Kamis, 17 Desember 2015

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya

Sumenep, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur A. Warits Umar mengatakan, tanah di Madura sudah menjadi ancaman. Saat ini ada upaya mengasingkan masyarakat ? dari tanahnya.

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Sumenep: Ada Upaya Mengasingkan Masyarakat dari Tanahnya

"Sekarang ada upaya mengasingkan masyarakat dari tanahnya sendiri. Masalah tanah bukan masalah sepele," paparnya saat memberikan sambutan pada Seminar Agraria dan Launcing Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Sumenep bertajuk ‘Agama Tanah, Ajaga Nak Potoh’, Ahad (1/11) lalu di Aula PCNU setempat, Jl Raya Trunojoyo, Sumenep, Jawa Timur.

Warga Desa Gapura Timur Kecamatan Gapira itu mencontohkan, di daerahnya masyarakat berbondong-bondong pergi ke Jakarta untuk melakukan bisnis, sementara tanahnya dijual. "Anehnya, mereka tidak tahu siapa yang membeli dan akan diperuntukkan untuk apa nanti," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia mengajak masyarakat untuk tidak melepas tanahnya. Diluncurkannnya ? FNKSDA Kabupaten Sumenep diharapkan dapat memberikan penyadaran terhadap masyarakat terkait persoalan agraria tersebut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kepala Bidang Survei Pengukuran dan Pemetaaan Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengungkapkan, saat ini marak penjualan tanah di ? kawasan Kecamatan Kota Sumenep, Gapura, Kalianget, dan Manding. Namun ia tak bisa menjelaskan peralihan kepemilikan tanah kepada perusahaan.

"Kami tidak bisa menjelaskan secara pasti peralihan (status kepemilikan) tanah, tapi pasti terjadi. Dan yang beli tanah belum tentu pemodal asing," jawabnya saat ditanya oleh moderator terkait jumlah tanah yang sudah pindah tangan ke tangan pengusaha.

Darsono, warga Desa Lapa Daya, Kecamatan Dungkek, Sumenep memberikan testimoni bahwa di daerahnya tanah yang telah jatuh ke tangan pengusaha tak kurang dari 20 hektare. Dalam proses jual belinya, pengusaha tidak turun langsung, tapi melibatkan tokoh masyarakat setempat dengan harga Rp 25.000 per meter.

Sedangkan Jawasi, warga Kecamatan Manding, dalam testimoninya mengatakan, uang yang telah digelontorkan oleh pengusaha untuk membeli tanah di ? daerahnya sebesar Rp 10 miliar. Sementara harga per meternya Rp. 32.000. Hal itu berdasarkan pengakuan calo pembelian tanah dari Pamekasan kepada dirinya.

Sementara Ahmad, warga Kecamatan Lenteng mengatakan, di daerahnya terjadi hal yang sama. Proses jual beli dan negosiasinya dilakukan secara kekeluargaan. Rata-rata tanah yang dibeli adalah tanah tidak produktif, sehingga pemilik mudah melepasnya apalagi harganya relatif mahal. (M Kamil Akhyari/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah, RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 14 Desember 2015

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi

Tegal, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan?

Agar negara kuat, kokoh dan tidak dirongrong musuh dari luar, maka seluruh elemen bangsa Indonesia harus bersatu padu, rukun dan kompak. Mulai dari TNI, polisi dan sipil. ?

”Musuh bisa menghancurkan kita, karena kita memberi celah. Kalau kita kuat, mereka tak akan berani,” tutur ? Habib Luthfi sebelum memimpin Istighotsah dalam rangka hari ulang tahun Pangdam IV Diponegoro Dewa Ratna ke-63 di Markas Pangdam IV Diponegoro Dewa Ratna Slawi, Jum’at (12/4) malam.

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfi: NKRI Bukan Basi-Basi

Lebih lanjut Rais ‘Am jam’iyah Ahlutthariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah itu mengatakan, zaman tahun 60-an, kekuatan politik Indonesia begitu disegani, padahal menurut Habib Lutfi pada saat Indonesia belum memilki apa-apa, sampai-sampai Soekarno yang saat itu menjadi pemimpin bangsa berani mengatakan ganyang Malaysia.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jawabannya adalah pada saat itu rakyat sangat fanatik dengan pemimpinannya. Ini penting hadirin, rasa fanatik ini yang mengakibatkan rasa cinta makin bertambah dan itu menjadi kekuatan besar,“ kata Habib yang pernah nyantri selama 4 tahun di pesantren at Tauhidiyah Talang Tegal itu.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dihadapan ribuan pengunjung, habib kelahiran Pekalongan itu berpesan jangan pernah meremehkan keutuhan NKRI, wajib hukumnya menjaga, juga memberikan wejangan bahwa mencintai tanah air merupakan bagian dari pengamalan iman.?

Istighotsah dan pengajian yang digelar oleh TNI dan pemerintah, merupakan pengejawantahan bahwa cinta NKRI sebagai harga mati dengan sungguh-sungguh, bukan hanya basa-basi. ?

Upacara kebangsaan dengan inspektur upacara Habib Luthfi dan komandan upacara Kapolsek Peangaan AKP Karman, diikuti ribuan peserta dari berbagai unsur, mulai dari PNS, guru, pelajar, santri, ormas, TNI, Polri, dan Satpol PP.

Pengajian dan Istighotsah dihadiri Bupati Tegal H Heri Sulistyawan, Walikota Tegal Ikmal Jaya, Wakil Bupati Brebes Narjo, Kapolres Tegal, Dandim Tegal, Pejabat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Tegal, ? pimpinan SKPD, serta serta para kiai dan habaib.

Bupati Tegal H Heri Sulistyawan dalam sambutannya mengatakan, forum-forum pengajian yang semacam ini harus selalu ditingkatkan, karena kalau kita mendengar petuah-petuah yang baik-baik dari orang baik juga insyaallah akan membawa keadaan lebih baik.?

“Saya instruksikan kepada para camat agar menggelar pengajian di masing-masing daerahnya dengan harapan hubungan keakraban antara pemerintah dan masyarakat selalu terjalin,“ pesan Bupati?

Pembicara lain ? KH Ahmad Saidi yang juga pengasuh Pesantren at Tauhidiyah Talang Tegal, memberikan pesan, menjadi pemimpin itu berat. Untuk itu jangan sekali-kali meminta menjadi pemimpin. Tetapi ditangan pemimpin juga akan ada kebaikan dan keadilan.?

“Saya terus terang saja ngomong panjang lebar kaya gini sebagai obat untuk para pemimpin agar jangan semena-mena dalam menjalankan amanat yang berat itu, karena saya juga cinta terhadap pemimpin, jadilah pemimpin yang baik, agar menjadi contoh bagi rakyatnya,“ pesan kiai kharismatik itu.? Acara pengajian umum itu dimulai selepas Isya’ dan diawali dengan pembacaan Syimtut Duror. Dengan iringan grup hadrah dari TNI dan masyarakat.?

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 12 Desember 2015

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pemaksaan kebijakan lima hari sekolah disaat Perpres sedang digodok mendapat sorotan juga dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Anti-Diskriminasi (Gandi). Sekretaris Jenderal Gandi Ahmad Ari Masyhuri menilai lima hari sekolah atau yang disebut juga Full Day School (FDS) merupakan kebijakan diskriminatif dan meresahkan.

Menurut Ari, kebijakan Mendikbud terkait Full/Five Day(s) School (FDS) melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah merupakan kebijakan yang mengada-ada dan bersifat diskriminatif.?

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

LSM Gandi: FDS Kebijakan Diskriminatif dan Meresahkan

Hal ini disebabkan kebijakan tersebut sangat nyata tidak bisa dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Negara ini. Padahal ketika sebuah kebijakan dikeluarkan maka ia bersifat mengikat dan pasti bagi seluruh obyek hukum, dalam hal ini adalah sekolah, yang ada di wilayah Negara Republik Indonesia.

Ari pun merinci bahwa sebagaimana dalam Pasal 9 Permendikbud tersebut terdapat klausul yang menyatakan “Dalam hal kesiapan sumber daya pada sekolah dan akses transportasi belum memadai… dapat dilakukan secara bertahap”. Kata-kata “belum memadai” dan “dapat dilakukan secara bertahap” tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ini dipaksakan dan tidak layak untuk dikeluarkan.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Sebab ketika sebuah kebijakan tidak mencakup seluruh obyek hukum dan tidak mengakomodasi seluruh kepentingan masyarakat berarti kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif,” tegas Ari kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan lewat keterangan tertulisnya, Senin (14/8).

Padahal, imbuhnya, semua sekolah mempunyai kedudukan dan hak yang sama di mata hukum. Hal ini sudah sangat jelas bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan peraturan perundang-undangan yang terkait.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Gandi, kebijakan FDS harus diawali dengan kesiapan dengan sarana-prasarana yang memadai. Sementara, rasio peserta didik terhadap sarana prasarana dan tenaga pengajar di Indonesia masih sangat timpang. Bahkan, ketimpangan ini juga banyak terjadi di sekolah dasar yang dikelola oleh pemerintah.?

Bagaimana mungkin kebijakan yang bersifat nasional ini bisa dilaksanakan, sementara sekolah tingkat dasar yang dikelola oleh pemerintah saja masih belum dapat menerapkannya? Apalagi sekolah-sekolah tingkat menengah pertama dan atas, serta sekolah yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya.?

Di mana sekolah-sekolah yang dikelola masyarakat tersebut memiliki beragam karakteristik dan terbukti memberikan kontribusi bagi Negara.?

“Oleh karena itu, sebaiknya Kemendikbud lebih berkonsentrasi untuk membenahi sarana-prasana dan tenaga pengajar terlebih dahulu sebelum mengeluarkan kebijakan tersebut,” kata Ari Masyhuri. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ubudiyah, Olahraga, Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 09 Desember 2015

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Untuk beberapa tahun mendatang, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo akan berupaya melengkapi struktur kepengurusan mulai dari tingkat anak cabang, ranting hingga komisariat. Pasalnya hingga kini, masih ada beberapa ranting dan komisariat yang belum terbentuk.

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kraksaan Programkan Pengkaderan Berkelanjutan

Disamping itu, IPPNU Kota Kraksaan juga tetap memprioritaskan pengkaderan dengan membuat program pengkaderan berkelanjutan. Hal ini dilakukan karena kader-kader yang terbentuk nantinya akan mengisi kepengurusan IPPNU sekaligus disiapkan sebagai estafet kepengurus di PCNU Kota Kraksaan di masa mendatang.

“Untuk sementara kami memang lebih memprioritaskan kepada program pengkaderan. Ini merupakan sebuah program wajib yang harus dilaksanakan. Sebab masih ada ranting maupun komisariat yang kepengurusannya belum terbentuk karena belum ada kader yang siap mengemban amanah organisasi,” ungkap Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh, Jum’at (6/6).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Indah, program pengkaderan ini akan dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat cabang, anak cabang, ranting hingga komisariat. Pengkaderan ini akan dilakukan secara berkelanjutan, sehingga begitu ada pengurus yang naik tahta maka penggantinya sudah siap.

“Pengalaman selama ini, kami merasa kebingungan untuk mencari pengganti tatkala ada pengurus yang diberi amanah baru bergabung dalam Fatayat NU maupun Muslimat NU. Sehingga kami memilih penggantinya apa adanya. Hal ini berimbas kepada pelaksanaan program menjadi kurang maksimal karena kader yang menangani masih belum berpengalaman,” jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam pengkaderan ini jelas Indah, IPPNU Kota Kraksaan selalu berkoordinasi dan bekerja sama dengan  badan otonom NU yang lain di Kota Kraksaan. “Pengurus IPPNU ini merupakan cikal bakal penerus kepengurusan NU di Kota Kraksaan. Jadi sebelum naik ke jenjang kepengurusan selanjutnya, maka harus disiapkan penggantinya sedini mungkin agar betul-betul siap menjalankan roda organisasi,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 05 Desember 2015

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik

Bandung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan



Penonton dari berbagai daerah sekitar Bandung mulai berdatangan ke stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), daerah Gede Bage, Kota Bandung, Ahad (29/10). Mereka akan menyaksikan pertandingan Grand Final Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 di stadion itu.

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik (Sumber Gambar : Nu Online)
Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik (Sumber Gambar : Nu Online)

Penonton Mulai Berdatangan, Banser Gelar Karpet di Jalur Atletik

Mereka memasuki stadion berkepasitas 50 ribu orang itu. Sementara ratusan Banser menggelar karpet di lingkaran ateletik. Pada waktu maghrib di atas karpet itu, penonton dan pemain Liga Santri Nusantara akan melakukan Shalat Maghrib berjamaah. 

Sambil menunggu waktu pertandingan, para penonton disuguhi nyanyian live dari salah satu tribun di sebrang tribun utama. Mereka dihibur dengan lagu Suasana di Kota Santri, Ya Lal Wathon, dan lagu-lagu lainnya. 

Grand Final akan berlangsung sekitar pukul 19.00 mempertemukan antara kesebelasan Darul Huda Ponorogo melawan Darul Hikmah Cirebon. (Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Aswaja, Khutbah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan