Jumat, 30 Oktober 2015

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dzikir nasional yang digelar di halaman Istana Merdeka Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (1/8) malam, menjadi bukti umat Islam peduli dan memikirkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Seperti disampaikan dalam doa Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair (Mbah Moen).

Hal tersebut dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan usai penutupan dzikir. “Tadi dikatakan Mbah Moen dalam doa beliau, semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa,” ujarnya.

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Kiai Ishom, sapaan akrabnya, berharap acara serupa dilaksanakan di tempat yang lebih luas. Misalnya, di Monumen Nasional (Monas) agar bisa diikuti lebih banyak lagi oleh masyarakat.

 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kalau di Istana kan sempit. Apalagi yang datang ribuan,” tandasnya.

Saat ditanya arah majelis dzikir tersebut, apakah bermuatan politis atau bakal menjadi ormas bahkan partai politik, kiai asal Lampung ini langsung menepis.

 

“Saya kira tidak lah. Para kiai yang datang banyak dari kalangan syuriyah yang ikhlas. Saya pribadi berharap ini fokus ke dzikir saja,” kata Kiai Ishom.

Sementara itu, salah satu pengurus PWNU Kalimantan Barat, KH Faruqi, di sela-sela ramah tamah mengaku sangat mendukung dan antusias sekali mengikuti dzikir di Istana.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

 

“Saya melihat ini tonggak persatuan antara ulama dan umara. Ke depan perlu makin dikuatkan,” ujarnya.

Kiai Faruqi yang datang bersama empat orang dari Pontianak berharap dzikir nasional bisa memantik persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. “Semoga di tahun-tahun berikutnya acara seperti ini bisa diadakan kembali,” harapnya.

Hadir dalam acara tersebut, jajaran para kiai sepuh seperti KH Anwar Mansyur Jawa Timur, KH Bagindo Leter Sumatera Barat, KH Abuya Muhtadi Banten, RM Irfa’i Nachrawi Yogyakarta, dan KH Aniq Muhammadun Jawa Tengah. 

Selain para kiai sepuh, ribuan jemaah dari sejumlah pondok pesantren di Jabodetabek tampak berduyun-duyun memasuki halaman Istana sejak petang. Mereka kemudian melaksanakan salat maghrib berjamaah.

Usai berjamaah, hadirin tampak antusias menikmati penampilan grup nasyid Snada dan musik gambus Hubbul Wathon. 

Dzikir kebangsaan yang bertema ‘Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan’ ini terselenggara berkat kerjasama pihak Istana Negara dengan Majelis Dzikir Hubbul Wathon yang diinisiasi Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah, Kajian Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 13 Oktober 2015

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line

Samarinda, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Salah satu agenda rapat Koordinasi Nasional Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) di Samarinda, Sabtu (14/4) adalah mengenai pengembangan media informasi on-line berbasis NU di berbagai daerah di Indonesia.

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line

Ketua Pengurus Pusat LTN-NU Sulton Fathani mengatakan, rapat koordinasi nasional kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, pada Februari 2012 di yayasan Bani Hasyim, Malang. 

“Pasca acara di Malang itu, saya sudah melihat dan mengawal semua perkembangan website di Jawa Timur dan hingga saat ini sudah ada sekitar 12 website yang sudah update. Bahkan untuk untuk Kabupaten Sumenep dan Pamekasan sudah update tiap hari,” tutur Sulton.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bagi media on-line yang aktif, lanjutnya, PP LTN-NU akan memberikan bantuan dana pengelolaan. Sebaliknya, pihaknya akan mencabut hak kelola media on-line yang diserahkan kepada wilayah dan daerah jika  selama 1 tahun ke depan tidak dikelola dengan baik. “Jadi, website yang mati akan dikubur,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan itu, Sulton mengatakan, pihaknya sedang melakukan penguatan di bidang penerbitan, membangun jaringan media NU dengan media-media nasional, serta menggagas media radio dan televisi.

“Selama ini pengurus cabang yang memiliki radio hanya dua daerah, Sumenep dan Ponorogo, ini patut ditiru,” tegasnya.

Selain itu, ia menyarankan agar LTN NU di wilayah dan daerah hendaknya merevitalisasi kantor dan mengangkat staf kantor yang sekiranya bisa intens mengelola kantor tersebut, sehingga menjadi hidup. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syafiqurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 07 Oktober 2015

Ramadhan dan Eksodus Santri

Oleh Muhammad Zidni Nafi’

Khazanah keunikan dunia pesantren memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Dari mulai sistem pesantren, lingkungannya, kiainya hingga tingkah laku tradisi-tradisi santri-santri yang kerap kali menarik untuk ditelusuri. Hal ini karena santri hidup serta mengembangkan potensi lahir dan batin di lingkungan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam asli Nusantara. Bahkan memasuki millenium ketiga ini, pesantren menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Islam mengajarkan bahwa pelajaran atau kewajiban mencari ilmu tidak ada ujung akhirnya. Sebagai akibat dari ajaran-ajaran ini, maka salah satu aspek penting dalam sistem pendidikan di pesantren ialah tekanan kepada murid-muridnya untuk terus menerus berkelana dari pesantren satu ke pesantren lain. Seorang santri seringkali dikatakan sebagai thalib al-‘ilm (seorang pencari ilmu), mencari guru yang paling masyhur dalam berbagai cabang pengetahuan Islam. Dengan demikian, pengembaraan merupakan ciri utama kehidupan kesatuan (homogenitas) sistem pendidikan pesantren, serta merupakan stimulasi bagi kegiatan dan kemajuan ilmu (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 49).

Di momen-momen menjelang bulan suci Ramadan, santri dan pesantren di Jawa mempunyai tradisi unik yang populer dengan istilah pasanan (posonan), atau pasaran kalau di pesantren Sunda. Istilah lainnya bisa disebut dengan pengajian intensif.

Ramadhan dan Eksodus Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan dan Eksodus Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan dan Eksodus Santri

Posonan dan Mekanismenya

Menurut almarhum Kiai Sahal Mahfudh pengasuh pesantren Maslakul Huda Pati, posonan atau pasaran adalah istilah khas pesantren Jawa untuk menyambut musim pengajian di bulan Ramadhan. Musim pengajian di bulan Ramadhan biasanya dilaksanakan 15-20 hari. (Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, 2012).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kenapa harus demikian? Pesantren-pesantren di Jawa ketika menjelang Ramadhan menganjurkan santri-santrinya atau atas inisiatif sendiri untuk ngaji di pesantren lain yang ia inginkan, meskipun ada juga santri-santri yang tetap mengaji di pesantrennya sendiri.

Ibaratnya, jika di dalam dunia akademisi luar pesantren ada istilah tukar pelajar, maka di dunia pesantren juga ada istilah tukar santri. Hanya saja tukar santri tidak diatur dalam sistem atau perjanjian-perjanjian tertentu seperti halnya tukar pelajar. Dengan kata lain, ‘eksodus santri’ atau istilahnya meninggalkan pesantren asalnya secara santri dalam jumlah besar-besaran menuju pesantren lain dalam rangka mengaji pada momen Ramadhan saja. Misal dari pesantren A posonan menuju ke pesantren B, begitu pula eksodus santri dari pesantren B posonan yang melawat munuju pesantren A.

Biasanya, pesantren-pesantren besar yang sudah biasa menyelanggarakan pengajian posonan, menyiapkan tempat tersendiri bagi eksodus santri dari pesantren lainnya. Dipisahkan untuk mengetahui agar santri asli dari pesantren tersebut tidak tercampur dengan santri dari luar. Terkadang ternyata ada juga santri yang mengikuti mengaji posonan bukan dari pesantren tertentu, hanya saja ia menyempatkan waktunya khusus mengikuti pendidikan pesantren hanya saat Ramadhan tiba.

Untuk kurikulum dan sistemnya pun berbeda dari hari-hari biasanya. Pesantren satu juga berbeda dengan pesantren lainnya dalam menentukan kitab-kitab dan kegiatan pengajian posonan yang dimulai sejak awal Ramadhan.

Kitab-kitab yang diajarkan biasanya sejenis kitab hadist seperti Riyadhus Sholihin, Arbain Nawawi, Bulughul Marom. Kitab tafsir misalnya Tafsir Jalalain, Ibn Katsir, Qishah fil Qur’an.? Kitab fiqih bernuansa tasawuf yang populer Irsyadul Ibad, Sullam Taufiq, kasyifatus Syaja. Dan kitab-kitab lainnya untuk menunjang intelektual dan spiritual santri.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengajian posonan juga bisa dikatakan special karena kiai-kiai sepuh turut ikut untuk mengajar. Misalnya, KH. Maimun Zubair pimpinan Pesantren Al-Anwar Sarang, ? hingga usianya ke-84? masih intensif mengajar kepada para santri. Musytasar NU ini rencanya akan mengajar kitab Bustanul Arifin Lil Imam An Nawawi pada pengajian posonan tahun 1435 H. Begitu pula kiai-kiai sepuh di pesantren lainnya.

Inilah hebatnya tradisi di pesantren, kiai dan santrinya begitu semangat untuk terus menimba ilmu. Padahal pengajian posonan jadwalnya sangatlah intensif. Biasanya jadwal pengajiannya mulai dari setalah shalat subuh hingga menjelang dhuhur. Usai jama’ah shalat dhuhur, dilanjutkan kembali sampai menjelang shalat ashar. Setelah shalat ashar berjamaah, mengaji lagi hingga waktu berbuka tiba. Tidak sampai disitu, seusai shalat tarawih, para santri posonan melanjutkan mengaji kitab bahkan sampai tengah malam. Begitu berulang-ulang sampai jadwal kegiatan pengajian posonan berakhir pada beberapa menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Teladan KH Wahab Hasbullah

Tradisi seperti ini sudah ada sejak dahulu. Tidak heran jika tradisi santri yang tidak hanya mengaji selamanya pada satu pesantren saja, tetapi mereka suka berkelana berpindah-pidah dari peantren satu ke pesatren lainnya.

Sebut saja, Kiai Haji Wahab Hasbullah seorang pejuang Nahdlatul Ulama asal Jombang. Meskipun pada waktu itu ayahnya merupakan pemimpin Pesantren Tambakberas, tetapi Wahab Hasbullah muda menimba ilmu di berbagai pesantren, mulai dari Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cempaka, Pesantren Tawangsari dekat Surabaya, Pesantren Kademangan Madura, Pesantren Branggahan Kediri, hingga terakhir beliau menyelesaikan pendidikan pesantren di Tebuireng Jombang. Wajar apabila tokoh NU ini terkenal sangat alim, karena pendidikan pesantren yang ditempuh tidak sembarangan.

Perlu Apresiasi

Di tengah-tengah zaman yang begitu canggih seperti ini, masih ada lebih dari hitungan jari, generasi-generasi hebat, gigih dan tulus dalam mencari ilmu, bukan mengejar duniawi saja. Para santri dengan kostum sarung dan peci yang menjadi ciri khas, serta berbekal kitab-kitab kuning yang digenggam di tangan kanannya, dengan niat tulus, ta’dhim guru, membulatkan tekad, yakin dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan ajaran Nabi: Tholabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.

Perlu adanya perhatian lebih dari pihak-pihak yang merasa berwenang untuk dapat mengembangkan dan melestarikan tradisi-tradisi pesantren agar tidak terkikis oleh derasnya perubahan zaman. Karena eksistensi dari santri-santri pesantren lah salah satu pilar untuk menegakkan Islam Indonesia, Islam yang rahmatan lil alamin.

?

Kudus, 26 Juni 2014

*Penulis adalah alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, kini bergelut sebagai jurnalis serta mengemban amanah sebagai Ketua CSS MORA (Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita, Sejarah, Olahraga Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan