Senin, 07 Agustus 2017

PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar memecat anggota Korps Marinir TNI AL yang menembak warga Pasuruan dari dinas militer dan membawanya ke meja pengadilan.



PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Marinir Penembak Rakyat Harus Dihukum

"Pihak aparat bersenjata, dalam hal ini oknum marinir, harus dicopot dari dinas dan dihukum," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Kamis (31/5).

Hasyim mengemukakan hal itu menanggapi peristiwa bentrok antara warga Grati, Pasuruan, Jawa Timur dengan anggota marinir yang menyebabkan empat warga tewas diterjang peluru, Rabu (30/5).

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Berkali-kali rakyat menjadi korban dari peluru yang dibeli dengan uang rakyat," kata mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu dengan nada prihatin.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Seperti dilaporkan kantor berita Antara, terkait pernyataan Komandan Korps Marinir (Dankormar), Mayjen (Mar) Syafzen Noerdin bahwa penembakan yang dilakukan anggotanya dalam rangka membela diri, Hasyim menyatakan sulit menerima.

"Alasan masyarakat menyerang dulu rasanya sulit diterima. Bagaimana mungkin rakyat menyerang pasukan bersenjata?" kata pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, tersebut.

Menurut Hasyim, dengan kasus Pasuruan itu, sekali lagi TNI mencoreng mukanya sendiri. Hasyim juga mendesak TNI AL menyantuni keluarga korban dan anak-anak yang menjadi yatim.

Sebelumnya, kepada wartawan di markas Pasukan Marinir (Pasmar) I Surabaya, Rabu sore, Dankormas menjelaskan, anggotanya terpaksa melakukan penembakan karena terdesak oleh warga yang menyerang dengan senjata tajam.

"Waktu itu anggota kami betul-betul terdesak, sedangkan warga mengejar anggota marinir menggunakan celurit dan lemparan batu. Tembakan itu dilakukan, karena betul-betul membahayakan," katanya.

Namun demikian, Safzen menyatakan sangat menyesalkan kejadian itu.

"Saya sangat menyesal atas kejadian ini, karena selama ini marinir selalu dekat dengan rakyat. Dekat dan selalu membela rakyat. Itu merupakan visi dari prajurit marinir," katanya.

Bentrokan antara warga dengan anggota marinir di Grati, Pasuruan, mengakibatkan empat warga tewas dan enam orang luka-luka yang dirawat di RS Bangil dan RSSA Malang.

Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), partai yang memiliki basis massa terbesar di Jawa Timur, melalui Ketua Umum Dewan Syura KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengecam peristiwa itu dan akan menuntut pelaku secara hukum. PKB juga akan membentuk tim advokasi bagi warga. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Humor Islam, Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

MWC NU Slawi Resmi Dilantik

Tegal, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan 

Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahldtul ‘Ulama Kecamatan Slawi masa khidmat 2012-2017 Resmi dilantik , akhir pekan lalu di Jalan Gajah Mada Desa Kalisapu Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal. 

Bertindak melantik ketua tanfidziyah PCNU Kabupaten Tegal, H. Ahmad Wasy’ari, MM didampingi sekretrisnya H. Nur Kholis. Seusai pelantikan Ahmad Wasy’ari berpesan agar MWC Slawi mempertegas program kerjanya, karena Slawi menjadi barometer NU di Kabupaten Tegal. 

MWC NU Slawi Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Slawi Resmi Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Slawi Resmi Dilantik

“Sebaik apapun MWC NU lain, kalau belum Slawi tidak akan dilihat, karena bukan yang menjadi sentral ibu kota Kabupaten. Tapi sebaliknya sekurang baik apapun Slawi akan terlihat karena akan menjadi barometer dan basis khidmat organisasi. Rapatkan barisan untuk membuat rem perjalanan organisasi kedepan," tuturnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ini juga perlu dicermati, lanjut mantan ketua PC IPNU dua periode itu, karena Nabi Muhammad juga mulai bergerak dakwahnya dari kota bukan, yaitu di Madinah dan Mekkah. "Kesadaran membangun organisasi inilah yang perlau kita perbaiki demi masa depan agar menjadi organisasi yang betul-betul bermartabat dan berdaya guna dan bisa dirasakan oleh siapapun." 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia bercerita, Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi pendirian NU tahun 1926 mengingtakan kepada kita semua pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan umat, ini seolah-olah kaia Hasyim dulu sudah memperediksi bahwa umat akan bercerai-berai. 

“Apa yang difatwakan oleh beliu Hadrotus Syaikh sekarang juga dapat dirsakan citra umat Islam dimata dunia juga sudah dirusak oleh gerakan radikalisme, teroris dan fundamnetalis, akibatnya Islam sebagai agama rahmatnya untuk alam buruk citranya,"  jelasnya.

Ini juga penting, masih kata dia, karena kekuatan besar yang tidak teriorganisir kan kalah dengan kekuatan kecil yang terorganisir. “Untuk itu jaga citra NU sebagai organisasi penjaga Aswaja dan rahmat bagi semesta alam,” pesannya.

Sementara ketua tanfidziyah MWCNU Kecamatan Slawi H. Bahrudin, M.SI, saat dimintai keterangan terkait program kerjanya dia tidak berbicara banyak. “Kami tidak akan mengaindai-andai menggalang program, hanya saja pengurus MWC NU Slawi perlu adanya penataan dan action organisasi yang betul-betul matang dan terprogram dengan baik,” katanya.

Mungkin Slawi belum bisa disejajarkan dengan MWC-MWC yang lain yang ada di kabupaten Tegal, namun kami berikhtiar kedepan mudah-mudahan yang lebih baik, kemajemukan aqidah masyarakat Slawi juga harus menjadi perhatian agar persatuan dan kesatuan umat tidak juga rusak, “Mari kita tunjukan jati diri dan kedewasaan kita dengan cinta dan kasih sayang, karena dengan cinta akan timbul kasih sayang .”  

Turut hadir dalam kegiatan itu camat Slawi, Kapolsek Slawi, jajaran PCNU Kabupaten Tegal dan sejumlah tokoh kecamatan Slawi. Kegiatan itu juga di meriahkan dengan organ tunggal al Jawahir dan juga pengajian umum dengan pembicara KH. Dirjo Abdul Hadi dari Kabupaten Brebes. 

Kontributor: Abdul Muiz        

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, Sunnah, Kajian Islam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 05 Agustus 2017

Dan Kiai pun Ditalqin

Kediri, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Para santri dan ribuan orang yang mengikuti pemakaman Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Imam Yahya Mahrus serentak menghentikan pembacaan surat Al-Ihlas “Qul huwallahu ahad…” ketika KH Abdul Aziz Mansyur berdiri memegang microphone, sebagai pertanda acara talqin akan segera dimulai, Ahad (15/1) siang. Kiai Aziz yang mewakili keluarga menanyakan kepada semua yang hadir, “Apakah semua yang hadir menyaksikan bahwa KH Imam Yahya Mahrus ini orang baik?”. Serentak semua menjawab, “Baik…!” Suara tangisan haru terdengar jelas dari balik kerumunan.

Talqin dilakukan setelah semua proses penguburan selesai, yang dimaksudkan untuk memberikan suport dan membimbing ahli kubur agar dapat menjawab pertanyaan malaikat kubur Munkar dan Nakir dengan baik. Tidak hanya orang biasa, kiai pun butuh untuk ditalqin. Keluarga meminta Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Musthofa Bisri (Gus Mus) memimpin prosesi talqin.

Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dan Kiai pun Ditalqin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dan Kiai pun Ditalqin

Pembacaan talqin pun dimulai. Gus Mus yang juga alumni Pesantren Lirboyo, mengatakan kepada KH Imam Yahya Mahrus yang sudah terbaring, sebentar lagi ada malaikat yang datang. “Jangan takut, mereka adalah mahluq Allah, sama seperti kita. Jawablah pertanyaan mereka dengan benar,” kata Gus Mus sambil pemberikan bimbingan kepada Kyai Imam. “Jika ditanyakan siapa Tuhanmu maka jawablah Allahu Rabbi, jika ditanyakan siapa nabimu jawablah Muhammad Rasulullah…” dan seterusnya. Semua bacaan talqin menggunakan bahasa Arab.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lalu doa dipimpin oleh sesepuh NU yang juga alumni Pesantren Lirboyo, KH Maimun Zubair. Selanjutnya diadakan sholat jenazah untuk kesekian kalinya yang dipimpin oleh pengasuh Pesantren Denanyar Jombang KH Aziz Masyhuri, yang diikuti oleh Gus Mus, Rais Syuriyah PWNU KH Miftahul Ahyar, keluarga besar Pesantren Lirboyo, dan para santri, alumni, serta jamaah yang belum sempat mengikuti shalat jenazah di Pondok Pesantren Lirboyo.

Pondok Pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren tua yang telah menelorkan ribuan alumni. Selain Gus Mus dan KH Maimun Zubair, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj yang turut bertakziyah adalah alumni pesantren yang didirikan oleh KH Manaf Abdul Karim pada 1910 silam. Namun atas wasiat Almarhum KH Imam Yahya Mahrus sendiri, jenazah tidak dimakamkan di makam keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo bersama para sesepuh pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai Imam yang merupakan generasi ketiga Pesantren Lirboyo meminta kepada keluarganya untuk dimakamkan di tanah lapang, di desa Ngampel, kecamatan Mojoroto, sekitar 5 km ke arah utara dari induk Pesantren Lirboyo. Tanah itu akan digunakan sebagai perluasan dari Pondok Pesantren Al-Mahrusiyah, Lirboyo. Di bagian depan baru ada satu bangunan yang belum selesai. Informasi yang diterima Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan, selain tempat tinggal santri, di tanah itu juga akan didirikan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) yang kini sedang naik daun.

Tak ayal, tanah yang sepi itu mulai ramai. Tidak hanya para santri dan alumni, banyak orang datang berziarah. Sampai malam larut, hingga Senin (16/1) pagi, para peziarah terus berdatangan. Mungkin beginilah cara Kiai Imam membesarkan pesantren barunya.

Penulis A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Humor Islam, Nasional, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penghormatan dan Lantunan Al-Qur’an di Makam Bung Hatta

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tanggal 17 Agustus merupakan momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia. Masyarakat mengenangnya sebagai hari diproklamasikannya kemerdekaan oleh Soekarno dan Hatta. Berbagai kegiatan mereka selenggarakan untuk memperingati hari spesial ini, seperti yang dilakukan komunitas Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka).

Penghormatan dan Lantunan Al-Qur’an di Makam Bung Hatta (Sumber Gambar : Nu Online)
Penghormatan dan Lantunan Al-Qur’an di Makam Bung Hatta (Sumber Gambar : Nu Online)

Penghormatan dan Lantunan Al-Qur’an di Makam Bung Hatta

Rabu (16/8) malam, komunitas pimpinan KH Syarif Rahmat tersebut menggelar Munajat Anak Negeri di Tanah Kusir, Kebayoran Lama. “Ada yang khas dari rangkaian acara ini, yaitu lokasi munajat yang dilakukan di pemakaman, tepatnya makam Proklamator Bung Hatta,” ungkap penyelenggara acara Ali Rahman saat ditemui di sela-sela kegiatan. ?

Menurutnya, kegiatan ini adalah upaya untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus mendoakannya. Ia menilai generasi sekarang mulai lupa akan sejarah. Bila tokoh saja lupa, tambahnya, apalagi nasihat-nasihatnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Di beberapa daerah, menurutnya acara yang sama juga diselenggarakan. Seperti halnya Cilacap yang mengadakan Kirab Budaya di makam Prabu Siliwangi dan Madura dengan mengadakan doa bersama di makam Kiai Kholil Bangkalan.

“Bahkan, Munajat Lintas Agama pun juga pernah diselenggarakan di makam I Gusti Ngurah Rai”, tambahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Acara yang diawali dengan Syiiran Gus Dur itu juga mengangkat tema pakaian Nusantara, yaitu blangkon sebagai penutup kepala yang dipakai oleh para tamu yang hadir. Upaya mengangkat tradisi itu, menurut penyelenggara acara, sebagai penguatan jati diri bangsa.



Membalas Penghormatan


Pemimpin Padepokan Syarif Rahmat yang turut hadir juga menjelaskan dalam ceramahnya mengenai alasan mengapa tempat yang dipilih adalah pemakaman.

“Kalau Bung Karno dan Bung Hatta juga para pahlawan yang lain telah memberikan penghormatan, memuliakan kita semua, membuat kita bisa menikmati hidup senyaman ini, maka sepatutnya kita juga memberikan balasan penghormatan sebaik-baiknya,” ujar anggota Dewan Kebudayaan Lesbumi yang akrab disapa Kiai Syarif.

Menurutnya, konsep dasar dari hal itu terdapat dalam QS. An-Nisa’ ayat 86. “Jika kamu dihormati dengan satu penghormatan, balaslah oleh kamu penghormatan itu dengan lebih baik dari dia. Atau sekurang-kurangnya balas seperti apa yang kamu terima dari dia. Tidak boleh kurang,” tambahnya.

Kiai Syarif mengatakan, tidak ada yang lebih baik daripada Al-Qur’an. Oleh karena itu, pada rangkaian kegiatan tersebut juga dibacakan munajat, yaitu rangkuman dzikir dan seluruh doa yang ada di dalam Al-Qur’an.

Pria yang menjabat sebagai Dosen PTIQ dan IIQ itu juga mengungkapkan bahwa satu huruf Al-Qur’an bernilai ganjaran sepuluh, maka alif lam mim itu bernilai tiga puluh.

“Sekarang yang kita baca malam ini bukan sekadar alif lam mim, tetapi mutiaranya Al-Qur’an. InsyaAllah tidak jelek-jelek amat penghormatan kita kepada mereka,” pungkasnya. (M. Ilhamul Qolbi/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita, Hikmah, Syariah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 03 Agustus 2017

Kiai Nuril Ajak PMII Lestarikan Aswaja

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ketua Umum Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Nuril Huda kembali menegaskan pentingnya menjaga dan melestarikan paham keagamaan NU, Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Ia mengajak para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk turut serta melestarikan paham yang dikenal moderat itu.

“Bagaimanapun juga, PMII adalah bagian dari NU. Oleh karena itu, mari bersama-sama menjaga serta melestarikan Aswaja dari paham-paham baru yang muncul akhir-akhir ini,” kata Kiai Nuril saat menjadi penceramah pada acara Semarak Ramadhan yang digelar Pengurus Cabang (PC) PMII Jakarta Pusat, di Masjid Jami’ Al-Ma’mur, Jalan Raden Saleh, Jakarta (25/9)

Kiai Nuril Ajak PMII Lestarikan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Nuril Ajak PMII Lestarikan Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Nuril Ajak PMII Lestarikan Aswaja

Di hadapan para aktivis organisasi berbasis mahasiswa NU itu, Kiai Nuril menjelaskan, saat ini Aswaja tengah terancam keberadaannya. Pasalnya, tidak sedikit muncul paham baru yang mengatasnamakan ahlussunnah. “Sekarang harus diingat, ada (paham, red) ahlussunnah tok (saja, red), ada ahlussunah yang ada wal jama’ah-nya,” terangnya.

“Ahlussunnah tidak sama dengan Aswaja. Ajaran yang tanpa mengejek orang lain, keyakinan orang lain, paham yang dianut orang lain, itulah Aswaja,” jelas Kiai Nuril.

PMII, sebagai organisasi yang menghimpun para pemuda NU, kata Kiai Nuril, memiliki peran besar dalam rangka turut serta melestarikan Aswaja. Menurutnya, pemuda memiliki semangat yang masih besar. Hal itulah yang menurutnya dibutuhkan oleh NU saat ini .

Selain para aktivis PMII, acara tersebut juga diikuti sekitar 100 anak-anak yang tinggal di sekitar Masjid Jami’ Al-Ma’mur. Mereka memang sengaja diundang pada acara Semarak Ramadhan itu untuk berbuka bersama.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Acara tersebut merupakan pembukaan dari serangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan PC PMII Jakpus selama bulan Ramadhan kali ini, antara lain, Pesantren Kilat, Halaqoh dan Pengajian Kitab Salaf, Buka Bersama Anak Jalanan dan Silaturrahmi Antar-Tokoh Ormas Islam dan OKP. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Budaya, Quote, Halaqoh Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu

Mengunjungi rumah saudara, karib kerabat, dan teman termasuk perbuatan mulia. Karena melalui kunjungan tersebut hubungan persaudaraan dan persahabatan menjadi semakin kokoh dan akrab. Supaya kunjungan membuahkan hasil dan mendapatkan kebaikan, perlu diperhatikan etika pada saat bertamu.

Perhatikan waktu dan kondisi orang yang akan kita kunjungi. Misalnya, jangan bertamu pada waktu istirahat dan jam kerja, atau buatlah perjanjian terlebih dahulu supaya pihak yang dikunjungi tidak merasa keberatan.

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Rasulullah SAW Terkait Etika Bertamu dan Terima Tamu

Begitu pula dengan orang yang dikunjungi, hormatilah setiap tamu yang mendatangi rumahnya. Layani mereka dengan cara yang baik, sopan, dan santun. Bila bekal di rumah kita mencukupi, jamulah mereka dengan makanan dan minuman.

Bila memungkinkan ajak mereka untuk menginap, barang sehari, dua hari, atau tiga hari. Sebab menjamu tamu termasuk perbuatan baik, sangat dianjurkan, bahkan dikaitkan dengan? kesempurnaan iman.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hal ini sebagaimana yang dipahami dalam hadis riwayat Al-Bukhari yang termaktub dalam kitab Adabul Mufrad sebagai berikut.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamu dengan menjamunya sehari semalam. Jamuan hak tamu hanya berjangka tiga hari. Lebih dari itu, jamuan bersifat sedekah. Tidak boleh bagi tamu untuk menginap di tempat tuan rumah sehingga menyusahkannya.”

Hadits ini menunjukkan perlunya perhatian dan pengertian tuan rumah dan tamu. Tuan rumah mesti melayani tamu dengan baik, bahkan dianjurkan mempersilakan mereka untuk menginap.

Sementara tamu juga diminta pengertiannya. Meskipun bertamu dianjurkan, jangan sampai membuat tuan rumah menjadi keberatan dan kesulitan. Adanya saling pengertian kedua belah pihak ini diharapkan dapat menjaga dengan baik hubungan antara keduanya dan membawa berkah bagi mereka. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pahlawan, Santri, Makam Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 02 Agustus 2017

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal

Yogyakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Anggota DPR-RI Ida Fauziyah mengatakan, peran perempuan dalam menangkal radikalisme sangat penting.

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspada, Perempuan Bisa Dimanfaatkan Kelompok Radikal

“Terorisme adalah kejahatan luar biasa yang menjadi musuh dunia. Jaringan terorisme mulai melibatkan perempuan sebagai pemeran aktif,” kata Ida pada Seminar Peran Perempuan Menuju Indonesia Bebas

Radikalisme di Konferensi Besar (Konbes) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di Asrama Haji Yogyakarta, Sabtu (28/10) sore.

Ida menyebut beberapa perempuan terlibat sebagai pemeran aktif dalam aksi terorisme seperti Dian Yulia Novi, calon ‘pengantin’ bom bunuh diri;, Ika Puspitasari yang ditangkap di Purworejo; Umi Delima, istri Santoso pimpinan Mujahidin Indonesia Timur yang ditangkap Poso, Sulteng, 

"Kelompok radikal bisa memanfaatkan kelemahan dan kodrat perempuan untuk direkrut menjadi teroris," papar aktivis perempuan itu.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Menurutnya perempuan dijadikan sebagai kurir dan dimanfaatkan untuk merekrut anggota lain. 

“Hal itu dilakukan karena perempuan lebih bisa masuk kemana-mana, bahkan mampu mengelabui petugas,” tambahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Terkait hal itu, IPPNU harus menjadi garda terdepan dalam melawan gerakan radikalisme. 

“IPPNU harus menjadi teman untuk para remaja, khususnya pelajar perempuan, karena dengan menjadi teman para pelajar,” lanjut Ida.

IPPNU akan mudah dalam mewujudkan deradikalisasi di kalangan pelajar. Organisasi IPPNU sangat strategis dalam melakukan deradikalisasi. 

“Karena yang menjadi sasaran gerakan radikal adalah para remaja yang juga menjadi konsen kaderisasi IPPNU,” tegasnya.

Aktivis perempuan Rustini Murtadho menyampaikan IPPNU harus menguatkan strategi dalam penguatan ideologi ke-Nuan, karakter Aswaja an-Nahdliyah, trilogi ukhuwah.

“Pandai-pandai memilih organisasi di berbagai bidang, termasuk politik, serta fokus pada persiapan ideologi menuju, perguruan tinggi dan pesantren, dan terakhir perkuat perspektif perempuan,” harapnya.(Anty Husnawati/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan AlaNu, Berita, News Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan