Rabu, 28 Februari 2018

Jihad ala Banser di Musim Mudik Lebaran

Oleh Aziz Ian

Kata jihad cukup terkenal di negara-negara Islam temasuk di Indonesia, bahkan tidaklah salah jika kita mengatakan bahwa jihad adalah salah satu prinsip dasar ajaran Islam. Namun sayangnya, kata Jihad ini sering kali direduksi esensi maknanya atau digunakan bukan pada tempatnya.

Jihad ala Banser di Musim Mudik Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad ala Banser di Musim Mudik Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad ala Banser di Musim Mudik Lebaran

Kata jihad sendiri di ambil dari Bahasa Arab: jahd, yang memiliki arti? kesulitan, kesukaran atau juhud, artinya kemampuan. Kedua makna tersebut mengisyaratkan bahwa jihad yang sebenarnya tidaklah mudah, karena harus bisa menjadikan sang mujahid berhadapan dengan aneka kesulitan dan kesukaran. Sang Mujahid juga dituntut untuk tidak berhenti sebelum kemampuannya berakhir atau cita-citanya terpenuhi. Itu sebabnya dalam perjuangan merebut kemerdekaan, para mujahid (baca: pejuang) bangsa kita berteriak, "Merdeka atau mati."

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Merujuk pada sumber-sumber ajaran Islam baik dari Al-Quran maupun Sunnah Nabi SAW, ditemukan aneka ragam varian jihad bermula dari jihad dengan hati untuk melahirkan atau mengukuhkan tekad, dengan lidah untuk menjelaskan dan membuktikan kebenaran, dengan tenaga, dengan harta, sampai dengan nyawa, demi tegaknya nilai-nilai ajaran Islam:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Siapa yang berjuang demi tegaknya kalimat Allah, maka dia telah menelusuri jalan Allah."

Demikian sabda Nabi saw. Jadi, tujuannya bukan menumpahkan darah, apalagi membunuh, tetapi meninggikan nilai-nilai agama Allah. Perlu dicatat bahwa salah satu dari ajaran agama Allah adalah memberi kebebasan kepada setiap penganut agama atau kepercayaan untuk melaksanakan tuntunan agama atau kepercayaan mereka, sekalipun tuntunan tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Itu yang ditegaskan oleh firman Allah yang pada mulanya ditujukan kepada para kaum musyrik penyembah berhala, "Lakum dînukum wa liya dîn." Memang jika mereka menghalangi kaum Muslimin untuk melaksanakan tuntunan agama, maka sikap mereka harus dihadapi dengan cara apa pun walau sampai tingkat pertempuran.

Atas dasar yang dikemukakan di atas adalah sangat keliru membatasi makna jihad hanya pada peperangan bersenjata. Bukankah Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad SAW. untuk berjihad dengan menggunakan al-Quran ketika beliau masih di Mekkah, dimana kekuatan bersenjata ketika itu belum beliau miliki? Allah berfirman:

? ? ? ? ? ?

Janganlah patuh kepada orang-orang kafir dan berjihadlah menghadapi mereka dengan Al-Quran jihad yang besar (QS. al-Furqân [25]: 52).

Jihad yang dimaksud di sini pasti bukan penggunaan kekerasan, tetapi ia adalah berusaha dengan semua kemampuan membulatkan tekad menghadapi kesulitan serta upaya menjelaskan nilai-nilai agama kepada mereka yang menentangnya.

Bukankah Allah memerintahkan Nabi SAW. untuk berjihad menghadapi orang-orang musyrik dan munafik?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai Muhammad, berjuanglah melawan orang-orang kafir yang menyatakan kekafirannya dan orang-orang munafik yang menyembunyikan hakikat mereka dengan segala kekuatan dan bukti yang kamu miliki. Bersikap keraslah dalam berjuang melawan kedua kelompok tersebut. Tempat tinggal mereka adalah Jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali adalah tempat mereka. (QS. at-Tahrîm [66]: 9)

Wahai Nabi, berjihadlah menghadapi orang-orang kafir dan orang munafik dan bersikap tegaslah terhadap mereka! Tempat mereka kelak di Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali (QS. at-Tahrîm [66]: 9 dan at-Taubah [9]: 73).

Sejarah menjelaskan bahwa tidak seorang munafik pun yang beliau hukum mati, walaupun pelanggaran beratnya telah berulang kali seperti halnya pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul. Ketika Sayyidina Umar mengusulkan kepada Nabi saw. agar yang bersangkutan dihukum mati, beliau bersabda: "Nanti orang akan berkata bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya." Jika demikian, arti jihad pada ayat di atas pun bukanlah penggunaan senjata atau pertempuran.

Fatwa Resolusi Jihad NU yang dikemukakan oleh Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945, menyerukan perlawanan terhadap Belanda yang hendak kembali menguasai Indonesia setelah sukses mengalahkan Jepang dalam perang dunia II, ini menjadi cikal bakal kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga sampai saat ini.

Oleh karenanya tanpa adanya fatwa resolusi jihad tersebut, niscaya Indonesia saat itu kembali terjajah dan dikuasai.

Sejarah telah mencatat bahwa santri mewakafkan dirinya untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka dengan caranya masing-masing membangun kekuatan untuk melawan penjajah.

Dikeluarkannya fatwa resolusi jihad itu sebelum terjadinya peristiwa perang antara arek Surabaya melawan tentara Inggris tanggal 10 November 1945 yang saat ini ditetapkan sebagai hari pahlawan. Semangat perjuangan mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari usaha para kiai dan santri sebelumnya.

Sangat menarik, karena kata Jihad yang berafiliasi kepada Agama dipakai oleh Hadratussyekh untuk kepentingan Negara. Sehingga makna Jihad menjadi luas, memperjuangkan kemerdekaan dan membela Negara Indonesia dari tangan-tangan penjajah.

Begitu pula, jihad Banser yang bertugas di posko-posko mudik sepanjang jalur perjalanan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Penulis melihat sendiri bagaimana perjuangan para Banser yang ikut dalam mengamankan lajur kendaraan juga menbantu Kepolisian dalam mengatur lalu lintas.

(Baca: 18 Ribu Banser Amankan Arus Mudik Lebaran 2017)



Hampir di sepanjang Pantura Banser ada, dan hampir di setiap posko mudik berdiri satu dua orang Banser yang sesekali melambai-lambaikan tangannya kepada pengendara motor juga mobil. Terlihat sederhana dan biasa saja, namun di hati kecil penulis berpikir bahwa apa yang dilakuka oleh mereka adalah suatu hal yang sangat hebat dan membanggakan. Pasalnya, di saat yang lain ikut memeriahkan hari raya Idul Fitri bersama keluarga besar dan sanak-saudara. Para anggota Banser malah harus berdiri panas-panasan di pinggir jalan dan jika malam dingin-dinginan ikut dalam membantu Pemerintah dalam hal ini Kepolisian mengatur lajur lalu lintas, bahkan ketika penulis melewati Semarang ada Banser sekitar jam 11 malam yang mengangkut seorang pengendara motor yang jatuh ke mobil ambulans yang sudah disiapkan oleh Kepolisian. Hendak turun untuk memotret mereka yang bertugas, namun karena tak mungkin penulis keluar dari bus yang penulis tumpangi. Alhasil, hanya bisa memandangi para “mujahid jalanan” tersebut dari dalam bus, berdecak kagum. Tanpa lelah para anggota Banser turun ke jalan, mengatur rambu lalu-lintas, bahkan tak jarang ikut aktif dalam kecelakaan-kecelakaan yang terjadi di sekitar posko mudik mereka.

Oh iya, tanpa bayaran. Yah, mereka tanpa bayaran sepeser pun. Hanya niat membantu Kepolisian, hanya niat mengabdi kepada Negara, hanya niat menolong sesama. Mereka adalah mujahid-mujahid di zaman modern yang akan selalu menyebarkan semangat positif, akan terus teregenerasi hingga yaumul qiyamah.

Mereka mujahid. Ya, mereka Mujahid yang sesungguhnya. Bukan yang hanya berani teriak jihad maupun yang hanya bisa mengadakan seminar-seminar tentang jihad apalagi mengumpulkan donasi dari masyarakat yang katanya untuk para mujahid. Tanpa teriak, mereka sudah melakukan aksi jihad yang tak semua orang bisa berkorban waktu, tenaga, pikiran bahkan yang untuk melakukan apa yang sudah mereka kerjakan selama menjaga posko mudik Idul Fitri.

Penulis adalah kader GP Ansor Kabupaten Bogor



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Ketua Front Amal Islam Lebanon Syekh Zuhair Al-Junaid mengatakan, saat ini umat Islam menghadapi tantangan yang sangat berat, yaitu tumbuhnya gerakan yang mengkafirkan sesama umat Islam hingga menghalalkan pembunuhan.

“Ini tantangan berat karena bersumber Islam sendiri,” tegasnya saat bersilaturahim ke PBNU yang diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di ruangannya, PBNU, Jakarta, Senin sore (5/9).

Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Lebanon: Tantangan Berat Islam Timbul dari Islam Sendiri

Karena ini persoalan serius, lanjutnya, sehingga kelompok-kelompok yang bervisi untuk perdamaian seperti NU dan Front Amal Islam untuk merapatkan barisan dengan menyebarkan Islam rahmatan lil alamin.

NU dan Front Amal Islam, lanjutnya, memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu sama-sama Islam Ahlussunah wal-Jamaah yang moderat. Semakin intensif bekerja sama, maka akan? semakin cepat untuk mengkampanyekan Islam damai.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kerja sama itu, menurut dia, bisa melalui pembinaan terhadap masjid-masjid di negara masing-masing serta di kawasan Eropa dan Amerika. Pembinaan masjid dengan ajaran Islam rahmatan lil alamin, Islam yang mengajarkan kedamaian. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hadits, Nahdlatul Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 27 Februari 2018

Saatnya Kurikulum Aswaja Direvisi

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kurikulum mata pelajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi madrasah dan sekolah yang bernaung di bawah pembinaan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama sudah saatnya direvisi, mengingat sebagian sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan kondisi yang ada.

Saatnya Kurikulum Aswaja Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Kurikulum Aswaja Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Kurikulum Aswaja Direvisi

Demikian salah satu hasil kesepakatan dalam Silaturrahim Pengurus Wilayah LP Maarif NU Jawa Timur dengan Pengurus Cabang LP Maarif NU se Gerbangkertosusilapas (Gresik, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan dan Pasuruan) yang dibacakan oleh H Fatkhul Anam, koordinator LP Maarif NU Gerbangkertosusilopas di Jombang, Sabtu (5/1).

Lebih lanjut, Anam mengutip salah satu pendapat dari peserta silaturrahim mengatakan, kurikulum Aswaja sudah lebih dari 9 tahun belum mengalami perubahan, padahal kondisi sosial yang terjadi sudah jauh berubah dan berkembang.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misalnya, contoh-contoh yang digunakan sudah jauh berbeda dengan kondisi yang saat ini dialami oleh anak-anak usia sekolah dimana budayanya sudah berbeda.

Acara silaturrahim yang juga dihadiri oleh Sunan Fanani, Sekretaris PW LP Maarif Jawa Timur ini, juga mendiskusikan tentang respon LP Maarif atau Nahdlatul Ulama secara lebih luas terhadap perubahan kurikulum yang akan dijalankan mulai pertengahan 2013 ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslimin Abdilla

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Kiai Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pesantren Mambaul Hikam Blitar, Salaf Hingga Akhir Hayat

Ketika banyak pesantren tergoda untuk mendirikan lembaga pendidikan formal, tidak dengan pesantren ini. Tantangan hidup yang mensyaratkan persaingan dan sejenisnya justru dapat ditaklukkan dengan model pesantren salaf.

Tiga tahun berturut-turut, pesantren ini menjadi tuan rumah kegiatan bahtsul masail dari berbagai tingkatan, termasuk yang diikuti pesantren se-Jawa dan Madura. Letaknya yang lumayan jauh, tidak menyurutkan niat para peserta untuk datang dan bergelut dengan kitab kuning di pesantren ini. Ya, Pondok Pesantren Mambaul Hikam (PPMH) memiliki kharisma dan reputasi seperti pesantren salaf lain di tanah air seperti Sarang, Lirboyo Kediri, Sidogiri Pasuruan dan semacamnya.

Pesantren Mambaul Hikam Blitar, Salaf Hingga Akhir Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Mambaul Hikam Blitar, Salaf Hingga Akhir Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Mambaul Hikam Blitar, Salaf Hingga Akhir Hayat

Letak pesantren berjarak kurang lebih 24 km dari kota Blitar. Lokasinya ada di Dusun Wonorejo Desa Slemanan Kecamatan Udanawu. Luas areanya sekitar 4 ha yang merupakan tanah wakaf dan milik keluarga. Kendati demikian, pesantren salaf ini lebih dikenal dengan sebutan Pondok Mantenan kendati tidak berada di desa tersebut. Mengapa? Ini terjadi lantaran masyarakat Mantenanlah yang banyak berperan kala awal pendirian masjid dan pesantren. Sedangkan masyarakat Slemanan yang kala itu tidak terlampau mengenal Islam, tidak terlampau memberikan apresiasi. Sehingga atas “prestasi “ masyarakat Mantenan ini, maka PPMH lebih lekat dengan sebutan sebagai Pondok Mantenan hingga kini.

Istiqamah dengan Salaf

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ditemui di kediamannya, Pengasuh PPMH KH M Dliya’uddin Azzamzami Zubaidi menandaskan bahwa pesantrennya tetap kukuh dengan sistem salaf seperti warisan pendiri. “Pokoknya, sistem salaf ini akan tetap dipertahankan hingga titik darah penghabisan,” katanya mantap. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Dliya’ –sapaan akrabnya- memiliki keyakinan bahwa model salaf bagi pesantrennya tetap menjadi harapan masyarakat. Hal ini terbukti dengan terus bertambahnya minat masyarakat sekitar dan dari berbagai daerah untuk bertafaqquh fiddin di pesantren ini. Tidak semata masyarakat sekitar yang belajar agama, bahkan tidak sedikit santri yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, Sumatera maupun Jawa. “Ini kian meyakinkan kami, bahwa respon masyarakat ternyata terus positif,” tandas Kiai Dliya’.

Beberapa kiai dan ustadz yang lama mengabdi di pesantren juga mengemukakan hal yang sama. Ustadz Towil As’adi yang telah berada di pesantren sejak tahun 1991 juga merasakan bahwa tidak ada yang berubah dari pondok ini. “Sejak saya di sini sampai sekarang berumah tangga dan mengabdi di pondok, tidak ada yang berubah dari sistem pengajarannya,” tandasnya. 

Sepertinya, salaf menjadi pilihan dan tak akan berubah. Hanya saja, proses belajar mengajar dilakukan secara klasikal dengan membedakan santri sesuai kemampuan yang dimiliki. Pihak pesantren sendiri telah membagi tingkatan materi yang akan dibebankan kepada peserta didik dari MI (6 tahun), MTs, MA (3 tahun), Pasca Aliyah Putri (2 tahun) serta Madrasah Intidhor. 

Hanya saja, madrasah ini menjadikan pengetahuan calon santri sebagai tolok ukur akan diterima di unit dan kelas mana nantinya. “Dengan demikian, bisa jadi lantaran pengetahuan keagamaan calon santri agak tertinggal, maka dia nantinya akan masuk di unit dan kelas yang lebih awal,” kata Ustadz Towil. Demikian juga berlaku sebaliknya, “Siapa yang pengetahuan dan pemahaman dasar agamanya dalam hal ini kitab kuning ternyata sudah lumayan, maka secara otomatis akan masuk di kelas dan unit yang lebih tinggi,” lanjutnya. Dengan demikian, seleksi para calon santri adalah berbasis kemampuan mereka saat awal mendaftar.

Untuk bisa memacu kemampuan menyerap materi yang disampaikan, PPMH menggunakan metode bahtsul masail, pengkajian kitab salaf, sorogan kitab kuning, sorogan bin nadhar dan bil ghaib, dan istima’ul Qur’an. Bahkan untuk mereka yang mengharapkan ijazah, pihak pesantren juga menyelenggarakan Kejar Paket B yang setara dengan SLTP dan C (SLTA). 

Bangunan permanen juga disediakan untuk menampung aktifitas santri, dari mulai lokal madrasah, masjid, asrama, fasilitas harian berupa sanitasi, dapur, aula, hingga gedung olah raga. Semua tersedia di area pesantren yang kini memiliki 2.267 santri (1.395 laki dan 872 putri) ini. Semua tersebar di lembaga pendidikan dari mulai TPA hingga Pasca Aliyah. Ini belum termasuk jamaah yang terhimpun dalam Thariqah an-Naqsabandiyah.

“Di pesantren ini, menerima santri dari mulai anak-anak hingga yang berumur atau udzur,” kata Ustadz Ahmad Bahruddin yang dipercaya sebagai kepala pondok. “Karenanya, sebagian kalangan menyebut ini adalah pesantren sepanjang hayat,” kata Ustadz Salman Dhuhairi. Bagaimana tidak, sejak usia anak-anak hingga menjelang ajal, semua tertampung di PPMH.

Agar mampu memberikan pelayanan terbaik atas kepercayaan masyarakat, setiap harinya PPMH diasuh dan dibimbing oleh pengasuh bersama ibu nyai, dua orang badal dan 89 ustadz atau guru yang 15 orang di antaranya adalah perempuan. Para pendamping santri ini berasal dari berbagai tingkatan lembaga yakni alumnus MI sebanyak 19 orang, 35 orang dari MTs, 16 alumnus MA, dua orang sarjana diploma, seorang S1 dan alumni pesantren sebanyak empat orang.

Kepercayaan  Berbagai Kalangan

Dengan materi dan sistem yang ada yang juga diimbangi memberikan yang terbaik bagi santrinya, alumni PPMH telah mendapatkan kepercayaan dari banyak pihak. Sejumlah pesantren telah menunggu kiprah mereka lantaran dianggap siap pakai. Bahkan kampus negeri seperti STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Kediri, telah memberikan karpet merah untuk mereka. “Dari ijazah yang kita miliki, STAIN Kediri sudah memberikan kesempatan kepada para alumni untuk melanjutkan studi, tanpa harus mengurus kelengkapan administrasi lain,” kata Kiai Dliya’uddin bangga. Bahkan sebelum ada program mu’adalah yang dicanangkan pemerintah, kurikulum di pesantren ini sudah memenuhi standar kuliah. 

“Ya memang ada beberapa mata kuliah yang tidak begitu dipahami para santri, seperti bahasa asing. Karena itu mereka harus berpacu dengan mahasiswa lain,” lanjutnya. “Tapi untuk pengetahuan keagamaan, rasanya alumni kami tidak akan ketinggalan,” katanya sedikit promosi.

Karena itu, PPMH berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan karakter yang dimiliki. Bahkan pengasuh mengibaratkan sistem salaf sebagai pilihan yang tak bisa ditawar. “Ibarat perang, salaf akan kami pertahankan sampai darah penghabisan,” lanjutnya meyakinkan. 

Hal ini bukannya tanpa alasan. Dalam penilaiannya, metode salaf telah berhasil menciptakan santri yang tangguh dan siap pakai. “Minimal mereka bisa berkiprah di masyarakat dengan menjadi pengasuh TPQ, madrasah dan aktifitas keagamaan lainnya,” lanjutnya. Karena hal-hal seperti inilah yang banyak dibutuhkan masyarakat. Demikian pula dalam hal akhlak. Dengan sedikit berkelakar, Kiai Dliya’ menyatakan “Senakal-nakalnya santri salaf, masih memiliki akhlak kepada guru atau kiainya. Dan mereka lebih mudah diarahkan untuk menjadi orang yang baik,” tandasnya.

Dan yang juga tidak kalah penting adalah, metode ini telah teruji oleh jaman. Bahkan ayahandanya juga mewanti-wanti para penerus untuk tetap mempertahankan model salaf yang selama ini dijalankan. Apakah tidak berencana membuat sekolah atau kampus formal? Terhadap hal itu pengasuh sudah mulai memikirkan. “Namun kalaupun harus membuka sekolah formal, akan dicarikan lokasi yang jauh dari pondok induk ini,” katanya. Hal itu dilakukan agar kemurnian PPMH tetap terjaga. 

“Kami tak ingin ciri khas yang telah melekat pada pesantren ini akan pudar gara-gara pendirian sekolah formal,” tukasnya.

Ya, di tengah tuntutan hidup yang serba materi dan semua ukuran keberhasilan dilihat dari ijazah dan gelar, pesantren ini telah memberikan pelajaran yang nyata. Bangga dan istiqamah adalah jawaban bagi tantangan hidup yang kian kompetetif. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Daerah, Nasional Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 25 Februari 2018

Lagi, Pelajar NU Jombang Peroleh Fasilitas Beasiswa Akademik

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Sepekan lalu dua perguruan tinggi, Universitas Darul Ulum (Undar) dan Institut Agama Islam Bani Fattah (IAIBAFA) menandatangani kesepakatan kerja sama untuk memberikan fasilitas beasiswa terhadap para pelajar Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Jombang. Kini satu perguruan tinggi lain menawarkan fasilitas serupa.

Perguruan ini adalah Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Kecamatan Jogoroto, Jombang. Saat ini pihak kampus tengah membincangkan terkait beberapa kode etik, fasilitas lain termasuk dispensasi beasiswa yang akan diberikan kepada pelajar Jombang.

Lagi, Pelajar NU Jombang Peroleh Fasilitas Beasiswa Akademik (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, Pelajar NU Jombang Peroleh Fasilitas Beasiswa Akademik (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, Pelajar NU Jombang Peroleh Fasilitas Beasiswa Akademik

Demikian disampaikan Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jombang Qurrotul Aini. Ia menegaskan bahwa dalam tempo dekat, pihak Unipdu sudah dipastikan memberikan fasilitas beasiswa tersebut dengan penandatanganan berkas kerja sama yang dibangun antara kedua belah pihak.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Yang jelas Unipdu akan segera memfasilitasi pelajar NU Jombang,” katanya kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan saat dihubungi, Jumat (26/2) pagi.

Sementara hasil koordinasi dengan pihak kampus terkait, fasilitas yang akan diberikan berupa potongan biaya kampus sebesar 50% untuk fakultas-fakultas tertentu di jenjang S1. Meskipun demikian, fasilitas ini sudah membuka peluang besar untuk para pelajar NU yang hendak melanjutkan pendidikannya di jenjang perguruan tinggi.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Beasiswa di Unipdu itu sementara fokus untuk S1 di fakultas-fakultas tertentu saja dengan potongan biaya 50%,” ujarnya.

Namun saat ini, Aini mengaku belum bisa memastikan terkait fakultas yang dimaksud. Pasalnya masalah ini masih dalam kajian pihak kampus. “Dan saat ini masih dirembukkan pihak universitas,” tuturnya. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Anti Hoax, Internasional, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Basyir: Akhlak Rusak Picu Koruptor Menjamur

Sumenep, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Tumbuhnya koruptor yang kian menjamur di mana-mana, tidak terlepas dari rusaknya akhlak. Pijakan utama untuk mengentaskan perilaku korup ialah dengan menguatkan akhlaqul karimah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan orang-orang shaleh.

Demikian ditegaskan Rais Syuriyah NU Sumenep KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad di hadapan ribuan alumni pesantren Annuqayah di aula Asy-Syarqawi, Guluk-Guluk, Sumenep, Sabtu (31/10).

Kiai Basyir: Akhlak Rusak Picu Koruptor Menjamur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Basyir: Akhlak Rusak Picu Koruptor Menjamur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Basyir: Akhlak Rusak Picu Koruptor Menjamur

Di acara temu alumni se-Indonesia itu, pengasuh pesantren Annuqayah Latee ini juga menekankan pentingnya muhasabah diri dan berkholwat kepada Allah sebagai wujud tobat atas semua perbuatan kita di dunia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Mari kita sering-sering istighfar. Allah Maha Pemaaf. Kita mesti istiqomah bertobat. Karena tiap waktu, kita punya potensi besar melakukan kesalahan," terang kiai yang berumur lebih 80 tahun itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Basyir juga mengimbau supaya kita tidak bermusuhan antarsesama, lebih-lebih seagama.

"Lebih dari itu, jangan jemu mendalami serta menjalankan ajaran agama. Semoga akhlaq kita makin baik dan jernih setiap waktu. Amin," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pendidikan, Makam, Humor Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Fraksi PPP: Kolom Agama di KTP Jangan Dikosongkan

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan . Fraksi PPP DPR RI memandang lebih baik pemerintah dan DPR segera mengatur dasar hukum adanya identitas agama seseorang pada dokumen kependudukan, terutama bagi mereka yang faktanya menganut agama di luar agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

Fraksi PPP: Kolom Agama di KTP Jangan Dikosongkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fraksi PPP: Kolom Agama di KTP Jangan Dikosongkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fraksi PPP: Kolom Agama di KTP Jangan Dikosongkan

“Misalnya, dia mengaku bergama Dayak Kaharingan yang selama ini dimasukkan ke dalam salah satu dari enam agama tersebut,” kata Sekretaris Fraksi PPP DPR RI Arwani Thomafi di Gedung DPR RI, Jum’at (7/11). ?

“Terkait hal itu,? perlu disepakati dulu bagaimana penanganannya. Jangan dikosongkan karena itu bisa ditafsirkan bahwa orang tersebut tidak beragama. Memeluk agama adalah manifestasi nyata dari sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa,” tambahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kolom agama dalam dokumen kependudukan cukup penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia bukan negara sekuler. Sekalipun juga bukan negara agama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kolom agama adalah manifestasi nyata dari sila ke-1 Pancasila. Tegas sekali menunjukkan perbedaan kita dengan negara-negara lain. Pencantuman agama dalam kolom KTP amat penting, untuk kepentingan warga negara itu sendiri. Problem akan muncul dalam persoalan perkawinan, hak asuh anak dan lain lain,” pungkas Arwani.

Seperti diwartakan, selain menghentikan megaproyek KTP elektronik atau e-KTP, Menteri Dalam Negeri “Kabinet Kerja” Tjahjo Kumolo memberikan sinyal untuk boleh mengosongkan kolom agama dalam KTP. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Belajar dari Doa Nabi Nuh dan Nabi Muhammad

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Belajar dari Doa Nabi Nuh dan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Doa Nabi Nuh dan Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Doa Nabi Nuh dan Nabi Muhammad

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa kelak pada hari Kiamat, orang-orang berbondong-bondong menemui Nabi Nuh ‘alaihis salâm setelah sebelumnya mereka gagal meminta tolong kepada Nabi Adam. Mereka membutuhkan pertolongan dan meminta didoakan agar mendapat syafa’at dari Allah karena pada hari itu situasi di Padang Makhsyar sangat mencekam. Manusia saling memandang dan mencari siapa gerangan yang dapat diandalkan untuk memohonkan syafa’at kepada Allah SWT agar situasi yang mencekam dan cuaca yang sangat panas itu dapat dirasakan sebaliknya. Mereka berkata kepada Nabi Nuh ‘alaihis salâm:

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Wahai Nabi Nuh! Engkau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, dan Allah telah menamakanmu hamba yang bersyukur. Tidakkah engkau dapat memintakan syafa’at untuk kami kepada Allah? Tidakkah engkau telah melihat keadaan kami dan yang menimpa kami?”

Nabi Nuh ‘alaihis salâm menjawab:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“ Sungguh, pada hari ini Allah telah marah dengan marah yang sebenar-benarnya, dimana Dia belum pernah marah seperti ini dan juga tidak akan marah setelahnya seperti ini. Sungguh, dahulu aku memiliki satu do’a yang aku gunakan untuk menghancurkan kaumku. Diriku sendiri butuh syafa’at, pergilah menemui selainku! Pergilah menemui Ibrahim!”

?

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Dari apa yang dinyatakan Nabi Nuh ‘alaihis salâm di atas, kita tahu bahwa beliau mengalami kesulitan memberikan syafa’at dari Allah kepada manusia. Beliau sendiri membutuhkan syafa’at karena adanya satu kesalahan atau masalah yang beliau lakukan semasa hidupnya ketika berdakwah kepada kaumnya. Masalah itu adalah berkaitan dengan doa beliau sebagaimana termaktub dalam Surah Nuh, ayat 26 dan 27:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan keturunan selain anak-anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.

Setelah Nabi Nuh ‘alaihis salâm berdoa seperti itu, terjadilah banjir besar yang sangat dahsyat dan menewaskan sebagian besar kaumnya yang menolak beriman kepada Allah SWT. Peristiwa ini tidak hanya dikisahkan dalam Al Quran tetapi juga dalam kitab-kitab sebelumnya seperti Taurat dan Injil. Berbagai penyeledikan ilmiah juga telah dilakukan untuk menggali informasi lebih jauh tentang bencana besar tersebut.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Barangkali kita tidak pernah berpikir bahwa doa Nabi Nuh ‘alaihis salâm di atas ternyata bermasalah di hadapan Allah SWT di Padang Makhsyar di akherat nanti. Doa itu Allah yang mengabulkan, tapi Allah marah besar kepada Nabi Nuh ‘alaihis salâm sehingga beliau sendiri membutuhkan syafa’at untuk terlepas dari kemarahan Allah SWT. Pertanyaannya kemudian, mengapa doa Nabi Nuh ‘alaihis salâm itu bermasalah?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita bandingkan doa Nabi Nuh di atas dengan doa Nabi Muhammad SAW ketika beliau berdakwah di Thaif. Orang-orang Thaif tidak menyambut beliau dengan baik. Malahan mereka melempari Nabi Muhammad SAW dengan kotoran manusia dan batu hingga melukai kepala beliau dan berdarah. Melihat keadaan Nabi Muhammad SAW yang seperti itu, malaikat penjaga gunung tidak tahan dan tidak terima. Lalu mendatangi beliau dan menawarkan bantuan untuk menghimpitkan dua bukit, yakni Bukit Abu Qubais dan Bukit Ahmar, untuk mengubur hidup-hidup orang-orang Thaif karena menolak beriman kepada Allah SWT agar mereka binasa sebagaimana umat Nabi Nuh. Tetapi, bagaimana jawaban Nabi Muhammad SAW atas tawaran dari malaikat tersebut? Nabi Muhammad SAW menjawab:

"? ?...? ? ? ? ? ? ? ? ? "

“Jangan, jangan! Aku bahkan berharap dan berdoa Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah!”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Jika kita bandingkan doa Nabi Nuh? dengan doa Nabi Muhammad SAW tersebut, maka setidaknya ada dua perbedaan yang jelas:

1. Nabi Nuh? seperti telah putus asa dalam berdakwah kepada umatnya karena sebagian besar dari mereka menolak dan tidak mau beriman kepada Allah SWT. Mereka bahkan menganggap Nabi Nuh? gila. Dengan penolakan seperti itu, Nabi Nuh? seperti tidak lagi memiliki kesabaran dan harapan bahwa mereka dan anak-anak turun mereka suatu ketika akan beriman kepada Allah. Hal seperti ini, tidak terjadi pada Nabi Muhammad SAW yang secara jelas tetap memiliki kesabaran dan harapan bahwa suatu ketika akan ada dari anak turun orang-orang Thaif yang akan beriman dan mengikuti jejak beliau.

2. Doa Nabi Nuh? yang memohon kepada Allah SWT untuk membinasakan umatnya agar lenyap dari muka bumi ini, sebenarnya doa negatif. Doa seperti itu sangat berbeda dengan doa yang dipanjatkan Nabi Muhammad SAW. Beliau justru memohon kepada Allah SWT agar orang-orang Thaif yang menentang beliau tetap diberi hak hidup dan diberi keturunan. Nabi Muhammad SAW memohon kepada Allah kelak di kemudian hari anak turun orang-orang Thaif mau beriman dan mengikuti jejak beliau.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Aku bahkan berharap dan berdoa Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang akan menyembah Allah!”

Sidang Jum’ah rahimakumullah

Dari membandingkan bagaimana Nabi Nuh? dan Nabi Muhammad SAW berdoa terkait dengan umat masing-masing yang sama-sama menentang, kita tahu bahwa sekalipun setiap doa Allah yang mengabulkan, namun doa negatif atau tidak baik akan bermasalah di hadapan Allah SWT. Manusia harus mempertanggung jawabkan doa yang tidak baik itu kelak di hadapan Allah. Nabi Nuh? berdoa memohon agar umatnya dibinasakan dari muka bumi ini karena mungkin sangat marah dan putus asa. Allah memang mengabulkan doa itu meskipun sebenarnya Allah tidak menyukainya. Dan yang sangat menyedihkan adalah putranya sendiri bernama Kan’an dan istri beliau bernama Waliah termasuk yang binasa akibat doa itu dalam keadaan tidak beriman kepada Allah. Selain itu, Nabi Nuh? tidak diperkenankan memberikan syafa’at kepada orang lain.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,



Belajar dari doa Nabi Nuh , kita perlu berlatih bagaimana menahan diri untuk tidak berdoa yang jelek. Semarah apapun kita kepada orang lain, kita harus belajar memaafkan dan jangan sampai mendoakan yang jelek-jelek. Dalam hal ini kita perlu meniru doa Nabi Muhammad SAW. Meskipun beliau didzalimi orang-orang Thaif, beliau tetap tidak marah, malah sebaliknya tetap mendoakan yang baik-baik. Berdoa memang baik, tetapi berdoa yang jelek sesugguhnya merupakan penyalah gunaan doa itu sendiri. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits riwayat Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diamlah.”

Berdoa adalah berucap atau berkata, baik hanya dalam hati maupun juga secara lisan. Maka ketika berdoa, berdoalah yang baik. Jika tidak bisa baik, maka lebih baik menahan diri untuk tidak berdoa terlebih dahulu.

?

Sidang Jum’ah rahimakumullah

Lalu bagaimana dengan doa orang-orang yang didzalimi? Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi, kerana doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah".

Berdasar pada hadits tersebut, doa orang yang didzalimi mudah terkabul. Namun sebenarnya, hadits tersebut tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan doa yang jelek bagi orang-orang yang telah didzalimi. Hadits itu lebih merupakan peringatan kepada kita semua untuk tidak melakukan kedzaliman kepada orang lain. Selain itu, hadits tersebut juga ditujukan kepada orang-orang yang didzalimi untuk menjaga hati dan lisannya agar tidak berdoa yang jelek karena mudah terkabul yang akibatnya justru bisa merugikan diri sendiri. Rasulullah SAW telah memberikan suri tauladan kepada kita semua untuk tidak berdoa yang jelek. Beliau lebih suka memaafkan dan mendoakan yang baik-baik kepada siapa saja yang telah mendzaliminya. Bagaimanapun beliau adalah rahmat lil alamin. Maka tak seorang pun alami celaka akibat doa-doa beliau. Rasulullah tidak pernah nyilakani orang lain.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Mudah-mudahan apa yang telah saya uraikan di atas dapat memberikan manfaat khususnya bagi diri saya sendiri dan sidang Jum’ah pada umumnya. Semoga kita semua selalu diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk dapat menjaga hati dan lisan kita dari berdoa yang jelek-jelek. Amin... amin ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?:? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.



Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

GP Ansor Wanasari Masifkan Pembentukan Pengurus Ranting

Brebes, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Guna meyebarkan misi dakwah Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah ke desa/ranting di segmen Pemuda, GP Ansor Kecamatan Wanasari, Brebes mengunjungi setiap desa yang belum terbentuk/vakum kepengurusan GP Ansor-nya. Tak terkecuali di Desa Pebatan, Sabtu (30/7) yang bertempat di Madrasah Diniyah Hidayatul Mubatdiin Desa Pebatan Wanasari.

Ketua GP Ansor Wanasari Bayu Rohmawan menjelaskan bahwa salah satu tugas Pimpinan Anak Cabang adalah membentuk dan mengaktifkan seluruh kepengurusan GP Ansor di setiap ranting. Dari total 24 ranting GP Ansor se-Kecamatan Wanasari ada 8 ranting yang vakum. “Kita agendakan sampai akhir tahun 2016 Roadshow ke Desa-Desa untuk kembali mengaktifkan kepengurusan ranting. GP Ansor yang vakum,” lanjut Bayu.

GP Ansor Wanasari Masifkan Pembentukan Pengurus Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wanasari Masifkan Pembentukan Pengurus Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wanasari Masifkan Pembentukan Pengurus Ranting

Bayu juga menambahkan GP Ansor yang merupakan kader penerus Jamiyah Nahdlatul Ulama harus bisa menjadi garda terdepan dalam setiap program dan kebijakan NU. Ketika GP Ansor di sebuah desa mati/vakum ini sangat membahayakan bagi kesinambungan NU di masa yang akan datang. Ketika sudah terbentuk kepengurusan ini menjadi kewajiban Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama untuk bersama-sama ngopeni GP Ansor serta Badan Otonom yang lain.

“Nanti dilaksanakan prosesi Pelantikan dan Rapat Kerja sehingga GP Ansor Pebatan bisa kembali berkontribusi bagi Nahdlatul Ulama dan juga Masyarakat melalui program-programnya,” tutup Bayu

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Pebatan Ustadz Farikhi Yunus menyambut baik inisiatif dari Pimpinan Anak Cabang ? yang langsung datang ke desa-desa, salah satunya di Pebatan guna bersilaturahmi dan mengaktifkan kembali Pimpinan Ranting GP Ansor Pebatan. “Kami selaku Orang tua GP Ansor hanya bisa mendukung, membina dan Ngemong GP Ansor,” tutup Ustadz Farikhi yang pernah Aktif di GP Ansor.

Setelah melalui proses musyawaroh mufakat terpilih M.Abdul Ghofur sebagai Ketua GP Ansor Desa Pebatan untuk masa khidmat 2016-2018. Hadir dalam acara tersebut segenap Pengurus PAC GP Ansor Wanasari, Rais Syuriyah NU Pebatan Ustadz Abdul Jalal, para tokoh masyarakat, dan juga puluhan Pemuda Desa Pebatan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tokoh, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tari Topeng di Tengah Pelajar NU Cirebon

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kesenian Tari Topeng Cirebon akan dipentaskan dalam rangkaian kegiatan pelantikan pengurus baru PC IPPNU-IPNU Kabupaten Cirebon, akhir pekan ini, Sabtu (23/3) pagi. Pementasan itu digelar di aula gedung NU Center Sumber, Cirebon, Jawa Barat.



Tari Topeng di Tengah Pelajar NU Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Tari Topeng di Tengah Pelajar NU Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Tari Topeng di Tengah Pelajar NU Cirebon

Sebagai pertunjukan kesenian, Tari Topeng Cirebon mengawali pelantikan kepengurusan PC IPPNU-IPNU Kabupaten Cirebon. Tari Topeng menjadi suguhan utama bagi para tamu dan pengunjung yang menghadiri pelantikan.

Perihal itu disampaikan oleh Ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon Putri Hidayani kepada Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan per telepon, Rabu (20/3) petang. Putri Hidayani merupakan Ketua baru PC IPPNU Kabupaten Cirebon untuk masa periode 2013-2015.

Kesenian Tari Topeng dipentaskan pada jam 08.00 pagi di awal acara pelantikan. Sementara pelantikan pengurus baru berikut rangkaian acara terkait rencananya berlangsung hingga sore hari, tambah Putri Hidayani. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Pertunjukan Tari Topeng itu merupakan wujud kepedulian santri dan pelajar NU atas kekayaan seni tradisi lokal Cirebon,” ungkap Putri Hidayani.

Kami sengaja menghadirkan pementasan Tari Topeng Cirebon untuk menjaga kesadaran pelajar NU tentang kesenian tradisional. Pelajar NU sebagai generasi muda NU yang dikenal menjaga tradisi termasuk kesenian tradisi di dalamnya, harus berdiri di depan dalam perihal itu, kata Putri Hidayani.

Selain sebagai bentuk dukungan dan apresiasi, pemberian panggung terhadap Tari Topeng Cirebon atau kesenian lainnya merupakan jalan satu-satunya dalam melestarikan kearifan-kearifan yang terkandung di dalamnya, pungkas Putri Hidayani.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Jadwal Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 24 Februari 2018

Ribuan Orang Sambut KH Hasyim Muzadi di Al-Hikam Depok

Depok, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Tepat jam 16.15 hari ini Kamis (16/3), jenazah KH Hasyim Muzadi tiba di kompleks Pondok Pesantren Al-Hikam Depok. Berdasarkan pengamatan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, ragam kalangan dan masyarakat sekitar turut hadir menyambut jenazah Ketua Umum PBNU periode 1999-2010 itu.

Ribuan Orang Sambut KH Hasyim Muzadi di Al-Hikam Depok (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Orang Sambut KH Hasyim Muzadi di Al-Hikam Depok (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Orang Sambut KH Hasyim Muzadi di Al-Hikam Depok

Gema tahlil menyambut kedatangan jenazah yang sekitar 40 menit sebelum jenazah Kiai Hasyim mendarat di Bandara halim Perdanakusuma Jakarta Timur.

Dari Bandara Halim Perdanakusumah, jenzah dibawa dengan mobil ambulans Komando Garnisun Tetap 1 Jakarta. Tri AYS bertindak sebagai pengemudi ambulans milik Mabes TNI itu.

Gema tahlil disuarakan dari dua tempat, yakni masjid Al-Hikam dan kediaman KH Hasyim Muzadi. Setiba di rumah duka, jenazah lalu ? disalatkan di masjid Al-Hikam. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Budaya, PonPes, Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jangan Bawa Atribut NU ke Ranah Politik

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Katib Syuriyah Pengurus cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pringsewu Lampung, Munawwir, meminta pihak-pihak tertentu tidak membawa atribut NU ke ranah politik. Hal itu disampaikannya menyusul beredarnya kalender sosialisasi salah satu partai politik yang menyertakan logo NU dan foto beberapa pengurus NU setempat.

“Ini sudah jelas menyalahi aturan-aturan yang ada di jam’iyyah NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang tidak berpolitik,” tegas Munawwir, di Pringsewu ? Ahad (17/2).

Jangan Bawa Atribut NU ke Ranah Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Bawa Atribut NU ke Ranah Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Bawa Atribut NU ke Ranah Politik

NU berpegang pada Khittah 1926 yang memiliki makna bahwa Jamiyyah NU tidak berpihak pada salah satu partai. “Adapun NU membidani lahirnya Partai Politik, bukan berarti NU berpolitik. Partai tersebut merupakan salah satu alternatif ? bagi warga NU secara individu dalam menyalurkan kebebasan berpolitik,” tambahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut Munawwir, Jajaran Syuriyah juga sudah menginstruksikan dengan keras kepada seluruh pengurus PCNU Pringsewu untuk tetap menjaga Khittah NU. Diharapkan juga kepada seluruh warga khususnya yang ada di Kabupaten Pringsewu untuk tidak terpengaruh terhadap simbol-simbol partai yang mencantumkan atribut-atribut NU didalamnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menghadapi pemilihan anggota legislatif di tahun mendatang, NU pringsewu memberikan kebebasan kepada warga untuk memilih siapa dan partai apa yang sesuai dengan hati nuraninya. NU tidak akan mengarahkan warganya untuk memilih partai tertentu walaupun partai tersebut dibidani oleh NU. “Sebagai perseorangan silahkan berpolitik namun sebagai organisasi, NU tidak berpolitik,” tambah Munawir.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Muhammad Faizin

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Internasional, PonPes Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 23 Februari 2018

Jilbab Punuk Onta?

Assalamualaikum wr.wb. Saya ingin menanyakan apa maksud potongan hadits .....kepala seperti punuk unta yang berlenggak lenggok tidak akan pernah mencium bau surga....? kebetulan rambut saya kan panjang jd saya ikat sehingga kelihatan menonjol di bagian belakang jilbab, tapi gak sampai menjulang keatas kepala dan terkadang saya juga memakai daleman cemol, biar kelihatan rapi kalau memakai jilbab. Mohon penjelasannya trimakasih Wassalamualaikum wr. wb. (Nanin/Surakarta)

Jawaban

Waalaikum salam wr. wb. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Teks arab hadits yang disebutkan oleh penanya lengkapnya adalah sebagai berikut:

Jilbab Punuk Onta? (Sumber Gambar : Nu Online)
Jilbab Punuk Onta? (Sumber Gambar : Nu Online)

Jilbab Punuk Onta?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ?

“Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama. golongan yang membawa cambuk yang seperti ekor sapi dimana dengan cambuk tersebut mereka mencambuki orang-orang. Kedua, golongan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang,  yang cenderung (tidak taat kepada Allah) dan mengajarkan orang lain untuk meniru perbuatan mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, dan mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal sungguh bau surga akan tercium dari jarak perjalan seperti ini seperti ini (jarak yang jauh). (H.R. Muslim)

Di dalam hadits ini dijelaskan dua golongan ahli neraka. Dan dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan mengenai golongan kedua saja untuk menyesuaikan dengan pertanyaan di atas sehingga pembahasannya menjadi fokus.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Golongan kedua yang tidak akan masuk surga, yang digambarkan dalam hadits tersebut adalah para wanita yang berpakaian tetapi pakaiannya tidak menutupi auratnya, cendrung tidak taat menjalankan perintah dan larangan Allah swt, dan mengajarakan orang lain untuk meniru mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring.

Kalimat “kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring” acapkali dipahami untuk menyamakan wanita-wanita yang memakai jilbab tetapi kelihatan menonjol di belakang jilbab. Pertanyaannya apakah benar penyamaan itu benar? Untuk menjawabnya maka kami akan menjelaskan apa sebenarnya arti dari kata asnimah al-bukht­.

Kata asnimah adalah bentuk plural atau jamak dari kata sanam. Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur dikatakan sanam al-ba’ir wa an-naqah artinya adalah punggung unta yang paling tinggi atau menonjol. Atau kita terjemahkan dengan punuk unta.

? ? ? ? ? ? ?

Sanam al-ba’ir wa an-naqah (punuk unta) adalah punggung unta yang paling tinggi, dan bentuk plural atau jamak dari kata sanam adalah asnimah. (Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, Bairut-Dar ash-Shadir, cet ke-1, tt, juz, 12, h. 306)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sedang kata al-bukht maknanya adalah salah satu jenis unta yang besar punuknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab tafsir-nya yaitu al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an.

? ? ? ? ? ? ? ?

Al-bukht adalah salah satu jenis unta yang besar badannya yaitu besar punuknya”. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 12, h. 311)

Berangkat dari penjelasan ini maka sabda Rasulullah saw: “Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring” diartikan dengan “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang besar punuknya dan miring”.  

Lantas bagaimana maksud bentuk kepala yang seperti punuk unta yang punuknya besar dan miring? Sebagaimana pertanyaan di atas. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

Menurut an-Nawawi, tafsir atau penjelasan yang masyhur adalah mereka para wanita-wanita itu membesarkan kepalanya dengan kerudung (khimar), sorban (‘imamah) dan selainnya yaitu dari sesuatu yang digulung di atas kepala sehingga menyerupai punuk-punuk unta.

Sedang menurut al-Marizi, mereka wanita-wanita itu suka memandang laki-laki, tidak menjaga pandangan dan tidak menundukkan kepala-kepala mereka.

Selanjutnya menurut al-Qadli ‘Iyadl adalah mereka memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Hal ini sebagaimana dikemukan an-Nawawi dalam Syarh Muslim.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 “Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk untu” maka pengertiannya adalah mereka membesarkan kepala-kepala dengan khimar (kerudung) tutup kepala wanita (al-khumur) dan kain sorban (al-‘ama`im) atau yang lainnya dari sesuatu yang digelung (dikonde) di atas kepala sehingga menyerupai punuk unta. Ini adalah tafsir yang masyhur. Menurut al-Maziri kalimat tersebut boleh diartikan dengan mereka memandang laki-laki tidak menahan pandangan atau memejamkan matanya dari melihat laki-laki dan tidak menundukkan kepalanya. Menurut al-Qadli ‘Iyadl bawha “wanita-wanita yang cenderaung (al-mailat)” maksudnya adalah mereka menyisir rambut mereka dengan model sisiran rambut para pelacur. Yaitu memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Menurut al-Qadli ‘Iyadl, hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan menyerupai punuk unta itu karena tingginya jalinan rambut di atas kepala, terkumpulnya jalinan rambut di situ, dan menjadi kelihatan banyak (lebat) dengan sesuatu yang mereka pilin sehingga miring ke salah satu sisi dari beberapa sisi kepala sebagaimana miringnya punuk”. (Muhyiddin an-Nawawi, al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya` at-Turats al-‘Arabiy, cet ke-2, 1392 H, juz, 17, h. 191)         

Kalau kita cermati pendapat an-Nawawi yang mengacu kepada pendapat mayoritas ulama dan pendapat Qadli ‘Iyadl maka kita akan menemukan titik kesamaan. Yaitu sama-sama membuat rambut kepala terlihat banyak atau lebat dari yang semestinya dan menaikkannya di atas kepala, bukan di belakang kepala, sehingga menyerupai punuk unta.

Yang membedakan keduanya hanya pada soal teknisnya saja. Kalau yang pertama menambahkan pada rambutnya dengan semisal sorban, kerudung atau yang lainnya yang digelungkan di atas kepala. Sedang yang kedua, dengan rambutnya sendiri, dengan cara  memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, sehingga menjadi menonjol seperti punuk unta dan miring ke salah satu sisi kepalanya.

Dengan demikian jika penjelasan di atas ditarik dalam konteks pertanyaan Sdri. Nanin mengenai rambut yang panjang kemudian diikat dan terlihat menonjol di bagian belakang jilbab tetapi tidak menonjol di atas kepala, maka tidak masuk seperti punuk unta. Begitu juga dengan pemakaian daleman cemol. Sebab, tidak menjulang di atas kepala. Namun hal ini sepanjang tidak sampai menampakkan perhiasan kewanitaannya (izhhar az-zinah) dan menimbulkan fitnah.

Demikian penjelasan singkat ini, semoga bisa menambah wawasan kita semua. Dan saran kami jangan menggunakan pakaian termasuk juga jilbab yang terlalu mencolok yang dimaksudka untuk menarik perhatian dan pandangan lawan jenis. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pertandingan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 22 Februari 2018

Pesantren Harus Memiliki Kemandirian dalam Segala Hal

Lombok Utara, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bagi Pengasuh Pesantren Nurul Bayan Kabupaten Lombok Utara (KLU) TGH Abdul Karim Ghafur, pesantren harus memiliki kemandirian dalam segala hal. Jika terlalu bergantung kepada pemerintah, akan sulit berkembang di masa mendatang.

Hal tersebut dikatakannya saat menerima kunjungan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan yang didampingi utusan Kanwil Kemenag NTB dan Kemenag KLU, Rabu (30/3) siang. Bagi Kiai Karim, karakteristik pesantren yang menonjol adalah harus mandiri, baik secara ekonomi, kurikulum, dan sistem pendidikan.

Pesantren Harus Memiliki Kemandirian dalam Segala Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Harus Memiliki Kemandirian dalam Segala Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Harus Memiliki Kemandirian dalam Segala Hal

“Kalau masih terlalu kuat ketergantungannya kepada pemerintah dalam segala hal, akan makin susah dan jangka panjangnya makin berat,” ujar Ketua MUI KLU ini.

Kiai muda lulusan Universitas Baghdad Irak ini mencontohkan, jika pondok tidak mandiri secara ekonomi, hampir pasti bergantung kepada dana Bantuan Operasional Sekolah, dan Bantuan Siswa Miskin. “Nanti kalau BOS dan BSM habis, gimana. Bisa-bisa habis juga pesantren,” sergahnya.

Oleh karena itu, lanjut Karim, pihaknya melatih diri dan para santri agar tidak bergantung kepada pemerintah. Pertama, seluruh santri iuran untuk ? merawat pondok. Baik berupa uang asrama, peralatan. “Lalu, uang operasional. Jadi, ada kontribusinya. 100 ? ribu, misalnya. Itu kan nggak seberapa. Kalau pesantren memiliki 400 santri, sudah 40 juta tiap bulan,” paparnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari dana itu, Karim melanjutkan, sudah bisa menopang operasional. Kedua, pesantren musti memiliki unit usaha. Selain iuran santri, pihaknya juga mendirikan Warung Serba Ada (Waserda) dan Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) bagi para santri. Usaha kreatif seperti membuat tempe dan jualan telur juga dilakukan untuk melatih kemandirian santri.

“Di belakang, kami juga punya peternakan ayam dan bebek. Ada juga konveksi. Jadi, baju-baju santri, seragam, dan jas, semua dijahit sendiri. Kami juga jadi pengepul kelapa dari warga sekitar. Lalu mengirimnya satu fuso seminggu ke Jawa. Jadi, dari aktivitas itu dana berputar,” ungkap Kiai Karim.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurut pria lulusan Pesantren Gontor ini, sekitar 25 persen operasional pondok terbantu dari aneka usaha tersebut. Pengelola beberapa unit usaha tersebut para santri senior dan para guru muda yang ia percaya. “Makanya, BSM nggak saya ambil. Di sini bukan nggak ada yang miskin, tapi mental miskinnya yang kami tidak mau,” ujarnya mantap.

Kiai Karim lalu mengutip sebuah hadis bahwa al-takaffuf alannas (bergantung kepada manusia) itu tidak baik. “Kami mengajarkan itu kepada para santri. Apalagi negara kita belum sepenuhnya berdikari secara ekonomi. Kita bantu pemerintah lah, jangan justru membebaninya,” tandasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sunnah, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali

Ini adalah kitab “Sirâjut Thâlibîn” karangan seorang ulama besar Nusantara asal Jampes, Kediri (Jawa Timur), Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M).

Kitab “Sirâjut Thâlibîn” ditulis dalam bahasa Arab. Hingga saat sekarang, kitab ini adalah satu-satunya kitab syarh atas teks “Minhâjul ‘Âbidîn” yang paling populer dan berdar luas di seluruh penujuru dunia Islam. Karena itu, tidaklah mengherankan jika kitab karangan Kiai Jampes ini dicetak oleh banyak penerbit di Timur Tengah, sekaligus dipelajari dan dijadikan rujukan otoritatif dalam kajian bidang tasawuf di banyak institusi pendidikan dunia Islam.

Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali

Al-Imâm al-Ghazzâlî sendiri memiliki tiga buah karya utama dalam bidang tasawuf, yaitu “Minhâjul ‘Âbidîn” yang kemudian di-syarh oleh Kiai Jampes (Sirâjut Thâlibîn), lalu “Bidâyah al-Hidâyah” yang kemudian di-syarh oleh Syekh Nawawi al-Bantanî al-Jâwî, w. 1897 M (Murâqî al-‘Ubûdiyyah), dan “Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn” yang kemudian di-syarh oleh Syekh Muhammad Murthadhâ al-Zabîdî, w. 1790 (Ithâf al-Sâdah al-Muttaqîn).

Kitab “Bidâyah al-Hidâyah” dan “Ihyâ ‘Ulûmal-Dîn” diterjemahkan dan disyarah ke dalam bahasa Melayu untuk pertamakalinya oleh Syekh Abdul Shamad Palembang (w. 1832 M). Versi Melayu “Bidâyah” adalah “Hidâyah al-Sâlikîn”, sementara versi Melayu “Ihyâ” adalah “Sair al-Sâlikîn”.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kembali ke kitab "Siraj al-Thalibin". Dalam kolofon, didapati keterangan jika karya agung ini diselesaikan di Kampung Jampes, Kediri, pada siang hari Selasa, 29 Sya’ban tahun 1351 Hijri. Data ini bertepatan dengan 28 Desember 1932 Masehi. Tertulis dalam kolofon;

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Adapun masa penulisan kitab ini adalah delapan bulan kurang beberapa hari lamanya, akhir kali diselesaikannya pada siang hari Selasa, tanggal 29 bulan Sya’ban tahun 1351 Hijri. Selesai di rumahku di desa Jampes, negeri Kediri, salah satu dari negeri-negeri Jawi [Nusantara]).

Keterangan dalam kolofon di atas sekaligus memberikan informasi lain yang sangat mencengangkan, yaitu kitab syarh setebal lebih 1000 halaman ini diselesaikan oleh Syekh Ihsan Jampes hanya kurang dalam jangka masa delapan bulan lamanya.

Dalam pengantarnya, Syekh Ihsan Jampes menulis;

? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? "? ? ? ? ?

(Maka berkatalah hamba yang mengarap dari Tuhannya akan pengampunan. Seorang yang fakir kepada rahmatNya: Ihsan anak Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri … Ini adalah sebuah syarh [penjelasan] yang ringkas dan ulasan yang halus atas kitab “Minhâjul ‘Âbidîn ilâ Jannah Rabbil ‘Âlamîn” karangan …… al-Imâm al-Ghazzâlî. Aku menuliskan syarh ini sebagai pengingat untuk diriku, dan bagi orang-orang yang kurang pandai sepertiku. Aku namakan syarh ini dengan “Sirâjut Thâlibîn”).

Kitab ini mendapatkan endorsement (taqrîzh) dari Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan sahabat dekat Syekh Ihsan Jampes dan beberapa ulama besar Jawa lainnya. Endorsement ini termuat dalam versi cetakan Dâr al-Fikr Lebanon (tanpa tahun) atas kitab ini. KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa kitab “Sirâjut Thâlibîn” adalah salah satu kitab tasawuf terbaik yang ditulis pada zamannya. KH Hasyim Asy’ari juga mengisyaratkan Syekh Ihsan Jampes sebagai sosok “maestro keilmuan Islam dari Nusantara yang keilmuannya ibarat samudera tiada tepian”.

Syekh Ihsan Jampes dilahirkan di Jampes, Kediri, pada tahun 1901 M. ayahnya adalah KH Dahlan bin KH Soleh, pengasuh pesantren di Jampes. Kakek beliau, KH Soleh, berasal dari Bogor, Jawa Barat, yang kemudian hijrah ke Kediri di Jawa Timur. Syekh Ihsan memiliki adik kandung yang juga terkenal alim, yaitu KH Marzuqi Dahlan, kelak menjadi pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri setelah dinikahkan dengan putri KH Abdul Karim Manaf Lirboyo.

Di antara guru utama Syekh Ihsan Jampes adalah para ulama besar tanah Jawa pada zaman itu, yaitu KH Kholil Bangkalan (Madura), KH Khozin Bendo (Pare), KH Idris Jamsaren (Solo), dan KH Soleh Darat (Semarang).

Hal yang menarik dari sosok Syekh Ihsan Jampes adalah penguasaannya akan bahasa Arab yang matang, meski tidak pernah belajar dan bermujawarah di Makkah atau negeri Arab lainnya. Tingginya citarasa bahasa Arab beliau dapat tercermin dari karya-karya beliau yang ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Timur Tengah.

Di antara karya-karya beliau adalah; (1) Sirâjut Thâlibîn syarah atas Minhâjul ‘Âbidîn karangan al-Imâm al-Ghazzâlî, (2) Manâhijul-Imdâd syarah atas kitab Irsyâdul-‘Ibâd karangan Syekh Zainuddîn al-Malîbârî, (3) Tashrîhul-‘Ibârât syarah atas kitab falak Natîjah al-Mîqât karangan guru beliau, yaitu Syekh Muhammad Shâlih ibn ‘Umar al-Jâwî (Kiai Soleh Darat Semarang), dan (4) Irsyâdul Ikhwân fî Hukm Syarbil Qahwah wad Dukhân yang mengkaji tentang hukum meminum kopi dan menghisap asap (rokok).

Syekh Ihsan Jampes wafat pada 25 Dzulhijjah tahun 1371 Hijri (September 1952 M) dan dikebumikan di Jampes, Kediri. (A. Ginanjar Sya’ban)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Hikmah, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Pamekasan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kehadiran Nahdlatul Ulama memiliki dua agenda yang sejati, yaitu memakmurkan masjid dan  memakmurkan bumi Allah.

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Agenda NU: Makmur Masjid, Makmur Bumi Allah

Menurut Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F Mas’udi, hal itu sesuai dengan penegasan Allah dalam Al-Quran. Hanya dua penegasan terkait memakmurkan. Pertama, perintah memakmurkan masjid.

“Bahwa sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid,” ungkapnya pada Rapimda PP LTMU di Pamekasan, Madura, Ahad, (27/01) lalu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kedua, ayat yang memerintah memakmurkan bumi. Dan bumi itu adalah lambang Nahdlatul Ulama. “Dua agenda kehadiran Nahdlatul Ulama adalah memakmurkan bumi bertolak dari memakmurkan masjid,” tambah Kiai kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 1954.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lebih jauh, Kiai Masdar menjelaskan, masjid yang pertama (masjid secara fisik) disebut masjid mikro, yang kedua disebut masjid makro (bumi Allah). Pengelolaan masjid mikro adalah tolok ukur pengelolaan masjid makro.

“Masjid itu adalah potret dari kehidupan berbangsa, bernegara dan berbumi ini,” tambahnya.

Kiai penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 dalam Perspektif Islam ini menjelaskan, jika disiplin di masjid, misalnya datang tepat waktu shalat, rapi dalam barisan, akan disiplin dalam kehidupan di masyarakat. Jika mau membersihkan masjid, mau juga membersihkan bumi Allah.

“Kalau infaq di masjid itu berjalan dengan baik, berarti pendanaan keumatan juga akan berjalan dengan baik.”

Ia berharap semua pengurus NU lebih memperhatikan masjid. Tidak semua pengurus NU di semua level ada bidang keta’miran masjid. Padahal di situlah umat bertemu dan berkumpul.

“Karena itulah manfaat dari ilmu yang mengalir dari mata air pesantren tidak “sumerambah” tidak menyebar sebagaimana mestinya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu, Kiai, PonPes Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya

Surabaya, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Untuk mengawal dan memberi dukungan moral kepada Panitia Khusus atau Pansus minuman beralkohol (Mihol) DPRD Surabaya, ratusan warga yang terdiri dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama di antaranya Banser, Ansor, IPNU serta IPPNU mengadakan aksi di Gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso 18-22 Surabaya, Senin (25/4).

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya

"Kami datang mendukung Peraturan daerah atau Perda larangan Mihol di Kota Surabaya," kata Muhammad Asrori, Ketua PC GP Ansor Surabaya. Lebih lanjut Asrori mengatakan bahwa peredaran Mihol di Surabaya dipastikan akan merusak moral generasi muda.

Selain itu, Asrori menyerukan kepada seluruh warga Muslim untuk mendukung gerakan penolakan Mihol demi menyelamatkan generasi muda khusus di Kota Surabaya.

"Kami meminta seluruh warga muslim, terutama NU untuk ikut berjuang mengawal Perda Mihol. Jangan sampai minuman haram itu beredar di Surabaya," tegasnya.?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Kawal terus pembahasan Perda Mihol di DPRD Surabaya. Jangan biarkan orang-orang tak bertanggung jawab bermain dalam masalah ini," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 21 Februari 2018

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sebagai salah satu rukun Islam, haji mendapat perhatian penting umat Islam untuk menjalaninya, meskipun lokasinya sangat jauh dari Arab Saudi, seperti di Indonesia ini. Salah satu nilai haji yang sangat bermanfaat adalah membangun kesadaran individual dan sosial.

Hal ini disampaikan oleh ketua umum PBNU KH Said Aqil Siradj ketika menyampaikan pidato pembukaan pada Konferensi Internasional “Peran Haji dalam Memperkuat Kerjasama dan Persatuan Umat Islam” di Jakarta, 2-3 Oktober.

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Haji Bangun Kesalehan Individual dan Sosial

Haji pada saat ini perannya sudah tereduksi sekedar sebagai ritual ibadah, padahal pada masa lalu, haji menjadi sarana pertemuan para ulama sedunia untuk saling belajar. Ini terutama terjadi ketika waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan ibadah haji sangat lama mengingat sarana transportasi masih tradisional.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Banyak ulama mukim di Makkah selama musim haji agar bisa bertemu dengan ulama lainnya dari seluruh dunia,” katanya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Para ulama Indonesia banyak juga yang belajar dan besar setelah menempuh pendidikan di Makkah dan Madinah seperti Nawawi Al Bantani, Mahfudz Termas, Syeikh Yasin Padang, Hasyim’ Asy’ari, Arsyad al Banjari dan lainnya.

Karena menjadi pusat pertemuan umat Islam sedunia setiap tahunnya, banyak pula aktifitas ekonomi yang berjalan serta terjadinya pertukaran budaya.

Acara konferensi ini menghadirkan para pembicara dari beberapa negara, seperti ustadz Syarief, deputi Syeikh al Islam Thailand, Dr Mahmud Syamsuddin, Ilmuwan China, Dr Muhammad Hammoud, Ilmuwan Lebanon, Pangeran Zaini, mufti Brunei Darussalam, Ust, Muhammad Fitriz Bakaram, mufti Singapura, Prof Dr Zulkifli, deputi Menteri Agama Malaysia selain pembicara dari Indonesia dan Iran.

Beberapa tema besar yang dibahas diantaranya adalah Unity of Ummah and Responsibility of All, Hajj and Character Building, dan Hajj Role in Strengthening Cooperation of Islamic World. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Jadwal Kajian, Pondok Pesantren, Ulama Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 20 Februari 2018

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda IV (Ke-4), Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur. Dengan jumlah total lulusan yang sudah mencapai 1033 orang, Perguruan Tinggi yang berada di bawah naungan PBNU ini akan terus berkomitmen menjaga tanggung jawab Nahdliyah.

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda IV, STAINU Jakarta Komit Jaga Tanggung Jawab Nahdliyah

Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pelaksana dan Penyelenggara Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (BP3TNU), Drs KH Mujib Qulyubi, MH saat menyampaikan sambutan di depan 386 wisudawan dan wisudawati, serta para tamu undangan yang memadati Gedung Sasono Langen Budoyo.

“Tanggung jawab Nahdliyah ini akan terus melekat kepada para lulusan STAINU Jakarta dengan selalu memegang teguh dan mengamalkan ajaran-ajaran Aswaja ala NU,” terang pria yang juga menjabat Katib Syuriyah PBNU itu sesaat setelah Ketua STAINU Jakarta, dr H Syahrizal Syarif, MPH, PhD menyampaikan sambutan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Mujib juga menegaskan, lulusan STAINU Jakarta jelas statusnya dan jelas sanad kelimuannya. Hal ini ditegaskan dengan hadirnya beberapa pejabat tinggi di lingkungan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI serta Ketua Umum PBNU beserta jajaran ketua lainnya.

“Hal ini saya sampaikan terkait informasi wisuda ilegal sebuah perguruan tinggi yang tersebar di media beberapa waktu lalu,” jelas mantan Ketua STAINU Jakarta ini.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dia melanjutkan, sanad kelimuan yang terbangun secara akademik di STAINU Jakarta juga sangat jelas. Karena kelimuan yang berasal dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU, tegas Kiai Mujib, dijamin menyambung hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Dalam kegiatan wisuda ini, hadir Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, KH Abdul Manan Ghani dan Dr H Marsudi Syuhud, serta Wakil Ketua Kopertais I DKI Jakarta, Dr Abdul Wahid Hasyim. Hadir juga menyampaikan orasi ilmiah, Dirjen Pendidikan Islam, Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin, beserta jajaran pejabat Kemenag lainnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Doa, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna

*Oleh Mh Nurul Huda

Akhir tahun ini Haul Gus Dur diperingati kembali. Pesantren Ciganjur, komunitas Gus Durian tak pernah absen pasti. Tak ketinggalan pula PKB, partai yang didirikan almarhum. Tidak lupa ada jutaan orang yang merindukannya, mungkin hanya dalam kalbu mereka, di pinggir pusaranya tanpa upacara.

Dalam jutaan orang itu, yang berjalan melewati lorong-lorong kehidupan yang ramai, kita menjumpai anak-anak belia mendongakkan kepala kepada ibu-bapaknya. Siapa Gus Dur? Mengapa kita menziarahinya, dan seterusnya? Sedemikian rupa ia sehingga keingintahuan kanak-kanak itu melahirkan sebuah cerita.

Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna (Sumber Gambar : Nu Online)
Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna (Sumber Gambar : Nu Online)

Sosok Pemimpin Intelektual, Pemberi Makna

Penulis kolom ini sendiri tak mengetahui jelas, bagaimana dampak cerita di riuhnya kehidupan. Hanya dugaan kasar belaka sifatnya bila cerita-cerita macam itu (storytelling) penulis anggap sebagai proses pembelajaran jangka panjang yang berlangsung massal. Sebagian orang tua itu dalam ziarahnya mungkin adalah para penganut tarekat, atau orang-orang biasa yang, kepada putra-putri mereka, mengenalkan keteladanan dan ideal-ideal moral (exemplar). Biar saja bila ada orang menilai dengan ukurannya sendiri seberapa “progresif” mereka ini menularkan pengalaman atau seberapa bermanfaat pembelajaran itu bagi kehidupan nyata.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketika akhir bulan lalu Saudara Hamzah Sahal mengajak berkunjung ke Pesantren Edi Mancoro Semarang, Penulis mengiyakan undangan itu. Pertama, karena pengasuh pesantrennya Kiai Mahfudz Ridwan yang sudah sangat sepuh itu adalah teladan bagi para santri dan masyarakat sekitar khususnya bagi penulis sendiri yang sepuluh tahun lalu mengikuti pertemuan dengan sesama kaum muda NU. Kedua, karena para santri ingin berbagi cerita mengenai keteladanan yang mereka saksikan, alami dan rasakan, dalam bahasa tulisan. Terkait yang kedua ini, tampaknya mereka berharap keteladanan sang kiai dapat ditiru para pembaca umum atau generasi berikutnya.

Dari sini, yaitu dari harapan para santri saja, sudah cukup diketahui bahwa cerita (storytelling) rupanya dianggap penting oleh mereka untuk lalu dihidangkan kepada khalayak. Setidaknya memang dianggap penting bagi kehidupan para santri sendiri (mungkin semacam yang berjasa membimbing hidupnya) berdasarkan pengalaman mereka pribadi. Pengalaman itu terang sangat spesifik sifatnya. Efeknya pun sangat eksistensial dan mendalam sehingga belum tentu orang lain dapat merasakan pengalaman yang sama tanpa adanya kesetaraan kualitas interaksi dengan sang ideal moral.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Berdasarkan pengalaman pribadi pula Saudara Hamzah, Saudara Fauzi dan Saudara Hengky (dua nama terakhir berturut-turut adalah putra asli Aceh dan Padang, murid imam besar masjid Istiqlal sekaligus pengasuh pesantren Darus Sunnah Kiai Mustofa Ya’qub) hampir untung bertemu Kiai Mustofa Bisri yang pada hari itu secara kebetulan mengunjungi Kiai Mahfudz Ridwan (meski akhirnya kecele karena ia keburu pulang). Namun masih terpancar kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan dari wajah tiga saudara kita ini karena Gus Mus sempat menitipkan doa istiqomah untuk mereka.

Adapun bagi Penulis sendiri khususnya serasa mustahil menulis kolom tentang Gus Dur dalam rangka Haul Ke-6 di situs resmi PBNU yang terbit hari ini tanpa menyinggung Kiai Mahfudz Ridwan dan Kiai Mustofa Bisri. Ketiganya adalah para kiai (dua biasa dipanggil “gus”, dan satu dipanggil kiai) yang sebetulnya saling terkoneksi satu sama lain. Koneksi ketiganya setidaknya berkaitan dengan 3 hal.

Pertama, ketiganya sosok “intellectual leader”. Mereka pemimpin intelektual bagi komunitasnya atau masyarakat secara luas sesuai bidangnya. Mereka mencintai kebenaran yang dengan kebenaran itu mereka bersikap dan bertindak benar serta berupaya mengubah masyarakat menjadi lebih baik.

Kedua, mereka adalah “meaning maker”, yakni memunyai kemampuan memaknai nilai-nilai agama dan tradisinya dalam konteks sosio kultural masyarakatnya. Mereka memunyai “keawasan spiritual” (spiritual literacy) sehingga dapat memberi makna pada eksistensinya baik pada level lokal, global, maupun universal. Mereka mengenali siapa dirinya, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pergi. Dengan wawasan yang mendalam dan pengalaman yang luas, ketiganya mampu mendialogkan tradisi dan modernitas, menganalisis ide dan realitas, dan melakukan sintesis-sintesis yang dibutuhkan dalam praktik kehidupan nyata.

Ketiga, kiai kita ini mendidik generasi muda dan khalayak umum. Pikiran mereka dinyatakan dalam bahasa yang sederhana dan menunjuk sesuatu yang nyata sehingga mudah dipahami masyarakat banyak. Bahasa/kata yang telah mengalami “over technologized” yang kaku, asing, dan ekstrem dibumikan lagi dalam kehidupan dan dalam relasi-relasi hidup yang nyata, luwes, tenang, arif, dan manusiawi, seolah tanpa sandraan dogma, fundamentalisme, atau kemarahan bersayap ideologis. Mereka juga memproduksi karya-karya sosial (membangun pesantren, sekolah, aktif dalam kegiatan dialog antarumat beragama atau lain-lain gerakan-gerakan perbaikan, ishlah) atau karya-karya intelektual (dalam bentuk pemikiran yang tertuang dalam artikel, esai, atau buku, dan lain-lain).

Keempat, mereka sosok “sarjana-aktivis”. Gus Mus karib Gus Dur semasa kuliah di Mesir, lalu Gus Dur karib Kiai Mahfudz di Baghdad. Sepulang ke tanah air, ketiganya berusaha melakukan perubahan-perubahan ke arah perbaikan kehidupan masyarakat. Lewat pemikiran, tulisan, sikap, dan tindakannya (Gus Mus belakangan memanfaatkan twiter), mereka memperlihatkan kepada masyarakat, komunitas dan bangsanya tentang bagaimana nilai-nilai Islam dan tradisi masyarakat, khususnya tradisi pesantren dan masyarakat setempat, dapat menjadi kekuatan pengubah lingkungan sosialnya (masyarakat, bangsa, negara, dunia) menjadi lebih baik. Mereka juga berpikiran terbuka, mengembangkan budaya dialog, serta membangun wawasan masa depan yang lebih baik bagi semua orang.

Terakhir, tanpa bermaksud melebih-lebihkan salah satu di atas yang lain, Gus Dur mengajarkan pengalaman untuk dirinya secara “keras” sebagai pembelajaran kepada murid-muridnya. Ketika dijatuhkan secara politik dari kursi presiden, seperti Sokrates yang memegangi kebenaran Gus Dur menerima vonis itu dikelilingi murid-murid dan koleganya. Guru bangsa ini lalu keluar dari istana menemui rakyatnya dan melambaikan tangan seolah berpesan:

“Saksikan, murid-muridku. Aku sendiri pun berpegang erat pada kebenaran meski sepanas bara api di telapak tangan. Berbekal pengetahuan yang benar itu, aku dapat bersikap dan bertindak benar dalam kehidupan tanpa setetes pun darah anak manusia yang pantas dikorbankan”.

Seperti halnya Sokrates, Gus Dur adalah seorang filsuf, par excellent!

*M Nurul Huda, pengajar Sosiologi di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Lomba Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Presiden Dijadwalkan Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dijadwalkan akan hadiri kegiatan peringatan Maulid Nabi Agung Muhammad SAW yang digelar Jamaah Kanzus Sholawat Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (5/2) mendatang.

Presiden Dijadwalkan Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Dijadwalkan Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Dijadwalkan Hadiri Maulid Nabi di Pekalongan

Kehadiran Presiden SBY yang akan didampingi ibu negara Ibu Ani Bambang Yudoyono dan beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid 2 disampaikan Komandan Kodim 0710 Pekalongan Letkol Kav Wahyu Eko Purnomo saat memimpin rapat koordinasi panitia yang berlangsung di Gedung Kanzus Sholawat Pekalongan, Kamis (30/1).

Dikatakan, agenda SBY beserta rombongan sehari sebelumnya akan melakukan kunjungan kerja di Cirebon, Jawa Barat, kemudian sorenya menuju Pekalongan dengan menggunakan kereta api khusus dan bermalam di Pekalongan. Selanjutnya pagi hari sebelum menghadiri kegiatan peringatan maulid, SBY akan menggelar pertemuan khusus bersama ulama, TNI dan Polri seluruh Indonesia.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kehadiran presiden SBY di Kanzus Sholawat kali ini merupakan untuk yang kedua kalinya, setelah sebelumnya juga pernah hadir pada tanggal 9 April 2008.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Untuk mengamankan kunjungan kepala negara, Kodim 0710 akan dibantu oleh Korem 071 Wijayakusuma, Kodam IV Diponegoro dan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Sedangkan jajaran kepolisian akan membantu khususnya pengaturan arus lalu lintas pengunjung dan tamu undangan yang diperkirakan mencapai tak kurang dari 25 ribu jamaah dari berbagai pelosok Tanah Air.

Kegiatan peringatan maulid yang berlangsung di Kanzus Sholawat merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah berlangsung sejak lima belas tahun yang lalu. Kegiatan maulid diprakarsai Habib Muhammad Luthfy bin Yahya, Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutbarah An-Nahdliyyah (Jatman).

Menurut Habib Luthfy, memperingati hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW merupakan bentuk rasa cinta dan kasih sayang umatnya kepadanya. Sehingga, sangat wajar dan bahkan harus bagi umat Islam yang mengaku dirinya ummat Nabi Muhammad SAW memperingati maulid.

"Kalau masih ada yang mengatakan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW dianggap perbuatan bidah, tidak perlu dianggap dan diurusi," ujarnya Habib Luthfy.

Peringatan maulid Nabi di Kanzus Sholawat Pekalongan merupakan awal dari rangkaian kegiatan peringatan maulid Nabi yang akan digelar di berbagai daerah. Hingga berita ini ditulis, sudah ada sekitar 80 tempat yang siap menyelenggarakan peringatan maulid oleh Kanzus Sholawat, tersebar di berbagai daerah di Pulau Jawa hingga bulan Syaban mendatang. (Abdul Muiz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Kajian Sunnah, Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur dinilai Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa sepertinya ada yang tidak ingin kalau negeri ini aman. Karena itu, dia berharap agar semua pihak tetap tenang, tidak terpancing secara berlebihan atas kejadian tersebut.?

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)
Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing (Sumber Gambar : Nu Online)

Bom Kampung Melayu, Khofifah: Warga Harap Tenang, Jangan Terpancing

"Jangan terpancing dan jangan memancing-mancing," katanya saat menghadiri Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Rabu (24/5) malam.

Mensos menjelaskan, saat ini masyarakat begitu mudah terpancing menanggapi sesuatu hal sehingga membuat suasana semakin keruh. Menurutnya, peristiwa bom di Kampung Melayu adalah tindakan memancing respons berlebihan masyarakat oleh kelompok tertentu. "Makanya jangan terpancing," pintanya.

Selain itu, peristiwa ini semakin menguatkan peran penting ulama maupun tokoh agama untuk mengingatkan masyarakat dan generasi kita agar tak mudah terpengaruh ajakan orang atau kelompok yang ingin mengganggu ketenangan bangsa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Peran ulama, kalangan pesantren dibutuhkan untuk mengingatkan kalau ada yang mau mengganggu negeri ini, misalnya mengganti Pancasila dengan sistem khilafah. Saya mau tanya, apakah di pesantren ini ada ingin mengganti Pancasila dengan sistem khilafah?" tanya Khofifah yang dijawab "Tidak!" secara serentak oleh para santri dan hadirin.?

"Ini PR kita karena gangguan ini sering kali muncul," tegas Ketua Umum PP Muslimat NU ini.?

Terlebih, kata Khofifah, ulama maupun pesantren berperan besar atas pendirian NKRI. Dia mencontohkan KH Wahid Hasyim, salah seorang anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Saya ingin sampaikan kalau Kiai Wahid Hasyim yang anggota BPUPKI dan PPKI yang akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia," katanya.

"Kiai Wahid Hasyim adalah putra Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau kemudian ada anak-anak muda yang mengaku trahnya NU lalu ingin mengubah dasar negara, bentuk negara, sistem pemerintahan ini, tolong diingatkan. Inilah tugas kita."

Khofifah berharap Harlah ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qodir Al Jailani ini menjadi penguatan muhasabah untuk menjaga keutuhan NKRI. "Tonggak-tonggak penguatan NKRI adalah pesantren-pesantren yang dikomandani para kiai NU. Salah satunya pesantren ini," katanya.

Apalagi usia pesantren jauh lebih tua dari Indonesia. Khofifah merujuk banyak pesantren yang berusia 100 tahun bahkan lebih. "Tiga hari lalu saya mendatangi imtihan ke-100 pesantren Sukamiskin. Kalau imtihan ke-100 berarti usia pesantren lebih dari 100 tahun," katanya.?

Begitu juga saat ada pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan para kiai di Jatim di sela pengukuhan Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI, KH Maruf Amin sebagai guru besar ilmu ekonomi muamalat syariah oleh UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang. Dalam pertemuan terbatas itu ada pengasuh pesantren yang pesantrennya didirikan dari tahun 1700.

"Artinya inilah pilar-pilar yang membangun semangat juang melawan penjajahan, apakah Belanda maupun Jepang pada saat itu. Hanya saja para kiai ini perannya tidak ingin di-publish. Maka banyak sekali kiai yang tidak mengajukan sebagai apakah calon pahlawan, bintang mahaputra dan seterusnya karena keikhlasannya begitu luar biasa," papar Khofifah. (Rof Maulana/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tokoh, Kajian Sunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan