Kamis, 17 Desember 2015

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya

Sumenep, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur A. Warits Umar mengatakan, tanah di Madura sudah menjadi ancaman. Saat ini ada upaya mengasingkan masyarakat ? dari tanahnya.

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya

"Sekarang ada upaya mengasingkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Masalah tanah bukan masalah sepele," paparnya saat memberikan sambutan pada Seminar Agraria dan Launcing Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep bertajuk ‘Agama Tanah, Ajaga Nak Potoh’, Ahad (1/11) lalu di Aula PCNU setempat, Jl Raya Trunojoyo, Sumenep, Jawa Timur.

Warga Desa Gapura Timur Kecamatan Gapira itu mencontohkan, di daerahnya masyarakat berbondong-bondong pergi ke Jakarta untuk melakukan bisnis, sementara tanahnya dijual. "Anehnya, mereka tidak tahu siapa yang membeli dan akan diperuntukkan untuk apa nanti," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia mengajak masyarakat untuk tidak melepas tanahnya. Diluncurkannnya ? FNKSDA Kabupaten Sumenep diharapkan dapat memberikan penyadaran terhadap masyarakat terkait persoalan agraria tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kepala Bidang Survei Pengukuran dan Pemetaaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengungkapkan, saat ini marak penjualan tanah di ? kawasan Kecamatan Kota Sumenep, Gapura, Kalianget, dan Manding. Namun ia tak bisa menjelaskan peralihan kepemilikan tanah kepada perusahaan.

"Kami tidak bisa menjelaskan secara pasti peralihan (status kepemilikan) tanah, tapi pasti terjadi. Dan yang beli tanah belum tentu pemodal asing," jawabnya saat ditanya oleh moderator terkait jumlah tanah yang sudah pindah tangan ke tangan pengusaha.

Darsono, warga Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, Sumenep memberikan testimoni bahwa di daerahnya tanah yang telah jatuh ke tangan pengusaha tak kurang dari 20 hektare. Dalam proses jual belinya, pengusaha tidak turun langsung, tapi melibatkan tokoh masyarakat setempat dengan harga Rp 25.000 per meter.

Sedangkan Jawasi, warga Kecamatan Manding, dalam testimoninya mengatakan, uang yang telah digelontorkan oleh pengusaha untuk membeli tanah di ? daerahnya sebesar Rp 10 miliar. Sementara harga per meternya Rp. 32.000. Hal itu berdasarkan pengakuan calo pembelian tanah dari Pamekasan kepada dirinya.

Sementara Ahmad, warga Kecamatan Lenteng mengatakan, di daerahnya terjadi hal yang sama. Proses jual beli dan negosiasinya dilakukan secara kekeluargaan. Rata-rata tanah yang dibeli adalah tanah tidak produktif, sehingga pemilik mudah melepasnya apalagi harganya relatif mahal. (M Kamil Akhyari/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 14 Desember 2015

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi

Tegal, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan?

Agar negara kuat, kokoh dan tidak dirongrong musuh dari luar, maka seluruh elemen bangsa Indonesia harus bersatu padu, rukun dan kompak. Mulai dari TNI, polisi dan sipil. ?

”Musuh bisa menghancurkan kita, karena kita memberi celah. Kalau kita kuat, mereka tak akan berani,” tutur ? Habib Luthfi sebelum memimpin Istighotsah dalam rangka hari ulang tahun Pangdam IV Diponegoro Dewa Ratna ke-63 di Markas Pangdam IV Diponegoro Dewa Ratna Slawi, Jum’at (12/4) malam.

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi

Lebih lanjut Rais ‘Am jam’iyah Ahlutthariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah itu mengatakan, zaman tahun 60-an, kekuatan politik Indonesia begitu disegani, padahal menurut Habib Lutfi pada saat Indonesia belum memilki apa-apa, sampai-sampai Soekarno yang saat itu menjadi pemimpin bangsa berani mengatakan ganyang Malaysia.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jawabannya adalah pada saat itu rakyat sangat fanatik dengan pemimpinannya. Ini penting hadirin, rasa fanatik ini yang mengakibatkan rasa cinta makin bertambah dan itu menjadi kekuatan besar,“ kata Habib yang pernah nyantri selama 4 tahun di pesantren at Tauhidiyah Talang Tegal itu.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dihadapan ribuan pengunjung, habib kelahiran Pekalongan itu berpesan jangan pernah meremehkan keutuhan NKRI, wajib hukumnya menjaga, juga memberikan wejangan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari pengamalan iman.?

Istighotsah dan pengajian yang digelar oleh TNI dan pemerintah, merupakan pengejawantahan bahwa cinta NKRI sebagai harga mati dengan sungguh-sungguh, bukan hanya basa-basi. ?

Upacara kebangsaan dengan inspektur upacara Habib Luthfi dan komandan upacara Kapolsek Peangaan AKP Karman, diikuti ribuan peserta dari berbagai unsur, mulai dari PNS, guru, pelajar, santri, ormas, TNI, Polri, dan Satpol PP.

Pengajian dan Istighotsah dihadiri Bupati Tegal H Heri Sulistyawan, Walikota Tegal Ikmal Jaya, Wakil Bupati Brebes Narjo, Kapolres Tegal, Dandim Tegal, Pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Tegal, ? pimpinan SKPD, serta serta para kiai dan habaib.

Bupati Tegal H Heri Sulistyawan dalam sambutannya mengatakan, forum-forum pengajian yang semacam ini harus selalu ditingkatkan, karena kalau kita mendengar petuah-petuah yang baik-baik dari orang baik juga insyaallah akan membawa keadaan lebih baik.?

“Saya instruksikan kepada para camat agar menggelar pengajian di masing-masing daerahnya dengan harapan hubungan keakraban antara pemerintah dan masyarakat selalu terjalin,“ pesan Bupati?

Pembicara lain ? KH Ahmad Saidi yang juga pengasuh Pesantren at Tauhidiyah Talang Tegal, memberikan pesan, menjadi pemimpin itu berat. Untuk itu jangan sekali-kali meminta menjadi pemimpin. Tetapi ditangan pemimpin juga akan ada kebaikan dan keadilan.?

“Saya terus terang saja ngomong panjang lebar kaya gini sebagai obat untuk para pemimpin agar jangan semena-mena dalam menjalankan amanat yang berat itu, karena saya juga cinta terhadap pemimpin, jadilah pemimpin yang baik, agar menjadi contoh bagi rakyatnya,“ pesan kiai kharismatik itu.? Acara pengajian umum itu dimulai selepas Isya’ dan diawali dengan pembacaan Syimtut Duror. Dengan iringan grup hadrah dari TNI dan masyarakat.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 12 Desember 2015

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pemaksaan kebijakan lima hari sekolah disaat Perpres sedang digodok mendapat sorotan juga dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Anti-Diskriminasi (Gandi). Sekretaris Jenderal Gandi Ahmad Ari Masyhuri menilai lima hari sekolah atau yang disebut juga Full Day School (FDS) merupakan kebijakan diskriminatif dan meresahkan.

Menurut Ari, kebijakan Mendikbud terkait Full/Five Day(s) School (FDS) melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah merupakan kebijakan yang mengada-ada dan bersifat diskriminatif.?

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Hal ini disebabkan kebijakan tersebut sangat nyata tidak bisa dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Negara ini. Padahal ketika sebuah kebijakan dikeluarkan maka ia bersifat mengikat dan pasti bagi seluruh obyek hukum, dalam hal ini adalah sekolah, yang ada di wilayah Negara Republik Indonesia.

Ari pun merinci bahwa sebagaimana dalam Pasal 9 Permendikbud tersebut terdapat klausul yang menyatakan “Dalam hal kesiapan sumber daya pada sekolah dan akses transportasi belum memadai… dapat dilakukan secara bertahap”. Kata-kata “belum memadai” dan “dapat dilakukan secara bertahap” tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ini dipaksakan dan tidak layak untuk dikeluarkan.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Sebab ketika sebuah kebijakan tidak mencakup seluruh obyek hukum dan tidak mengakomodasi seluruh kepentingan masyarakat berarti kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif,” tegas Ari kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan lewat keterangan tertulisnya, Senin (14/8).

Padahal, imbuhnya, semua sekolah mempunyai kedudukan dan hak yang sama di mata hukum. Hal ini sudah sangat jelas bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan yang terkait.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Gandi, kebijakan FDS harus diawali dengan kesiapan dengan sarana-prasarana yang memadai. Sementara, rasio peserta didik terhadap sarana prasarana dan tenaga pengajar di Indonesia masih sangat timpang. Bahkan, ketimpangan ini juga banyak terjadi di sekolah dasar yang dikelola oleh pemerintah.?

Bagaimana mungkin kebijakan yang bersifat nasional ini bisa dilaksanakan, sementara sekolah tingkat dasar yang dikelola oleh pemerintah saja masih belum dapat menerapkannya? Apalagi sekolah-sekolah tingkat menengah pertama dan atas, serta sekolah yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya.?

Di mana sekolah-sekolah yang dikelola masyarakat tersebut memiliki beragam karakteristik dan terbukti memberikan kontribusi bagi Negara.?

“Oleh karena itu, sebaiknya Kemendikbud lebih berkonsentrasi untuk membenahi sarana-prasana dan tenaga pengajar terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut,” kata Ari Masyhuri. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ubudiyah, Olahraga, Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 09 Desember 2015

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Untuk beberapa tahun mendatang, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo akan berupaya melengkapi struktur kepengurusan mulai dari tingkat anak cabang, ranting hingga komisariat. Pasalnya hingga kini, masih ada beberapa ranting dan komisariat yang belum terbentuk.

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Disamping itu, IPPNU Kota Kraksaan juga tetap memprioritaskan pengkaderan dengan membuat program pengkaderan berkelanjutan. Hal ini dilakukan karena kader-kader yang terbentuk nantinya akan mengisi kepengurusan IPPNU sekaligus disiapkan sebagai estafet kepengurus di PCNU Kota Kraksaan di masa mendatang.

“Untuk sementara kami memang lebih memprioritaskan kepada program pengkaderan. Ini merupakan sebuah program wajib yang harus dilaksanakan. Sebab masih ada ranting maupun komisariat yang kepengurusannya belum terbentuk karena belum ada kader yang siap mengemban amanah organisasi,” ungkap Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh, Jum’at (6/6).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Indah, program pengkaderan ini akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat cabang, anak cabang, ranting hingga komisariat. Pengkaderan ini akan dilakukan secara berkelanjutan, sehingga begitu ada pengurus yang naik tahta maka penggantinya sudah siap.

“Pengalaman selama ini, kami merasa kebingungan untuk mencari pengganti tatkala ada pengurus yang diberi amanah baru bergabung dalam Fatayat NU maupun Muslimat NU. Sehingga kami memilih penggantinya apa adanya. Hal ini berimbas kepada pelaksanaan program menjadi kurang maksimal karena kader yang menangani masih belum berpengalaman,” jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam pengkaderan ini jelas Indah, IPPNU Kota Kraksaan selalu berkoordinasi dan bekerja sama dengan  badan otonom NU yang lain di Kota Kraksaan. “Pengurus IPPNU ini merupakan cikal bakal penerus kepengurusan NU di Kota Kraksaan. Jadi sebelum naik ke jenjang kepengurusan selanjutnya, maka harus disiapkan penggantinya sedini mungkin agar betul-betul siap menjalankan roda organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 05 Desember 2015

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Penonton dari berbagai daerah sekitar Bandung mulai berdatangan ke stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), daerah Gede Bage, Kota Bandung, Ahad (29/10). Mereka akan menyaksikan pertandingan Grand Final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 di stadion itu.

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik (Sumber Gambar : Nu Online)
Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik (Sumber Gambar : Nu Online)

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik

Mereka memasuki stadion berkepasitas 50 ribu orang itu. Sementara ratusan Banser menggelar karpet di lingkaran ateletik. Pada waktu maghrib di atas karpet itu, penonton dan pemain Liga Santri Nusantara akan melakukan Shalat Maghrib berjamaah. 

Sambil menunggu waktu pertandingan, para penonton disuguhi nyanyian live dari salah satu tribun di sebrang tribun utama. Mereka dihibur dengan lagu Suasana di Kota Santri, Ya Lal Wathon, dan lagu-lagu lainnya. 

Grand Final akan berlangsung sekitar pukul 19.00 mempertemukan antara kesebelasan Darul Huda Ponorogo melawan Darul Hikmah Cirebon. (Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Aswaja, Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 30 Oktober 2015

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dzikir nasional yang digelar di halaman Istana Merdeka Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (1/8) malam, menjadi bukti umat Islam peduli dan memikirkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Seperti disampaikan dalam doa Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair (Mbah Moen).

Hal tersebut dikatakan Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan usai penutupan dzikir. “Tadi dikatakan Mbah Moen dalam doa beliau, semoga bangsa Indonesia dijauhkan dari perpecahan dan pertikaian sesama anak bangsa,” ujarnya.

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dzikir di Istana Bukti Umat Islam Peduli Keutuhan Bangsa dan Negara

Kiai Ishom, sapaan akrabnya, berharap acara serupa dilaksanakan di tempat yang lebih luas. Misalnya, di Monumen Nasional (Monas) agar bisa diikuti lebih banyak lagi oleh masyarakat.

 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kalau di Istana kan sempit. Apalagi yang datang ribuan,” tandasnya.

Saat ditanya arah majelis dzikir tersebut, apakah bermuatan politis atau bakal menjadi ormas bahkan partai politik, kiai asal Lampung ini langsung menepis.

 

“Saya kira tidak lah. Para kiai yang datang banyak dari kalangan syuriyah yang ikhlas. Saya pribadi berharap ini fokus ke dzikir saja,” kata Kiai Ishom.

Sementara itu, salah satu pengurus PWNU Kalimantan Barat, KH Faruqi, di sela-sela ramah tamah mengaku sangat mendukung dan antusias sekali mengikuti dzikir di Istana.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

 

“Saya melihat ini tonggak persatuan antara ulama dan umara. Ke depan perlu makin dikuatkan,” ujarnya.

Kiai Faruqi yang datang bersama empat orang dari Pontianak berharap dzikir nasional bisa memantik persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa. “Semoga di tahun-tahun berikutnya acara seperti ini bisa diadakan kembali,” harapnya.

Hadir dalam acara tersebut, jajaran para kiai sepuh seperti KH Anwar Mansyur Jawa Timur, KH Bagindo Leter Sumatera Barat, KH Abuya Muhtadi Banten, RM Irfa’i Nachrawi Yogyakarta, dan KH Aniq Muhammadun Jawa Tengah. 

Selain para kiai sepuh, ribuan jemaah dari sejumlah pondok pesantren di Jabodetabek tampak berduyun-duyun memasuki halaman Istana sejak petang. Mereka kemudian melaksanakan salat maghrib berjamaah.

Usai berjamaah, hadirin tampak antusias menikmati penampilan grup nasyid Snada dan musik gambus Hubbul Wathon. 

Dzikir kebangsaan yang bertema ‘Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan’ ini terselenggara berkat kerjasama pihak Istana Negara dengan Majelis Dzikir Hubbul Wathon yang diinisiasi Rais Aam Syuriyah PBNU KH Ma’ruf Amin. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah, Kajian Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 13 Oktober 2015

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line

Samarinda, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Salah satu agenda rapat Koordinasi Nasional Lajnah Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) di Samarinda, Sabtu (14/4) adalah mengenai pengembangan media informasi on-line berbasis NU di berbagai daerah di Indonesia.

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN-NU Kawal Pengembangan Media on-Line

Ketua Pengurus Pusat LTN-NU Sulton Fathani mengatakan, rapat koordinasi nasional kali ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, pada Februari 2012 di yayasan Bani Hasyim, Malang. 

“Pasca acara di Malang itu, saya sudah melihat dan mengawal semua perkembangan website di Jawa Timur dan hingga saat ini sudah ada sekitar 12 website yang sudah update. Bahkan untuk untuk Kabupaten Sumenep dan Pamekasan sudah update tiap hari,” tutur Sulton.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bagi media on-line yang aktif, lanjutnya, PP LTN-NU akan memberikan bantuan dana pengelolaan. Sebaliknya, pihaknya akan mencabut hak kelola media on-line yang diserahkan kepada wilayah dan daerah jika  selama 1 tahun ke depan tidak dikelola dengan baik. “Jadi, website yang mati akan dikubur,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan itu, Sulton mengatakan, pihaknya sedang melakukan penguatan di bidang penerbitan, membangun jaringan media NU dengan media-media nasional, serta menggagas media radio dan televisi.

“Selama ini pengurus cabang yang memiliki radio hanya dua daerah, Sumenep dan Ponorogo, ini patut ditiru,” tegasnya.

Selain itu, ia menyarankan agar LTN NU di wilayah dan daerah hendaknya merevitalisasi kantor dan mengangkat staf kantor yang sekiranya bisa intens mengelola kantor tersebut, sehingga menjadi hidup. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syafiqurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 07 Oktober 2015

Ramadhan dan Eksodus Santri

Oleh Muhammad Zidni Nafi’

Khazanah keunikan dunia pesantren memang tidak ada habisnya untuk dikupas. Dari mulai sistem pesantren, lingkungannya, kiainya hingga tingkah laku tradisi-tradisi santri-santri yang kerap kali menarik untuk ditelusuri. Hal ini karena santri hidup serta mengembangkan potensi lahir dan batin di lingkungan pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam asli Nusantara. Bahkan memasuki millenium ketiga ini, pesantren menjadi salah satu penyangga yang sangat penting bagi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Islam mengajarkan bahwa pelajaran atau kewajiban mencari ilmu tidak ada ujung akhirnya. Sebagai akibat dari ajaran-ajaran ini, maka salah satu aspek penting dalam sistem pendidikan di pesantren ialah tekanan kepada murid-muridnya untuk terus menerus berkelana dari pesantren satu ke pesantren lain. Seorang santri seringkali dikatakan sebagai thalib al-‘ilm (seorang pencari ilmu), mencari guru yang paling masyhur dalam berbagai cabang pengetahuan Islam. Dengan demikian, pengembaraan merupakan ciri utama kehidupan kesatuan (homogenitas) sistem pendidikan pesantren, serta merupakan stimulasi bagi kegiatan dan kemajuan ilmu (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 49).

Di momen-momen menjelang bulan suci Ramadan, santri dan pesantren di Jawa mempunyai tradisi unik yang populer dengan istilah pasanan (posonan), atau pasaran kalau di pesantren Sunda. Istilah lainnya bisa disebut dengan pengajian intensif.

Ramadhan dan Eksodus Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan dan Eksodus Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan dan Eksodus Santri

Posonan dan Mekanismenya

Menurut almarhum Kiai Sahal Mahfudh pengasuh pesantren Maslakul Huda Pati, posonan atau pasaran adalah istilah khas pesantren Jawa untuk menyambut musim pengajian di bulan Ramadhan. Musim pengajian di bulan Ramadhan biasanya dilaksanakan 15-20 hari. (Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, 2012).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kenapa harus demikian? Pesantren-pesantren di Jawa ketika menjelang Ramadhan menganjurkan santri-santrinya atau atas inisiatif sendiri untuk ngaji di pesantren lain yang ia inginkan, meskipun ada juga santri-santri yang tetap mengaji di pesantrennya sendiri.

Ibaratnya, jika di dalam dunia akademisi luar pesantren ada istilah tukar pelajar, maka di dunia pesantren juga ada istilah tukar santri. Hanya saja tukar santri tidak diatur dalam sistem atau perjanjian-perjanjian tertentu seperti halnya tukar pelajar. Dengan kata lain, ‘eksodus santri’ atau istilahnya meninggalkan pesantren asalnya secara santri dalam jumlah besar-besaran menuju pesantren lain dalam rangka mengaji pada momen Ramadhan saja. Misal dari pesantren A posonan menuju ke pesantren B, begitu pula eksodus santri dari pesantren B posonan yang melawat munuju pesantren A.

Biasanya, pesantren-pesantren besar yang sudah biasa menyelanggarakan pengajian posonan, menyiapkan tempat tersendiri bagi eksodus santri dari pesantren lainnya. Dipisahkan untuk mengetahui agar santri asli dari pesantren tersebut tidak tercampur dengan santri dari luar. Terkadang ternyata ada juga santri yang mengikuti mengaji posonan bukan dari pesantren tertentu, hanya saja ia menyempatkan waktunya khusus mengikuti pendidikan pesantren hanya saat Ramadhan tiba.

Untuk kurikulum dan sistemnya pun berbeda dari hari-hari biasanya. Pesantren satu juga berbeda dengan pesantren lainnya dalam menentukan kitab-kitab dan kegiatan pengajian posonan yang dimulai sejak awal Ramadhan.

Kitab-kitab yang diajarkan biasanya sejenis kitab hadist seperti Riyadhus Sholihin, Arbain Nawawi, Bulughul Marom. Kitab tafsir misalnya Tafsir Jalalain, Ibn Katsir, Qishah fil Qur’an.? Kitab fiqih bernuansa tasawuf yang populer Irsyadul Ibad, Sullam Taufiq, kasyifatus Syaja. Dan kitab-kitab lainnya untuk menunjang intelektual dan spiritual santri.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengajian posonan juga bisa dikatakan special karena kiai-kiai sepuh turut ikut untuk mengajar. Misalnya, KH. Maimun Zubair pimpinan Pesantren Al-Anwar Sarang, ? hingga usianya ke-84? masih intensif mengajar kepada para santri. Musytasar NU ini rencanya akan mengajar kitab Bustanul Arifin Lil Imam An Nawawi pada pengajian posonan tahun 1435 H. Begitu pula kiai-kiai sepuh di pesantren lainnya.

Inilah hebatnya tradisi di pesantren, kiai dan santrinya begitu semangat untuk terus menimba ilmu. Padahal pengajian posonan jadwalnya sangatlah intensif. Biasanya jadwal pengajiannya mulai dari setalah shalat subuh hingga menjelang dhuhur. Usai jama’ah shalat dhuhur, dilanjutkan kembali sampai menjelang shalat ashar. Setelah shalat ashar berjamaah, mengaji lagi hingga waktu berbuka tiba. Tidak sampai disitu, seusai shalat tarawih, para santri posonan melanjutkan mengaji kitab bahkan sampai tengah malam. Begitu berulang-ulang sampai jadwal kegiatan pengajian posonan berakhir pada beberapa menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Teladan KH Wahab Hasbullah

Tradisi seperti ini sudah ada sejak dahulu. Tidak heran jika tradisi santri yang tidak hanya mengaji selamanya pada satu pesantren saja, tetapi mereka suka berkelana berpindah-pidah dari peantren satu ke pesatren lainnya.

Sebut saja, Kiai Haji Wahab Hasbullah seorang pejuang Nahdlatul Ulama asal Jombang. Meskipun pada waktu itu ayahnya merupakan pemimpin Pesantren Tambakberas, tetapi Wahab Hasbullah muda menimba ilmu di berbagai pesantren, mulai dari Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Cempaka, Pesantren Tawangsari dekat Surabaya, Pesantren Kademangan Madura, Pesantren Branggahan Kediri, hingga terakhir beliau menyelesaikan pendidikan pesantren di Tebuireng Jombang. Wajar apabila tokoh NU ini terkenal sangat alim, karena pendidikan pesantren yang ditempuh tidak sembarangan.

Perlu Apresiasi

Di tengah-tengah zaman yang begitu canggih seperti ini, masih ada lebih dari hitungan jari, generasi-generasi hebat, gigih dan tulus dalam mencari ilmu, bukan mengejar duniawi saja. Para santri dengan kostum sarung dan peci yang menjadi ciri khas, serta berbekal kitab-kitab kuning yang digenggam di tangan kanannya, dengan niat tulus, ta’dhim guru, membulatkan tekad, yakin dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan ajaran Nabi: Tholabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.

Perlu adanya perhatian lebih dari pihak-pihak yang merasa berwenang untuk dapat mengembangkan dan melestarikan tradisi-tradisi pesantren agar tidak terkikis oleh derasnya perubahan zaman. Karena eksistensi dari santri-santri pesantren lah salah satu pilar untuk menegakkan Islam Indonesia, Islam yang rahmatan lil alamin.

?

Kudus, 26 Juni 2014

*Penulis adalah alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, kini bergelut sebagai jurnalis serta mengemban amanah sebagai Ketua CSS MORA (Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita, Sejarah, Olahraga Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 16 September 2015

NU Dinamis tapi Ber-manhaj

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan pemikiran yang dikembangkan oleh NU merupakan gerakan pemikiran yang dinamis dalam arti mengikuti perkembangan yang ada. Namun demikian, pemikiran yang dikembangkan tersebut tetap mengacu pada manhaj atau metode berfikir yang dikembangkan oleh empat mazhab yang diakui oleh NU.

Demikian diungkapkan oleh Rais Syuriah PBNU KH Ma’ruf Amin dalam Pelatihan Kader Dai II yang mengambil tema “Aswaja dalam Perspektif Islam Rahmatan Lil Alamin yang diselenggarakan oleh LDNU dan Muslimat NU di Jakarta, Rabu.

Dijelaskan oleh Ketua Dewan Fatwa MUI tersebut bahwa pada era 1990-an NU pernah mengalami konservatifme. Kalangan ulama NU hanya menerima manhaj secara kouli atau secara tekstual sehingga banyak persoalan keagamaan yang tak terjawab karena memang persoalan tersebut belum ada saat ulama pendiri mazhab hidup.

NU Dinamis tapi Ber-manhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Dinamis tapi Ber-manhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Dinamis tapi Ber-manhaj

Akhirnya dalam Munas NU di Lampung pada tahun 1992, diputuskan bahwa NU tetap bermazhab tetapi secara kouli dan manhaji. “Persoalan-persoalan baru akhirnya bisa terjawab dengan menggunakan metode yang digunakan para ulama,” tandasnya.

Ia mencontohkan kasus yang terjadi di Banten yang dialami oleh Syeikh Nawawi Banten. Menurut pendapat Imam Syafii zakat harus dibagi rata pada tujuh golongan, namun kondisi di Banten saat itu tidak memungkinkan karena tujuh golongan tersebut tidak terpenuhi. Dan menurut pendapat imam yang lain, dimungkinkan untuk dibagi meskipun tidak lengkap tujuh golongan tersebut.

“Makanya, seandainya Imam Syafii mengalami hal yang sama, pendapat itulah yang diambil olehnya,” tandasnya mengutip salah satu ulama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sayangnya belakangan ini, telah terjadi dinamisasi yang kebablasan yang mengarah pada liberalisasi dan penafsiran terhadap Al Qur’an yang berlebihan seperti penggunaan metode hermenetika dalam menafsiri Al Qur’an, usulan amandemen Qur’an maupun reinterpretasi Qur’an disesuaikan dengan globalisasi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Nantinya kalau nuruti seperti itu Qur’an yang asli malah hilang. Makanya NU dalam munas di Surabaya lalu memutuskan untuk tidak boleh menafsiri Qur’an yang sudah Qoth’i,” imbuhnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 09 September 2015

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan

anaaakkk

assambayangko nutambung

pakajai amalkanu

mateko sallang

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelong, Islam Disampaikan Sejak di Ayunan

nanu sassalak kalennu



Kalimat-kalimat tersebut dinamakan kelong atau syair pengantar tidur atau meninabobokan bayi-bayi Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. Makna dalam bahasa Indonesia syair itu adalah “tegakkanlah shalat terus menerus/perbanyak amalmu/kelak engkau wafat/dan engkau menyesali dirimu”. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut sastrawan Makassar, Chaeruddin Hakim, ketika Islam datang ke wilayah Sulawesi, disebarkan oleh para ulama sekitar abad ke-13 Masehi, salah satunya melalui jalur kesenian, di antaranya melalui kelong tersebut. “Islam disampaikan tidak dengan Al-Qur’an terlebih dahulu, tapi dengan lokal genius, melalui alat musik dan sastra tutur atau kelong,” katanya.? ?

Kelong, lanjut dia, adalah ungkapan-ungkapan tetua. Kelong (dalam bahasa Bugis elong) semakna dengan passang. Dalam bahasa indonesia artinya pesan atau amanat. Amanat tetua Islam tentang shalat, zakat, haji, puasa, disampaikan dengan cara seperti itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sampai saat ini umumnya kelong bersifat anonim. Namun demikian, terdapat beberapa naskah manuskrip dengan huruf Lontara yang di dalamnya banyak terdapat kelong. Ketika sampai ke masyarakat, pengarangnya sudah tidak diketahui.

“Kelong itu dibacakan kepada anak-anaknya ketika mau tidur, dininabobokan, sambil diayun. Kalau di Makassar namanya eya eya oo. Kalau di Bugis namanya ejabelale. Syair-syairnya hampir sama yaitu harapan dan doa,” jelasnya.

Dari segi bentuk, ada yang kelong agama yang berisi ajaran-ajaran atau pesan, ada juga kelong simpung pamai (syair bersedih hati). Tapi masih ada jenis-jenis yang lain.

“Saya menekuni kelong sejak SMA tahun 80 sampai ke sekarang. Skripsi dan tesis serta rencana disertasi, pernah terdaftar di S3 Unes Semarang, tapi belum dilanjutkan, semua tentang kelong. Saat ini aktif sementara mendokumentasikan naskah-naskah sastra tutur yang tersebar atas biaya sendiri,”

Ketika ditanya kenapa menarik dengan kelong, bagi Chaeruddin, karena terdapat nilai-nilai religiusitas keislaman dan ajaran moral secara universal sehingga dapat dijadikan salah satu media dakwah alternatif. Dan ia memilih jalur itu sebagai dakwah.

Tapi sayang, para orang tua sekarang sudah sangat jarang meninabobokan anak dengan. Di antara penyebabnya, arsitektur rumah dan kebiasaan orang tua yang tidak lagi membuat ayunan untuk anak-anaknya.

“Kalaupun diayun sudah tidak lagi diiringi kelong. Salah satu penyebabnya karena penyebaran kelong dari generasi tua ke generasi muda tidak simultan.”

eyaa eyaa eyaa oo, eyaa eyaa eyaa? oo (aduhai, aduhai)

tutuko maklepa lepa, anaaak? (hati-hatilah berdayun sampan, anakku)

makbiseang rate bonto (berperahu di atas pematang)

tallangko sallang (KELAK engkau tenggelam)

nana sakkoko alimbukbuk? (dan tersedak debu)
(Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Khutbah, Meme Islam, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 18 Agustus 2015

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

Bandar Lampung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Wakil Rais Syuriyah PWNU Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid menjelaskan bahwa Paradigma Islam Wasathiyah (moderat) harus menjadi corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia. Hal ini menurutnya penting seiring dengan semakin kuatnya indikasi bergesernya gerakan keislaman di negeri ini ke kutub kiri ataupun kutub kanan.

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

"Pergeseran ke kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme dan sekularisme dalam beragama. Sedangkan pergeseran ke kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama.

Demikian disampaikan Kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini saat menjadi Pemateri pada Dialog Ormas Keagamaan di Kampus Universitas Malahayati Bandarlampung, Kamis (20/7).

Kiai Khairuddin menambahkan bahwa Islam wasathiyah identik dengan kaum Muslimin yang disebut sebagai ummatan washatan dalam Quran yang mampu menjadi saksi kebenaran bagi manusia Iain. "Ummatan washatan adalah umat yang selalu menjaga keseimbangan. TIdak terjerumus ke ekstrimisme kiri atau kanan, yang dapat mendorong kepada tindakan kekerasan," ujarnya.

Islam moderat lanjut Dosen UIN Raden Intan Lampung ini, memiliki ciri sesuai dengan beberapa qaidah seperti santun, tidak keras dan tidak radikal (Layyinan, Ia fazzon wala gholizon), Kesukarelaan, tidak memaksa dan tidak mengintimidasi (Tathowwuiyyan, Ia ikrohan wala ijbaron), toleran, tidak egois dan tidak fanatis (Tasamuhiyyan, Ia ananiyyan wala taasubiyyan) dan saling mencintai, tidak saling membenci dan bermusuhan (Tawaddudiyyan, Ia takhosumiyyan wala tabaghudiyyan).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Keterkaitannya antara agama dengan negara, ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan contoh model relasi negara yang simbiotik mutualisme. Agama dan negara merupakan dua entitas yang berbeda. Namun keduanya dipahami saling menempatkan diri, di mana agama dan negara dipahami sebagai saling membutuhkan secara timbal balik.

"Agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama, sebaliknya negara juga memerlukan agama karena agama juga membantu dalam pembinaan moral, etika dan spiritualitas," katanya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa Agama dalam konteks negara mesti diletakkan sebagai sumber nilai, dan secara fungsionai agama mengambil peran tawassuth. Hal ini dalam artian menentukan visi kenegaraannya dengan pendekatan membangun masyarakat Islam (Islamic society) dari pada membangun negara Islam (Islamic state). (Muhammad Faizin/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 10 Agustus 2015

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Lokakarya “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Pesantren Sehat” untuk wilayah Jawa Timur yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ulum, Sabtu (19/11) diikuti perwakilan dari 15 PCNU, 15 PC LKNU, 45 pimpinan pondok pesantren, 15 Dinkes Kabupaten di Jawa Timur, dan DPRD.?

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kesepakatan dan komitmen bersama mendukung gerakan masyarakat hidup sehat.

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan

Selain itu, perwakilan-perwakilan tersebut juga mendiskusikan rencana tindak lanjut. Kapubaten Bangkalan misalnya merencanakan antara lain menjalin komunikasi dan koordinasi yang intens dengan Dinkes Kabupaten Bangkalan, menggulirkan Gerakan Jamban Sehat, dan pengolahan sampah melalui bank sampah.

Kabupaten Mojokerto menghasilkan rencana tindak lanjut, yaitu penyuluhan kesehatan santri, pelatihan kader kesehatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten, Kunjungan Dinkes Kabupaten ke pesantren untuk sosialiasi makanan sehat bagi santri, danmengadakan lomba santri sehat.

Wakil Ketua LK PBNU Zulfikar As’ad mengatakan secara umum dari masukan rencana tindak lanjut seluruh peserta mengharapkan adanya kesinambungan kegiatan dari PBNU, ? PWNU, dan PCNU dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di daerah masing-masing.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Ini memang harus dilakukan karena masalah kesehatan di pesantren menjadi tanggung jawab bersama. Juga harus menjadi perhatian khusus pemerintah, karena terdapat lebih dari 26 ribu pesantren di Indonesia.”

Pesantren-pesantren itu, lanjut pria yang sering disapa Gus Ufik, dengan segala keterbatasannya, selama ini betul-betul mandiri. Sehingga menjadikan pesantren lebih komprehensif dalam mempersiapkan kader untuk generasi ke depan yang bisa berkirkiprah bagi Indonesia.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Salah seorang peserta lokakarya, Sukma Sahadewa, mengemukakan hasil kegiatan lokakarya sangat baik bila bisa diterapkan di pondok pesantren yang notabene-nya memag program ini berbasis masyarakat.

“Bila dikerjakan dan dilakukan di pondok pesantren yang memang santrinya banyak, akan bisa berjalan baik untuk melakukan gerakan masyarakat hidup sehat. Pembangunan kesehatan harus menyentuh ke segala pihak termasuk pesantren sehingga betul-betul pesantean bisa menjadi stakeholder yang menyiapkan kesehatan baik secara jasmani, rohani, dan sosial,” ujar Sukma. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 24 Juli 2015

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Tangerang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan Pemuda Ansor dan Baznas Tangerang menggelar acara Santunan Mualaf yang diselenggarakan di Sekretariat GP Ansor Kabupaten Tangerang pada Ahad (11/6). Kegiatan ini mengambil tema Berbagi di Bulan Suci, Menggapai Ridho Ilahi.

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Baznas Tangerang Santuni 102 Mualaf

Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang Khoirun Huda menjelaskan bahwa kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan Ramadhan. "Ini bentuk pangabdian kita terhadap masyarakat sekaligus bukti kepedulian kita terhadap kaum mualaf," ucapnya.

Menurutnya, para mualaf dan mualafah tersebut datang dari berbagai daerah di Kabupaten Tangerang.?

"Data mualaf tersebut kami peroleh dari jejaring Banser dan Muslimat yang ada di masing-masing wilayah. Ada 102 mualaf yang kami santuni," tambahnya.

Ketua Baznas Kabupaten Tangerang KH Afif Afifi menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menyalurkan zakat, infaq, sedekah yang terhimpun di Basnas kepada masyarakat yang memang memiliki hak atas ZIS tersebut.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Santunan mualaf ini adalah bagian upaya penyaluran dan pendistribusian zakat, infak, dan sedekah dari masyarakat yang diserahkan kepada Baznas," tuturnya.

Ia juga berharap ke depan semakin tumbuh kesadaran masyarakat untuk mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada Baznas.

"jika kesadaran masyarakat untuk membayar zakat ini tinggi maka Baznas sebagai lembaga akan mendapatkan akumulasi dana yang besar sehingga ikhtiar kita untuk selalu ingin membantu sesama juga akan semakin besar dan maksimal."

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara ketua panitia Anwari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang digagas oleh keluarga besar NU, Basnas dan juga oleh Forum Pemuda Lintas Agama (FPLA).?

"Ini upaya kita membangun kebersamaan antarlembaga melalui program-program nyata bagi masyarakat."

Kegiatan ini juga dirangkai dengan pembagian seribu ? takjil, buka puasa bersama kader-kader Ansor Banser dan FPLA se-Kabupaten Tangerang.

Anwari juga mengatakan kegiatan membagi-bagikan takjil ini dilakukan untuk mempermudah warga dan para pengendara kendaraan motor yang hendak berbuka puasa.

"Kami menyiapkan seribu takjil untuk buka puasa warga yang melintas di depan Sekretariat Ansor." Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sunnah, Hadits, Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Pamekasan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pencak Silat Pagar Nusa NU Pamekasan tahun lalu gencar melatih para santri di berbagai pesantren untuk dijadikan anggota. Tahun ini, organisasi yang diketuai Salman Al-Farisi ini menyasar kalangan mahasiswa.

"Kita bekali mereka keterampilan pencak silat yang bernapaskan paham Aswaja An-Nahdliyah. Diharapkan, mereka menjadi pendekar yang membentengi NKRI dengan keterampilan pencak silat penebar kebajikan," tegas Salman Al-Farisi saat dihubungi Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan via telepon, Ahad (29/1) pagi.

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa NU Pamekasan Sasar Anggota dari Mahasiswa

Menurutnya, kalangan mahasiswa rentan bertindak anarkis. Itu bisa dicermati tawuran antarmahasiswa di beberapa kampus. Tindak kekerasan oknum mahasiswa tidak lepas dari arogansi diri yang tidak ada yang mengendalikannya.

"Dengan bergabung di Pagar Nusa NU, kita doakan dan upayakan agar mereka menjadi pendekar sejati. Yaitu, tangguh menghadapi tantangan hidup tanpa harus berperan dalam kerusakan tatahan hidup bersosial," tegasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bulan ini, para mahasiswa Universitas Islam Madura (UIM) digembleng secara intensif oleh Pagar Nusa NU Pamekasan. Usai berlatih, mereka akan mendapat siraman rohani berkaitan dengan keagamaan dan kebangsaan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Amalan, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 08 Juli 2015

Rekomendasi Mukernas PKB

Semarang, NU.Online
Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Batutulis di Semarang yang berakhir Minggu dini hari, merekomendasikan tiga hal termasuk pembentukan partai baru bila Mahkamah Agung (MA) mengalahkan gugatan Matori.

Tiga hal rekomendasi Mukernas itu disampaikan oleh Ketua DPW PKB Bengkulu H. Anshari Ishak  dalam penutupan Mukernas di Semarang, Minggu pukul 00.30 WIB.

Rekomendasi pertama menyebutkan bahwa partai akan terus berusaha untuk memenangkan perkara di tingkat peninjauan kembali (PK) dan Kasasi di Mahkamah Agung (MA) dalam rangka penegakan hukum di Tanah Air.  Apabila keputusan PN Jakarta Selatan dibatalkan maka Sidang Istimewa MPR 2001 adalah tidak sah demi hukum yang berimplikasi kepada bubarnya pemerintahan RI yang dipimpin Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kedua, apabila dalam gugatan Matori dalam proses hukum di tingkat MA baik pada PK maupun pada tingkat kasasi dikalahkan, maka dengan penuh kesadaran Mukernas merekomendasikan pembentukan partai baru dan kemungkinan nama partai yang digunakan adalah PKD (Partai Kebangsaan Demokrasi).

Ketiga, apabila Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil memenangkan gugatan di tingkat PK maupun di tingkat kasasi, maka Matori diharapkan secara maksimal mengupayakan ishlah dengan mediasi PB NU.

Menanggapi rekomendasi pembentukan partai baru, Matori menyatakan masih akan dibicarakan mengenai nama dan kapan akan dideklarasikan.

"Yang jelas partai baru akan berorientasi kepada aspek
kebangsaan dan demokrasi," katanya.Untuk mempersiapkan kemungkinan MA mengalahkan pihak Matori maka setiap DPW diperintahkan untuk menggalang konsolidasi dan membentuk pengurus cabang. Dengan demikian apabila rencana pembentukan partai baru akan diwujudkan, maka seluruh pengurus sudah siap didaftarkan di Departemen Kehakiman untuk mengikuti Pemilu 2004.

Matori memberi waktu hingga akhir Agustus seluruh DPW dan DPC sudah memenuhi persyaratan untuk didaftarkan ke Depkeh termasuk apabila partainya harus berubah nama itu.

Sementara itu ketua PBNU, Andi Jamaro mengatakan, PBNU tidak punya wewenang untuk melarang atau mendirikan partai baru oleh Matori.  Dengan akan dideklarasikannya partai cadangan jika kalah ditingkat PK dan Kasasi di MA, ini menunjukan semakin kecil upaya untuk ishlah bagi kedua belah pihak karena  kedua kubu sama-sama menyiapkan "partai sekoci", namun PBNU masih mengharapkan titik idealnya dari perseteruan di PKB adalah Ishlah dan menjadi satu, tambahnya. (Mkf/Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rekomendasi Mukernas PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekomendasi Mukernas PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekomendasi Mukernas PKB

Jumat, 03 Juli 2015

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

Solo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ribuan orang ikut menghadiri acara peringatan Haul KH Siradj yang digelar di dekat Pesantren As-Siradj, Jalan Honggowongso, Panularan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/10) malam. Kiai Siradj merupakan salah satu tokoh perintis Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Solo.

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Ciri Waliyullah itu Tidak Takut dan Susah

KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), yang memberikan mauidhah hasanah menjelaskan, Kiai Siraj selain memiliki akhlak yang mulia, juga diketahui khalayak karena memiliki beberapa karomah. Hal ini membuatnya dianggap banyak orang sebagai salah satu waliyullah.

Adapun ciri yang lain, seorang wali, menurut Gus Mus, yakni tidak memiliki rasa takut dan rasa susah. “Ciri wali, balane Gusti Allah, kuwi ora duwe wedi ora duwe susah, koyo Mbah Siradj (Ciri seorang wali, temannya Allah, itu tidak memiliki rasa takut dan rasa susah, seperti Mbah Siradj ini,” tuturnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir tokoh NU dari Kabupaten Semarang, KH Muromi yang membacakan riwayat hidup Kiai Siradj, antara lain tentang masa ketika Kiai Siraj tengah mencari ilmu.

“Mbah Siraj ini pernah berguru ke berbagai ulama, antara lain Kiai Soleh Darat Semarang dan Kiai Dimyati Tremas Pacitan,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lebih lanjut dipaparkan mengenai pribadi Kiai Siradj yang juga dikenal sebagai salah satu mursyid thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah. “Beliau mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menghormati kepada siapa pun, bahkan kepada orang non-muslim sekalipun,” tuturnya.

Acara peringatan haul Kiai Siraj ini sekaligus untuk memperingati haul beberapa anak keturunannya, antara lain Kiai Shoimuri (pernah menjadi Rais Syuriyah PCNU Boyolali), dan Kiai Mubin Shoimuri (Ketua PCNU Kota Solo). (Ajie Najmuddin/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 23 Juni 2015

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Sedikitnya 200 orang pelajar NU di Kabupaten Probolinggo mengikuti doa bersama jelang ujian nasional (UN) di Pondok Pesantren Miftahul Khoir Desa Menyono Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo, Ahad (2/4). Acara yang diinisiasi IPNU-IPPNU Probolinggo ini dihadiri oleh Camat Kuripan dan pengurus harian MWCNU Kuripan.

Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Babus Salam mengatakan, doa bersama ini digelar untuk memberikan bimbingan serta dorongan semangat kepada para pelajar NU yang akan mengikuti UN tahun 2017.

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Ujian Nasional, Pelajar NU Probolinggo Gelar Doa Bersama

“Semoga kegiatan ini bisa menambah motivasi pada pelajar NU agar betul-betul mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin dalam menyambut ujian nasional. Meskipun bukan lagi menentukan kelulusan, setidaknya nanti bisa meraih hasil yang maksimal,” katanya.

Menurutnya, doa bersama ini merupakan salah satu ikhtiar yang harus dilakukan oleh pelajar NU selain belajar dengan sungguh-sungguh. “Harapannya ketika ujian nasional, pelajar NU bisa benar-benar siap lahir dan batin,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati. Menurutnya, doa bersama sukses UN bersama ratusan pelajar ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh IPNU-IPPNU Kabupaten Probolinggo.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Doa bersama ini dilakukan sebagai salah satu wujud perjuangan kami agar pelajar NU, menjadi garda terdepan untuk membentengi pelajar-pelajar dari faham radikalisme dan memperkuat aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” katanya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Makam, Amalan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 21 Juni 2015

Yasmin

Perpisahan ini cuma sementara. Aku yakini itu. Tapi entah kapan kita dapat berjumpalagi. Hanya Dia yang tahu.

Dialah anak gadisku yang baru merasakan remaja. Baru sebulan lalu usianya genap 15. Masih nyata gelak tawanya saat ia hanya kuhadiahi martabak buatanku yang ternyata asin berlebihan. Baru kali itu juga ia mencicipi rasanya martabak.

Yasmin (Sumber Gambar : Nu Online)
Yasmin (Sumber Gambar : Nu Online)

Yasmin

Fitrotul Yasmin, kunamai ia saat kulahirkan di gubukku. Ia tumbuh cerdas, sehat, sampai-sampai aku tak bisa mempercayai di usianya yang masih balita, perawat di puskesmas bilang Yasmin lumpuh. Polio. Lima huruf itu merenggut masa kanak-kanaknya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Aku mendekapnya, menciumi matanya yang bening. Yasmin hanya tersenyum, tak tahu bahwa ia tak bisa lagi berlarian dengan teman sejawatnya.

Dua tahun berlalu, aku tak pernah mendengar Yasmin mengeluh atas keadaannya. Dia menerima. Malah aku yang kerap menitikkan air mata di depannya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Suatu hari, tetanggaku memberinya sebuah kursi roda bekas. Ia senang bukan kepalang. Terus saja dilap sampai mengkilat. Dipamerkannya kepada teman sekelas yang malah balik mengejeknya. Tapi Yasmin tetap tertawa riang duduk di kursi rodanya.

Yasmin kuikutkan belajar mengaji tiap bada ashar dan malam bada maghrib kepada ustadzah Aisyah di surau ujung komplek perkumuhan ini.

Yasmin sangat cerdas, sering kali melontarkan pertanyaan yang sama sekali aku tak tau jawabannya.

"Mak, kalau Yasmin shalat kok saat takbir sama sujud kedua tangan Yasmin berbeda sama tangannya Harun?"

Kupandang ia dengan jawaban kosong.

"Mak, yang seharusnya kita inginkan itu ridlonya Allah atau surga Allah sih?" aku garuk-garuk kepala sendiri mendengarnya.

Suatu waktu, Yasmin juga ngambek. Gara-gara pulang sekolah, memergoki aku di rambu jalan raya, mengemis. Saat itu aku ingin coba-coba ikut tetanggaku yang mengemis. Tapi Yasmin protes.

"Mak, mending emak jadi pembantu, tukang cuci, penjahit, atau apalah seperti biasanya, sebisa Emak, semampu Emak. Asal satu, jangan mengemis! Selama kita punya keahlian dan kemampuan, harus digunakan!"

"Hasilnya tak cukup, Yas."

"Cukup. Insya Allah cukup. Hasil Emak nyuciin baju ibu-ibu komplek sebelah, hasil jahitan Emak, cukup kok. Nyatanya kita tak pernah kekurangan. Tak pernah ngutang sana-sini. Alhamdulillah kan rizqi kita cukup, meski tidak lebih sama sekali," ujarnya.

Ya, itu saat usianya 10 tahun. Ia mengajarkanku banyak hal.

**

"Bungkusan apa ini, Mak? Nasi kering? Kalo iya, buat Emak aja. Yasmin udah makan  kok tadi di sekolah."

"Buka dulu, baru komentar."

Ia hampir meloncat kaget tatkala mengetahui isinya martabak.

"Mak...ini?"

"Emak bikin sendiri tadi siang saat disuruh jagain rumahnya pak Haji Darmawan. Emak juga udah izin make bahan sama peralatan di dapurnya. Ya, emak sih belum nyobain bagaimana rasanya."

Yasmin mendorong cepat kursi rodanya ke arahku yang sedang menjahitkan rok sekolahnya yang sobek. Ia menghambur memelukku. Yasmin menangis.

Kemudian hening, kami saling diam.

Yasmin yang biasanya komentar ini itu, cuma diam memelukku. Apalagi aku, ikut terisak memeluknya.

"Mak, Yasmin tak berharap sama sekali kado dari siapapun hari ini. Yang Yasmin inginkan di hari kelahiran Yasmin adalah Allah kasih kebahagiaan yang luar biasa buat Emak hari ini. Yasmin ingin Emak bahagia dari hari-hari biasanya. Apa Emak sangat bahagia hari ini?"

Aku tercengang. Apa katanya? Apa permohonannya tadi? Kebahagiaanku di hari istimewanya?

"Yasmin tak berharap lebih sama ulang tahun Yasmin. Karena Yasmin tahu, kita bukan mereka yang bisa mudah merayakan hari-hari istimewanya. Iya kan Mak?"

"Iya sayang, emak ingin banget kasih kamu sesuatu hari ini. Dan ya, hanya ini yang bisa emak kasih ke kamu, Yas."

"Iya, terima kasih Mak, Yasmin beruntung sekali punya Emak di kehidupan Yasmin. Sampai kapan pun."

Aku tambah erat memeluknya.

"Apa hari ini Emak sangat bahagia?"

Aku mengangguk.

"Kamu tahu sayang apa yang bikin emak bahagia?"

Yasmin menggeleng.

"Karena kamu anak emak. Karena kamu belahan hati emak."

Yasmin menggeleng sekali lagi.

"Tidak, Mak,  yang lebih bahagia Yasmin, karena kalau tak ada Emak, Yasmin bukan siapa-siapa. Bahkan jika sampai nafas Yasmin terhenti berikut juga detak jantung Yasmin, sampai kapan pun, jasa Emak tiada terbalaskan."

Ia menghapus air mataku.

"Lihat anak Emak, sekarang udah jauh lebih pinter yach. Pinter nge-gombalin Emaknya," aku mengerling ke arahnya. Dia terbahak-bahak.

Selanjutnya, saat Yasmin mencomot martabakku ia terdiam tanpa ekspresi. Kubalas ekspresi itu dengan tanya "mengapa?"

Yasmin masih terdiam. Tiba-tiba dia terbahak sekali lagi.

"Martabaknya dikasih garam berapa kilo ini mak?”

“Hahahahaha..."

**

Pekat malam dengan hembusan angin yang kasar kurasakan. Firasatku tak begitu enak. Kularang dulu Yasmin berangkat mengaji bada maghrib. Ternyata benar, selang lima menit tiba-tiba langit bergemuruh. Liukan pohon sekitar rumah kami seperti hendak roboh. Kami berdua meringkuk di sudut kamar dengan dzikir. Yang kutakutkan, jika tiba-tiba gubuk kami roboh.

Yasmin juga sama takutnya. Ia fasih melafalkan surat Yaasin sebagai dzikirannya. Ia hafal diluar kepala. Sedangkan aku cuma sebisaku.

Malam beranjak larut pekatnya semakin tak karuan. Ada apa langit malam ini seperti murka?

Yasmin tertidur di sebelahku. Kuselimuti ia dengan jarik batik warisan nenekku. Sebelum terlelap, Yasmin membisikkan sesuatu di telingaku.

"Mak, se-mengerikan apapun keadaan di luar sana, hati Yasmin tetap tenang. Karena Emak selalu ada di sisi Yasmin. Kalau Emak tak percaya dan masih menganggap Yasmin nge-gombal, baca aja di buku harian Yasmin, tuh Yasmin taruh di belakang lemari."

"Iya deh, emak percaya. Udah, lekas tidur, besok bantuin emak goreng bakwan buat kantin sekolahmu."

Tepat pukul 11 malam. Pintu triplek gubukku terbuka dengan kasar. Didobrak seseorang dari luar. Dengan beringas seseorang itu berjalan terhuyung ke kamar kami. Remang-remang, kulihat sosok itu dengan penuh ketakutan.

Dia mengobrak-abrik seisi lemariku. Baju-baju kami berserakan. Yasmin terbangun dan meringkuk di dekapanku. Sosok laki-laki yang kulihat mengamuk. Membanting apa saja didalam kamar ini.

"Idaaaa...!! Kau taruh mana uangmu? Kasih semuanya sekarang kepadaku."

Laki-laki itu tajam menatapku. Aku tak beranjak sedikit pun meninggalkan pelukan Yasmin, karena aku tahu ia takut setengah mati tiap laki-laki itu datang ke rumah kami.

"Mak..." lirih Yasmin.

"Bawa sini uangnya!" bentak laki-laki itu sekali lagi.

Lalu tiba-tiba tangan Yasmin ditariknya. Lalu diseret paksa keluar kamar. Yasmin terpelanting ke bawah kasur lusuh kami dan mengaduh kesakitan. Aku tak bisa meraihnya kembali karena laki-laki itu sangat cepat menyeret Yasmin.

Di kursi ruang tamu, Yasmin dibenturkan tanpa ampun. Ia mengerang, laki-laki itu tertawa. Dadaku sesak, pertama kalinya kusaksikan belahan jiwaku yang kucintai disiksa bagai binatang. Aku berteriak minta tolong. Segera kuambil tabunganku yang tersisa. Kuberikan padanya dengan segera. Berharap Yasmin dilepas dari cengkeramannya. Laki-laki itu tak puas dengan pemberianku. Botol arak yang sedari tadi ia pegang dihantamkannya ke kepalaku. Kesadaranku hampir hilang, aku terjatuh di hadapan Yasmin. Laki-laki itu mencengkeram mulutku.

"Kau berani bohong sama suamimu! Istri macam apa kau?!"

Dia menamparku hingga ujung mulutku berdarah. Menjambak rambutku. Ditendangnya tubuhku, aku hampir tak sadarkan diri. Hingga saat terakhir, laki-laki itu di puncak kemarahannya dan hendak menendangku sekali lagi. Pasti ini tendangan terakhirnya yang mematikan. Aku melemah, menunggu izroil bila memang malam ini hidupku terhenti.

Saat laki-laki itu hampir mengenai tubuhku, Yasmin tiba-tiba berada di depanku. Kulihat dengan pandanganku yang mengabur Yasmin berdiri dengan kedua kakinya dan berlari ke arahku. Ia berdiri dengan sempurna. Tapi sepertinya ia tak menyadari mujizat Allah padanya kali itu. Ia menempatkan tubuh mungilnya di depanku. Menerima tendangan laki-laki itu. Tepat di dada kirinya kaki itu menghantam.

Yasmin tersungkur di depan wajahku. Nafasnya tersengal, aku merengkuhnya. Tiba-tiba saja tubuhku menguat. Yasmin terkapar hendak pergi. Nafas Yasmin semakin jeda. Matanya perlahan mengatup. Tapi ia menyunggingkan senyum kepadaku. Senyum termanis yang belum pernah kulihat. Matanya terpejam untuk sementara. Ya, benar.

Yasmin pergi…

Kudus, 2013

 

 

SISKA NUJUMUL LAILI, lahir di Kudus, 21 Desember 1992. Ia melalui pendidikan  SDN 01 Mlati Lor Kudus, MTs. NU Banat Kudus, MA NU Banat Kudus dan tercatat sebagai santriwati Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Kudus

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 11 Juni 2015

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK

Jakarta,Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Puluhan anak muda pengagum dan pecinta KH Abdurrahman Wahid (Gusdurian) berkumpul di beranda gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, selepas magrib Ahad (1/2). Mereka berdoa dengan membacakan Hizb Nashar dan istigotsah.  

Hizb dan istigotsah itu merupakan doa yang dikeluarkan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama PBNU. Hal itu terlihat pada logo tiap lembar HVS yang dibaca tiap peserta.

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian Baca Hizb Nashar dan Istighotsah di KPK

Menurut salah seorang Gusdurian, Abdul Moqsith Ghazali, hal itu dilakukan untuk mendoakan supaya KPK selamat dari upaya kalangan tertentu yang akan melemahkan lembaga pemberantas korupsi tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sengaja, kata dia, para Gusdurian berdoa dengan panjang karena tidak tahu bagian mana yang akan dikabulkan Allah. Tapi yakin, di antara doa itu ada yang dikabulkan. Berbeda dengan wali  yang berdoa dengan pendek karena sudah tahu doa mana yang akan diterima.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menambahkan, para pengagum dan pecinta Gus Dur tersebut adalah para santri yang tinggal di Jakarta. Jangan diragukan lagi bahwa mereka orang-orang yang fanatik cinta tanah air. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib, Ahlussunnah, Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 30 Mei 2015

Hati-hati Fitnah untuk Cerai-beraikan NU

Jepara, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pengasuh Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus KH Ahmad Badawi Basyir mengingatkan kepada Nahdliyyin untuk mawas diri terhadap aliran model-model baru saat ini. Menurutnya banyak cara yang dilakukan mereka untuk menggembosi paham Aswaja ala NU.

Salah satu yang ia utarakan membenturkan para kiai dengan sejumlah fitnah dan saling dibenturkan. Jika sudah bercerai-berai, lanjut putra KH Ahmad Basyir itu, Nahdliyyin akan mudah sekali digerogoti.

Hati-hati Fitnah untuk Cerai-beraikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-hati Fitnah untuk Cerai-beraikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-hati Fitnah untuk Cerai-beraikan NU

Pernyataan itu Kiai Badawi sampaikan dalam Majelis Zikir dan Shalawat Rijalul Ansor PAC GP Ansor Mayong yang dilaksanakan di Pendopo kecamatan Mayong, Jumat (23/12).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karena itu umat dan kiai harus tetap bersatu agar akidah aswaja tidak mudah goyah oleh paham yang tidak genah (tidak jelas, red). “Ini juga menjadi tugasnya Ansor dan Banser untuk membentengi ideologi kita Nahdlatul Ulama,” jelasnya.

Ketua MWCNU Mayong, K. Mughis memotivasi Ansor dan Banser sebagai generasi penerus NU untuk intens mengasah diri dan terus berjuang menegakkan Aswaja ala NU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kesempatan itu pihaknya mengingatkan, kecamatan Mayong saat ini menjadi pusat industri. Tentu, kata dia imbasnya pelan tapi pasti bakal dirasakan terutama pergaulan bebas di lingkungan kos.

“Kita butuh kerja sama aparat dan Ansor Banser untuk Kamtibmas dan penertiban bersama dengan pendekatan persuasif,” imbaunya. ?

Rini Padmini, Camat Mayong menambahkan kemandirian Ansor perlu dibangun apalagi sebut Rini usia anggota Ansor adalah masa produktif. “Ayo ciptakan lapangan pekerjaan agar kita tidak menjadi budak di negeri sendiri,” imbuhnya dengan memberi semangat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad dan pelantikan bersama GP Ansor, Fatayat dan IPNU-IPPNU se-kecamatan Mayong.

Menurut Ahmad Kholas Syihab, Ketua PAC GP Ansor Mayong kesempatan itu ada 11 ranting Ansor, 2 Fatayat dan 8 IPNU-IPPNU yang dilantik.

“Kami berharap acara seperti ini bisa sering-sering dilaksanakan agar kecamatan Mayong benar-benar kondusif seinergi antara ulama dan umara,” harapnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 20 Mei 2015

Indonesia Layak Menjadi Pemimpin Dunia Islam

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Dengan berbagai potensi dan sumberdaya yang dimilikinya, Indonesia memiliki potensi menjadi pemimpin dunia Islam dimasa mendatang, tentu saja jika kebijakan yang dibuatnya bisa mengatur hubungan antara negara dan agama dengan baik dan mendorong kemajuan bangsa.

Beberapa keunggulan yang dimiliki Indonesia adalah wilayahnya sangat luas, penduduk muslimnya paling besar, kekayaan alamnya beraneka ragam, sampai dengan sistem demokrasinya paling lumayan dibandingkan dengan negara Islam lainnya.

Indonesia Layak Menjadi Pemimpin Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Layak Menjadi Pemimpin Dunia Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Layak Menjadi Pemimpin Dunia Islam

Berbagai negara muslim lainnya sebenarnya juga memiliki potensi, namun banyak hambatan yang harus mereka hadapi sehingga mempersulit posisinya.

“Negara Arab sulit, mereka sendiri sulit mengatur dirinya masing-masing. Kita juga repot, tetapi mereka lebih repot lagi,” kata Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi dalam dialog Islam dan Negara di kantor Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Kamis (28/12).

 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Demikian pula dengan Turki yang pernah menjadi pusat kekhalifahan Islam terakhir di dunia. Meskipun negara Islam yang paling modern, tetapi terdapat faktor psikologi politik yang ditanggungnya.

“Pemimpin dunia Islam harus benar-benar independen dari dunia Barat dan poros peradaban lainnya. Kalau masih subordinat tidak bisa menjadi leader. Sejauh Turki masih memimpikan menjadi bagian dari Eropa, ia tidak pernah menjadi pemimpin dunia Islam,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Masdar menuturkan semasa menjadi ketua parlemen Erdogan pernah mendrop draf UU tentang perzinaan dengan definisi hubungan seks diluar nikah, namun ditolak oleh Uni Eropa sehingga ia memerintahkan partainya untuk mendrop draf ini.

“Ini persoalan kecil tapi mensimbolkan betapa ia secara kultur subordinate terhadap Eropa. Kalau dunia Islam ingin sejajar dengan poros dunia lain, tidak bisa begitu,” katanya.

Iran menurutnya telah mengalami kemajuan yang luar biasa dan saat ini cukup independent dengan dunia Barat, persoalannya adalah sebagai negara Syiah yang merupakan minoritas muslim sehingga sulit memimpin Islam.

Negara tetangga, Malaysia saat ini sudah cukup maju, tetapi terlalu keci sehingga Indonesialah yang menjadi kandidat yang cukup kuat untuk menjadi pemimpin dunia Islam. “Saya kira Indonesia, kalau bisa mencari jalan yang bijak menyangkut hubungan agama dan negara. Inilah yang harus diperkaya oleh kita semua,” tandasnya.

Islam Indonesia, menurutnya bukan satelit kalau pola nahdliyyin yang digunakan. Yaitu Islam yang berkelindan dengan tradisi lokal sehingga tidak menjadi subordinat dari Islam dimanapun. “Kalau menjadi leader Islam tetapi subordinate kan tidak lucu, harus leading juga,” tandasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 18 Mei 2015

Beasiswa Santri Berprestasi Akan Dibuka Awal Maret

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Program Beasiswa Santri Berpestasi (PBSB) yang sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu, untuk Tahun 2016 pendaftarannya akan segera dibuka. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Mohsen menegaskan bahwa program ini akan terus dilaksanakan karena selalu mendapatkan sambutan positif dari masyarakat.

"PBSB akan tetap dilanjutkan tapi dengan format dan sistem yang berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya jurusan yang disediakan adalah umum dan keagamaan, untuk tahun ini program PBSB dikhususkan untuk jurusan umum, sedangkan jurusan keagamaan (tafaqquh fiddin) akan dibuat dengan format yang berbeda," lanjutnya sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Beasiswa Santri Berprestasi Akan Dibuka Awal Maret (Sumber Gambar : Nu Online)
Beasiswa Santri Berprestasi Akan Dibuka Awal Maret (Sumber Gambar : Nu Online)

Beasiswa Santri Berprestasi Akan Dibuka Awal Maret

Perbedaan lainnya menurut Mohsen adalah sistem pendaftaran dan ujiannya yang memakai sistem online. "Meskipun pendaftarannya online, tapi berkas pendaftar tetap harus dikirim ke Kantor Kementerian Agama Propinsi setempat sebagai acuan untuk memverifikasi data peserta calon peserta seleksi PBSB," terangnya.

Untuk ujian juga akan dilakukan melalui sistem CBT (Computer-Based Test). "Untuk pelaksanaan ujian online ini panitia baru membuat ancang-ancang untuk melaksanakan test berbasis zona, yaitu Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Tapi tidak menutup kemungkinan pelaksanaan ujian akan dilaksanakan di banyak propinsi jika Kanwil Kementerian Agama Propinsi bisa menyediakan komputer dengan jaringan internetnya," terang Doktor yang pernah nyantri di Pesantren Al Khairat Palu ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Karenanya Mohsen meminta agar Kanwil Kementerian Agama Propinsi yang sudah siap dengan sistem CBT dengan segala infrastrukturnya agar bisa konfirmasi ke Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.

Pendaftaran akan dibuka selama 20 hari pada awal Maret 2016 melalui website Direktorat PD Pontren di http://ditpdpontren.kemenag.go.id.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Adapun materi yang akan diujikan dalam seleksi PBSB tetap sama, yaitu IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), TBS (Test Bakat Skolastik), Bahasa Inggris dan Kepesantrenan. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ubudiyah, Makam, Kiai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 16 Mei 2015

Ketua PCNU Sumenep: Bukan saatnya lagi Bicara Khilafah

Sumenep, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua PCNU Sumenep mengatakan persoalan sistem negara sudah selesai dan tidak perlu diperdebatkan lagi. “Bukan saatnya lagi bicara khilafah,” ungkapnya pada launching BMT NU Cabang Rubaru di Kecamatan Rubaru, Rabu (30/5) malam.

Sekarang umat Islam harus bicara pemberdayaan dan pengembangan ekonomi masyarakat. Sebab, apapun sistem yang diterapkan jika perekonomian nmasyarakat lemah, Islam tidak akan jaya.

Ketua PCNU Sumenep: Bukan saatnya lagi Bicara Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PCNU Sumenep: Bukan saatnya lagi Bicara Khilafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PCNU Sumenep: Bukan saatnya lagi Bicara Khilafah

Untuk melakukan pengembangan ekonomi masyarakat butuh alat. “BMT alat perang kita,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara untuk menggerakkan BMT butuh peran serta dan dukungan pengelola institusi pendidikan dan lembaga keagamaan. “Dengan menabung di BMT secara langsung siswa diajarkan untuk hemat,” terangnya.

Ia mengajak kepada seluruh undanganyang hadir yang terdiri dari ulama yang memiliki pesantren dan sekolah untuk mengajak siswa dan santrinya menabung di BMT.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selainitu, menurutnya, pemberdayaan masyarakat butu hsinergi dan kebersamaan antar lembaga.“MWC, lembaga dan banom harus menjalin kebersamaan dalam berjuang,” terangnya.

H. Pandji meminta kepada pengelola BMT untuk tidak tebang pilih dalam menerima dan meminjamkan modal. “Selama untuk usahap roduktif siapa pun boleh meminjam dan menabung,” tegasnya.

Waspadai Pindah Paham?

Sementara itu Manager Baitul Mal wat Tamwil NU Gapura Masyudi mengatakan untuk bertahan hidup butuh dana, biaya hidup menuntut kemapanan ekonomi. Jika perekonomian keluarga lemah sangat mudah untuk digiring dan diajak melakukan apa saja demi untuk mendapatkan uang, termasuk pindah paham dan keyakinan.

“Kefakiran bisa menjatuhkan pada kekafiran,” katanya mengutip sabda Rasulullah.NU sebagai lembaga keagamaan tidak cukup dengan hanya mengajak umat untuk beriman, bertakwa dan menjahui kekufuran. “Yang dapat menyebabkan umat pindah paham karena jeratan ekonomi juga harus diperhatikan,” jelasnya dihadapan para ulama yang hadir.

Menurutnya, warga NU perlu ada yang menggerakkan pemberdayaan masyarakat sehingga warganya bisa hidup tenang dan khusyuk dalam beribadah. “Yang berceramah sudah ada kiai, yang mengajar sudah ada ustadz. Sekarang butuh pemuda yang bisa mengubah keterperosokan ekonomi umat,” ungkapnya.

Hal itulah yang menjadi motivasi Masyhudi pada 2004 menggagas BMT NU di kecamatan Gapura dengan modal Rp. 400 ribu dengan anggota 11 orang. “Alhamdulillah, sekarang sudah 5,7 miliyar dengan anggota 4211 orang,” bebernya.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: M Kamil Akhyari

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Fragmen, Halaqoh, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 30 April 2015

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Untuk dapat menciptakan lingkungan yang sehat, para santri dapat mengambil peran. Pemahaman terkait permasalahan kesehatan dan kebersihan harus menjadi perhatian agar niat mulia tersebut dapat terwujud.

Harapan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr Kohar Hari Santoso saat berada di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang. Dokter Kohar hadir sebagai pemateri pada kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas yang diikuti ratusan santri dari berbagai pesantren di kota santri tersebut.

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat

Menurutnya, Germas setidaknya memiliki agenda untuk dapat melakukan perubahan perilaku. "Melakukan aktivitas fisik, kemudian meningkatnya konsumsi sayur dan buah khususnya lokal, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala," katanya, Jumat (18/11).

Keberadaan gerakan ini semakin penting untuk dapat disukseskan di pesantren. "Karena pesantren adalah tempat mendidik generasi muda penerus pembangunan yang berkualitas sekaligus sebagai agen perubahan," katanya. Apalagi kesehatan perlu mendapat perhatian khusus, lanjutnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dokter Kohar juga mengapresiasi kiprah pesantren yang berkenan menciptakan lingkungan bersih dan sehat. "Saya menyaksikan sendiri ada sejumlah pesantren yang telah membuat larangan merokok di lingkungannya," ungkapnya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa perilaku sehat telah dimulai secara serius di pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selanjutnya dia berharap komunitas pesantren dapat memiliki pengetahuan yang komprehensif terhadap sejumlah masalah kesehatan. "Termasuk masalah gizi, kesehatan lingkungan, penyakit menular, serta masalah kesehatan lainnya," ungkapnya.

Di akhir paparanya, dokter Kohar dengan didampingi pemandu acara dan narasumber lain mempraktikkan cara mencuci tangan sesuai ketentuan kesehatan. Para peserta dengan antusias mengikuti serta menirukan panduan yang dikemas dalam lagu tersebut.

Kegiatan ini dikemas dalam Talk Show? bertema "Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui Gerakan Pesantren Sehat". Acara yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Kesehatan PBNU dan Pusat Promosi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menghadirkan sejumlah pembicara.

Sejumlah pembicara dihadirkan yakni Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Heri Wibowo, serta KH Zulfikar Asad yang juga salah seorang majelis pengasuh di PPDU. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 10 April 2015

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern

Probolingo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pesantren Kiai Sekar Al Amri di Desa Sumberkedawung Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo mengembangkan pendidikan yang berpadu antara salafiyah dan modern. Tidak hanya ingin menciptakan santri yang pandai berdakwah saja, namun pengasuh pesantren juga ingin sosok santri itu cerdas secara intelektual.

Hal itu terlihat dari lengkapnya pendidikan formal yang berada di kawasan pesantren. Mulai dari TK Islam Terpadu, SD Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu dan SMA Islam Terpadu. Saat ini pesantren tersebut memiliki santri mencapai 600 orang, dan separuhnya merupakan santri bermukim.

Pesantren Kiai Pesantren Kiai Sekar Al Amri memiliki sejarah yang panjang. Didirikan sejak tahun 1850 oleh Kiai Muhtadin atau lebih dikenal dengan Kiai Sekar. Sempat vakum karena tidak ada garis keturunan laki-laki, namun kembali aktif pada tahun 1965. Adalah Kiai Muhammad Suhud yang kembali mengaktifkan pesantren tersebut. Kiai Suhud merupakan ayah Kiai Abdullah Zamroni pengasuh sekaligus ketua yayasan pendidikan saat ini. ?

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern

“Pesantren ini sempat vakum setelah generasi kedua, karena tidak ada garis keturunan laki-laki. Baru ketika ayah dewasa tahun 1965, diaktifkan kembali. Kemudian pada tahun 1998, pesantren ini berganti nama menjadi Pesantren Kyai Sekar Al Amri,” kata Kiai Zamroni, Selasa (14/6).

Zamroni sendiri sejak tahun 2010 menjadi ketua yayasan di pesantren ini. Sejak awal anak ketiga dari lima bersaudara ini fokus untuk bidang pendidikan. “Kalau dihitung dari segi usia, pesantren ini tergolong pesantren tua. Namun semakin lama kami juga mengikuti perkembangan zaman. Awalnya pesantren ini merupakan pesantren salaf,” jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai yang pernah mondok di Pondok Jauhari Kabupaten Jember ini mengaku ingin menyandingkan konsep pendidikan salaf dengan pendidikan modern. “Sejak pukul 07.00 sampai pukul 15.00 dilangsungkan kegiatan sekolah. Setelah itu, baru kegiatan pondok dilakukan seperti Tanfidz Qur’an,” tegasnya.

Pendidikan Al-Qur’an telah diajarkan sejak usia dini. Sejak TK diajarkan hafalan surat-surat pendek. Kemudian, masuk jenjang SD diajarkan hafalan juz Amma atau juz 30. Baru pada jenjang pendidikan SMP, santri diarahkan untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Perkembangan zaman pun diikuti oleh pesantren ini. Pengasuh serta guru-guru tidak menafikkan pentingnya prestasi akademik bagi siswa. “Sosok santri Al Amri diharapkan menpunyai kepribadian Islam, intelektual serta mandiri. Namun yang paling penting tujuan pondok pesantren adalah mencetak pendakwah-pendakwah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 07 April 2015

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan yang kami hormati. Tetangga kami ada yang non-Muslim, tetapi kami hidup berdampingan dengan rukun. Bahkan kami selalu saling mengunjungi satu sama lainnya, saling membantu, dan sering berbagi makanan.

Alhamdulillah bulan ini kami berniat untuk kurban. Yang ingin kami tanyakan, bagaimana hukumnya membagikan daging kurban kepada orang non-Muslim? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Ciledug)

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Idul Adha memang selalu identik dengan hari raya kurban. Kaum muslimin yang mampu biasanya menyisihkan sebagain rezekinya untuk membeli hewan kurban sebagai pengamalan dari ajaran Islam itu sendiri. Karena memang berkurban itu sendiri sangat dianjurkan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jika seorang Muslim berkurban dan membagikan dagingnya kepada orang miskin dan para tetangga yang sama-sama Muslim, maka hal itu adalah hal yang biasa dan tidak menjadi persoalan.

Yang menjadi “gegeran” para ulama adalah ketika daging kurban itu juga diberikan kepada orang non-Muslim. Pendapat pertama “ngotot” untuk tidak memperbolehkan memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.

Sedang pendapat kedua menyatakan boleh, bahkan menurut keterangan dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, dan pendapat ini dianggap selaras dengan ketentuan dalam Madzhab Syafi’i itu sendiri. Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Nihayatul Muhtaj.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Apabila seseorang berkurban untuk orang lain atau ia menjadi murtad, maka ia tidak boleh memakan daging kurban tersebut sebagaimana tidak boleh memberikan makan dengan daging kurban kepada orang kafir secara mutlak. Dari sini dapat dipahami bahwa orang fakir atau orang (kaya, pent) diberi yang kurban tidak boleh memberikan sedikitpun kepada orang kafir. Sebab, tujuan dari kurban adalah memberikan belas kasih kepada kaum Muslim dengan memberi makan kepada mereka, karena kurban itu sendiri adalah jamuan Allah untuk mereka. Maka tidak boleh bagi mereka memberikan kepada selain mereka. Akan tetapi menurut pendapat ketentuan Madzhab Syafi’i cenderung membolehkanya,” (Lihat Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, 1404 H/1984 M, juz VIII, halaman 141).

Logika yang dibangun untuk mendukung pendapat ini adalah bahwa tujuan kurban itu sendiri adalah untuk menunjukkan belas kasih kepada orang-orang Muslim dengan cara memberi makan kepada mereka.

Sebab, hewan kurban adalah jamuan Allah (dhiyafatullah) untuk mereka pada hari raya Idul Adha. Konsekuensi logis dari cara pandangan seperti adalah tidak diperbolehkan memberikan daging kurban kepada non-Muslim.

Adapun argumentasi yang dibangun untuk meneguhkan pandangan yang memperbolehkan untuk memberikan daging kurban kepada orang non-Muslim adalah bahwa berkurban itu merupakan sedekah. Sedangkan tidak ada larangan untuk memberikan sedekah kepada pihak non-Muslim.

Namun kebolehan memberikan daging kurban kepada non-Muslim tidak bisa dipahami secara mutlak. Tetapi harus dibaca dalam konteks non-Muslim yang bukan harbi (non-Muslim yang tidak memusuhi orang Islam). Dan bukan kurban wajib, tetapi kurban sunah.

Dengan kata lain, diperbolehkan memberikan sedekah—termasuk di dalamnya memberikan daging kurban—selain kepada kafir harbi (non-Muslim yang memerangi atau memusuhi umat Islam).

? : ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal: dan boleh memberikan makan dari hewan kurban kepada orang kafir. Inilah pandangan yang yang dikemukakan oleh Al-Hasanul Bashri, Abu Tsaur, dan kelompok rasionalis (ashhabur ra’yi). Imam Malik berkata, ‘Selain mereka (orang kafir) lebih kami sukai’. Menurut Imam Malik dan Al-Laits, makruh memberikan kulit hewan kurban kepada orang Nasrani. Sedang menurut kami, itu adalah makanan yang boleh dimakan karenanya boleh memberikan kepada kafir dzimmi sebagaimana semua makanannya, (Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Beirut, Darul Fikr, cet ke-1, 1405 H, juz XI, halaman 105).

Dari penjelasan di atas, kita dapat mentarik kesimpulan bahwa dalam soal hukum memberikan daging kurban kepada non-Muslim ada dua pendapat. Ada yang melarang secara mutlak, dan ada yang membolehkan tetapi dengan syarat bukan kurban wajib dan penerimanya bukan kafir harbi.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. Perbanyak sedekah karena sedekah dapat menghindari bala.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan