Jumat, 28 Oktober 2016

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sedang berada di pusaran arus konservatisme. Arus konservatisme ini utamanya melanda aspek paham dan pandangan keagamaan warga negara.?

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU: Indonesia di Tengah Arus Konservatisme

Hal itu dijelaskan Helmy dalam acara diskusi panel terbatas dengan Harian Kompas, Kamis (15/12) di Jakarta dengan tema Ketahanan Indonesia: Menagih Peran Partai Politik dan Ormas. ?

"Jika memandang Indonseia, di sana saya membayangkan ada bandul keindonesiaan. Bandul keindonesiaan ini terdiri dari dua kutub. Kutub sebelah kanan adalah agama dan kutub sebelah kiri adalah bangsa atau paham kebangsaan.?

“Posisi sekarang, bandul kita ada di sebelah kanan persis," jelas Helmy yang memberikan pemaparan bertema Peran NU dalam menjawab perubahan sosial masyarakat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dengan posisi bandul yang berada di kanan persis, lanjut pria kelahiran Cirebon ini, pandangan-pandangan yang lahir pun akan cenderung rigid dan konservatif. Pandangan keagamaan khususnya, menjadi kaku dan ketat.

Lebih lanjut Helmy mengatakan, NU dari awal berdirinya selalu menjaga posisi bandul ini agar tetap berada di tengah (moderat). Tidak ekstrem kiri yang akibatnya terlalu permisif dan liberal, sekaligus tidak terlalu kanan yang akibatnya menjadi konservatif.

"Oleh karena itu, posisi NU penting sebagai penyeimbang," jelas Helmy mengakhiri.

Dalam diskusi tersebut, hadir narasumber lain diantaranya Wapemred Harian Kompas Ninuk M. Pambudy dan Trias Kuncahyono, Gubernur Lemhannas RI Agus Widjojo, Penulis buku Negara Paripurna Yudi Latif, Direktur Politicalwave Yose Rizal, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Badul Muti, Politikus PDIP Andreas Pereira, dan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar.? (Fariz Alniezar/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 21 Oktober 2016

Membaca Sastra Pesantren

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya --hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman-- adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Karya-karya tersebut dibacakan dimana-mana. Didengar oleh orang tua dan muda secara bersama-sama. Karya-karya sastra tersebut dipandang sebagai milik mereka, diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga memiliki karakter komunal, karena berpadu rapat dengan kehidupan masyarakatnya.?

Maka, berbicara tentang “sastra pesantren” bukan sekedar soal kehadiran suara komunitas pesantren dalam produksi sastra. Tapi juga sebuah perbincangan tentang subyektifitas kreatif kalangan pesantren dalam berkebudayaan.?

Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca Sastra Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca Sastra Pesantren

Dalam sejarahnya sastra pesantren ditulis menggunakan huruf Pego, dengan beragam bahasa Nusantara. Kandungannya bermacam-macam, mulai dari cerita roman, ada yang mengandung sejarah dan realitas sosial, hingga cerita-cerita yang dipenuhi tema-tema moralitas dan kepahlawanan. Meski beragam, tapi mengandung atau melukiskan kenyataan sosial, bahkan terkesan realis, yang melibatkan tingkah laku, norma atau nilai-nilai sosial kehidupan bermasyarakat dan berbudaya pada umumnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tampilnya pesantren sebagai tempat persemaian tradisi kesusastraan, menunjukkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi juga lembaga kehidupan dan kebudayaan. Pada abad 17 dan 18 pesantren menjadi tempat para pujangga dan sastrawan menghasilkan karya-karya sastra. Pujangga-pujangga kraton, seperti Yasadipura I, Yasadipura II, dan Ranggawarsita, adalah santri-santri pesantren yang tekun mengembangkan karya-karya sastra dalam berbagai bentuk seperti kakawin, serat dan babad. Sumber inspirasi mereka bukan hanya kitab kuning, melainkan juga pengalaman sejarah bangsa ini sendiri sebagaimana dialami oleh kerajaan Hindu, Budha dan zaman Wali Sanga.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Yasadipura I (W 1801) misalnya, adalah pujangga istana dari Kraton Surakarta. Ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Kedu-Bagelen. Kedu, saat itu dikenal mengajarkan kesastraan Jawa maupun Arab. Dalam satu karya, Serat Cabolek, Yasadipura menggambarkan seorang ulama dari Kudus, pesisir Jawa Tengah, yang menunjukkan keahliannya dalam membaca dan menafsirkan naskah-naskah Jawa kuno di hadapan para priyayi Kraton Surakarta. Cakupan bacaannya sedemikian luas, dari naskah-naskah Jawa Kuno, Serat Dewaruci hingga Suluk Malang Sumirang.?

Karya-karya pesantren berkisar pada cerita-cerita rakyat, dan juga cerita-cerita Timur Tengah dan India yang sudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan lokal Islam Nusantara. Seperti Tjarita Ibrahim (1859), Tjarita Nurulqamar, dan Hibat (1881) ditulis dalam bahasa Sunda dengan aksara Arab dalam bentuk puisi. Karya-karya Raden Mohammad Moesa (kepala penghulu Garut dan pernah nyantri di satu pesantren di Purwakarta) berjumlah 17 naskah berbahsa Sunda pada 1860-an. Yang terkenal di antaranya adalah Wawacan Panji Wulung. Bahan-bahannya diperoleh dari pusat-pusat pesantren di sekitar daerah Priangan, Jawa Barat.

Demikian pula karya-karya Penghulu Haji Hassan Musthafa (1852-1930). Dari sekitar 49 buah karyanya, kebanyakan diperoleh dari tradisi kesastraan pesantren. Ciri khas kesastraan pengulu-kepala ini ada pada bentuk-bentuk bahasa yang berbentuk puisi, tapi penuh lelucon, plastis tapi orisinil. Selain itu, ia juga mengintegrasikan khazanah fiqih dan sufisme pesantren ke dalam adat kebiasaan orang Sunda dalam bentuk simbol-simbol pemaknaan yang akrab.?

Pada karya modern yang sudah menggunakan huruf Latin, ada Pahlawan ti Pesantren (Pahlawan dari Pesantren). Ini adalah sebuah roman dalam bahasa Sunda, yang menceritakan perjuangan para santri menghadapi kolonialisme Belanda karya Ki Umbara (Wiredja Ranusulaksana) (1914-2004) dan S.A. Hikmat (Soeboer Abdoerrachman) (1918-1971).?

Dalam bahasa Jawa, Serat Jatiswara, Serat Centhini, dan Serat Cabolek adalah contoh-contoh karya-karya pesantren dari wilayah pesisir utara Jawa. Ini adalah teks-teks sastra kaum santri sejak abad 17 dan 18, yang diproduksi di lingkungan kaum santri dan beredar di kalangan kaum santri, terutama di lingkungan masyarakat pesisir, yang kemudian dibakukan menjadi “milik kraton” oleh Yasadipura II pada pertengahan abad 19. Kisah perjalanan kaum santri pengembara (santri lelana) menuntut ilmu di berbagai pondok dan tempat keramat mendominasi karya-karya ini. Kekayaan tradisi keillmuan pesantren juga ditunjukkan dalam Hikayat Pocut Muhammad dan Hikayat Indrapura dalam beberapa versi lokalnya.

Serat Jatiswara misalnya dalam versi yang beredar dari abad 18 di pesisir utara Jawa dan Lombok, menunjukkan satu fungsi sosial bagi komunitasnya. Para pemilik manuskrip kesastraan ini yang kebanyakan berpendidikan pesantren, menegaskan kepemilikannya dengan menambahkan kolofon, catatan dan tanda tangan pada dua halaman terakhir. Di daerah pesisir dan dalam suasana pesantren yang relatif demokratis, pembuatan buku dan penyalinan teks nampaknya lebih merupakan urusan orang-orang kecil dan masyarakat bawah, ketimbang dalam kalangan kraton Jawa Tengah. Dalam lingkungan kraton, manuskrip hanya menjadi miliki segelintir orang.

Fungsi sosial sastra pesantren ini ditunjukkan dari cara kaum santri melakukan penggubahan, tulis-ulang, atau penambahan dan penyisipan, untuk disesuaikan dengan cita-cita sosial-keagamaan kaum pesantren. Seperti dalam Hikayat Malem Diwa, suatu hikayat berbahasa Melayu dengan huruf Arab pegon yang sepenuhnya hampir diwarnai oleh kosmologi Hindu. Dalam naskah tersebut disisipkan satu predikat “guru ngaji di meunasah” kepada tokoh protagonis. Meski sangat kecil, sisipan tersebut mengandung arti yang signifikan. Karena keseluruhan konstruksi bercerita berubah total, dimana pesantren memainkan peran baru dalam memberi spirit dan corak kesastraan lama. Meski dalam karya tersebut sang tokoh tidak disebut terang-terangan memeluk agama Islam.

Demikian pula cerita epos I La Galigo, dengan tokoh protagonisnya, Sawerigading. Karya sastra berbahasa Bugis ini sepenuhnya berasal dari masa sebelum Islam. Namun, disisipkan satu versi cerita --lisan dan tertulis-- dimana Sawerigading nyantri ke Mekkah, naik haji, bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, dan kembali ke kampungnya mendirikan “masigi”, mesjid plus pondok. Versi “Sawerigading santri” baik lisan maupun tulisan ini masih terpelihara di beberapa pesantren Bugis-Makassar.?

Selain berfungsi pedagogis, yakni sebagai pengajaran etika atau akhlak, sastra pesantren juga mengintegrasikan tradisi ke-syuyukhiyah-an (jejer pandita) sebagai ? bagian penting dari lakon dalam karya-karya sastra klasik. Seperti penulisan kembali Hikayat Iskandar Dzulqarnain dari Timur Tengah ke dalam berbagai versi bahasa Nusantara, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal Nusantara lainnya, dengan memasukkan figur Nabi Khaidir sebagai guru. Ia membimbing, mengarahkan, dan membawa kesuksesan bagi Iskandar yang juga ditunjukkan taat kepada gurunya tersebut. Berbagai versi hikayat ini, dengan penekanan pada relasi guru-santri ini, muncul misalnya dalam Sejarah Melayu, Hikayat Aceh, dan Tambo Minangkabau (dalam satu versi disalin oleh Pakih Sagir, ulama fiqih asal Minangkabau dari akhir abad 18).?

Sastra pesantren juga mengungkapkan diri dalam karya-karya etnografis-kesejarahan atau kisah-kisah perjalanan yang merekam tradisi-tradisi masyarakat setempat dalam bentuk sastra. Seperti dalam Poerwa Tjarita Bali, ditulis pada 1875 dalam bahasa Jawa, oleh seorang santri di Pondok Sepanjang, Malang, bernama Raden Sasrawijaya, asal Yogyakarta. Pengetahuan tentang “kota-kota, adat-istiadat pembesar dan orang kebanyakan yang tinggal di desa-desa” ini kemudian dituangkan sebagai bagian dari kegiatan bersastra (maguru ing sastra) orang-orang pesantren.

Sastra pesantren juga berkontribusi dalam memperkaya bahasa-bahasa Nusantara dengan khazanah kosa-kata dan peristilahan berkosmologi pesantren. Bahkan, kekayaan tersebut membantu penerjemahan karya-karya sastra dari luar. Penerjemah-penerjemah Tionghoa misalnya menggunakan kosa-kata “santri”, “ngaji”, “koran”, “langgar”, untuk menerjemahkan satu karya sastra klasik Cina Daratan, Serat Ang Dok, ke dalam bahasa Jawa dari abad 19. Demikian pula di awal abad 20. Perhatikan bait terakhir Boekoe Sair Tiong Hwa Hwe Kwan koetika Boekanja Passar Derma (1905):?

Sekalian Hwe Kwan poenja alamat

Terpandang Kwi-khi sebagi djimat

Nabi Kong Hoe-tjoe jang kita hormat

Allah poedjiken dengan slamat?

Terasa kuat sekali pengaruh kesastraan pesantren – bahasa plus pandangan dunia mereka – dalam kesadaran orang-orang Tionghoa yang waktu itu sedang menyambut era kebangkitan kebangsaan mereka.

Kini muncul nama-nama penulis dan sastrawan asal pesantren yang sangat kuat menonjolkan peradaban dan kejiwaan kaum santri, seperti pada karya-karya D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor atau karya-karya novelis Ahmad Tohari, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus).?

Namun, di tengah serbuan sastra Indonesia modern dan kekuatan sastra koran yang didominasi selera estetika sastra perkotaan, karya-karya kaum santri masih marjinal. Keberadaan mereka, terutama penulis-penulis muda, menjadi resmi setelah mendapatkan legitimasi pula baik dari segi tema, alur cerita hingga bahasa yang digunakan dalam arus sastra kanonik. Karya-karya Abidah el-Khaliqiy misalnya, meski menampilkan latar pesantren, tapi masih kuat dorongan ke arah tema utama, individualisasi maupun modernisasi kosmologi pesantren.?

Kreativitas jadi menurun karena bergesernya di satu sisi fungsi dan peran pesantren, serta situasi yang melingkupinya. Sementara di sisi lain, menjadi korban diskriminasi oleh standar-standar umum kesusastraan baik standar tema dan bahasa. Maka tentu saja pengembangan sastra pesantren setidaknya harus mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut. Di sisi lain kehadiran sastra pesantren sangat dibutuhkan, seperti yang diperankan di masa lalu, untuk memberikan warna lain pada sastra dan seni budaya Indonesia pada umumnya, yang selama ini cenderung satu warna, satu alur dan satu selera, sehingga kelihatan monoton. Watak moral-religius sastra pesantren sangat dibutuhkan untuk memberikan spirit baru bagi bangsa ini untuk berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran, keadilan dan kejujuran. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 12 Oktober 2016

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang

Banyumas, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Ribuan santri dari berbagai lembaga pendidikan NU se-Kecamatan Ajibarang mengikuti kegiatan Jambore Hari Santri Nasional Generasi Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Ajibarang di Lapangan Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jumat-Ahad (20-22/8).

Selain santri, jambore ini juga diikuti oleh kader-kader IPNU-IPPNU, GP Ansor, Banser, Fatayat, dan Fatser yang tergabung dalam Forum Komunikasi Generasi Muda Nahdlatul Ulama (FK GMNU) Kecamatan Ajibarang.

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Ikuti Jambore Hari Santri GMNU Ajibarang

Ketua panita kegiatan Kunarso mengatakan "Kegiatan Jambore Hari Santri ini bertujuan untuk mengenang peristiwa Resolusi Jihad para santri dan kiai 22 Oktober."

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada mereka yang telah gugur dalam jihad mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia, lanjut Kunarso di hadapan ribuan peserta Jambore, Jumat (20/8) sore.

Slamet Ibnu Ansori, Kordinator Generasi Muda NU Ajibarang berharap kepada seluruh peserta yang mengikuti untuk menggunakan acara jambore ini sebagai tempat silaturahmi dan konsolidasi antarbadan otonom dan selalu nahdliyin di Kecamatan Ajibarang.

"Intinya, harus menggunakan momentum ini untuk saling bersilaturahmi dan merapatkan barisan," kata Slamet ketika ditemui usai upacara pembukaan jambore.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia juga berpesan kepada seluruh peserta jambore agar mengikuti semua kegiatan yang ada dari awal sampai penutupan.

"Hari Ahad nanti ada apel hari santri, semua peserta harus ikut," pangkas pria yang juga menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banyumas itu. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah, AlaNu, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 08 Oktober 2016

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Seni lukis kaligrafi bisa menjadi semangat keimanan, ‘jembatan’ perdamaian dan inspirasi kelestarian manakala manusia menyadari bahwa pena adalah senjata pemusnah keingkaran dan keinginan yang berlebihan, dengan kitab suci sebagai jendela pemandu akal dan keinginan.

Demikian dikatakan pelukis kaligrafi Jauhari Abd Rosyad saat menjadi narasumber pada diskusi “Multicultural Calligraphy by Jauhari Abd Rosyad” di Kantor The Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Selasa (22/5). Hadir pula sebagai narasumber pada acara tersebut, Pelukis dan Sastrawan Acep Zamzam Nur.

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jauhari, begitu panggilan akrab pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu, menjelaskan, karya kaligrafi yang ia buat seluruhnya bersumber dari ayat-ayat Al-Quran. Ia mengaku ingin menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi yang ada dalam Al-Quran kepada masyarakat.

Karena itulah, tuturnya, seni lukis kaligrafi bisa menjadi jembatan bagi upaya perdamaian. Ajaran-ajaran suci Al-Quran akan bisa terwujudkan melalui karya seni menulis indah itu.

Tak hanya itu. Menurut Jauhari, seni melukis dengan tema utama ayat-ayat Al-Quran itu, sekaligus juga mampu menumbuhkan semangat religius pada penikmatnya. “Karena semua sumbernya adalah Al-Quran, maka semangat religiusitas itu akan muncul dengan sendirinya,” pungkasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senada dengan Jauhari, Acep mengatakan, kaligrafi dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber inspirasinya, memang bisa menimbulkan semangat religius bagi penikmat maupun pelukisnya sendiri. Namun hal itu sifatnya sangat subyektif, tergantung pada penafsiran penikmatnya.

“Dalam hal ini, saya punya teori ‘Bulu Kuduk’. Misal, ketika kita melihat sebuah lukisan, apapun temanya, kemudian bulu kuduk kita berdiri, maka di situlah muncul semangat religius. Artinya juga si pelukis cukup berhasil menyampaikan pesan religius yang dimaksud,” ujar Acep.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Meski demikian, dalam diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy itu, Acep mengkritik pemahaman masyarakat Indonesia tentang kaligrafi yang ia nilai salah kaprah. Menurutnya, pada dasarnya, kaligrafi adalah murni seni menulis indah dan tidak ada hubungannya dengan ajaran agama tertentu.

Kaligrafi, tambahnya, tidak terpaku pada ayat-ayat Al-Quran yang ditulis dalam huruf dan Bahasa Arab. Melainkan bisa menggunakan huruf serta bahasa mana pun. “Bisa pakai huruf Cina, Jepang, Arab, Latin, dan sebagainya. Tapi di Indonesia, kaligrafi identik dengan Arab, identik dengan Islam. Seolah-olah kaligrafi adalah Islam,” paparnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pemurnian Aqidah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 03 Oktober 2016

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Bogor, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Akhir kepengurusan Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Institut Pertanian Bogor masa khidmat 2015 ditandai dengan terselenggaranya Musayawarah Besar yang berlangsung 28-29 November 2015.

Bertempat di RK AGB 202 Kampus IPB Darmaga, Musyawarah Besar yang terdiri atas penyampaian Laporan Pertanggungjawaban, penetapan dan pengesahan kembali AD/ART, serta pemilihan ketua dan dewan pertimbangan ini dihadiri oleh peserta yang berstatus anggota tetap, anggota sementara, dan undangan.

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Mubes KMNU IPB Pilih Ketua Baru secara Mufakat

Musyawarah Besar yang sedianya dilaksanakan hanya sehari pada Sabtu, terpaksa dilanjutkan pada hari Ahad (29/11) dikarenakan pembahasan AD/ART yang memakan waktu cukup lama sehingga pemilihan ketua tidak bisa dilakukan pada hari itu juga.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Salah satu peserta Musyawarah Besar, Adhli, menyampaikan pendapatnya mengenai lamanya waktu pembahasan AD/ART KMNU IPB tahun ini. Menurutnya, pembahasan yang lama hanya merupakan dampak dari usaha segenap anggota untuk memberi sekaligus mendapat pendidikan dari adanya Musyawarah Besar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Dalam Mubes, kami berharap semua anggota bisa belajar untuk menyampaikan pendapat dan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap KMNU melalui kontribusi pemikirannya. Tidak apa kalau (berlangsung-red) sedikit lama,” ungkapnya.

Setelah pembahasan dan pengesahan kembali AD/ART, agenda Musyawarah Besar dilanjutkan dengan pemilihan ketua KMNU IPB masa khidmat 2015/2016. Dari empat calon,  terpilihlah Hamzah Alfarisi, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan IPB sebagai pimpinan tertinggi organisasi mahasiswa yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jamaah ini.

Sebelumnya, empat calon ketua tersebut merupakan orang-orang yang telah disepakati oleh forum khusus melalui serangkaian pertimbangan untuk kemudian diajukan menjadi calon ketua KMNU IPB. Meski sempat berlangsung alot, pemilihan ketua KMNU IPB ini dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan melalui musyawarah dan lobi mufakat.

Ketua KMNU IPB terpilih, Hamzah, menyampaikan harapannya untuk bisa melebarkan sayap organisasi dan meningkatkan kualitas anggota KMNU IPB. “Harapannya, KMNU IPB bisa lebih berkembang khususnya di lingkungan kampus ini sendiri,” ujarnya.

Musyawarah Besar KMNU IPB ini ditutup dengan pemilihan ketua Dewan Pertimbangan yang memiliki wewenang koordinatif dengan ketua KMNU IPB. (Tashwirul Afkar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Hadits, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan