Minggu, 09 Oktober 2011

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Jember, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Bukan karena latah jika NU saat ini ikut berteriak soal pentingnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila. Sebab, pergerakan NU memang mempunyai benang  sejarah  yang cukup kuat dengan beridrinya NKRI. Demikian dikemukakan oleh Menpora RI, Imam Nahrawi saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional "Pancasila Final, NKRI Harga Mati, Khilafah No" di auditorium Universitas Islam Jember (UIJ), Sabtu (14/5). 

Menurut Menpora, NU sebagai salah satu ormas yang memiliki sejarah dan turut andil dalam pendirian NKRI, maka seharusnya mempertahankan NKRI. "Oleh karena itu, mari kita pertahankan sejarah itu dengan baik. Jangan sampai ada oknum yang tidak memiliki sejarah, lalu mengatakan Indonesia harus diubah," ujarnya.

Imam Nahrawi meminta agar NU tetap kuat dan solid  mengawal NKRI dan Pnacasila. NKRI, katanya, adalah harga mati, dan siapapun tidak boleh menentangnya. Ini bukan karena adanya gejala atau gerakan yang mengancam Pancasila dan NKRI belakangan ini, namun karena hal tersebut sudah menjadi sikap bangsa yang tidak bisa ditawar lagi. "Yang terpenting saat ini adalah eksekusinya seperti apa karena NKRI adalah memang sudah harga mati tidak boleh siapapun menantang. Apabila ada yang menantang maka harus keluar dari NKRI," ujar Menpora.

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora: Jangan Sampai Oknum yang Tidak Punya Sejarah Meminta Indonesia Diubah

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan UIJ, Abdullah Syamsul Arifin (Gus A`ab) mengatakan bahwa NU sejak lama berkomitmen mengawal dan menjaga Republik Indonesia dan siap menghadapi siapapun yang akan mengotak-atik NKRI. Terkait dengan ormas yang menentang NKRI, PCNU Jember sudah mengambil langkah, diantaranya mendorong pemerintah pusat, Kemenkumham dan Kemendagri untuk membubarkan ormas-ormas penentang NKRI dan Pancasila.

"Pemkab Jember kami harap membuka forum untuk menutup kegiatan ormas penentang Pancasila dan merongrong NKRI," jelas Gus Aab yang juga Ketua PCNU Jember itu. (Aryudi A Razaq/Zunus)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, Makam, Sejarah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 07 Oktober 2011

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman

Pringsewu, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pesatnya perkembangan informasi dan teknologi dewasa ini, Pengurus dan Anggota Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) harus mampu memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat seiring perkembangan zaman.

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Mampu Jawab Tantangan Zaman

Hal ini ditegaskan oleh Ketua PW IPPNU Provinsi Lampung Amalia Fadhila saat hadir di arena Konferensi Cabang ke 2 PC IPNU dan IPPNU Kabupaten Pringsewu yang dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Sabtu (22/4).

Amalia Fadhila yang menahkodai PW IPPNU Lampung periode 2017-2020 ini juga mengajak agar pelajar NU saat ini ikut mewarnai dunia maya dengan rajin menulis.?

"Mari tuangkan pikiran kita melalui media-media sosial khususnya yang bernafas NU," ajaknya dihadapan para peserta Konferensi yang terdiri dari Pengurus PAC, Ranting dan Komisariat yang telah terbentuk di Pringsewu.

"Kita sekarang hidup di dua dunia, Dunia Nyata dan Dunia maya. Jangan hanya jadi user saja yang gampang termakan hoax. Mari cerdas hidup didunia maya dan mengisinya dengan konten yang benar dan menyejukkan," ajaknya dihadapan peserta Konferensi yang juga dihadiri oleh Pengurus PW IPNU Lampung, Pengurus NU, Banom di Pringsewu dan beberapa undangan dari ormas kepemudaan diluar NU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Konferensi yang mengangkat tema "Satukan Tekad untuk Memantapkan Roda Organisasi" ini dibuka oleh Wakil Sekretaris PCNU Pringsewu Muhammad Faizin. Dalam sambutannya, ia juga mengajak pengurus IPNU dan IPPNU Pringsewu untuk mampu menjawab tantangan zaman dengan terus berbenah menyiapkan diri melanjutkan Jamiyyah NU.

"IPNU dan IPPNU merupakan Kawah candra dimuka pembentukan kader kader penerus NU. Jadi mari tingkatkan keilmuan baik dibidang agama maupun dibidang ? organisasi sebagai modal membesarkan Jamiyyah," terangnya seraya berharap seluruh PAC dan Ranting di Kabupaten Pringsewu dapat dibentuk kepengurusannya.

Bagi para senior IPNU dan IPPNU ia mengajak untuk segera menyiapkan diri untuk aktif berkiprah di Organisasi atau Badan Otonom lainnya yang ada di NU sesuai dengan jenjang umurnya seperti Ansor dan Fatayat. "Ayo move on. Cinta IPNU dan IPPNU boleh. Tapi Banom lainnya sudah menunggu kalian," pungkasnya disambut senyum para pengurus yang sebentar lagi paripurna.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Pada acara Konferensi tersebut juga dibagikan sejumlah piala dan penghargaan kepada para pemenang lomba yang dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Konferensi tersebut. Lomba yang dipertandingkan antara lain Bulu Tangkis, Kaligrafi dan berbagai lomba lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 22 September 2011

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal

Lamongan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Gerakan Pemuda (GP) Ansor mengerahkan 25 ribu anggota satuan tugas Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk membantu mengamankan gereja-gereja selama perayaan Natal di Jawa Timur.

"Kami sudah berkoordinasi dan memerintahkan semua personel Banser untuk terjun langsung mengamankan gereja-gereja yang tersebar di Jatim," ujar Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Timur Alva Isnaeni di sela Konferensi Wilayah Ansor di Pondok Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Sabtu.

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

25 Ribu Banser Siap Bantu Amankan Natal

Ia mengatakan, setiap tahun Ansor membantu aparat menjaga keamanan selama perayaan Natal.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tahun ini, ia melanjutkan, anggota Banser akan mulai membantu aparat melakukan tugas pengamanan sejak 23 Desember hingga 27 Desember 2013.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Anggota Banser, ia menjelaskan, tidak hanya akan membantu mengamankan gereja tapi juga membantu mengatur lalu lintas kendaraan di jalanan sekitar gereja.

Bahkan, menurut dia, dalam beberapa pekan ini anggota Densus 99 Banser sudah turun ke lapangan untuk memantau kondisi wilayah.

"Densus 99 Banser ini bertugas mengamati dan mencari tahu atau memetakan kerawanan yang akan terjadi. Berdasarkan laporan yang kami terima, ada beberapa daerah sudah disasar oknum tak bertanggung jawab, seperti Surabaya, Malang dan kawasan Mataraman," kata dia.

Ia menambahkan, Banser sukarela membantu menjaga keamanan gereja selama perayaan Natal. "Ini wujud konkret Banser sebagai penjaga kebhinekaan," katanya. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Pesantren, Pahlawan Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 10 September 2011

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng

Pada awal Lebaran (Syawwal 1434 H), Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan mendapatkan kesempatan untuk menelusuri jejak para penyebar Agama Islam di Kabupaten Tuban. Di daerah yang mendapat julukan sebagai Kota Wali ini, kami berziarah ke makam para wali, menelusuri goa-goa yang konon pernah disinggahi para wali dan berkunjung ke tempat bersejarah lainnya.

Tentang julukan Tuban sebagai Kota Wali ini, dari penuturan tokoh dan masyarakat setempat yang menjelaskan hal ini dikarenakan banyaknya wali yang dilahirkan, pernah bermukim atau dimakamkan di kota pesisir pantai utara ini. Sebut saja Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan lain sebagainya. Juga karena banyaknya pesantren berdiri yang berdiri di tanah Tuban.

Sebelum disebut sebagai daerah wali, Tuban pernah pula disebut sebagai Bumi Ranggalawe (merujuk pada tokoh pada zaman sebelum Majapahit yang bernama Ranggalawe). Bahkan pernah juga disebut sebagai Kota Tuak, karena memang terkenal sebagai penghasil minuman tuak.

Namun, beberapa tahun belakangan, sejak tampuk pimpinan Bupati dipegang oleh tokoh dari kalangan pesantren, KH Fathul Huda, trademark sebagai Kota Wali kembali dimunculkan. Hingga sekarang, daerah ini menjadi salah satu destinasi utama rombongan ziarah Walisongo dari berbagai penjuru Tanah Air.

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ki Cokrojoyo, Sunan Geseng

Makam di Tengah Hutan

Perjalanan di Tuban dilakukan dalam waktu yang cukup singkat, yakni dua hari. Dimulai dari daerah Alas Pakah, sekitar 7 Km dari kota. Di daerah antara Pakah dan Palang, terdapat sebuah makam, yang masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Sunan Geseng.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sunan Geseng ini adalah murid dari Sunan Kalijaga. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Kyai Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya sehingga merelakan badannya menjadi hangus (Jawa : geseng).

Untuk menuju ke makam, kami harus masuk sedikit ke dalam area hutan, di mana jalan menuju lokasi masih dipenuhi dengan rimbunnya pohon-pohon jati dan pepohonan besar lainnya. Sampai di kompleks makam yang masuk dalam kawasan Desa Gesing Kecamatan Semanding, akan ada pelataran yang cukup luas. Di tempat tersebut hanya ada dua bangunan utama, masjid dan makam yang terletak di sebelah baratnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sampai di makam, terdapat gapura yang bernuansakan seperti masuk ke sebuah pura, bertuliskan Makam Sunan Geseng. Di sana kami bertemu dengan Sutaji, sang penjaga makam. Dia menjelaskan sedikit banyak tentang bangunan itu. Kompleks makam kemudian direnovasi mulai tahun 1985-an. Dananya diperoleh dari masyarakat sekitar dan peziarah yang ikut membantu. “Bangunan pertama dulu cuma patok (makam), belum seperti sekarang, Mas,” kata Sutaji yang sedang ditemani dua istrinya.

Masuk ke dalam ruangan makam, terdapat penerangan 4 lampu dan satu lampu di atas makam. Di ruangan tersebut terdapat dua makam, yakni makam Sunan Geseng. “yang sebelahnya itu istrinya, namanya Siti Zubaedah,” terang Sutaji.

Masing-masing makam panjangnya kurang lebih 2 m. Di sekelilingnya terdapat pagar kayu sehingga para peziarah tidak dapat memegang langsung makam.

Pada saat kami berziarah, terdapat beberapa rombongan peziarah, yang diantaranya mengaku datang dari Lamongan. Pemimpin rombongan tersebut, Suwandi, mengaku pada hari itu mereka sudah berziarah ke makam para wali, dinataranya Sunan Ampel dan Sunan Lamongan. Rencananya setelah itu mereka juga akan ke makam Sunan Bonang.

Setiap harinya memang terdapat banyak peziarah yang datang ke makam Sunan Geseng. Mereka kebanyakan datang dari daerah Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Para peziarah ada yang datang dengan menaiki motor adapula yang datang rombongan dengan menaiki bus. Mereka terus berdatangan, padahal mereka tahu bahwa di daerah lain juga terdapat makam dengan nama yang sama.

Ya, seperti juga makam aulia yang lainnya, makam ataupun juga petilasan Sunan Geseng ini, di beberapa tempat lainnya diyakini sebagai makamnya. Selain di Desa Gesing ini, ada pula di Kediri, Purworejo, Pati yang berada di Pegunungan Kendeng utara dan lain-lain. Dan tentunya setiap daerah tersebut masyarakatnya meyakini bahwa makam Sunan Geseng tersebut bersemayam.

Belum sampai satu jam kami di tempat itu, senja telah tiba. Waktunya untuk segera bergegas melanjutkan perjalanan, agar kami tidak kemalaman di tengah hutan Pakah. (Ajie Najmuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Nusantara, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 23 Agustus 2011

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN

Probolinggo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ribuan santri dari seluruh penjuru pondok pesantren di Kabupaten Probolinggo mengikuti apel akbar dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 di alun-alun Kota Kraksaan, Ahad (22/10) pagi.

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Probolinggo Apel Akbar Peringati HSN

Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin bertindak sebagai inspektur upacara. Sementara komandan upacara adalah anggota Satkorcab Banser Kota Kraksaan Moh. Fauzi Zamani dan perwira upacara adalah Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan Taufiq.

Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa peringatan HSN ke-3 ini mengambil tema “Santri Mandiri, NKRI Hebat”. Oleh karenanya santri harus mengimplementasikan tema ini dengan mengamalkan ilmu dan budaya santri saat pulang ke halaman masing-masing.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Tetaplah menjadi seorang santri tatkala sudah selesai menimba ilmu dan pulang ke rumah masing-masing. Jadilah manusia yang mampu membuat tersenyum kedua orang tuamu,” katanya.

Hasan mengajak para santri dan segenap elemen masyarakat untuk bersyukur karena pada momentum 22 Oktober 2017 yang merupakan Hari Santri Nasional (HSN) masih diberi nikmat berupa sehat dan luang waktu sehingga bisa memberikan penghargaan kepada NU berupa HSN yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Semoga penghargaan ini mampu kita syiarkan kepada seluruh rakyat Indonesia sehingga bisa mewujudkan negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan Allah),” harapnya.

Lebih lanjut Hasan menambahkan di dalam NKRI santri harus terus mengamalkan aqidah Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) yang digariskan NU. “Maknai Resolusi Jihad itu bagian dari hubbul wathon minal iman sebagaimana KH Hasyim Asyari memfatwakan. Fatwa itu keluar dari ulama tatkala NKRI merdeka dan terancam masuknya kembali penjajah,” tambahnya.

Menurut Hasan, santri itu seperti paku yang dipukul sampai tidak terlihat. Begitu dia tampak dipukul lagi sehingga tidak kelihatan. Padahal paku ini adalah bagian terkuat dari sebuah bangunan. “Itulah santri yang meskipun tidak terlihat tetapi menjadi sebuah kekuatan yang besar. Inilah makna pengamalan dari akhlaqul karimah yang harus ada dalam setiap diri santri,” terangnya.

Bagi NU jelas Hasan, mempertahankan NKRI sebagai santri wajib hukumnya. “Semoga santri di Kabupaten Probolinggo diberi sehat walafiat, ilmunya manfaat dan barokah serta menjadi anak soleh dan solehah dan mampu meneruskan cita-cita kedua orang tuanya,” pungkasnya.

Apel akbar peringatan HSN ke-3 ini juga diiringi dengan paduan suara oleh siswa dan siswi MA Pondok Pesantren Darul Lughah wal Karomah Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan. Dalam kesempatan ini, grup paduan suara ini melantunkan lagu Syubbanul Wathon, Hari Santri Nasional, Gerakan Ayo Mondok, Sholawat Nahdliyah, Indonesia Raya dan Mars Banser.

Pada apel akbar peringatan HSN ke-3 ini juga dibacakan ikrar santri oleh Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam dan PC IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati. Serta pembacaan teks Resolusi Jihad oleh pengurus Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Ghazali Bahar. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sejarah, Hikmah, Sholawat Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kamis, 11 Agustus 2011

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya

Yogyakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengurus Pusat Lakpesdam Nahdlatul Ulama menggelar Pelatihan Project Cycle Management (PCM) dan Pelatihan Financial Management (FM) PNPM Peduli di Hotel Santika Yogyakarta, Selasa-Sabtu (31 Oktober-3 November 2012). 

Pelatihan diikuti 56 peserta yang terdiri dari Project Officer (PO) dan Financial Officer (FO) dari 28 cabang, pelaksana PNPM Peduli di 10 Provinsi seluruh Indonesia. Acara itu juga dihadiri PBNU, Kemenkokesra, PSF, PWNU DIY dan undangan lainnya.

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Lakpesdam Gelar Pelatihan PCM PNPM Peduli di Yogya

Ketua PP Lakpesdam NU, Yahya Ma’shum menjelaskan PNPM Peduli Lakesdam NU sebagai program pengurangan kemiskinan telah melewati phase pilot, yaitu dari Juni 2011-Juni 2012. Saat ini, program dalam masa lanjutan, yaitu phase antara dari phase pilot ke phase berikutnya yang dimulai sejak Juli 2012 dan akan berakhir pada Desember 2012. Banyak capaian dan hambatan ditemukan selama pelaksanaan program.

Namun demikian, mengacu kepada hasil monitoring, supervisi dan asistensi yang dilaksanakan pengurus pusat Lakpesdam NU, cabang-cabang pelaksana PNPM Peduli masih membutuhkan peningkatan kapasitas tentang siklus pengelolaan proyek (Project Circle Management [PCM]).  

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Lebih jauh Yahya menjelaskan, secara  tujuan Pelatihan adalah adalah untuk meningkatkan kapasitas cabang-cabang, pelaksana PNPM Peduli dalam mengelola PNPM Peduli. 

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Secara khusus, tujuan pelatihan PCM adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan cabang dalam mengidentifikasi, merencanakan, melaksanakan, memonitoring dan mengevaluasi program. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan cabang dalam merumuskan gagasan dan rencana program ke dalam kerangka logis program (logical framework). Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan cabang dalam mendokumentasikan seluruh kegiatan-kegiatan program. Meningkatkan kemampuan mengenali/ mengidentifikasi, mencatat  dan menggunakan data perkembangan program di lapangan secara detil serta meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan cabang dalam penulisan laporan program,” tegas pria berpenampilan kalem ini.

Sementara, Deputi Kemenkokesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dr Ir Sujana Royat, DEA dalam pemaparannya dihadapan peserta pelatihan menjelaskan, PNPM Peduli adalah salah satu bentuk terobosan yang dilakukan untuk memberdayakan rakyat marjinal yang selama ini tidak pernah tersentuh oleh program pemerintah.

”Seluruh pelaksana PNPM Peduli harus bekerja dengan hati, bukan hanya sekedar menjalankan program berdasarkan TOR, karena PNPM Peduli adalah jihad kita semua untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” tutur sang Deputi Menteri yang juga berasal dari keluarga Nahdliyin ini.

Dalam sesi tanya jawab yang dipandu Sekretaris PP Lakpesdam, Lilis Nurul Husna, tiga orang peserta yakni dari Indramayu, Bantul dan Tuban mengajukan berbagai pertanyaan kepada Deputi Menkokesra, diantaranya soal rakyat miskin yang mengalami kesulitan akses dalam pelayanan kesehatan dan ditolak oleh rumah sakit. 

Mendapat pertanyaan dari peserta pelatihan, Deputi Menkokesra, Sujana Royat langsung menjawabnya dengan lugas, bahwa pemerintah telah menggariskan tidak boleh ada rakyat Indonesia yang ditolak oleh rumah sakit ketika mereka sakit dan harus di rawat di rumah sakit manapun. 

“Apabila ada rumah sakit yang menolak rakyat miskin yang ingin mendapatkan pelayanan kesehatan maka bisa langsung melaporkan melalui SMS pengaduan Menkokesra ke nomor 085880001949, dengan menyebutkan nama pasien, nama rumah sakit dan direktur rumah sakit tersebut, pasti laporan itu akan langsung ditindak lanjuti ke Crisis Centre Menteri Kesehatan dan akan langsung ditindak,” tegas Sujana.

Para peserta pelatihan nampak puas menerima penjelasan Deputi Menkokesra, setelah acara dialog berahir, peserta pelatihan PCM kembali mengikuti jalannya pelatihan dengan berbagai agenda yang telah disiapkan panitia. para peserta akan mendapatkan materi tentang Penguatan Visi Ke NU an, Pemetaan marginalitas dalam konteks global dan refleksi posisi CSO/Cabang di Indonesia, Konsep Project Cycle Management dan berbagai materi lainnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Tegal, Doa, Ahlussunnah Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Rabu, 13 Juli 2011

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Momen lebaran atau Idul Fitri dimanfaatkan oleh mayoritas masyarakat untuk mengunjungi para leluhurnya, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Selain mendoakan, hal ini juga sebagai tanda penghormatan seseorang kepada para orang tua agar selalu menjadi pelajaran sehingga tradisi baik tetap terawat.

Terkait hal ini, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan bahwa bersyukurlah seseorang yang memunyai leluhur terhormat dan mulia. Sebab, hal ini tentu akan menjadi sejarah tersendiri untuk terus membangun kemuliaan leluhur di masa depan.

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Terlena dengan Keturunan Terhormat dan Keluhuran Masa Lalu

“Jika kita punya leluhur terhormat dan mulia, maka bersyukurlah karena engkau terlahir dari keluarga terhormat dan mulia,” ujar Kiai Moqsith, Senin (11/7) dalam akun Facebook miliknya.

Namun, lanjutnya, jangan terlena dengan keluhuran masa lalu yang menyebabkan seseorang lupa membangun keluhuran di masa kini dan masa depan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Jika kita tak punya leluhur hebat, maka itu pun bukan akhir dari segalanya,” tegas Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Justru menurutnya, kita punya kesempatan membangun keluhuran di masa sekarang dan masa datang tanpa terbebani dengan keluhuran di masa lalu. Kita bisa membangun keluhuran dengan "rileks" karena tak ada leluhur hebat yang membebani.

“Sungguh, betapa banyak orang menjadi luar biasa sekalipun terlahir dari keluarga biasa. Tak sedikit orang terjatuh menjadi asfala safilin walau terlahir dari keluarga ala illiyin,” tutup Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo ini. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Sunnah, Sholawat, Kajian Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan