Minggu, 30 April 2017

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

Gorontalo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa mengimbau setiap muslimat memberi keberkahan bagi lingkungannya, dan jangan sampai justru membuat masalah.

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Imbau Keberadaan Muslimat Bawa Keberkahan bagi Lingkungannya

"Ada individu-individu yang kalau dia hadir menjadi trouble maker, mencari kesalahan orang, sehingga peran muslimat tidak membawa kebaikan bagi lingkungannya," ujarnya saat melantik Pengurus Wilayah Muslimat NU Provinsi Gorontalo Periode 2016-2021 di Asrama Haji Kota Gorontalo, Kamis.

Khofifah, yang juga Menteri Sosial RI, mengemukakan bahwa muslimat dalam melakukan kebaikan tidak perlu menunggu orang lain, namun memulai dari diri sendiri.

Dia mengungkapkan, masih banyak pekerjaan rumah yang menjadi tantangan Muslimat NU ke masa depan, misalnya memperkuat peran sosial kemasyarakatan dan membangun pola positif.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Muslimat menjadi bagian kecil dari proses berinteraksi dalam kehidupan bernegara. Tapi, yang kecil ini jangan dianggap tidak ada. Adanya yang besar karena yang kecil-kecil ini ada," ujarnya.

Khofifah menyatakan, saat ini Muslimat NU memiliki 9.800 Taman Kanak-Kanak, 6.400 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan 146 panti asuhan yang tersebar di berbagai daerah.

"Ini tidak diketahui banyak orang, sehingga mereka kaget bahwa muslimat besar. Itulah kenapa jangan sampai setelah dilantik seperti ini, besok tidak ada lagi," demikian Khofifah. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 27 April 2017

Meski Sakit, Masih Ucapkan ‘Selamat Natal’

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Seminggu menemani sang bapak menjelang wafatnya tentu merupakan saat-saat paling mengesankan bagi seorang anak dan keluarganya. Terlebih bagi keluarga mantan Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Karena itu putri terakhir Gus Dur ,Inayah Wahid mencatat apa saja yang terjadi menjelang wafatnya sang bapak sejak 24-30 Desember 2009 itu di RSCM.



Meski Sakit, Masih Ucapkan ‘Selamat Natal’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Meski Sakit, Masih Ucapkan ‘Selamat Natal’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Meski Sakit, Masih Ucapkan ‘Selamat Natal’

Inayah melihat meski kondisi Gus Dur terus mengkhawatirkan ketika itu, namun begitu teman-temannya dari Kristiani datang menjenguknya, bapak masih mengucapkan ‘Selamat Natal’. “Ucapan itu persis pada tanggal 25 Desember,”tutur Inayah dalam sambutan atas nama keluarga pada haul Gus Dur di Ciganjur, Kamis (30/12) malam.<br />

Hadir antara lain Ketua MK Mahfudz MD, Wakil Ketua MPR RI M. Lukman Hakim Saifuddin, KH. Aziz Masyhuri, Akbar Tanjung, Rizal Ramli, Jaya Suprana, Gus Yusuf Khudori, jajaran pengurus PBNU dan ribuan umat Islam yang mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Dr H A Husnul Hakim dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta.

Menurut Inayah, dalam detik-detik wafatnya Gus Dur itu, ada seseorang yang selama ini ‘menyakiti ‘ bapak mau menjenguknya, tapi kami sekeluarga menolak. “Sampai kami berkali-kali menyatakan tidak boleh masuk ruangan. Bapak pun akhirnya mendengar, dan menanyakan siapa yang datang? Akhirnya bapak mempersilakan orang itu masuk,”cerita Inayah sedih.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Anehnya, orang itu seperti tanpa dosa, padahal selama ini menganggap bapak seperti tidak ada bahkan disakitinya. Tapi, Inayah tidak menyebut siapa orang dimaksud.

Selain itu Inayah meyakinkan jika banyak orang bertanya tentang dirinya apa benar anaknya Gus Dur, “Bahwa saya adalah benar anaknya Gus Dur. Setidaknya begitulah pengakuan bapak. Saya yang tidak tahu politik dan hanya bisa membuat puisi untuk bapak dan sudah saya bacakan pada Muktamar III PKB Gus Dur,”ujarnya yang disambut tawa ribuan hadirin itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Juga ada orang bilang untuk apa acara haul? Mereka menilai Gus Dur sudah lebih bahagia dan tenang di alam sana, sehingga haul ini tidak ada manfaatnya?

“Saya tegaskan bahwa haul ini untuk yang masih hidup. Untuk mengenang jasa-jasa perjuangan Gus Dur yang tidak mengenal menyerah dan tanpa takut pada siapapun. Dan, kami siap melanjutkan perjuangan bapak. Dari pada membicarakan pemerintah yang sibuk untuk mencari keuntungannya sendiri,”tutup Inayah dengan senyum.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Tegal, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 25 April 2017

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

Surabaya, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Kepengurusan Aswaja Center PWNU Jatim menyelenggarakan rapat bersama sekaligus melakukan evaluasi terhadap program yang selama ini dilaksanakan. Sejumlah nama dan program baru diluncurkan sebagai jawaban atas tantangan yang kian kompleks.

"Kita ingin melakukan penguatan Ahlus Sunnah wal Jamaah sesuai yang digariskan Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari," kata KH Abdurrahman Navis, Sabtu (3/9). Direktur PW Aswaja NU Center Jatim ini kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Islam Aswaja adalah tidak melakukan tatharruf tasyaddudi yakni yang terlalu keras atau ekstrem seperti kalangan fundamentalis.

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakukan Penyegaran, Aswaja NU Center Jatim Kuatkan Kelembagaan

"Demikian juga Aswaja bukanlah kelompok yang tatharruf tasahhuli atau kalangan yang cenderung memudahkan syariat seperti kalangan liberal," ungkapnya.? Dan tentu Aswaja juga bukan kelompok Syiah dan sejenisnya, lanjut dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Wakil Ketua PWNU Jatim tersebut, inilah yang kemudian dikenal sebagai fikrah nahdliyah yakni kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran Aswaja yang dijadikan landasan berpikir NU untuk menentukan arah perjuangan.

Secara lebih rinci, Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini mengemukakan bahwa dalam merespon persoalan, baik yang berkenaan dengan masalah keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Aswaja dengan ciri khas. "Dalam bidang aqidah atau teologi, mengikuti manhaj dan pemikiran Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansur Al-Maturidi," jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sedangkan dalam bidang fiqih bermazhab kepada salah satu Al-Madzahibil Arbaah yakni Imam Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali. "Dan untuk bidang tasawuf, mengikuti Imam Al-Junaid Al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali," katanya di aula PWNU Jatim.

Untuk dapat menjabarkan fikrah nahdliyah tersebut, PW Aswaja NU Center telah membentuk sejumlah divisi. Pertama adalah uswah atau usaha sosialisasi Aswaja yang merupakan usaha menyosialisasikan dan menyebarkan paham Aswaja NU lewat media cetak, elektronik, pengajian, lailatul ijtima, khatbah Jumat, dan sebagainya.

"Demikian juga ada biswah yakni bimbingan dan solusi Ahlussunnah wal Jamaah," katanya. Divisi ini menfasilitasi pengurus Syuriyah NU secara berkala untuk membimbing dan memberikan solusi kepada masyarakat tentang paham Aswaja, baik secara langsung, melalui telpon ataupun media lain, jelasnya.

Yang ketiga adalah divisi dakwah yakni daurah kader Ahlussunnah wal Jamaah yang mengadakan pelatihan kader Aswaja secara berkala untuk mencetak kader loyal.

"Selanjutnya adalah kiswah atau kajian Islam Ahlussunnah wal Jamaah," ungkapnya. Dalam praktiknya, divisi ini melakukan kajian Islam Aswaja ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dalam bentuk halaqah, seminar atau forum ilmiah lain dengan menghadirkan nara sumber dari berbagai ahli, terangnya.

Dan yang terakhir adalah makwah, yakni maktabah Ahlussunnah wal Jamaah dengan membuka perpustakaan di kantor PWNU untuk menyediakan kitab dan buku bacaan tentang Aswaja.

Kelima divisi ini telah dilakukan penyegaran personil. "Ini demi kian meningkatkan khidmah kita dalam memasyaratkan Aswaja," tandas Kiai Navis.

Sejumlah darah baru hadir pada koordinasi ini. Ada perwakilan dari UIN Sunan Ampel, Unesa, Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Unair, ITS serta kampus? lain. "Diharapkan kehadiran para aktivis kampus ini akan kian menyebarkan Aswaja An-Nahdliyah di seluruh lapisan masyarakat," pintanya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah, Tokoh, Aswaja Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 22 April 2017

PW IPNU dan IPPNU Jateng Dorong Peran Pelajar dalam Pemilu

Rembang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menggelar Rapat Kerja Wilayah I (Rakerwil I), Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPNU dan IPPNU) Jawa Tengah mengajak pelajar untuk berperan aktif dalam pemilihan langsung legislatif, pilbup, dan pilkada.

Kegiatan bertema "Peran Aktif Pelajar dalam Suksesi Demokrasi", digelar di pesantren Roudlotuth Thalibin Leteh Rembang, Jumat-Ahad (7-9/2) lalu.?

PW IPNU dan IPPNU Jateng Dorong Peran Pelajar dalam Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)
PW IPNU dan IPPNU Jateng Dorong Peran Pelajar dalam Pemilu (Sumber Gambar : Nu Online)

PW IPNU dan IPPNU Jateng Dorong Peran Pelajar dalam Pemilu

Selain itu juga dibahas tentang peningkatan kerjasama antara PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah dan instansi-instansi pemerintah guna membantu penyelesaian persoalan pelajar Jawa Tengah di samping menyusun program kerja yang mampu memberdayakan masyarakat dan pelajar, terang Ketua PC IPNU Klaten Ahmad Saifuddin.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Rakerwil ini menentukan arah PW IPNU dan PW IPPNU Jawa Tengah pada paruh pertama kepengurusan," tambah Saifuddin.

Beberapa program kerja pada setiap departemen sudah tersusun, antara lain pengembangan internal, peningkatan kualitas, dan kuantitas kader.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pembukaan Rakerwil I dihadiri sejumlah tokoh. Tampak hadir Wakil Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri, Wakil Bupati Rembang, Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah, dan Ketua PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pendidikan, Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 20 April 2017

Madrasah Ibtidaiyah Ketitang Ajak Warga Muhasabah

Cirebon, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekurangnya 200 alumni Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hidayatul Mubtadiin Ketitang Cirebon mengikuti Halal Bi Halal Alumni dan Saresehan Warga Ketitang di masjid Baitul Muttaqin, kompleks pesantren Majelis Tarbiyah Hidayatul Mubtadiin (MTHM) Ketitang desa Japurabakti kecamatan Astanajapura, Cirebon, Senin (28/7) malam. Mereka bermuhasabah untuk menilai diri sendiri.

Madrasah Ibtidaiyah Ketitang Ajak Warga Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Ibtidaiyah Ketitang Ajak Warga Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Ibtidaiyah Ketitang Ajak Warga Muhasabah

Ketua panitia Syukron Adnan Amin mengatakan, acara ini dirasa penting karena di satu sisi Idul Fitri harus disambut dengan penuh kegembiraan sebagai wahana silaturahmi. Namun di sisi lain, suasana bermaaf-maafan itu harus diisi dengan permenungan atas segala khilaf yang telah dilakukan, serta kembali meneguhkan niat-niat baik untuk dikerjakan di hari berikutnya.

“Mudah-mudahan dengan digelarnya acara ini, kita semua dapat kembali mengingat kesalahan-kesalahan kepada guru, orang tua, sahabat atau siapa saja. Hingga bermaafan tidak hanya sebatas pada lisan dan ucapan,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Muhasabah ini dipimpin oleh Kiai Ahmad Zuhri-Adnan. Dalam taushiyah yang mengundang haru di tengah peserta tersebut, ia mengingatkan tentang makna penting di balik perayaan Idul Fitri sebagai hari bermaaf-maafan dan silaturahmi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Mari kita renungkan kesalahan-kesalahan yang pernah kita perbuat, baik secara sengaja atau pun tidak kepada orang-orang di sekitar kita. Menerima kesalahan orang lain rasanya begitu sakit dan berat, maka memohon maaf pun harus dengan hati yang tulus dan berkesungguhan,” katanya.

Namun sebaliknya, lanjut Ahmad Zuhri, memberikan maaf kepada orang yang pernah melakukan kesalahan harus dengan prinsip kemurahan hati, tanpa dipersulit, dengan harapan kesalahan tersebut tidak terulang bahkan diperbesar lagi.

“Intinya, hari bermaaf-maafan bukan hanya di mulut dan jabat tangan saja, melainkan dari hati ke hati, dan kembali membangun niat lebih baik lagi” jelas Ahmad Zuhri. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaSantri, Cerita Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Yogyakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ba’da Ashar, Jum’at 14 Juni 2013, lantunan ayat-ayat suci sudah mulai menggema di area Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta yang menandai dimulainya rangkaian acara haul ke-54 Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir dan Khataman Quran ke-12 Madrasah Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Acara dibuka dengan sema’an Al-Qur’an di dua lokasi, yakni serambi masjid pondok dan aula Madrasah Huffadh pada Jum’at sore (14/6) oleh pengasuh, KH R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Sema’an ini diisi oleh para huffadh alumni Madrasah Huffadh yang datang dari berbagai daerah, dan rencananya akan dikhatamkan sehari setelahnya, Sabtu (15/6), di pemakaman Dongkelan.

Keesokan harinya, Sabtu pagi (15/6), rencananya akan digelar Sarasehan dan Temu Alumni Madrasah Huffadh PP Al-Munawwir Krapyak dengan tema: “Syi’ar Al-Quran; Antara Harapan dan Tantangan.” Ba’da Ashar, acara dilanjutkan dengan ziarah menuju pemakaman keluarga besar Bani Munawwir di Dongkelan bersama segenap santri, diisi dengan khatmul Quran, tahlil dan doa bersama sebagai tanda birrul walidain.

Malam harinya, ba’da isya, akan digelar wisuda 29 penghapal Al-Quran 30 juz bilghaib (terdiri dari 22 putra dan 7 putri) serta 50 wisudawan juz ‘Amma (putra). Selanjutnya disusul dengan Majlis Haul Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir bersama KH Fathurrohman Thohir dari Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol Semarang sebagai pembicara.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Redaktur    : Mukafi Niam

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kontributor: Zia Ul Haq

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nusantara, Daerah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gus Mus Hadiri Forum Jumat Pertama Gusdurian

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri hadir pada Forum Jumat Pertama Gusdurian di gedung PBNU, Jakarta, Jumat malam (7/3). Ia hadir pada acara tahlilan dan diskusi Fiqih Sosial KH Sahal Mhafudh yang menhadirkan dua narasumeber, KH Husein Muhammad dan Syaiful Umam.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu hadir di ujung pemaparan narasumber kedua, Syaiful Umam. Sontak, kedatangannya disambut hadirin yang rata-rata anak muda. Mereka pun tergerak menyalaminya. ?

Gus Mus Hadiri Forum Jumat Pertama Gusdurian (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Hadiri Forum Jumat Pertama Gusdurian (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Hadiri Forum Jumat Pertama Gusdurian

Antara pemaparan narasumber kedua dan tanya jawab, Gus Mus diminta taushiyah oleh moderator Ulin Abshar Hadrawi. Gus Mus berkenan bercerita kenangan dengan KH Sahal Mahfudh, serta cerita-cerita kearifan kiai sepuh yang telah mendahului.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gus Mus bercerita tentang Kiai Sahal yang memodernisasi bahtsul masail NU, sampai pesan para pendiri NU. “Sebagaiamana ditandaskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari NU itu untuk umat. Jadi kalau sekarang tidak untuk umat, untuk diri sendiri, itu menyalahi khittah,” katanya.

Forum Jumat Pertama Gusurian tersebut dihadiri sekitar 200 orang dimulai dengan tahlilan khusus untuk KH Sahal yang dipimpin Abdul Moqsith Ghazali. (Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah, IMNU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan 



Ribuan santri dan warga NU Kecamatan Margaasih mengikuti Pawai Ta’aruf Hari Santri Nasional pada Sabtu (21/10). Mereka memulai pawai dari Pondok Pesantren Darul Ma’arif menuju makam penyebar Islam KH Abdul Manaf (Mahmud), kemudian kembali lagi di pondok pesantren semula. 

Pawai dimulai dengan penampilan drum band kolaborasi antara santri Darul Ma’arif dan para orang tua. Kemudian barisan siswa-siswi Madrasah Ibdtidiyah, para guru, orang tua, dan santri mengikuti pada barisan selanjutnya.

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Margaasih Pawai Hari Santri dari Darul Ma’arif ke Mahmud

Kepala Sekolah MTs Darul Ma’arif Fauzi Mubarok, pihak pesantren mengerahkan sekitar 1200 santri pada pawai itu. Kemudian ditambah warga sekitar. 

Pawai ini merupakan rangkaian dari pelantikan MWACNU dan seluruh Ranting MWCNU di kecamatan Margaasih. Juga pelantikan Lesbumi Kabupaten Bandung. 

Sehari sebelumnya di pondok pesantren itu juga, Lesbumi mengadakan diskusi bertajuk “Lawung Budaya dan Tirakat Sastra” dengan tema “Dasar Pemikiran Islam Sunda dalam perahu Islam Nusantara”. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dua narasumber pada kegiatan itu adalah Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto dan Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat Asep Salahuddin. Selepas itu diadakan pelatihan menulis dengan narasumber Iip D. Yahya dan Neneng Yant KH. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Daerah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 14 April 2017

Cirebonologi dalam Perspektif Studi Kawasan dan Islam

Oleh Mahrus eL-Mawa



Prasasti “Cirebonese Corner” dan “Pusat Kajian Cirebonologi” IAIN Syekh Nurjati telah ditandatangani Sultan Sepuh XIV PRA. Arief Natadiningrat, S.E. dari keraton Kasepuhan Cirebon. Prasasti itu tertanggal 29 Maret 2016/20 Jumadil Akhir 1437 Hijratun Nabi dalam aksara pegon berbahasa Jawa dialek Cirebon. Aksara pegon tersebut mirip dengan aksara dalam naskah-naskah kuno Cirebon yang tersimpan di berbagai tempat koleksi naskah, antara lain keraton-keraton, dan koleksi masyarakat.

Cirebonologi dalam Perspektif Studi Kawasan dan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Cirebonologi dalam Perspektif Studi Kawasan dan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Cirebonologi dalam Perspektif Studi Kawasan dan Islam

Tak lama setelah itu, pada tanggal yang sama, di gedung baru pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, diselenggarakan pula Pubilc Lecture (Kuliah Umum) tentang “Peta Strategis Cirebon dalam Sanad Ulama Nusantara dan Dunia Islam (Haramain, China, Turki, dan India)”. Pembicara pada kuliah umum tersebut berasal dari para peneliti, intelektual muslim, dan kiyai muda yang telah mengkaji Cirebon dalam berbagai perspektif, mulai dari peran penting dalam sejarah perkembangan Islam di dunia, maupun dalam perjuangan rakyat Indonesia. Public Lecture semacam ini penting dalam dunia akademik bagi para mahasiswa untuk memperkaya khazanah keilmuan di luar mata kuliah yang tak jarang kurang up date terhadap hasil penelitian terbaru dari peneliti atau dosen lainnya. Salah satunya adalah adanya silsilah Kyai atau Ulama Cirebon yang menjadi pentashih karya ulama di Madinah.

Sejalan dengan itu, pada tanggal 14 Januari 2016, saya telah menyampaikan hasil kajian tentang Cirebon melalui naskah kuno di hadapan para penguji yang terdiri dari 5 (lima) guru besar dan filolog, serta 3 (tiga) ilmuwan dalam bidang lain di Fakultas Ilmu Budaya  Universitas Indonesia untuk dipertahankan. Judul kajian disertasi saya, “Syattariyah wa Muhammadiyyah: Suntingan Teks, Terjemahan, dan Analisis Karakter Syattariyah di Keraton Kaprabonan Cirebon pada Akhir Abad ke-19”. Salah satu temuan disertasi saya itu menunjukkan bahwa silsilah Tarekat Syattariyah di Cirebon selain merupakan melting pot (titik temu) ulama Nusantara dan berjejaring dengan dunia Islam, juga mempunyai kekhasan sendiri yang berbeda dengan tempat lain, seperti Minangkabau, Pamijahan (Tasikmalaya), Aceh, Kendal, dst. Melting pot itu ditemukan pada sosok ulama yang merupakan guru Syaikh Abdurrauf as-Singkili, yaitu Syaikh Ahmad Qusyasyi. Adapun sanad yang berbeda dengan Syattariyah dari daerah lainnya ditemukan melalui sosok Abdullah bin Abdul Qahhar. Ulama kharismatik ini tercatatat dalam beberapa naskah kuno Syatariyah Cirebon dengan keragaman nama Syatariyahnya, seperti Syatariyah Muhammadiyah, Syatariyah Rifaiyah, dan Syatariyah Qadiriyyah. Apalagi, khusus Tarekat Syatariyah Muhammadiyah dicirikan dengan ilustrasi iwak telu sirah sanunggal. Sebuah ilustrasi ikan yang mencirikan ajaran tarekat Syatariyah dengan menggunakan prinsip lokalitas. Dengan ilustrasi ikan juga dapat ditemukan jaringan tarekat Syatariyah Muhammadiyah di Jawa. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari kebesaran Cirebon sebagai tempat yang sangat strategis sejak abad ke-15/16, yaitu pada masa Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penelitian khusus tentang Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) pernah kami lakukan pada tahun 2011 bekerja sama dengan Balai Litbang Agama Jakarta. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa secara arkeologis, filologis, dan historis bahwa Sunan Gunung Jati adalah tokoh historis, bukan tokoh mitos atau miologis. Di antara bukti-buktinya antara lain adanya Tajug Alit di keraton Kasepuhan, masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kasepuhan, masjid Bata Merah (Panjunan), adanya Pelabuhan Cirebon, dan masih banyak bukti-bukti lainnya. Hasil penelitian ini dapat dibaca pula pada jurnal JUMANTARA (Jurnal Manuskrip Nusantara) terbitan Perpustakaan Nasional Jakarta. Oleh karenanya, tidak perlu ragu dan tidak diragukan lagi, bahwa Sunan Gunung Jati atau Syaikh Syarif Hidayatullah itu adalah tokoh historis, bukan tokoh mitos apalagi fiktik. Kebesaran dan kejayaan era Syarif Hidayatullah adalah sebuah bukti yang tak perlu disangsikan lagi, seperti disebut Mattew Isaac Cohen (1997, Yale University), “An Inheritannce from the Friends of God: The Southern Shadow Puppet Theater of West Java, Indonesia”.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kajian Cohen di atas, menunjukkan bahwa mengkaji tentang Cirebon tidak hanya diminati oleh peneliti pribumi, wong dewek, Cirebon atau Indonesia, tetapi juga peneliti asing (orientalist). Tarian Topeng Samba Cirebon dari persembahan para mahasiswa PGMI Fak. Tarbiyah IAIN Syekh Nurjati Cirebon, seperti belum lama kita lihat tadi, mengingatkan saya pada disertasi Laurie Margot Ross (2009, University of California, Berkeley), “Journeying, Adaptation, and Translation: Topeng Cirebon at the Margins”. Dalam analisisnya tentang topeng, Ross menyebutkan bahwa salah satu jenis Topeng di Cirebon, merupakan manifestasi dari salah satu ajaran tarekat, antara lain tarekat Naqsabandiyah. Topeng juga pernah digunakan sebagai salah satu strategi dakwah dan politik untuk melawan ketidakadilan, pemerintahan yang lalim, baik pada era kolonial maupun kemerdekaan. Disebutkan dalam sebuah hasil penelitian lain (Jumega, SNEP, 2014) bahwa topeng pernah digunakan Sunan Gunung Jati bekerja sama dengan Sunan Kalijaga untuk penyebaran Islam dengan 6 (enam) jenis kesenian lainnya, yaitu Wayang Kulit, Gamelan Renteng, Brai, Angklung, Reong dan Berokan. Topeng berarti tertutup atau menutupi. Arti umum topeng mengandung pengertian penutup muka/kedok. Topeng ini salah satu jenis kesenian yang dikenal hampir seluruh daerah di Indonesia, bahkan dunia. Topeng Cirebon memiliki ciri khas berupa tingkatan karakter (halus, lincah, dan gagah). Topeng Cirebon mengandung nilai falsafah tentang manusia dan perilakunya, yang terlihat dari garis dan bentuk wajah topeng yang memberikan gambaran suatu karakter manusia. Topeng Samba berwarna dasar putih, terdapat ukiran rambut di antara bagian kepala. Topeng Samba menggambarkan karakter anak-anak. Kata samba sendiri berasal dari “samban waktu” yang melambangkan kita sebagai umat Islam harus melaksanakan shalat lima waktu.  

Dengan demikian, Cirebonologi adalah sebuah kajian keilmuan tentang Cirebon, baik dari aspek sejarah, seni budaya, geo-politik, dan aspek-aspek lain yang berkaitan dengan dinamika Cirebon. Harapannya, problem radikalisme, dan terorisme yang pernah terjadi di Cirebon beberapa waktu lalu yang bisa saja muncul lagi, dapat diminimalisir kemunculuannya, bahkan dihilangkan dari Cirebon dengan mempelajari Cirebonologi.



Mengapa Harus Ada Cirebonologi?


Dari paparan singkat di atas, kiranya jelas bahwa pembicaraan tentang Cirebon, mulai dari seni budaya, falsafah, bahasa dan aksara, ajaran-ajaran kehidupannya, tidak lepas dari perspektif keislaman. Bahkan disebutkan dalam sejarahnya, penamaan “Cirebon” sendiri adalah sebagai salah satu penanda dan pembeda dari keyakinan para leluhurnya yang masih belum masuk Islam pada abad ke-14/15. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati hanyalah pewaris dan penerus dari para tokoh sebelumnya, seperti Walangsungsang, yang dikenal dengan Pangeran Cakrabuana atau Samadullah atau Haji Abdullah Iman, atau Mbah Kuwu Cirebon. Sebelumnya juga sudah ada Syekh Datuk Kahfi atau Syekh Nurjati, Syekh Qura, dan Syekh Magribi. Karenanya dari sisi penamaannya saja telah ada titik temu, bahwa asal usul Cirebon tidak lepas dari kontribusi keilmuan Syekh Nurjati, yang saat ini menjadi nama Institut Agama Islam Negeri di Cirebon.

Pada tahun 2012, bersamaan dengan pameran dan seminar koleksi langka dan koleksi khusus tentang Cirebon dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bekerja sama dengan Pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, saya menulis di koran Fajar Cirebon, bertajuk “Perlunya Cirebonologi”.  Dalam tulisan itu disebutkan bahwa pembicaraan Cirebon saat ini, selain berdasarkan sejarah masa lalu, juga harus melihat tantangan-tantangan sosial, politik, budaya, ekonomi, dan keagamaan saat ini. Karenanya, ketika tahun 2016, Cirebonologi diresmikan di IAIN Syekh Nurjati hanyalah “pintu gerbang” kajian dan ruang gerak untuk membuka cakrawala tentang Cirebon yang lebih luas lagi. Hal serupa diamanahkan Sultan Sepuh XIV PRA. Arief Natadiningrat pada saat penandatangan prasasti peresmian Cirebonese Corner.   

Sebagai salah satu koleksi khusus yang menjadi ciri khas pusat perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Cirebonese Corner atau “Pojok Cirebon” ini dapat menjadi tempat diskusi, ruang baca, ruang dialog, dan media bersama untuk mewujudkan visi bersama tentang Cirebonologi. Oleh karena menjadi ciri khusus, maka koleksi naskah kuno, terutama yang digital, harus diperbanyak lagi di pusat perpustakaan IAIN Syekh Nurjati, dan untuk mewujudkannya, insya Allah tidak terlalu lama lagi, sebab berbagai lembaga telah melakukannya, hanya sinergi antara lembaga yang perlu diintesnsifkan lagi, seperti Perpusnas, Balai Penelitian Agama Jakarta, Leipzig University, British Library, dst. Pada kesempatan ini, saya ingin menegaskan pada orasi saat ini bahwa kajian Cirebonologi di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dapat diawali dari perspektif studi Islam dan studi kawasan. Dengan kedua perspektif tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia.

Cirebonologi dan Studi Kawasan



Seperti disebut dalam paparan sebelum ini, Cirebon bukan semata-mata wilayah geo-politik pemerintahan, tetapi juga sarat dengan nuansa keislaman. Dalam konteks keislaman ini, berbagai teori sosial dapat digunakan. Di antara yang sudah digunakan oleh para peneliti sebelum ini, antara lain antropologi, ilmu kebudayaan, arkeologi, linguistik, dan filologi. Antropologi dan ilmu kebudayaan ini sengaja dibedakan, jika antropologi dapat dimasukkan pada ilmu-ilmu sosial politik, sedangkan ilmu kebudayaan lebih menitikberatkan pada material culture, seperti artefact, ideofact dan sociofact. Filologi (studi naskah kuno), misalnya, dalam diskursus pembelajaran organisasi pernaskahan, Manassa, studi naskah kuno Nusantara dapat diajarkan pada semua fakultas dan program studi/Jurusan di PTKI. Sebab, studi naskah kuno seperti di Cirebon ini hampir bersentuhan dengan proses kemanusiaan, seperti tarbiyah, syariah, dakwah, adab, dan ushuluddin.

Adapun tentang studi kawasan dalam ranah Cirebonologi, nampaknya lebih menitikberatkan pada aspek geografisnya, yang dapat dikaitkan dengan studi kawasan ekonomi, kawasan budaya, kawasan keraton/kota lama, kawasan sains, dst. Studi kawasan ini pula dapat bekerja sama dengan pihak-pihak berkepentingan di sekitar kota/kabupaten Cirebon, dan kota-kota lain yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung. Studi kawasan ekonomi misalnya, kajian Cirebon dapat berupa studi kawasan ekonomi perdagangan, kawasan ekonomi rumah tangga, ekonomi pariwisata, dst. Sebab, studi-studi tersebut berkaitan langsung dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia.

Sumbangan Cirebonologi bagi Bangsa Indonesia

Akhirnya, dari semua paparan di atas, apabila pusat kajian Cirebonologi IAIN Syekh Nurjati berjalan sesuai dengan grand design di atas dan mendapat dukungan dari berbagai pihak kepentingan (stakeholders), insya Allah Cirebonologi akan mempunyai masa depan yang jelas dan dapat memberikan sumbangan yang tidak kecil bagi bangsa Indonesia saat ini dan mendatang, terutama bagi wong Cirebon. Maka tidak berlebihan, bila terdapat ungkapan dari masa ke masa bahwa Cirebon adalah Puser Bumi. Cirebon adalah titik temu peradaban Barat dan Timur (Majma’ul Bahrain). Cirebon adalah melting pot dari berbagai studi keislaman klasik dan kontemporer. Cirebon adalah pintu peradaban Nusantara.

 

Penulis adalah dosen di Program Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon; doktor bidang filologi, dan Kepala Pusat Perpustakaan IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2015-2018. Tulisan ini pernah disampaikan dalam Wisuda Sarjana dan Magister XIII IAIN Syekh Nurjati Cirebon Tahun Akademik 2015/2016

 


Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Fragmen Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 11 April 2017

Karena Kecintaan Syekh Wahbah Zuhaili pada Pesantren

Situbondo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di antara tokoh yang acap hadir pada kegiatan yang diselenggarakan International Conference of Islamis Scholars (ICIS) adalah Prof Dr Wahbah Zuhaili. Ulama fiqih dari Syiria ini juga hadir pada acara Konferensi Internasional yang diselenggarakan selama dua hari (29-30/3) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur.

Karena Kecintaan Syekh Wahbah Zuhaili pada Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Karena Kecintaan Syekh Wahbah Zuhaili pada Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Karena Kecintaan Syekh Wahbah Zuhaili pada Pesantren

Ketua Panitia, Dr Nasihin Hasan mengatakan, pemikiran Wahbah Zulhaily telah menjadi inspirasi bagi umat Islam di Indonesia. "Kitab karangan beliau yakni Al-Fiqhul Islam wa Adillatuh telah menjadi kajian yang sangat menarik di Tanah Air," katanya (29/3).

"Karena kecintaan kepada pesantren, tercatat hampir empat belas tahun beliau bersama Kiai Hasyim Muzadi bersama-sama mengenalkan Islam moderat," terangnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena itu kegiatan Konferensi Internasional dengan tema besar Konsolidasi Jaringan Ulama Internasional Meneguhkan Kembali Nilai-nilai Islam Moderat memiliki momentum yang sangat penting karena pada saat ini banyak terjadi konflik di sejumlah negera. "Baik di dalam negeri, apalagi di sejumlah negara Timur Tengah," lanjutnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dr Nasihin Hasan sangat berterimakasih kepada para pengasuh dan para kiai, alumni, santri dan dosen di lingkungan pesantren ini yang dengan sangat sigap dalam mempersioapkan kebutuhan selama kegiatan berlangsung. (Syaifullah/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tokoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 10 April 2017

Ketua HIPSI Pusat Berbagi Kiat Sukses dengan 23 PC GP Ansor di Jatim

Malang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sebanyak 23 PC GP Ansor se Provinsi Jawa Timur mengikuti pelatihan manajemen koperasi di Hotel Maxone, Kota Malang, Senin-Selasa (21-22/3). Di materi pertama, mereka digembleng oleh Ketua HIPSI Pusat M Ghozali terkait konsep dasar koperasi.

Ketua HIPSI Pusat Berbagi Kiat Sukses dengan 23 PC GP Ansor di Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua HIPSI Pusat Berbagi Kiat Sukses dengan 23 PC GP Ansor di Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua HIPSI Pusat Berbagi Kiat Sukses dengan 23 PC GP Ansor di Jatim

Dalam kesempatan tersebut, Ghozali menegaskan bahwa kesuksesan sebuah usaha seperti koperasi harus dimulai dari penguatan mental pengelolanya. Terdapat dua mental yang harus diwaspadai: mental kaya dan mental miskin.

"Setidaknya terdapat 6 mental yang jadi perbandingan. Untuk mental kaya, berparadigma bisa, kagum, belajar, peluang, solusi, dan produktif. Sementara mental miskin, selalu berpikiran tidak bisa, menghakimi, hambatan, problem, dan konsumtif," tegas Ghozali.

Menurut pria yang juga Owner CV Yes Indonesia tersebut, terdapat tiga kunci usaha. Yakni 3C (capacity, context, dan capital). Capasity adalah mengasah kemampuan, sementara conteks berupa networking atau jaringan berupa dengan memperbanyak relasi dengan siapa pun. Kalau keduanya sudah tercapai, capital (modal) kemungkinan besar datang sendiri.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain itu, tambahnya, mental sukses itu selalu berpikiran fungsi. Sedangkan mental gagal sering berpikiran gengsi. Yang pertama membangun aset, sementara yang kedua hanya liabilitas.

"Membangun aset adalah sesuatu yang memasukkan uang ke saku kita, sedangkan liabilitas merupakan sesuatu yang mengeluarkan sesuatu dari saku kita," tegasnya.

Ghozali juga menyampaikan strategi bisnis ada tiga, yang disingkat ATM: amati, tiru, modifikasi.

"Kita tidak apa-apa mengamati kesuksesan seseorang, boleh tiru, dan lakukan perbaikan-perbaikan," tandasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Lomba, Pemurnian Aqidah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 05 April 2017

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa

Sembilan pesantren dari Babakan Ciwaringin, Cirebon, berhasil mementaskan Permata Kalung Barzanji di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jumat (7/2) dan Sabtu (8/2). Pementasan naskah terjemahan Syu’bah Asa dan dipentaskan pertama kali oleh WS Rendra itu melibatkan sekitar 50 santri putra dan putri.

Berkecimpung di dunia pementasan sudah banyak dilakukan para santri, tapi pentas santri yang masih aktif dengan dukungan penuh atas nama pesantren, terbilang langka. Apalagi ini melibatkan 9 pesantren.

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Ken Zuraida: Jika Ruang Lebar, Santri Bakalan Luar Biasa

Nah, bagaimana latar belakang, proses latihan dan capaian para santri Cirebon dalam pementasan tersebut, Abdullah Alawi dari Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan berhasil mewawancarainya sang sutradara, Ken Zuraida, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam (7/2). Berikut petikannya:

Bisa cerita asal-usul pementasan dengan para santri Babakan Ciwaringin, Cirebon ini?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ada seorang “pendosa”, namanya Ahmad Subanudin Alwy. Suatu saat, berpuluh tahun yang lalulah, Rendra itu bilang, kita ke Solo yuk. Ayo. Naik mobil, ayo ke Bandung dulu. Kita lewat utara, jangan lewat selatan.  Ketika di Cirebon, ditanya rumah Alwi. Kita tanya tanya, tahulah kompleknya. Tapi tak ada yang tahu dimana rumahnya. Jadi ketika masuk komplek Rendra teriak-teriak, “Alwi..., Ahmad Subanuddin Alwi, keluar! Maju sekian meter, dia teriak lagi. Malam, bukan siang, setengah delapan. Gelap. Kemudian ada orang tergopoh-gopoh, “Ada apa? Ada apa? Eh, mas Willi (WS Rendra)”. “Ayo naik, kita berangkat ke Solo”. Itu sekitar 97, 98, antara itulah, lupa.     

Terus kami ke Solo, baca puisi kecil-kecilan, Rendra main-main, memperkenalkan, ini Alwi. Setelah itu saya harus selalu ngikutin karya-karya penyair yang dipilih oleh Rendra, terutama Alwi. Seringlah kontak-kontakan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Suatu hari Alwi memperkenalkan kami kepada seorang perempuan penulis, kami tidak tahu. Kami dibawa ke rumah, diperkenalkan; bukunya hebat-hebat. Namanya Nyai Hajah Masriyah Amva. Kenal, kenal, kenal, saya belajar banyak kepada dia. Tiap tiga bulan sekali ketemu. Kemudian ketemu KSS (Komunitas Seniman Santri). Bikin pentas Barzanji, di sini. Mati saya. Sekali ditanya, saya belum jawab. Begitu tiga kali, wah, ini saya harus laksanakan. Kalau orang meminta sampai lebih dari dua nggak dijawab, kurasa, nggak betullah. Ok, sambil jalan saja. Pemainnya siapa, di mana pentasnya? Bagaimana duduk perkaranya? Cirebon bukan rumah saya.

Pendeknya, akhirnya merekrut pemain, dari kampung pesantren itu, dari 42 pondok itu, terpilihlah orang-orang ini. Datang pergi, datang pergi. Gonta-ganti, gonta-ganti selama tiga bulan. Pusing! Mulai punya konsep, mulai mengerti juga Cirebon itu begini, mulai mengerti itu. Nongkrong di mesjid, di kota, balik lagi ke situ. Mulai ngamatin orang membatik dan lain sebagainya. Pendeknya, jadilah seperti sekarang. Begitu.

Proses gonta-ganti sampai mentas itu tiga bulan?

Nggak, saya mulainya dari Agustus (2013). Rekrutmennya tiga bulan. Kemudian latihan intensnya 6 minggu. Per minggu hanya 10 setengah jam satu minggu. Sangat tidak mungkin membikin teater latihan dengan jam seperti itu satu minggu. Tidak mungkin. Tapi itu jadwal yang paling kompromis, menyatukan 9 pondok itu. Anak sudah pulang semua, madrasahnya nggak bolos, ngaji di pondoknya nggak bolos, barulah bisa latihan. Setengah mati. Bikin jadwal setengah mati. Kesulitannya soal mengatur, mencocokkan jadwal para santri.

Yang dahsyat banget menurut saya, mereka para remaja muda yang tidak mengerti teater, dari tidak mengerti. Banyaknya ngaji aja dan sekolah.

Tapi setelah dikasih terori-teori teater, bagaimana perkembangan mereka?

Saya tidak pernah mengasih teori teater ke mereka. Saya ngobrol aja, workshop bareng, seada-adanya, sebisa-bisanya. Mereka anak muda, remaja yang kreatif, cerdas, cepat, berani, banyak juga yang tak terduga, sangat mengajutkam surprise, tak terduga. Dari tidak tahu.

Kan kalau Barzanji di podok kan hanya dilantunkan pada malam Jumatan, marhabanan. Belum juga santri memahami maknanya, isinya, uswahnya, nggak ngertilah. Dan mereka melakukannya semacam upacara ya, keharusan, keharusan.

Dari latihan dari awal semacam itu, bagaimana capaian atau Anda menilai pentas mereka?

Jika saja ada ruang lebih lebar, dan memang diizinkan Allah, bakalan luar biasa. Ya sepuluh setengah jam dalam satu minggu dan kami latihan 6 minggu yang intens, bisa seperti ini. Buat saya, tak ada selain rasa syukur yang bisa saya ucapkan, sepuluh setengah jam dalam seminggu. Biasanya saya latih untuk pementasan teater, 6 jam sehari.

Apa kuncinya mereka bisa seperti itu?

Belajar ikhlas kali ya. Anak-anak yang murni. Mungkin motivasi tadinya beda-beda, ada yang pengen bolos pesantren, ada. Ada yang pengen bolos ngaji, ada. Ada yang pengen kenal orang lain. Ada yang pengen main, ada. Ada yang pengen tahu teater, ada. Banyak motivasi. Dan lucu-lucu. Lucu. Namanya juga anak-anak kan. Keren aja. Inspiratif lah. Jadi membaca banyak kemungkinan baru. Dan punya harapan baru melihat mereka, dan sebagainya.

Saya kira yang mengejutkan bagi saya, di Babakan seluruh pesantrennya salaf. Kalau pesantren modern kan biasanya memang punya grup teater. Itu saja. Hah, Sampeyan yang salaf bisa terima ini. Penontonnya membludak. Di Cirebon itu saya kira ditonton sekitar dua ribuan orang. Ini luar biasa. Seru banget. Padahal becek, hujan. Nggak ada yang pergi. Seru banget. Di Tegal juga bagus, penotonnya banyak. Di sini (Pementasan di TM) memang kami tidak menggarap publikasi. Jadi saya tidak bikin publikasi. Luput saja. Saya kan di Cirebon terus, kan.

Harapannya, banyak yang bisa digarap. Dan teater sebagai salah satu alat dakwah, saya kira insya Allah bisa digunakan.

Menurut Anda kenapa kalangan pesantren sepertinya belum menyadari teater sebagai alat dakwah?

Saya nggak tahu. Mereka yang bisa jawab. Nggak berani menebak, nggak berani  menyimpulkan juga. Saya tidak pernah bertanya di wilayah itu. Merasa nggak patut saja.

Mungkin nggak bakat ini ada di pesantren lain?

Insya Allah. Bagi saya, setidaknya ada pengalaman teman-teman santri ini lebih mengenal diri sendiri lewat teater itu. Lebih menyadari bahwa ngaji itu penting. Sekolah itu penting. Hormat kepada orang tua itu penting. Ingat rumah itu penting. Yang tadinya mungkin sudah rutinitas sajalah.

Apa hubungannya itu dengan teater?

Kan untuk anak yang bekerja di teater atau yang belajar di teater kan ada disiplin tertentu dan itu mau nggak mau. Sama dengan pembentukan kepribadian, membantu itulah. Harus ditanya sama anak-anak Bengkel. Ini metodenya Rendra. Bukan metode saya.

Mungkin ada saran untuk pesantren-pesantren lain dari hasil capaian dan pengalaman ini?

Nggak berani aku. Saya tahu pesantren lain aja nggak. Saya cuma tahu yang di Babakan ada 42 dan masing-masing istimewa. Ada satu pondok yang ngaji kitab. Ada satu pondok yang ngaji Qur’an. Ada satu pondok yang ngaji fiqih, yang gitu gitu. Kan beda. Seru, seru banget.

Pementasan ini punya nasibnya sendiri. Kalau memang ini manfaat kita semua, buat kehidupan, pasti bernasib baik. Dan saya membuktikannya. Berarti harus dikabarkan ya, uswah dalam naskah ini. Begitu kira-kira.

Secara umum, kenal pesantren sejak kapan?

Lamalah, dari lahir kali. Kan baca koran. Ada teman, kok gitu ya, oh dari pesantren. Otomatis jadi tahu. Karena pesantren memang ada kan di Indonesia. Dan metoda pendidikan pesantren kan salah satunya diadopsi oleh Bengkel-nya Rendra.

Apa itu?

Padepokan. Cara belajar yang seperti itu. Bukan isiannya. Bukan materi kajiannya, tapi metodanya.

Kalau dari segi naskah, apa ada improvisasi dari naskah sebelumnya?

Rendra iya, tidak pada saya. Saya hanya mengedit bagian tertentu saja, saya copot karena tidak terlalu relevan teks itu untuk dimainkan remaja, begitu.

Berikut selintas profil Ken Zuraida

Ken Zuraida lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 Mei 1954. Pernah kuliah di Unpad, Bandung (1973) dan Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta (1974. Istri dramawan legendaris Indonesia, W.S. Rendra ini terlibat di Bengkel Teater Rendra sejak 1974 hingga sekarang.

Berikut pengalaman pentas Ken Zuraida menurut Wikipedia.

Tahun 1960-an teater kanak-kanak di lingkungan terbatas

Sejak 1975 berpentas sebagai Setyawati dalam Kisah Perjuangan Suku Naga produksi Bengkel Teater di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Selanjutnya dalam drama “Egmont” di Teater Terbuka, Taman Ismail Marzuki pada tahun yang sama.

Tahun 1985 menangani artistik panggung di pentas baca sajak Rendra di gedung besar beberapa kota.

Tahun 1986 artistik direktor pentas Panembahan Reso.

Costume dan Set Designers Rendras adaptasi Hamlet 1990, TIM Jakarta

Tahun 1987 mengubah suasana gereja St. Ann di New York untuk pentas “Selamatan Anak Cucu Sulaeman”, lalu di Tokyo, Hiroshima, pentas berikutnya di kota besar di Indonesia dan th 1998 di Kwachon, Korea Selatan.

Koreografer dan penari "Nocturno", di Malang dan Bandung 1994

Produser bersama Rendra, dan Agus.S.Sarjono, Internasional Puisi Indonesia tur ke Belanda, Jerman, Austria, Palestina, Maroko, Malaysia, Makasar, Bandung dan Solo, 2002

Menulis Wayang Plastik Drama Akarawa, penampilan di sekolah umum di Sumatera dan Jawa

Membaca puisi Brigitte Oleschinski TIM Jakarta, 2003

Sejak itu menangani pentas “Oidipus Sang Raja” serta pentas-pentas di luar negeri hingga “Sobrat”, 2005, di Graha Bhakti Budaya, Jakarta.

Tenaga ahli artistik di beberapa pentas di Eropa, juga Asia.

Sebagai pemain Nenek berusia 678 tahun dalam pentas berdua dengan Rendra “Kereta Kencana” memperoleh pujian di kota-kota besar Indonesia hingga Kuala Lumpur Malaysia.

Menerjemahkan drama dari bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia untuk beberapa pentas grup drama di Indonesia.

Menulis Monolog dan memainkannya sendiri pada festival Monolong di Taman Ismail Marzuki, 2005.

Beberapa bulan menyutradarai Pementasan Teater Nyai Ontosoroh pada tahun 2006, tapi tidak jadi tayang karena penyutradaraan kemudian digantikan oleh Wawan Sofwan pada tahun 2007.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Humor Islam, Makam, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 03 April 2017

Inilah Layanan Pendidikan Agama di Sekolah Labschool Jakarta

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat melakukan penelitian layanan pendidikan agama kepada siswa dari berbagai agama di sekolah. Penelitian salah satunya dilakukan di Sekolah Labschool Jakarta di Jalan Pemuda Komplek Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun Jakarta Timur.

Penelitian yang dilakukan tahun 2016 tersebut menemukan layanan pendidikan agama di Labschool Jakarta sudah diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu:

Inilah Layanan Pendidikan Agama di Sekolah Labschool Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Layanan Pendidikan Agama di Sekolah Labschool Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Layanan Pendidikan Agama di Sekolah Labschool Jakarta

Pertama, setiap siswa memperoleh pelajaran bidang studi agama sesuai dengan agama yang dianutnya, dan diajarkan oleh guru-guru yang seagama dengan keyakinan dan agama para siswa. Dengan kata lain bahwa pelajaran bidang stdui agama tidak diajarkan oleh guru yang berbeda agamanya dengan agama yang dianut siswa.

Dengan demikian hak asasi siswa untuk memperoleh ajaran agama dan melaksanakan ajaran agama sesuai dengan keyakinan yang dianut oleh siswa telah difasilitasi dan diselenggarakan dengan semestinya. Hal tersebut sesuai dengan amanah undang-undang sistem pendidikan nasional.

Kedua, waktu pelaksanaan pelajaran bidang studi agama telah diatur dengan cermat dengan memperhatikan jumlah penganut agama. Siswa yang beragama mayoritas, diperlakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Begitu pula untuk siswa yang jumlah penganutnya sedikit difasilitasi dengan melibatkan atau bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang ada di internal agama bersangkutan, misalnya dengan penyelenggara kebaktian atau sekolah minggu, bagi siswa non agama Islam. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketiga, Ketersedian guru agama bidang studi agama Islam, disesuaikan dengan rombongan belajar untuk setiap kelasnya, dan diangkat melalui rekruitmen yang dilakukan oleh bidang pengembang Yayasan Pembina UNJ. Jumlah guru PAI kurang memadai karena jumlah siswa ± 800 dengan jumlah guru hanya 2 orang.

Kenyataan ini mesti jadi perhatian pihak komite sekolah (POMG) bersama sekolah penyelenggara  agar kekurangan guru dimaksud tidak berkelanjutan mengingat pentingya pelajaran bidang studi agama, baik ditinjau dari perspektif kebutuhan asasi siswa maupun dari segi kepentingan akademis. 

Keempat, fasilitas untuk keperluan pembelajaran agama disediakan oleh sekolah atau sekolah melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga agama yang ada. Berkenaan dengan pelaksanaan belajar bidang studi agama Budha dan Khonghucu, pada tahun ini (2015) tidak diselenggarakan karena siswanya yang beragama tersebut tidak ada.

Apabila terdapat siswa yang beragama Budha dan Khonghucu, untuk pelaksanaan proses pembelajaran kedua bidang studi ini, biasanya bekerjasama dengan pihak sekolah minggu dari masing-masing agama tersebut, karena pihak sekolah susah mendapatkan guru agama tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kelima, pengawasan terhadap pelaksanaan pendidikan agama. Labschool telah mendapat kunjungan secara teratur dan intensif dari petugas (pengawas) pendidikan agama terhadap semua program pendidikan agama yang dilakukan oleh guru (Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha). 

Persoalannya adalah ketersediaan tenaga pengawas yang harus melakukan pengawas jumlahnya masih terbatas, khususnya untuk agama-agama tertentu. Tenaga pengawas untuk agama Hindu, Budha dan Khonghucu hanya tersedia 1 (satu) orang pengawas yang ditugaskan sebagai pengawas pendidikan di tingkat sekolah dasar. Pelaksanaan pengawasan pendidikan agama Hindu, Budhda dan Khonghuchu,  pada tingkat SMP dan SMA di Labschool, tidak dilakukan.

Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak dan pemangku kepentingan, baik sekolah sebagai pelaksana pendidikan, maupun pemerintah, dalam hal ini Kemenag, Dinas pendidikan atau Sudin Diknas setempat, serta pihak lembaga agama terkait, seperti Parisada Hindu Dharam (untuk Hindu), Walubi untuk Budha, dan Matakin untuk Khonghuchu, dalam menyediakan pengawas untuk mengatasi persoalan ini.

Berkaitan dengan kekurangan atau ketidaktersediaan pengawas, semestinya jangan sampai pihak pemerintah (Kemenag atau Dinas pendidikan/Dinas Pendidikan), membiarkan hal ini berlarut, karena akan menyebabkan pelaksanaan proses pendidikan agama tidak berjalan dengan baik. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Ahlussunnah, Kiai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 02 April 2017

IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Secara formal, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) telah berubah dari organisasi pemuda menjadi organisasi pelajar sejak tahun 2003, akan tetapi upaya mengembalikan ruh yang sebenarnya butuh waktu yang cukup panjang.

Awalnya, IPPNU memang organisasi pelajar yang masuk ke sekolah, madrasah dan pesantren, tetapi kebijakan Orde Baru yang hanya mengizinkan OSIS di sekolah-sekolah telah menyebabkan IPPNU merubah dirinya menjadi organisasi pemuda.

IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Fokus pada Transformasi Menuju Organisasi Pelajar

Perubahan juga meluaskan lingkup cakupan garapan sampai pada tingkat mahasiswi, bahkan segmen pelajar tidak tersentuh. Segmen pemuda menjadikan usia juga meluas menjadi 12-30 tahun. Struktur baru yang diakibatkan oleh kebijakan Orde Baru ini tidak bisa dengan gampang dirubah, diantarnya usia para pengurus yang umumnya bukan lagi para pelajar, banyak diantaranya yang sudah bergelar S2.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua IPPNU Margareth Aliyatul Maemunah menuturkan, sejumlah upaya dilakukan sebagai tahapan untuk menjadi organisasi pelajar yang sebenarnya.

“Kita tak kepingin terbelenggu seperti dalam pola lama terus. Setiap kegiatan sekarang segementasi kita ya pelajar. Ngadain kemah ya dengan pelajar, sahur on the road juga pelajar. Pra rapimnas sekarang, kita ngadain debat berbahasa Inggris untuk pelajar, lomba karya tulis ilmiah dan penulisan novel untuk pelajar dan santri,” terangnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Upaya lain adalah penurunan usia para pengurus yang terus dilakukan secara bertahap. Jika pada periode lalu, usia maksimal dibatasi 30 tahun, maka pada Rakernas IPPNU beberapa waktu lalu, disepakati usia maksimal 27 tahun. Ia menjelaskan, PBNU sendiri bahkan telah mendesak usia diturunkan menjadi 25 tahun, tetapi untuk itu dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan para kadernya.

“Menyiapkan orang tak semudah yang dibayangkan, yang jelas kita sudah sepakat usia maksimal 27 tahun,” jelasnya.

Beberapa kegiatan yang mengambil segmen pelajar yang sedang digarap diantaranya Lembaga Korps Kepanduan Putri, Pecinta Alam, Palang Merah Ramaja, pendirian lembaga konseling bagi remaja putri dan lainnya.

Ia mengakui, ada diantara segmen-segmen lembaga untuk menangani para pelajar yang dibentuk tersebut yang belum berjalan maksimal karena minimnya sumberdaya, tetapi ia yakin, ini merupakan sebuah proses transformasi yang harus dijalani.

Dalam Rapimnas yang akan digelar Desember mendatang, ia juga akan menggandeng Maarif NU dan Rabithah Maahid Islamiyah untuk bersinergi dengan IPPNU dalam membentuk pelajar yang memiliki akidah ahlusunnah wal jamaah ala NU. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nasional Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 01 April 2017

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin

Selain Al Fatihah, Al Ikhlas dan Al Muawwidzatain, mungkin surat Yasin adalah surat yang paling banyak berinteraksi dengan kaum Muslim. Yasin dibaca dalam setiap pertemuan kaum Muslim, ketika tahlilan, ziarah kubur, bahkan dijadikan amal wasilah demi terkabulnya hajat. Yasin menjadi perekat sosial secara horizontal dan media berdialog dengan Allah secara vertikal. Disinilah urgensi Yasin menjadi penting. Hakikatnya yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat baik individu maupun sosial menjadikan Yasin begitu dibutuhkan bukan cuma sebagai ayat suci dalam relasi khalik dan makhluk tapi ayat sosial dalam relasi masyarakat.

Karenanya, menjadi wajar dan begitu urgen kalau surat Yasin dihaturkan ke hadapan masyarakat dengan disertai pemahaman. Misi agar Yasin menjadi nilai-nilai hidup dalam masyarakat inilah yang mengilhami penulis, KH Abd Basith AS menghadirkan buku ini. Surat Yasin yang telah melembaga dalam batin masyarakat akan lebih bernilai jika dia hidup, lebih-lebih jika amanat dalam surat Yasin menjadi perilaku teladan masyarakat kita.

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Kesalehan Bersama Surat Yasin

Buku ini terbagi dalam 4 bab dengan menyajikan Yasin secara per kelompok mengikuti sistematika ayat yang tematik. Rujukannya sudah lebih dari cukup untuk menyajikan Yasin dari berbagai perspektif. Beberapa kitab muktabarah dijadikan rujukan dalam buku ini sehingga warna intelektualnya begitu mewarnai. Perspektif ilmu Tafsir dan Ulumul Quran tercermin dari referensi Tafsir Jalalain, Tafsir Al Maraghi, Hasyiyatul Allamah As Shawi Ala Tafsiril Jalalain, Tafsiru Surat Yasin Syekh Hamami Zadah, juga Qabas min Nuril Quran Muhammad Ali Asshabuni. Sementara tasawuf dan pendidikan adab menggunakan rujukan Ihya’ Ulumuddin, Sirajut Thalibin dan Mau’idhatul Mu’minin.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dimulai dengan tafsir ayat pertama Surat Yasin yang sifatnya diskursus. Penulis nampaknya memilih pendapat jumhur ulama ahlusunnah untuk menyerahkan penafsiran lafal Yasin di pembuka surat pada Allah. Meski penulis juga menyebutkan penafsiran Yasin menurut sejumlah ulama. Aspek keragaman nampak diperhatikan, meski penulis hanya menyebutkan arti Yasin menurut Ibnu Katsir dan Jalalain. Keragaman pemaknaan lafal Yasin yang disebut penulis, sebenarnya ditemukan sejak tafsir Abdullah bin Abbas, Qatadah, Ikrimah, Al Mawardi dan Tafsir Al Kasyaf. Selain itu, pada bab pertama ini penulis menyebut identitas penyantun sebagai manifestasi rahmah dalam Islam. Sebuah upaya tak terputus untuk menyambungkan aspek sakral Al Rahim pada ayat kelima Yasin dengan aktivitas sosial.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pemilihan referensi sebagai rujukan nampaknya jitu dan mengena. Ambil contoh, dalil tentang keesaan tuhan yang dirujuk dari As Shabuni menyebutkan bahwa tanda-tanda di alam semesta sejak relasi bumi dan hujan, siang dan malam, peredaran bulan dan matahari serta fakta transportasi (19-23). Pemilihan tema ini sifatnya mengena karena bersifat identifikatif-observasif bagi setiap Muslim. Artinya setiap Muslim pasti menjumpai fenomena alamiah di atas sehingga tadabbur lebih mudah diaktifkan sesuai tingkat keilmuan masing-masing individu.?

Selain aspek intelektual, sosial dan tauhid, buku ini juga menyertakan kekhasan sebagai buku warga NU. Di awal buku dicantumkan dalil tentang fadhilah Yasin yang mungkin bagi kalangan Wahabi bersifat problematik serta tak lupa di akhir buku penulis mencantumkan doa populer surat Yasin karya Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Walhasil, buku ini ternyata tak sesederhana tampilannya. Meski hanya 54 halaman, ilmu yang dituangkan Kiai Abd. Basith menjangkau jauh lebih banyak dari sekedar 54 halaman. Ada kalimat-kalimat tak tercetak yang disuguhkan penulis yang hanya bisa dipahami jika buku ini dibaca dengan penuh penghayatan dan ghirah untuk menghidupkan kesalehan. Sesuai misinya, buku ini cocok dibaca sejak lapisan elit, intelektual sampai masyarakat bawah.

Judul Buku: Surah Yasin: Menghadirkan Nilai-nilai Al Quran Dalam Kehidupan

Penulis: KH Abdul Basith AS

Penerbit: LTN NU Sumenep dan Muara Progresif

Halaman: XII dan 53 Halaman

Tahun terbit: Juni 2013

ISBN: 978-602-17206-5-3

Peresensi:Syarif Hidayat Santoso, pustakawan, warga NU Sumenep.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pendidikan, Sejarah, Amalan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penjaga Gawang Tradisi, NU di Tingkat Ranting Harus Dijaga

Temanggung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bertepatan 23 April 2016/15 Rajab 1436 Hijriyah diselenggarakan pengajian dalam rangka Hari Lahir ke-82 GP Ansor, Fatayat, dan Harlah ke-93 NU. Acara ini digelar di Balai Desa Banaran Kecamatan Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah.

Penjaga Gawang Tradisi, NU di Tingkat Ranting Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjaga Gawang Tradisi, NU di Tingkat Ranting Harus Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjaga Gawang Tradisi, NU di Tingkat Ranting Harus Dijaga

Dalam sambutannya, Rais Syuriyah NU Ranting Banaran KH Abdul Aziz menyampaikan bahwa NU di tingkat bawah merupakan penjaga tradisi dan amaliyah Ahlussunah wal Jamaah di lingkungannya masing-masing sehingga eksistensi NU di Ranting harus di jaga dan dilestarikan. 

Kiai Aziz juga menyinggung bahwa NU ditingkat bawah perlu melakukan konsolidasi dengan NU kultural seperti jamaah yasinan, takmir masjid, dan musholla serta jamaah-jamaah lain yang senada dengan perjuangan NU. 

Kegiatan yang merupakan sinergi antara NU, Ansor dan Fatayat ini dihadiri warga nahdliyyin di Desa Banaran serta masyarakat di desa sekitarnya di Kecamatan Tembarak.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua Panitia Nur Budiman mengatakan, kegiatan sinergi semacam ini haruslah di lestarikan dan dilanjutkan pada kesempatan waktu yang akan datang, sehingga antara stakeholder NU tidak terkesan jalan sendiri-sendiri, pungkasnya. 

Sebagai kegiatan pendukung sebelum kegiatan Harlah dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan semaan al-Quran, Manqib Syekh Abdul Qodir Al-Jilani, pembacaan Dalailul Khairat dan Pengajian Umum. Dalam kesempatan taushiyah Harlah NU yang disampaikan oleh KH Syifaul Fuad Al Ghofar bin KH Tamimi dari Jepara ini menyampaikan bahwa NU merupakan warisan Alim Ulama dan guru-guru yang wajib dijaga dan wajib dibela. 

“Sebagai salah satu bentuk membela NU dengan memberikan arahan dan bimbingan kepada putra dan putri warga NU untuk diarahkan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Dengan salah satu cara mengarahkan mereka untuk belajar di pondok pesantren,” jelasnya.

Setelah kegiatan tersebut selesai, masih dilanjutkan dengan pemantapan kepada seluruh jajaran Pengurus PAC GP Ansor Tembarak beserta Satkoryon Banser X-22 B Tembarak oleh KH Syifaul Fuad yang dibantu oleh Gus Taufiq, putra dari Simbah Sofyudin Gunardo yang merupakan keponakan dari Pengasuh Pondok Pesantren Bambu Runcing Parakan Temanggung. 

Dalam pemantapan tersebut disampaikan oleh Pendiri Perguruan Taruna Naga Paksi ini bahwa di zaman ini sudah banyak terjadi kedzoliman dikalangan masyarakat. Meski demikian, untuk memberantas kedzoliman tersebut tidaklah dibenarkan nahi mungkar bil munkar. Harapannya Ansor dan Banser bisa tampil sebagai garda terdepan ulama dan kiai dalam rangka turut membentengi Islam Ahlussunnah wal Jamaah. (M. Haromain/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita, Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan