Selasa, 07 Desember 2010

Khofifah: Pesantren Pilar Kekuatan Bangsa

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Sosial (Mensos) RI Hj Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa saat ini sudah banyak yang ingin mengubah negara dengan falsafah selain Pancasila. Tetapi berbagai upaya itu tidak mampu dilakukan karena kekuatan besar para santri pondok pesantren. Selama ini pondok pesantren menjadi salah satu pilar kekuatan bangsa Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat NU ini dalam Hari Lahir (Harlah) ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (24/5) malam.

Khofifah: Pesantren Pilar Kekuatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Pesantren Pilar Kekuatan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Pesantren Pilar Kekuatan Bangsa

“Santri pesantren inil merupakan pilar-pilar yang membangun semangat juang para ulama saat melawan penjajah. Meskipun demikian, ulama tidak mengajukan gelar pahlawan. Semua ini dikarenakan oleh keikhlasan ulama dalam berjuang,” katanya.

Menurut Khofifah, seorang ulama harus bisa menuliskan sejarah perjuangan yang dilakukan sehingga para santrinya mempunyai teladan. “Tolong dijaga dengan peningkatan kualitas SDM kita sebagai santri pesantren,” jelasnya.

Khofifah menegaskan bahwa Pekerjaan Rumah (PR) umat saat ini harus dijawab dengan spesifikasi keilmuan dengan memberikan beberapa referensi. Sudah banyak jenderal maupun pejabat tinggi negara yang berasal dari santri NU.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Artinya di jaman masa kini, santri sudah harus bisa masuk ke setiap birokrasi papan atas sebagai bukti atas keberhasilan pondok pesantren. Kalau kemandirian ini belum, berarti kita belum memiliki strategi dan sistemik untuk masuk ke jenjang ini,” terangnya.

Lebih lanjut Khofifah menegaskan santri pesantren harus ada yang masuk teknis sipil dan industri. Hal ini penting, karena sudah terbukti berkat peran santri pesantren negara maju.?

“Pesantren harus kokoh, majelis taklim rutin istighotsah dan manaqib harus tetap jalan. Semua ini untuk memotivasi para santri agar bisa menjadi pemimpin yang berkualitas,” tegasnya.

Oleh karenanya Khofifah meminta agar tidak salah dalam mendidik anaknya. Karena saat ini banyak anak muda yang sudah terjerumus kepada perbuatan kriminal. “Tugas guru dan ustadzah supaya mengerti jamaah dan santrinya apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Karena tugas ulama, bagaimana mendidik santri sehingga negara aman,” ungkapnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam kesempatan tersebut Khofifah mengharapkan kepada yang dilebihkan rizkinya agar bagaimana dapat memberi kontribusi penguatan pengembangan ekonomi syariah di setiap pondok pesantren yang bisa dioptimalkan dan dikembangkan agar tercipta ekonomi kreatif bagi santri pesantren.

Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Al Jailani ini dihadiri oleh A’wan PWNU Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin, Pengasuh Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Al Jailani KH Abdul Hafidz Aminuddin, dan sejumlah pengasuh pondok pesantren yang ada di Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 06 November 2010

Jaranan

Pelepah pisangku patah, cemetinya juga sudah pecah. ‘’Hya..hya..hya…,’’ sesekali kami teriak riang.

Pohon-pohon pisang yang tumbuh di sekitar rumah memudahkan anak-anak mendapat barang semacam itu. Mereka bebas tertawa, gembira, lalu bercanda sembari berjoget memukul udara. ‘’Hya..pltar..pltar!’’ kembali terdengar teriakan diiringi suara cambuk yang kami mainkan.



Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaranan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaranan

Masa kecilku yang indah, Lerang Gunung Slamet saat itu masih pertengahan musim penghujan. Tanah terjal serta bebatuan kering kerap meluncur ke bawah dengan sendirinya secara tiba-tiba. Bergulingan lalu menghantam dataran dimana anak-anak seusia kami sedang asyik bermain.

Awas Rozak! ada batu meluncur ke arahamu, seru Subekhi mengingatkanku sewaktu kami asyik bermain. Waktu itu, kami masih duduk di bangku SD kelas empat. Tiap pulang sekolah, kami menyempatkan untuk bermain apa saja sebelum akhirnya bapak ibu kami mencari

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

kesana-kemari.

Bekhi ibumu datang tuh, kamu pasti dimarahi nanti, kataku memberi tahu kedatangan seorang wanita setengah baya yang ternyata ibunya Subekhi.

Anwar yang sedari tadi hanya terdiam tiba-tiba menyarankan agar Bekhi cepat-cepat sembunyi. Dia pun menyelinap di antara puluhan pohon pisang. Sembari bersungut, Bekhi tampak sekali terganggu dengan kedatangan ibunya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kalian pasti main jaranan lagi ya! Dimana Subekhi sudah jam dua siang kok belum sampai rumah?” tanya Bu Jamilah kepada kami berdua.

Kembali Anwar menjawab spontan, Dia mengatakan kalau Subekhi mendapat tugas khusus dari guru kesenian di sekolah, sehingga tidak bisa pulang bersama mereka. Anwar juga menjelaskan kalau Bekhi merupakan salah satu siswa yang bakal mewakili sekolah pada kejuaraan

seni di tingkat kecamatan.

Alasan! Pokoknya saya tidak mau kalau kegiatan berjoget sambil makan beling dianggap sebagai seni, apalagi Bekhi yang melakukan, titik! katanya sambil beranjak pergi meninggalkan kami.

Aku dan Anwar hanya bisa saling pandang sembari tersenyum kecil. Kami berdua sama-sama heran, sebab sampai sebesar itu ketidaksukaan ibunya Si Bekhi pada yang namanya jaranan. Terlihat Anwar membisu sembari memukul-mukulkan pelepah pisangnya pada sebuah batu.

Sebentar kemudian Bekhi keluar dari pesembunyian. Dia berjingkat sesekali tampak menoleh kesana-kemari. Itulah Rozak, ibuku melarang keras permainan jaranan ini, katanya mengeluh.

Bahkan, lanjut Bekhi, demi menjauhkannya dari kesenian tradisional jaranan, ibunya berencana memindah sekolah Bekhi ke Jakarta. Kebetulan di sana terdapat saudara misan bapaknya.

Apa?! Kamu mau dipindah ke Jakarta? lantas mau jadi apa…?! teriak Anwar kaget.

Iya, aku sendiri tidak tahu kenapa sampai seperti itu, jawab Bekhi menunduk.

‘’Memang apa sih yang dilihat ibumu dari jaranan?’’

‘’Syirik katanya,’’ jawab Rozak tertunduk.

***

Hari itu, lidahku kembali merasakan nikmatnya secangkir kopi buatan ibuku. Setelah seharian bergelut dengan lumpur sawah. Usai membersihkan mata cangkul, kusandarkan tubuh pada tiang gubuk. Hembusan angin segar mulai merayu, akalku membayangkan masa lalu. Masa dimana anak-anak kampung masih suka bermain jaranan. Dan sekarang, hampir tidak pernah lagi

dijumpai permainan itu. Anak-anak kampung lebih memilih playstation.

Bekhi, nama yang cukup lekat dalam ingatan. Teman sejawat sejak kecil itu hampir 15 tahun lebih tak lagi bertemu. Kabarnya, Bekhi sudah selesai kuliah di salah satu peguruan tinggi ternama di Jakarta. Tidak tahu lagi apa sekarang pekerjaannya, atau apakah masih ingat sewaktu sering bermain jaranan di areal perkebunan, lalu sekonyong-konyong ibunya dating sambil memainkan telunjuk, mengomel.

Pukul empat sore aku bergegas meninggalkan sawah, sebelumnya kututup kembali aliran air dari anak sungai induk. Kebiasaan masyarakat desa semacam ini tidak bisa dirubah, setiap kali mereka hendak meninggalkan area persawahan, kebiasaan yang tak bisa dihilangkan

adalah mengecek kembali saluran air. Maklum sungai kecil sepanjang persawahan merupakan ruh tanaman padi ratusan petani di desa kami. Mereka benar-benar merawatnya termasuk dalam hal pemakaian yang dilakukan secara bergilir.

Kalau tidak begitu bisa terjadi perang sabit Dik Rozak, kata Pak Udi, tetangga sekampung yang

memiliki petak sawah di ujung sebelah timur desa kami. Pak Udi yang ramah, santun, memang menjadi panutan para petani di desa. Dia tergolong petani sukses, dengan kemahirannya bercocok tanam kami banyak belajar dari caranya mengolah lahan pertanian. Selain itu, Pak

Udi juga tak segan membagi pengetahuannya kepada kami. Sehingga masalah sekecil apa pun terutama yang berkaitan dengan pertanian kami bicarakan dengannya. Termasuk masalah irigasi.

Tumben jam segini baru pulang dik, tadi ada yang mencari kamu tuh. Kebetulan ibumu juga lagi ikut pengajian di kantor desa, kata Pak Udi yang sore itu sedang duduk di teras rumahnya sembari menikmati secangkir kopi.

Iya Pak Udi, aliran airnya kecil jadi mesti menunggu berjam-jam, kataku.

Maklumlah Dik, mendekati musim kemarau seperti ini air mulai sulit didapat jadi harus bersabar memang, tambah Pak Udi.

Kira-kira Bapak kenal siapa yang mencariku barusan.

Itu lho ..., Si Subekhi teman masa kecilmu dulu, anaknya Bu Jamilah yang sekarang sekolah di Jakarta, jawab Pak Udi.

Sambil mengucapkan terima kasih aku segera menuju ke rumah yang hanya berjarak sepuluh meter dari rumah Pak Udi. Mendengar nama Bekhi disebut kembali bayang-bayang masa lalu melintas. Bergegas aku membersihkan badan kemudian beranjak ke rumah Bekhi. Ternyata Bekhi sedang tidak berada di rumah, Bu Jamilah mengatakan kalau anaknya sedang keluar bersama Anwar . Tidak salah lagi mereka pasti sedang berada di lereng. Aku berguman sambil berlari kecil menuju lereng yang dahulu kerap menjadi tempat kami bermain jaranan.

Dugaanku benar, suara tawa mereka terdengar jelas sewaktu aku hampir sampai ke tempat tersebut. Bahkan, kali ini bukan jaranan yang mereka mainkan melainkan membakar setumpuk kayu yang menimbulkan asap pekat.Sementara tampak dua ekor ayam telanjang kaku di atas

perapian yang mereka buat.

Wah jaranan sekarang tak lagi makan beling ternyata, tetapi ayam, kataku di sambut tawa lebar kedua sahabatkku. Kami pun saling berangkulan. Bekhi tampak jauh berbeda, dia kini terlihat gagah tidak lagi ingusan seperti waktu main jaranan dulu, 15 tahun lalu. Penampilannya pun cukup nyentrik dengan rambut gondrong, celana jeans ketat serta t-shirt hitam. Sedikit cambang tumbuh di bawah dagunya menandakan Bekhi pamuda yang keras keinginan seperti masa

kecilnya dahulu.

Bekhi bagaimana kabarnya di Jakarta, masih ingat jaranan yang sering kita mainkan tidak? tanyaku mengajaknya bernostalgia.

Yah, jaranan di Jakarta jauh berbeda dengan yang ada di desa kita. Di sana tidak hanya beling yang dimakan, melainkan kayu glondongan, pajak, uang rakyat, bahkan seisi laut dan tambang minyak pun dilahap.

Kata-kata Bekhi membuat kami berdua bingung. Kami bahkan sangsi apakah ini Bekhi teman kami. Lantas mengapa jawabannya ngelantur tidak karuan. Apakah ini pula bukti ketidaksukaan ibunya bila melihat kami bermain jaranan. Mungkin khawatir nanti melahap kayu gelondongan, blandar atau tiang rumah kami yang terancam habis dimakan. Ataukah Bekhi hanya bercanda?

Tidak, sejak kecil Bekhi jarang bercanda. Bahkan dia kerap menangis bila kami bertiga mengajaknya bercanda, ini pasti mengandung makna. Maklum, Aku dan Anwar hanya lulusan sekolah dasar di desa sehingga sulit memahami perkataan mahasiswa semacam Bekhi. Tak terasa

mata kami berdua tertuju pada dua ekor ayam yang sudah mulai kaku mengering diranggas bara.

Apakah ini pertanda kita juga akan melakukan hal yang sama, sebab saat ini di depan kita tergolek dua ekor ayam siap disantap. Mungkin besok kita panggang kambing, kemudian kerbau, lalu gajah, lalu seisi laut, dan memakannya dengan kayu-kayu jati di sekeliling kita ini, ujar Anwar menduga.

Bekhi tidak merespon, dia justru mencukil sayap ayam yang sudah kelihatan gosong. Sejenak kemudian dioleskan ke mangkuk berisi bumbu kecap yang sudah disiapkan lantas dilahapnya.

Kalau begitu kita tidak usah lagi main jaranan, anak-anak kecil di desa ini juga dikasih tahu kalau bermain jaranan itu berbahaya karena kusen-kusen rumah penduduk terancam dimakan, tutur Rozak menambahi.

Lho, kenapa anak-anak mesti dilarang, justru itu kebudayaan yang menjadi kebanggaan desa ini. Aku lihat sekarang justru jarang jaranan dimainkan, kata Bekhi yang lagi-lagi membuat kami kebingungan.

Lantas bagaimana dengan pohon-pohon jati di kampung kita, kusen-kusen rumah penduduk, iuran desa tiap pekan yang ditarik Pak Udi. Bukankah itu akan habis dimakan mengingat jaranan sekarang bukan hanya makan beling, sergahku sedikit khawatir.

Memang, lanjut Bekhi, mereka justru tak bisa memakan beling. Bahkan bukan pelepah pisang yang dijadikan tunggangan melainkan partai politik, lembaga pemerintah, kantor-kantor dinas, bahkan instansi sosial seperti lembaga swadaya. Cemetinya pun bukan lagi utas tali yang dipilin kemudian menimbulkan bunyi nyaring saat dimainkan. Melainkan jabatan, kedudukan, kekuasaan, dan ambisi.

Wah apalagi itu, tanya Anwar.

Sudahlah, beruntung masyarakat di sini tidak banyak yang memahami hal ini. Coba kalau mereka semua tahu tentu ramai-ramai berangkat ke Jakarta menuntut para penguasa karena telah menyalahkagunakan kesenian jaranan yang menjadi kebanggaan kita, kata Bekhi.

Meski samar, kami sedikit mengerti maksud pembicaraan Bekhi. Sebuah pelajaran berharga telah dia berikan kepada dua anak desa. Ternyata, sikap kemaruk sudah mewabah kepada para pemimpin di negeri ini. Bahkan, tanpa merasa salah dan dosa jaranan yang kerap kami

mainkan diwaktu senggang ikut terlibat di dalamnya.

Bekhi kamu tahu tidak, dua minggu lalu Pak Lurah beli mobil, kalau tidak salah mereknya Kijang Inova, itu lho kijang yang agak lancip depannya.

Perkataan Rozak kembali terdengar sewaktu kami sedang asyik menikmati ayam bakar usai mendengar cerita Bekhi.

Oh iya, uangnya dari mana? timpal Bekhi terlihat cukup bersemangat.

Dia jual seluruh tanah bengkok, sebagian hasil penjualan kayu jati dari dua bukit yang kini dijadikan persil, jawab Rozak dengan mulut penuh daging ayam.

Bahaya, penyakit itu sudah sampai juga ke desa kita, tutur Bekhi tampak kecewa.

INYONG MAULANA, terlahir dengan nama Maulana di Desa Karang Sawah, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada 09 Februari 1976, sekarang tinggal di Surabaya. Pernah menjadi Reporter Harian Umum Republika (Kalam JawaTimur) pada 2002-2004 dan sekarang bekerja sebagai Redaktur di HARIAN BANGSA dan Kontributor Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 05 November 2010

Literasi Digital untuk Generasi Milenial

Arus deras informasi di era digital menuntut masyarakat lintas generasi agar cerdas menangkap konten-konten yang bertebaran di dunia maya, baik melalui portal atau situs berita maupun media sosial. Langkah ini dilakukan karena tidak sedikit informasi palsu (hoaks) atau berita bohong (fake news) yang kerap mempengaruhi seseorang sehingga berdampak pada tatanan sosial yang terganggu, menimbulkan keresahan, dan perpecahan antarelemen bangsa.

Atas sedikit banyak dampak yang ditimbulkan dari era digital ini, sejumlah elemen bangsa sadar akan tantangan hebat yang bakal dihadapi oleh generasi Indonesia ke depan. Sebelum menginjak ke berbagai tantangan yang lebih serius, kelompok yang sadar akan keberlangsungan Indonesia terus berupaya membekali anak-anak yang disebut generasi milenial ini untuk memperkuat literasi digital.

Literasi Digital untuk Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)
Literasi Digital untuk Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)

Literasi Digital untuk Generasi Milenial

Generasi milenial disebut juga Generasi Z. Merujuk pada abjad huruf, Z merupakan huruf terakhir sehingga bisa dikatakan bahwa generasi milenial merupakan generasi terakhir dengan perkembangan teknologi yang luar biasa. Dalam klasifikasi generasi era digital, generasi ini disebut native digital, generasi yang lahir ketika era digital telah berkembang pesat.

Adapun generasi satunya disebut digital immigrant. Generasi ini lahir ketika terjadi proses transformasi digital. Lahir ketika era internet belum berkembang pesat bahkan belum ada perkembangan internet, kemudian saat ini dihadapkan pada era di mana generasi asli digital atau native digital juga menghadapinya.

Kelompok digital immigrant inilah yang sadar akan tantangan perkembangan digital bagi masa depan bangsa dan generasi mudanya sehingga terus mendorong literasi digital agar generasi Z tidak terlalu terbius dengan virus digital dan segala sesuatu yang mengiringinya. Namun, kelompok digital immigrant juga tidak sedikit yang terpengaruh dengan gaya kehidupan generasi milenial.

Langkah pencerdasan generasi milenial inilah yang membuat seorang M. Hasan Chabibie menulis buku tentang Literasi Digital: Transformasi Pendidikan dan Inspirasi Generasi Milenial. Buku setebal 219 halaman ini memuat tentang langkah pencerdasan generasi Z dengan pemahaman substantif tentang literasi digital dengan mengemukakan sejumlah contoh insipratif dari berbagai tokoh yang sukses membangun kerajaan digitalnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di antara tokoh-tokoh yang sukses yang membangun kerajaan digital yang diungkapkan Hasan Chabibie yaitu, pendiri Facebook Mark Zuckerberg; pendiri Google Lary Page dan Sergey Brin; pendiri Twitter Evan Williams, Jack Dorsey, Christoper Biz Stone, dan Noah Glass; dan pendiri Alibaba Jack Ma. Mereka menghiasi dunia digital dengan berbagai platform yang bisa digunakan oleh generasi milenial untuk berinteraksi dengan sesamanya, baik untuk kebutuhan sosial, bisnis, pendidikan, dan lainnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Poin penting yang diungkap dari kisah para pendiri kerajaan digital tersebut ialah komitmen yang kuat dalam melakukan inovasi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan manusia zaman modern sehingga dalam buku yang diterbitkan oleh Pustekkom Kemdikbud dan NusantaraPro ini juga memberikan gambaran jelas terkait karakteristik generasi milenial. Perkembangan era digital satu sisi bisa memperkuat bangunan kemanusiaan sebuah bangsa, tetapi di sisi lain juga dengan mudahnya masyarakat terpengaruh dengan arus informasi yang beredar sehingga potensi perpecahan juga mudah tersulut.

Hal ini seperti yang Hasan Chabibie tulis di halaman 49: “Di tengah arus media digital yang demikian massif, kebinekaan yang menjadi identitas warga Indonesia mendapat ancaman (tantangan, red) serius. Ancaman itu berupa meningkatnya eskalasi kebencian dan provokasi yang disebarkan secara massif melalui media sosial. Revolusi teknologi dan mudahnya akses media sosial ternyata menyimpan ruang gelap berupa kebencian dan isu-isu negatif yang dihembuskan kelompok radikal.”

Kelompok yang radikal yang diidentifikasi Hasan Chabibie tidak terlapas dari kelompok konservatif yang menghembuskan isu-isu keagamaan untuk kepentingan politik kekuasaan. Namun sebelumnya, kelompok ini sudah beredar di Indonesia dengan upaya meresahkan masyarakat dengan dalil-dalil keagamaan yang cenderang menyerang tradisi keagamaan masyarakat Indonesia.

Kini ruang mereka lebih luas di era perkembangan digital dengan merambah dakwah di media sosial untuk mempengaruhi masyarakat secara luas dengan pemikiran-pemikiran radikal dan dalil-dalil keagamaan yang konservatif. Di sinilah tantangan besar generasi milenial agar lebih cerdas dalam memilah dan memilih informasi yang harus diikuti atau dikonfirmasi kebenarannya (tabayun).

Era digital ini tidak memungkiri bahwa yang selama ini berkembang justru wacana-wacana keagamaan kontraproduktif karena agama yang seharusnya bisa memperkuat persaudaraan (ukhuwah) berbagai elemen bangsa justru menjadi pemicu perpecahan di antara anak bangsa. 

Sehingga tidak heran ketika KH Ahmad Ishomuddin (2017) mengatakan, generasi saat ini mempunyai semangat belajar keagamaan yang tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan kemampuan memahami agama itu sendiri. Sebab itu, belajar kepada guru, ustadz, dan kiai yang tepat mempunyai peran yang sangat penting untuk mendukung gagasan literasi digital.

Dalam buku ini, Hasan Chabibie juga mengemukakan sejumlah kemudahan akses pendidikan yang dipengaruhi oleh perkembangan digital. Betapa perkembangan digital ini mampu menjangkau luas berbagai elemen bangsa untuk mengakses pendidikan seluas-luasnya melalui inovasi pendidikan melalui berbagai platform aplikasi digital.

 

Artinya, perkembangan digital dalam dunia pendidikan merupakan salah satu langkah mewujudkan gagasan literasi digital. Generasi milenial yang mempunyai karakter lebih dominan dalam mengakses informasi melalui internet ketimbang buku harus diimbangi dengan konten-konten dan aplikasi positif dalam dunia pendidikan.

Namun, di tengah perkembangannya, literasi digital ini juga harus menjadi media untuk anak bangsa bahwa belajar langsung kepada seorang guru yang tepat juga menjadi bekal dalam mengarungi dunia digital. Karena, bekal ini akan bermanfaat bagi generasi milenial untuk mengisi dunia maya dengan konten-konten positif dalam rangka membangun Indonesia yang kuat dan agama yang lebih ramah untuk kehidupan bersama. Selamat membaca!

Identitas buku

Judul: Literasi Digital: Transformasi Pendidikan dan Inspirasi Generasi Milenial

Penulis: M. Hasan Chabibie

Penerbit: Pustekkom Kemdikbud dan NusantaraPro

Cetakan: Pertama, 2017

ISBN: 978-998-887-501-xx

Tebal: 219 halaman

Peresensi: Fathoni Ahmad

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Fragmen Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 29 Oktober 2010

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Oleh Nur Kholik Ridwan

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam Muqaddimah Qanun Asasi mengemukakan, “Mereka mengajak kepada Kitab Allah, padahal sedikit pun mereka tidak bertolak dari sana. Mereka tidak berhenti sampai di situ, malahan mereka mendirikan perkumpulan (organisasi) bagi kegiatan mereka tersebut. Maka kesesatan pun semakin jauh. Orang-orang yang malang beramai-ramai memasuki perkumpulan itu.”

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Dasar Negara, dan Asas Pancasila (1)

Kalimat-kalimat itu ditujukan Hadratussyekh untuk mengingatkan kepada umat Islam, khususnya warga Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah, untuk tidak terjun dalam lautan fitnah, apalagi ikut mengobarkannya. Beliau mengatakan: “Sementara itu ada segolongan orang yang terjun ke dalam lautan fitnah.” Jelas disadari, umat Islam Indonesia tidak lepas dari terkaman api fitnah yang merajalela, baik dulu atau sekarang. Dalam konteks itu, Hadratussyekh mengingatkan, akan banyak orang mengutip Al-Qur’an dan mengajak kepada Al-Kitab, tetapi sejatinya mereka tidak berpijak dari sana.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Oleh karena itu, Hadratussyekh mengingatkan, “Perpecahan adalah penyebab kelemahan, kekalahan, dan kegagalan sepanjang zaman,” dan fitnah adalah bagian dari sumber dari perpecahan itu.

Tentang fitnah yang sudah merajalela itu, juga menggerus Muslimin Indonesia, dan khususnya ditujukan kepada masyarakat NU, yaitu yang hubungannya dengan negara dan dasar Negara. Tidak hanya belakangan ini saja, tetapi juga sudah sejak lama ketika Republik ini telah berdiri. Digambarkan bahwa negara yang seperti NKRI dengan dasar Pancasila ini adalah tidak mencerminkan Islam. Pemerintah adalah thaghut dan yang mendukungnya adalah pembela thaghut. Ending - nya mereka berkampanye untuk mendirikan khilafah mengganti negara nasional dan Pancasila, sebagian menginginkan negara Islam dan mengulang tradisi Kartosoewirjo, dan sebagian membayangkan ingin perang Suriah segera terjadi dan daulah islamiyah seperti ISIS berdiri, dan hal-hal lain lagi.

Tulisan ini berusaha memenuhi permintaan dari sebagai sahabat-sahabat dan santri-santri pesantren yang menginginkan jawaban dari kemelut fitnah yang membuncah itu: bagaimana NU melihat dasar negara dan asas Pancasila? Karenanya fokus dari tulisan ini adalah NU dan dasar negara, yang dengan sendirinya juga membicarakan bentuk negara nasional dan hubungannya dengan agama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Paling tidak, bagi sahabat-sahabat kami, adik-adik kami, orang-orang tua kami, dan saudara-saudara kami, semoga memberi manfaat meski hanya secuil. Agar yang bimbang kembali kokoh, yang kokoh merapatkan barisan, yang telah merapatkan barisan agar ikut terjun dalam jihad di dalam segala lapangan kehidupan untuk mengokohkan bangunan yang telah ada, dan mengisinya untuk menjaga dan memelihara NKRI- Pancasila-UUD 1945, dengan semangat dan ruh Ahlussunnah wal Jama’ah an- Nahdliyah. Wallahu a’lam.

Bersambung...

Penulis adalah anggota PP RMINU dan alumnus Pondok Pesantren Darunnajah Banyuwangi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan, Pendidikan, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 09 Oktober 2010

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan

Oleh Ahmad Saifuddin

---Semenjak ditetapkannya calon presiden dan calon wakil presiden oleh masing-masing partai pengusung dan juga Komisi Pemilihan Umum (KPU), kampanye mencari massa dan pendukung pun sangat gencar dilakukan oleh masing-masing tim sukses. Berbagai cara dilakukan, mulai cara yang beretika sampai cara yang tidak beretika yang sering dinamakan dengan black campaign dan seringkali dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan P(em)anas(an) Jelang Ramadhan

Berbagai stasiun televisi juga sudah gencar menayangkan iklan tentang capres dan cawapres. Terlebih lagi, beberapa stasiun televisi swasta itu adalah milik dari beberapa pimpinan partai politik. Tidak hanya media televisi, tetapi juga media cetak dan surat kabar. Berita harian seringkali berkaitan dengan capres dan cawapres.

Pendidikan pemilih memang sangat penting untuk digalakkan, mengingat banyaknya penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 250 juta jiwa dan luasnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kondisi ini membuat media cetak dan elektronik sangat berpengaruh untuk menyebarluaskan dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan oleh pemilih. Namun, lagi-lagi validitas berita tentang capres dan cawapres pun tidak terlepas dari kepentingan politik yang terselubung. Sehingga, tidak jarang didapati berita yang saling menjatuhkan dan saling merugikan. Padahal, kondisi seperti ini justru bukan merupakan pendidikan pemilih yang sehat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak tertinggal juga mengenai “pertarungan dua madzhab” dalam Islam, yang saling mengklaim telah mendapatkan restu kiai dan pemuka agama demi memperkuat citra agamis capres dan cawapres yang tidak lain tujuan akhirnya adalah untuk merebut simpati rakyat yang tidak lagi bodoh. Ironisnya, beberapa kalangan agamawan turut terseret pada “permainan kotor” para elite politik tersebut. Dengan tanpa segan, oknum tersebut membawa-bawa nama institusi agama mereka untuk memperkuat posisi mereka. Bahkan, ada oknum agamawan yang mulai menggunakan ilmu “othak athik mathuk” sehingga tanpa segan mengobral ayat Al Qur’an dan Hadits untuk kepentingan politik yang sudah jelas tidak sehat itu.

Kondisi ini jelas membuat sepanjang bulan Juni-Juli ini menjadi “bulan panas”. Kondisi tidak sehatnya pertarungan politik ini sebenarnya tidak cocok dengan karakteristik masyarakat Timur (Indonesia dalam hal ini) yang suka akan keharmonisan dan keselarasan serta religius. Atau barangkali bangsa ini sudah kehilangan jati dirinya hanya untuk menuju kepentingan sesaat dan kepentingan kelompoknya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tidak bisa dipungkiri juga bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah agama Islam, agama yang senantiasa mengajarkan rahmat untuk seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), agama yang senantiasa mengajarkan pada etika (akhlaq) dan kelembutan, agama yang sebentar lagi akan menjalankan puasa wajib pada bulan Ramadlan.

Saat ini, umat Islam sudah menginjak pada bulan Sya’ban, bulan yang setelahnya adalah bulan Ramadlan. Pada bulan Sya’ban, ini umat Islam diajarkan memperbanyak puasa sunnah. Bisa dikatakan puasa ini adalah puasa pada bulan yang seringkali dilupakan oleh manusia.

“Dari Abu Hurairah, dari Usamah bin Zaid, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah SAW, aku melihatmu berpuasa pada satu bulan yang tidak sama dengan puasamu pada bulan-bulan yang lain. Rasulullah SAW bertanya, “Bulan apa yang engkau maksudkan itu?” Saya menjawab, “Bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW bersabda, “Sya’ban adalah bulan di antara Rajab dan Ramadlan yang banyak dilupakan oleh manusia. Padahal pada waktu itu semua amal hamba diangkat dan aku senang ketika amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Baihaqi)

Selain itu, bulan Sya’ban juga bisa dikatakan sebagai “bulan pemanasan” untuk mempersiapkan diri memasuki bulan Ramadlan. Al-Hâfidh Ibn Rajab al-Hanbali berkata, “Karena bulan Sya’ban itu merupakan persiapan menghadapi bulan Ramadlan, maka semua amaliyah yang dikerjakan pada bulan Ramadlan juga dianjurkan untuk diamalkan pada bulan Sya’ban, seperti puasa dan membaca Al Qur’an. Tujuannya agar jiwa benar-benar siap untuk menghadapi bulan Ramadlan.” (Lathaiful-Ma’arif, 258)

Maka, sangat jelas bahwa bulan Sya’ban ini adalah “bulan pemanasan”, dimana pada bulan itu sekarang bertepatan juga dengan “bulan panas” yang berkaitan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden untuk lima tahun ke depan. Karena itu, hendaknya jangan sampai pemanasan untuk mempersiapkan diri menuju bulan Ramadlan dirusak begitu saja dengan kondisi politik yang saling menjatuhkan dan merugikan. Terlebih lagi, sebagian masa kampanye sudah masuk pada bulan Ramadlan. Jangan sampai hawa nafsu politik merusak ibadah-ibadah yang telah diniatkan dan dilaksanakan.

Hendaknya, saat ini juga digunakan oleh masing-masing pendukung serta tim sukses capres dan cawapres 2014—2019 dengan pemanasan yang baik. Misalkan, memberikan pendidikan pemilih yang berkualitas kepada masyarakat Indonesia, mengajarkan pendidikan politik yang beretika kepada seluruh simpatisan dan pengurus partai politik serta tim sukses, menyampaikan visi dan misi masing-masing capres dan cawapres 2014—2019 sehingga masyarakat akan paham arah dan orientasi masing-masing capres dan cawapres.

Jangan sampai karakteristik masyarakat Indonesia yang religius dan harmoni ternodai. Jadikan bulan ini sebagai bulan pemanasan menuju Ramadlan, juga bulan pemanasan menuju pilihan Presiden dan Wakil Presiden 2014-2019 yang sehat dan berkualitas, sehingga tidak ada lagi sikap saling menjatuhkan dan merugikan.

Ahmad Saifuddin, Mahasiswa Pascasarjana Psikologi Profesi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bergiat sebagai Wakil Sekretaris Bidang Teknologi, Informasi, Komunikasi dan Jaringan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul ‘Ulama Propinsi Jawa Tengah dan Sekretaris Lembaga Kajian Pemikiran Islam Darul Afkar Klaten.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 08 Oktober 2010

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Kudus, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kiai muda Sih Karyadi memaparkan dua kenikmatan paling utama pada setiap muslim. Menurut dia, nikmat yang pertama pertama adalah keberadaan manusia yang tanpa meminta kemudian diwujudkan Allah di dunia. Kenikmatan pertama ini tiada lain karena nur Muhammad SAW.

“Melalui Hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa kalau bukan karena Kanjeng nabi, maka cakrawala semesta tidak akan pernah diciptakan, termasuk kita manusia,” terangnya pada peringatan Maulid Nabi yang diadakan di kediaman Ketua Cabang Ikatan Pelajar Putri NU Kabupaten Kudus di Desa Jurang Kecamatan Gebog, Kudus, pada Jum’at (16/01) bersama Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Jurang.

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kenikmatan Paling Agung bagi Tiap Muslim

Menurut dia, itu rahmatan lil ‘alamin. Kanjeng Nabi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Tidak peduli muslim maupun kafir, semua mendapat percikan rahmatnya. Allah menciptakan dunia bukan sebatas untuk orang muslim saja, melainkan orang kafir. Muslim dan kafir sama-sama diciptakan, sama-sama mendapatkan tempat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Nikmat kedua, kata alumni Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar NU (PAC IPNU) Kecamatan Gebog, Kudus dia, yakni nikmatul iman wal islam. Nikmat ini tak kalah agung dari nikmat yang pertama. Allah menjadikan hati kita memperoleh hidayah bahkan sejak kita terlahir ke dunia. Memiliki keluarga yang muslim adalah anugerah, sehingga mendapatkan pendidikan keimanan dan keislaman.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rasulullah datang membawa rahmat, dan kedua nikmat di atas adalah nikmat yang paling agung yang harus disyukuri. Tentu dengan menjalani hidup yang penuh ketakwaan dan kebahagiaan.

“Kita harus berbahagia, karena nikmat tersebut. Menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, di antaranya adalah dengan cara ikut serta merayakan peringatan Maulid Nabi seperti sekarang ini,” terangnya.

Hadir juga peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro. Salah satu peserta KKN, Irwan yang berasal dari Banjarmasin, memperkenalkan maulid Habsyi yang di daerah Jawa biasa disebut maulid Al Banjari. “Maulid Habsyi sering juga dinamai dengan maulid Al Banjari di daerah Jawa,” kata Irwan.

Berbicara mengenai selawat maulid, di Kudus sendiri terdapat bermacam jenisnya yang sering dilantunkan. Di antaranya, selawat Muludan Jawan Mbah Syarif Padurenan, Muludan Jawan Mbah Ma’ruf Irsyad, Maulid Dziba’, Barzanji, Maulid Simtud Durar, dan Dalail Khairat. Jika Dalail Khairat di Kudus disebarluaskan oleh KH. Ahmad Basyir, maka Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghani.

“Maulid Habsyi disebarluaskan oleh KH. Abdul Ghoni atau Guru Sekumpul. Beliau berguru kepada KH. Syarwani Abdan Bangil,” lanjut Irwan.

Acara yang diiringi dengan tabuhan rebana itu ditutup dengan pelantunan selawat khas Kudus, yakni selawat Asnawiyyah, karangan KH. Raden Asnawi. (Istahiyyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, Makam, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 04 Oktober 2010

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi kiprah ? pondok pesantren sebagai jantung pendidikan umat Islam di Indonesia yang tetap eksis di tengah arus globalisasi. Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari nilai-nilai yang hidup di dunia pesantren itu sendiri yang menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai tantangan, rintangan, dan halangan.

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Keikhlasan Membuat Pesantren Mampu Hadapi Tantangan Zaman

“Nilai-nilai tersebut adalah keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan kebebasan berpikir terkait keilmuan” tutur Menag saat memberi taushiyah dalam rangka tasyakuran 2 Windu Pondok Pesantren al-Mashduqiyah, Patokan, Krasan, Probolinggo, Jawa Timur, Jum’at (24/4) sore seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id.

Keikhlasan para pengasuh, kiai dan ustadz pesantren, bagi Menag tak ternilai harganya. Hal ini membuat pesantren terus terterangi cahaya. Apalagi keikhlasan tersebut dikuatkan dengan kesederhanaan para pemegang amanah pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pesantren juga mandiri dan tidak bergantung. Hal ini yang menjadikan lulusan pesantren mampu dan siap mengerjakan apa pun, karena para santri mempunyai spirit kuat, selain juga jiwa entrepreneurship tinggi, sehingga sedikit yang berkeinginan menjadi pegawai, baik pegawai sipil maupun swasta. “Nilai kemandirian ini sungguh sesuatu yang mahal,” ungkapnya.

Menag melihat, meski para santri mempunyai jiwa kethawadu’an yang tak diragukan, namun di pesantren ada kebebasan dalam berpikir terkait dengan keilmuan. Jadi seorang santri yang menimba ilmu, tidak dibatasi dengan ilmu-ilmu tertentu. “Bebas yang dimaksud adalah bebas dalam artian masih dalam norma-norma dan acuan, bukan bebas dalam kontenks berpikir yang mengarah pada liberalisasi,” jelasnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bebas di sini, tambah Menag, adalah suatu pemahaman, bahwa masing-masing santri, mempunyai tantangannya tersendiri. Karenanya tak jarang seorang santri, dalam menuntut ilmu, sering kali berpindah pesantren, baik karena tuntutan pencarian ilmu ataupun arahan dari pengasuhnya. Selain itu, seorang santri bersamaan dengan keharusannya untuk tetap menghormati ulama, tetap mempunyai ruang untuk berbeda pendapat. “Karena, apa yang disampaikan sang guru, kadang, kurang sesuai dengan masa si santri,” urai Menag panjang lebar.

Pondok Pesantren al-Mashduqiyah didirikan oleh KH Muhlisin Sa’ad yang merupakan salah satu ustadz Menag, saat masih menuntut ilmu di pesantren. Ikut hadir dalam tasyukuran tersebut, para alim dan ulama, Bupati Probolinggo, Kakanwil Kemenag Jawa Timur, Kakankemenag Kabupaten Probolinggo dan Kabag TU Pimpinan (Sesmen) Khoirul Huda. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nasional, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 18 September 2010

PCINU Daulat Cendekiawan Perempuan Maroko Sebagai Mustasyar

Rabat, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko memasukkan salah satu cendekiawan Maroko, Dr Mariam Ait Ahmad, dalam struktur kepengurusan periode 2014-2016. Perempuan pakar perbandingan agama yang juga Ketua Asosiasi Maroko-Indonesia tersebut diberi amanah sebagai mustasyar.

PCINU Daulat Cendekiawan Perempuan Maroko Sebagai Mustasyar (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Daulat Cendekiawan Perempuan Maroko Sebagai Mustasyar (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Daulat Cendekiawan Perempuan Maroko Sebagai Mustasyar

Selain Mariam, PCINU Maroko juga mengangkat sebagai mustasyar dua tokoh lainnya, yakni Ustadz Younus As-Shobary (Majlis Ilmi Kenitra) dan Dr Munsif Likuraisi, ulama Maroko yang pertama kali menghadiri Muktamar NU di Makasar pada tahun 2010.

Hal ini terungkap dalam acara pelantikan pengurus baru PCINU Maroko masa khidmah 2014-2016 di ruang serbaguna Kedutaan Besar RI (KBRI) Rabat, Maroko, Ahad (14/12).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Katib Syuriah PBNU KH Mujib Qulyubi mengukuhkan mereka di hadapan Duta Besar RI baru untuk Kerajaan Maroko Endang Dwi Syarief Syamsuri. Dengan demikian, PCINU resmi memiliki pemimpin baru, yaitu Alvian Iqbal Zahasfan sebagai Rais Syuriah dan Kusnadi sebagai Ketua Tanfidziyah.

Mujib berpesan kepada semua warga Nahdliyin, khususnya pengurus NU, agar menjaga tiga hal penting yang spiritnya berakar pada sejarah berdirinya NU. Ketiga hal tersebut adalah

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

intelektualitas yang berasal dari Tashwirul Afkar, ekonomi yang diinisiasi lewat gerakan Nahdlatut Tujjar dan nasionalisme yang diimplementasikan lewat Nahdlatul Wathan.

"Sebagai pengurus harus benar-benar bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Perbuatan baik tidak akan menuai hasil yang baik kecuali dengan disertai niat yang baik dan penuh keikhlasan," ujarnya.

Mustasyar PCINU Maroko Dr Munsif Likuraisi dalam sambutannya siap bekerja sama dalam menyukseskan beberapa program yang telah dicanangkan untuk satu tahun ke depan. Dia merasa bangga bisa ikut menjadi bagian dari organisasi PCINU Maroko yang selalu mengedepaankan etika, sopan santun, dan sikap toleransi.

Sementara Dubes RI Endang Dwi Syarief juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasihnya bisa hadir pada acara pelantikan tersebut. Ia menuturkan bahwa sebelumnya mengetahui tentang NU ketika di Australia.

Dalam acara ini hadir pula sejumlah jajaran staf KBRI Rabat, ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko Afif Husen, serta mahasiswa STAINU Jakarta yang baru saja selesai mengikuti program kelas internasional. (Fairuz Ainun Naim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 04 September 2010

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menghadiri ASEAN Labour Ministers Meeting on Occupational Safety and Health at the XXI World Congress On Safety and Health at Work 2017 (Pertemuan Menteri-Menteri Tenaga Kerja ASEAN  dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada Kongres Dunia ke-21 tentang K3 yang diadakan di Singapura pada 3-8 September 2017.

Acara Kongres Dunia tingkat ASEAN tentang K3 ini dihadiri oleh Menteri-menteri Tenaga Kerja negara-negara ASEAN yang terdiri dari 10 negara yaitu Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja.  

"Pertemuan tingkat Menteri ini untuk memperkuat komitmen dan kerja sama negara-negara ASEAN dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di lingkungan kerja," kata Menteri Hanif di Jakarta, Sabtu (2/9). 

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Hadiri Pertemuan K3 Tingkat ASEAN di Singapura

Menteri Hanif mengatakan kerja sama  negara-negara ASEAN dalam penerapan standar K3 sangat penting karena setiap pekerja memiliki hak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat.

"Oleh karena itu, dibutuhkan tekad kolektif ASEAN untuk mempercepat pengembangan K3 dan meningkatkan standar, kinerja dan kemampuan ASEAN melalui langkah-langkah untuk mengatasi risiko dan bahaya yang muncul di lingkungan bisnis dan teknologi baru yang berkembang," kata Hanif.

Menteri Hanif menambahkan penerapan K3 di negara-negara kawasan ASEAN ini ditujukan juga untuk meningkatkan aspek perlindungan bagi para pekerja dan mendukung Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

(SDGs).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Penerapan standar K3 di kawasan ASEAN ini juga dapat memotivasi kita untuk mencapai Tujuan Pembangunan Ekonomi  Berkelanjutan pada tahun 2030 dan untuk menciptakan pekerjaan yang layak untuk semua," kata Hanif.

Kerangka kerja K3 yang kuat di kawasan ASEAN, kata Hanif akan memberikan landasan yang kuat dalam mendukung tujuan Masyarakat Sosio-Kultural ASEAN untuk mengangkat kualitas hidup masyarakatnya dengan menempatkan kesejahteraan mereka sebagai prioritasnya.

Dalam kunjungan kerja ke Singapura ini, Menteri Hanif juga diagendakan akan melakukan kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura untuk meninjau pelatihan TKI yang diselenggarakan KBRI Singapura 

Selain itu, Menteri Hanif diagendakan juga melakukan pertemuan bilateral dalam acara jamuan makan malam dengan Menteri Tenaga Kerja Singapura dan melakukan kunjungan ke "Workforce" Singapura. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 30 Juli 2010

PMII: Cegah Hoax Mulai dari Diri Sendiri

Jepara, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jepara, Jawa Tengah merasa prihatin dengan ancaman hoax (berita bohong) yang kian mewabah. Sehingga pihaknya memberikan sikap atas ancaman itu.?

PMII: Cegah Hoax Mulai dari Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Cegah Hoax Mulai dari Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Cegah Hoax Mulai dari Diri Sendiri

Sikap itu Erkham Sobri sampaikan saat menyampaikan sambutan dalam Talkshow Turn Back Hoax yang diadakan PMII Ratu Shima Unisnu Jepara bertempat di gedung MWCNU Tahunan, Kompleks Kampus Unisnu Jepara, Sabtu (15/4).?

Menurut Ketua PMII Cabang Jepara cara mencegah berita hoax harus dimulai dari diri sendiri. “Bahaya hoax harus dihindari sedini mungkin,” ujar Erkham.?

Sebab kata dia di era milenial ini usia balita pun sudah dihadapkan dengan teknologi. Karena itu, sepulang dari kegiatan itu, ia berharap kepada peserta untuk menebar efek positif kepada masyarakat luas untuk tidak menyebar hoax.

“1 kali Anda menyebar berita hoax dan isinya propaganda efeknya sangat berbahaya sekali,” tegas Erkham.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kesempatan itu pihak PMII mengundang 2 narasumber. Arif Darmawan yang diberi kesempatan sebagai pembicara awal mengemukakan bahwa media sosial (medsos) ibarat pedang bermata dua.?

Di satu sisi kata Kabid Kominfo Diskominfo Jepara dengan medsos diberikan kemudahan untuk mengakses. Di sisi yang lain adalah 1 ancaman.?

Satu ancaman itu sebut Arif ialah hoax. Berita bohong itu lanjutnya sering dijumpai saat-saat Pilkada utamanya hate speech (ujaran kebencian). Karenanya, pertama, kepada mahasiswa ia meminta untuk kritis. Kedua, tabayun atau kroscek.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sekalipun hoax yang telah tersebar mengutip ayat alquran, ia meminta untuk tabayyun khususnya kepada orang yang lebih tahu.?

Hal lain dikemukakan M. Abdullah Badri. Sekretaris PC LTNNU Jepara itu mengingatkan membuat dan menyebar berita hoax tanggung jawabnya di dunia juga di akhirat.?

Dalam menghadapi ancaman hoax, senada dengan Arif yakni mencari pembenaran, hoax tegas Badri mesti dilawan. Berita di lawan berita. Status juga dilawan status dan seterusnya. Menurutnya hal itu merupakan solusi yang efektif. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh, Nahdlatul Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 12 Juni 2010

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Perkembangan fashion pakaian sangat beragam. Berbagai gaya pakaian didesain untuk menambah keelokan paras dan menambah pesona. Pilihan busana juga kian beragam, termasuk model kerudung penutup kepala.

Dewasa ini, khususnya di Indonesia, mulai ada pembedaan istilah tentang penyebutan kerudung penutup kepala. Dua sebutan yang banyak disebut adalah hijab dan jilbab. Hijab biasa disebutkan untuk kerudung yang dihias dan dikenakan dengan variasi sedemikian rupa, sesuai selera dan kepantasan. Sedangkan jilbab, adalah kerudung pada umumnya, baik model praktis yang langsung dikenakan, kerudung paris yang jamak di kalangan ibu-ibu, sampai model terbaru yang disebut sebagai jilbab syar’i, yang panjang menjulur menutupi bagian dada, sampai menutupi bagian perut bahkan hingga lutut.

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Perbedaan Istilah Jilbab dan Hijab dalam Syariat

Preferensi dan kepantasan berkerudung, tentu adalah pilihan. Namun patut diketahui, bagaimana kita mendudukkan istilah penutup kepala yang ada dalam Islam?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Setidaknya masalah ini berkaitan erat dengan ayat-ayat Al Quran yang memuat dua istilah hijab dan jilbab. Utamanya terkait dengan perintah Allah kepada para istri-istri Nabi untuk tidak berinteraksi secara terbuka kepada lawan jenisnya. Hendaknya hal tersebut dilakukan di balik hijab.

Seorang sastrawan Arab bernama Ibnul Manzhur menyebutkan dalam kitabnya Lisanul Arab tentang makna hijab. Hijab bermakna As-Sitr, yang bermakna tutup. Ia bisa diartikan tirai, penghalang, dan sebagainya.

Bagaimana dengan masalah penghalang untuk lawan jenis? Hal ini terjadi pada pemaknaan surat Al-Ahzab ayat 53 yang memerintahkan istri Rasulullah untuk tidak berbicara kepada selain mahram kecuali dengan menggunakan tirai penghalang terhadap kontak langsung, atau dengan menutup wajah mereka.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

...? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “...Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka...”

Ayat ini disebutkan terkait dengan masalah terkait etika ketika bersama istri-istri Nabi. Karena itu, hijab di atas ini bermakna penutup kontak langsung, bukan terkait pakaian. Sedangkan bagaimana dengan jilbab? Jilbab disebutkan sekali dalam Al-Qur’an, dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Penyebutannya dalam bentuk plural, yaitu jalabîb.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai Nabi, katakanlah terhadap istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang-orang yang beriman (agar) mereka mengulurkan jalaabib mereka. Demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak disakiti. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Imam As-Suyuthi dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul menyebutkan bahwa penyebab turunnya ayat di atas adalah suatu ketika, istri Nabi keluar karena suatu keperluan. Dahulu menggunakan kain penutup kepala belum begitu populer. Kemudian ternyata ada sekelompok orang nakal yang mengganggu mereka.

Mereka yang digoda itu mengadu ke Rasulullah. Melalui turunnya ayat ini, maka mereka diperintahkan untuk menutupi kepala hingga dada agar mudah dikenal, serta terhindar dari gangguan laki-laki yang nakal. Selain itu, perempuan yang merdeka ditandai dengan jilbab, sedangkan budak perempuan dengan kepala terbuka. Demikianlah asbabun nuzul dan konteks turunnya ayat tentang jilbab.

Maka dari paparan di atas, setidaknya dalam Islam istilah yang muncul untuk busana penutup kepala perempuan adalah jilbab dibanding hijab, meskipun dalam perkembangannya dua kata tersebut sama-sama digunakan. Jilbab digunakan dalam masalah ajaran Islam, sedangkan istilah hijab bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Perbedaan tersebut, asalnya bukan dibedakan berdasarkan model pakaiannya. Yang terpenting dari cara berpakaian, busana yang sopan tentu akan tampak menawan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 31 Mei 2010

PMII Cianjur Seimbangkan Intelektual dan Spiritual

Cianjur, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kabupaten Cianjur menggelar Sekolah Aswaja di villa Widuri Indah, Pacet, Cianjur, Jawa Barat, dari Kamis (7/11) sampai Ahad (10/11).

PMII Cianjur Seimbangkan Intelektual dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Cianjur Seimbangkan Intelektual dan Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Cianjur Seimbangkan Intelektual dan Spiritual

Menurut Ketua PC PMII Kabupaten Cianjur Obay Mukhtasor, kegiatan rutin tahunan ini sebagai kadesisasi PMII Cianjur untuk menekankan nilai-nilai keagamaan berbasis kultural. “Menyeimbangkan antara gerakan intelektual dengan gerakan spiritual,” kata Obay melalui pers rilis, Ahad (10/11).

Sekolah Aswaja ini, tambah Obay, untuk memperkuat proses ideologisasi Ahlussunnah wal Jamaah terhadap kader-kader PMII, memahami betul perbandingan ideologi-ideologi Islam lainnya. “Out putnya menyiapkan kader-kader ideologis yang mapan dalam pemahaman Aswaja.”

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Obay, kegiatan ini dilakukkan PMII cianjur karena hampir 90% kader dan anggota adalah alumni-alumni pesantren dan berlatar belakang NU.

Kegiatan yang diikuti 50 aktivis PMII tersebut dibuka Wakil Bupati Cianjur Dr.H.suranto, M,M. Pada pembukaan, ia mengapresiasi terhadap PMII yang masih konsen melakukan kajian-kajian keislaman. “Sekolah Aswaja sangat baik dalam pembentukan karakter anak bangsa berakhlakul karimah,” ujarnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sehinga, tambah Suranto, ketika suatu saat anak-anak PMII aktif di dunia politik pun, akan menjadi politisi yang baik yang menghargai betul persoalan etika sosial.

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama H. Pipin S Arifin yang mewakili PCNU mengatakan, Sekolah Aswaja ini penting untuk terus diselenggarakan. Karena Aswaja adalah basis nilai yang sangat penting dalam dinamika gerakan NU.

Selain itu, kata mantan aktivis PMII Cianjur ini, generasi muda NU harus bisa menyeimbangkan pola gerakan dalam keseharian dengan nilai-nilai yang ada di Aswaja. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Daerah, Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 15 April 2010

Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah

Sumenep, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan batin (gerbat) menjadi tradisi turun temurun dalam memperingati tahun baru Islam di Desa Campor Timur, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Hal itu masih mengemuka pada Ahad (2/10) malam.

Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sumenep, Ahmad Daniyal, terlibat aktif dalam acara tersebut. Dia menegaskan, gerbat diwarnai dengan parnyoonan (doa bersama) demi kebaikan masyarakat desa setempat dan umat Islam secara umum.

Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Ini Tradisikan Gerbat di Tahun Baru Hijriah

"Setelah bertawassul dan berpanyoonan, kami membaca Alquran. Kami mengaji Surat Yaasin sebanhak 41 kali. Sudah itu dilanjutkan pembacaan tahlil bersama kemudian doa," terang Dadang, panggilan akrab Ahmad Daniyal.

Menurut mantan Ketua Umum PMII Komisariat Guluk-Guluk tersebut, kebiasaan ini sudah berjalan tahunan silam di masyarakat dengan mengundang sanak saudara terutama dari silsilah Bani Patimangon yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Hidangan tawai menjadi ciri khas dalam acara peringatan tahun baru hijriyah 1438 H. Ini sebagai wujud betapa tahun baru ini mesti dilecuti kesederhanaan dan kematangan dalam menjalani hisup," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan, Anti Hoax, Budaya Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 18 Maret 2010

Bidik Anggota Baru, IPNU-IPPNU Politeknik Negeri Jember Buka Bimbingan Ujian Masuk Kampus

Jember, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Banyak cara untuk memperkenalkan sebuah organisasi ekstra kampus terhadap calon mahasiswa baru, misalnya dengan memasang spanduk ucapan "selamat datang mahasiswa baru" di sejumlah titik strategis di sekitar kampus, yang logo organisasinya dicantumkan di sudut spanduk. Ada juga yang bunyi spanduknya terang-terangan langsung mengajak calon mahasiswa baru untuk bergabung dengan organisasi tertentu.

Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) ? IPNU-IPPNU Politeknik Negeri Jember (Polije) mempunyai cara tersendiri untuk menggaet calon anggota (mahasiwa baru), yaitu dengan menggelar bimbingan ujian masuk Polije. Bimbingan tersebut digelar, Rabu (17/5) di Pesantren Nurul Hidayah, Tegalgede, Jember. "Kami ingin memperkenalkan lebih dalam tentang IPNU-IPPNU kepada calon mahasiswa baru Polije, yang datang dari berbagai daerah," tukas Ketua panitia bimbingan, M Syahrul.

Menurut Syahrul, pihaknya memang ingin memperkenalkan IPNU-IPPNU di kampus Polije secara optimal. Hal tersebut juga untuk mengantisipasi masuknya aliran radikal yang coba menyusupkan ideologinya lewat personal-personal mahasiswa. ? Sebab, mahasiswa baru secara umum masih sangat rawan ? terhadap bujuk rayu dan propaganda gerakan radikal. "Itu harus kita antisipasi, dengan memperbanyak anggota dan kegiatan di kampus," lanjutnya.

Bidik Anggota Baru, IPNU-IPPNU Politeknik Negeri Jember Buka Bimbingan Ujian Masuk Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Bidik Anggota Baru, IPNU-IPPNU Politeknik Negeri Jember Buka Bimbingan Ujian Masuk Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Bidik Anggota Baru, IPNU-IPPNU Politeknik Negeri Jember Buka Bimbingan Ujian Masuk Kampus

Bimbingan ujian masuk Polije mendapat respon yang positif dari calon mahasiswa. Setidaknya ada 55 calon mahasiswa Polije yang ikut bimbingan tersebut. Satu diantaraya adalah peserta non muslim. Mereka berasal dari Nganjuk, Kediri, Banyuwangi, Lumajang dan Jember sendiri.?

Dalam bimbingan tersebut, mereka dididik untuk persiapan mengikuti tes tulis ujian masuk Polije. Instrukturnya terdiri dari para senior IPNU-IPPNU Polije, seperti Niko Oktarian (Fisika), Munir (Bahasa Inggris) dan Herra (Bahasa Indonesia). Sebelum acara juga disampaikan pengenalan IPNU-IPNU dan faham Aswaja. Acara ditutup dengan pengenalan wawasan kampus Polije yang disampaikan oleh Humas Polije, Mahsus Nurmanto. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 12 Maret 2010

PCNU Ngawi Genjot Gerakan Wakaf

Ngawi,? Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Ngawi tak henti-hentinya menggenjot realisasi pembangunan masjid dan kantor, serta gedung terpadu NU. Pada Jumat (22/4) kemarin, Ketua PCNU Ngawi, KH Achmad Ulinnuha Rozy, melakukan konsolidasi pembangunan yang masih membutuhkan tanah wakaf 1250 m2. “Barusan seluruh panitia dan perwakilan Banom habis rapat mensiasati kekurangan areal bangunan,” ? jelas Pengasuh Pesantren Temulus ini saat ditemui di kantor lama, Jl A. Yani, Ngawi.





PCNU Ngawi Genjot Gerakan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Ngawi Genjot Gerakan Wakaf (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Ngawi Genjot Gerakan Wakaf

Kiai Ulin, begitu biasa disapa, membeberkan strategi dalam mensukseskan kekurangan lahan tersebut. “Kalau tahun 2015 sukses 3120 m2 wakaf tanah, awal 2016 pengurukan, nah Insyaallah kekurangan waqaf kali ini mudah-mudahan juga mengikuti kesuksesan sebelumnya. Demi memaksimalkan usaha tersebut, ada peningkatan strategi lebih sehingga nantinya tim akan langsung turba (turun ke bawah) dengan para banom-banom,” jelas kiai asal Demak ini.

Pada gerakan wakaf sebelumnya, pihak NU menggunakan jalur struktural dari cabang hingga ranting ataupun sebagian jalur perseorangan, itupun melalui alat telekomuniksi, dan turba merupakan alternatif tambahan. Agar potensi seluruh jamaah Nahdliyah semakin maksimal, dan peran serta para punggawa NU dan Banom juga tidak tersia-siakan, maka pada gerakan wakaf sekarang ini seluruh cara akan ditempuh.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Meskipun berliku-liku, Alhamdulillah? sampai detik ini pembangunan telah selesei pada wilayah pengurukan, pembuatan sumur, dan direksi keet, dan semoga dalam 3 tahun ke depan bisa terealisasi,” pungkasnya.

Kali ini, tim panitia menggunakan mekanisme wakaf Rp350.000 per–m2. Dengan maksud agar warga NU, pengusaha, ataupun pejabat bisa bergabung dan berpartisipasi dengan cara membeli tanah dimulai dengan harga 350.000 rupiah.(Ali Makhrus/Zunus) ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 06 Maret 2010

Ini di Antara Faidah Berzakat

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Katib Syuriyab PCNU Kabupaten Pringsewu H Munawwir mengingatkan akan pentingnya berzakat, berinfaq atau bershodaqoh untuk membersihkan jiwa dan harta yang dimiliki.

"Tidak ada ceritanya orang berzakat bangkrut," tegasnya didepan Jamaah Ngaji Ahad Sore (Jihad Sore) yang memenuhi Aula lantai Dasar Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Ahad (19/6).

Ini di Antara Faidah Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini di Antara Faidah Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini di Antara Faidah Berzakat

Menurut Ustadz muda ini yang ada banyak orang yang tidak menunaikan zakat mengalami kerugian yang tidak terfikirkan sebelumnya dan kadang tidak masuk akal dalam hitung-hitungan matematika.?

Hal ini ia berikan contoh ketika zaman Rasul ada kebun kurma yang tetap berbuah walaupun dimusim kemarau sementara kebun yang lain mengalami gagal panen.

"Setelah diketahui ternyata pemilik kebun tersebut adalah orang yang selalu berzakat dari hasil panen kurma yang didapat," katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Gus Nawir menyatakan bahwa selain untuk membersihkan harta dan jiwa, zakat akan mendatangkan manfaat untuk memperingan hisab terhadap penggunaan harta yang di miliki. "Sekecil apapun yang kita miliki akan ada pertanggungjawaban terhadap harta kita," ingatnya

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia meyakinkan bahwa harta yang dikeluarkan untuk membayar zakat infaq shadaqah yang dikeluarkan tidak akan mengurangi harta yang dimiliki. "Hakikat memberi adalah menerima. Dengan infaq, harta kita tidak akan berkurang malah akan bertambah," katanya.

Jika kita tidak mengeluarkan zakat untuk harta kita didunia, lanjutnya maka harta tersebut akan dikembalikan dalam bentuk api yang akam menyiksa diri kita sendiri. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ahlussunnah, Aswaja, Pondok Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 02 Februari 2010

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam!

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Mari Kian Bersahabat dengan Alam!

? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tahun 2015 lalu Indonesia diresahkan dengan bencana kabut asap yang luar biasa akibat kebakaran hutan. Kabakaran yang terjadi di 12 provinsi itu mengkibatkan kerugian yang sangat besar, tak hanya dari segi materi tapi juga kerusakan lingkungan dan menurunnya mutu kesehatan masyarakat bahkan hingga memakan korban jiwa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kebakaran hutan sepanjang Juni-Oktober 2015 memicu perlambatan ekonomi daerah terdampak, menghanguskan sedikitnya 2,6 juta hektare lahan atau setara 4,5 kali Pulau Bali, serta menimbulkan kerugian hingga Rp 221 triliun. Belum lagi puluhan ribu orang di kawasan terparah seperti Pulau Sumatera dan Kalimantan yang menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena terpapar asap.

Bencana kekeringan juga tak kalah menyedihkan. Akibat fenomena alam el-nino, pertengahan tahun lalu, hujan tak kunjung turun ke bumi Indonesia. Kekeringan menambah penderitaan para petani, dan kekurangan air bersih melanda di mana-mana. Kondisi kian parah ketika kawasan hijau yang diandalkan ternyata sudah gundul dan kehilangan fungsinya. Saat musim hujan tiba, tragedi pun berganti dengan bencana banjir. Berita tentang rumah rusak, korban luka-luka hingga meninggal dunia, akibat banjir bandang dan longsor ramai di media massa. Seolah alam sedang menunjukkan kemarahannya kepada manusia.

Hadirin jamaah Shalat Jum’at hadâkumullâh,

Tentu ini bukan salah alam. Karena alam bergerak atas dasar sunnatullah (hukumnya) sendiri. Allah dalam Al-Qur’an Surat ar-Rum ayat 41 mengingatkan,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Ayat ini dengan terang mengungkapkan bahwa di balik kerusakan yang di bumi maupun di laut ada ulah manusia sebagai penyebabnya. Bencana alam tidak datang tiba-tiba, melainkan melalui faktor, yakni sifat dan perilaku manusia.

Mengapa bencana asap luar biasa terjadi? Kebakaran terjadi karena masifnya alih fungsi di lahan yang sangat mudah terbakar. Pemicu kebakaran tersebut adalah karena keringnya lahan gambut setelah alih fungsi lahan. Dalam proses alih fungsi, lahan gambut itu selalu disertai pengeringan lewat pembuatan kanal-kanal. Dan itu ulah manusia.

Mengapa bencana kekeringan dan banjir selalu terjadi? Karena sumber daya alam yang mencegah itu semua telah dirusak. Praktik penebangan pohon yang membabi buta, pembuangan sampah yang sembarangan, dan abai terhadap pentingnya aksi penghijauan, adalah di antara sumber masalah yang patut diperhatikan. Dan pelakunya pun tak lain adalah manusia.

Hadirin jamaah Shalat Jum’at as‘adakumullah,

Ramadhan sebagai bulan untuk kian mendekatkan diri kepada Allah adalah momentum tepat untuk merenungi dua ajaran dasar dalam Islam. Pertama, Allah adalah rabbul ‘âlamîn atau Allah adalah tuhan seluruh alam. Artinya, hamba Allah bukan hanya manusia, melainkan seluruh makhluk lain: binatang, tumbuhan, gunung, tanah, udara, laut, dan lain sebagainya. Dalam konteks hubungan antara khaliq dan makhluq, manusia sama dengan ciptaan-ciptaan lain.

Ajaran yang kedua adalah rahmatan lil ‘alamin atau menebar kasih sayang kepada seluruh alam, sebagai misi utama ajaran Islam. Manusia tak hanya dituntut berbuat baik dengan manusia lainnya tapi juga makhluk lainnya. Itulah mengapa saat perang Badar yang peristiwanya tepat pada bulan Ramadhan, Rasulullah melarang pasukan Muslim merusak pohon dan membunuh binatang sembarangan. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam sangat menyayangi alam.

Dengan menyadari dua ajaran dasar tersebut (Allah rabbul ‘âlamîn dan misi Islam rahmatan lil ‘âlamîn), dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia dan alam memiliki hubungan integral dan timbal balik. Manusia memang diberi kelebihan untuk bisa memanfaatkan alam tapi ia sekaligus berkewajiban pula melestarikan dan melindunginya. Saat alam hanya diposisikan sebagai objek yang dimanfaatkan, maka eksploitasilah yang akan muncul. Eksploitasi yang timbul dari sifat serakah akan berdampak pada kerusakan dan ujungnya adalah bencana alam. Sebaliknya, bila manusia bersahabat dan berbuat baik terhadap alam, maka alam pun mendatangkan maslahat bagi dirinya.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Wahai para penyayang yang semoga Sang Maha Penyayang menyayangi kalian, sayangilah semua yang ada di bumi, maka semua yang ada di langit akan menyayangimu.

Demikian, semoga di bulan Ramadhan ini kita sanggup meningkatkan kualitas diri kita untuk menjadi manusia yang akram (lebih bertakwa kepada Allah SWT) dan shâlih, yakni yang mampu mewarisi bumi ini dalam arti luas, mengelola, memanfaatkan, menyeimbangkan dan melestarikan dengan tujuan akhirnya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (sa’adatud darain).

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Alif Budi Luhur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Olahraga, Doa, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 01 Januari 2010

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim

Pasuruan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur bekerja sama dengan Sharia Business Consulting (SBC) Sidogiri mengadakan pelatihan Pendirian dan Pengelolaan BMT di Gedung SBC Sidogiri Kota Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (28/05).

Dalam sambutannaya Ilham Wahyudi, Direktur SBC Sidogiri berharap kegiatan ini bisa meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader GP Ansor untuk mengelola dan mengembangkan koperasi berbasis syariah.

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Siapkan Pendirian BMT Se-Jatim

"Ansor hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan solusi keuangan anggota dengan menumbuhkan koperasi syariah, pelatihan ini tidak hanya sekadar sharing seputar mendirikan saja, melainkan bagaimana mengelola secara istiqamah, amanah, dan Profesional nantinya," kata pengurus PP GP Ansor ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

GP Ansor di semua tingkatan diharapkan mampu mengembangkan ekonomi Islam melalui Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS). SBC Sidogiri siap membantu dalam pelatihan dan pendampingan.

"Jumlah peserta pelatihan sebanyak 60 kader perwakilan dari PC GP Ansor se-Jatim diharapkan benar-benar bisa merealisasikan ilmu dan pengalaman di tengah-tengah masyarakat dan jangan hanya sekadar mengikuti pelatihan saja," kata Syukron Dosi, pengurus PW Ansor Jatim.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

GP Ansor Jatim mempunyai misi meneruskan sejarah Nahdlatut Tujjar dan jaringan keuangan Islam yang telah diwariskan para pendiri Nahdlatul Ulama supaya perekonomian umat makin mandiri, kuat dan besar. "Hingga, manfaatnya dirasakan oleh umat manusia." Harap Syukron.

Adapun pemateri pelatihan seluruhnya dari BMT UGT Sidogiri Pasuruan, antara lain KH Mahmud Ali Zein, Ketua Pengurus BMT UGT Sidogiri dan beberapa Direksi BMT UGT yang lain. Pelatihan ini adalah langkah awal dari jalinan kerja sama antara GP Ansor Jatim dengan BMT Sidogiri Pasuruan, sebagai bentuk upaya Ansor untuk mendayagunakan LKMS GP Ansor bagi anggota dan masyarakat, khususnya yang bergerak di sektor riil dan keuangan. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Amalan, Tokoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan