Jumat, 14 Maret 2014

Presiden Jokowi Apresiasi Peran Muslimat NU

Malang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Presiden Joko Widodo hadir pada puncak acara Hari Lahir (Harlah) ke-70 Muslimat Nahdlatul Ulama di Stadion Gajayana Malang, Sabtu (26/3). Dalam amanatnya orang nomor satu di Indonesia itu menyampaikan apresiasinya untuk Muslimat NU.

Presiden Jokowi Apresiasi Peran Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Apresiasi Peran Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Apresiasi Peran Muslimat NU

Jokowi menyampaikan, selama 70 tahun Muslimat NU sudah memainkan peran yang sangat besar bagi bangsa dan negara. Banyak yang sudah dilakukan Muslimat NU untuk memajukan bangsa ini, mulai dari kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan hingga anti-radikalisme.

Salah satu peran paling penting dari Muslimat NU adalah menjadikan anak-anak bangsa sehat, pintar dan mengerti agama. Presiden mengemukakan, sebagai komunitas terkecil dari masyarakat, keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam membangun bangsa, karena dari keluarga, anak-anak diajarkan pertama kali budi pekerti, sopan santun, dan hal-hal mendasar lainnya. "Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anak kita," demikian Presiden.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Saya sangat mengapresiasi langkah Muslimat dalam menjaga keluarga dan lingkungan dengan kegiatan sosial kemasyarakatan," kata presiden Jokowi disabut tepuk tangan? meriah ribuah jamaah Muslimat NU yang hadir.

Muslimat telah melakukan dakwah bil hal, dakwah dengan perbutan. Dengan dakwah perbuatan itu, lanjut Presiden, kewaspadaan Muslimat NU akan semakin meningkat dan Muslimat NU akan mampu menyiapkan filter dan menanamkan ajaran agama sejak dini kepada anak-anak.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Saya yakin jumlah majelis taklim, jumlah lembaga pendidikan, jumlah lembaga sosial dan kesehatan, serta jumlah koperasi primer Muslimat NU akan semakin meningkat di masa depan," kata Presiden.

Kehadiran Jokowi sekaligus mengobati keresahan anggota Muslimat terkait informasi bahwa dirinya tidak akan hadir pada puncak acara Harlah ke-70 Muslimat NU. Di awal sambutannya presiden menegaskan, informasi ketidakhadirannya pada acara tersebut juga sudah sampai kepada dirinya.

"Saya tahu ada informasi dan kabar saya tidak datang, tapi mana berani saya dengan ibu-ibu Muslimat? Dan, akhirnya saya tetap memilih datang. Apalagi, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa merupakan sosok menteri yang tangguh dan cekatan. Bu Khofifah ini sangat sigap, cepat, lincah dan sama seperti para ibu-ibu Muslimat di sini," katanya.

Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi juga menyaksikan deklarasi dan Ikrar Laskar Anti-Narkoba Muslimat NU oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa, Ketua PW Muslimat NU Provinsi Jawa Timur Masruroh Wahid, Ketua PW Muslimat NU Provinsi Riau Dinawati, Ketua PW Muslimat NU Sulawesi Selatan Andi Majda dan Relawan Anti-Narkoba Ivan.

Peringatan Harlah ke-70 Muslimat NU dihadiri sejumlah tokoh NU dan pejabat pemerintahan. Hadir Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Mantan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, Sekjen PBNU Helmi Faishal Zaini, Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Khutbah, Nahdlatul Ulama, Pahlawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 12 Maret 2014

Tokoh NU Sunda, Enas Mabarti Wafat

Garut, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah wafat, Drs.H.Enas Mabarti (72 taun) pada Ahad (13/4). Enas Mabarti adalah Ketua PCNU Kabupaten Garut (1987-1999), Ketua DPC PKB (1999-2004). Juga terkenal sebagai penulis, pelestari lingkungan, pendidik, dan politikus.

Sebagai penulis (dalam bahasa Sunda), Enas telah menghasilkan beberapa karya yang telah diterbitkan menjadi buku, yaitu “Gunem Rencep Sidem” (Percakapan Sunyi Sepi). Terbit tahun 2004. Buku itu sebuah prosa liris yang mengungkapkan kecintaan dan kerinduan kepada Rasulullah Saw.

Tokoh NU Sunda, Enas Mabarti Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh NU Sunda, Enas Mabarti Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh NU Sunda, Enas Mabarti Wafat

Nampaknya, Enas ingin melanjutkan tradisi puisi “mahabbah” model Syekh Barjanzi dan Bushiri (penulis “Burdah”). Buku tersebut diberi prolog oleh Hawe Setiawan, dan epilog dari saya. Novelnya berdjudul “Srie Sunarsasi” ditulis tahun 1974, dimuat bersambung di majalah Sunda “Mangle”. Diterbitkan tahun 2013. Mengisahkan percintaan terpendam dua aktivis mahasiswa Islam. Penuh renungan batin, suka duka, dan harapan, di tengah suasana panas menjelang peristiwa “G-30-S/PKI, tahun 1965, di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Enas yang “nyantri” di Krapyak selama kuliah di UII, mengungkap peran santri dan kiai dalam menghadapi intrik-intrik PKI.Termasuk peran spektatuler KH Warson Munawir (waktu itu Ketua GP Ansor Yogya) menyatukan kekuatan mahasiswa Islam dan “menyelamatkan” HMI dari pengganyangan CGMI (organ mahasiswa PKI).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Novel ini kaya unsur sejarah Indonesia kontemporer. Sebuah hal langka dalam dunia sastra Sunda. Karya lain, buku “Elmu Politik keur Warga NU” (Pendidikan Politik Bagi Warga NU), terbit tahun 2003. Berisi pemikiran Enas selama dipercaya menjadi Ketua PCNU Kabupaten Garut. Saya sendiri mendapat kehormatan memberi kata pengantar buku tersebut.

Sebagai pendidik, Enas pernah menjadi guru pada Sekolah Pendidikan Guru (SPG) “Ar Rahim” Garut, yang berada di bawah naungan LP Ma’arif (1976-1987). Mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Kesejaahteraan Sosial (STKS), kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP). Bersama Prof.Cecep Syarifuddin (Alm), STISIP menjadi cikal bakal Universitas Garut (UNIGA) sekarang.

Sebagai politikus, tahun 1977-1982, menjadi anggota DPRD Kabupaten Garut dari PPP (unsur NU). Setelah amal istirahat dari politik, Enas fokus mengurus NU. Namun, seiring reformasi yang diikuti kelahiran partai-partai baru, sebagai Ketua PCNU, Enas otomatis menjadi Ketua DPC PKB Garut. Kedudukannya itu,membawa Enas kembali ke DPRD Garut hasil Pemilu 1999. Waktu itu PKB mendapat lima kursi di situ. Hingga tahun 2004, kembali “pensiun” dari dunia politik, dan bersiap-siap menekuni kembali dunia tulis-menulis.

Sebagai pelestari lingkungan, Enas banyak membagikan bibit pohon kayu gratis kepada warga NU di desa-desa. Bahkan, puluhan jenis kayu hutan yang langka, sebagian dikirimkan kepada budayawan terkenal Ajip Rosidi yang bermukim di Pabelan, Magelang. Halaman rumah Ajip Rosidi yang luas,rimbun hijau berkat pohon kayu kiriman Enas.

Selamat jalan,Kang Enas. Semoga iman, Islam dan amal soleh Akang, diterima di sisi Allah SWT. (Usep Romli HM)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 09 Maret 2014

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

Semarang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua Pimpinan Wilayah Pencak Silat NU Pagar Nusa Jawa Tengah H Sulatin mengatakan para pesilat yang tergabung dalam Pagar Nusa  selalu siap menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  

Prinsipnya, kata dia pada saat membuka Kejuaraan Daerah III Pagar Nusa se-Jateng dan DIY, di Pondok Pesantren Azzuhri, Ketileng Semarang, Rabu, (1/1/2015) sore, membela negara adalah kewajiban dan merupakan bagian dari iman. Bagi Pagar Nusa, NKRI adalah harga mati. Dan Pancasila harus selalu jaya.

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesilat NU Selalu Siap Jaga NKRI

 

Sulatin menyatakan, mencintai tanah air adalah ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Terlebih NU adalah pendiri negara Indonesia, tentu akan selalu menjaga agar negeri ini selamat dunia akhirat. Tidak akan dibiarkan ada pihak manapun merongrong republik yang diperjuangkan kemerdekaannya oleh para syuhada yang terdiri para ulama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Jiwa NU adalah jiwa Indonesia. Pagar Nusa adalah Pagarnya NU dan Bangsa," tutur Sulatin menjelaskan singkatan nama perguruan pencak silat yang dipimpinnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hadir dalam pembukaan tersebut Sekretaris PWNU Jateng Dr  M Arja Imroni, Anggota DPD RI Sulistyo, sejumla pejabat tingkat Jateng, dan para pendekar dan pengurus Pagar Nusa se-Jateng dan DIY.

 

450 Peserta

Ketua Panitia Kejurda III Pagar Nusa Jateng M Ghufron menyampaikan, kejuaraan yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Harlah PSNU Pagar Nusa ke-29 ini berlangsung selama empat hari, sejak Kamis hingga Ahad (1-4/1).

Sebanyak 450 peserta dari 25 kabupaten/kota se-Jateng dan DIY beserta officialnya, bertanding memperebutkan piala umum dan piala per kategori kelas. Dari jumlah itu, 265 diantaranya adalah atlit laga.

Dijelaskan Ghufron, pertandingan terdiri atas laga per orangan putra dan putri, penampilan wirasangga,  serta peragaan jurus wiraloka beregu.  Laga perorangan dibagi dalam kategori pra remaja (usia 12-14 tahun), remaja (usia 14-17), dan dewasa (usia 17-35).

            

Ratusan penonton dari santri ponpes Azzuhri dan warga masyarakat sekitar Ketileng tumpah ruang menonton acara pembukaannya yang meriah.  Aneka atraksi seni Pencak Silat yang diiringi musik menghibur para penonton di ajang tersebut.  [Mohammad Ichwan/Abdullah Alawi]

            

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan