Sabtu, 27 Februari 2016

Dakwah Aswaja Harus Kaya Strategi dan Saling Bersinergi

Surabaya, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. PW Aswaja NU Center Jawa Timur menyelenggarakan rapat koordinasi. Kegiatan yang diikuti utusan PC Aswaja NU Center se-Jatim ini sebagai upaya melakukan pemantauan sekaligus memberikan arahan bagi kontinuitas di sejumlah kepengurusan Aswaja di daerah. Dalam forum ini ditehaskan, dakwah Aswaja NU harus kaya dengan strategi dan saling melengkapi serta bersinergi.

Dakwah Aswaja Harus Kaya Strategi dan Saling Bersinergi (Sumber Gambar : Nu Online)
Dakwah Aswaja Harus Kaya Strategi dan Saling Bersinergi (Sumber Gambar : Nu Online)

Dakwah Aswaja Harus Kaya Strategi dan Saling Bersinergi

KH Abdurrahman Navis selau Direktur PW Aswaja NU Center Jatim mengemukakan, bahwa tantangan yang dihadapi di sejumlah kota dan kabupaten nyaris seragam. "Ini adalah pekerjaan bersama yang harus diimbangi dengan konsistensi semua pihak khususnya pengurus Aswaja NU," katanya, Sabtu (12/12).

Kiai Navis, sapaan akrabnya kemudian menjelaskan, pekerjaan terberat bagi Aswaja NU Center di daerah adalah berupaya untuk terus konsisten dengan kiprah yang dilakukan. "Karenanya diharapkan para pengurus di daerah bisa menggandeng kalangan anak muda NU yang memiliki keahlian dan semangat yang tinggi," tegas Wakil Ketua PWNU Jatim ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengasuh Pesantren Nurul Huda Surabaya ini kemudian menyontohkan para pegiat PW Aswaja NU Jatim yang diisi para santri dan mahasiswa dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keahlian. "Kita sapa dan optimalkan mereka untuk menjadi ujung tombak Aswaja," terangnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

PW Aswaja NU Center sendiri memiliki lima devisi yakni Kiswah atau Kajian Ahlussunnah wal Jamaah, Dakwah atau Daurah Ahlussunnnah wal Jamaah, Makwah (maktabah Ahlussunnah wal jamaah) serta Uswah atau usaha sosialisasi Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam rapat kordinasi yang berlangsung di Kantor PWNU Jatim lantai 3 tersebut muncul sejumlah ikhtiar yang dilakukan sejumlah Aswaja NU Center usai menyelenggarakan daurah Aswaja. "Prinsipnya, seluruh kota dan kabupaten se-Jawa Timur telah melakukan banyak kreasi bagi tersebarnya Aswaja di berbagai tempat," tandas Kiai Navis.

Seluruh kegiatan dapat disandingkan dengan kajian rutin, saat turba maupun bekerjasama dengan berbagai media lokal baik televisi, radio hingga koran dan website. "Soal media apa yang digunakan, terserah kepada masing-masing kota dan kabupaten," tandas Kiai Navis. Namun, lanjutnya, materi yang harus disampaikan sejak awal adalah seputar devisi Aswaja NU, kemunculan firqah di kalangan umat Islam, serta dalil yang mengungkap kebenaran tradisi Islam di masyarakat.

PW Aswaja NU Center Jatim sebagaimana komitmen sejak awal, akan terus mendampingi dan memberikan dukungan terhadap sejumlah ikhtiar yang dilakukan kepengurusan di berbagai daerah. "Prinsipnya kami akan selalu support atas usaha dan jerih payah yang dilakukan kepengurusan di bawah. Karena gerak Aswaja harus memiliki banyak cara dan strategi dan melengkapi," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Foto: Suasana rapat koordinasi PW Aswaja NU Center bersama kepengurusan di daerah se-Jatim.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nasional, Tegal Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 24 Februari 2016

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan

Kulon Progo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Seusai muktamar, persaudaraan harus dijalin dengan sebaik mungkin. Karena sejatinya dalam muktamar adalah momentum merekatkan persaudaraan. Kalaupun ada perbedaan, itu wajar dan alamiah. Semua justru menjadi semangat agar persaudaraan bisa semakin rekat. Momentum syawalan sekaligus melengkapi semangat persaudaraan pasca-muktamar.

Demikian yang disuarakan Keluarga NU Kulon Progo dalam acara Syawalan Bersama PCNU Kolon Progo, LP Maarif NU, PC Mulimat NU Kulon Progo, Pamitan Calon Jamaah Haji KBIH Muslimat NU KP, dan Pelantikan PCNU Kulon Progo, pada Jumat, 07 Agustus 2015.  

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga NU Kulon Progo Gelar Syawalan

Acara yang dihadiri para tokoh NU Kulon Progo ini hadir dengan semangat muktamar sekaligus semangat syawalan. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pelantikan PCNU Kulon Progo dilakukan Rais Syuriyah PWNU DIY, KH Asyhari Abta. Sementara dalam tausiyah, menghadirkan KH Ahmad Ishomuddin, rais syuriyah PBNU. PCNU Kulon Progo kembali dipimpin oleh KH Saefudin sebagai rais syuriyah dan H. Wasiluddin sebagai ketua tanfidziyah. (Madun/Mukafi Niam)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan, Makam, Cerita Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 19 Februari 2016

Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang

Era sekarang adalah era ekonomi pengetahuan. Zaman di mana mesin dan komputer sudah menggantikan sebagian besar pekerjaan fisik manusia. Pengetahuan dan kreativitaslah yang belum bisa dilakukan oleh benda canggih tersebut. Karena itu, negara yang maju adalah yang memiliki orang-orang yang kreatif dan inovatif. Untuk menciptakan manusia yang berpengetahuan dan kreatif, maka salah satu kuncinya adalah di guru yang mengajar tunas-tunas muda harapan bangsa.

Para guru menentukan baik buruknya sebuah masyarakat pada 20-30 ke depan saat para siswanya sudah menduduki jabatan strategis sebagai pengambil keputusan. Jika siswa diajar dengan baik, maka peradaban juga berkembang dengan baik, hal sebaliknya juga berlaku. Negara-negara yang memperhatikan sektor pendidikannya, seperti Finlandia, Swedia, dan Denmark terbukti menjadi negara yang maju dengan karya-karya yang inovatif.

Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru NU, Perjalanan yang Masih Panjang

Kesadaran publik tentang pentingnya meningkatkan kualitas guru sudah meningkat. Jika dulu profesi guru disebut dengan pahlawan tanpa tanda jasa, artinya diminta bekerja keras untuk memintarkan murid, tetapi imbalan yang diterima sangat kecil, kini semuanya sudah berubah. Banyak orang tertarik menjadi guru karena penghasilannya memadai setelah pemerintah menggulirkan dana tunjangan sertifikasi yang berlaku baik bagi guru PNS atau non-PNS yang sudah memenuhi standar tertentu. Harapannya, jika penghasilan memadai, maka mereka bisa fokus mengajar para siswa yang ujung-ujungnya, siswa menjadi pintar. Untuk itu, juga ada aturan bahwa guru harus mengajar sesuai dengan bidang keahlian yang ditekuninya. Tidak bisa seorang lulusan fakultas agama mengajar matematika sebagaimana yang pernah terjadi di masa lalu. Semuanya dengan harapan agar kualitas pengajaran menjadi lebih baik.

Meskipun pemerintah sudah mengalokasikan dana yang besar, misalnya pada 2016 ini saja, terdapat 46.4 triliun untuk tunjangan profesi guru, kualitas pendidikan belum juga beranjak naik. Berbagai indikator pendidikan internasional menunjukkan posisi Indonesia masih rendah. Human Development Index (HDI) Indonesia dalam lima tahun terakhir masih di kisaran 110, setara dengan nilai 0.684 dan dalam urutan negara ke-110, di bawah Botswana (106), Moldova (107), Mesir (108), Turkmenistan (109), dan menempati posisi yang sama dengan Gabon (110).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumlah guru yang mencapai angka sekitar 3 juta sebenarnya sudah cukup dilihat dari rasio siswa dan guru yang menanganinya. Sayangnya, penyebarannya yang kurang merata, terutama di luar Jawa yang infrastrukturnya belum memadai. Guru masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dengan fasilitas penunjang lengkap.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ada persoalan lain terkait dengan jumlah guru yang sudah mendapat dana tunjangan sertifikasi. Banyak di antara mereka yang memanfaatkan dana tunjangannya bukan untuk mengembangkan ilmu atau kapasitasnya sebagai guru sebagaimana diniatkan oleh pemerintah, tetapi memanfaatkannya untuk kepentingan yang sifatnya konsumtif seperti beli mobil, beli tas atau baju mahal, dan hal-hal yang tidak mendorong produktivitas dirinya sebagai guru. Ini tentu problem lain yang lebih mendasar sebagai sebuah bangsa tentang etos kerja atau kebutuhan untuk pencapaian sesuatu yang lebih rendah. Ini berangkat dari budaya yang kurang kompetitif dalam menghadapi dunia masa depan yang lebih keras. Mereka sudah puas dengan apa yang ada, dan mengajar kepada para siswanya apa adanya.

Para guru yang bergabung dengan Persatuan Guru NU (Pergunu) menghadapi problem yang lebih kompleks lagi karena terdiri dari guru-guru swasta yang masih berjuang dalam mengatur dirinya sendiri. Banyak di antara mereka yang belum mendapat dana tunjangan sertifikasi, mengajar di sekolah swasta yang pendanaan dan fasilitasnya juga masih terbatas serta problem-problem pendidikan lain. Kongres Perguru yang berlangsung pada 26-29 Oktober di Mojokerta diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan mendasar tersebut. Apa yang dihadapi oleh Pergunu, menjadi cermin dari permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan NU. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 10 Februari 2016

Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan KH Dr Idham Chalid adalah tokoh besar bangsa dengan pemikiran yang besar pula.



Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar

Dalam sambutan takziahnya di rumah duka kawasan Pondok Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Senin, Presiden menyatakan Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa dengan meninggalnya Idham Chalid pada usia 88 tahun Ahad 11 Juli 2010 pukul 08.00 WIB.

"Kita mengenal beliau adalah tokoh besar dengan pemikiran besar dan jasa sangat besar pula," ujar Kepala Negara yang datang melayat tanpa didampingin Ani Yudhoyono.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di bidang pemerintahan, kata Presiden, Idham Chalid telah aktif bergelut sejak usia muda dengan dua kali menjabat wakil perdana menteri II pada era mantan Presiden Soekarno.

Setelah pergantian kepemimpinan kepada Presiden Soeharto, Idham pun melanjutkan pengabdiannya kepada negara dengan menjabat sejumlah posisi menteri, Ketua MPR/DPR, dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di bidang pergerakan dan organisasi Islam, kata Presiden, Idham yang meninggal dunia setelah sepuluh tahun berjuang melawan penyakit stroke dideritanya juga meninggalkan nama besar karena 28 tahun memimpin Nadhlatul Ulama dengan segala kepemimpinan dan prakarsanya.

"Kita mengenang beliau pada saat penataan kehidupan politik di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau juga seorang tokoh arsitek yang dengan kearifan luar biasa ikut menata kehidupan partai politik dan diterima dengan ikhlas oleh semua," tutur Presiden.

Menurut Presiden, jasa Idham Chalid terlalu banyak untuk diungkapkan dalam bidang pemerintahan, kehidupan negara, serta kemajuan berpikir umat Islam.

"Sampai dengan kegiatan politik yang penuh dengan amanah dan pikiran-pikiran yang aplikatif dan bisa diterima oleh semua pihak," ujarnya.

Atas nama negara, pemerintah, dan pribadi, Presiden yang mengenakan setelan safari hitam dan peci hitam mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Idham Chalid.

Kepala Negara yang melayat sekitar 15 menit juga mendoakan agar mendiang mendapat tempat kembali yang baik di sisi Allah SWT.

Setelah Presiden Yudhoyono melayat, jenazah Idham Chalid dishalatkan di masjid kompleks Darrul Maarif tak jauh dari rumah duka untuk kemudian dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Quran milik keluarga di Cisarua, Jawa Barat. (ant/mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Internasional, Tegal, Meme Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan