Kamis, 28 Maret 2013

PCNU Pringsewu Peringati 1000 Hari Gus Dur

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. “Gus Dur pasti tersenyum disana, beliau pasti bahagia karena dido’akan oleh segenap ummat, baik ummat muslim maupun non muslim”. 

Demikian sepenggal kalimat yang disampaikan oleh Mustasyar NU Kabupaten Pringsewu KH Sujadi Saddad dalam peringatang haul 1000 hari wafatnya Gus Dur. KH Sujadi Saddad yang juga Bupati Kabupaten Pringsewu ini juga menyampaikan bahwa keberadaan NU sekarang ini tidak lepas dari perjuangan sosok seorang Gus Dur.

PCNU Pringsewu Peringati 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Peringati 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Peringati 1000 Hari Gus Dur

Oleh karena itu ia berpesan kepada  segenap warga nahdliyyin Kabupaten Pringsewu untuk meneruskan, menata NU supaya lebih eksis dalam membina ummat. Salah satu bentuk nyata penataan NU sebagai sebuah organisasi adalah tertata rapinya administrasi keorganisasian. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan ini ia memberitahu dan menunjukkan salah satu program dari PBNU yaitu program Pembuatan Kartanu (Kartu Anggota NU) bagi seluruh warga nahdliyyin di Indonesia. Ia berpesan kepada segenap warga NU Kabupaten Pringsewu untuk ikut mensukseskan program ini yang nantinya akan bermuara kepada semakin tertibnya keorganisasian NU.

Sujadi juga memberikan apresiasi kepada segenap Pengurus LTN NU Pringsewu yang sudah memberikan kontribusi nyata dengan berbagai macam kegiatan penerbitan seperti Buletin Aswaja. Sebagai lajnah yang menangani masalah penulisan dan penerbitan, LTN NU Pringsewu juga sedang menggarap Buku tentang Qurban dan Aqiqah yang sebentar lagi akan di distribusikan kepada segenap warga NU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu 6 Oktober 2102 ini dibuka dihadiri oleh segenap jajaran Pengurus NU baik ditingkat Kabupaten maupun MWC Kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu. Nampak Pula Hadir dalam acara ini Ketua Umum MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali. Kegiatan yang berlangsung di Gedung NU Kabupaten Pringsewu ini diawali dengan Shalawat dan dilanjutkan dengan pembacaan surah Yasin, tahlil dan do’a yang dipimpin oleh KH Anwar Zuhdi.

Sementara dalam sambutannya, Ketua PCNU Pringsewu KH Mahfudz Ali menyampaikan beberapa hal mengenai kiprah Gus Dur. Ia yang juga Alumni Pesantren Tebuireng yang merupakan Pesantren yang didirikan oleh keluarga besar  Gus Dur ini menceritakan tentang keberadaan makam Gus Dur yang selalu ramai dikunjungi peziarah dari segenap penjuru. Ia juga menceritakan beberapa cerita menarik mengenai sosok seorang Gus Dur yang terkenal senang membuat guyonan-guyonan yang memiliki banyak hikmah pelajaran. 

Di penghujung sambutannya, Ketua PCNU Pringsewu mengajak kepada segenap warga Nahdliyyin Kabupaten Pringsewu untuk bersama-sama membangun dan membesarkan NU di Kabupaten Pringsewu. Salah satu yang menjadi langkah PCNU Pringsewu untuk membesarkan NU yaitu membuat program-program yang dapat bermanfaat bagi warga yang salah satunya sudah dilaksanakan yaitu mendirikan Apotik NU Farma. Dengan keberadaan Apotik NU Farma ini diharapkan dapat memberi sumbangsih kepada masyarakat terutama dibidang kesehatan.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan, Humor Islam, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 25 Maret 2013

Pengembalian Fiqh Sesuai Dengan Prinsip Etika

Jakarta, NU.Online
Fiqh sosial sebagai Manhaj (pola fikir) sangat? relevan di bahas, mengingat masih rendahnya pemahaman umat dan banyaknya persoalan sosial keagamaan yang harus dicarikan landasan keagamannya,? demikian disampaikan? Rais Aam KH. Sahal Mahfudz dalam pidato pengukuhan Doctor Honoris Causa di UIN Syarif Hidayatullah di Jakarta, (18/06/2003).? Hadir dalam kesempatan itu antara lain Menag RI Prof. Dr..Sayid? Aqil Husin Al-Munawar,MA Mendiknas Malik Fadjar, KH. Abdurahman Wahid, KH. Hasyim Muzadi, Menteri Pertanian Bungaran Saragih, Pengasuh Pondok Pesantren, Pengurus PBNU dan Senat lengkap Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Fiqh memang berkembang cepat? dan berpengaruh sangat dominan dalam kehidupan umat Islam. Menurutnya, sebagaimana sejarah pada fase Madinah, Islam lahir bukan hanya sebagai agama tetapi juga sebagai negara. Karena lahir sebagai negara, sudah barang tentu ia memerlukan perangkat-perangkat sosial? seperti politik dan hukum. Apalagi setelah nabi wafat persoalan - persolan baru muncul, yang harus dicarikan? dasar hukum untuk menjawabnya. Karena? Islam lahir sebagai agama dan negara,? wajar jika kemudian lebih banyak persoalan sosial keagamaan? praktis yang muncul? daripada permasalahan sosial keagamaan yang bersifat? teologis.

Akibatnya pemahaman fiqh ditengah-tengah masyarakat sangat? formalistik dan? sering mengundang orang untuk melakukan hillah (manipulasi) terhadapnya. Hal ini dikarenakan dalam proses pengembangan kerangka teoritiknya, fiqh terpisah dari etika. Inilah yang kemudian dikritik Imam Ghozali bahwa fiqh telah menjadi ilmu dunia.? "Karena pandangan yang formalistik itulah dalam konteks sosial? yang ada, ajaran syariat yang tertuang dalam fiqh terkadang tidak searah dengan kehidupan praktis sehari-hari," paparnya

KH. Sahal kemudian memberikan pemahaman bahwa pengembalian fiqh agar tetap berjalan sesuai dengan prinsip etik dapat dilakukan dengan? mengintegrasikan maqasid al-syariah ke dalam proses pengembangan kerangka teoritik fiqh. Dalam konteks ini berarti hikmah hukum? harus diintegrasikan ke dalam illat hukum sehingga diperoleh suatu produk hukum yang bermuara pada kemaslahatan umum.? Dengan demikian fiqh benar-benar sejalan dengan fungsinya sebagai pembimbing sekaligus pemberi solusi atas permaslahan kehidupan praktis baik kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.

Lebih lanjut? Kiai sahal dalam pidato pengukuhan menjabarkan? bahwa? Fiqh Sosial? memiliki? lima ciri pokok pertama, interpretasi teks fiqh secara kontekstual, kedua, perubahan pola bermadzhab dari bermadzhab? secara tekstual (madzhab Qauli) ke bermadzhab secara metodologis (madzhab Manhaji) ketiga, verifikasi mana ajaran yang pokok mana ajaran furu (cabang) keempat, fiqh dihadirkan sebagai etika sosial, bukan hukum? positif negara dan kelima pengenalan metodologi pemikiran filosofis, terutama dalam masalah budaya dan sosial
?
Dalam kesempatan yang sama , Said Aqil selaku Menteri Agama dalam ceramahnya menyatakan kekaguman terhadap kiprah dan pengabdian beliau yang tulus dalam mengembangkan pengetahuan dan pesantren ditengah-tengah masyarakat.? "Kiai Sahal adalah kiai Ensiklopedik", ungkap? Said, menggambarkan keluasan dan kedalaman pengetahuan kiai Sahal dalam penguasaan ilmu agama.?

Disamping itu? ia menggambarkan figur kiai Sahal yang? tetap mempertahankan independensi, moderat dalam menyikapi persoalan yang muncul ditengah-tengah masyarakat.? ? "Beliau konsisten dan penuh kearifan", tambahnya.

Kemudian Gus dur juga sempat memberikan ceramah atas nama keluarga. Dirinya menyatakan heran, secara spontan ia mengatakan, "Reaksi saya cuma satu, kenapa baru sekarang ?", ujarnya.? Ia menjelaskan bahwa ini berarti ada kesenjangan antara perguruan tinggi dengan masyarakat.? Perguruan tinggi telah menjadi puncak menara gading yang jauh persentuhannya dengan realitas masyarakat.

Lebih jauh Gus Dur, yang masih keponakan kiai Sahal ini mengungkapkan. "Kiai Sahal sedikit dari ulama yang mampu menafsirkan fiqh dengan kelenturan yang luar biasa sekaligus penuh kedalaman". Gagasan? fiqh sosial-kontekstual? yang digagasnya tetap mempunyai keterkaitan dinamis dengan kondisi sosial yang terus berubah.? Dirinya berupaya terus menggali fiqh sosial dari pergulatan nyata antara " kebenaran agama" dan realitas sosial yang senantiasa timpang.

Disamping itu menurut? Gus Dur, Kiai Sahal juga figur yang tidak segan-segan mengkritik tradisi fiqh di lingkungan NU yang lebih menonjolkan ketentuan tekstual daripada upaya penelusuran kontekstual.? Kenyataan inilah yang menyebabkan perubahan orientasi dan gagasannya dari mazhab fil al-qaul menjadi madzhab fi al-manhaj yang lebih relevan dalam menjawab tantangan perubahan zaman, ungkap Gus Dur(Cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengembalian Fiqh  Sesuai Dengan Prinsip Etika (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengembalian Fiqh Sesuai Dengan Prinsip Etika (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengembalian Fiqh Sesuai Dengan Prinsip Etika

Selasa, 19 Maret 2013

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

Sleman, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri meminta aktivis buruh tidak lagi menyampaikan aspirasi dengan berdemo turun ke jalan melainkan melalui dialog dengan pendekatan seni dan budaya. 

"Saat ini ruang politik sudah berubah menjadi semakin terbuka. Masyarakat bisa dengan mudah berkomunikasi dengan pemimpinnya. Rekan-rekan buruh bahkan bisa dengan mudah berkirim pesan menyampaikan ide-ide mereka ke saya setiap hari. Jadi melakukan demo sudah tidak relevan lagi," kata Hanif pada peluncuran album kedua aktivis reformasi, John Tobing di Sleman, Yogyakarta, Jumat (10/11).

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Aktivis Buruh Jangan Demo Terus di Jalan

 

Menurut Hanif, kesenian dan kebudayaan bisa menjadi instrumen baru yang efektif untuk menyampaikan apa yang buruh perjuangkan selama ini. 

"Saya percaya ketika kita bisa terus berdialog terutama di ruang-ruang kebudayaan dan kesenian seperti ini maka pikiran kita bisa menjadi lebih cair dan nihil kepentingan sehingga dialognya menjadi lebih terbuka," ujar Hanif. 

Menurut Hanif, melalui forum dialog dengan pendekatan kesenian dan kebudayaan maka orang akan lebih objektif dan jernih dalam melihat persoalan yang ada. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Ruang-ruang kebudayaan dan ruang-ruang dialog menjadi sangat penting sebagai sarana berkomunikasi di tengah perbedaan yang ada dalam rangka menemukan terobosan baru demi meningkatkan kualitas dari harmoni sosial," tutur Hanif. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Untuk itu saya sangat bersyukur ada acara semacam ini. Sekali lagi selamat kepada John Tobing atas peluncuran album barunya," ungkap Hanif. 

John Tobing meluncurkan album kedua berjudul Bergeraklah Mahasiswa"di Sanggar Maos Tradisi asuhan Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sujito. Album ini secara khusus dipersembahkan untuk kalangan mahasiswa Indonesia. 

Melalui album ini John Tobing berharap mahasiswa terinspirasi dan tergerak untuk menjadi agen perubahan agar bangsa menjadi lebih baik. 

"Mahasiswa Indonesia harus tahu banyak rakyat miskin di negara kita. Untuk itu mereka harus menjadi motor perubahan melawan keterpurukan. Mereka harus bisa mencerdaskan bangsa," kata John Tobing. 

John Tobing merupakan pencipta lagu Darah Juang yang melegenda di kalangan aktivis mahasiswa. 

 

Lirik lagu tersebut bercerita tentang kisah pemuda desa miskin di negeri yang kaya. Hingga saat ini lagu tersebut seolah menjadi lagu wajib aktivis mahasiswa di Indonesia. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib, Internasional Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 09 Maret 2013

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Peran Kiai Soleh Darat dalam menyebarkan Islam tak hanya semasa hidupnya maupun warisan pesantrennya. Sebab murid-muridnya adalah para pendiri organisasi Islam, pengasuh pesantren dan pendakwah agama yang terus menghasilkan kader-kader da’i berikutnya. Sampai akhir zaman. ?

Wali ini yang hidup sezaman dengan dua waliyullah besar lainnya, Syekh Nawawi Al-Bantani dan Kiai Kholil Bangkalan, Madura ini disebut sebagai gurunya para ulama tanah Jawa.?

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelopor Penerjemahan Al-Qur’an

Murid-muridnya itu, diantaranya, KH Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan Syaikh Mahfudh Termas Pacitan (pendiri Pondok Pesantren Termas), KH Idris (pendiri Pondok Pesantren Jamsaren Solo), KH Sya’ban (ahli falak dari Semarang), Penghulu Tafsir Anom dari Keraton Surakarta, KH Dalhar (pendiri Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan), KH Munawir (Krapyak Yogyakarta), KH Abdul Wahab Chasbullah Tambak Beras Jombang, KH Abas Djamil Buntet Cirebon, KH Raden Asnawi Kudus, KH Bisri Syansuri Denanyar Jombang dan lain-lainnya. Para murid itu ada yang belajar pada Kiai Soleh Darat sewaktu masih di Mekah maupun setelah di ? Semarang.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

”Bisa dikatakan, Kiai Soleh Darat adalah embahnya para ulama di Jawa, karena menjadi guru dari guru ulama yang ada sekarang,” terang KH Ahmad Hadlor Ihsan, mantan Rois Syuriyah PCNU Kota Semarang yang juga pengasuh Ponpes Al-Islah Mangkang, Tugu, Semarang. ?

Semasa hidupnya, selain mengajar masyarakat awam, Kiai Soleh Darat juga aktif mengisi pengajian di kalangan priyayi. Di antara jamaah pengajiannya adalah Raden Ajeng Kartini, anak Bupati Jepara.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

RA Kartini pernah punya pengalaman tidak menyenangkan saat mempelajari Islam. Guru ngajinya memarahinya karena dia bertanya tentang arti sebuah ayat Al-Qur’an. Ketika mengikuti pengajian Kiai Soleh Darat di pendopo Kabupaten Demak yang bupatinya adalah pamannya sendiri, RA Kartini sangat tertarik dengan Kiai Soleh Darat. ? Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah.?

RA Kartini lantas meminta romo gurunya itu agar Al-Quran diterjemahkan. Karena menurutnya tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya. Pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Al-Qur’an. Dan para ulama waktu juga mengharamkannya. Mbah Shaleh Darat menentang larangan ini.? Karena permintaan Kartini itu, dan panggilan untuk berdakwah, beliau menerjemahkan Qur’an dengan ditulis dalam huruf ? Arab pegon sehingga tak dicurigai penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an itu diberi nama Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim.

Kitab itu dihadiahkannya kepada RA Kartini sebagai kado pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, Bupati Rembang. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya.?

Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan: “Selama ini al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”?

Melalui kitab itu pula Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya. Yaitu Surat Al-Baqarah ayat 257 yang mencantumkan, bahwa Allah-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur).?

Kartini terkesan dengan kalimat Minadh-Dhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya karena ia merasakan sendiri proses perubahan dirinya. ?

Kisah ini sahih, dinukil dari Prof KH Musa al-Mahfudz Yogyakarta, dari Kiai Muhammad Demak, menantu sekaligus staf ahli Kiai Soleh Darat.

Dalam surat-suratnya kepada sahabat Belanda-nya, JH Abendanon, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “Dari Gelap Kepada Cahaya” ini. Sayangnya, istilah “Dari Gelap Kepada Cahaya” yang dalam Bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan maknanya setelah diterjemahkan Armijn Pane dengan kalimat “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini menjadikan kata-kata tersebut sebagai judul dari kumpulan surat Kartini.?

Tentu saja ia tidak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur’an. Kata “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“ dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran).

Kitab Tafsir Kiai Soleh itu, walau tidak selesai 30 juz Al-Quran, dicetak pertama kali di Singapura pada tahun 1894 dengan dua jilidan ukuran folio. Sehingga walau pengarangnya telah wafat, pengajian kitab ini jalan terus. Karena referensi pribumi Jawa yang bermukim di tanah melayu. Bahkan kaum muslim di Pattani, Thailand Selatan juga memakai kitab ini.?

Hingga kini Karya-karya Mbah Soleh Darat masih dibaca di pondok-pondok pesantren dan majelis taklim ? di Jawa. Sebagian besar bukunya sampai sekarang terus dicetak ulang oleh Penerbit Toha Putera, Semarang.

Sederhana plus Progresif. Sebagaimana umumnya ulama, Kiai Soleh Darat sangat bersahaja dan tawadhu. Akhlaknya sangat terjaga dari kesombongan. Dalam semua kitabnya, ia selalu selalu merendah dan menyebut dirinya sebagai orang Jawa awam yang tak faham seluk-beluk Bahasa Arab.

Di prolog kitabnya selalu tertulis ? “buku ini dipersembahkan kepada orang awam dan orang-orang bodoh seperti saya”. Dalam pendahuluan Terjemahan Matan al-Hikam terbitan Toha Putra Semarang tertera: “ini kitab ringkasan dari Matan al-Hikam karya al-Allamah al-Arif billah Asy-Syaikh Ahmad Ibnu Atha’illah. Saya ringkas sepertiga dari asal agar memudahkan orang awam seperti saya. Saya tulis dengan Bahasa Jawa agar cepat dipahami oleh orang yang belajar agama atau mengaji”.?

Bahkan, meski beliau keturunan Nabi Muhammad (sayyid/habib), yang nasabnya dari Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) putra Raden Rahmat (Sunan Ampel), hal itu tak pernah dikatakannya. Bagi ? Mbah Soleh, orang dihormati karena ilmu dan amalnya. Bukan garis keturunannya.?

Kiai Soleh Darat selalu menekankan kepada muridnya agar giat menuntut ilmu. Dia berkata: “Inti sari Al-Qur’an adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat”.

Diperingatkannya, orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan dalam keimanannya, maka akan jatuh pada keyakinan sesat. Sebagai misal, paham kebatinan yang mengajarkan bahwa amal yang diterima Allah adalah amaliyah hati yang dipararelkan dengan paham Manunggaling Kawulo Gusti-nya Syekh Siti Jenar dan berakhir tragis pada perilaku taqlid buta (anut asal ikut).?

”Iman orang taklid tidak sah menurut ulama muhaqqiqin (ahli hakikat),” demikian tegasnya. ? Kata itu tersurat dalam Kitab Tarjamah Sabil al-‘Abid ‘Ala Jauharah al-Tauhid karya Mbah Soleh Darat. Lebih jauh beliau peringatkan masyarakat tak terpesona oleh orang yang mengaku memiliki ilmu hakekat tapi meninggalkan syariat seperti sholat dan amalan fardhu lainnya.? Kemaksiatan berbungkus kebaikan tetap saja namanya kebatilan, demikian inti petuah beliau.

Tauhid yang Tepat? . Kiai Soleh Darat dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Ia adalah pendukung teologi Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturudi. Dalam kitab Tarjamah Sabil al-’Abid ‘ala Jauharah at-Tauhid dia mengemukakan penafsirannya atas sabda Rasulillah SAW mengenai terpecahnya umat Islam menjadi 73 golongan sepeninggal Nabi, dan hanya satu golongan yang selamat.

Menurutnya, yang dimaksud Nabi Muhammad SAW dengan golongan yang selamat adalah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, yaitu melaksanakan pokok-pokok kepercayaan Ahlussunah Waljamaah Al-Asy’ariyah, dan Maturidiyah.?

Sebagai ulama yang berpikiran maju, ia senantiasa menekankan perlunya ikhtiar dan kerja keras, setelah itu baru bertawakal, menyerahkan semuanya pada Allah. Ia sangat mencela orang yang tidak mau bekerja keras karena memandang segala nasibnya telah ditakdirkan oleh Allah SWT. Ia juga tidak setuju dengan teori kebebasan manusia yang menempatkan manusia sebagai pencipta hakiki atas segala perbuatan.?

Tradisi berpikir kritis dan mengajarkan ilmu agama terus dikembangkan hingga akhir hayatnya.?

Ikon Kota Semarang. Menurut Ketua Pengajian Ahad Pagi KH Muhamamd Muin, Kiai Soleh Darat lahir di Dukuh Kedung Jumbleng Kecamatan Mayong, Jepara, sekitar tahun 1820 (1235 H). ? Beliau wafat di Semarang, tanggal 18 Desember 1903/28 Ramadhan ? 1321 H dalam usia 83 tahun.Kata Darat di belakang nama Kiai Soleh adalah sebutan masyarakat untuk menunjukkan tempat dia tinggal, yakni di Kampung Darat, Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara.?

Ayahnya, KH Umar, adalah ulama terkemuka yang dipercaya Pangeran Diponegoro dalam perang melawan Belanda di wilayah pesisir utara. Setelah mendapat bekal ilmu agama dari ayahnya, Soleh kecil mulai mengembara, belajar dari satu ulama ke ulama lain.?

Lalu bersama ayahnya pergi ke Singapura, belanjut pergi haji sekaligus melanjutkan studi di Mekah. Setelah ayahnya wafat di tanah suci, Soleh berhasil mendapat ijazah dari ulama terkemuka di Mekah dan ia lalu ? menjadi guru besar di sana.?

Banyaknya umat yang hadir di haulnya, memang menjadi tengara kebesaran namanya. Tak dapat dipungkiri, ulama besar itu memang telah menjadi ikon Semarang di masa lalu.?

Mengingat beliau termasuk perintis kemerdekaan, tokoh perlawanan terhadap penjajah melalui ilmu pengetahuan, selayaknya diberi gelar Pahlawan sebagaimana sebagian para muridnya.

?

Penulis ? ? : Muhammad ichwan

Redaktur : Syaifullah Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, AlaNu, Tegal Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan