Jumat, 17 Februari 2012

Komitmen dan Totalitas Buya Ja’far bagi Kemajuan Pesantren

Cirebon, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Semasa hidup, Buya KH Ja’far Aqil Siroj dikenal sebagai sosok yang gigih, disiplin, serta tulus dalam memperjuangkan kemajuan pesantren, tidak hanya bagi pesantren Kempek yang diasuhnya, melainkan sebagai tempat mengadu dan berbincang bagi para tokoh pesantren lain, khususnya di Cirebon.

Komitmen dan Totalitas Buya Ja’far bagi Kemajuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen dan Totalitas Buya Ja’far bagi Kemajuan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen dan Totalitas Buya Ja’far bagi Kemajuan Pesantren

Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Sirojsaat memberikan sambutan isyhad atas nama keluarga di hadapan ribuan pelayat di Masjid Al-Jadid, pesantren Majelis Tarbiyatul Mubtadiin (MTM) Kempek Cirebon, Rabu (2/4).

“Yang dimiliki olehnya (Buya Ja’far, red) adalah semangat membangun dan mendorong kemajuan pesantren. Inilah yang harus diteruskan oleh saudara, putra dan santri-santrinya sepeninggal Buya Ja’far,” ungkap Kiai Said.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Said menambahkan, kiprah Buya Ja’far dalam melakukan pengabdian terhadap dunia pesantren dimulai sejak awal saat ia didaulat sebagai pengasuh pesantren Kempek. Buya Ja’far, lanjut Kiai Said, memiliki totalitas dalam hal tersebut baik saat kondisi sehat maupun sakit.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Puncaknya adalah saat ia berhasil menjadi tuan rumah perhelatan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 2012 lalu, di mana acara tersebut bisa berlangsung tertib dan aman,” pungkasnya.

Selain sebagai pengasuh pesantren Kempek, Buya Ja’far juga dipercaya mengemban amanat sebagai Ketua Majelis Ulama (MUI) kabupaten Cirebon selama dua periode berturut-turut, serta sebagai Mustasyar dalam kepengurusan PWNU Jawa Barat dan PCNU kabupaten Cirebon.

Buya Ja’far wafat pada Selasa (1/4) dan dikebumikan esok harinya di makbarah Kempek, Cirebon. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 14 Februari 2012

Dewi Sartika: Keluarga "Penjahat" yang Terlupakan

Tanggal 21 April kemarin di pagi yang hangat pukul 08.00 WIB saya mengantarkan Jasmine keponakan tercinta ke Taman Kanak-Kanak Lalu Lintas Bandung. Ia dan sobat-sobat kecilnya bergabung pakai kebaya berbagai daerah. Ibu guru memimpin menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini.

Suasana lumayan gaduh, beberapa anak punya jiwa pemberontak dan ogah mengikuti seremonial ini. Habis nyanyi mereka girang diajak naik andong keliling kota.

Dewi Sartika: Keluarga Penjahat yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dewi Sartika: Keluarga Penjahat yang Terlupakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dewi Sartika: Keluarga "Penjahat" yang Terlupakan

Entah kenapa tiap kelahiran RA Kartini saya teringat RA Dewi Sartika. Secara geografis ia bukan orang Jepara tapi dekat-dekat di Bandung. Ia juga juga bukan mojang sembarangan dan punya andil besar seperti halnya Kartini. Mereka berdua sama-sama geram melihat wanita hanya sebatas patih goah semata.  Menurut ibu Dewi, atas dasar egoisme dan superior lelaki, para mojang cuma jadi patih di goah atau belakang rumah tempat menyimpan makanan. Satu hal lagi yang membuat saya terkenang Bu Dewi, ia berontak dengan kondisi yang lebih sulit ketimbang yang dialami Kartini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ayahnya R Rangga Somanagara, patih Bandung  tergolong outlaws dan dibuang Belanda ke Ternate atas tuduhan percobaan pembunuhan Bupati Bandung RAA Martanagara dan pejabat kota tahun 1883. Bu Dewi yang sedang asyik sekolah di kelas III ELS (Europesche Lagere School) harus berhenti dan mengungsi di rumah pamannya, Patih Cicalengka. Dari sisi ini saja, penderitaan Dewi yang diasingkan kerabatnya jauh melebihi Kartini yang ‘cuma’ kena  pingitan dari keluarganya.

Biar begitu ia tetap tegar. Tabu buat perempuan Sunda yang baru menikah di usia 25 tahun tak dihiraukan. Ia keukeuh melobi Bupati Martanagara dan inspektur sekolah C Den Hammer mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1904. Ia  merasa akan menghadapi hambatan jika tak disokong pak Bupati. “Sayang masih banyak di antara orang-orang setanah air saya yang rupanya selalu berusaha untuk lebih dahulu menentang segala yang baru,” katanya.

Ceritanya sungguh unik. Bupati inilah yang membuang ayahnya hingga wafat di Ternate. Di sisi lain, ia butuh pak Bupati untuk melicinkan jalannya mendirikan sekolah. Dalam beberapa literatur disebutkan, Martanagara cukup terkejut menghadapi putri orang yang dibuangnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Saat Dewi membeberkan rencananya, timbul rasa haru dan kagum. Ia pun merestui  gagasan ini seraya berkata, “Nya atuh Uwi (pangilan Dewi sartika), ari Uwi panting jeung kekeuh hayang mah, mugi-mugi bae dimakbul ku Allah nu ngawasa sekuliah alam, urang nyoba-nyoba nyien sakola sakumaha kahayang Uwi. Pikeun nyegah bisi aya ka teu ngeunah di akhir, sekolah the hade lamun di pendopo wae heula. Lamun katanyaan henteu aya naon-naon, pek bae pindah ka tempat sejen.” Begitulah jalannya sejarah.

Para mojang yang baru mekar itu dibimbingnya dengan pengetahuan umum juga keterampilan putri untuk modalnya kelak. Sekolah tadi berganti nama jadi Sakola Kautaman Istri tahun 1910 dan ganti nama lagi jadi Sakola Raden Dewi (1914). Perkembangannya sangat pesat. Selain di berbagai daerah di Jawa Barat sekolah ini juga berdiri di Sumatera Barat.

Atas jasanya ini ia diberi bintang penghargaan dari Hindia Belanda, bintang mas (Gouden Ster) juga anugrah pahlawan nasional tahun 1966. Saat itu ia berkata, “Menurut pendapat saya, barangkali dalam hal ini bagi wanita tidak akan sangat banyak berbeda dengan pria. Di samping pendidikan yang baik, ia harus dibekali pelajaran dengan sekolah yang bermutu. Perluasan pengetahuan akan berpengaruh kepada moral wanita pribumi. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah,” kata Bu Dewi yang konon tomboy ini.

Dewi tak setenar Kartini. Juga oleh orang Jawa Barat sendiri. Perayaan kemenangan wanita  Indonesia diperingati pada 21 April, hari lahir Kartini. Momen kelahiran ibu Dewi yang 4 Desember 1884 tak banyak diingat. Tak ada kejadian berarti di hari-hari itu, tak ada arak-arakan andong apalagi lagu khusus mengenang mojang pemberani ini.

Kondisi ini memang sudah diciptakan sejak zaman Belanda. Latar keluarga Dewi Sartika yang pembangkang tentulah nggak lolos litsus dan menganggap ibu Dewi bukanlah apa-apa. Lha, masalahya apakah predikat bukan apa-apa, atau setidaknya tidak terlalu apa-apa dilestarikan hingga kini?

Ini pekerjaan moral warga Jawa Barat sampai saat ini. Don’t fades away Bu Dewi...

*Ketua Klub Motor MMC-Outsider dan Putra Kelima H Mahbub Djunaidi

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Olahraga, Nahdlatul Ulama, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 02 Februari 2012

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik

Duka masih menggelayuti lingkungan Pesantren Al-Manshur Popongan Tegalgondo Wonosari Klaten. Pengasuh pesantren tersebut, KH M Salman Dahlawi wafat, Selasa (27/8) pukul 17.45 WIB, dalam usia 78 tahun. Kepergiannya membawa duka yang mendalam bagi banyak pihak, khususnya bagi kalangan Jam’iyyah Thariqah

Mbah Salman, begitu dia biasa dipanggil oleh para santrinya, merupakan mursyid Thariqah Naqsabandiyyah-Khalidiyyah. Saat ini, dia juga tercatat menjadi anggota Majelis Ifta’ (Majelis Fatwa) di Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN). Selama hidup beliau juga pernah menjabat sebagai Mustasyar di Nahdlatul Ulama (NU).?

Yang membuat banyak kalangan nahdliyin semakin hormat kepada sosok ini adalah kesediaannya untuk tetap mengaji kepada kiai, dengan cara antri sebagaimana santri kebanyakan, meskipun beliau sendiri sudah memimpin pesantren dan diangkat sebagai Mursyid Tarekat. ? Keaktifannya di NU tidak menghalangi sosok ini untuk akrab kepada semua pihak dari beragam latar belakang.

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Salman, Mursyid Bersahaja nan Kharismatik

Figur yang amat bersahaja, ramah serta tawadlu’ adalah kesan yang akan didapati oleh siapapun yang bertamu ke rumah kiai. Ketika berbicara dengan para tamunya Kiai Salman lebih sering menundukkan kepala sebagai wujud sikap rendah hatinya. Bahkan tidak jarang, beliau sendiri yang membawa baki berisi air minum dari dalam rumahnya untuk disuguhkan kepada para tamu.

Menjadi Mursyid Usia 19 tahun

Mbah Salman adalah anak laki-laki tertua dari KH M Mukri bin KH Kafrawi. Dan dia merupakan cucu laki-laki tertua dari KH M Manshur, pendiri pesantren Al Manshur. Kiai Manshur sendiri adalah putra dari Syaikh Muhammad Hadi Girikusumo, salah seorang khalifah Syaikh Sulaiman Zuhdi, guru besar Naqsyabandiyah Khalidiyyah di Jabal Abi Qubais Makkah.

Sebagai cucu laki-laki tertua, Salman muda memang dipersiapkan oleh sang kakek, KH M Manshur yang di kalangan pesantren Jawa Tengah termasyhur sebagai wali, untuk melanjutkan tugas sebagai pengasuh pesantren sekaligus mursyid Thariqah Naqsyabandiyah.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tahun 1953, ketika Salman berusia 19 tahun, sang kakek, yang wafat dua tahun kemudian, membai’atnya sebagai mursyid, guru pembimbing tarekat. Maka, ketika pemuda-pemuda lain seusianya tengah menikmati puncak masa remajanya, Gus Salman harus memangku jabatan pengasuh pesantren sekaligus mursyid.

Untuk menambah bekal pengetahuannya sebagai pengasuh, Gus Salman nyantri lagi ke pesantrennya K.H. Khozin di Bendo, Pare, Kediri selama kurang lebih empat tahun (1956 – 1960). Sebulan sekali, ia nyambangi pesantren yang diasuhnya di Popongan, yang selama Salman mondok di Kediri, diasuh oleh ayahnya sendiri, KH M Mukri.

Sebelum diangkat menjadi mursyid, Salman mengenyam pendidikan di Madrasah Mamba’ul Ulum, Solo dan beberapa kali nyantri pasan (pengajian bulan Ramadhan) kepada K.H.Ahmad Dalhar, Watu Congol, Magelang,Seiring dengan perkembangan jaman, pesantren yang diasuh oleh Kiai Salman juga mengalami perkembangan. Jika semula santri hanya ngaji dengan sistem sorogan dan bandongan, mulai tahun 1963 didirikan lembaga pendidikan formal mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Diniyah (1964), Madrasah Aliyah (1966) dan yang terakhir TK Al-Manshur (1980).

Popongan Setelah Kepergiannya

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Belakangan, seiring dengan kian lanjutnya usia beliau, Kiai Salman tampaknya juga menyiapkan kader pribadinya, baik sebagai pengasuh pesantren maupun mursyid thariqah, yaitu Gus Multazam (35 th). Kondisi fisik Kiai yang sangat tawadhu ini, belakangan, memang agak melemah dan intonasi suaranya tidak lagi sekeras dulu. Maka putra ketujuhnya yang lahir di Makkah inilah yang menjadi badalnya (pengganti) untuk memberikan pengajian-pengajian.

Saat ini pesantren Al-Manshur Popongan terdiri tiga bagian : pesantren putra, pesantren putri dan pesantren sepuh yang diikuti oleh orang-orang tua yang menjalani suluk, lelaku tarekat. Berbagai bentuk kegiatan pesantren juga ditata ulang, sekaligus dengan penunjukkan penanggung jawabnya. Kiai Salman sendiri, selain sebagai sesepuh pesantren, juga mengasuh santri putra dan santri sepuh (santri thariqah) yang datang untuk suluk dan tawajuhhan pada bulan-bulan tertentu.

Sampai hari-hari terakhir menjelang masuk ke rumah sakit beliau tetap mengajar, meskipun santri yang ada di hadapan beliau hanya satu orang. Demikianlah sosok yang di dalam buku Tarekat Naqsyabandiyah karya Martin van Bruinessen, termasuk tokoh tarekat yang disebut dalam mata rantai KH M Manshur dari KH Muhammad Hadi Girikusumo, Mranggen, Demak ini, dia tidak membedakan sedikit banyaknya santri yang belajar.

Santri mukim yang belajar kepada kiai sepuh ini jumlahnya ratusan orang setiap angkatan. Dan jika dihitung sudah mencapai lebih dari 100 ribu orang yang pernah nyantri kepada Almarhum.

Almarhum meninggalkan seorang isteri, Hj Siti Aliyah dan delapan anak, yaitu Musta’anatussaniyah, Umi Muktamirah, Munifatul Barroh, Murtafiah Mubarokah, Muhammad Maftuhun Ni’am, Muhammad Miftahul Hasan, Multazam Al-Makki, dan Marzuqoh Maliya Silmi. Yang tidak menyertai suami di luar Klaten juga membantu mengasuh di pesantren yang Almarhum pimpin. Para menantunya juga mengasuh pesantren di Krapyak Yogyakarta (KHM Najib Abdul Qodir); Al-Ishlah Kediri (KH Zubaduz Zaman), Al-Muayad Windan (KHM Dian Nafi’).

?

(Ajie Najmuddin/ dari berbagai sumber)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Bahtsul Masail, Warta Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan