Kamis, 29 Desember 2016

Nurul Fauzi Tasikmalaya Lolos Perempat Final LSN Seri Nasional

Bantul, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kesebelasan Pondok Pesantren Nurul Fauzi Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat lolos ke perempat final Liga Santri Nasional setelah meraih kemenangan 2-0 melawan kesebalasan Pesantren Al Falah Aceh Besar di Stadion Sultan Agung Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (27/10).

Gol pertama dicetak Adit dibabak pertama. Dan kedua oleh Ipan dibabak kedua yang kesemuanya melalui umpan silang.

Nurul Fauzi Tasikmalaya Lolos Perempat Final LSN Seri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Nurul Fauzi Tasikmalaya Lolos Perempat Final LSN Seri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Nurul Fauzi Tasikmalaya Lolos Perempat Final LSN Seri Nasional

Official Tim Nurul Fauzi, Nana Sumarna melalui sambungan telepon mengatakan, permainan kedua tim begitu atraktif karena sama-sama harus menoreh kemenangan. Pasalnya, kalah saja dipertandingan tersebut, masing-masing tim harus ada yang angkat koper meninggalkan Yogyakarta.

"Tapi Alhamdulillah kami yang menang. Ini berkat doa dan dukungan yang di Tasikmalaya," kata Nana.

Ketua KNPI Kabupaten Tasikmalaya yang juga Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya ini mengungkapkan tim Nurul Fauzi lolos 16 besar setelah sebelumnya menang melawan Tim Ar Rizky Nusa Tenggara Barat di pertandingan pamungkas Grup G. Nurul Fauzi menang telak dengan skor 7-0.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dengan raihan poin 7 dari tiga kali pertandingan, tidak pernah kalah dengan margin gol 10 dan hanya sekali kebobolan membuat Nurul Fauzi keluar sebagai juara Grup G.

Pesantren Nurul Fauzi pun satu-satunya perwakilan Priangan Timur dari tiga perwakilan di Jawa Barat. (Nurjani/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 24 Desember 2016

M. Salman Terpilih Jadi Ketum PMII Aceh

Banda Aceh, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Aceh ? menggelar Konferensi Cabang pada Ahad, (29/08) di Aula Kantor PWNU Aceh Banda Aceh.

M. Salman Terpilih Jadi Ketum PMII Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
M. Salman Terpilih Jadi Ketum PMII Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

M. Salman Terpilih Jadi Ketum PMII Aceh

Dalam kegiatan tersebut M. Salman mantan wakil ketua PC PMII Kota langsa terpilih secara aklamasi sebagai ketua umum PKC PMII Aceh masa khidmat 2015-2017. Salman terpilih karena saingannya Abdul Majid mengundurkan diri karena dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga PMII menyebutkan persyaratan umur ketua umum PKC di bawah 27 tahun.

Acara tersebut dibuka oleh sekretaris PWNU Aceh, Asnawi M. Amin, S.Ag. Dia menginstruksikan PMII ? agar terus membina kader, baik di kampus negeri atau swasta.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jangan hanya puas dengan apa yang ada sekarang. PWNU Aceh selalu siap membantu jika ada badan otonom (banom) dan lembaga yang melakukan pengkaderan bagi kader-kader muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Konferensi ini diikuti oleh sembilan cabang di Aceh, yaitu Banda Aceh, Aceh Besar, Langsa, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Barat dan Aceh Barat Daya. Namun ada beberapa cabang di Aceh yang masih persiapan.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Target kami ke depan terus mengembangkan sayap ke seluruh kabupaten-kota di Aceh,” ujar Salman. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 22 Desember 2016

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan rombongan Badan Nasional Narkotika (BNN) di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (21/10) sore. Mereka memperkuat kerja sama kedua pihak yang selama ini terjalin di tengah kondisi darurat narkotika.

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

“Kita punya 13.000 sekolah Ma’arif. Hampir bisa dipastikan pelajarnya tidak menggunakan narkotika. Tidak melakukan penyalahgunaan saja itu sudah merupakan pencegahan luar biasa,” kata Kang Said di hadapan para rombongan BNN.

Sementara Kepala BNN Budi Waseso menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan kerja sama pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan banom-banom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat NU. Kini, Budi menambahkan, BNN tengah menjajaki kerja bareng dengan Lembaga Dakwah NU dan GP Ansor.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Narkotika di Indonesia ini sudah di titik darurat. Para Bandar tidak segan-segan melebarkan segmen pasar mereka kepada pelajar TK,” kata Budi yang didampingi rombongannya.

Mereka juga tengah menyiapkan kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga selain pelajar, santri, dan para dai. “Kita juga bahkan menyasar tempat hiburan. Kita sudah ketemu Ahok untuk mewajibkan tempat hiburan ‘Bersih Narkotika’,” ujar Budi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kedua pihak berencana menindaklanjuti kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga dan berbasis masjid. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera antara kedua pihak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 13 Desember 2016

LTNNU Probolinggo Gelar Ngaji Jurnalistik

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengurus Cabang Lembaga Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Aswaja NU Center (Asnuter) Kabupaten Probolinggo menggelar Ngaji Jurnalistik, Ahad (10/4). Kegiatan yang digelar di aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo ini mengambil tema “Mencetak Jurnalis Modern Yang Islami”.

Ngaji jurnalistik yang dibuka oleh Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah ini dihadiri oleh Ketua PC LTNNU Kabupaten Probolinggo Ansori dan Ketua PC Asnuter Kabupaten Probolinggo Teguh Mahameru.

LTNNU Probolinggo Gelar Ngaji Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
LTNNU Probolinggo Gelar Ngaji Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

LTNNU Probolinggo Gelar Ngaji Jurnalistik

Ketua PC LTNNU Kabupaten Probolinggo Ansori berharap agar dengan kegiatan ini terbentuk wadah potensi bakat dan minat bagi pengurus dan kaum muda NU dalam bidang jurnalistik untuk menuju warga yang kritis dan berintelektual. “Serta mampu mengembangkan pengetahuan, wawasan dan pengalaman terkait penulisan dan pemberitaan,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Ansori, seiring era globalisasi yang semakin besar, tuntutan masyarakat terhadap situasi terkini semakin tinggi. “Teknologi informasi semakin maju dan berkembang. Di sini kita harus bisa mengimbangi dan mengikuti arus informasi teknologi ini,” jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi Saifullah sangat mengapresiasi Ngaji Jurnalistik ini. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan kontribusi penting dalam memberitakan seluruh kegiatan yang dilakukan jajaran pengurus cabang NU, Lembaga dan Badan Otonom (Banom).

“Saya mengharapkan agar para pengurus MWCNU, Fatayat dan Muslimat NU, Ansor dan IPNU-IPPNU yang ada di wilayah kecamatan bisa turut serta mengambil bagian dari pemberitaan di daerah sehingga mampu dibaca, diamati, diteliti dan dicerna oleh seluruh warga Nahdlatul Ulama (NU),” katanya.

Lebih lanjut Kiai Abdul Hadi menyampaikan terima kasih kepada pengurus LTNNU dan Asnuter Kabupaten Probolinggo dengan harapan ke depan akan lahir wartawan dan jurnalis yang shidiq, amanah, tabligh dan fathanah.

Menurut Kiai Abdul Hadi, PCNU juga berkonsentrasi pada pengembangan ekonomi umat dengan mendirikan Koperasi Amanah Barokah Sejahtera (ABS), mendirikan usaha perusahaan air minum, menyiapkan bedak dan pasar di beberapa titik seperti di Leces dan Wonomerto.

“Ini langkah yang kita lakukan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. NU kedepan harus berdaya dalam berbagai bidang, tahun 2016 kita masih konsen pada pemberdayaan ekonomi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 05 Desember 2016

Simpati Pada Petani Kendal, PMII STAINU Jakarta Gelar Aksi Simbolis

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Aktivis PMII STAINU Jakarta menyalakan lilin di lantai 5 Gedung GP Ansor, Jakarta, Ahad (7/5) dini hari. Mereka menyatakan prihatin atas nasib yang menimpa dua warga Surokonto Wetan, Kabupaten Kendal, Kiai Nur Aziz dan Rusmen yang dihukum 8 tahun penjara dan denda 8 milyar oleh PN Kendal.

Keduanya merupakan tokoh yang membela warga dalam memperjuangkan lahan pertanian warga.

Simpati Pada Petani Kendal, PMII STAINU Jakarta Gelar Aksi Simbolis (Sumber Gambar : Nu Online)
Simpati Pada Petani Kendal, PMII STAINU Jakarta Gelar Aksi Simbolis (Sumber Gambar : Nu Online)

Simpati Pada Petani Kendal, PMII STAINU Jakarta Gelar Aksi Simbolis

Aktivis PMII STAINU Jakarta, menilai putusan tersebut tidak adil.

Aksi dilanjutkan dengan shalat tobat dan tahajjud bersama. Aksi ini merupakan simbol keprihatinan atas nasib petani Surokonto Wetan yang sedang memperjuangkan keadilan di tengah ketidakpastian hukum di Indonesia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Petani adalah urat nadi pangan masyarakat Indonesia. Namun, ketika mereka sedang menjalankan tugas mulia malah diganggu. Di situlah seluruh anggota PMII Komisariat STAINU Jakarta merasa simpati dengan perjuangan yang dilakukan oleh para petani Surokonto Wetan,” kata Koordinator Aksi Ahmad Furqon.

Dihubungi terpisah, ahli hukum dari Universitas Negeri Semarang, Syukron Salam, menjelaskan dalam kasus Surokonto ini, para petani dituduh merusak hutan yang hutanya sendiri belum ada.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Bukti hutan hanya surat dari Kementerian Kehutanan yang akan menjadikan lahan Surokonto menjadi kawasan hutan. Sampai sekarang lahan yang akan dijadikan hutan tersebut masih dimanfaatkan warga sebagai ladang pertanian. Tapi kenapa pengadilan memutuskan terdakwa terbukti mengorganisasi untuk melakukan perusakan hutan yang hutannya sendiri belum ada?” kata Syukron.

Ia melanjutkan, perbuatan para petani Surokonto itu jelas bukan perbuatan merusak hutan.

“Perusakan hutan itu ada kalau terdakwa menyobek-nyobek surat penetapan hutan dari Kementerian Kehutanan, baru terdakwa terbukti telah melakukan perusakan hutan ‘kertas’ dan bisa dipenjara 8 tahun denda 10 miliar,” tegas Syukron. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Kyai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 03 Desember 2016

Pramuka Maarif NU se-Jatim Gelar Pergama di Tuban

Tuban, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sebanyak 2.440 pelajar penggalang gugus depan yang berpangkalan pada 250 SMP/MTs se-Jatim mengikuti Perkemahan Pramuka Penggalang Antar-Gugus Depan di lingkungan LP Maarif NU (Pergama) VII-2012 di Tuban pada 30 Juni - 3 Juli.

Pramuka Maarif NU se-Jatim Gelar Pergama di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)
Pramuka Maarif NU se-Jatim Gelar Pergama di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)

Pramuka Maarif NU se-Jatim Gelar Pergama di Tuban

Ia menjelaskan perkemahan itu diselenggarakan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Jawa Timur di Komplek STIT Machdum Ibrahim LP Maarif NU Cabang Tuban dengan tema "Kita Mantapkan Jalinan Ukhuwah Sesama Penggalang LP Maarif NU Jawa Timur".

Menurut dia, perkemahan pelajar SMP/MTs se-Jatim yang dilaksanakan bertepatan dengan liburan sekolah itu akan diisi berbagai kegiatan kepramukaan dan pembinaan mental dan spiritual dengan sistem evaluasi berbasis internet atau IT (information technology). 

"Karena itu setiap regu yang terdiri dari delapan orang diharuskan membawa satu laptop. Selain itu, peserta juga diharuskan membawa dua bibit pohon jati untuk setiap regu, karena mereka akan mengikuti bakti sosial di kawasan hutan mangrove," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kegiatan lainnya, out bound, safari camp, teknologi tepat guna, napak tilas walisongo, senam Pagar Nusa, seni budaya, sholat berjamaah, yasin dan tahlil, Aswaja, silaturahmi pembina, pengenalan satwa liar, kepramukaan (sandi dan morse), dan sebagainya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Pergama merupakan kegiatan kepramukaan yang diagendakan empat tahunan. Awalnya, Pergama dirintis melalui Peruga (perkemahaan regu penggalang) di Mojokerto yang diikuti Surabaya dan sekitarnya," katanya.

Setelah itu Pergama I digelar di Bangil pada tahun 1984, Pergama II di Mojokerto (1986), Pergama III di Lamongan (1986), Pergama IV di Sidoarjo (1987), Pergama V di Lumajang (2000), Pergama VI di Probolinggo (2010), dan Pergama VII di Tuban (2012).

Secara terpisah, Sekretaris Panitia Pelaksana Pergama VII-2012, Khoirul Badri mengatakan perkemahan pelajar SMP/MTs se-Jatim itu untuk pertama kalinya diisi berbagai kegiatan kepramukaan dan pembinaan mental dan spiritual dengan sistem evaluasi berbasis internet atau IT (information technology).

"Evaluasi berbasis IT itu digunakan empat kepentingan yakni evaluasi soal-soal yang diberikan secara online (soal kepramukaan dan keagamaan), evaluasi administrasi (surat izin, surat kesehatan, dan sebagainya), peserta juga bisa melakukan komplain secara online, dan pemberitaan tentang kegiatan Pergama VII-2012," katanya.

Untuk keperluan itu, panitia menyiapkan tiga server di Pusat IT (Kesekretariatan), menyiapkan satu wifi "standby" (diam) yang bekerja sama dengan Telkom, tiga wifi "mobile" (gerak) yang bekerja sama dengan Pemkab Tuban, menyiapkan 18 komputer (mobile) dan lima komputer (di Pusat IT), dan menyiapkan website/laman beralamat maarif-jatim.or.id. 

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 21 November 2016

Bertemu Kader IPNU-IPPNU, Bupati Berpesan Aswaja Tak Hanya Diwacanakan

Demak, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) kabupaten Demak melakukan silaturrahim dan audiensi dengan bupati Demak H Moh Dachirin Sa’id sebagai bentuk konsolidasi dengan lembaga pemerintahan, Sselasa (17/2) kemaren.

Bertemu Kader IPNU-IPPNU, Bupati Berpesan Aswaja Tak Hanya Diwacanakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu Kader IPNU-IPPNU, Bupati Berpesan Aswaja Tak Hanya Diwacanakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu Kader IPNU-IPPNU, Bupati Berpesan Aswaja Tak Hanya Diwacanakan

Ketua IPNU Demak Abdul Halim menjelaskan, audiensi dimaksud untuk memperkelakan kepengurusan baru yang terpilih pada awal januari lalu, dia juga menyampaikan program program pokok organisasi,disamping itu pula kepengurusan ini meminta dukungan bupati yang dulu pernah berkiprah di IPNU Demak,

“Kami audiensi pada pak bupati memperkenalkan kepengurusan baru agar beliau bisa membantu dari sumbangsih pelajar NU untuk Demak, karena pak bupati sebagai kepala pemerintahan beliau senior IPNU,” jelas Halim.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bupati Demak saat memberikan arahan, berpesan agar IPNU IPPNU Demak jangan hanya berwacana menyoal berjuang tegakkan aswaja dikota wali , harus ada langkah riil. Disamping itu pula organisasi pelajar NU ini untuk berkoordinasi dengan LP Maarif karena Maarif adalah kantung kader kader pelajar NU yang seharusnya menerima pemahaman dan pemantapan idiologi Aswaja,

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Adik -adik IPNU IPPNU saya harap tidak hanya pandai berwacana dan beretorika belaka soal Aswaja, tunjukkan langkah riil di kalangan pelajar dan warga nahdliyin,” harap Dachirin.

Sementara itu ketua IPPNU Istiqomah memastikan akan selalu berkoordisasi dengan IPNU dan LP Maarif sesuai arahan bupati.

“Kami akan selalu berkoordinasi dengan rekan rekan IPNU dan bapak kita LP Maarif agar singkron dalam menggarap pengkaderan sesuai petunjuk bapak bupati,” tegas Istiqomah.

Audiensi diikuti pengurus harian IPNU IPPNU Demak, sementara bupati Demak didampingi? SKPD terkait. (A Shiddiq Sugiarto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 16 November 2016

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kemenkominfo tidak perlu khawatir perihal pemblokiran situs bermuatan provokasi dan hasutan. Menurut Kang Said, pemblokiran itu memang kewenangan keduanya sebagai tangan pemerintah.

“NU sudah paham betul kalau kelompok Wahabi ini dibiarkan pasti selangkah lagi mereka menjadi teroris,” kata Kang Said saat diskusi bertajuk “Media Islam, Demokrasi, dan Gerakan Terorisme: Respon NU Terhadap Situs Radikal” di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (10/4) siang.

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: BNPT dan Kemenkominfo Tidak Perlu Ragu

Mereka bergerak bebas pascareformasi. Mereka mengalirkan dana dari pengusaha-pengusaha Arab Saudi yang tergabung dalam WAMI, asosiasi pengusaha Wahabi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Wahabi, kata Kang Said, tidak mengajarkan teror, tetapi ajarannya sangat radikal. Kalau tidak begini, salah, sesat, neraka. Kalau begitu, kelompok di luar mereka halal untuk dibunuh. Tinggal kesempatan, keberanian, rasa tega. Kalau sempat, berani, dan tega, mereka akan membunuh siapapun.

“Jangan sampai api dalam sekam ini berkembang besar. Sebaiknya memang diantisipasi dini. Mari kita tingkatkan kewaspadaan. Musuh kita sama. Ancaman kita pun sama,” kata Kang Said.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara Kepala BNPT Komjen Saud Usman Nasution menyambut baik dukungan kelompok Nahdlatul Ulama. “Dengan dukungan NU, alhamdulillah sudah puluhan juta orang di belakang BNPT,” kata Saud.

Kami tidak bisa sendirian. Kami sudah melakukan kerja sama dengan 17 perguruan tinggi agama Islam negeri. Terus terang, kalau sendirian kami tidak sanggup. “Kami berikut karyawan hanya berjumlah 55 orang. apa artinya jumlah segitu.”

Ia menceritakan bahwa selama ini BNPT dicecar banyak pihak. Banyak anggota DPR mempertanyakan usulan pemblokiran situs bermuatan negatif oleh BNPT. Kementerian Agama RI justru tampak kurang tegas. Ada pula pihak tertentu yang menuding rekomendasi BNPT ini merupakan konspirasi Amerika.

Belum lagi Ustadz Arifin Ilham yang melayangkan surat terbuka kepada BNPT. Menurutnya, BNPT menghalangi syiar Islam. “Apa pula semua ini. Saya pusing. Padahal ini bahaya terorisme sudah di depan mata,” kata Saud.

Staf Ahli Menkominfo Prof DR Henri Subiyanto yang juga hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa BNPT secara hukum memiliki kewenangan dalam melakukan pemantauan dan penilaian terhadap perkembangan di masyarakat yang ditilik dari sisi potensi kerawanan terorismenya.

“Secara de facto BNPT memiliki kelembagaan dengan personal yang memiliki kemampuan dalam penanganan dan pencegahan terorisme dan mampu memantaunya. Hal yang menjadi target pantauan merupakan hal-hal yang terjadi di masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya maupun saluran komunikasi lain,” kata Henri, pengajar di Universitas Airlangga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Olahraga, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 02 November 2016

Di Tengah Kemelut Warisan

“Jadi begitu, Id. Kamu bantu anak pak Samad untuk kali ini saja. Bagaimana?”

Yang ditanya hanya diam saja sembari menyeruput kopi pahit melawan dinginnya hawa lereng gunung Dempo. Ia memijit-mijit kepala seperti orang yang pikirannya sudah melanglang buana entah berlari ke mana. Sesekali ia menopang dagu dan alisnya nyaris saja bertautan. Kemudian lama terdiam dengan tatapan kosong melompong terbuang di hamparan kebun kubis.

“Zaid?” 

Di Tengah Kemelut Warisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tengah Kemelut Warisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tengah Kemelut Warisan

Ia menghela nafas panjang,”Aku sudah terlanjur kesal dengan bapaknya, si Samad itu. Bahkan kini ketika ia sudah terkubur bertahun-tahun dan tak melihatnya pun aku masih terus tak lupa dengan kepongahannya.” Wajahnya sudah mulai terasa tak menguntungkan bagi pak Kangkam yang sudah jauh-jauh datang dari Lahat kota. Lelaki bungkuk itu membetulkan cara duduknya yang tak nyaman.

“Ya itu terserah kamu. Kalau nggak mau bantu juga nggak apa-apa, nak. Masalahnya, kamu satu-satunya saudara kandung pak Samad. Selain kamu ya nggak ada lagi. Iya memang ada, tapi apa peduli mereka dengan keluarga Samad. Bapak nggak sanggup mbantu dia. Bapak saja beberapa tahun ini kan bergantung sama kamu.”

Zaid menggosok-gosok tangan dan meniupnya perlahan. Ia menatap sepiring sarapan pagi yang disediakan putrinya. Mulutnya mulai melahap singkong rebus yang ditaburi gula itu, hasil kerja tangan rajinnya di sela-sela sibuknya bertani kubis. Hanya itu saja pekerjaan yang ia lakoni 7 tahun terakhir sejak ia memutuskan untuk tinggal di kampung tempat ia dilahirkan. Istrinya sudah mendesak Zaid untuk tidak pindah dari kota. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena kota sudah cukup membahagiakan ia sekeluarga. Tapi nekad saja ia pulang. Jelas istrinya tak ingin ikut serta. Hingga 3 tahun kepergian Zaid, sang istri memutuskan untuk berpisah dan mengirim kedua anaknya ke kampung dan tinggal bersama Zaid dengan alasan ia tak sanggup membiayai mereka. 

Zaid sebenarnya menyesalkan hal tersebut terjadi. Tapi apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. “Alasan wanita tengik tak tahu diuntung. Kurang apa aku selama ini? Uang bulanan masih tetap aku kirim untuk keperluannya dan anak-anak.” 

“Sekali lagi aku nanya, Id. Kamu mau nolong dia nggak? Abdullah butuh uang itu besok untuk uang bulanan dia nyantren. Dia sudah 5 bulan nunggak. Kalau nggak segera dibayar Bedul akan dikeluarkan.”

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Masa orang pesantren tega mengeluarkan orang yang nyerap ilmu, pak? Kiai-kiai di pesantren itu orang taat agama. Mana mungkin mereka tega kayak gitu dengan Bedul. Apalagi itu katanya si Bedul sudah hafal 10 juz. Itung-itung beasiswa tahfidz begitu.”

“Orang pesantren di sana juga bukan orang-orang kaya. Mereka nggak ada dana untuk menggratiskan biaya makan, air, dan listrik.” 

Zaid tak menggubris pak Kangkam lagi. Ia langsung masuk ke dalam meninggalkan bapak angkatnya itu sendirian duduk di kursi panjang terbuat dari anyaman bambu yang baru saja Zaid beli dari pasar loak.

Pak Kangkam membiarkan tubuhnya tersender lemah di kursi. Rambutnya berwarna perak yang ia biarkan memanjang subur sebahu itu melayang-layang. Beberapa helai menggelitik wajahnya yang keriput, sapaan nakal agar disentuh oleh tangan rentanya. 

Muncul seorang gadis tinggi semampai, kuning langsat dan bersih sekali kulitnya tanpa ditumbuhi oleh bulu. Kata orang di Pagaralam kulit yang seperti itu sebenarnya kurang bagus, tapi mata tetap sedap saja memandangnya. Ia mengenakan abayya dan berkerudung selendang berwarna krem lembut. Rambutnya ia biarkan meyembul sedikit. Gadis berbibir mungil itu berumur kisaran tujuh belas tahun ke atas. Tapi entahlah.

Tak ada senyum di bawah hidung mancung itu. Ia duduk di kursi tepat  berseberangan dengan kursi tempat pak Kangkam duduk.

“Bapak masih sangat marah dengan keluarga NinekSamad. Sudah berulang kali aku menasehatinya, kalau Bedul jelas tidak tahu menahu pasal mereka berdua berselisih paham.”

“Aku tahu itu, kakek juga sudah melakukan hal yang sama. Kita lihat saja nanti sampai mana hati bapakmu akan mereda.”

Wajah gadis itu terangkat pelan dan menajam ke arah pak Kangkam. Matanya ingin sekali keluar dan membentur mata orang yang berada di hadapannya. Dengan sigap lelaki jangkung itu membuang matanya jauh. Tangannya bersilang di dada menutup kekalutan. Ia menatap seperti mencari jalan keluar yang paling cepat untuk berlari dari sengatan runcing sepasang bola mata itu.

“Aku tahu Ninek Samad dan bapakku adalah korban kerakusan pihak yang ingin untung banyak mendapatkan warisan keluarga besar buyutku.”

“Kamu masih curiga dengan kakek buyut yang sudah ikut serta membesarkan kamu ini?” Ujar pak Kangkam walau matanya masih kocar-kacir ingin mangkat.

Gadis itu mengeluarkan amplop berwarna coklat dari saku kanannya,”Ini uang 3 juta untuk Bedul. Sampaikan salamku dengan dia. Uang ini tabunganku dan aku berikan untuk Bedul tanpa sepengetahuan bapak. Lusa aku baru bisa ke sana, karena besok aku masih ada urusan.” Ia berdiri lalu langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan pak Kangkam sendirian menatap segepok uang di atas meja bundar itu.

***

Tepat 40 tahun yang lalu di bulan Juli musim kemarau. Bocah itu merengek karena baru saja meninggalkan kebahagiaan di kasur empuk, kamar yang nyamantempat ia biasa bermain ke sana kemari. Dan kiniia berpindah ke gubuk reyot di dataran yang agak tinggi. Rumah megah tempat ia kemarinberlindung masih terlihat jauh mata memandang. Hari ini ia menjadi orang pesakitan. Ia terus meraung-raung sampai larut malam. Berulang kali si ibu membujuknya untuk diam dengan janji akan dibelikan mainan baru. Bocah malang itu menangis karena nyamuk, siapa yang tahu? Entah tungau barangkali. 

Berhari-hari kemudian ia sudah mulai terbiasa dan menerima keadaan. Namun setiap sore menjelang senja terbenam ia berdiri dekat jendela di kamarnya. Ia masih setia menatap bangunan itu. Semua orang tak akan tahu perasaannya, termasuk ayah dan ibunya sendiri. Tapi ayahnya kini jungkir balik mencangkul di ladang milik orang lain. Ayah hanya mendapat imbalan sekitar 15 ribu perhari. Ia terus mencangkul dari pagi hingga sore. Tapi pintarnya bocah yang kini menjadi anak buruh tani itu. Ia selalu menyambut kedatangan pahlawannya di depan pintu dan memanggilnya penuh kasih.

“Aku rindu ayah.” Ujarnya lugu, “Kapan kita pulang lagi ke sana yah?” Jarinya menunjuk ke arah rumah megah itu.

Ayah hanya tersenyum, “Nanti kalau kamu sudah besar. Kamu yang bikin rumah seperti itu juga ya.” Bocah itu mengangguk pelan dan menatap lembut ayahnya. 

Dua minggu yang lalu bocah itu ikut menangis melihat ayah dan ibunya memuntal pakaian dan bersiap untuk pergi dari rumah warisan itu. Seharusnya ayah bocah itu yang kedapatan rumah. Sesuai dengan tradisi adat  yang sudah turun temurun, rumah adalah hak wajib bagi anak tertua dan laki-laki. Namun dua saudara dan satu saudarinya bersikeras untuk ingin mendapatkan hak yang sama. 

Mereka berpendapat tradisi itu adalah hal yang kuno. Maka dipilihlah oleh ayah mereka dengan jalan pengocokan kertas semacam ibu-ibu arisan. Nama siapa yang keluar maka dialah yang berhak sepenuhnya untuk mendapatkan rumah mewah itu. Semuanya setuju saran tersebut. Satu kali dikocok, nama ayah bocah tadi yang keluar, dua kali, sampai 5 kali nama ayahnya yang selalu keluar. Satu sama lain lunglai dengan hasil tersebut dan pasrah melihat hasilnya. Kecuali satu orang, si bungsu. 

“Hudi sudah lama mengecap kekayaan bapak, aku rasa dia sekarang sudah mandiri dan bisa mencari harta sendiri. Sedangkan aku? Nasib memang anak terakhir. Tidak akan bisa mendapatkan apa-apa.” Samad ketus.

“Hmmm, begini Mad. Aduh aku bingung bagaimana mesti menjelaskannya…” pak Kangkam gagap menimpali. Ia ikut nimbrung dalam kemelut keluarga itu. Pak Kangkam bisa disebut sebagai tangan kanannya ayah mereka.

“Aku tidak peduli bagaimanapun hasil undian tersebut. Aku hanya ingin rumah, itu saja.” Samad menepuk lantai dengan wajah merah padam. Semua yang ada di ruangan hanya tertunduk, begitupun dengan Hudi. Tapi ayah mereka hanya santai melihat kelakuan si bungsu. Ia menghisap cerutu di tangannya. Lalu menatap tenang Samad, kemudian ke arah Hudi. Tenang sekali.

“Menurutmu bagaimana Kam?”

“Anu kak ipagh (kakak ipar), sebenarnya saya setuju dengan Samad. Dia juga berhak untuk mendapatkan rumah ini. Hudi sudah besar kak, dia dan istri pasti sudah bisa menata sendiri bagaimana kehidupan dia kelak. Lihat si Samad, dia masih bujang. Belum kawin sudah diusir dari rumah kan kasihan kak.”

Ayah hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Kangkam. 

“Kalau menurutmu Hudi?”

“Sebenarnya saya keberatan ayah. Anak tertua dan sudah menikah tidak menjamin keberhasilan saya di luar rumah ini. tanggung jawab anak tunggu tubing  ((Anak yang mendapat amanah menjaga rumah warisan) kan bukan hanya perihal menempati rumah, tapi juga menjaga amanah untuk terus menjalin silaturahmi dengan sanak keluarge kundang kance.”

Samad melengos tak senang mendengar penyataan Hudi, karena menurutnya itu sama sekali tidak masuk akal, “Kau kira kau saja yang tahu silsilah turun temurun ninik puyang? Aku juga tahu.” 

“Kau ingat, Di. kau harusnya tahu dirimu sendiri. aku hanya ingin kau sadar dengan keputusanmu yang tetap menginginkan rumah. Semua orang juga tahu siapa kamu. Apa perlu aku yang memberitahu sekarang juga di depan tetangga kita?”

“Kau bicara apa, Samad?”

Samad cikikikan mendengar jawaban Hudi. Muka Hudi tenggelam bersamaan dengankenangan asal usul dirinya di dalam keluarga. Itu memang tidak layak dan sebenarnya tidak pantas jika Samad mengungkitnya di muka umum. Samad keterlaluan. Bukan, bukan,  Hudi sama sekali bukan bocah kemarin sore yang mudah merengek di depan orangtua. Apalagi sekarang buyut, ninik, mamak, dan uwaknya pun turut berkumpul. Semua tertunduk mendengar perkataan Samad barusan.

“Samad, kamu jangan gegabah begitu. Kurang baik, anakku.” Kangkam merangkul Samad yang tengah menggebu di atas angin. Kali ini ia akan mendapatkannya apa yang diinginkannya. 

“Kalau kau ingin menjaga nama baik keluarga, maka tinggalkanlah rumah ini.” 

“Bagaimanapun kau tidak layak bicara seperti itu Samad!!! Hudi tetaplah kakakmu. Soalan asal usul dia, itu hanyalah kesalahanku dan ibumu.”

Seisi rumah bungkam. Tak ada yang berani mengangkat muka. Istri Hudi menangis sendu lalu berlari meninggalkan ruangan menuju dapur sambil menggendong Zaid kecil, disusul oleh mertuanya.

Selepas itu istri Hudi tak tahu lagi apa yang terjadi. Ia hanya terisak mendengar kemelut yang terjadi di ruang tempat pemutusan hak warisan. Berulangkali ia menciumi Zaid hingga Zaid ikut menangis. Mungkin ia tahu apa yang dirasakan oleh ibunya. Yang pasti ibunya sedang bersedih, walaupun ia tak tahu sedih karena apa.

Tak lama, Hudi datang dan menarik tangan istrinya lembut.

“Kita pergi saja. Nanti bisalah kita membikin rumah sendiri yang lebih bagus. Rumah ini hanya warisan, suatu saat juga pasti harus diwariskan lagi kan? Rumah ini tidak akan pernah bisa kita miliki seutuhnya walaupun surat kepemilikanpun dijatuhi atas nama kita.” 

Ninik sangat tahu apa yang dirasakan oleh suaminya. Sedihnya tak dapat bersembunyi dari merahnya muka. Ninik terjatuh dan bersimbah memeluk kaki suaminya.

“Aku tahu apa yang kau rasakan. Jadi jangan pernah sembunyikan apapun dariku, kau tahu kan? Aku adalah dirimu, dan dirimu adalah aku.” 

Zaid ikut meraung di tengah malam mencekam itu. Esok mereka akan minggat di rumah itu. Entah ke mana, tapi yang pasti mereka akan pergi. Semalaman Hudi dan Ninik tak dapat memejamkan mata walau sebentar. Hanya Zaid yang perlahan mulai terlelap. Sesekali Ninik mengusap airmata Zaid yang tiba-tiba jatuh. Mungkin dalam mimpi ia menangis.Oh anak ini…

***

“Ayah, besok nanti aku mau ke pesantren tempat Bedul mondok. Entah kenapa aku ingin sekali menengoknya.”

Zaid hanya mengangguk pelan tanpa menoleh ke arah Atun, anak gadisnya. Usai makan malam, Atun memberesi piring kotor. Zaid langsung keluar. Kebetulan malam ini jadwalnya meronda di kampung mereka. Adam sudah lama terpekur di balai bambu tempat biasanya Zaid istirahat lepas seharian ia berkebun di ladang kubis. Di rumah itu hanya mereka bertiga saja yang tinggal. 

Terkadang pak Kangkam datang menginap sambil meminta beberapa sen uang pada Zaid,”Dasar tidak tahu malu, dia lupa akan kelakuannya pada kakek kita.” Atun menggerutu di hadapan Adam ketika melihat Kangkam datang menakuk tangan pada Zaid. Adam hanya diam saja melihat kekesalan Atun,”Sudahlah, Datuk kan sudah tua. Kasihan dia.”

Keesokan harinya Atun berangkat dari rumah menuju pesantren Bedul. Ia pergi naik angkutan kota yang biasanya ditempuh 2 jam perjalanan. Sebenarnya itu pesantren tempat ia belajar juga, tapi itu dulu ketika ia masih duduk di bangku SMP. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah berkunjung lagi di pondok itu. Entah bagaimana perubahannya, santri-santrinya, guru-gurunya, kantin tempat ia biasa nongkrong dengan teman-teman di kala istirahat, pohon jambu keras, pohon alpukat, gedung kesenian, laboratorium, dan masih masih banyak lagi kenangan di tempat itu.

 

Angkot sudah sampai di depan gerbang utama pondok pesantren. Setelah itu, Atun masih harus naik ojek menuju kompleks santri. Sepanjang perjalanan, Atun menikmati jejeran pepohonan jeruk dan jambu, juga ada kebun kopi, sayur-sayuran yang menjadi sumber ekonomi pesantren. Sesekali Atun bercerita dengan tukang ojek pesantren tersebut perihal perkembangan pesantren.

 

“Ha-ha-ha, tambah maju saja, Yuk (sebutan kakak perempuan di daerah Sumatra Selatan).”

Yah, pesantren Darul Fattah itu terkenal dengan julukannya sebagai permadani surga. Tempatnya yang jauh dari keramaian kota, masih asri, tanahnya yang tertutup oleh rumput-rumputan, bermacam warna-warni bunga, ditambah lagi hiasan kokohnya gunung Dempo yang berdiri tegak di penghujung sana. Nikmat sekali mata memandang.

“Kita anggap saja gunung Dempo itu adalah tiangnya, dan pesantren Darul Fattah adalah pasaknya. Selama Darul Fattah berdiri dan terus menegakkan kalimatul haq, selama itu pula kota ini akan terus terjaga.” Seluruh santri mengamini kata-kata sang kiai.

Ah, kenangan itu sangat kuat di memorinya. Atun berjalan menuju tempat penerimaan tamu. Oh ya, tempat itu tidak berpindah letaknya. Masih di tempat yang sama. Konon kata sang kiai pendiri pesantren, Mes itu adalah bangunan yang pertama kali didirikan. Pantas saja sudah papannya sudah kelihatan keropos walaupun dilapisi cat berwarna biru itu.

“Itu dia santri yang piket rayon.” Atun bergumam sambil mempercepat langkahnya menghampiri dua santriwan.

Beruntung dua santri itu menyambutnya dengan ramah. Jadi Atun tidak perlu bersusah payah lagi sok ramah di depan mereka. Setelah mengutarakan maksud kedatangannya, Atun dipersilakan duduk di mes sembari menunggu Bedul. 

Tidak menunngu lama, seseorang datang menuju mes. Bajunya kumal tak terurus. Aduh kasihan melihatnya. Mata Atun mulai berair. Nyaris dia tidak mengenal lagi sosok Bedul. Semasa bapaknya masih hidup, perawakan Bedul gempal sangat sehat dan bersih. Entah sudah berapa kilo berat badannya turun melihat tubuhnya sekarang yang demikian kerempeng persis seperti tiang listrik, tinggi dan kurus.

“Apa kabarmu Dul?” Atun berusaha tersenyum sambil menahan isak. Tak tahan dia melihat keadaan Bedul.

“Seperti yang kau lihat.” Ujarnya serak. Matanya tak berani menatap Atun.

Atun meraih tangan Bedul, “Kemarilah Dul. Coba cerita padaku, kenapa kau kumal sekali. Badanmu juga Dul. Kau tidak dikasih makan di sini? Atau bagaimana?”

Bedul mengusap matanya dan terisak,”Aku malu Tun. Aku nggak sanggup makan di sini. Aku hanya makan sedikit saja. Rasanya dzalim aku memakan hak orang lain.”

“Dzalim bagaimana Dul?”

“Kiai sebenarnya sudah menggratiskan biayaku selama mondok di sini. Tapi ya itu Tun, aku nggak sanggup. Aduh Tun, aku malu. Aku mau pulang tapi tidak tahu harus pulang ke mana.”

Atun terisak melihat anak malang di hadapannya kini. “Rumah peninggalan bapakmu bagaimana? Itu kan, kalau bapakmu sudah tidak ada, otomatis sudah jadi milik kamu Dul.”

“Tidak Tun. Rumah itu sudah dijual oleh bapak seminggu sebelum ia meninggal dalam keadaan sekarat.”

“Lalu uangnya? Ditaruh di mana?”

“buat bayar utang Tun. Bapak suka judi. Jadi utangnya ada di mana-mana. Uang hasil penjualan rumah habis untuk itu saja.”

“Dul, dua hari yang lalu Datuk Kangkam ke rumah bapakku. Dia bilang mau pinjam uang untuk biaya kamu. Tapi bapakku sudah kelewat kesal dengan bapakmu, tahu sendiri kan mereka sudah jadi musuh bebuyutan semenjak kejadian rumah warisan itu. Tapi aku ada tabungan Dul. Aku kasihkan uang 3 juta untuk biaya SPP dan kebutuhanmu yang lainnya.”

Bedul masih terisak di rangkulan Atun. Tangisnya makin meraung mendengar penjelasan Atun barusan.

“Tun, semenjak bapakku sakit, kakek Kangkam tidak pernah datang ke rumah lagi. Apalagi sampai mau datang ke sini menjengukku. Mana peduli dia denganku Tun.”

“Lalu?” Atun menggaruk keningnya yang tak terasa gatal sebenarnya. 

“Ya uangmu pasti dibawa kabur. Asal kau tahu saja Tun, lanang tua itu doyan judi juga. mungkin uangmu sudah habis juga. Naas memang, dia sama seperti bapakku yang tidak pernah menang judi. Tapi mereka tetap saja tidak ada kapoknya.”

Atun menghela nafas pelan-pelan. Tangisnya berubah jadi amarah yang berusaha ia pendam di hadapan Bedul. Dalam hati ia tak akan pernah memaafkan pak Kangkam lagi.

“Sudah cukup kesabaranku dan keluargaku melihat tingkah Datuk gila itu.”

Atun menatap Bedul. Anak itu masih saja terisak. Seperti bebannya terlalu banyak ia pikul karena kedunguan bapaknya.

“Dul, aku rasa aku ingin pulang. Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar keburukan orang tua itu.” Atun tersenyum.

“Kau tahu Tun? Aku tidak sanggup lagi rasanya hidup.”

“Jangan bicara begitu Dul. Kau ingat kan? Kakekku pernah menderita, bahkan ia harus memulai hidupnya dari nol lagi pasca terusir dari rumah itu. Jaga dirimu baik-baik Dul. Masa depanmu masih panjang. Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan. Lihat keturunan kakekku, semuanya baik-baik saja kan?”

Bedul mengangguk pelan, tangisnya mulai reda.

“Sekarang aku mau pulang. Ini ada sedikit uang untukmu untuk beli peralatan mandi. Bersihkan badanmu sebersih-bersihnya, dan jangan lupa makan yang lahap.” Bedul tersenyum ketir mendengar perkataan Atun.

Atun beranjak dari mes. Ia tak berani menoleh lagi ke arah Bedul. “Beda nian sekarang si Bedul.” Gumam Atun.

Sesampainya di rumah. Atun menceritakan apa saja yang baru di dengarnya dari Bedul siang tadi di hadapan Zaid dan Adam. Seperti biasa, Zaid seakan tidak peduli dengan semua kisah tentang Samad dan keturunannya. Selesai Atun bercerita, Zaid tidak menanggapi apa-apa, ia langsung merebahkan badannya di balai-balai. 

“Tun. Kau belum baca koran ya pagi tadi?” Adam bertanya pada Atun sambil memegang koran. Atun menggelengkan kepala. Adam meletakkan koran tersebut di dekat Atun.

“Baca koran tuh. Buka halaman 7.” 

Atun cepat-cepat membuka halaman 7. Ia membaca serius, sangat serius. Tak lama matanya terbelalak melihat berita itu. 

“Ini, ini, ini betulan Dam?” Atun masih merasa tak percaya dengan apa yang barusan ia baca. Adam mengangguk sambil mengaduk kopi buatannya.

“Innalillahi wa innailaihi roji’un…” kemudian Atun terdiam.

“Kau senang atau malah sedih Tun?”

“Dua-duanya Dam. Tapi tak baik juga kalau aku senang di kala ia meninggal. Entahlah Dam.”

“Kau mau melayat? Tetangga kita tadi siang ada beberapa yang ke kota Lahat. Mereka bilang tak banyak orang yang ke sana. Kabar-kabarnya ia meninggal 2 hari yang lalu. Mungkin pas ketika ia pulang dari sini. Uang 3 juta itu saja masih di kantongnya. Tapi sudah digunakan oleh warga untuk biaya pemakamannya Tun.”

“Iya Dam, tidak apa-apa. Mungkin sudah saatnya kita memaafkan datuk Kangkam.”

Kemudian Atun terdiam lama. Ia menoleh ke arah jendela. Cuaca sudah mulai temaram. Matahari sudah tergelincir ke Barat. Malam itu perasaan Atun campur aduk. Ada rasa menyesal di dalam hatinya. Ingin ia berlari ke pemakaman Kangkam dan meminta maaf sekalipun ia sebenarnya tidak bersalah. Tapi jauh di lubuk hatinya, Atun masih perlu menghormati datuk Kangkam yang sudah berusia senja itu.

Atun berjalan menuju kamarnya. Yah, dia hanya butuh istirahat dan terlelap. Lusa ia akan ke pesantren lagi menemui Bedul. Entah bagaimana Bedul menanggapi tragedi meninggalnya datuk Kangkam yang ditabrak lari oleh truk pengangkut batu bara itu. Yang pasti, Atun ingin bertemu dengan Bedul secepatnya.

Dwi Putri, Mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Meme Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 28 Oktober 2016

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sedang berada di pusaran arus konservatisme. Arus konservatisme ini utamanya melanda aspek paham dan pandangan keagamaan warga negara.?

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme

Hal itu dijelaskan Helmy dalam acara diskusi panel terbatas dengan Harian Kompas, Kamis (15/12) di Jakarta dengan tema Ketahanan Indonesia: Menagih Peran Partai Politik dan Ormas. ?

"Jika memandang Indonseia, di sana saya membayangkan ada bandul keindonesiaan. Bandul keindonesiaan ini terdiri dari dua kutub. Kutub sebelah kanan adalah agama dan kutub sebelah kiri adalah bangsa atau paham kebangsaan.?

“Posisi sekarang, bandul kita ada di sebelah kanan persis," jelas Helmy yang memberikan pemaparan bertema Peran NU dalam menjawab perubahan sosial masyarakat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dengan posisi bandul yang berada di kanan persis, lanjut pria kelahiran Cirebon ini, pandangan-pandangan yang lahir pun akan cenderung rigid dan konservatif. Pandangan keagamaan khususnya, menjadi kaku dan ketat.

Lebih lanjut Helmy mengatakan, NU dari awal berdirinya selalu menjaga posisi bandul ini agar tetap berada di tengah (moderat). Tidak ekstrem kiri yang akibatnya terlalu permisif dan liberal, sekaligus tidak terlalu kanan yang akibatnya menjadi konservatif.

"Oleh karena itu, posisi NU penting sebagai penyeimbang," jelas Helmy mengakhiri.

Dalam diskusi tersebut, hadir narasumber lain diantaranya Wapemred Harian Kompas Ninuk M. Pambudy dan Trias Kuncahyono, Gubernur Lemhannas RI Agus Widjojo, Penulis buku Negara Paripurna Yudi Latif, Direktur Politicalwave Yose Rizal, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Badul Muti, Politikus PDIP Andreas Pereira, dan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.? (Fariz Alniezar/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 21 Oktober 2016

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 12 Oktober 2016

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang

Banyumas, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan NU se-Kecamatan Ajibarang mengikuti kegiatan Jambore Hari Santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jumat-Ahad (20-22/8).

Selain santri, jambore ini juga diikuti oleh kader-kader IPNU-IPPNU, GP Ansor, Banser, Fatayat, dan Fatser yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FK GMNU) Kecamatan Ajibarang.

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang

Ketua panita kegiatan Kunarso mengatakan "Kegiatan Jambore Hari Santri ini bertujuan untuk mengenang peristiwa Resolusi Jihad para santri dan kiai 22 Oktober."

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam jihad mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia, lanjut Kunarso di hadapan ribuan peserta Jambore, Jumat (20/8) sore.

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang berharap kepada seluruh peserta yang mengikuti untuk menggunakan acara jambore ini sebagai tempat silaturahmi dan konsolidasi antarbadan otonom dan selalu nahdliyin di Kecamatan Ajibarang.

"Intinya, harus menggunakan momentum ini untuk saling bersilaturahmi dan merapatkan barisan," kata Slamet ketika ditemui usai upacara pembukaan jambore.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia juga berpesan kepada seluruh peserta jambore agar mengikuti semua kegiatan yang ada dari awal sampai penutupan.

"Hari Ahad nanti ada apel hari santri, semua peserta harus ikut," pangkas pria yang juga menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyumas itu. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah, AlaNu, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Seni lukis kaligrafi bisa menjadi semangat keimanan, ‘jembatan’ perdamaian dan inspirasi kelestarian manakala manusia menyadari bahwa pena adalah senjata pemusnah keingkaran dan keinginan yang berlebihan, dengan kitab suci sebagai jendela pemandu akal dan keinginan.

Demikian dikatakan pelukis kaligrafi Jauhari Abd Rosyad saat menjadi narasumber pada diskusi “Multicultural Calligraphy by Jauhari Abd Rosyad” di Kantor The Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Selasa (22/5). Hadir pula sebagai narasumber pada acara tersebut, Pelukis dan Sastrawan Acep Zamzam Nur.

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jauhari, begitu panggilan akrab pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu, menjelaskan, karya kaligrafi yang ia buat seluruhnya bersumber dari ayat-ayat Al-Quran. Ia mengaku ingin menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi yang ada dalam Al-Quran kepada masyarakat.

Karena itulah, tuturnya, seni lukis kaligrafi bisa menjadi jembatan bagi upaya perdamaian. Ajaran-ajaran suci Al-Quran akan bisa terwujudkan melalui karya seni menulis indah itu.

Tak hanya itu. Menurut Jauhari, seni melukis dengan tema utama ayat-ayat Al-Quran itu, sekaligus juga mampu menumbuhkan semangat religius pada penikmatnya. “Karena semua sumbernya adalah Al-Quran, maka semangat religiusitas itu akan muncul dengan sendirinya,” pungkasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senada dengan Jauhari, Acep mengatakan, kaligrafi dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber inspirasinya, memang bisa menimbulkan semangat religius bagi penikmat maupun pelukisnya sendiri. Namun hal itu sifatnya sangat subyektif, tergantung pada penafsiran penikmatnya.

“Dalam hal ini, saya punya teori ‘Bulu Kuduk’. Misal, ketika kita melihat sebuah lukisan, apapun temanya, kemudian bulu kuduk kita berdiri, maka di situlah muncul semangat religius. Artinya juga si pelukis cukup berhasil menyampaikan pesan religius yang dimaksud,” ujar Acep.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Meski demikian, dalam diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy itu, Acep mengkritik pemahaman masyarakat Indonesia tentang kaligrafi yang ia nilai salah kaprah. Menurutnya, pada dasarnya, kaligrafi adalah murni seni menulis indah dan tidak ada hubungannya dengan ajaran agama tertentu.

Kaligrafi, tambahnya, tidak terpaku pada ayat-ayat Al-Quran yang ditulis dalam huruf dan Bahasa Arab. Melainkan bisa menggunakan huruf serta bahasa mana pun. “Bisa pakai huruf Cina, Jepang, Arab, Latin, dan sebagainya. Tapi di Indonesia, kaligrafi identik dengan Arab, identik dengan Islam. Seolah-olah kaligrafi adalah Islam,” paparnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pemurnian Aqidah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 03 Oktober 2016

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Bogor, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Akhir kepengurusan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor masa khidmat 2015 ditandai dengan terselenggaranya Musayawarah Besar yang berlangsung 28-29 November 2015.

Bertempat di RK AGB 202 Kampus IPB Darmaga, Musyawarah Besar yang terdiri atas penyampaian Laporan Pertanggungjawaban, penetapan dan pengesahan kembali AD/ART, serta pemilihan ketua dan dewan pertimbangan ini dihadiri oleh peserta yang berstatus anggota tetap, anggota sementara, dan undangan.

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Musyawarah Besar yang sedianya dilaksanakan hanya sehari pada Sabtu, terpaksa dilanjutkan pada hari Ahad (29/11) dikarenakan pembahasan AD/ART yang memakan waktu cukup lama sehingga pemilihan ketua tidak bisa dilakukan pada hari itu juga.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Salah satu peserta Musyawarah Besar, Adhli, menyampaikan pendapatnya mengenai lamanya waktu pembahasan AD/ART KMNU IPB tahun ini. Menurutnya, pembahasan yang lama hanya merupakan dampak dari usaha segenap anggota untuk memberi sekaligus mendapat pendidikan dari adanya Musyawarah Besar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Dalam Mubes, kami berharap semua anggota bisa belajar untuk menyampaikan pendapat dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap KMNU melalui kontribusi pemikirannya. Tidak apa kalau (berlangsung-red) sedikit lama,” ungkapnya.

Setelah pembahasan dan pengesahan kembali AD/ART, agenda Musyawarah Besar dilanjutkan dengan pemilihan ketua KMNU IPB masa khidmat 2015/2016. Dari empat calon,  terpilihlah Hamzah Alfarisi, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan IPB sebagai pimpinan tertinggi organisasi mahasiswa yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ini.

Sebelumnya, empat calon ketua tersebut merupakan orang-orang yang telah disepakati oleh forum khusus melalui serangkaian pertimbangan untuk kemudian diajukan menjadi calon ketua KMNU IPB. Meski sempat berlangsung alot, pemilihan ketua KMNU IPB ini dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan melalui musyawarah dan lobi mufakat.

Ketua KMNU IPB terpilih, Hamzah, menyampaikan harapannya untuk bisa melebarkan sayap organisasi dan meningkatkan kualitas anggota KMNU IPB. “Harapannya, KMNU IPB bisa lebih berkembang khususnya di lingkungan kampus ini sendiri,” ujarnya.

Musyawarah Besar KMNU IPB ini ditutup dengan pemilihan ketua Dewan Pertimbangan yang memiliki wewenang koordinatif dengan ketua KMNU IPB. (Tashwirul Afkar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Hadits, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 16 September 2016

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria

Turut berbahagia atas kebahagiaan tetangga, sahabat, dan kenalan lainnya merupakan bentuk solidaritas sesama manusia. Sedangkan menyatakan kebahagiaan di depan mereka yang berbahagia bernilai sedekah sebagaimana dianjurkan Rasulullah SAW. Dari sini kita dianjurkan untuk menghadiri perkawinan mereka.

Ketika berjabat tangan dengan mempelai pria, kita perlu mengucapkan selamat atas perkawinannya. Berikut ini doa yang bisa dibaca di hadapan mempelai pria.

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa untuk Pengantin Baru/Mempelai Pria

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bârakallâhu laka, wa bâraka ‘alaika, wa jama‘a bainakumâ fî khairin wa ‘afiyah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Artinya, “Semoga Allah SWT memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah SWT menyatukan kamu berdua dalam kebaikan dan ‘afiyah,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Doa ini dibaca dengan harapan Allah SWT memberikan kemaslahatan berumah tangga bagi kedua mempelai. Kemaslahatan ini juga diharapkan berpulang untuk undangan yang hadir mendoakan mempelai. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 13 September 2016

Halaqah Kiai dan Nyai di Bogor Hasilkan Deklarasi Islam Damai dan Keindonesiaan

Bogor, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Halaqah Kiai dan Nyai 2017 yang diselenggarakan Pusat Studi Pesantren (PSP) pada 4-6 Desember 2017 di Bogor, Jawa Barat menghasilkan sebuah deklarasi untuk memperkuat perdamaian dan keindonesiaan.

Deklarasi yang dinamakan Deklarasi Kiai Pesantren untuk Islam Perdamaian dan Keindonesiaan ini ditandatangani oleh 50 kiai dan nyai pengasuh dan pimpinan pondok pesantren se-Indonesia.

Direktur Pusat Studi Pesantren Achmad Ubaidillah mengatakan, peran sentral para kiai dan nyai dalam memperkuat Islam damai dan keindonesiaan melalui tradisi keilmuan pesantren mempunyai posisi yang sangat strategis.

Halaqah Kiai dan Nyai di Bogor Hasilkan Deklarasi Islam Damai dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah Kiai dan Nyai di Bogor Hasilkan Deklarasi Islam Damai dan Keindonesiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah Kiai dan Nyai di Bogor Hasilkan Deklarasi Islam Damai dan Keindonesiaan

“Deklarasi ini merupakan komitmen bersama para kiai dan nyai untuk terus memperkuat pondok pesantren sebagai basis penguatan keindonesiaan dan Islam damai,” ujar Ubaidillah, Rabu (6/12) didampingi Nyai Hj Ruqayyah dari Pondok Pesantren Al-Ma’shumiy Bondowoso, KH Acep Zaki Mubarok dan Nyai Hj Ida Nurhalida dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya.

Berikut teks lengkap Deklarasi Kiai Pesantren untuk Islam Perdamaian dan Keindonesiaan yang ditandatangani pada 17 Rabi’ul Awal 1439 H atau 6 Desember 2017 di Bogor.

Deklarasi Kiai Pesantren untuk Islam Perdamaian dan Keindonesiaan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bahwa segenap elemen masyarakat dengan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan modal yang tidak ternilai dalam upaya menyatukan langkah dan arah dalam mengisi pembangunan bangsa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan





Bahwa krisis kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia yang semakin mengarah pada ancaman disintegrasi bangsa, rendahnya kualitas pendidikan agama Islam sehingga berdampak pada menguatnya pemahaman agama yang cenderung intoleran, eksklusif, dan radikal.





Bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang membawa pemahaman Islam yang tawasuth (moderat), tawazun (proporsional), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil) merupakan inspirasi untuk membangun kehidupan, beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang adil, makmur, dan sejahtera.





Bahwa para kiai, ustadz, dan seluruh elemen pesantren memiliki peran sentral dan strategis dalam mengembangkan kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang dibangun atas prinsip Islam rahmatan lil alamin.





Maka, stas berkat Rahmat dan Ridho Allah dan mengharap syafa’at Rasulullah SAW, pada hari ini, Rabu, 17 Rabi’ul Awal 1439 H bertepatan dengan 6 Desember 2017, bertempat di Bogor, kami mendeklarasikan diri untuk:





1. Berkomitmen tinggi mendakwahkan Islam rahmatan lil’alamin melalui berbagai Media, baik lisan, tulisan, maupun tindakan. 





2.Menjunjung tinggi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang-Undang Dasar 1945 (PBNU).





3. Berjuang melawan segala bentuk radikalisme beragama baik melalui lisan, tulisan, maupun tindakan. 





4. Berkontribusi untuk menjaga jiwa dan raga bangsa Indonesia pada umumnya dan Muslim pada khususnya dari segala pemahaman doktrin agama yang merusak tatanan kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama. 





5. Mengajak seluruh umat Islam pada umumnya dan santri serta Asatidz pada khususnya untuk mendakwahkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Fragmen Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 11 September 2016

Bolehkah Ada Dua Shalat Jamaah Bersamaan dalam Satu Masjid?

Shalat berjama’ah lebih baik daripada shalat sendirian. Allah SWT memberikan pahala berlipat ganda dan banyak bonus kepada orang yang melakukan shalat jama’ah. Terlebih lagi bila shalat tersebut dilakukan di masjid. Sampai saat ini semangat umat Islam untuk meramaikan masjid dengan shalat jama’ah masih sangat tinggi. Hal tersebut terlihat di sebagian besar masjid perkotaan maupun pedesaan.

Beberapa kali ditemukan di sebagian masjid adanya beberapa jama’ah dalam satu masjid. Ini biasanya terjadi pada saat makmum datang terlambat dan tidak sempat mengikuti shalat bersama imam tetap masjid tersebut. Akhirnya dia memilih orang lain atau dirinya sendiri untuk mengimami shalat. Namun pada saat yang sama, sebagian yang lain juga mendirikan shalat jama’ah. Padahal keduanya masih berada dalam satu masjid.

Bolehkah Ada Dua Shalat Jamaah Bersamaan dalam Satu Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bolehkah Ada Dua Shalat Jamaah Bersamaan dalam Satu Masjid? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bolehkah Ada Dua Shalat Jamaah Bersamaan dalam Satu Masjid?

Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam kitabnya Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu menjelaskan:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dimakruhkan mendirikan beberapa shalat berjama’ah dalam satu waktu (satu masjid) karena dapat menganggu (jama’ah lain).”

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pelaksanaan dua shalat jama’ah dalam satu masjid hukumnya makruh menurut Syekh Wahbah. Dihukumi makruh karena dapat menganggu pelaksanaan jamaah shalat lainnya. Dengan demikian, alangkah baiknya dalam satu masjid tidak terdapat dua shalat jama’ah.Bagi orang yang ingin shalat di masjid seyogianya tidak membuat jama’ah baru dan mengikuti shalat jama’ah yang sedang berlangsung. Apabila tetap bersikukuh membuat jama’ah baru, lebih baik dilakukan di luar masjid atau menunggu jama’ah lain selesai melaksanakan shalat. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Quote, Kyai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 28 Agustus 2016

GP Ansor Padang Pariaman Turut Berduka atas Korban Gempa di Koto

Padang Pariaman, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padang Pariaman mendatangi keluarga korban gempa yang terjadi Jumat (1/9) dini hari di Korong Kampung Surau, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Padang Pariaman. Korban mahasiswa STIE Sumbar semester 3 bernama Nerfi Dewi Yanti (21).

GP Ansor Padang Pariaman Turut Berduka atas Korban Gempa di Koto (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Padang Pariaman Turut Berduka atas Korban Gempa di Koto (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Padang Pariaman Turut Berduka atas Korban Gempa di Koto

Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana yang datang Sabtu (2/9), ke rumah duka, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. "Ansor Padang Pariaman turut berduka dengan peristiwa yang menimpa Nerfi," kata Zeki yang didampingi Sekretarisnya Alva Anwar dan pengurus lainnya.

Laporan dari Kasatkorcab Banser Ansor Padang Pariaman Muhammad Zulfadly yang disampaikan pihak keluarga, Nerfi (21) meninggal dunia usai gempa terjadi.?

Sebagaimana dirasakan masyarakat di Padang Pariaman, Jumat (1/9) pukul 00:06:54 WIB terjadi gempa yang berpusat di Lintang Selatan 99.66 bujur timur di kedalaman 10 km. Ketika gempa terjadi, Nerfi diperkirakan berusaha membuka pintu rumahnya untuk menyelamatkan diri. Sial baginya, Saat lari melewati pintu, lehernya terkena gagang pemuka pintu yang cukup fatal. Beberapa menit kemudian Nerfi langsung meninggal dunia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Korban tidak sempat mendapatkan perawatan medis. Nerfi keburu mengembuskan napas terakhir.

Korban Nerfi merupakan keponakan Walinagari Lurah Ampalu Syofyan, anak dari M.Nur dan Surniyati. Dari empat orang anak M.Nur dan Surniyati, tiga di antaranya meninggal dalam kondisi yang mengenaskan, kecelakaan. Termasuk Nerfi.

Menurut Zeki Aliwardana, peristiwa ini terjadi salah satu disebabkan kurangnya sosialisasi kepada masyarakat bagaimana cara menghadapi tanggap bencana, khususnya gempa yang sering melanda wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Daerah ini rawan akan bencana gempa bumi.

"Kejadian ini dipicu karena tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa sedang berlangsung," kata Walinagari Lurah Ampalu Syofyan menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 24 Agustus 2016

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah

Padangpariaman, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Wartawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan di Sumatera Barat, Armaidi Tanjung, menerima penghargaan dari Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) Kabupaten Padangpariaman sebagai Tokoh Dakwah Pembangunan 2015 dengan kategori Dakwah Pembangunan Pengkaderan. Penyerahan penghargaan bersamaan dengan 10 penerima lainnya dengan berbagai kategori.

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wartawan NU Online Sumatera Barat Terima Penghargaan Dakwah

Ketua MDI Padangpariaman Rahmat Tuanku Sulaiman saat penyerahan, Sabtu (31/19), di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat, menyebutkan penghargaan diberikan kepada sebelas tokoh dengan berbagai kategori yang dianggap sudah berbuat di tengah masyarakat.

"Selama ini banyak orang hanya mencaci maki dan mencela kekurangan yang sudah dilakukan seseorang. Tidak banyak orang yang memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah dilakukan oleh seseorang. Penghargaan ini diberikan MDI Padangpariaman, karena apa yang dilakukannya bernilai positif terhadap masyarakat," kata Rahmat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mereka yang menerima penghargaan Tokoh Dakwah Pembangunan 2015 masing-masing Bupati Padangpariaman 2010-2015 Drs. H. Ali Mukhni? kategori Dakwah Pembangunan Berkelanjutan, mantan Wakil Gubernur Sumbar Drs. H. Muslim Kasim, Ak, MM, Dt Sinaro Basa kategori Dakwah Pembangunan Adat dan Budaya,? anggota DPR RI H. Jhon Kenedy Azis, SH kategori Dakwah Pembangunan Kampung Halaman.

Pimpinan Pondok Pesantren Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan kategori Dakwah Pembangunan Pendidikan Ulama, Ketua MUI Padangpariaman Dr. Zainal Tk Mudo, M.Ag kategori Dakwah Pembangunan Syiar Islam, Ketua BAZNAS Padangpariaman Syamsuardi Surma, S.Sos kategori? Dakwah Pembangunan dan Pembedayaan Zakat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara Ketua Yayasan Pesantren Nurul Yaqin Drs. Idarussalam Tuanku Sutan kategori Dakwah Pembangunan Manajemen Pesantren, Ketua PC GP Ansor Padangpariaman Zeki Ali Wardana,? kategori Dakwah Pembangunan Generasi Muda,? Kontributor Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Armaidi Tanjung kategori Dakwah Pembangunan Pengkaderan, Ketua PC IPNU Padangpariaman Fauzan Ahmad Tk Malin Sinaro kategori Dakwah Pembangunan Pelajar.

Penyerahan penghargaan disaksikan sekitar 200 para ulama, alumni Pesantren Nurul Yaqin, guru dan santri Pesantren Nurul Yaqin.

Ali Mukhni dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas penghargaan yang diberikan. Namun penghargaan tersebut menjadi beban tersendiri yang menerimanya. "Dengan adanya penghargaan tersebut, berarti kami harus lebih baik lagi di masa depan dalam menjalankan aktifitas yang sudah dilakukan selama ini," kata Ali Mukhni.

Sedangkan Jhon Kenedy menyampaikan pentingnya peran? pondok pesantren dalam pembangunan sumber daya manusia. Pondok pesantren merupakan lembaga yang akan melahirkan para ulama sebagai penerang umat. "Kita prihatin dengan kondisi banyaknya muncul paham-paham keagamaan yang bermasalah di tengah masyarakat. Agama yang seharusnya menjadikan manusia hidup damai, tenang, nyaman dan rukun, ternyata menimbulkan kesengsaraan akibat salah memahami agama. Untuk itu butuh ulama yang akan meluruskannya. Hanya ulama yang mampu meluruskan pemikiran dan paham yang sudah tidak tepat lagi. (Red: Abdullah Alawi)

?

Keterangan foto:

No. 1 Foto bersama Ketua PC Ansor Padangpariaman Zeki ALiwardana, Kontributor Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Armaidi Tanjung (tengah) dan Ketua PC IPNU Padangpariaman

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 14 Agustus 2016

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Himpunan Mahasiswa Aswaja (Hima) Bandung pada tasyakuran Hari Kemerdekaan Ke-69 RI membuka pengajian akbar bertajuk “Nusantara Bersatu” di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Mereka dalam kesempatan ini berdoa untuk warga di Gaza Palestina yang dipandu oleh penyampai taushiyah Ustadz Ahmad Ihsan yang dikenal sebagai ustadz Cepot.

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

Menurut ustadz Cepot, kemerdekaan sebuah bangsa diraih tidak dengan mudah. Dengan senjata bambu runcing, orang Indonesia mengadakan perlawanan dengan pasukan NICA yang bersenjatakan teknologi canggih.

“Tapi ternyata dengan rahmat Allah tepat pada Jum’at hari yang barokah Indonesia berhasil mengibarkan benderanya, teriakan suara rakyat terkenal ke seluruh dunia, menggegerkan api jagad, merdeka dan merdeka,” kata ustadz Cepot, Sabtu (16/8) malam.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sedangkan upaya mempertahankan dan mengisi alam kemerdekaan tidak kalah sulitnya. Pengasuh pesantren Ibadur Rahmah, Tangerang ini menambahkan, upaya yang perlu dilakukan dalam mengisi kemerdekaan adalah menuntut ilmu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ilmu, kata ustadz Cepot, kunci semua kebaikan. “Untuk itu, sumber daya manusia rakyat Indonesia harus meningkat. Ibu boleh miskin, bapak boleh miskin, tapi anak harus pintar, cerdik, dan mapan,” tegasnya.

Di akhir taushiyah, ia mengingatkan perihal cara kader Aswaja mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Zikir, tahlil, dan doa-doa merupakan cara tasyakuran yang baik. “Ini contoh Aswaja pada malam ini, diisi dengan pengajian,” tandas ustadz Cepot. (Muhammad Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 13 Agustus 2016

Ikatan Alumni Suriah: Perlu 3 Pilar dalam Bela Negara

Surabaya, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Konferensi Internasional Bela Negara yang diselenggarakan oleh Jam’iyah Ahlith Thoriqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (JATMAN) di Pekalongan, Jawa Tengah tidak hanya dihadiri oleh peserta dari 40 negara, namun juga oleh segenap ormas dan instansi dalam negeri, di antaranya adalah Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami), yaitu lembaga yang mewadahi eks pelajar Indonesia di Suriah.

Ikatan Alumni Suriah: Perlu 3 Pilar dalam Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikatan Alumni Suriah: Perlu 3 Pilar dalam Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikatan Alumni Suriah: Perlu 3 Pilar dalam Bela Negara

Menurut Alsyami, Bela Negara merupakan kewajiban seluruh elemen bangsa dan perlu mempunyai tiga pilar, yaitu ulama, pemerintah dan masyarakat. “Konferensi semacam ini merupakan salah satu role yang harus dimainkan oleh ulama dalam Bela Negara,” ujar Sekjen Alsyami, M. Najih Arromadloni dalam rilisnya, Ahad (31/7) yang hadir di konferensi tersebut bersama Ketua Alsyami KH Ahmad Fathir Hambali.

Berdasarkan pengamatannya terhadap kondisi Timur Tengah, Najih menyatakan bahwa, ulama perlu bersinergi dengan pemerintah, karena Bela Negara tidak hanya menyentuh aspek agama atau kultural saja, namun juga politik dan ekonomi, keduanya merupakan kewenangan pemerintah.?

Pemerintah perlu menciptakan kesejahteraan dan mewujudkan kehidupan bernegara yang adil. Ia menambahkan bahwa, di Timur Tengah mayoritas ulamanya adalah moderat, namun karena pemerintah tidak mampu menciptakan iklim politik dan ekonomi yang setara, serta tidak mampu memegang kendali atas kondisi dalam negeri, maka yang terjadi adalah chaos.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pilar ketiga menurutnya, adalah masyarakat, tanpa partisipasi dan dukungan masyarakat, maka fatwa ulama tidak akan memberi pengaruh pada kehidupan sosial. Di sinilah pentingnya masyarakat mayoritas yang moderat untuk menyuarakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Jangan sampai suara mayoritas dibajak oleh minoritas yang radikal,” Najih menegaskan.

Sementara itu, Ketua Alsyami, KH Ahmad Fathir Hambali menyatakan, bahwa pihaknya mengapresiasi konferensi yang digelar atas kerja sama dengan Kementerian Pertahanan RI ini.?

Baginya konferensi semacam ini penting untuk memperluas ruang gerak ulama-ulama Aswaja dalam menebar Islam yang menjunjung tinggi persatuan, kecintaan terhadap tanah air, dan membawa perdamaian, sesuai misi Rasulullah SAW. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sholawat, Nusantara, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 29 Juli 2016

Generasi Muda Harus Membangun Etos Kerja

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Para generasi muda, khususnya pemuda Ansor dan Banser di Kabupaten Probolinggo jangan pernah malu untuk bekerja dan berusaha. Dengan kata lain harus membangun etos kerja. Sebab jika malu dan malas, maka nantinya akan menjadi seorang pengangguran.

Generasi Muda Harus Membangun Etos Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda Harus Membangun Etos Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda Harus Membangun Etos Kerja

Statemen tersebut disampaikan oleh Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H Hasan Aminuddin dihadapan puluhan pemuda Ansor dan Banser dalam tasyakuran peringatan HUT Kota Kraksaan ke-7 sebagai ibukota Kabupaten Probolinggo, Selasa (31/1) malam.

“Jangan sampai menganggur karena nantinya akan menjadi teman setan. Jangan pernah malu, karena bekerja itu wajib hukumnya. Apalagi Rasulullah SAW itu adalah seorang pekerja keras, masak kita sebagai umatnya malas dan malu bekerja,” katanya.

A’wan PWNU Jawa Timur ini juga meminta kepada para generasi muda supaya senantiasa menjauhi narkoba dan minuman yang beralkohol. Sebab hal itu haram hukumnya. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kita sebagai warga NU, bermadzhab Syafi’i. Dimana orang yang mengkomsumsi alkohol meskipun setetes maka 40 hari amal ibadahanya ditolak oleh Allah. Jauhilah, kalalu ingin terhibur ikutilah budaya NU,” jelasnya.

Terkait dengan HUT Kota Kraksaan Hasan meminta agar para generasi muda tidak melupakan sejarah dan bisa cerita kepada anak cucunya. Sehingga nantinya para generasi muda bisa berperan serta dengan mengisinya dengan berbagai kegiatan yang positif.

“Para pemuda Ansor dan Banser wajib ambil peran dalam mengisi pembangunan di Kabupaten Probolinggo. Caranya dengan mengembangkan potensi dirinya untuk menghasilkan produk usaha yang produktif sehingga mampu mengangkat perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, Ahlussunnah, Cerita Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan