Jumat, 30 Juni 2017

Kumpulkan Zakat Anggota, Salurkan ke Sejumlah Desa

Blora, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. IPNU-IPPNU Komisariat MTs Hasanuddin, Plosorejo, Banjrejo, Blora, Jawa Tengah, ? Rabu (31/7) kemarin membagikan zakat fitrah yang dikumpulkan dari para anggota mencapai 325 kilogram.

Ketua IPNU Komisariat Hasanuddin, Mat Ngalim mengatakan, pembagian zakat fitrah tersebut merupakan program tahunan organisasinya. Zakat itu dikumpulkan dari anggota IPNU-IPPNU yang ada di komisariatnya.

Kumpulkan Zakat Anggota, Salurkan ke Sejumlah Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumpulkan Zakat Anggota, Salurkan ke Sejumlah Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumpulkan Zakat Anggota, Salurkan ke Sejumlah Desa

Alhamdulillah, pembagian zakat fitrah berjalan lancar dan mendapat sambutan positif dari masyarakat,” ujar Mat Ngalim.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Zakat tersebut dibagikan kepada fakir miskin di sejumlah desa. Seperti Desa Sembongin, Kembang, Balongrejo, Karangtalun dan Plosorejo.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dikatakan, selain karena melaksanakan kewajiban agama, program pengumpulan dan pembagian zakat fitrah itu juga dimaksudkan untuk menjadi wahana berlatih rekan dan rekanita di Komisariat Hasanuddin. Yakni, berlatif berbagi kepada sesama.

Selain pembagian zakat fitrah, selama Bulan Ramadhan ini, pihaknya juga menggelar khataman Al-Qur’an. Khataman Al-Qur’an dilaksanakan secara bertahap. Yakni, dibaca sebelum pelaksanaan pelajaran dimulai. Masing-masing siswa sudah mendapat bagian juz berapa yang harus dikhatamkan.

“Setiap pagi waktu membaca Al-Qur’an diberikan durasi sekitarnya 15 menit,” tambahnya.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pendidikan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 27 Juni 2017

NU Gallery, Pionir Lukisan Bertema Pesantren

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Selama ini, lukisan-lukisan bertema pesantren sangat jarang mendapat perhatian. Pesantren hanya dilihat sebagai lembaga pendidikan, yang tidak banyak menampilkan narasi estetik maupun keindahan dalam khazanah tradisinya. Padahal, pesantren juga memiliki khazanah kesenian yang kaya, di antaranya dalam tembang, syair dan lukisan.

Untuk mengenalkan khazanah kesenian pesantren, khususnya lukisan, NU Gallery berusaha menjadi pionir dengan menghadirkan pameran-pameran di beberapa lokasi. NU Gallery dibentuk, sebagai gallery dengan manajemen, event organizer, komunikasi dengan pelukis-pelukis, hingga menyelenggarakan agenda-agenda workshop untuk mencari pelukis muda berbakat dari pesantren. NuGallery dapat diakses melalui website www.nugallery.net.?

NU Gallery, Pionir Lukisan Bertema Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Gallery, Pionir Lukisan Bertema Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Gallery, Pionir Lukisan Bertema Pesantren

H. Ubaidillah, Lc dari NU Gallery, menyampaikan bahwa NU Gallery dibentuk tidak sekedar untuk menjadi penyelenggara pameran. "Kami tidak hanya menjadi event organizer dalam pameran dan lelang lukisan. Justru, kami ingin menjadi yang pertama sebagai gallery dengan manajemen professional, yang mengenalkan khazanah pesantren berupa karya-karya lukisan, agar dikenal publik secara luas," tegas H.Ubaidillah, yang akrab disapa Ra Ubaid.?

Dalam waktu dekat, NU Gallery akan mengadakan pameran dan lelang lukisan bertema Santri Nusantara. Agenda pameran ini, dalam rangkaian Puncak Kirab Hari Santri Nasional, diselenggarakan pada Kamis (22/10), di Tugu Proklamasi, Pegangsaan Timur, Jakarta.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Pameran lukisan NU Gallery ini kami selenggarakan untuk memeriahkan acara puncak Kirab Hari Santri Nasional. Sebelumnya, Kirab Hari Santri Nasional dimulai sejak 18 Oktober di Surabaya sampai garis finish pada 22 Oktober di Tugu Proklamasi, Jakarta," terang Ra Ubaid.?

Pada pameran kali ini, NU Gallery akan menampilkan karya-karya istimewa dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Munawir, Toto Ms, dan KH. Zawawi Imron. Pelukis Toto Ms menggarap karya istimewa bertajuk "Hadratus Syaikh", yang merupakan karya lukisan sosok KH. Hasyim Asyari yang menjadi gurunya santri di Nusantara. Selain itu, pada acara pameran, KH. Zawawi Imron, juga akan orasi puisi "Resolusi Jihad" dan melukis ekspresif dalam waktu 10 menit. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren, IMNU, Nasional Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 24 Juni 2017

Tiga Hasanah

Karena saking sibuknya, seorang santri sudah lama sekali tidak bisa sowan ke kiainya. Maklum dia  sudah menjadi orang sukses. Suatu ketika santri ini berkesempatan sowan ke gurunya, dan seperti biasa setelah bersalaman dengan kiai, para tamu dipersilakan duduk lesehan di pendopo,  sang kiai pun duduk di depan para tamu. Setelah agak lama hening, sang kiai lalu menyapa santri itu yang kebetulan duduk di shaf paling depan.

Kiai: Bagaimana keadaanmu, Cong?

Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hasanah

Santri: Alhamdulillah sehat, berkat doa Kiai .

Kiai: Ya... syukurlah kalau begitu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setelah diam sejenak sang kiai kemudian melanjutkan pertanyaannya

Kiai: Saya dengar kamu berpoligami?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sontak saja si santri  menjadi deg degan, berbagai perasaan berbaur dalam pikirannya, dari merasa bersalah, malu dan sebagainya. Lalu dengan agak gugup ia menjawab.

Santri:Ya, benar, Kiai.

Kiai: Hebat kamu, saya aja baru satu.

Mendengar pujian sang guru ia kembali tenang, kemudian melanjutkan perbincangannya

Santri: Tapi ada yang musykil, Kiai.

Kiai:  Lho kok bisa, apanya yang musykil ?

Santri:  Begini Kiai, sebetulnya saya hanya mau dua saja, seperti dalam  al Qur’an...

Ia belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh sang Kiai.

Kiai: Lho..!  Di dalam  Al Qur’an bukannya sampai empat?

Santri: Maksud saya begini Kiai,saya sudah terlanjur punya tiga isteri, sementara dalam al Qur’an disebutkan hanya dua, “fid dunya hasanah” dan “fil akhiroti hasanah”, terus hasanah yang satu lagi  tempatnya di mana, Kiai?

“Grrrrrrrr...” semua yang hadir di pendopo tertawa.

(Hosni Rahman, Sukorejo Situbondo)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Fragmen, Doa, Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Meski Banyak Jamiyah Sholawat, Ishari Tetap Berjalan

Blitar, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Hadirnya? seni membaca dan pecinta sholawat model baru sempat berpengaruh terhadap perkembangan Ikatan Seni Hadrah Indonensia (Ishari) di Kabupaten Blitar. Namun demikian, Ishari di Blitar tetap menunjukkan eksistensinya.

Terbukti hingga saat? seni hadrah masih dicintai dan ikuti oleh masyarakat. Sementara kegiatan rutin Ishari Blitar di Pesantren Raudlatul Hanan Sawentar dihadiri ribuan orang.

Meski Banyak Jamiyah Sholawat, Ishari Tetap Berjalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Banyak Jamiyah Sholawat, Ishari Tetap Berjalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Banyak Jamiyah Sholawat, Ishari Tetap Berjalan

“Ishari punya komunitas tersendiri. Begitu juga dengan jamiyah sholawat lainnya.Namun, keberadaannya justru saling melengkapi,” kata koordinator Ishari Blitar Kiai Abdurrohim kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, Ahad (17/7) pagi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut? Abdurrohim, sebenarnya Ishari didirikan dalam rangka memberikan wadah kepada para pecinta sholawat Nabi Muhammad SAW. Melalui wadah ini, para anggota jamiyah bisa besholawat dengan riang dan gembira secara berjamaah.

“Selain itu juga sebagai media dan ajang untuk bersilaturahmi,” kata Abdurrohim.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara Pembina Ishari Blitar Kiai Mudhofi menambahkan, di wilayah Blitar ini semua jamiyah sholawat dan Barzani berjalan seiring baik jamiyah lama atau modern model Habib Syech. Tidak itu saja yang model pembacaan serat ambiya’ saja di Blitar bisa bertahan baik hingga saat ini.

“Ishari. Al-Banjari dan model Zafin semua jalan. Intinya semua bersholawat pada nabi. Wong pembacaan serat Ambiya saja masih berjalan,” ungkapnya.

Pernyataan Abdurrohim dan Gus Dhofi ini dibenarkan oleh Ketua Ishari Blitar H Abdurrahman Salim. Menurutnya, sudah bertahun-tahun keberadaan Ishari di wilayahnya tetap berjalan seiring dengan adanya model-model jamiyah sholawat modern.

“Meski banyak jamiyah baru, model Ishari tetap dicintai. Terbukti ribuan anggota masih setia mengikuti kegiatan ini,” kata Abdurrahman Salim.

Disinggung berapa jumlah anggota Ishari Blitar? Ia mengatakan, ada sekitar 3000 orang. “Jumlah anggota sekitar 3000 orang. Mereka menyebar di kecamatan-kecamatan. Hampir semua kecamatan ada jamiyah Ishari,” tandas Abdurrahman.

Para anggota itu, lanjut Abdurrahman, berkumpul ketika ada kombinasi atau momentum harlah dan haul kiai pesantren. “Misalnya Haul Kiai Pesantren Mantenan. Biasanya menghadirkan jamiyah Ishari. Begitu juga kalau ada harlah NU,” terang Abdurrahman yang pernah diamanahi sebagai Bendahara PCNU Blitar ini. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 23 Juni 2017

Peringati HUT RI, WNI Bermasalah akan Mendapatkan Amnesti

Riyadh, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Lebih dari 300 Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Riyad Arab Saudi menghadiri kegiatan Halal Bi Halal dan HUT ke-70 RI yang dselenggarakan oleh Forum Silaturrahim Warga Negara Indonesia di Riyadh, Kamis (27/8) kemarin.

Dalam kesempatan itu  Kuasa Usaha ad Interim (KUAI) KBRI Riyadh Sunarko mengucapkan terimakasih kepada pengurus forum silaturrahmi atas undangannya. Ia menekankan agar para PNI selalu mempererat ukhuwah islamiyah.

Peringati HUT RI, WNI Bermasalah akan Mendapatkan Amnesti (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati HUT RI, WNI Bermasalah akan Mendapatkan Amnesti (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati HUT RI, WNI Bermasalah akan Mendapatkan Amnesti

“Forum ini adalah salah satu sarana yang sangat baik untuk saling  bersinergi dalam berbagi pengalaman dan kemampuan untuk saling melengkapi guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan itu pula, beliau sebagai  Kuasa Usaha ad Interim sempat menyinggung dan menasehati warga Indonesia supaya tetap mematuhi peraturan yang berlaku di Saudi Arabia dan tetap berjuang seraya berkata ‘Ayo bekerja’.  “Ayo bekerja sesuai dengan aktifitasnya masing masing demi tercapainya cita cita bersama,” katanya.

Ia menyampaikan, dalam waktu dekat KBRI akan mengadakan amnesti atau pemutihan untuk warga negara indonesia yang bermasalah guna mendapatkan pelayanan yang lebih mudah dengan mengeluarkan  SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor) bagi yang mau pulang ketanah air. (Abdul Malik/Anam)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 22 Juni 2017

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Oleh? Ananta Damarjati

Pada saat-saat tertentu, kalimat "Tuhan tidak pernah tidur" terdengar sangat teduh dan seolah mampu mencerabut hampir separuh beban hidup. Dalam alam bawah sadarnya, manusia beriman memang dapat dengan haqqul yaqin mengaktualisasikan kalimat ini dalam konteks keseharian. Yang menarik serta hampir bisa dipastikan, kemunculan kalimat itu dalam kesadaran diri manusia cenderung insidentil dan mencerminkan potensi psikologisnya yang khas.

Bisa dibilang, kalimat itu muncul sebagai salah satu tindak bahasa manusia, sangat konotatif. Dan biasanya, kalimat itu tercetus dengan perasaan khawatir, gelisah atau waswas, pahit, getir, dan sebagainya. Yang jelas ketika itu --simplifikasinya-- manusia berada dalam posisi tidak diuntungkan, didzalimi, pasrah, hampir kalah, dan situasi pelik lain yang terlihat mustahil bagi manusia untuk dapat diselesaikan.

Dibalik itu muncul sosok “Maha Sempurna” yang terkesan sangat dimonopoli; bahwa Dia sedang bersama saya kali ini, Dia tahu saya yang benar, maka anda memusuhi pihak yang salah, dan ribuan kalimat imajiner lain yang jika memang betul seperti itu, samasekali tidak membawa penyelesaian. Karena makna denotatifnya sangat tidak berhubungan dengan ide atau representasi psikis yang ditimbulkan kalimat tersebut kepada kesadaran.

Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Kalimat Tuhan Tidak Pernah Tidur (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Kalimat "Tuhan Tidak Pernah Tidur"

Sebagaimana kritik Feuerbach terhadap agama. Bahwa manusia beragama karena terikat oleh alam. Manusia lemah sedangkan alam yang didapatinya sangat kuat dan ganas. Oleh karena itu untuk mengatasi, tepatnya, untuk membebaskan diri dari alam yang ganas ini manusia membayangkan suatu kekuatan berpribadi sempurna.

Dengan bayangan ini manusia mampu mengatasi segala macam penderitaannya. Ringkasnya, bayangan Allah hanyalah refleksi dari jiwa manusia yang sengsara. Seorang yang miskin mempunyai tuhan yang kaya, orang-orang cinta damai memiliki tuhan yang belas kasih. (Andi Muawiyah Ramly, 69:2009).

Pada titik selanjutnya terlihat bahwa, kalimat "Tuhan tidak tidur" kurang lebih hanya menjadi salah satu bentuk tindakan manusia yang konotasinya tidak menampilkan hakikat kalimatnya. Makna yang ditimbulkan pun tidak terikat, tergantung posisi dan kegunaan, sedang mencari keadilan kah, atau terhimpit ekonomi kah, menghadapi fitnah kah, dan lain-lain.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dan, jika bicara kegunaan serta posisinya, sepintas terasa kalimat itu tidak terdeskripsi dengan jelas. Posisinya kabur kepalang tanggung karena ada pada titik ambivalensi antara takdir Tuhan dan ikhtiar manusia. Kegunaannya, sementara ini belum ada yang lebih tepat dari sekedar penegasan tentang situasi sulit yang sedang dihadapi manusia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kalau boleh disederhanakan, bercocok tanam, mencangkul, memupuk jelas ikhtiar seorang petani, manusia. Tiga bulan kedepan bisa panen atau tidak itu takdir Tuhan. Jika mengacu pada contoh ini, logika kalimat "Tuhan tidak tidur" bisa jadi muncul ketika ditengah jalan dijumpai serangan hama wereng yang sangat masif, padahal keluarga petani kecil itu sedang sangat membutuhkan panen untuk menopang biaya hidup.

Jika kalimat itu muncul dalam sinetron hari ini, niscaya penonton akan dibuat geram karena bersamaan dengan itu ada tokoh protagonis yang sedang nelangsa ditimpa musibah dahsyat, bisa jadi disebabkan serangan dari tokoh antagonis. Biasanya, oleh sutradara dramatisasi kalimat itu diletakkan sebelum titik klimaks.?

Sayangnya dunia manusia dan bahasanya tidak berada dalam tataran logika sinetron, yang punya ribuan cara untuk mengeluarkan Tuhan dari mesin cetaknya dengan rating dan iklan sebagai titik pijaknya. Kalaupun dunia nyata ada persamaan dengan beberapa situasi sinetron, hal itu tak lebih dari sekedar kemiripan sebagaimana kemiripan dalam sebuah keluarga besar.

Fenomena kalimat itu dalam keseharian, sekali lagi, persis di tengah antara takdir dan ikhtiar, status quo yang tak terdefinisikan. Dalam tataran aksiologi, kemunculannya selalu berdenyut di atas ambivalensi makna sebagai bentuk pelarian psikis (untuk tidak menyebutnya sebagai fatalis). Sehingga setelah kalimat itu terlontar, keburaman melihat permasalahan hidup terkesan semakin nyata, sulit untuk dilanjutkan.

Sebenarnya bukan menjadi masalah serius jika "Tuhan tidak tidur" muncul sebagai pelarian psikis dan berhenti disitu, fitrah manusia memang lemah, hina, tak berdaya sehingga butuh sebuah pertolongan. Dalam ilmu tassawuf hal ini menjawab pernyataan Feuerbach, sekaligus membalik paradigma antropologis barat umumnya yang berbunyi "aku berpikir maka aku ada" dengan "aku tidak ada maka Dia ada".

Masalahnya, tidak ada kejelasan posisi aku sebagai mahkluk dan Dia sebagai Tuhan dalam kalimat itu. Di sini saya bukan bermaksud untuk mendikotomiskan antara takdir dengan ikhtiar, antara berdzikir dan berpikir. Melainkan sekedar urun rembug tentang bagaimana memahami kedua hal itu sekecil apapun tindakannya. Apalagi kedua hal tersebut tidak boleh ditinggal salah satunya.

Pada kalimat itu jelas ada sebuah tindak dzikir, ingat kepada Tuhan. Idealnya hal ini patut diimbangi dengan intuisi, pengetahuan tentang konsep, kebenaran dan pemecahan masalah dalam kegiatan berpikir. Sehingga tidak terjadi paradigma yang keliru dalam memandang sebuah masalah.

Dalam berpikir, intuisi akan mengidentifikasi dirinya. Apakah --dalam hal ini terucapnya kalimat Tuhan tidak tidur-- itu sebagai ilham, waswas, atau struktur kejiwaan manusia itu sendiri. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, hal 292:2002), secara tegas membedakan antara ilham dan waswas menjadi empat.

Pertama, ilham dapat menghantarkan seseorang untuk berbuat sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT dan rasulnya, sedangkan waswas sebaliknya. Kedua, ilham dapat mendatangkan kepasrahan, penyadaran, dan hasrat untuk bermuwajahah kepada Allah SWT. Sedangkan waswas menuju pada musuh-musuh Nya. Ketiga, ilham dapat menerangi ruangan batin yang dapat melapangkan dada. Sedangkan waswas dapat mendatangkan kegelapan batin yang menyesakkan dada. Keempat, ilham dapat mendatangkan ketenangan dan ketenteraman. Sedang waswas mendatangkan keresahan dan kegoncangan.

Atau, sejauh yang bisa saya tangkap dari pernyataan di atas. Ibnu Qayyim mengingatkan bahwa dalam hal dzikir, ingat saja tidak cukup. Apalagi jika tergelincir menjadi dzikir tapi tidak ingat. Dalam bahasa lain, Lillah saja tidak cukup, karena setelah itu wajib untuk juga sadar Billah. Maka penting untuk memahami sebuah persoalan dengan berpikir intuitif. Itupun harus dipilah lagi antara intuisi yang benar atau menyesatkan.

Berdasarkan asumsi ini, status quo dalam kalimat "Tuhan tidak tidur", dengan kekhasan perspektif, pengalaman serta harapan yang ada di dalamnya, rasanya menjadi penting untuk ditimbang ulang penggunaannya. Apakah dengan mengucap kalimat itu disertakan pula kesadaran intuitif, Billah, untuk mendapat sebuah ilham. Atau malah timbul dari rasa waswas dan bisikan nafsani, al-khawatir.

Memang dalam satu kalimat saja bisa menimbulkan beribu penafsiran. Tapi semua bisa salah, termasuk tulisan ini. Yang jelas dalam tulisan ini hanyalah makna denotatif bahwa Tuhan, Allah SWT tidak pernah tidur, tertidur bahkan mendengkur. Lah, kalau Tuhan tidur, siapa yang berani membangunkan?

Ananta Damarjati

Penulis adalah Alumni Ponpes Kedunglo, Kediri. Anggota aktif Lingkar Studi “Matakuhati” Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah, Syariah, Pendidikan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

Banyumas,? Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan?

Sejak diluncurkan 30 November 2016 dan mendapat injin oprasional dari Kemenristektdikti No.494/KPT/I/2016. Tahun ini, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto mulai menerima pendaftaran mahasiswa baru tahun ajaran 2017/2018. Bagi calon mahasiswa dengan latar belakang belakang kesulitan ekonomi akan mendapat keringanan.

Dilansir dari situs resmi UNU Purwokerto, Senin (24/7) Ketua Tim Pendiri UNU Purwokerto, Prof Dr Ir. Akhmad Sodiq, mengemukakan, pihaknya memberikan kemudahan bagi mahasiswa kurang mampu berupa bebas biaya registrasi dan pembangunan, biaya pendidikan SPP disesuaikan kemampuan, disediakan beasiswa dan pengurangan atau pembebasan SPP. Serta mengupayakan asrama atau pondokan dengan biaya terjangkau

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Purwokerto Tampung Mahasiswa Kurang Mampu

"Calon mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi untuk melanjutkan kuliah, akan kami bantu seminimal mungkin untuk SPP. Untuk biaya hidup makan dan pondokan sekitar Rp.300.000 per bulan," katanya.?

Akhmad Sodiq yang juga seorang dekan Fakultas Peternakan Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto itu menambahkan, tenaga pengajar yang dimiliki UNU Purwokerto merupakan akademisi lulusan luar dan dalam negeri yang telah memiliki pengalaman di sejumlah universitas, termasuk salah satunya Unsoed Purwokerto.

"Ada 40 tenaga pengajar berkualitas, 16 diantaranya bergelar profesor, dan sisanya sebagian besar lulusan S-3," lanjutnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Program studi yang dibuka untuk eksakta yakni agroteknologi, teknologi pangan, teknik pertanian dan biosistem, peternakan, ilmu perikanan, biologi dan matematika. Sedang untuk program studi sosial humaniora terdiri ? manajemen, akutansi, administrasi publik, hukum, hukum syariah, dan pendidikan bahasa Inggris.

Untuk informasi pendaftaran mahasiswa baru bisa langsung datang ke kampus I UNU Purwokerto Jln. Sultan Agung 42 Karangklesem Purwokerto, atau selatan atau secara online melalui website www.unupurwokerto.ac.id. dan bisa juga juga menghubungi nomor 081332755248 (HP), ? 081225651308 (WA) dan 081210084666 (HP/WA).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Akhmad Sodiq menambahkan, visi yang dicanangkan UNU Purwokerto adalah menjadi universitas yang unggul dalam menghasilkan sumberdaya manusia (SDM) dan pengembangan IPTEKS berdasarkan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal dan berwawasan global.?

Sedang misinya, menyelenggarakan pendidikan guna menghasilkan sumberdaya manusia bermoral yang memiliki nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal, kompetensi akademik berwawasan global, kemampuan kepemimpinan, kewirausahaan, kemampuan memecahkan masalah untuk pembangunan masyarakat Indonesia. (Kifayatul Ahyar/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 18 Juni 2017

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng

Brebes, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Setelah sukses menjadi tuan rumah Manaqib Kubro Jami’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) se-Jawa Tengah akhir Mei lalu, Kabupaten Brebes kembali dipercaya menggelar perhelatan tingkat provinsi berupa Seleksi Tilawatil Quran (STQ).

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng

Pelaksanaan STQ tingkat Provinsi Jawa Tengah ini akan berlangsung pada 16-19 September 2014. Demikian ditegaskan Ketua Umum STQ XXIII Tingkat Jawa Tengah 2014 Narjo saat rapat persiapan panitia di ruang rapat Bupati Brebes, Rabu (25/6/14).

Narjo menyatakan, kebanggaanya atas kepercayaan Gubernur Jateng kepada Pemkab Brebes sebagai tuan rumah penyelenggaraan event di tingkat Provinsi. “Sebagai tuan rumah, Brebes berupaya keras demi suksesnya penyelenggaraan dan sukses prestasi,” kata Narjo yang juga Wakil Bupati Brebes.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Seperti penyelenggaraan Jatman, lanjutnya, meskipun tidak mendapat kucuran dana Pemkab Brebes tetapi pada kenyataanya bisa terselenggara dengan sukses. Dan menurut Ketua Jatman Jawa Tengah, Kabupaten Brebes telah sukses menggelar Manaqib Kubro dengan sukses dan terbaik.

STQ Tingkat Jateng bakal diikuti 35 Kafilah (kontingen) Kabupaten/Kota Se Jateng. Tiap kafilah akan mengirimkan 16 peserta, 3 pelatih, 1 Ketua Kafilah dan 2 pendamping. “Perhelatan ini, minimal akan dimeriahkan oleh 1.500 orang, belum orang tua dan tamu lain-lainnya,” kata Narjo.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Adapun cabang dan golongan yang akan dimusabaqohkan pertama Cabang Tilawah golongan anak-anak putra dan putri usia maksimal 13 tahun, golongan dewasa putra putri (pa pi) usia maksimal 40 tahun. Kedua Cabang Tahfidz golongan 1 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 14 th, gol 5 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 16 tahun, gol 10 juz pa pi usia maksimal 18 tahun, gol 20 juz pa pi usia maksimal 20 tahun dan gol 30 juz pa pi usia maks 23 tahun. Sedangkan yang ketiga cabang Tafsir Al quran untuk golongan Bahasa Arab Putra dan putri usia maksimal 23 tahun.

Untuk tempat STQ akan ditempatkan diberbagai titik antara lain di MTs N Model Brebes, Pendopo Bupati, Kantor Kemenag, Islamic Center dan Masjid Agung Brebes. “Kami juga telah melakukan studi banding ke Kab Karanganyar beberapa waktu lalu,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Brebes H Imam Hidayat menjelaskan, untuk kafilah (kontingen) Brebes telah siap. Terbukti telah dilakukan pembinaan secara bertahap dengan mendatangkan pelatih dari luar daerah yang berkelas Nasional. Yang mewakili Kafilah Brebes hanya 16 orang.

“Mereka akan berebut piala pada cabang Tilawah, Tahfidz dan Tafsir,” terangnya. “Sebagai tuan rumah, kami akan mendukung penuh agar Kabupaten Brebes dapat sukses penyelenggaraan, sukses, prestasi dan sukses administrasi,” tambah Imam. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan, Cerita, Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 13 Juni 2017

IPNU IPPNU Pati Dakwah Rutin Melalui Radio

Pati, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) Cah Pati PC IPNU IPPNU Pati menyelenggarakan kegiatan talkshow rutin di salah satu radio swasta secara rutin setiap bulan sekali. 

IPNU IPPNU Pati Dakwah Rutin Melalui Radio (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU IPPNU Pati Dakwah Rutin Melalui Radio (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU IPPNU Pati Dakwah Rutin Melalui Radio

Tema yang diangkat berganti-ganti sesuai kebutuhan remaja saat ini.

Dalam kegiatan talkshow radio ini, Ahad (3/3), PIK  Remaja Cah Pati mengangkat tema Nikah Tanpa Rencana Jadi Bencana dan menggandeng Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa STAIP dan BPPKB Kabupaten Pati untuk menjadi narasumber.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Adiningtyas Prima, ketua PIK Remaja Cah Pati menyebutkan bahwa talkshow radio ini rutin dilakukan oleh PIK Remaja Cah Pati bekerjasama dengan salah satu radio swasta di Kabupaten Pati, sebagai dakwah rutin ala remaja, yang memang diprioritaskan bagi remaja.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Karena memang tujuan kami adalah dari remaja, oleh remaja dan untuk remaja. Narasumber kami selalu berusia remaja, dan untuk narasumber lainnya kami selalu menggandeng pemerintah maupun lembaga lain yang sesuai dengan kebutuhan tema,” katanya.

Tema yang diangkat selalu yang berhubungan dengan remaja karena ini adalah kebutuhan remaja. 

“Masih banyaknya pernikahan yang dilakukan tanpa rencana, maka kali ini kami mengangkat tema Nikah Tanpa Rencana Jadi Bencana. Pernikahan tanpa rencana juga termasuk pernikahan dini.”

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang pernikahan dini. Kehamilan yang tidak diinginkan, faktor ekonomi, sosial, stigma perawan tua, yang akhirnya menyebabkan orang menikah walaupun rencana kehidupannya belum matang.

Tema ini berkaitan dengan salah satu program Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Pati yaitu Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja, untuk meningkatkan usia menikah dimana perempuan adalah 20 tahun, dan bagi laki-laki di usia 25 tahun. Karena dimaksudkan pada usia ini, sudah ada kesiapan kesehatan terutama kesehatan reproduksi, psikologi, ekonomi dan finansial.

Menurut Ibu Buyung Kusumawati, Kasubbid Kelembagaan BPPKB Kabupaten Pati, pernikahan bukan hal yang mudah karena menuntut penyesuaian diri terus menerus sepanjang perkawinan. Perkawinan di usia dewasa, akanmenjamin kesehatan reproduksi ideal bagi perempuan sehingga risiko kematian Ibu melahirkan dapat dihindari. Dan juga memberikan keuntungan dalam hal psikologis dan sosial ekonomi.

Ainur Rofiq, salah satu narasumber juga menyoal masalah kebijakan yang masih tumpang tindih di Indonesia. Dimana UU Perlindungan Anak tahun 2003 menyebutkan bahwa usia anak adalah dibawah 18 tahun. Sedangkan di UU Pernikahan tahun 1974 menyebutkan bahwa laki-laki boleh menikah pada umur 19 tahun, sedangkan perempuan berusia 16 tahun. Artinya ada dua hal yang berbeda dari kebijakan di Indonesia mengenai definisi usia perkawinan ideal jika didasarkan pada kesepakatan bahwa usia pernikahan muda lebih beresiko.

Talkshow ini mengundang perhatian bagi audiensi, dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang masuk ke radio. Banyak hal yang didiskusikan terutama menyangkut masalah ekonomi. Di beberapa daerah, masalah ekonomi menjadi perhatian utama, karena hal inilah yang menyebabkan banyak perempuan mau dinikahi walau usia nya masih muda. 

Dalam hal ini, PIK Remaja Cah Pati juga menghimbau kepada masyarakat untuk memberikan perhatian besar. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua juga berperan bagi perkembangan anak.

Salah satu pesan dari narasumber bagi remaja Indonesia adalah rencanakan pernikahan anda, rencanakan keluarga anda dan raih kebahagiaan.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 12 Juni 2017

KH Mahrus Hasyim, Kiai Azimat Santri dan Masyarakat Pacitan

Santri Pondok Tremas dan masyarakat Pacitan, Jawa Timur dengan khidmat mengikuti pembacaan Kalimah Toyyibah Tahlil dalam rangka memperingati haul ke-10 salah satu pengasuh Pondok Tremas Pacitan, Almagfurlah KH Mahrus Hasyim, Kamis (17/3).

Tampak hadir dalam majlis haul ini para kiai diantaranya, Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits, KH Muhammad Habib, KH Burhanuddin HB, KH Asif Hasyim, Kiai Waki’ Hasyim, KH Dhakwan tokoh masyarakat dan ratusan alumni pondok Tremas dari berbagai daerah.

KH Mahrus Hasyim, Kiai Azimat Santri dan Masyarakat Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mahrus Hasyim, Kiai Azimat Santri dan Masyarakat Pacitan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mahrus Hasyim, Kiai Azimat Santri dan Masyarakat Pacitan

Rangkaian peringatan haul diawali dengan kegiatan semaan Al-Qur’an bil ghoib dan ziarah ke makam almagfurlah KH Mahrus Hasyim di komplek makam Gunung Lembu bersama keluarga, para santri, dan alumni.?

KH Mahrus Hasyim yang wafat pada tahun 2006 lalu, dimata santri pondok Tremas dan masyarakat dikenal sebagai figur kiai yang tegas dan kharismatik. ? Kepada para santrinya, Kiai Mahrus lebih banyak mengajarkan berbagai macam ilmu hikmah. Dalam mendidik santri, Kiai Mahrus juga dikenal sebagai kiai yang keras dan disiplin. Namun dibalik ketegasannya, Kiai Mahrus merupakan kiai yang santun dan memasyarakat.

Tidak heran bila semasa hidup, Kiai Mahrus menjadi azimatnya para santri dan masyarakat pada umumnya. Tiap hari, tak sedikit masyarakat yang sowan kepadanya untuk meminta barokah doa atau sekadar meminta nasehat untuk menyelesaikan permasalahan yang tengah mereka hadapi.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sejak usia remaja Kiai Mahrus terkenal sebagai santri nakal. Namun dibalik kenakalanya, dia sudah tekun melakukan berbagai jenis riyadhah atau lelaku batin. Diantaranya dengan tidak makan nasi dan hanya mengonsumsi kunir selama beberapa tahun lamanya. Kiai Mahrus juga sangat gemar belajar ilmu silat dan ilmu kanuragan.

Karena kenakalanya, Kiai Mahrus pernah dikirim oleh ayahnya KH Hasyim Ihsan untuk belajar kepada beberapa kiai di Rembang Jawa Tengah. Tak lama di Rembang, Ia kemudian melanjutkan pengembaraan menuntut ilmu kepada Kiai Jamal, Pesantren Batokan Kediri yang terkenal jadug itu.?

Dibawah bimbingan Kiai Jamal inilah, kiai Mahrus semakin tekun dalam mempelajari ilmu hikmah. Hingga setelah pulang ke Tremas, kiai Mahrus kelak kesohor sebagai kiai jadug yang menguasai ilmu hikmah dan didatangi banyak santri untuk berguru kepadanya.?

Selama mendidik santri, Kiai Mahrus selalu mengajarkan santri untuk giat beribadah dan tekun melakukan berbagai macam tirakat dalam rangka mengolah batin dan raga. Sebab tirakat merupakan salah satu jalan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk mempermudah santri dalam menerima berbagai ilmu yang disampaikan oleh guru.

Ada nasihat tegas dari Kiai Mahrus yang selalu diingat oleh para santri pondok Tremas, diantaranya para santri tidak boleh melakukan pacaran. Sebab pacaran dapat membuat seseorang mudah pikun dan sulit menerima ilmu. “Dadi santri ojo seneng pacaran, mundak gampang pikun (Jadi para santri tidak boleh pacaran sebab bisa menyebabkan pikun),” demikian salah satu nasihatnya. (Zaenal Faizin)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 11 Juni 2017

Membangun Bangsa dari Papua

Jayapura, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dihelat di Jayapura, Papua, dinilai sangat penting dan bernilai strategis untuk mendorong pemerintah agar mewujudkan cita-cita dan visi pembangunan nasional yang adil dan merata.?

Membangun Bangsa dari Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Bangsa dari Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Bangsa dari Papua

Hal itu diungkap mantan ketua umum PB PMII Ahmad Bagja saat menghadiri pembukaan Muspimnas PMII, di Hotel Sentani Indah, Selasa (11/12) lalu.

Dikatakan Bagja, pemilihan Papua sebagai tempat Muspimnas seharusnya bisa membuka mata pemerintah tentang perlunya pemerataan pengembangan di daerah tertinggal, sekaligus ? menegaskan bahwa Papua yang secara geografis berhadapan langsung dengan Asia-Pasifik, harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Ini pertama kalinya dalam sejarah keorganisasian kepemudaan di Indonesia, ada kegiatan khusus yang diadakan di Papua. Kita harus mengakui bahwaPapua sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki peran yang sangat dan tidak bisa ditunda-tunda lagi,” ujarnya.

Ketua Umum PB PMII Adien Jauharuddin mengatakan, pihaknya memilih Papua sebagai tempat Muspimnas lantaran selama ini Propinsi di ujung timur Indonesia ini selalu dimarginalkan. Padahal, menurut Adien, Papua memiliki peran strategis dan menjadi garda terdepan dalam pertarungan ekonomi, politik dan budaya global.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Papua menjadi penentu bangkit atau bangkrutnya NKRI dalam pertarungan dunia. Karenanya tema Muspimnas PMII adalah Tata Peradaban Baru; Membangun Bangsa dari Papua,” ujarnya.

Ia juga menandaskan, PMII mendesak pemerintah untuk memperbaharui visi pembangunan nasionalnya, dengan visi pemerataan pembangunan yang berkeadilan.

“Sudah saatnya Indonesia, baik pemerintah, swasta dan masyarakat sipil bersatu, memperkuat fokus, program dan kinerja pembangunan secara lebih serius demi menyejahterakan rakyatnya dan demi pemerataan pembangunan di seluruh wilayah propinsi Indonesia,” tandasnya.

Pemerintah, menurut Adien, harus melakukan aktivasi kegiatan ekonomi dari sisi produksi dan distribusi antar pulau, pengentasan kemiskinan dan pengangguran, serta pengelolaan Sumber Daya Alam secara proporsional dengan fokus pada peraihan keuntungan jangka pendek dan jangka panjang nasional.

Dalam Muspimnas, selain membahas evaluasi internal organisasi, kegiatan yang diikuti para pengurus koordinator cabang dan pengurus cabang PMII di Indonesia itu juga membahas sejumlah hal penting, diantaraya tentang pendidikan nasional yang berbasis pada kebutuhan dan kepentingan nasional baik jangka pendek maupun jangka panjang; penegakkan hukum dan institusi demokrasi; penajaman strategi pertahanan khususnya dalam mengelola perbatasan di pulau-pulau terdepan.

Dikatakan, hal tersebut merupakan agenda-agenda riil dan mendesak yang harus dikerjakan dengan tetap menjaga kontak denga dinamika internasional.

“Agenda ini merupakan salah satu bagian kerja yang dilakukan oleh PMII sebagai organisasi mahasiswa-pemuda nasionalis yang sadar dengan akar historisnya sebagai generasi kesekian dari bangsa ini. PMII percaya bahwa kebangkitan NKRI ditentukan oleh sejauh mana kita mampu memahami, mengerti dan mampu menggerakkan kekuatan kita sebagai negara kesatuan," kata Adien.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Malik

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Lomba, Kyai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bersama Anak Yatim, Pengurus PBNU Peringati Maulid Rasullulah

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama membaca Barjanji di Masjid An-Nahdlah PBNU Jakarta, Senin (28/12). Pada kesempatan ini pengurus PBNU juga menghadirkan puluhan anak yatim di Jakarta.

Tampak sejumlah Ketua PBNU seperti Marsudi Syuhud, Muhammad Nuh, Mochammad Maksum Machfoedz, Abdul Manan Ghani, Aizzuddin Abdurrahman, Sulton Fatoni, dan Sekretaris Jenderal PBNU Helmi Faisal Zaini serta jajaran pengurus teras PBNU lainnya hadir meramaikan kegiatan kali ini.

Bersama Anak Yatim, Pengurus PBNU Peringati Maulid Rasullulah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Anak Yatim, Pengurus PBNU Peringati Maulid Rasullulah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Anak Yatim, Pengurus PBNU Peringati Maulid Rasullulah

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, tentang masalah maulid seorang sahabat bernama Kaab bin Zuhair memuji Rasulullah SAW dengan perkataan sanjungan. Rasulullah tidak marah. Bahkan sebaliknya, nabi memberikan selimut lurik-luriknya di mana dalam bahasa Arab dinamakan burdah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Kalau tidak percaya datang ke Kota Istanbul Turki, masuk museum Topkapi di sana masih ada jubah Rasullullah yang pernah diberikan kepada Ka’ab, dan beberapa peninggalan seperti mangkok, gelas bekas nabi," kata Kang Said.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karenanya NU percaya bahwa memuji-muji Nabi Muhammad itu sunah taqririyah, perilaku seseorang yang dibenarkan nabi, bukanlah bidah. "Rasulullah memang tidak melakukannya sendiri, tetapi ketika ada yang melakukannya diberi legitimasi," sambungnya.

Kang Said mengajak warga NU untuk meramaikan maulid serta meneladani Rasullulah. Beliau seseorang yang memperhatikan umat tanpa memandang derajat. Nabi MuhammadSAW adalah pemimpin yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Beliau wafat tidak meninggalkan harta dan kekayaan tetapi meninggalkan keteladanan.

"Yang mengatakan maulid bidah, silakan. Namun, kita jalani saja sendiri," kata Kiai Said yang juga dosen pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.

Usai Barzanjian, Kang Said memotong tumpeng nasi dan menyerahkan santunan secara simbolis kepada beberapa anak yatim. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 07 Juni 2017

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Dalam rangka memuaskan pasangan antara suami istri, Islam membebaskan trik dan gaya bercinta antara keduanya selama tidak bertentangan dengan aturan syariat. Termasuk pula dalam melakukannya dengan gaya oral seks. Hal ini tidak termasuk larangan dalam agama.

Baca: Hukum Oral Seks di Bagian Kewanitaan

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Orang yang melakukan oral, sebagian dari mereka, sudah banyak yang dalam kondisi ereksi atau tegang sehingga tidak jarang para pasangan suami-istri ini sudah mengeluarkan pelumas berupa cairan bening atau biasa disebut dengan istilah madzi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jika ditelisik lebih dalam, selain air kencing, ada tiga jenis air yang keluar dari kemaluan manusia. Pertama, air sperma (mani). Sperma bisa diidentifikasi dari salah satu beberapa cirinya, yaitu keluar dengan memancar dan tersendat, ada bau yang khas seperti adonan roti/kue, terasa nikmat saat air itu keluar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kedua, air wadi, yaitu air keruh, kental yang biasa keluar setelah orang mengeluarkan air kencing mungkin disebabkan faktor capai atau hal lain.

Ketiga, air madzi, yaitu air bening yang keluar dari kemaluan, baik dari seorang pria maupun wanita yang biasanya disebabkan karena faktor syahwat. Baik disebabkan karena membayangkan, melihat atau sedang pemanasan (foreplay).

Di antara semua air yang keluar tersebut hukumnya najis kecuali sperma. Seseorang yang mengeluarkan sperma, wajib mandi. Sedangkan wadi dan madzi hanya mewajibkan wudhu, tidak harus mandi, serta harus dibersihkan sebagaimana membersihkan najis seperti biasanya.

Bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, tentu sangat kesulitan jika harus menghindari madzi ini. Karena madzi memang diciptakan Allah untuk melengkapi kegiatan jima yang dilegalkan dalam syara bagi pasangan yang sah. Ia menjadi pelumas untuk sebuah lancarnya hubungan senggama.

Padahal apabila kita melihat fiqih dasarnya, ada sebuah aturan bahwa seseorang tidak diperkenankan mengotori tubuh dengan najis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi memasukkan najis tersebut ke dalam tubuh, tentu tidak diperbolehkan.

Madzi merupakan cairan najis. Ia berlaku hukum yang sama. Artinya tidak boleh sampai masuk ke dalam tubuh, termasuk masuk ke kelamin seorang istri. Tetapi karena hal ini sangat sulit dihindari, maka syara memberikan toleransi sehingga madzi bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan suami-istri hukumnya dimafu (diampuni).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tempat sucinya sperma itu jika memang kepala batang dzakar dan farji yang keluar murni berupa mani yang suci. Jika tidak murni suci, hukumnya (mani itu) najis dan haram bersenggama dengan kondisi seperti demikian sebagaimana orang orang istinja dengan batu ketika air sperma keluar dari situ. Karena hal itu menjadikan najis. Iya, diampuni dari orang yang kesulitan menghindari hal tersebut dengan nisbat untuk jima,” (Lihat Ianatuth Thalibin, juz I, halaman 85).

Hukum mafu hanya mempunyai arti diampuni, tidak mengubah status najis menjadi suci. Maksudnya najis tetap najis, tidak bisa berubah menjadi suci. Madzi itu najis. Selamanya, hukum madzi tetap najis. Tidak bakal berubah menjadi suci. Hanya saja, bagi suami istri yang sedang bercinta, cairan ini diampuni. Sedangkan madzi jika dalam kondisi selain jima, hukumnya tetap najis.

Contoh, darah nyamuk yang sedikit itu hukumnya najis, tetapi dimafu jika terkena tubuh atau pakaian. Ini dinisbatkan untuk shalat. Jadi orang yang tangannya terkena darah nyamuk, boleh langsung melaksanakan shalat tanpa harus membersihkan darah tersebut karena dimafu.

Diampuninya darah pada tangan untuk shalat ini tidak berlaku apabila tangan yang terkena darah nyamuk kemudian dicelupkan ke dalam air satu gelas untuk kemudian diminum. Jika dicelupkan ke dalam air segelas, semua air dalam gelas menjadi najis. Ia dimafu untuk shalat namun tidak dimafu untuk diminum.

Kembali tentang pembahasan madzi. Madzi merupakan kebutuhan wajib bagi pasangan senggama dan sangat sulit menghindarinya. Oleh karena itu hukumnya dimafu. Tetapi dimafunya ini tidak berlaku jika madzi masuk mulut bagi orang yang melakukan oral seks. Karena mulut itu bukan tujuan utama orang bercinta yang madzi tidak diciptakan untuk menjadi pelumas mulut, namun pelumas vagina.

Di sinilah alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral seks itu karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut. Ini tidak boleh.

Adapun ulama yang memperbolehkan oral seks, mereka tidak melihat dari sudut pandang najis tidaknya madzi. Mereka lebih melihat pada hukum dasar bahwa hal tersebut diperbolehkan tanpa memandang hukum madzi. Mungkin saja ada orang yang hubungan senggamanya kering sehingga ia tidak punya madzi. Jadi tidak mempunyai alasan untuk melarang hubungan oral seks.

Kesimpulannya, pertama, madzi atau air lubricant yang diproduksi tubuh hukumnya najis tetapi dimafu jika masuk ke vagina istrinya karena hal ini sangat susah untuk dihindari.

Kedua, oral seks diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah najis. Ia dimafu jika masuk ke liang vagina saja. Jika masuk ke mulut, itu bukan keadaan yang sulit dihindari, maka hukumnya tetap najis tidak dimafu.

Ketiga, pasangan yang ingin melakukan hubungan oral seks bisa memakai kondom yang suci supaya yang masuk ke mulut adalah benda suci. Jika tidak memakai kondom, apabila ada najis yang masuk ke mulut, harus segera dikeluarkan kembali, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur dan lain sebagainya. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian, Warta Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 05 Juni 2017

Habib Luthfy: PMII Tak Usah Pikir Panjang Kembali ke NU

Pekalongan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai garda muda NU di kampus, hendaknya tidak perlu berpikir panjang dan bertele tele untuk kembali sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama. Karena meski selama ini independen, tapi kenyataannya atau secara defacto PMII selalu di bawah naungan NU.

Habib Luthfy: PMII Tak Usah Pikir Panjang Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy: PMII Tak Usah Pikir Panjang Kembali ke NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy: PMII Tak Usah Pikir Panjang Kembali ke NU

Oleh karena itu, desakan berbagai pihak, termasuk keinginan NU untuk mengembalikan status PMII saat ini hendaknya patut kita sambut dan kita dukung, agar PMII tidak kehilangan obor sejarah.

Demikian dikatakan Habib Luthfy bin Yahya Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) di hadapan ratusan anggota PMII Cabang Pekalongan di Kanzus Sholawat, Sabtu Sabtu (21/03) di Kanzus Sholawat Pekalongan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dikatakan, sebagai kader yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah, banyak pekerjaan dan tugas PMII yang harus segera dilaksanakan antara lain membentengi anak anak muda kampus dari paham radikalisme dan memperkenalkan wajah Islam moderat yang rahmatan lil alamin.

“Jangan sampai PMII kehilangan obor sejarah, PMII lahir dari rahim NU dan di saat ancaman semakin kencang maka tidak usah berpikir panjang untuk kembali ke NU,” ujar Habib Luthfy.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurutnya, saat ini banyak kelompok-kelompok yang akan menghilangkan sejarah keislaman, maka sebagai mahasiswa sudah seharusnya belajar dengan sebaik mungkin mengetahui sejarah secara mendalam dan jagalah dengan baik.

Sebagaimana diketahui, wacana kembalinya PMII menjadi banom NU yang akan di rekomendasikan pada muktamar NU di Jombang mulai mengemuka. Meski terjadi pro dan kontra, PBNU telah mengagendakan pada muktamar di Jombang Agustus mendatang posisi PMII akan dibahas secara khusus.

Acara yang diselenggarakan dengan tema meneguhkan ke-aswajaan PMII menuju kejayaan NKRI dihadiri dan disaksikan sejumlah pihak antara lain, ratusan kader PMII, OKP di wilayah Pekalongan, dan siswa SLTA yang berada di bawah LP Ma’arif NU Kota dan Kabupaten Pekalongan. 

Acara tersebut diawali dengan pembacaan maulid Nabi Muhammad SAW dilanjutkan dengan pelantikan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar PMII Abdul Haris Wally dan diakhiri dengan dialog langsung dengan Maulana Habib Luthfy bib Ali bin Yahya. (Abdul Muiz/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 03 Juni 2017

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Sekolah Kaligrafi Al-Quran (Sakal) yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar Kabupaten Jombang menyiapkan segala sesuatunya untuk perlombaan kaligrafi tingkat ASEAN. Kegiatan ini merupakan salah satu rentetan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) yang biasa dihelat pada setiap 22 Oktober.

Dirut Sakal Athoilah mengatakan, perlombaan ini adalah suatu amanah yang diberikan PBNU langsung kepada Sakal. "Tahun ini kita akan mengadakan lomba kaligrafi tingkat ASEAN di Jombang," katanya, Kamis (31/8).

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Kaligrafi Tingkat ASEAN, Rentetan Kegiatan HSN 2017 di Jombang

Ia menambahkan, acara tersebut akan dilaksanakan pada 14-16 September 2017 di Denanyar. Selain lomba, imbuhnya, di acara itu juga ada pemberian sanad kaligrafi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Puluhan pecinta seni kaligrafi dari berbagai negara juga dijadwalkan hadir di Jombang. Mereka semua akan bergabung bersama para santri seluruh Nusantara.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Pecinta Kaligrafi dari Turki, Malaysia, Brunai Darussalam sudah konfirmasi kehadirannya kepada kita," bebernya.

Ia menyebutkan kepercayaan yang diberikan oleh PBNU kepada santri Pondok Pesantren Denanyar ini merupakan kebanggaan dan tantangan tersendiri.

"Mudah-mudah agenda ini bisa berjalan setiap tahun, kita buktikan santri bisa buat acara internasional," harapnya.

Ia menjelaskan, Sakal merupakan wadah khusus bagi santri yang ingin belajar kaligrafi dari nol. Sakal sendiri berdiri sejak bulan Mei 2001 lalu di bawah naungan Ponpes Manbaul Maarif.

Pesantren yang didirikan oleh KH Bisri Syansuri ini memang terkenal dengan prestasi di bidang kaligrafi. Ratusan santri sudah memenangkan berbagai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan