Minggu, 31 Desember 2017

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Solo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Indonesia didirikan dengan kompromi-kompromi antara kaum islamis yang ingin mendirikan negara agama dan kaum nasionalis yang ingin mendirikan negara sekuler.

“Melihat fakta sejarah, kalau waktu itu, islamis dan nasionalis sama-sama ngotot dan tidak mau kompromi, mungkin sampai sekarang Indonesia belum lahir," tutur Wakil Rais Syuriyah PCNU Kota Surakarta Kiai Abdul Aziz Ahmad, usai mengikuti acara Apel Nusantara Bersatu yang diadakan di Lapangan Kota Barat Solo, Rabu (30/11).

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalau Sama-sama Ngotot, Mungkin Sekarang Indonesia Belum Lahir

Ditambahkan kiai yang juga pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Surakarta itu, para ulama akhirnya tetap konsekuen dengan kompromi tersebut dan memiliki semboyan NKRI harga mati. "Maka lahirlah Pancasila, yang menyerap ajaran-ajaran keduanya,” kata dia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Acara Apel Nusantara Bersatu ini, turut dihadiri kurang lebih 7.000 peserta dari berbagai elemen, di antaranya jajaran Pemkot, TNI, Polri, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan, serta tokoh masyarakat di Solo.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Perwakilan dari berbagai elemen masyarakat tersebut menandatangani Ikrar Kesepakatan Bersama dalam rangka menjaga kebhinekaan dan antisipasi bahaya terorisme, paham radikalisme dan separatisme di Kota Surakarta.

Ikrar Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh berbagai elemen masyarakat berisi lima poin. Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Kedua, menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, menghormati keberagaman suku, agama, ras dan budaya, dan siap bersama-sama menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan.

Poin ketiga, mengamalkan prinsip sikap toleran dan menjaga kerukunan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan adil. Keempat, menolak segala bentuk gerakan anarkisme dan radikalisme yang ingin memecah- belah persatuan bangsa, mengadu domba dengan provokasi SARA.

Poin kelima, menjunjung tinggi ketentuan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pondok Pesantren, Ahlussunnah, Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Yogyakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Wakil Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengingatkan kalangan kiai dan pesantren agar memainkan peran sebagai penjaga akhlak bangsa, dan tidak terjebak dalam peran-peran instrumental, seperti turut menjadi tim sukses calon dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikan hal tersebut pada pembukaan sarasehan “Pesantren dan Krisis Akhlak Bangsa” yang diselenggarakan Komunitas Majma’ Buhust An-Nahdliyyah di Magelang, Jawa Tengah, Ahad, (19/10) lalu.

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Ingatkan Para Kiai Tak Terjebak Pilkada

Di tengah merebaknya korupsi oleh para pejabat, peran kiai sebagai penjaga moralitas ditunggu sekaligus layak dipertanyakan secara kritis, apakah menjadi solusi atau justru bagian dari masalah bangsa.

Menurut Gus Mus, situasi kebangsaan saat ini benar-benar telah krisis. Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan bukan saja melanda kalangan eksekutif dan legislatif namun juga Yudikatif. Penyelewengan penegak hukum merupakan pertanda masyarakat sedang menyongsong masa kehancuran. Berbagai kasus yang mencuat saat ini, bagi Gus Mus, juga mengindikasikan adanya upaya menghabisi orang-orang baik di negeri ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam sarasehan tersebut dibahas berbagai persoalan kebangsaan, kepesantrenan, dan ke-NU-an. Forum ini dihadiri sekitar 40 kiai dari DI Yogyakarta dan Karesidenan Kedu, Jawa Tengah. Majma’ Buhust An-Nahdiyyah adalah forum diskusi yang didirikan KH Mustofa Bisri (Rembang) dan KH Mahfudz Ridwan (Salatiga), yang aktif mengkaji berbagai topik ke-NU-an, kepesantrenan, dan kebangsaan.

Turut hadir KH Abdul Ghofur Maimun  dari Sarang, KH Yahya Cholil Tsaquf (Rembang), KH Mahfudz (Maron), dan KH Mu’adz Thohir (Pati). Hadir pula kiai dari Magelang, yaitu KH Said, KH Aziz, dan Dr Thonthowi. Sedangkan dari Yogyakarta, tampak KH Asyhari Abta, KH Mu’tashim Billah, Dr Waryono Abdul Ghofur, Dr Sahiron, dan Kiai Jadul Maula.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

KH Muzammil (Bantul), KH Masduqi Mahfudz, KH Dr Tamyiz Mukharrom, KH Abdullah Hasan (Sleman), KH Munir (Kota Gede), Muhammad Mustafied (Mlangi), dan puluhan Kiai muda lainnya juga turut serta dalam kegiatan tersebut. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Hadits, Hikmah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Syeikh Salahuddin Ahmad Kaftaro, Ketua Perguruan Syekh Ahmad Kaftaro di Damaskus dalam kunjungannya ke PBNU menawarkan sejumlah beasiswa bagi para nahdliyyin untuk belajar di Suriah.

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menjelaskan sejauh ini memang belum ditentukan jurusan apa yang nantinya dapat dimasuki berapa banyak mahasiswa yang nantinya akan dikirimkan.

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PBNU, Syeikh Kaftaro Tawarkan Beasiswa

Sebelumnya PBNU telah mengirimkan 13 orang mahasiswa untuk belajar di Damascus University dan Perguruan Kaftaro. Mereka berangkat akhir tahun lalu. Meskipun negeri tersebut rawan konflik, minat mahasiswa dari kalangan NU Indonesia untuk belajar disana cukup besar. Sejumlah anak kiai pemilik pesantren menjadi bagian dari rombongan mahasiswa tersebut.

Masalah lain yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah mengenai ajaran Islam transnasional yang telah menglobal dan menimbulkan pengaruh dimana-mana. Jika tidak diwaspadai, gerakan tersebut bisa menimbulkan dampak negatif karena tidak seusai dengan kultur setempat.

Kunjungan Syeikh Kaftaro ke Indonesia untuk menghadiri konferensi ulama untuk rekonsiliasi sunni-syiah di Irak. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Irak, para ulama di Suriah memiliki peran yang besar dalam menciptakan perdamaian disana. (mkf)



Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, perbedaan itu adalah ketetapan Allah. Untuk itu, tugas manusia adalah bukan untuk menyeragamkan yang beda, tetapi bagaimana mereka menyikapi perbedaan tersebut dengan bijaksana dan saling menghormati.

“Perbedaan itu sunnatullah dan itu tidak perlu dipertentangkan. Yang kita lakukan adalah bagaimana menyikapi keberagaman itu, bukan menyeragamkannya,” kata Lukman saat memberikan materi kepada peserta Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Senin (29/5).

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Keberagaman dari Cara Ibu-ibu Belanja di Pasar

Lukman menguraikan, banyak orang yang tidak arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan dikarena mereka kurang memiliki wawasan yang cukup, terutama dalam melihat perbedaan yang ada. Menurut dia, kalau seandainya Allah menghendaki manusia itu seragam, maka itu mudah saja.?

Ia mengaku mendapatkan laporan bahwa saat ini tidak sedikit rumah-rumah ibadah yang dijadikan sebagai tempat untuk mempertentangkan perbedaan-perbedaan yang ada. Baginya, perbedaan itu tidak perlu dihadap-hadapkan karena itu adalah pilihan-pilihan.?

Terkait hal itu, ia memberikan contoh bahwa saat ibu-ibu pergi ke pasar untuk membeli sayuran, maka ia tidak harus mempertentangkan mana yang lebih baik antara sayur yang satu dengan yang lainnya.

“Kan tidak harus diperhadapkan bahwa bayam itu lebih baik dari kangkung, tergantung dari sudut mana. Kadar nutrisinya saja sudah beda, vitamin yang dikandungnya saja sudah beda, rasanya pun juga beda. Masing-masing punya kelebihan,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia mengaku sadar, setiap agama memiliki keyakinan bahwa agamanya lah yang paling benar. Alumni Universitas As-Syafiiyah itu menyesalkan pemeluk agama tertentu yang ingin menunjukkan kebenaran agamanya dengan menjelek-jelekkan agama orang lain karena itu akan meat mbupemeluk agama lain melakukan hal sama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Untuk mengatakan istri saya cantik, tidak perlu mengatakan istri lain itu jelek. Itu akan mengusik yang lainnya,” kata Lukman mencotohkan.?

“Agama itu benar menurut pemeluknya masing-masing,” tukasnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Jadwal Kajian, Humor Islam, Amalan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Nikah Tanpa Restu Orang Tua Perempuan

Assalamu alaikum wr. wb.

Saya pemuda yang sedang bingung, saya mempunyai seorang teman perempuan, semakin waktu berjalan semakin dekat hubungan kami. Saya sudah pernah mengutarakan niat untuk menikahi perempuan itu, tetapi tampaknya orang tua perempuan itu tidak merestui hubungan kami karena saya belum mempunyai perkerjaan yang mapan.

Nikah Tanpa Restu Orang Tua Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Nikah Tanpa Restu Orang Tua Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Nikah Tanpa Restu Orang Tua Perempuan

Hubungan kami malah semakin dekat. Saya takut kalau kami sampai menjurus ke hal yang zina, hingga kami berpikir untuk nikah siri. Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya jika nikah siri tanpa restu dari orang tua si perempuan? Wa alaikum salam wr. wb. (Ahmad Sastianto).

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kami akan sedikit menjelaskan tentang nikah siri yang biasa terjadi di lingkungan sekitar kita.

Nikah siri biasanya dipahami sebagai pernikahan yang tidak dicatatkan oleh KUA. Jadi, memang ada wali dari pihak perempuan begitu juga saksi. Namun tidak dicatatkan secara resmi di KUA.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam konteks ini, sepanjang pernikahan tersebut telah memenuhi syarat dan rukun nikah, maka sah meskipun tidak dicatatkan. Namun kami tidak menganjurkan untuk melakukan praktik nikah siri karena jelas melanggar aturan negara.

Tetapi dalam kasus yang ditanyakan adalah adanya ketidaksetujuan dari pihak wali perempuan. Atau dengan kata lain, wali pihak perempuan tidak mau menikahkan putrinya dengan calon yang menjadi idamannya.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa menurut Madzhab Syafi’i rukun nikah itu ada lima yaitu, shigat (ijab-qabul), mempelai pria, mempelai wanita, dua orang saksi, dan wali.

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa rukun nikah itu ada lima yaitu, shigat, mempelai pria, mempelai wanita, dua orang saksi, dan wali,” (lihat Wizaratul Awqaf was Syu`un Al-Islamiyyah-Kuwait, Al-Mawsu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, juz xxxxi, halaman 233).

Atas dasar penjelasan singkat ini maka sebenarnya pernikahan yang dilakukan tanpa melalui wali dari pihak perempuan jelas tidak sah karena wali merupakan salah satu rukun nikah. Berbeda kasusnya jika wali tersebut mewakilkan kepada pihak lain yang memenuhi persyaratan.

Lantas bagaimana jika khawatir terjerumus ke dalam perbuatan zina? Tentu yang harus dilakukan adalah menghindari hal-hal yang bisa mengarah ke sana. Di samping itu harus lebih intens mendekatkan diri kepada allah. Misalnya dengan menjalankan puasa sunah Senin-Kamis.

Kami memahami betul alasan orang tua perempuan yang belum menyetujui saudara penanya untuk menikahi putrinya. Alasan tersebut, menurut hemat kami, mesti dijadikan sebagai pemicu saudara penanya untuk lebih bersemangat dalam berusaha sembari tetap terus berdoa kepada Allah agar dimudahkan jalannya sehingga dapat memperoleh restu wali pihak perempuan.

Demikian jawaban singkat yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul Ulama, PonPes, Pendidikan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Masudi mengusulkan Pemerintah RI untuk sementara menampung ratusan imigran etnis Rohingya. Sebagai langkah darurat, pemerintah RI perlu mengambil upaya ini sambil mendorong langkah-langkah diplomatis ke depan.

“Pertama sekali yang perlu diingat bahwa peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan. Indonesia sendiri menganut asas Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” kata Kiai Masdar kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan di Jakarta, Jumat (15/5) sore.

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pemerintah RI Wajib Terima Imigran Rohingya Sebagai Langkah Darurat

Pemerintah RI, menurut Kiai Masdar, seharusnya berperan aktif bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Masalah Pengungsi (UNHCR) guna menyudahi persoalan diskriminasi pengungsi etnis Rohingya hingga ke akar-akarnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pemerintah RI juga bisa memanfaatkan jaringan negara ASEAN untuk terlibat aktif mengatasi tragedi kemanusiaan yang menimpa ribuan etnis Rohingya.

Kita perlu mendesak otoritas setempat untuk mengembalikan hak-hak kemanusiaan mereka, tandas Masdar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sebagaimana dilansir sejumlah media, sejumlah kapal mengangkut ratusan imigran etnis Rohingya. Sementara sejumlah negara di Asia Tenggara menghalau kapal yang mengangkut etnis Rohingya masuk ke wilayah mereka.

Otoritas Malaysia dan Thailand sendiri menjauhkan kapal-kapal imigran yang mencoba merapat ke perairan mereka. Karena itu, banyak dari penumpang itu menderita kelaparan. Kondisi mereka semakin melemah.

Pada pekan lalu, beberapa kapal imigran mendarat di Aceh. Banyak dari mereka terdiri atas perempuan dan anak-anak yang kondisi fisiknya lemah. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Jadwal Kajian, Kyai, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan

Way Kanan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung merampungkan amanah menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 di Pesantren Assiddiqiyah 11 asuhan Kiai Imam Suyuthi Murtadlo di Labuhan Jaya, Gunung Labuhan. Sejumlah peserta mengapresiasi positif program filantropi edukasi yang dinilai banyak kelebihan tersebut.

Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Peduli Lingkungan Bersama GP Ansor Way Kanan

"BPUN tidak hanya mengajarkan materi akademik dan agama saja, bahkan kami diajarkan untuk peduli lingkungan dan memanfaatkan sampah plastik yang masih bisa digunakan menjadi bantal," ujar alumni BPUN Way Kanan 2016 Mese Arsela dari SMAN 1 Baradatu di Blambangan Umpu, Ahad (29/5).

Plastik merupakan salah satu hasil penemuan manusia yang paling banyak digunakan pada saat ini. Jika sampah plastik ditimbun selama bertahun-tahun dapat menimbulkan pencemaraan lingkungan, terutama pada tanah.?

Dan jika sampah plastik dibakar dapat menghasilkan senyawa gas yang membahayakan sistem pernafasan pada manusia. Selain dapat membahayakan sistem pernafasan pada manusia, sampah plastik pun dapat membuat lingkungan menjadi rusak dan menganggu keseimbangan biologis dan kimiawi dalam lingkungan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lingkungan yang rusak dapat mengalami penurunan tingkat penggunaan lahan, punahnya hewan dan tumbuhan yang ada dilingkungan sekitar kita sehingga lingkungan sulit diolah oleh manusia disebabkan karena zat kimia dalam tanah berkembang pesat.

"Saat ini banyak terbuat kerajian tangan dari daur ulang sampah plastik dikarenakan dengan cara mengolah sampah plastik tersebut dapat mengurangi pencemaran lingkungan kita. Maka dari itu kita dapat mengolahnya seperti membuatnya menjadi bantal plastik. Ayo kita manfaatkan sampah plastik disekitar kita," ujar Mese. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Meme Islam, Olahraga, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 30 Desember 2017

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Bogor, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Cabang Lembaga Takmir Masjid Nahdlatu Ulama (PC LTMNU) se-wilayah Bogor (Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok) mengadakan silaturahim dan konsolidasi.

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMNU Bogor Prihatin dengan Kondisi Masjid

Acara ini dalam rangka menjawab keluhan warga ahlusunnah waljamaah (Aswaja) yang belakangan banyak diganggu oleh kelompok lain, bertempat di Kantor PCNU Kabupaten Bogor Jl.bina Citra No.5 Kp.Cipayung Kelurahan Tengah kecamatan Cibinong.

Hadir KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PP LTMNU, KH Suaedy, wakil ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatu Ulama (PP LPNU), pengurus cabang NU dan Pengurus Lembaga Takmir Masjid NU se-korwil Bogor.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

 

KH Abdul Manan, mengatakan; masjid jangan hanya dibangun megah-megah tapi sepi dari jamaah. Sepinya warga yang berjamaah, menurutnya dikarenakan beberapa hal, di antaranya; pembangunan masjid hanya mempertimbangkan kemegahan fisiknya. Oleh karena itu ia menegaskan kepada seluruh pengurus lembaga takmir masjid, agar ikut memikirkan persoalan ummat. Kita harus siap menjadi pemimpin sekaligus khadimul ummah (pembantu ummat), baik dalam pencerahan keagamaan dan problem-problem yang dihadapi jamaah.

Adapun ancaman dari kelompok lain, tidak perlu dirisaukan karena nantinya jamaah akan tahu sendiri siapa yang lebih pantas untuk menyampaikan agama. Sebab belakangan ini masyarakat sudah sadar untuk menanyakan segala sesuatunya pada ahlinya. Jika tanya soal mesin pasti ke bengkel, begitu juga tanya agama, masyarakat sudah sadar pasti tanya pada orang yang pernah di pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di sisi lain, Takmir masjid harus memperhatikan kesejahteraan ummat. Meminjam Istilah Kiai Masdar Farid Masudi, Rais Syuriyah PBNU, takmir masjid harus bisa menjadikan masjid sebagai spirit kesejahteraan dan kesalehan sosial. Dari rumah (masjid)-Nya kita makmurkan bumi-Nya, imbuhnya.

Sementara Kiai Suaedy mengatakan; kedepan masjid harus mempunyai koperasi tersendiri agar menjauhkan jamaahnya dari pinjaman pasukan rentenir yang dapat mencekik perekonomian keluarga. Dengan adanya koperasi yang dikelola tiap masjid nanti kita dapat membantu mengkoordinasi pemasaran hasil produksi jamaah antara masjid satu dengan masjid yang lain, bahkan masjid antar daerah dan propinsi lain. Dengan usaha ini masjid nantinya tidak perlu lagi meminta-minta sumbangan di tengah jalan. Bahkan dengan adanya koperasi masjid nanti dapat memberikan bantuan-bantuan kepada warga yang kurang mampu, baik untuk beasiswa pendidikan, kesehatan dll.

Kiai Romdon berterimakasih di datangi banyak kiai dan berharap menjadi berkah buat PCNU dan warga Bogor pada umumnya. Ketika ditanya bagaimana persoalan masjid, ia mengatakan keresahan jamaah ahlu sunnah waljamaah terutama di wilayah Bogor dan sekitarnya saat ini sama, yaitu ada aliran-aliran Islam yang berbeda dengan yang sudah berjalan saat ini.

“Tapi, saya sudah menghimbau kepada seluruh Pengurus LTMNU dan LDNU Kabupaten Bogor untuk mengajak dialog dengan baik dengan mereka yang berbeda. Prinsipnya persoalan agama harus kembali kepada al-Quran, Hadist dan ilmunya para sahabat serta ulama. Dalam konteks sekarang yang banyak bermunculan aliran-aliran Islam, mau tidak mau harus kembali pada ulama. Karena mereka adalah pewaris para Nabi (al-Ulama warastatu al—anbiya),”

Sementara Ahsan Ustadzi, sekretaris PCNU Kab. Bogor menghendaki agar silaturahim antar pengurus LTMNU se-wilayah Bogor dapat diagendakan bulanan. Sehingga problem yang dihadapi masyarakat dapat segera terjawab dengan baik. Sebagai ummat Islam tentu tidak dapat dipisahkan dengan masjid sehingga tanpa diundangpun warga masyarakat sudah berduyun-duyun ke masjid. Dengan demikian, masjid tetap menjadi tempat yang paling strategis untuk pengembangan kemaslahatan dan kesejahteraan ummat.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nusantara, Tegal Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pemahaman agama secara instan adalah sebuah malapetaka. Doktrin agama yang begitu filosofis tidak bisa hanya dipahami secara tekstual, hanya sekedar melongok teks di al-Qur’an ataupun hadits. Jika hanya mengandalkan teks semata, maka yang diperoleh adalah pemahaman agama secara sempit, kaku, dan tidak kontektual.

Seharusnya, tidaklah begitu. Tapi, ada logika berfikir dan analisis yang mendalam, serta proses memadupadankan antar-teks dan konteks dalam kerangka metode pengambilan hukum. Demikian diungkapkan KH Said Agil Husein al-Munawwar, Mantan Menteri Agama RI, saat memberikan ceramah di hadapan peserta Program Pengembangan Wawasan Keualamaan (PPWK), yang diselenggarakan PP Lakpesdam NU, 17-20 April di Jakarta. ?

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Agil Munawwar: Santri Harus Matang Ilmu Ushul Fiqh

Menurutnya, kemampuan untuk memahami pesan-pesan dalam teks agama secara utuh itu dapat diperoleh dengan bekal ilmu ushul fiqh. Berarti, ilmu ushul fiqh merupakan pra syarat penting dalam pengambilan keputusan hukum. “Apabila ushul fiqh dapat dikuasai dengan baik, maka ilmu-ilmu keislaman ikut di dalamnya,” tandasnya. ? ? ? ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Belajar ushul fiqh berarti mempelajari ulumul quran, ulumul hadits, ilmu kalam, dan mantiq. Tapi sayang, ia mengamati melakangan ini, santri-santri di pesantren tidak banyak yang menekuni secara serius dan mendalam ilmu ushul fiqh ini. Kebanyakan, mereka hanya mendalami kitab-kitab fikih, itu pun juga tidak tuntas. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Supaya khazanah keilmuan keislaman ini dipahami dengan baik, ia menggalakkan kepada para santri untuk kembali menekuni secara serius dan mendalami? kajian ilmu ushul fiqh di pesantren. “Yang paham betul ushul fiqh itu ya hanya kiai-kiai NU, jadi kalau bukan kita-kita yang mempelajari, lalu siapa lagi yang mewarisi ilmu ini?,” pungkasnya. (Abdullah Ubaid/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul Ulama, Kiai, Doa Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Jakarta,? Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas insiden jatuhnya crane di area Masjidil Haram Makkah al Mukarramah akibat badai dan hujan deras yang melanda yang mengakibatkan wafatnya puluhan? dluyufur rahman? yang akan menunaikan ibadah haji.

"PBNU bertakziah untuk para korban semoga mereka termasuk dalam syuhada yang menjadi? ahli jannah, keluarganya diberikan kekuatan, keikhlasan, dan ketegaran, untuk menerima ujian ini dengan senantiasa mengingat bahwa sesungguhnya kita milik Allah dan kepadanya kita kembali," kata Kiai Maruf Amin dalam pesan yang disampaikan keMisbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan,? Sabtu.?

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Syuhada Haji

Kiai Maruf Amin juga mengingatkan bahwa hal ini merupakan upaya kita agar selalu ingat pada kematian, sehingga dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan meningkatkan amal kebajikan, baik yang bersifat vertikal dan horisontal.

Rais aam menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya warga NU untuk melakukan shalat ghaib di masjid-masjd dan mushalla. shalat janazah hukumnya? fardhu kifayah, yang diwajibkan kepada seluruh umat Islam dengan prinsip ketewakilan. Shalat ghaib hukumnya sah sebagaimana shalat janazah. Shalat ghaib ditujukan kepada? dluyufurrahmanyang wafat di tanah suci karena musibah jatuhnya crane proyek pembangunan masjidil haram.

Selanjutnya, Kiai Maruf yang juga ketua umum MUI ini menghimbau kepada seluruh pimpinan pondok pesantren, lembaga-lembaa di lingkungan NU, para pengurus masjid dan mushalla untuk mengajak seluruh jamaah melakukan shalat ghaib, tahlil, serta istighotsah untuk meminta pertolongan kepada Allah agar para hujjaj yang wafat diampuni oleh Allah SWT, para jamaah haji yang sedang persiapan manasik haji diberi kekuatan lahir batin, para pelayan tamu-tamu Allah diberikan kekuatan untuk menyiapkan, memfasilitasi, dan melayani segala kebutuhan hingga dapat telaksana dengan baik. (Red: Mukafi Niam)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Foto: CNN Indonesia

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Santri Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

LKNU Bondowoso dan Perki Surabaya Gelar Pelatihan Basic Life Support

Bondowoso, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2017 Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Bondowoso, Pemkab Bondowoso, pengurus NU Bondowoso, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) mengadakan pelatihan Bassic Life Support (BLS).

Kegiatan yang bertema Kami Santri dan Akan Selamanya Nyantri ini melibatkan 1.000 kader NU se-wilayah Kabupaten Bondowoso tersebut yang terdiri atas tingkatan lembaga, Banom, MWCNU serta ranting NU.

LKNU Bondowoso dan Perki Surabaya Gelar Pelatihan Basic Life Support (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU Bondowoso dan Perki Surabaya Gelar Pelatihan Basic Life Support (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU Bondowoso dan Perki Surabaya Gelar Pelatihan Basic Life Support

Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama LKNU dan Perhimpunan Dokter Spesial Kardiovaskular Indonesia (Perki) Cabang Surabaya yang dilaksanakan di Education Development Contre (EDS), Kampus II Unversitas Jember, Jalan Diponegoro, Desa Poncogati, Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso, Sabtu (21/10).

Ketua Perki Surabaya Doktor Her Oktaviam mengatakan, pada pelatihan hari ini ia akan memberitahukan bagaimana cara membangunkan kembali jantung seseorang yang sedang berhenti.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurutnya, jantung kalau sudah berhenti sudah tinggal sedikit lagi meninggal. Pada saat-saat genting itu kita berperan, berupaya untuk membangunkan kembali pada saat itu jantung berhenti.

“Saya merasa bersyukur sekali bisa datang ke sini untuk memberikan pelatihan bapak, ibu sekalian karena saya biasanya melatih para dokter, saya melatih para perawat, saya melatih para pegawai di Surabaya, tetapi kali ini saya melatih lebih dari 1.000 santri Nahdlatul Ulama," jelasnya di hadapan ribuan para peserta BLS waktu itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Ini adalah pelatihan khusus untuk santri yang terbersar di Indonesia," katanya.

Ketua PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam mengatakan, LKNU Bondowoso mempunyai kerja besar yaitu melakukan upaya bagaimana melatih sekitar 1.000 orang untuk pertolongan pertama, bagaimana memberikan pertolongan pada saat seseorang jantungnya terhenti mendadak.

"Kami pengurus siap dilatih oleh para dokter-dokter ahli dan semoga menjadi bermanfaat," tegasnya.

Pelatihan BLS ini merupakan bagaimana berupaya untuk menjaga, jadi bagaimana untuk sehat, menjaga apa yang telah diberikan sampai hari ini. “Kita masih bernafas itu karena yang diberikan oleh Allah SWT.”

Ia juga mengucapkan banyak terima semua yang telah berupaya “Kami mengucapkan banyak terima kasih khususnya Dokter Nur Wahyudi yang telah berupaya mengomunikasikan kami yang ada di Bondowoso ini dan juga Pemkab Bondowoso yang telah bersama, membantu dan memberikan fasilitas kegiatan ini.”

Dalam kesempatan itu Pengurus Cabang LKNU Bondowoso resmi dilantik oleh Rais Syuriyah PCNU Bondowoso KH Asyari Phasa. Di akhir acara ada pemberian cenderamata oleh Pemkab Bondowoso yang diberikan langsung oleh Seketaris Daerah (Sekda) H Hidayat kepada Ketua Perki berupa miniatur monumen gerbong maut. (Ade Nurwahyudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah, Doa Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sikap Radikal Timbul karena Nihil Adab dan Akhlak

Cirebon, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Diantara rangkaian Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon, pihak panitia menyoroti masalah radikalisme dan terorisme yang dikemas dalam kegiatan Halaqah Deradikalisasi yang digelar di Aula YLPI Buntet Pesantren Cirebon, Rabu (6/4).

KH Tubagus Ahmad Rifqi Chowas, salah seorang pembicara mengungkapkan bahwa paham radikalisme dipelopori oleh Abdurrahman bin Muljam yang kemudian melahirkan kelompok Khawarij.

Sikap Radikal Timbul karena Nihil Adab dan Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikap Radikal Timbul karena Nihil Adab dan Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikap Radikal Timbul karena Nihil Adab dan Akhlak

"Radikalisme merupakan perpanjangan dari paham Khawarij di mana Abdurrahman bin Muljam, dan kawan-kawannya membantai Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, padahal Abdurrahman bin Muljam ini seorang ahli ibadah berjidat hitam dan hafal al-Quran," papar pengasuh Asrama Darussalam itu

Namun, lanjut dia, Abdurrahman bin Muljam tidak mendahulukan adab dan akhlak diatas yang lain sehingga menghilangkan sikap toleransi kepada pendapat lain bahkan yang lebih dominan.

Ia menambahkan, kelompok radikal tidak mempunyai kesadaran berpikir dan menghayati al-Quran dan hadits dengan hati nuraninya sehingga kedua sumber ajaran Islam tersebut hadir hanya sebatas tenggorokan saja.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Ngaji itu bukan sekadar fiqih dan tafsir atau ilmu alat saja, tapi juga harus memperdalam tasawuf dan berthariqah mutabaroh, ini yang tidak ada dalam kelompok radikal," tegasnya.

Sementara itu, Kang Entus yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, ada sebuah hadits shahih yang menyatakan bahwa dzikrullah dan bergaul dengan para auliya dan ulama itu jauh lebih afdhal dibanding angkat senjata ketika terjadi peperangan melawan musuh atau dalam kondisi Darul Harbi apalagi zaman sekarang.

Ia pun menyarankan kepada para santri untuk terus memperdalam ilmu agama Islam, karena untuk menanggulangi radikalisme yang paling urgen adalah thalabul ilmi, agar memperoleh ajaran Islam secara utuh.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain Ki Entus, dalam kegiatan yang bertema Kontekstualisasi Konsep Jihad dalam Bingkai Keindonesiaan tersebut diisi oleh Direktur Fahmina Institute, KH Marzuki Wahid, Serikat Jurnalis Untuk Keberagaman (Sejuk) Ahmad Junaidi serta Kapolsek Astanajapura AKP Abdul Kholik. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Aswaja, Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Museum NU Segera Miliki Katalog Online

Melbourne, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Museum Nahdlatul Ulama yang berlokasi di Surabaya akan segera memiliki katalog online. Dengan katalog yang bisa diakses secara terbuka ini, koleksi museum akan diketahui lebih luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga dari seluruh dunia.

Museum NU Segera Miliki Katalog Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Museum NU Segera Miliki Katalog Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Museum NU Segera Miliki Katalog Online

“Dengan katalog online ini, warga NU bisa mengetahui koleksi apa yang sudah ada dan apa yang belum,” ujar Direktur Museum NU Achmad Muhibbin Zuhri. “Jika mereka memiliki dokumen kakek atau kiai tertentu yang menjadi tokoh NU di daerahnya, bisa segera dikirim secara online,” sambungnya.

Sistem katalog online ini akan segera dirasakan manfaatnya berkat kerjasama dengan Fasnetgama Training Center. Bertempat di KJRI Melbourne, Selasa (17/12), berlangsung penandatanganan MoU antara Direktur Museum NU dan Direktur Fasnetgama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Fasnet memiliki software katalog online yang diperlukan oleh Museum NU,” ujar Direktur Fasnetgama Muhammad Nur Rizal. “Dengan software tersebut memungkinkan museum menjadi hub bagi seluruh perpustakaan pesantren yang dimiliki oleh NU. Kami sangat senang dan bangga dengan kerjasama ini,“

Lanjut kandidat Ph.D bidang IT di Monash University itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Achmad Muhibbin yang kebetulan sedang berkunjung ke Victoria dalam rangka tugas dari kampus UIN Sunan Ampel, sangat terkejut sekaligus berbahagia dengan terwujudnya MoU itu. “Sungguh ini merupakan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Alhamdulillah, semoga menjadi berkah bagi semuanya,” ujarnya tanpa bisa menutupi rasa harunya.

Penandatanganan tersebut disaksikan oleh Konjen Melbourne Irmawan Emir Wisnandar, Konsul Muda Pensosbud Vitrio Naldi, dan Ketua Tanfidziyah PCINU Australia dan New Zealand (ANZ) Mokhamad Nur.

“Saya menyambut baik kerjasama semacam ini,” kata Emir Wisnandar. “Sudah saatnya wajah Islam Indonesia yang moderat seperti yang ditampilkan oleh NU diketahui secara lebih luas. Oleh karena itu, saya sangat berharap agar layanan online Museum NU ini segera dilengkapi dengan bahasa internasional.”

Dengan adanya katalog online ini, terbuka peluang bagi pelajar NU dari seluruh dunia untuk ikut melengkapi koleksi Museum. Sebagai pewaris keilmuan para ulama yang terus tersambung (sanad) dari mulai Nabi Muhammad hingga saat ini, NU perlu memiliki sejarah perkembangan Islam moderat yang komprehensif. “Saya kebetulan aktif dalam jejaring PCINU seluruh dunia, insyaallah akan saya kampanyekan ajakan ini begitu layanan online di museum sudah siap,” ujar Mokhamad Nur dengan penuh semangat.

Sementara Badrus Sholeh yang menjadi pendamping Achmad Muhibbin selama di Victoria menyatakan, “Sudah saatnya para santri mendapatkan alternatif lain di luar politik praktis, agar cakrawala berpikirnya semakin luas. Sistem online ini memungkinkan mereka mendapatkan horison pemikiran dari seluruh dunia. NU dan pesantren adalah citra Islam yang terbuka dan selalu mau belajar. Kita bukan kelompok yang statis, ekslusif dan jumud. Bantuan teknologi ini salah satu upaya kita mewujudkan wajah Islam yang rahmatan lil alamain.”

(Iip Yahya, kontributor Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan untuk Australia dan New Zealand/Anam).

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 29 Desember 2017

STAINU Jakarta Mantapkan Langkah Menjadi Universitas

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekolah Tinggi Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta telah memantapkan langkah untuk meningkatkan status menjadi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta. Berkas sudah dievaluasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

STAINU Jakarta Mantapkan Langkah Menjadi Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Mantapkan Langkah Menjadi Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Mantapkan Langkah Menjadi Universitas

Jum’at (15/11) di kantor PBNU Jakarta, tim pengembangan kelembagaan STAINU Jakarta bersama PBNU membahas proposal pendirian UNU yang telah diajukan dan dievaluasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketua STAINU Jakarta KH Mujib Qulyubi mengatakan, STAINU Jakarta sudah melewati masa bertahan dan sudah saatnya dikembangkan menjadi institut atau universitas.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Namun dalam rapat pengembangan STAINU itu semua kompak menginginkan STAINU untuk langsung berubah status menjadi universitas, bukan institut. “Tidak ada pilihan lain,” kata Wakil Sekretaris PBNU Hanif Saha Ghafur.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam rapat itu dilaporkan, STAINU Jakarta telah mengusulkan 15 program studi untuk menjadi universitas, 11 program studi di bidang IPS dan 4 di bidang IPA. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, syarat minimal mendirikan universitas harus memiliki minimal 10 program studi, 6 di bidang eksakta (IPA) dan 4 di bidang sosial (IPS).

Kelimabelas program yang diusulkan adalah sistem informasi, teknik informatika, kesehatan masyarakat, ilmu hukum, psikologi, sosiologi, managemen, akuntansi, PG PAUD, manajemen pendidikan, pendidikan matematika, pendidikan bahasa Inggris, pendidikan agama Islam, perbankan syariah, dan ahwalussyakhsiyah.

Beberapa program studi yang diajukan telah disetujui, namun ada program yang masih harus diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama, Halaqoh, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Bertepatan dengan momentum Hari Lahir Nabi Muhammad SAW, Jajaran Pengurus Ranting NU Desa Candiretno secara resmi dikukuhkan oleh Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrahim, Ahad (12/12).

Dalam kesempatan tersebut Mas Taufik, begitu ia biasa disapa mengajak seluruh pengurus yang dikukuhkan agar bersatu dan bergandengan tangan dalam mengawal dan menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kukuhkan NU Candiretno, Ketua PCNU Pringsewu Ajak Jaga Soliditas Organisasi

"Mari bergandeng erat menjaga dan mengembangkan Ahlussunnah Wal Jamaah khususnya di desa Candiretno. Waspada terhadap berkembangnya aliran-aliran yang sekarang ini sudah bermacam-macam dan cenderung keras," katanya pada kegiatan yang dilaksanakan di Komplek Masjid Al Munawarah Candiretno.

Mas Taufik menekankan pentingnya perjuangan sampai akhir hayat dalam membela Aswaja. "Mari berjuang sampai berakhirnya nafas, jangan lepas dari ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah dengan aktif berorganisasi di NU sebagai Jamiyyah yang konsisten menjaga amaliyah aswaja," katanya.

Ia mengingatkan para pengurus dengan pesan Khadrotu Syeikh Hasyim Asyari untuk berjuang bersama NU. "Rais Akbar NU mengingatkan bahwa Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jajaran pengurus Ranting NU Candiretno yang dilantik terdiri dari 18 orang yang dinahkodai oleh Rais Syuriyah KH. Shoghiron dan Ketua Tanfidziyyah Anas Maruf. Pelantikan tersebut dibarengkan dengan kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan dihadiri oleh warga NU Candiretno. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Santri, Nahdlatul, Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi

Blitar, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pada Sabtu siang, (10/1) bertempat di. Kantor MWC NU Kanigoro Blitar Jawa Timur diselenggrakan kegiatan silaturahim PCNU Kabupaten Blitar dengan pengurus  MWC NU, Ranting, lembaga dan badan otonom.

Kegiatan ini merupakan agenda rutin dari PCNU Blitar dalam menyapa kepengurusan di tingkat MWC. 

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Turba NU Blitar Mantapkan Aswaja dan Konsolidasi

"Kegiatan diselenggarakan rutin setiap hari Sabtu," kata Abdullah Muzakki kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Salah satu pengurus di Lazis PCNU Blitar ini menandaskan bahwa pada setiap kegiatan turba ada dua MWC yang dikunjungi. 

"Untuk hari ini merupakan silaturahim ke sembilan belas dari dua puluh dua kecamatan yang ada di Blitar," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kesempatan ini menjadi media bagi kepengurusan di tingkat MWC untuk mendapatkan gambaran rencana program PCNU Kabupaten Blitar agar diketahui. 

"Karena itu seluruh pengurus PCNU Kabupaten Blitar dihadirkan dan menjelaskan program prioritas masing-masing lembaga, lajnah dan badan otomom," katanya. "Hal ini juga menjadi pertimbangan bagi kepengurusan MWC dan Ranting NU untuk menjadi percontohan di kepengurusan mereka," lanjutnya.  

Pertemuan tidak semata diisi dengan konsolidasi dan pemaparan program organisasi, juga diisi dengan pemahaman Ahlussunnah Waljamaah atau Aswaja. 

Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Blitar, KH Imam Suhrowardi mengingatkan para pengurus akan tantangan jamiyah yang semakin kompleks. 

Pada saat yang sama, Ketua PCNU KH Masdain Rifai menandaskan, "sosialisasi program dari seluruh ketua lembaga dan lajnah menjadi sarana merapatkan barisan sembari membumikan Aswaja NU," tandasnya.

Manfaat kegiatan menjadi sarana untuk menyampaikan problem organisasi semisal penyelamatan aset baik barang, organisasi, maupun anggota.

Kegiatan ini semakin menemukan momentum lantaran Kecamatan Kanigoro bakal menjadi ibu kota Kabupaten Blitar seiring rencana kepindahan kantor kabupaten di wilayah ini. (syaifullah/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kiai, AlaSantri, Tegal Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 28 Desember 2017

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pondok Pesantren Ihayussunnah di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo berdiri 87 tahun lalu, tepatnya tahun 1927 oleh KH Abdul Karim. Saat ini pesantren ini diasuh oleh cicit sang pendiri KH Moh Nashih. Dari pesantren ini banyak lahir ulama yang eksistensinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirikan Madrasah Hingga Terapkan Sistem Pembelajaran Salaf

Letak Pondok Pesantren Ihyaussunnah sangat strategis dan mudah dijangkau oleh kendaraan umum. Dari batas Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo hanya butuh waktu 10 menit ke arah selatan untuk menuju ke pesantren ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunah KH. Moh Nashih mengisahkan, dulunya pesantren tersebut didirikan oleh KH. Abdul Karim, kakek buyutnya. Dimana Kiai Karim ini merupakan menantu dari KH Rifa’i Tabrani, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam di desa yang sama.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jadi, kami terikat tali persaudaraan dengan KH Munir Kholili, Pengasuh Pondok Pesantren Rofi’atul Islam. Dimana Kiai Munir saat ini dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan,” katanya.

Menurut Kiai Nashih, sebelum berdiri menjadi pondok pesantren, Kiai Karim mengawali dengan memberikan pengajian kitab dan Al Qur’an. Namun lambat laun pengajian kitab ini merubah menjadi Madrasah Diniyah (Madin).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Berkat dukungan masyarakat, Madin ini akhirnya berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang sederhana. Berbeda dengan Pondok Pesantren Rofi’atul Islam yang tidak menerima santri putri, pesantren ini sejak awal telah menerima santri putri dan putra. “Alhamdulillah, semakin lama pesantren ini semakin maju,” jelasnya.?

Kiai Karim mengasuh pesantren ini hingga tahun 1947. Ketika diasuh Kiai Karim, santri mukim hampir mencapai 100 orang. Kemudian kepengasuhan pesantren dilanjutkan menantunya KH. Bahrawi hingga tahun 1950. Pada masa kepemimpinan Kiai Bahrawi, didirikanlah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah. “Madrasah ini, selain mengajarkan ilmu agama juga mengajarkan ilmu berhitung dan bahasa Indonesia,” terangnya.

Setelah itu, kepemimpinan pesantren ini bergeser kepada KH. Ma’sum Abdul Karim, putra tertua dari KH. Bahrawi. Saat Kiai Ma’sum memimpin banyak kemajuan yang dicapai. Siswa kelas VI pada MI pada masa ini mulai diikutkan ujian negara.

Pada tahun 1963, Kiai Ma’sum melakukan perombakan pada sistem manajemen. Jika sebelumnya madrasah yang ada hanya ala kadarnya, maka pada tahun itu manajemen disusun dengan cermat. “Namun keputusan yang dilakukan setelah sebelumnya dimusyawarahkan kepada keluarga dan tokoh masyarakat,” akunya.

Lima tahun kemudian Kiai Ma’sum mendirikan Madrasah Mu’allimin yang menggunakan masjid sebagai tempat belajar. Madrasah ini merupakan kelanjutan dari madrasah yang ada. Madrasah ini mengajarkan 70 persen ilmu agama, sedang sisanya untuk ilmu umum. “Pengajarnya sebagian besar dari luar pesantren,” imbuhnya.

Berikutnya, 2 tahun kemudian Madrasah Mu’allimin berganti nama menjadi MTs (Madrasah Tsanawiyah) Al Muttahidah. Madrasah ini menampung siswa dari dua pesantren. Yakni, Pondok Pesantren Ihyaussunnah dan Rofi’atul Islam. Tak lama berselang, pada tahun 1971 KH. Ma’sum Abdul Karim wafat.

“Saat Kiai Ma’sum wafat putranya masih kecil. Sehingga lewat musyawarah keluarga kepemipinan pesantren diamanatkan ke KH. Rofi’i Abdul Karim, abah saya,” tuturnya.

Pada masa Kiai Rofi’i, MI dan MTs Al Muttahidah mulai menerapkan kurikulum Departemen Agama (Depag) pada tahun 1974. Dengan begitu santri yang belajar pada 2 madrasah ini mengikuti ujian Negara.

Kemudian pada tahun 1982, Kiai Rofi’i mendirikan MA (Madrasah Aliyah) Al Muttahidah. Pendirian gedung madrasah ini merupakan bantuan dari Raja Kholid dari Saudi Arabia. “Abah selama 11 tahun belajar dan pernah menjadi wartawan disana. Sehingga mempunyai hubungan baik dengan Pemerintah Arab Saudi,” jelasnya.

Pada ? akhir tahun 1996, KH Rofi’i Abdul Karim wafat saat menghadiri undangan pengajian. Kemudian atas musyawarah keluarga yang dipimpin KH. Munir Kholili, pada tahun 1997 diputuskan pimpinan pondok pesantren diserahkan kepada KH. Moh Nashih.

“Sebenarnya masih ada kakak saya yang lebih pantas. Namun beliau bermukim di daerah lain. Hingga akhirnya saya yang diberi amanat oleh keluarga. Saya waktu itu masih mondok di Kencong Jember,” ujar alumni STAI Zainul Hasan ini.

Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Seperti pondok pesantren lain, di Pondok Pesantren Ihyaussunnah diterapkan sistem pendidikan salafiyah. “Santri mulai mengikuti kegiatan sejak pukul 03.00 dengan salat Tahajjud dan salat Subuh. Selanjutnya mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Ihyaussunnah KH. Moh. Nashih.

Aktivitas santri dilanjutkan pada pukul 07.00 hingga 13.30, dimana santri belajar di MTs dan MA. “Setelah itu, 30 menit kemudian santri masuk ke MA hingga pukul 16.30,” tuturnya.

Pondok pesantren ini juga menerapkan metode pendidikan salafiyah yang meliputi Madin, pengajian kitab kuning, halaqah diniyah dan Tahfidatul Qur’an. Kegiatan ini dilaksanakan usai salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an. Lalu belajar membaca kitab klasik hingga pukul 21.00. “Santri yang tidak sekolah pada pagi hari, ada pengajian khusus pendalaman kitab klasik,” ujarnya.

Selain kitab yang sudah umum diajarkan di kalangan pesantren, pondok pesantren ini juga mempunyai kitab khusus. Kitab ini merupakan karangan KH. Rofi’i Abdul Karim, yakni Kamus Bahasa Arab Pusha atau kamus bahasa Arab berdasarkan kitab, Kamus Bahasa Arab Amiyah atau kamus percakapan bahasa Arab sehari-hari. Kemudian ada juga Kamus Luar Biasa Bahasa Arab yang diajarkan di Madin. Selain itu ada Silahul Mukmin. Yaitu, kitab yang berisi doa-doa.

Pondok pesantren ini mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam usaha yang selalu menekankan pada keutamaan dalam berakhlakul karimah. “Percuma punya santri pintar, tetapi akhlaknya jelek. Apalagi tidak menghormati orang tua. Itu yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Terbagi dalam Tiga Asrama

Kini Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang memasuki usia 87 tahun ini mempunyai sekitar 300 santri mukim. Sedangkan yang non mukim sekitar 100 orang yang terdiri dari pelajar di MTs dan MA Al Muttahidah.

Namun, santri sebanyak itu tidak berada di satu pondok atau asrama. Mereka tersebar pada tiga asrama. Yakni asrama pusat Ihyaussunnah, Darul Hayat dan Arrofi’iyah. Masing-masing asrama dipimpin pengasuh berbeda. Asrama Ihyaussunnah diasuh oleh KH. Moh Nashih. Sedangkan Arrofi’iyah berada di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan dipimpin oleh KH Moh Hafid dan asrama Darul Hayat dipimpin oleh H. Kamil Abrori, menantu tertua KH Rofi’i Abdul Karim.

Meski berada tiga asrama, semua kegiatan masih terpusat. Yang membedakan hanyalah pada pengajaran agama yang berada di bawah pengasuh masing-masing. Sekolah umum dan kegiatan imtihan tetap disatukan di pondok pusat. “Untuk kegiatan besar masih tetap tersentral,” katanya. (Syamsul Akbar)

Foto: Santri Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ketika melakukan bakti sosial kerja bakti membersihkan kuburan yang berada di sekitar pesantren.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

NU Klaten Giat Kader Mahir Jurnalisme

Klaten, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Klaten kini tengah serius untuk menggarap para kader mereka untuk lebih mumpuni di bidang tulis-menulis. Salah satuya dengan menggelar kegiatan pelatihan peliputan dan penulisan.

Pengurus Wilayah Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNNU) DI Yogyakarta dan beberapa pihak lainnya turut mendukung terselenggaranya acara ini. Ketua Tanfidziyah PCNU Klaten, H. Mujiburrahman, mengatakan harapannya agar NU di Klaten memiliki media yang menarik dan berbobot.

NU Klaten Giat Kader Mahir Jurnalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Klaten Giat Kader Mahir Jurnalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Klaten Giat Kader Mahir Jurnalisme

“Pelatihan pada siang ini diharapkan menjadi sarana untuk mencari dan mendidik kaum muda NU dalam penulisan. Setelah itu, NU khususnya NU Klaten memiliki media yang menarik dan berbobot,” ujarnya, Ahad (28/2).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurutnya hal tersebut penting, sebagai salah satu jalan untuk membentengi dari paham-paham yang membahayakan NKRI. “Ini kontribusi NU bagi NKRI, yang telah dibuktikan sejak dulu,” tegas Mujib.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara itu, salah satu panitia acara, Minardi menuturkan, ke depan pelatihan ini akan ditindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan sejenis maupun pelatihan lain untuk melengkapinya.

“Ke depan, rencana kami akan mengadakan pelatihan-pelatihan lebih lanjut, agar peserta menjadi lebih menguasai materi tiap tema,” papar Minardi.

Ia menambahkan, kegiatan pelatihan ini sekaligus untuk menginisiasi berdirinya Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Klaten, yaitu sebuah lembaga NU yang mengurusi media, perbukuan dan dokumentasi. “Kepada semua pihak, kami mengucapkan terima kasih,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah, Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rais ‘Aam PBNU Jelaskan Hubungan Muslim dan Non-Muslim di Indonesia

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan, Indonesia bukan negara Islam, negara sekuler atau negara kafir. Ia menyebut republik ini darus shulh (negara damai) karena dibentuk atas dasar kesepakatan untuk hidup secara damai.

“Hubungan antara Muslim dan non-Muslim adalah hubungan muahadah, saling berjanji untuk hidup damai,” paparnya sebelum mendeklarasikan Majelis Dzikir Hubbul Wathan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (13/7) malam.

Rais ‘Aam PBNU Jelaskan Hubungan Muslim dan Non-Muslim di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam PBNU Jelaskan Hubungan Muslim dan Non-Muslim di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam PBNU Jelaskan Hubungan Muslim dan Non-Muslim di Indonesia

Mengutip Imam al-Ghazali, Kiai Ma’ruf menjelaskan bahwa negara selalu dibentuk atas dasar interdependensi atau kesalingtergantungan antara satu komponen dengan komponen lain. Sebab itu, sesama anak bangsa seyogianya saling menopang dan menguatkan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia juga menerangkan peran ulama yang begitu besar terhadap Tanah Air, baik prakemerdekaan maupun proses pembentukan negara. Saat permumusan dasar negara, para ulama rela mencoret kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” pada sila pertama. Dokumen historis yang dikenal Piagam Jakarta itu menurut Kiai Ma’ruf adalah wujud kecintaan umat Islam terhadap keutuhan negeri ini.

“Tapi kesatuan ini menjadi terganggu ketika ada kelompok-kelompok yang tidak memiliki komitmen kebangsaan, ingin mengubah dasar negara, dari kalangan radikalis, baik radikalis agama maupun radikalis sekuler,” tuturnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua Umum MUI ini berharap Majelis Dzikir Hubbul Wathan bisa menjadi sarana sinergitas antara ulama dan pemerintah dalam mengatasi sejumlah persoalan bangsa. Forum ini tidak hanya menjadi wahana dzikir bersama, tapi juga wadah dialog kebangsaan yang mempertemukan berbagai elemen.

Malam itu hadir Presiden Joko Widodo beserta sejumlah menteri Kabinet Kerja, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, KH Maimun Zubair, KH Miftahul Akhyar, KH Anwar Manshur, Tuan Guru Turmudzi, dan ulama lainnya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Fragmen, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Terminologi Kafir

Belakangan ini kita dihebohkan oleh ungkapan yang terlalu vulgar, diekspos secara serampangan dan ditujukan kepada sembarang orang. Kafir, begitulah ungkapan itu. Seolah-olah kata tersebut memiliki makna tunggal, yaitu keluar dari Islam.

Saya rasa istilah ini sangat sederhana dan terlalu prematur jika disematkan kepada umat yang berlainan kepercayaan dengan kita. Karenanya, berangkat dari alasan itulah tulisan ini dibuat, agar kita tidak terjebak ke dalam istilah yang kita sendiri tidak memahaminya secara integral dan komprehensif. Nah, jika sudah terjerumus ke dalam wilayah di mana kita tidak memahami dengan baik sebuah objek, maka pada dasarnya kita telah menjadi musuh dari apa yang tidak kita ketahui itu, al-Naas a’daa’u ma Jahilu.

Apabila seseorang tidak atau belum mampu memahami suatu istilah yang sudah jelas terminologinya, agama menganjurkan kepadanya untuk diam dan tidak tampil ke tempat umum seolah-olah ia pakar pada bidang tersebut, atau kalau tidak ia harus bertanya kepada para ahli di bidang itu untuk selanjutnya dianalisa lewat diskusi-diskusi serius. Sehingga melahirkan sebuah pemahaman yang utuh, ? siap diuji dan diverifikasi dengan berbagai pendekatan dan metodologi yang ada. Dalam hal ini al-Qur’an secara implisit menegaskan: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra, 17:36).?

Terminologi Kafir (Sumber Gambar : Nu Online)
Terminologi Kafir (Sumber Gambar : Nu Online)

Terminologi Kafir

Walaupun para ahli tafsir, baik dari kalangan dirayah dan riwayah masih berselisih pendapat soal makna ‘Ilmun sebagaimana yang dimaksud pada ayat di atas, apakah ia mempunyai arti dalam konteks pengetahuan agama saja atau bukan, yang jelas sejauh pegamatan saya, ayat ini bersifat global dengan latar belakang pemahaman yang menyertainya. Prinsipnya adalah bahwa apapun yang kita lakukan dalam hal ini amal perbuatan seyogyanya harus berpijak pada teori ilmu pengetahuan.





Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kafir dalam Tinjauan Linguistis dan Historis

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sebagaian besar pakar linguistik mengatakan, term kafir mempunyai arti yang sangat luas, dengan cakupan yang bermacam-macam pula. Louis Makluf penyusun kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam pada halaman 691 memberikan pengertian “menutupi dan menghalangi”. Meskipun pengertiannya tidak hanya ini saja tergantung bagaimana wazan yang mengiringinya.?

Sedangkan al-Jirjani dalam al-Ta’rifat halaman 194 memberikan pengertian kata kafir dengan kufranun dengan istilah sebagai orang yang menutupi nikmat Allah. Sederhananya, jika merujuk pada pengertian yang telah dipaparkan oleh Luois Makluf dan dan al-Jirjani, maka pengertian kafir ini tidak hanya dalam konteks keyakinan semata. Jika kata tersebut dipadankan dengan nikmat misalnya, maka pengertiannya adalah lawan dari orang-orang yang bersyukur yakni orang-orang yang kufur.?

Dalam hal ini Allah SWT menegaskan di dalam al-Qur’an:“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu kufur (mengingkari nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim, 14:07).?

Maka dengan demikian, timbul pertanyaan yang mungkin mampu menggugah naluri kita sebagai umat Islam, sudahkah kita bersyukur secara optimal atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita? Atau malah kita menjadi kafir karena kurangnya rasa syukur? Di sinilah kemudian struktur pada premis kafir itu dipertautkan, apakah kita menjadi muslim yang kafir atau kafir yang muslim?

Jika kita merasa sulit untuk menjawab pertanyaan di atas, mengapa kita menggampangakan diri untuk mengklaim orang lain dengan sebutan kafir? Atau mungkin karena ada faktor lain yang melatarbelakanginya, semisal persoalan politik. Dan jika itu yang menjadi starting point-nya, maka akan ada penafsiran-penafsiran baru yang mengejutkan yang tidak ada di dalam tafsir manapun.?

Menurut Prof. Komaruddin Hidayat (1996:22), bahwa dalam perjalanan sejarah umat manusia, mereka selalu terlibat dalam kegiatan-kegiatan intelektual karena didorong oleh ketidaktahuan dan keingintahuannya. Berangkat dari ungkapan itulah maka saya menekankan perlu adanya rekonstruksi pemahaman terhadap suatu istilah, termasuk pengertian kafir itu sendiri.?

Saya pribadi mempunyai klasifikasi tersendiri dalam memahami istilah kafir yang tentu berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang lain. Setidaknya ada tiga istilah mengenai hal itu, yakni Kafir Teologis, Kafir Politis, dan Kafir Ekonomis.?

Menurut al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-A’raf ayat 172 bahwa semua umat manusia sebelum dilahirkan ke muka bumi, tepatnya ketika berada di alam ruh, mereka mengadakan perjanjian kepada Allah seraya berfiman: Alastu Birabbikum? “bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab: Bala Syahidna “iya kami bersaksi (bahwa Engkau Tuhan kami)”. Namun pada perjalanannya, terutama saat manusia sudah berada di muka bumi, mereka banyak yang ingkar atas perjanjian tersebut dan menutup hati dalam mengakuiAllah sebagai Tuhan mereka. Inilah yang kemudian dalam perspektif sebagaimana saya jelaskan di atas sebagai kafir teologis.?

Perlu dikatahui bahwa pada wilayah ini, manusia tidak punya hak, apalagi mampu mengklaim manusia lain sebagai kafir.Karena batas wilayah perjanjiannya bukan manusia kepada manusia, akan tetapi manusia kepada Allah selaku Tuhan.?

Namun kenyataannya pada saat ini, banyak ? di antara manusia yang seakan-akan mewakili Allah dalam menghakimi orang lain sebagai kafir. Mereka tanpa sadar telah menelanjangi diri sebagai orang-orang yang tidak mengetahui sebagaimana dikatakan oleh al-Ghazali: “Innahu aa yadri annahu la yadri”.

Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul istilah kafir politis, istilah ini lahir pertama kali tepat pada perhelatan kongres para sahabat di balai rung Bani Saidah pada hari di mana Rasulullah SAW wafat. Saat itu ada dua kelompok umat Islam yang saling berkompetisi kuat untuk merebut posisi pimpinan tertinggi umat Islam, yakni kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kedua kelompok ini sama-sama mempunyai political will atau kehendak politik yang berbeda, di mana kaum Muhajirin menginginkan Abu Bakar al-Shiddiq sebagai pemegang tampuk kekuasaan, sedangkan kaum Anshar menginginkan Saad bin Ubadah sebagai kandidat terkuat dalam memimpin umat Islam pasca Rasulullah wafat.

Inilah awal dari perselisihan umat Islam di bidang politik, karena memang pada saat Rasulullah wafat, beliau tidak memberikan isyarat mengenai siapa yang akan menggantikannya dan model sistem pemerintahan seperti apa yang akan dipergunakan oleh penerusnya. Merujuk pada teori konflik yang dicetuskan oleh Karl Marx, jika ada perselisihan dalam suatu komunitas tertentu, maka sudah bisa dipastikan bahwahal tersebut merupakan dampak dari kepentingan yang tidak sejalan. Dan rupanya benar, pemilihan khalifah di balai rung Bani Saidah berlangsung panas dan hampir menimbulkan peperangan, terutama perseteruan antara Umar bin Khattab mewakili Kaum Muhajirin dan Hubab bin Munzir mewakili Kaum Anshar.?

Walaupun dalam kontestasi ini, Abu Bakar al-Shiddiq keluar menjadi pemenang dan dibai’at umat Islam yang menghadiri kongres di balai rung Bani Sa’idah, namun hal itu rupanya tidak mewakili umat Islam secara keseluruhan, sebagian kaum muslimin pada saat itu beranggapan bahwa proses pemilihan Abu Bakar bukan pada mufakat seluruh umat Islam, namun hanya berdasar pada suara terbanyak yang hadir pada kongres di balai rung Bani Sa’idah.?

Berangkat dari persoalan inilah kemudian sebagian umat Islam banyak yang ingkar dan akhirnya memilih murtad dan kafir. Sebagian lagi memilih untuk tidak mau membayar zakat sehingga kemudian diperangi oleh Abu Bakar al-Shiddiq karena dianggap telah kafir. Di sinilah kafir politis dan kafir ekonomis itu dipertautkan.?

Kafir Politis adalah istilah bagi mereka yang tidak sehaluan dengan political will Abu Bakar, sedangkan kafir ekonomis adalah istilah bagi mereka yang tidak mau mengeluarkan zakat atau pajak di masa Abu Bakar. Persoalannya sekarang adalah mampukah kita mensosialisasikan klasifikasi kafir itu kepada akar rumput masyarakat kita, sehingga mampu dipahami dengan baik dan benar? Atau hal itu hanya akan menjadi kenangan dari sejarah Islam masa lampau? Wallahu A’lam Bisshawab.

Mohammad Khoiron adalah pegiat Islamic Studies. Bisa ditemui di twitter: @MohKhoiron. [Sindikasi Media]

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu, Ubudiyah, Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lebarkan Sayap, Ansor Jateng Gelar Susbalan Mahasiswa

Klaten, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah kini semakin serius untuk melebarkan sayapnya ke wilayah kampus. Ini dibuktikan dengan diselenggarakannya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) untuk mahasiswa. Susbalan digelar di Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti (Alpansa) Klaten selama 4 hari, Selasa-Jumat (27-30/12).

Menurut Sekretaris PW GP Ansor Jateng Sholahudin Aly, dari kegiatan Susbalan, mahasiswa ini disiapkan untuk membentuk kader muda NU, khususnya dari kalangan mahasiswa. “Ansor itu calon penerus NU, oleh karenanya, anak-anak NU, termasuk mereka yang masih berstatus mahasiswa harus dikader dan digembleng lewat banom-banom NU,” tukas Sholah.

Para lulusan Susbalan mahasiswa ini juga diharapkan agar menjadi kader yang dapat bermanfaat di lingkungannya. “Ber-Ansor berarti ia bergelut dengan dinamika masyarakat, sekaligus mengasah kemampuan leadership,” kata dia.

Lebarkan Sayap, Ansor Jateng Gelar Susbalan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebarkan Sayap, Ansor Jateng Gelar Susbalan Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebarkan Sayap, Ansor Jateng Gelar Susbalan Mahasiswa

Ditambahkan Sholah, kegiatan ini merupakan yang pertama kalinya diadakan. Untuk selanjutnya juga akan diadakan Susbalan pesantren, yang tujuannya untuk menyasar para santri NU agar dapat ikut aktif di GP Ansor. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tokoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 27 Desember 2017

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Kendal, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ida Alimatun Hidayat akhirnya terpilih menjadi ketua Fatayat NU ranting Trimulyo, Kec. Sukorejo, Kendal, Jateng setelah dalam rapat anggota yang digelar di gedung TK Muslimat NU setempat  berhasil menperoleh dukungan mayoritas dari sahabat-sahabatnya, belum lama ini.



Ida Alimatun  Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Rapat Anggota yang juga dirangkai dengan Harlah Fatayat NU ke 58 itu  dihadiri oleh ketua Pengurus Ranting (PR) Muslimat NU Trimulyo Suwarti dan ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukorejo Fuadah.serta anggota Fatayat NU se-desa Trimulyo.

Dalam sambutannya ketua demisioner PR Fatayat NU, Romdlonah, S.Ag mengaku telah menyiapkan kader-kadernya untuk bisa meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh Fatayat Trimulyo. Romdhonah yang juga menjabat wakil sekretaris PAC Fatayat NU Kecamatan Sujorejo  juga berharap siapapun yang mendapat amanat dalam rapat anggaota diharapkan dapat menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sedangkan Fuadah dalam pengarahannya selaku ketua PAC Fatayat NU kecamatan Sukorejo berharap agar pengurus Fatayat NU bisa pandai membagi waktu antar tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pengurus Fatayat NU. Keduanya tidak boleh menelantarkan satu sama lainya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Diakui oleh Fuadah,  usia-usia Fatayat adalah usia yang sangat rawan karena rata-rata anggota Fatayat masih memiliki Balita (bawah lima tahun) yang membutuhkan perhatian ektra. Oleh karenanya ia berharap jika mengikuti kegiatan Fatayat hendaknya semua pekerjaan rumah (PR ) sudah beres, sehingga baik anak maupun suami  akan ikhlas mengikuti kegiatan Fatayat, terang Fuadah yang juga bidan desa itu. 

Dalam sambutannya ketua baru Fatayat NU Trimulyo Ida Alimatun Hidayat berjanji akan meneruskan program-program Fatayat terdahulu dan  dan merealisasikan progaram dulu yang  belum sempat terealisasi.

Munculnya sebagai ketua fatayat NU ranting Trimulyo ini merupakan penampilan perdananya setelah sekian lama tidak aktif di organisasi di lingkungan NU karena urusan keluarga. Sebelumnya Ida Alimatun pernah menjabat sebagai ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo. Kemudian sempat menenggelamkan diri karena untuk urusan pribadinya.(frj)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Aswaja Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketum PBNU Lantik PCNU Lombok Tengah

Lombok Tengah, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat periode? 2016-2021 resmi dilantik oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di halaman Bencingan Tastura, Kabupaten Lombok Tengah. Pelantikannya ini tepat di hari perayaan tradisi Lebaran Ketupat, Rabu (13/7).

Ketum PBNU Lantik PCNU Lombok Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Lantik PCNU Lombok Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Lantik PCNU Lombok Tengah

Pada kesempatan itu, KH Said Aqil Siroj mengajak seluruh pengurus NU untuk saling mengisi dan saling menyempurnakan."Hubungan harmonis kita adalah penting, boleh kita berbeda asalkan tidak merusak insaniyah," imbuhnya.

Ribuan warga nahdyin tampak khidmat mengikuti semus proses dari awal sampai akhir. Sejumlah tokoh tampak hadir di antaranya TGH Turmudzi Badaruddin, TGH Taqiuddin Mansur, TGH Maarif Makmun dan yang lainnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hadir juga Bupati Lombok Tengah H. Suhaili FT, Ketua DPRD Lombok Tengah dan sejumlah? Kepala SKPD Lombok Tengah. (Hadi/Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menyikapi Duka Ala Muhammad

Manusia hidup di dunia tidak akan pernah terlepas dari berbagai musibah yang datang silih-berganti, musibah tersebut tentunya akan membuat hati kita berduka dan terluka. Allah Swt. tidak hanya memberikan kenikmatan secara kasap mata, tetapi juga memberikan cobaan-cobaan untuk menguji semua makhluk-Nya, walaupun pada hakikatnya cobaan-cobaan tersebut juga termasuk sebuah kenikmatan dari Allah yang patut kita syukuri.

Orang-orang yang sadar akan sangat bersuyukur ketika Allah menguji mereka, karena dengan ujian tersebut berarti Allah masih “peduli” dengan keberadaan mereka di muka bumi. Semakin berat ujian yang menimpa maka semakin tinggi derajat kita di sisi-Nya, akan tetapi semua itu kembali pada diri kita sendiri, bagaimana diri kita bisa menghadapi ujian-ujian tersebut dengan hati lapang dan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Namun, jika datangnya musibah itu dianggap sebagai teror dari Allah sehingga kita merasa tidak terima akan ketentuan Allah yang telah ditakdirkan kepada kita, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang menyebabkan diri kita keluar dari Islam, maka bukan derajat tinggi yang kita peroleh akan tetapi kemurkaan Allah yang akan menemani hari-hari kita (na’udzu billahi min dzalik).

Ketika kita ditimpa suatu musibah terkadang tebersit di hati kita, mengapa aku ditimpa musibah seberat ini? Kenapa Tuhan begitu tega membiarkan aku menderita seperti ini? Apakah Tuhan sudah tidak kasihan kepadaku? Padahal tak sepantasnya kita seperti itu, karena hal tersebut dapat menyeret kita pada kemurkaan Allah. Karena Allah tidak akan memberi suatu ujian kepada manusia di luar kemampuannya. ?

Menyikapi Duka Ala Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyikapi Duka Ala Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyikapi Duka Ala Muhammad

Musibah bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada kehidupan manusia, hal tersebut sudah barang tentu menimpa masing-masing manusia yang masih bernyawa, sehingga dapat dikatakan bahwa kita tidak mungkin dan tidak akan bisa menghindar dari musibah. Dari hal itu, kita harus menyiapkan diri untuk bisa mengatasi dan menghadapi setiap musibah dengan hati yang tulus dan penuh ikhlas, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Kehidupan Rasulullah penuh dengan penderitaan dan penyiksaan, namun beliau menjalaninya dengan lapang dada sehingga beliau diangkat menjadi manusia nomor satu di muka bumi.

Abdul Wahid Hasan, penulis asal Sumenep menyusun sebuah buku tentang kisah kehidupan Rasulullah yang penuh dengan luka dan duka. Buku yang berjudul “Kala Rasul Berduka” tersebut memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sepak terjang Rasulullah menghadapi berbagai macam cobaan, penderitaan, penyiksaan sampai persoalan rumah tangga yang terus mewarnai kehidupan beliau.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sejak masih bayi beliau sudah ditimpa musibah yang amat besar. Sebelum lahir, beliau sudah ditinggalkan untuk selama-selamanya oleh sang ayah tercinta, sehingga beliau tidak mengenali seperti apa wajah ayah yang wafat sejak beliau berusia enam bulan dalam kandungan. Menginjak usia enam tahun-an beliau kembali dilanda musibah yang sangat menyesakkan dada, di usia yang sangat muda beliau harus kehilangan ibu (Aminah) yang sangat menyayangi anak semata-wayangnya tersebut.

Pada usia tersebut beliau sudah menyandang status yatim piatu, hidup sebatang kara tanpa seorang ayah dan ibu di sampingnya, tanpa dekapan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya, (halaman 15). Selanjutnya beliau diasuh oleh kakeknya sendiri (Abdul Muththalib) orang yang sangat berwibawa di mata masyarakat. Namun, beliau hanya mengasuh dan menumpahkan kasih sayangnya kepada cucu yang sangat dicintainya itu selama dua tahun, beliau juga menyusul putranya (Abdullah ibn Abdul Muththalib) dan menantunya (Aminah) menghadap Tuhan dalam usia 110 tahun, (halaman 26). Tentu Muhammad yang saat itu berumur delapan tahun merasa sangat terpukul atas kejadian itu, karena sang kakek sangat mencintainya dan memperlakukannya begitu istimewa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak berhenti di situ, ujian demi ujian terus beliau alami bersama bergulirnya waktu, beliau terus kehilangan orang-orang yang dicintainya yang menjadi pelindung baginya dari berbagai hal yang membahayakan. Mulai dari meninggalnya Abu Thalib (paman yang menjadi benteng pertahanan dan pelindung perjuangan), kepergian istri tercinta—Khadijah al-Khubra (pelindung dan tempat berteduh yang damai), kepulangan Hamzah (paman yang menjadi pahlawan perkasa dalam memperjuangkan agama Islam), kematian putra-putrinya di usia yang sangat dini.

Selain itu beliau juga harus menerima cacian dan makian dari orang-orang yang tidak menyukainya. Lebih dari itu, siksaan secara fisik pun beliau rasakan. Gelombang perjalanan hidup Nabi ini sangat pahit dan menyedihkan. Persoalan rumah tangga juga turut menambah sesaknya dada, salah satunya tentang isu perselingkuhan Aisyah (istri Nabi) dengan sahabat Shafwan ibn Mu’athal al-Sulami al-Dzakwani, (halaman 203).

Namun, ujian-ujian tersebut tak membuat hati beliau berpaling dari Allah, tak tebersit sedikit pun rasa kecewa kepada Allah atas apa yang telah Dia berikan, apalagi sampai melontarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan. Bahkan dengan beberapa kejadian tersebut membuat beliau semakin mendekatkan diri kepada sang Ilahi. Beliau menghadapinya dengan penuh ketabahan dan kesabaran.

Dengan bahasa yang indah penulis suguhkan kepada pembaca dengan tiga pokok bahasan: Kehilangan Orang-Orang Terkasih, Ganasnya Serangan Musuh, dan Gelombang dalam Keluarga. Buku terbitan Mizan Pustaka ini lebih banyak mengisahkan kehidupan Rasulullah ketika ditimpa musibah. Selain itu penulis terkadang menjelaskan beberapa hikmah yang terkandung di balik datangnya musibah. Ayat Al-Quran dan Al-Hadits juga menambah kekompletan buku ini, berikut arti dan asbabun nuzul-nya.

Hadirnya buku setebal 251 halaman ini turut menyadarkan kita bahwa begitu besarnya perjuangan Nabi dalam menegakkan agama Allah, dan betapa lembutnya hati Nabi dalam menyikapi berbagai persoalan. Sekaligus buku ini mengajarkan tentang arti sebuah ketabahan dan kesabaran. Selamat membaca, semoga bermanfaat!!!

Data Buku

Judul : Kala Rasul Berduka

Penulis : Abdul Wahid Hasan

Penerbit : Mizan Pustaka

Cetakan I : Juni 2014

ISBN : 978-602-1337-19-6

Tebal : 251 halaman

Peresensi: Saiful Fawait, Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kiai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Brussel, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan?

Bagaimanakah rasanya menjalani ibadah puasa di negera minoritas Islam seperti Belgia? Tentu jauh berbeda dengan yang biasa kita alami di Indonesia. Ibadah puasa di Belgia harus dijalani hingga 19 jam lamanya. Hal ini terjadi karena bulan Ramadhan di Belgia saat ini bertepatan dengan musim panas, sehingga waktu siang lebih panjang dari pada waktu malam. Untuk itu sahur di Belgia dilakukan pada pukul 3 pagi, dan buka puasa baru bisa dilakukan pada pukul 10 malam. Sungguh puasa yang amat panjang.

Berpuasa saat musim panas di Belgia juga memiliki tantangan lainnya. Seperti cuaca yang panas yang membuat rasa haus lebih terasa dibandingkan pada musim lainnya. Selain itu, musim panas ini juga dijadikan kesempatan bagi warga Belgia untuk berjemur dengan berpakaian ala musim panas untuk dapat menikmati sinar matahari. Aurat tidak tertutup sempurna, sehingga pemandangan pun jadi terasa ‘panas’ menggoda. Itulah beberapa tantangan bagi kaum muslim di Belgia untuk berpuasa total, puasa makan dan minum sekaligus menjaga pandangan mata.

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Belgia Berpuasa 19 Jam Lamanya

Suasana puasa Ramadhan di tanah air tentu sangat terasa. Berbagai macam kegiatan keagamaan dilaksanakan hampir di semua tempat-tempat ibadah. Termasuk juga di mal-mal dan tempat perbelanjaan. Tak lupa tanyangan-tayangan spesial Ramadhan selalu menghiasi layar kaca televisi. Gaung adzan tanda waktu berbuka puasa yang selalu dirindukan dapat dengan mudah dikumandangkan. Tentu suasana puasa Ramadhan tersebut tidak dapat dirasakan di negara minortas Islam seperti di Belgia.?

Namun berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan kaum Muslim untuk menjalani ibadah puasa Ramadhan. Tentu karena Ramadhan ini adalah bulan spesial, bulan penuh berkah. Maka kesempatan ibadah selama Ramadhan ini tidak disia-siakan. Justru tantangan tersebut dimaknai sebagai ujian keimananan dan ketaqwaan, demikian sebagaimana yang disampaikan oleh Nanang Suprayogi, alumni Pondok Gontor yang kini menjadi ketua Tanfidziah PCINU Belgia.

Kesempatan Ramadhan ini juga sekaligus digunakan sebagai momen untuk berdakwah di Belgia. Dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk saat berinteraksi dengan komunitas warga non muslim Belgia. Misalnya saja, saat ngobrol santai, kemudian dia menawarkan makan/minum, maka kami katakan bahwa kami kaum muslim sedang menjalani ibadah puasa. Kemudian mereka bertanya lebih lanjut tentang apa itu puasa, mengapa kita berpuasa, dan sebagainya. Nah kita jelaskan puasa yang kita jalani sesuai dengan ketentuan Islam.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mereka terkejut sekaligus salut kepada kaum Muslim yang dapat menjalani ibadah puasa hingga 19 jam lamanya. Semoga penjelasan kami tentang puasa dan beberapa ibadah lainnya dapat menjadi informasi baik buat mereka dalam melihat ajaran Islam. Selama ini berita yang mereka terima tentang Islam masih kurang utuh, karena kerap dikaitkan dengan tindakan terorisme. Mereka perlu mendapatkan informasi tentang Islam yang sesungguhnya, Islam yang Rahmatan lil alamin.

Selain itu, kepada sesama kaum Muslim, dakwah dilakukan dalam bentuk pengajian dan buka puasa bersama. Kegiatan ini dilakukan untuk lebih mengeratkan silaturahim sekaligus menambah ilmu dan pengetahuan tentang keislaman. Kesempatan pengajian dan buka puasa bersama ini dimanfaatkan bagi para hadirin untuk saling bertemu sapa dan menikmati sajian buka puasa.

Alhamdulillah kegiatan keagamaan ini juga mendapat dukungan di pihak KBRI Brussel. Bahkan pada hari pertama puasa, Bapak Duta Besar RI, Bapak Yuri Thamrin berkenan mengundang para kaum muslim Indonesia untuk berbuka puasa di kediamannya. Pada kesempatan itu hadir pula kaum Muslim yang berkewarganegaraan lain, seperti Maroko, Belanda dan Belgia, yang juga di undang oleh bapak Duta Besar. Acara buka puasa dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah.

Selain itu, diadakan juga kegiatan pesantren Ramadhan bagi anak-anak dan remaja. Pesertanya ada anak Indonesia dan juga anak Belgia. Kegiatan pesantren Ramadhan ini dilaksanakan pada tanggal 3-4 Juni bertempat di Aula KBRI.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pada kesempatan itu, para santri belajar membaca al-Qur’an, sholat berjamaah, serta mendapatkan materi-materi keislaman yang tidak dapat mereka dapatkan di sekolahnya. Kegiatan pesantren ini dilakukan dengan kerjasama KBRI dan komunitas Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia (KPMI) Belgia yang saat ini diketuai Bapak Lanang Seputro.

Ramadhan selalu membawa keberkahan, tentu kita semua berharap dapat menerima keberkahannya. Semoga semua amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah Subhanahu wa ta’ala, taqabbalallahu minna wa minkum, siyaman wa syamakum. Salam hangat dari Belgia. (Nanang Suprayogi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan