Rabu, 16 September 2015

NU Dinamis tapi Ber-manhaj

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan pemikiran yang dikembangkan oleh NU merupakan gerakan pemikiran yang dinamis dalam arti mengikuti perkembangan yang ada. Namun demikian, pemikiran yang dikembangkan tersebut tetap mengacu pada manhaj atau metode berfikir yang dikembangkan oleh empat mazhab yang diakui oleh NU.

Demikian diungkapkan oleh Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dalam Pelatihan Kader Dai II yang mengambil tema “Aswaja dalam Perspektif Islam Rahmatan Lil Alamin yang diselenggarakan oleh LDNU dan Muslimat NU di Jakarta, Rabu.

Dijelaskan oleh Ketua Dewan Fatwa MUI tersebut bahwa pada era 1990-an NU pernah mengalami konservatifme. Kalangan ulama NU hanya menerima manhaj secara kouli atau secara tekstual sehingga banyak persoalan keagamaan yang tak terjawab karena memang persoalan tersebut belum ada saat ulama pendiri mazhab hidup.

NU Dinamis tapi Ber-manhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Dinamis tapi Ber-manhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Dinamis tapi Ber-manhaj

Akhirnya dalam Munas NU di Lampung pada tahun 1992, diputuskan bahwa NU tetap bermazhab tetapi secara kouli dan manhaji. “Persoalan-persoalan baru akhirnya bisa terjawab dengan menggunakan metode yang digunakan para ulama,” tandasnya.

Ia mencontohkan kasus yang terjadi di Banten yang dialami oleh Syeikh Nawawi Banten. Menurut pendapat Imam Syafii zakat harus dibagi rata pada tujuh golongan, namun kondisi di Banten saat itu tidak memungkinkan karena tujuh golongan tersebut tidak terpenuhi. Dan menurut pendapat imam yang lain, dimungkinkan untuk dibagi meskipun tidak lengkap tujuh golongan tersebut.

“Makanya, seandainya Imam Syafii mengalami hal yang sama, pendapat itulah yang diambil olehnya,” tandasnya mengutip salah satu ulama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sayangnya belakangan ini, telah terjadi dinamisasi yang kebablasan yang mengarah pada liberalisasi dan penafsiran terhadap Al Qur’an yang berlebihan seperti penggunaan metode hermenetika dalam menafsiri Al Qur’an, usulan amandemen Qur’an maupun reinterpretasi Qur’an disesuaikan dengan globalisasi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Nantinya kalau nuruti seperti itu Qur’an yang asli malah hilang. Makanya NU dalam munas di Surabaya lalu memutuskan untuk tidak boleh menafsiri Qur’an yang sudah Qoth’i,” imbuhnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 09 September 2015

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan

anaaakkk

assambayangko nutambung

pakajai amalkanu

mateko sallang

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan

nanu sassalak kalennu



Kalimat-kalimat tersebut dinamakan kelong atau syair pengantar tidur atau meninabobokan bayi-bayi Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. Makna dalam bahasa Indonesia syair itu adalah “tegakkanlah shalat terus menerus/perbanyak amalmu/kelak engkau wafat/dan engkau menyesali dirimu”. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut sastrawan Makassar, Chaeruddin Hakim, ketika Islam datang ke wilayah Sulawesi, disebarkan oleh para ulama sekitar abad ke-13 Masehi, salah satunya melalui jalur kesenian, di antaranya melalui kelong tersebut. “Islam disampaikan tidak dengan Al-Qur’an terlebih dahulu, tapi dengan lokal genius, melalui alat musik dan sastra tutur atau kelong,” katanya.? ?

Kelong, lanjut dia, adalah ungkapan-ungkapan tetua. Kelong (dalam bahasa Bugis elong) semakna dengan passang. Dalam bahasa indonesia artinya pesan atau amanat. Amanat tetua Islam tentang shalat, zakat, haji, puasa, disampaikan dengan cara seperti itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sampai saat ini umumnya kelong bersifat anonim. Namun demikian, terdapat beberapa naskah manuskrip dengan huruf Lontara yang di dalamnya banyak terdapat kelong. Ketika sampai ke masyarakat, pengarangnya sudah tidak diketahui.

“Kelong itu dibacakan kepada anak-anaknya ketika mau tidur, dininabobokan, sambil diayun. Kalau di Makassar namanya eya eya oo. Kalau di Bugis namanya ejabelale. Syair-syairnya hampir sama yaitu harapan dan doa,” jelasnya.

Dari segi bentuk, ada yang kelong agama yang berisi ajaran-ajaran atau pesan, ada juga kelong simpung pamai (syair bersedih hati). Tapi masih ada jenis-jenis yang lain.

“Saya menekuni kelong sejak SMA tahun 80 sampai ke sekarang. Skripsi dan tesis serta rencana disertasi, pernah terdaftar di S3 Unes Semarang, tapi belum dilanjutkan, semua tentang kelong. Saat ini aktif sementara mendokumentasikan naskah-naskah sastra tutur yang tersebar atas biaya sendiri,”

Ketika ditanya kenapa menarik dengan kelong, bagi Chaeruddin, karena terdapat nilai-nilai religiusitas keislaman dan ajaran moral secara universal sehingga dapat dijadikan salah satu media dakwah alternatif. Dan ia memilih jalur itu sebagai dakwah.

Tapi sayang, para orang tua sekarang sudah sangat jarang meninabobokan anak dengan. Di antara penyebabnya, arsitektur rumah dan kebiasaan orang tua yang tidak lagi membuat ayunan untuk anak-anaknya.

“Kalaupun diayun sudah tidak lagi diiringi kelong. Salah satu penyebabnya karena penyebaran kelong dari generasi tua ke generasi muda tidak simultan.”

eyaa eyaa eyaa oo, eyaa eyaa eyaa? oo (aduhai, aduhai)

tutuko maklepa lepa, anaaak? (hati-hatilah berdayun sampan, anakku)

makbiseang rate bonto (berperahu di atas pematang)

tallangko sallang (KELAK engkau tenggelam)

nana sakkoko alimbukbuk? (dan tersedak debu)
(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Khutbah, Meme Islam, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan