Selasa, 18 Agustus 2015

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

Bandar Lampung, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Wakil Rais Syuriyah PWNU Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid menjelaskan bahwa Paradigma Islam Wasathiyah (moderat) harus menjadi corak faham keagamaan mainstream umat Islam di Indonesia. Hal ini menurutnya penting seiring dengan semakin kuatnya indikasi bergesernya gerakan keislaman di negeri ini ke kutub kiri ataupun kutub kanan.

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Moderat Penting Digaungkan di Tengah Pergeseran Gerakan Keislaman

"Pergeseran ke kutub kiri memunculkan gerakan liberalisme dan sekularisme dalam beragama. Sedangkan pergeseran ke kutub kanan menumbuhkan radikalisme dan fanatisme sempit dalam beragama.

Demikian disampaikan Kiai yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini saat menjadi Pemateri pada Dialog Ormas Keagamaan di Kampus Universitas Malahayati Bandarlampung, Kamis (20/7).

Kiai Khairuddin menambahkan bahwa Islam wasathiyah identik dengan kaum Muslimin yang disebut sebagai ummatan washatan dalam Quran yang mampu menjadi saksi kebenaran bagi manusia Iain. "Ummatan washatan adalah umat yang selalu menjaga keseimbangan. TIdak terjerumus ke ekstrimisme kiri atau kanan, yang dapat mendorong kepada tindakan kekerasan," ujarnya.

Islam moderat lanjut Dosen UIN Raden Intan Lampung ini, memiliki ciri sesuai dengan beberapa qaidah seperti santun, tidak keras dan tidak radikal (Layyinan, Ia fazzon wala gholizon), Kesukarelaan, tidak memaksa dan tidak mengintimidasi (Tathowwuiyyan, Ia ikrohan wala ijbaron), toleran, tidak egois dan tidak fanatis (Tasamuhiyyan, Ia ananiyyan wala taasubiyyan) dan saling mencintai, tidak saling membenci dan bermusuhan (Tawaddudiyyan, Ia takhosumiyyan wala tabaghudiyyan).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Keterkaitannya antara agama dengan negara, ia mengatakan bahwa Indonesia merupakan contoh model relasi negara yang simbiotik mutualisme. Agama dan negara merupakan dua entitas yang berbeda. Namun keduanya dipahami saling menempatkan diri, di mana agama dan negara dipahami sebagai saling membutuhkan secara timbal balik.

"Agama membutuhkan negara sebagai instrumen dalam melestarikan dan mengembangkan agama, sebaliknya negara juga memerlukan agama karena agama juga membantu dalam pembinaan moral, etika dan spiritualitas," katanya.

Lebih lanjut Ia menjelaskan bahwa Agama dalam konteks negara mesti diletakkan sebagai sumber nilai, dan secara fungsionai agama mengambil peran tawassuth. Hal ini dalam artian menentukan visi kenegaraannya dengan pendekatan membangun masyarakat Islam (Islamic society) dari pada membangun negara Islam (Islamic state). (Muhammad Faizin/Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 10 Agustus 2015

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Lokakarya “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Pesantren Sehat” untuk wilayah Jawa Timur yang digelar di Pondok Pesantren Darul Ulum, Sabtu (19/11) diikuti perwakilan dari 15 PCNU, 15 PC LKNU, 45 pimpinan pondok pesantren, 15 Dinkes Kabupaten di Jawa Timur, dan DPRD.?

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan kesepakatan dan komitmen bersama mendukung gerakan masyarakat hidup sehat.

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Program Pesantren Sehat akan Terus Digalakkan

Selain itu, perwakilan-perwakilan tersebut juga mendiskusikan rencana tindak lanjut. Kapubaten Bangkalan misalnya merencanakan antara lain menjalin komunikasi dan koordinasi yang intens dengan Dinkes Kabupaten Bangkalan, menggulirkan Gerakan Jamban Sehat, dan pengolahan sampah melalui bank sampah.

Kabupaten Mojokerto menghasilkan rencana tindak lanjut, yaitu penyuluhan kesehatan santri, pelatihan kader kesehatan yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten, Kunjungan Dinkes Kabupaten ke pesantren untuk sosialiasi makanan sehat bagi santri, danmengadakan lomba santri sehat.

Wakil Ketua LK PBNU Zulfikar As’ad mengatakan secara umum dari masukan rencana tindak lanjut seluruh peserta mengharapkan adanya kesinambungan kegiatan dari PBNU, ? PWNU, dan PCNU dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan di daerah masing-masing.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Ini memang harus dilakukan karena masalah kesehatan di pesantren menjadi tanggung jawab bersama. Juga harus menjadi perhatian khusus pemerintah, karena terdapat lebih dari 26 ribu pesantren di Indonesia.”

Pesantren-pesantren itu, lanjut pria yang sering disapa Gus Ufik, dengan segala keterbatasannya, selama ini betul-betul mandiri. Sehingga menjadikan pesantren lebih komprehensif dalam mempersiapkan kader untuk generasi ke depan yang bisa berkirkiprah bagi Indonesia.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Salah seorang peserta lokakarya, Sukma Sahadewa, mengemukakan hasil kegiatan lokakarya sangat baik bila bisa diterapkan di pondok pesantren yang notabene-nya memag program ini berbasis masyarakat.

“Bila dikerjakan dan dilakukan di pondok pesantren yang memang santrinya banyak, akan bisa berjalan baik untuk melakukan gerakan masyarakat hidup sehat. Pembangunan kesehatan harus menyentuh ke segala pihak termasuk pesantren sehingga betul-betul pesantean bisa menjadi stakeholder yang menyiapkan kesehatan baik secara jasmani, rohani, dan sosial,” ujar Sukma. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan