Jumat, 29 Oktober 2010

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Oleh Nur Kholik Ridwan

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengemukakan, “Mereka mengajak kepada Kitab Allah, padahal sedikit pun mereka tidak bertolak dari sana. Mereka tidak berhenti sampai di situ, malahan mereka mendirikan perkumpulan (organisasi) bagi kegiatan mereka tersebut. Maka kesesatan pun semakin jauh. Orang-orang yang malang beramai-ramai memasuki perkumpulan itu.”

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Kalimat-kalimat itu ditujukan Hadratussyekh untuk mengingatkan kepada umat Islam, khususnya warga Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, untuk tidak terjun dalam lautan fitnah, apalagi ikut mengobarkannya. Beliau mengatakan: “Sementara itu ada segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah.” Jelas disadari, umat Islam Indonesia tidak lepas dari terkaman api fitnah yang merajalela, baik dulu atau sekarang. Dalam konteks itu, Hadratussyekh mengingatkan, akan banyak orang mengutip Al-Qur’an dan mengajak kepada Al-Kitab, tetapi sejatinya mereka tidak berpijak dari sana.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Oleh karena itu, Hadratussyekh mengingatkan, “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan sepanjang zaman,” dan fitnah adalah bagian dari sumber dari perpecahan itu.

Tentang fitnah yang sudah merajalela itu, juga menggerus Muslimin Indonesia, dan khususnya ditujukan kepada masyarakat NU, yaitu yang hubungannya dengan negara dan dasar Negara. Tidak hanya belakangan ini saja, tetapi juga sudah sejak lama ketika Republik ini telah berdiri. Digambarkan bahwa negara yang seperti NKRI dengan dasar Pancasila ini adalah tidak mencerminkan Islam. Pemerintah adalah thaghut dan yang mendukungnya adalah pembela thaghut. Ending - nya mereka berkampanye untuk mendirikan khilafah mengganti negara nasional dan Pancasila, sebagian menginginkan negara Islam dan mengulang tradisi Kartosoewirjo, dan sebagian membayangkan ingin perang Suriah segera terjadi dan daulah islamiyah seperti ISIS berdiri, dan hal-hal lain lagi.

Tulisan ini berusaha memenuhi permintaan dari sebagai sahabat-sahabat dan santri-santri pesantren yang menginginkan jawaban dari kemelut fitnah yang membuncah itu: bagaimana NU melihat dasar negara dan asas Pancasila? Karenanya fokus dari tulisan ini adalah NU dan dasar negara, yang dengan sendirinya juga membicarakan bentuk negara nasional dan hubungannya dengan agama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Paling tidak, bagi sahabat-sahabat kami, adik-adik kami, orang-orang tua kami, dan saudara-saudara kami, semoga memberi manfaat meski hanya secuil. Agar yang bimbang kembali kokoh, yang kokoh merapatkan barisan, yang telah merapatkan barisan agar ikut terjun dalam jihad di dalam segala lapangan kehidupan untuk mengokohkan bangunan yang telah ada, dan mengisinya untuk menjaga dan memelihara NKRI- Pancasila-UUD 1945, dengan semangat dan ruh Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah. Wallahu a’lam.

Bersambung...

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan, Pendidikan, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan

Oleh Ahmad Saifuddin

---Semenjak ditetapkannya calon presiden dan calon wakil presiden oleh masing-masing partai pengusung dan juga Komisi Pemilihan Umum (KPU), kampanye mencari massa dan pendukung pun sangat gencar dilakukan oleh masing-masing tim sukses. Berbagai cara dilakukan, mulai cara yang beretika sampai cara yang tidak beretika yang sering dinamakan dengan black campaign dan seringkali dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan

Berbagai stasiun televisi juga sudah gencar menayangkan iklan tentang capres dan cawapres. Terlebih lagi, beberapa stasiun televisi swasta itu adalah milik dari beberapa pimpinan partai politik. Tidak hanya media televisi, tetapi juga media cetak dan surat kabar. Berita harian seringkali berkaitan dengan capres dan cawapres.

Pendidikan pemilih memang sangat penting untuk digalakkan, mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 250 juta jiwa dan luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kondisi ini membuat media cetak dan elektronik sangat berpengaruh untuk menyebarluaskan dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan oleh pemilih. Namun, lagi-lagi validitas berita tentang capres dan cawapres pun tidak terlepas dari kepentingan politik yang terselubung. Sehingga, tidak jarang didapati berita yang saling menjatuhkan dan saling merugikan. Padahal, kondisi seperti ini justru bukan merupakan pendidikan pemilih yang sehat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak tertinggal juga mengenai “pertarungan dua madzhab” dalam Islam, yang saling mengklaim telah mendapatkan restu kiai dan pemuka agama demi memperkuat citra agamis capres dan cawapres yang tidak lain tujuan akhirnya adalah untuk merebut simpati rakyat yang tidak lagi bodoh. Ironisnya, beberapa kalangan agamawan turut terseret pada “permainan kotor” para elite politik tersebut. Dengan tanpa segan, oknum tersebut membawa-bawa nama institusi agama mereka untuk memperkuat posisi mereka. Bahkan, ada oknum agamawan yang mulai menggunakan ilmu “othak athik mathuk” sehingga tanpa segan mengobral ayat Al Qur’an dan Hadits untuk kepentingan politik yang sudah jelas tidak sehat itu.

Kondisi ini jelas membuat sepanjang bulan Juni-Juli ini menjadi “bulan panas”. Kondisi tidak sehatnya pertarungan politik ini sebenarnya tidak cocok dengan karakteristik masyarakat Timur (Indonesia dalam hal ini) yang suka akan keharmonisan dan keselarasan serta religius. Atau barangkali bangsa ini sudah kehilangan jati dirinya hanya untuk menuju kepentingan sesaat dan kepentingan kelompoknya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah agama Islam, agama yang senantiasa mengajarkan rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), agama yang senantiasa mengajarkan pada etika (akhlaq) dan kelembutan, agama yang sebentar lagi akan menjalankan puasa wajib pada bulan Ramadlan.

Saat ini, umat Islam sudah menginjak pada bulan Sya’ban, bulan yang setelahnya adalah bulan Ramadlan. Pada bulan Sya’ban, ini umat Islam diajarkan memperbanyak puasa sunnah. Bisa dikatakan puasa ini adalah puasa pada bulan yang seringkali dilupakan oleh manusia.

“Dari Abu Hurairah, dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, aku melihatmu berpuasa pada satu bulan yang tidak sama dengan puasamu pada bulan-bulan yang lain. Rasulullah SAW bertanya, “Bulan apa yang engkau maksudkan itu?” Saya menjawab, “Bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW bersabda, “Sya’ban adalah bulan di antara Rajab dan Ramadlan yang banyak dilupakan oleh manusia. Padahal pada waktu itu semua amal hamba diangkat dan aku senang ketika amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Baihaqi)

Selain itu, bulan Sya’ban juga bisa dikatakan sebagai “bulan pemanasan” untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadlan. Al-Hâfidh Ibn Rajab al-Hanbali berkata, “Karena bulan Sya’ban itu merupakan persiapan menghadapi bulan Ramadlan, maka semua amaliyah yang dikerjakan pada bulan Ramadlan juga dianjurkan untuk diamalkan pada bulan Sya’ban, seperti puasa dan membaca Al Qur’an. Tujuannya agar jiwa benar-benar siap untuk menghadapi bulan Ramadlan.” (Lathaiful-Ma’arif, 258)

Maka, sangat jelas bahwa bulan Sya’ban ini adalah “bulan pemanasan”, dimana pada bulan itu sekarang bertepatan juga dengan “bulan panas” yang berkaitan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden untuk lima tahun ke depan. Karena itu, hendaknya jangan sampai pemanasan untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadlan dirusak begitu saja dengan kondisi politik yang saling menjatuhkan dan merugikan. Terlebih lagi, sebagian masa kampanye sudah masuk pada bulan Ramadlan. Jangan sampai hawa nafsu politik merusak ibadah-ibadah yang telah diniatkan dan dilaksanakan.

Hendaknya, saat ini juga digunakan oleh masing-masing pendukung serta tim sukses capres dan cawapres 2014—2019 dengan pemanasan yang baik. Misalkan, memberikan pendidikan pemilih yang berkualitas kepada masyarakat Indonesia, mengajarkan pendidikan politik yang beretika kepada seluruh simpatisan dan pengurus partai politik serta tim sukses, menyampaikan visi dan misi masing-masing capres dan cawapres 2014—2019 sehingga masyarakat akan paham arah dan orientasi masing-masing capres dan cawapres.

Jangan sampai karakteristik masyarakat Indonesia yang religius dan harmoni ternodai. Jadikan bulan ini sebagai bulan pemanasan menuju Ramadlan, juga bulan pemanasan menuju pilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019 yang sehat dan berkualitas, sehingga tidak ada lagi sikap saling menjatuhkan dan merugikan.

Ahmad Saifuddin, Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bergiat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Teknologi, Informasi, Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama Propinsi Jawa Tengah dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 08 Oktober 2010

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Kudus, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kiai muda Sih Karyadi memaparkan dua kenikmatan paling utama pada setiap muslim. Menurut dia, nikmat yang pertama pertama adalah keberadaan manusia yang tanpa meminta kemudian diwujudkan Allah di dunia. Kenikmatan pertama ini tiada lain karena nur Muhammad SAW.

“Melalui Hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa kalau bukan karena Kanjeng nabi, maka cakrawala semesta tidak akan pernah diciptakan, termasuk kita manusia,” terangnya pada peringatan Maulid Nabi yang diadakan di kediaman Ketua Cabang Ikatan Pelajar Putri NU Kabupaten Kudus di Desa Jurang Kecamatan Gebog, Kudus, pada Jum’at (16/01) bersama Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Jurang.

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Menurut dia, itu rahmatan lil ‘alamin. Kanjeng Nabi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak peduli muslim maupun kafir, semua mendapat percikan rahmatnya. Allah menciptakan dunia bukan sebatas untuk orang muslim saja, melainkan orang kafir. Muslim dan kafir sama-sama diciptakan, sama-sama mendapatkan tempat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Nikmat kedua, kata alumni Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (PAC IPNU) Kecamatan Gebog, Kudus dia, yakni nikmatul iman wal islam. Nikmat ini tak kalah agung dari nikmat yang pertama. Allah menjadikan hati kita memperoleh hidayah bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Memiliki keluarga yang muslim adalah anugerah, sehingga mendapatkan pendidikan keimanan dan keislaman.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rasulullah datang membawa rahmat, dan kedua nikmat di atas adalah nikmat yang paling agung yang harus disyukuri. Tentu dengan menjalani hidup yang penuh ketakwaan dan kebahagiaan.

“Kita harus berbahagia, karena nikmat tersebut. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, di antaranya adalah dengan cara ikut serta merayakan peringatan Maulid Nabi seperti sekarang ini,” terangnya.

Hadir juga peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro. Salah satu peserta KKN, Irwan yang berasal dari Banjarmasin, memperkenalkan maulid Habsyi yang di daerah Jawa biasa disebut maulid Al Banjari. “Maulid Habsyi sering juga dinamai dengan maulid Al Banjari di daerah Jawa,” kata Irwan.

Berbicara mengenai selawat maulid, di Kudus sendiri terdapat bermacam jenisnya yang sering dilantunkan. Di antaranya, selawat Muludan Jawan Mbah Syarif Padurenan, Muludan Jawan Mbah Ma’ruf Irsyad, Maulid Dziba’, Barzanji, Maulid Simtud Durar, dan Dalail Khairat. Jika Dalail Khairat di Kudus disebarluaskan oleh KH. Ahmad Basyir, maka Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghani.

“Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghoni atau Guru Sekumpul. Beliau berguru kepada KH. Syarwani Abdan Bangil,” lanjut Irwan.

Acara yang diiringi dengan tabuhan rebana itu ditutup dengan pelantunan selawat khas Kudus, yakni selawat Asnawiyyah, karangan KH. Raden Asnawi. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, Makam, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 04 Oktober 2010

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi kiprah ? pondok pesantren sebagai jantung pendidikan umat Islam di Indonesia yang tetap eksis di tengah arus globalisasi. Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari nilai-nilai yang hidup di dunia pesantren itu sendiri yang menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan, rintangan, dan halangan.

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

“Nilai-nilai tersebut adalah keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan kebebasan berpikir terkait keilmuan” tutur Menag saat memberi taushiyah dalam rangka tasyakuran 2 Windu Pondok Pesantren al-Mashduqiyah, Patokan, Krasan, Probolinggo, Jawa Timur, Jum’at (24/4) sore seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Keikhlasan para pengasuh, kiai dan ustadz pesantren, bagi Menag tak ternilai harganya. Hal ini membuat pesantren terus terterangi cahaya. Apalagi keikhlasan tersebut dikuatkan dengan kesederhanaan para pemegang amanah pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pesantren juga mandiri dan tidak bergantung. Hal ini yang menjadikan lulusan pesantren mampu dan siap mengerjakan apa pun, karena para santri mempunyai spirit kuat, selain juga jiwa entrepreneurship tinggi, sehingga sedikit yang berkeinginan menjadi pegawai, baik pegawai sipil maupun swasta. “Nilai kemandirian ini sungguh sesuatu yang mahal,” ungkapnya.

Menag melihat, meski para santri mempunyai jiwa kethawadu’an yang tak diragukan, namun di pesantren ada kebebasan dalam berpikir terkait dengan keilmuan. Jadi seorang santri yang menimba ilmu, tidak dibatasi dengan ilmu-ilmu tertentu. “Bebas yang dimaksud adalah bebas dalam artian masih dalam norma-norma dan acuan, bukan bebas dalam kontenks berpikir yang mengarah pada liberalisasi,” jelasnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bebas di sini, tambah Menag, adalah suatu pemahaman, bahwa masing-masing santri, mempunyai tantangannya tersendiri. Karenanya tak jarang seorang santri, dalam menuntut ilmu, sering kali berpindah pesantren, baik karena tuntutan pencarian ilmu ataupun arahan dari pengasuhnya. Selain itu, seorang santri bersamaan dengan keharusannya untuk tetap menghormati ulama, tetap mempunyai ruang untuk berbeda pendapat. “Karena, apa yang disampaikan sang guru, kadang, kurang sesuai dengan masa si santri,” urai Menag panjang lebar.

Pondok Pesantren al-Mashduqiyah didirikan oleh KH Muhlisin Sa’ad yang merupakan salah satu ustadz Menag, saat masih menuntut ilmu di pesantren. Ikut hadir dalam tasyukuran tersebut, para alim dan ulama, Bupati Probolinggo, Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Kakankemenag Kabupaten Probolinggo dan Kabag TU Pimpinan (Sesmen) Khoirul Huda. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nasional, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan