

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor akan menggelar halaqah internasional yang direncanakan dipusatkan di GOR Hasbullah Said Bahrul Ulum Tambakberas Jombang sejak Ahad hingga Senin (21-22/05/2017) mendatang. Halaqah ini mengambil tema Menuju Rekontekstualisasi Islam Demi Perdamaian Dunia dan Harmoni Peradaban.

Kegiatan yang bekerjasama dengan Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) dan PC GP Ansor Kabupaten Jombang ini akan membahas berbagai persoalan kebangsaan di beberapa negara. Terutama isu-isu yang berkaitan dengan hubungan antara Muslim dan non-Muslim di berbagai negara serta keberadaan negara-bangsa modern dan keabsahannya sebagai sistem politik yang mengikat kehidupan umat Islam.

Demi Perdamaian Dunia, GP Ansor akan Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Demi Perdamaian Dunia, GP Ansor akan Gelar Halaqah Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Demi Perdamaian Dunia, GP Ansor akan Gelar Halaqah Internasional

"Jadi, dari berbagai persoalan wawasan keagamaan dunia Islam yang terjadi di berbagai negara itu, kami ingin mengetahui lebih detail melalui halaqah ini. Setelah mengetahui kondisinya, forum nanti kami harapkan bisa merumuskan peta jalan menuju rekontekstualisasi Islam demi perdamaian dan harmoni peradaban," ujar Sholahul Am Notobuwono (Gus Aam), Ketua Panitia Halaqah Internasional GP Ansor, Senin (15/5).

Gus Aam menjelaskan, ada beberapa persoalan negara-bangsa yang terjadi di berbagai negara berkaitan dengan interaksi Muslim dan non-Muslim. Di samping itu, pergerakan golongan-golongan yang berpotensi mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara juga akan menjadi salah satu poin pembahasan dalam forum tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Untuk membahasnya, panitia sudah mengundang perwakilan dari berbagai negara untuk menjadi pembicara dalam halaqah tersebut. Diantaranya Syeikh Kabir Helminski (Kentucky USA), Shuhaib Benseikh (Marseille, Prancis), Ayeikh Ahmed (Abbadi, Maroko), C Holland Taylor (Bayt Ar Rahmah, USA), Magnus Ranstorp (Stockholm, Swedia), Syeikh Mohammed Abu El Fadl (Kairo, Mesir), Ash Shisty (India), Syeikh Amru Wardani (Kairo, Mesir), Mouhanad Khorchide (University Of Munster, Jerman), dan perwakilan dari Malaysia.

"Untuk undangan yang luar negeri, beberapa sudah konfirmasi kehadiran. Terutama Mesir sudah pasti datang. Komunikasi terus kita lakukan, sudah hampir semuanya memberi kepastian hadir. Kalau pembicara dari dalam negeri ada perwakilan dari Muhammadiyah, pemerintahan, BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), dan BIN (Badan Intelejen Negara)," jelas Gus Aam.

Adapun peserta kegiatan ini diperkirakan sekitar 400 orang. Terdiri dari pengurus Ansor dari seluruh Indonesia, kiai-kiai pesantren, akademisi, Forum Musyawarah Ponpes, RMI (Rabitah Mahad Islamiyah), dan utusan Banom (Badan Otonom) NU.?

"Forum ini dialognya aktif. Jadi, nanti dari beberapa narasumber bisa saling menanggapi secara langsung. Begitupun peserta," bebernya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Gus Aam, berbagai pembahasan yang dikaji dalam halaqah internasional itu akan direkomendasikan dibedah kembali di negaranya masing-masing. "Karena bisa saja persoalan yang sudah dibahas disini nantinya akan relevan dengan yang terjadi di negara lain. Atau bisa saja hasil dari halaqah ini menjadi kesepakatan bersama lintas negara untuk perdamaian dunia dan harmoni peradaban," ulasnya. (Romza/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gus Mus Hingga Cak Nun Bakal Isi Acara Puncak 1 Abad Qudsiyyah

Kudus, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Emha Ainun Najib (Cak Nun) bersama grup musik Kiai Kanjeng bakal menyemarakan acara puncak peringatan satu abad Qudsiyyah Kudus di lapangan Qudsiyyah, Jl KHR Asnawi No 32 Damaran Kota Kudus, Jawa Tengah, Rabu (3/8) mendatang. Kehadiran Cak Nun untuk mendaulat sholat Asnawiyah karya KHR Asnawi sebagai Sholawat Kebangsaan.

Ketua panitia satu Abad Qudsiyah, H Ihsan menjelasakan panggung Cak Nun dan Kiai Kanjeng dari Yogyakarta ini sebagai salah satu rangkaian dari 22 kegiatan puncak acara satu abad yang akan menjadi daya tarik masyarakat umum.

Gus Mus Hingga Cak Nun Bakal Isi Acara Puncak 1 Abad Qudsiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Hingga Cak Nun Bakal Isi Acara Puncak 1 Abad Qudsiyyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Hingga Cak Nun Bakal Isi Acara Puncak 1 Abad Qudsiyyah

"Selama ini Shalawat Asnawiyyah hanya dikenal di Kudus saja, kita mau sholawat ini dikenal secara nasional karena sholawat ini berisi doa untuk keamanan Indonesia raya," ujarnya di kantor sekretariat panitia.

Ihsan menambahkan acara puncak satu abad Qudsiyah yang dipusatkan di Lapangan Qudsiyah Kl KHR Asnawi ini akan berlangsung selama 1-7 Agustus 2016. Pihaknya telah menyiapkan 22 kegiatan diantaranya, Santri Mandiri dan UMKM Expo, pameran ? Kitab Ulama Nusantara, Konser Budaya Santri, peluncuran album baru Rebana Qudsiyyah "Al-Mubarok", Bahtsul Masail se-Jawa Madura, Lomba mewarnai gambar Menara, Cak Nun dan Kiai Kanjeng, laga santri dan pelajar se-Jateng serta ditutup dengan Gema Qudsiyyah bersama KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

Kegiatan Santri Mandiri dan UMKM Expo bakal digelar selama satu pekan untuk mewadahi dan memasarkan produk-produk alumni Qudsiyyah dan masyarakat umum. Sebanyak 30 stan disiapkan panitia untuk mendukung seluruh rangkain acara satu abad. "Bagi UMKM yang ingin memperluas pasar silahkan segera mendaftar," kata Ihsan yang juga menjadi Ketua FKUB Kudus.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain ? Expo, ia juga menyiapkan galeri pameran kesenian dan pameran kitab-kitab karya ulama Nusantara. "Ada begitu banyak kitab-kitab karya Ulama Nusantara, termasuk karya pendiri Qudsiyyah KHR Asnawi yang akan kita pamerkan," kata dia. Pameran ini akan digelar selama tiga hari, yakni pada Senin-Rabu, 1-3 Agustus 2016 yang bertempat di Aula MA Qudsiyyah Kudus.

Agenda lain yang cukup banyak ditunggu-tunggu adalah peluncuran album baru "Al-Mubarok". grup Rebana Qudsiyyah ini bakal meluncurkan album kesebelasnya. Total ada 100 yang sudah diproduksi selama ini. ? "Sebanyak 15 lagu baru bakal ada dalam DVD terbaru Al-Mubarok. Lagu ini melengkapi total 100 lagu Al-Mubarok. Ini sebagai kado ulang tahun Qudsiyyah ke-100," papar Ihsan.

Kegiatan selama satu pekan ini akan ditutup dengan pengajian yang bertajuk "Gema Qudsiyyah" bersama KH Mustofa Bisri, Sabtu (6/8) mendatang. "Kita berharap dalam momentum 100 tahun ini, Qudsiyyah semakin maju dan semakin berkah," pungkasnya. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan