Jumat, 27 Mei 2016

Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar Upaya Lahir dan Batin Muslimat NU

Bogor, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ketua Periodik Pimpinan Pusat Muslimat NU Hj Sri Mulyati mengungkapkan berbagai pelatihan yang dikemas melalui Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar sekilas hanya peningkatan usaha lahir, padahal sesungguhnya pelatihan tersebut juga mengandung makna sebagai usaha batin.

Demikian disampaikannya saat memberikan pengarahan pada kegiatan Pusat Pembelajaran Peyalanan Sosial Dasar di Pondok Pesantren Sunanul Huda, Desa Kalong 1, Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat, Senin (7/8).

Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar Upaya Lahir dan Batin Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar Upaya Lahir dan Batin Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pusat Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar Upaya Lahir dan Batin Muslimat NU

“Pengetahuan tentang gizi keluarga sangatlah penting karena terkait dengan perbaikan kesehatan. Demikian juga pengetahuan PAUD karena guru-guru PAUD mendidik anak-anak yang masih dalam usia keemasan (golden age),” urainya.

Usia emas tersebut, sambung Sri Mulyati, memerlukan perhatian seksama dari orangtua, keluarga, pendidik, tokoh masyarakat dan semua unsur bangsa. Karenanya Indonesia saat ini memiliki perhatian yang besar terhadap PAUD.

?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Masa ini (usia emas) tidak akan terulang, karena itu pelatihan penting juga untuk mengenalkan kepada guru-guru PAUD berbagai motivasi anak karena kecerdasan mereka bervariasi,” ujar Doktor lulusan McGill University Montreal Kanada ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selain kedua bidang itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan peningkatan kapasitas kelembagaan melalui kursus terkait keorganisasian. Hal itu sangat penting misalnya untuk mencari pemimpin yang efektif.

Selanjutnya kewirausahaan. Dalam hal ini kewirausahaan yang dikenalkan adalah berbasis kearifan lokal. Menurut Hajah Mulyati kekhasan dan kearifan lokal harus tetap dijaga seperti termuat dalam Mars Muslimat NU yang menjunjung tinggi NKRI, menjaga Pancasila, dan dalam mengamalkan Islam berlandaskan Al-Quran, ijma, qiyas. Hal tersebut juga sesuai dengan harapan majunya Indonesia.

Dosen UNU Indonesia (Unusia) Jakarta ini juga menegaskan kegiatan tersebut harus diniatkan dengan keikhlasan sebagai amal jariah bersama untuk peningkatan kesejahteraan bagi ibu-ibu Muslimat NU dan rakyat Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nahdlatul Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 20 Mei 2016

LKKNU: Tingkatkan Keluarga Sakinah menjadi Maslahah

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Saat meyampaikan doa pernikahan, seorang pasangan selalu didoakah untuk menjadi sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Tetapi apakah hal tersebut cukup. Menurut Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKKNU) Bekasi, Hj Badriah, ternyata hal tersebut belum mencukupi. Pada level selanjutnya, keluarga tersebut harus menjadi keluarga maslahah.

Lalu apa bedanya antara keluarga sakinah dan keluarga maslahah. Pada keluarga sakinah, kebahagiaan hanya pada level keluarga saja, sedangkan keluarga maslahah adalah keluarga tersebut selain beramaliah kepada keluarganya juga beramaliah kepada masyarakat.

LKKNU: Tingkatkan Keluarga Sakinah menjadi Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)
LKKNU: Tingkatkan Keluarga Sakinah menjadi Maslahah (Sumber Gambar : Nu Online)

LKKNU: Tingkatkan Keluarga Sakinah menjadi Maslahah

Hal tersebut disampaikan oleh Badriyah dalam pembukaan Workshop Perencanaan ? Keuangan Keluarga LKK PBNU –PT Pegadaian di Pesantren Mahasina Bekasi, Ahad (13/11)?

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Mahasina KH Abu Bakar MA ? mengajak para peserta bisa untuk mengimplemantasikan ilmu yang didapat selama pelatihan ini sehingga bisa lebih meningkatkan kondisi ekonomi. “Wajahidu biamwaalikum waanfusikum.? (Berjihadlah dengan harta dan jiwa),” kata Kiai Abu Bakar.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Workshop diikuti oleh 60 peserta yang terdiri dari ? utusan banom dan lembaga NU di Kota Bekasi ? dan sekitarnya

Hal menarik adalah dalam workshop ini setelah peserta membuka Tabungan Emas, mereka melakukan transaksi pembelian Tabungan Emas sebesar 40 juta rupiah atau setara 80 gram emas atau rata-rata peserta menabung 1.33 gram.?

Ramainya transaksi dalam workshop tersebut menandakan bahwa potensi warga NU dalam menggunakan instrumen investasi Tabungan Emas cukup besar. Red: Mukafi Niam

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan IMNU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 06 Mei 2016

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pimpinan Wilayah GP Ansor dan Banser NTT turut berpartisipasi dalam Pawai Paskah 2016, Senin (28/3). Satu pleton Banser diturunkan guna mengamanakan situasi pengamanan Paskah bersama Polisi maupun TNI. GP Ansor NTT dan GP Ansor Kota Kupang menurunkan satu unit mobil rombongan pawai paskah.

Demikian disampaikan Sekretaris PW Ansor NTT Ajhar Jowe di Kupang.

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor dan Banser NTT Kawal Pawai Paskah 2016

"PW Ansor dan Banser NTT ikut mengamankan Pawai Paskah demi menjaga keberlangsungan situasi Paskah serta menjaga keberagamaan umat beragama di NTT, pada momen hari-hari besar keagamaan," kata Ajhar.

Pihaknya sementara ini melakukan persiapan partisipasi pawai paskah bersama rombongan menuju lokasi pawai di Jalan Eltari Kupang, Depan Rumah Jabatan Gubenrur NTT.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pawai Paskah, kata Ajhar bagian dari agenda rutin tahunan GP Ansor NTT sebagai pengamanan hari besar keagamaan. Partsipasi dari GP Ansor beserta Banser dilakukan bukan saja momen hari besar agama Kristiani tetapi seluruh umat beragama yang ada di NTT.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari pantauan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, sejumlah pihak tengah mempersiapkan pawai paskah. Seluruh jajaran terkait menghiasi berbagai kendaraan dengan tema Paskah. Terlihat sepanjang jalan WJ Lalamentik, berbagai kendaraan tronton besar menuju lokasi pawai dengan berbagai hiasan menarik. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Humor Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Senin, 02 Mei 2016

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Alhamdulillah, di kampungku setiap malam likuran, yakni tanggal ganjil di 10 hari terakhir bulan puasa Ramadhan selalu ada kegiatan membaca shalawat bersama. Kegiatan rutin ni dilakukan bergiliran antarmushala dan masjid. Budaya ini sepengetahuanku sudah berjalan puluhan tahun.

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Petasan dan Baca Shalawat di Malam Ganjil Bulan Ramadhan

Kebetulan di kampungku ada sebanyak 9 mushala dan satu masjid. Dulu waktu aku masih kecil, awalnya ada 4 mushala dan satu masjid. Hampir seluruh anak anak remaja, dewasa dan juga orang dewasa ikut kegiatan pembacaan shalaawat di malam ganjil. Mulai malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 dan puncaknya malam 29 di Masjid Al Hasan Balongombo Tembelang.

Karena perkembangan, kini mushala bertambah hingga 9 bangunan. Meski bertambah kegiatan baca shalawat tetap berjalan. Di akhir pembacaan shalawat, ambengan makan nasi tumpeng yang dibuat oleh warga jamaah sekitar mushala selalu menyertai kegaiatan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dan tidak ketinggalan petasan juga selalu mewarnai saat pembacaan shalawat pada tahab srakal, ketika jamaah membaca shalawat dengan berdiri. "Mahalul Qiyam. Bunyi petasan bersahutan. Setiap rombongan remaja dari mushala-mushala selalu bersaing membawa petasan untuk ditampilkan. Hal itu berjalan sebelum ada larangan dari pihak berwajib.

Petasan asli produk Jombang sudah menjadi tradisi mewarnai bulan puasa, biasa dibunyikan saat berbuka, atau saat waktu sahur. Dan paling sering dan paling banyak dibunyikan saat malam ganjil pas menggelar shalawatan. Serta usai menggelar shalat Id yang digelar di masjid setempat.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mereka membuat sendiri petasan tersebut. Bahkan tidak jarang remaja mushala yang ditempati membuat petasan dengan jumlah hingga ratusan. Puas, bangga jika melihat halaman mushala dan masjid penuh dengan percihan kertas.

Dengan pembacaan shawat, dan tradisi membunyikan petasan suasana bulan puasa dan hari Idul Fitri semakin terlihat. Dan masayrakat yang kebetulan pulang kampung bisa menikmati dan bernostalgia masa kecil saat di kampung halaman. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan PonPes, Nahdlatul Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan