Senin, 27 Juni 2016

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Gresik, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menyambut bonus demografi Indonesia yang diperkirakan terjadi sekitar tahun 2020-2030, IPNU-IPPNU diharapkan mengambil kesempatan penting dalam mempersiapkan generasi emas menuju bonus demografi Indonesia yang akan berdampak pada pertumbuhan sosial-ekonomi Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi.

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut “Bonus Demografi”, IPNU-IPPNU Harus Berperan

Hal tersebut disampaikan KH Nur Khozin saat memberikan ceramah di hadapan ratusan pelajar NU se-kecamatan Panceng dalam acara Pelantikan dan Peringatan Isro Miroj Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Panceng, Sabtu kemarin (15/6) di Yayasan Tarbiyatul Wathon Campurejo, Gresik.

"Namun, bonus demografi tersebut akan menjadi bencana jika pembangunan sumber daya manusia tidak dipersiapkan dengan baik," tuturnya

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menjelaskan, pada tahun 2020-2030, penduduk Indonesia umur produktif (15-64 tahun) diperkirakan akan mencapai 70%. Sisanya, 30% merupakan penduduk tidak produktif (di bawah 15 tahun dan diatas 64 tahun).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam menyambut bonus demografi tersebut, IPNU-IPPNU sebagai organisasi kader NU diharapkan mampu membangun sumber daya manusia anggotanya sebagai kader-kader berkualitas yang nantinya diharapkan mampu berperan penting dalam pembangunan Indonesia.

"IPNU-IPPNU diharapkan berhasil mencetak kader-kader berkualitas. Mampu mensinergikan kemampuan intelektual dan spiritual," tambahnya

Hal tersebut juga diamini KH Aziz Rohim, Rais Syuriyah MWCNU Panceng. Dalam sambutannya, ia menegaskan peran penting IPNU-IPPNU sebagai kader pokok yang akan meneruskan perjuangan ulama-ulama NU. 

"Di tangan pemudalah, urusan umat akan bergantung. Nasib NU ke depan akan bergantung pada IPNU-IPPNU sebagai pemilik masa depan NU," tuturnya

Ketua PAC IPNU kec Panceng terlantik, Fathur Rozi, menyampaikan banyak terima kasihnya kepada segenap pihak yang turut berpartisipasi dalam mensukseskan kegiatan tersebut. Ia pun menyampaikan prioritas kepengurusannya ke depan.

"IPNU-IPPNU sebagai prioritas utama masa depan NU harus mampu menggaet kader-kader muda NU terbaik. Menghidupkan ranting-ranting IPNU-IPPNU yang vakum merupakan prioritas ke depan kami," tuturnya

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Faiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama, AlaNu, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 18 Juni 2016

NU Imbau Muhammadiyah Tetap Ikuti Sidang Itsbat

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Nahdlatul Ulama (NU) mengimbau Muhammadiyah untuk tetap mengikuti Sidang Itsbat di kantor Kementerian Agama Jakarta bersama elemen ormas-ormas Islam lainnya, MUI dan para pakar astronomi. Sidang itsbat merupakan cara terbaik untuk menyatukan awal bulan Ramadhan.

“Kita himbau Muhammadiyah untuk tetap ikut sidang itsbat dalam kebersamaan untuk mencari titik temu,” kata Ketua Lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan di Jakarta, Ahad (8/7).

NU Imbau Muhammadiyah Tetap Ikuti Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Imbau Muhammadiyah Tetap Ikuti Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Imbau Muhammadiyah Tetap Ikuti Sidang Itsbat

Seperti diwartakan, Muhammadiyah melalui ketua pimpinan pusatnya Din Syamsuddin pada Rabu (27/6) lalu menyatakan tidak akan mengikuti sidang isbat untuk penentuan awal Ramadhan tahun ini. Menurutnya, sidang isbat tidak perlu karena pemerintah dianggap tidak mengayomi seluruh umat yang berbeda pendapat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sidang Itsbat akan digelar pada Kamis (19/7) sore. Meski telah menyatakan tidak akan mengikuti sidang itsbat, Kementerian Agama seperti diungkapkan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abdul Djamil tetap mengirimkan undangan kepada PP Muhammadiyah.

Menurut Kiai Ghazali, sidang itsbat yang didasarkan pada hisab dan rukyat merupakan keputusan Ijtima’ Ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 16 Desember 2003 lalu yang juga dihadiri oleh perwakilan Muhammadiyah. Waktu itu Muhammadiyah antara lain diwakili Dr Amin Suma dan Abdul Fatah Wibosono.

Ditambahkan, ijtima’ Ulama MUI itu juga dilanjutkan dengan beberapa pertemuan antar ormas, antara lain, pada 2011 diadakan lokakarya yang diselenggarakan oleh Kemenag di Cisarua Jawa Barat. Pertemuan itu juga menghasilkan kesepakatan penting yang ketua tim perumusnya adalah Prof Susiknan Ashari dari Muhammadiyah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Dalam pertemuan itu disepakati bahwa kriteria imkanur rukyat untuk taqwim (kalender) yang bisa diterima adalah tinggi hilal di atas 2 derajat dengan jarak antara matahari dan bulan 3 derajat. Lalu dalam pertemuan berikutnya di Semarang ditambahkan ketentuan mengenai umur hilal,” kata Kiai Ghazali.

Menurut Kiai Ghazali, tidak ada alasan bagi Muhammadiyah untuk tidak mengikuti sidang itsbat hanya karena telah menetapkan awal Ramadhan sendiri.

“Kita mengenal konsep imamatul uzhma dan ulil amri. Maka kita ikuti sidang itsbat bersama pemerintah. Kalau Muhammadiyah mendahului pemerintah itu namanya tidak mau diajak musyawarah,” pungkasnya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Meme Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 14 Juni 2016

15 Tahun Vakum, IPNU di Plupuh Sragen Kembali Dihidupkan

Sragen, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setelah vakum cukup lama, yakni 15 tahun, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di daerah Plupuh, Sragen, Jawa Tengah dihidupkan kembali. Hal tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan pembentukan Pimpinan Anak Cabang IPNU di daerah setempat.

15 Tahun Vakum, IPNU di Plupuh Sragen Kembali Dihidupkan (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Tahun Vakum, IPNU di Plupuh Sragen Kembali Dihidupkan (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Tahun Vakum, IPNU di Plupuh Sragen Kembali Dihidupkan

Ketua PC IPNU Sragen, Gigit Lystyanto, mengungkapkan acara Makesta dan pembentukan PAC dilaksanakan secara terpisah, yakni di Pondok Pesantren Darussalam, Gedongan, Plupuh dan Desa Pandean Plupuh, Sabtu-Ahad (3-4/4).

“Alhamdulillah acara pembentukan PAC Plupuh berjalan dengan baik. Makesta di sana, bahkan diikuti 50 peserta,” ungkap Lystyanto kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, Ahad (4/4).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ditambahkan Lystyanto, kevakuman yang cukup lama ini sebetulnya ironis, mengingat Plupuh termasuk salah satu daerah basis NU di Sragen. “Di sana juga ada makam Joko Tingkir,” ujarnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Terbentuknya kepengurusan PAC IPNU di Plupuh ini, lanjut Lystyanto, sekaligus menambah jumlah PAC yang sudah terbentuk di Bumi Sukowati, yakni sebanyak 6 PAC.

“Saat ini, PAC yang sudah terbentuk di daerah Tanon, Sukodono, Sumberlawang, Gesi, dan Sambungmacan. Sedangkan sisanya seperti Kecamatan Jenar, Tangen, Gemolong dan Kedawung masih dalam proses pembentukan,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Olahraga, Sholawat, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 02 Juni 2016

Belajar dari Jumawanya Malaikat pada Manusia

Malaikat adalah makhluk istimewa. Dalam berbagai keterangan, mereka adalah ciptaan Allah yang paling taat kepada segala titah-Nya. Makhluk yang konon diciptakan sebelum manusia ini kerap dikisahkan sebagai makhluk yang diciptakan Allah dari cahaya, tidak memiliki syahwat, serta tidak pernah membangkang.

Namun patut Anda ketahui, malaikat juga pernah mengajukan pertanyaan kepada Allah. Atau sebut saja, protes dan gugatan. Setidaknya ada dua gugatan penting malaikat yang dicantumkan dalam Al-Qur’an, yang berurusan dengan manusia dan segala tingkahnya. Pertanyaan malaikat ini mengesankan mereka lebih mampu untuk mengelola bumi manusia itu.

Belajar dari Jumawanya Malaikat pada Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Jumawanya Malaikat pada Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Jumawanya Malaikat pada Manusia

Kedua pertanyaan ini disarikan dari kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an yang populer dengan Tafsir Al Qurthubi karya Syekh Muhammad bin Ahmad Al Qurthubi. Pertanyaan pertama disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 30-32. Ketika Allah bermaksud menciptakan manusia, dan hal itu diketahui para malaikat, mereka pun bertanya:

“Apakah Engkau hendak menjadikan di bumi ciptaan yang akan membuat kerusakan di sana, serta saling menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?”

Tuhan menjawab singkat, “Sesungguhnya Aku tahu apa yang kalian tidak ketahui.”

Nabi Adam sebagai manusia pertama pun diciptakan. Selanjutnya Allah menguji Nabi Adam dan para malaikat dengan beragam hal, namun malaikat tidak mampu menjawabnya. Mereka pun mengakui ketidakmampuan mereka.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Mahasuci Engkau, tiada pengetahuan bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Gugatan malaikat yang kedua adalah sebagaimana ditafsirkan Imam Al Qurthubi dari Surat al-Baqarah ayat 102. Setelah manusia berada di bumi, malaikat meninjau bahwa manusia ini sudah kelewatan dalam membuat pelanggaran, apalagi sebagai makhluk yang digadang-gadang menjadi khalifah pengelola bumi. Sekali lagi mereka mengajukan keheranan kepada Allah.

Sebagai tindak lanjut atas hal itu, Allah memerintahkan dua jenis malaikat untuk bertugas di bumi sebagaimana manusia. Konon, nama keduanya adalah Harut dan Marut. Keduanya diberi kemampuan seperti manusia, baik secara akal maupun syahwat. 

Baru sekian waktu berjalan dengan rupa-rupa tugas manusia itu, mereka pun tergoda pada seorang perempuan. Keduanya pun merayu perempuan yang diminati itu. Tapi seiring waktu, sang perempuan akan menyambut rayuan mereka jika kedua malaikat yang “dimanusiakan” itu meminum arak dan membunuh. Kedua malaikat itu kepalang tanggung, berujung resah dan mereka pun merasa gagal. Batin mereka, menjadi manusia itu tidak mudah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kerap kali seseorang mengetahui orang lain melakukan kesalahan, dan betapa mudah untuk merasa sok dan jumawa dengan kemampuannya, seakan-akan ia mampu melaksanakan tugas serupa. Hal ini semisal seorang penonton yang mencibir pemain seakan-akan dia lebih ahli, padahal jika posisinya dibalik, belum tentu ia akan melakukan hal yang lebih baik. 

Kisah ini mengajarkan, hendaknya sikap empati bisa didahulukan atas kesalahan yang dilakukan suatu pihak, agar saling menasihati dalam kebaikan bisa menjadi solusi terbaik. Kesalahan tentu harus diingatkan, namun merasa jumawa dan lebih mampu tanpa memberikan saran berarti adalah satu bentuk kesalahan kecil yang mencemari kebaikan-kebaikan lain yang telah dilakukan. Sebagaimana dalam pepatah bahasa Jawa: ojo rumongso biso, nanging kudu biso rumongso (jangan merasa bisa, tapi bisalah merasakan). Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kyai, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 01 Juni 2016

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan -

Forum Alumni Pergerakan Mahasiswa Uslam Indonesia Universitas Indonesia (Forluni PMII UI), Depok, Jawa Barat yang merupakan forum generasi muda NU berhaluan ahlusssunnah wal jamaah annahdliyyah, menyayangkan media sosial (medsos) yang belakangan ini dipenuhi ujaran kebencian.

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Forluni PMII Sayangkan Kebencian Penuhi Medsos

"Dinamika Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta telah menyita perhatian publik. Hiruk Pikuk PILKADA DKI Jakarta seolah menyiratkan pesan betapa pentingnya perebutan kursi DKI satu tersebut. Semua energi dihabiskan untuk meraih pucuk kepemimpinan Jakarta untuk periode 5 tahun ke depan," ujar Ketua Forluni PMII UI, Achmad Solechan, melalui rilis kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, Ahad (16/10).

Terlebih lagi, imbuhnya, pasca penyelenggaraan acara Indonesia Lawyers Club dengan tema "Setelah Ahok Meminta Maaf" tempo hari, jagad media sosial, mulai dari facebook, path, instagram, twitter sampai aplikasi chatting online semacam whatsapp dipenuhi dengan obrolan seputar pernyataan Nusron Wahid mengenai pandangannya terhadap Ahok dan sikap kritisnya atas tafsir ulama terhadap pemilihan pemimpin non muslim yang ia sampaikan dalam acara diskusi tersebut.

Publik dibuat gempar dengan pernyataan dan sikap dari politisi Partai Golkar yang juga mantan Ketua Umum GP Ansor, Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sekaligus alumni PMII Universitas Indonesia itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Kini, seperti yang dapat kita saksikan sendiri, wajah jagad media sosial Indonesia mulai dipenuhi oleh berbagai macam meme-meme dan karikatur yang membawa pesan kebencian dan ajakan yang bersifat provokatif. Kesantunan dan kebersamaan sebagai anak bangsa yang relijius, yang hidup dan tumbuh bersama-sama dalam bingkai ke Indonesiaan, tiba-tiba mulai menghilang," ujar Achmad.

Berdasarkan beberapa hal tersebut, atas nama Forluni PMII UI Depok yang merupakan forum generasi muda NU berhaluan ahlusssunnah wal jamaah annahdliyyah, mengajak kepada semua elemen bangsa (agar) mampu menahan diri dan (berpikir) jernih dalam memandang Pilkada DKI Jakarta.

"Isu Pilkada DKI Jakarta telah bergeser dari persoalan politik berupa suksesi kekuasaan menjadi isu SARA. Bhineka Tunggal Ika, sebagai motto hidup bersama anak bangsa jangan sampai dinodai dan dengan sengaja dilecehkan demi kepentingan sempit politik kekuasaan untuk meraih kemenangan. Jangan sampai pesta lima tahunan merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mari kita ikuti semua proses suksesi ini secara demokratis demi Indonesia yang lebih baik," kata dia lagi.

Forluni PMII UI prihatin atas wajah Islam Indonesia yang semakin tidak ramah dan menunjukkan sikap berlebih-lebihan. Islam menjadi kendaraan dan pembenaran atas perilaku petualang-petualang politik yang memiliki ambisi besar terhadap kekuasaaan.

"Para politisi hendaklah mengedepankan politik kebangsaan dan kerakyatan dimana kemaslahatan dan kesejahteraan ummat yang harus dinomorsatukan dan diutamakan, bukan malah ambisi dan nafsu berkuasa," ujar Achmad lagi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Fitnah adalah tindakan keji yang dikutuk oleh Islam. "Dalam hal ini, sahabat Nusron Wahid adalah kader PMII UI yang tidak pernah memiliki nama Nusron Purnomo. Nama Nusron Purnomo disebarluaskan untuk menyerang dan memfitnah pribadinya. Oleh karena itu, kami mengutuk dan mengecam semua serangan dan pelecehan yang ditujukan kepada pribadi sahabat Nusron Wahid yang disebarkan secara luas ? melalui jejaring media sosial dalam bentuk tulisan, meme-meme dan karikatur yang cenderung berisi fitnah, hasutan dan beragam ungkapan kebencian. Sebagai sesama anak bangsa dan sesama alumni PMII UI, kami mendukung dan mendorong sahabat Nusron Wahid agar ? menyelesaikan semua fitnah dan pelecehan terhadap pribadinya tersebut melalui jalur gukum, sebagai bentuk pembelajaran kepada kita semua. Selain itu, kami juga mengapresiasi sahabat Nusron Wahid atas ketegasannya dalam meneguhkan NKRI sebagai bentuk final bernegara dengan Pancasila sebagai Dasar Negara," tuturnya.

Forluni PMII UI mengajak kepada semua komponen bangsa agar momentum Pilkada DKI dijadikan ajang refleksi diri atas konsep ke-Indonesia-an kita yang sesungguhnya.?

"Mari melihat dan menata kembali secara bersama-sama sudut pandang kita sebagai bagian dari keluarga besar bangsa Indonesia, bahwa semua proses politik yang yang tengah berlangsung adalah semata-mata untuk kemasalahatan Indonesia," Achmad Solehan.

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj meminta dengan tegas adanya proses hukum bagi Ahok terkait dugaan penistaan agama.? (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren, Kajian Islam, Nahdlatul Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan