Sabtu, 28 Februari 2015

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Keberhasilan dalam sebuah berorganisasi bisa dilihat dari dua hal, pertama adalah perencanaan yang baik dan kedua adalah eksekusi yang baik dari perencanaan atau program-program yang dibuat. Rencana saja tanpa kerja atau kerja tanpa perencanaan, dua-duanya tidak mampu memberi hasil optimal. Dari aspek tersebut, salah satu perangkat NU yang layak mendapat apresiasi adalah Muslimat NU. Aksi nyata dari badan otonom NU bisa dilihat dari banyaknya layanan organisasi yang diberikan kepada masyarakat tanpa terlalu banyak ramai terlibat dalam berbagai isu “bising” yang menghabiskan energi, tetapi minim hasil.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan teladan apa yang bisa diambil oleh perangkat kelembagaan NU lain atau organisasi di luar NU? Tentu tidak ada faktor tunggal karena keberhasilan adalah kombinasi dari banyak upaya-upaya sistematis dalam memanfaatkan peluang dan tantangan yang menghadang. Tetapi hal penting yang patut dicontoh adalah kerja yang dilakukan oleh Muslimat NU adalah kerja-kerja riil yang bisa terukur dengan baik hasilnya seperti mendirikan taman kanak-kanak, koperasi, klinik dan rumah sakit, panti asuhan, dan lainnya.

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Dalam organisasi keagamaan atau pengembangan masyarakat, modal keuangan yang dimiliki sangat minim. Yang menjadi dasar adalah semangat untuk merubah kondisi masyarakat agar lebih baik. Tetapi, dengan berjalannya waktu, maka akan ada proses pembelajaran, ada akumulasi modal keuangan dan peningkatan ketrampilan mengelola lembaga tersebut. Muslimat NU juga memulai dari hal-hal kecil tapi nyata dan dari situlah mereka berkembang. Sebagaimana proses pertumbuhan manusia. Saat bayi dan anak-anak, kita semua meniru perilaku orang dewasa sampai akhirnya usia kita beranjak dan mampu bertindak atas kemampuan diri sendiri. Proses kemajuan sebuah negara juga menggunakan pola yang sama. Jepang, sebelum menjadi sebuah negara industri maju merupakan peniru dari produk-produk Barat, tetapi dengan berjalannya waktu, kualitas produksinya meningkat sampai akhirnya berhasil mengungguli produk dari Eropa dan Amerika. Strategi yang sama dikembangkan oleh Korea Selatan yang kini produknya juga sudah menguasai dunia. Dan hal yang sama kini dilakukan oleh China. Meskipun kini dikenal dengan produk dengan kualitas rendah, tetapi di masa depan, ada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas yang akhirnya bisa saja mengalahkan negara-negara lain di mana sebelumnya menjadi tempat belajar.

Muslimat NU juga belajar dengan meniru mereka yang lebih sukses, sampai akhirnya menemukan sebuah pola sendiri yang paling sesuai dengan budaya dan karakter organisasi. Muslimat tidak merancang program-program yang bombastis tapi minim aksi nyata. Hanya bermain dalam tataran wacana tetapi tidak ada eksekusi. Yang paling penting adalah memulai dari hal yang kecil tetapi nyata, dari situ bisa menjadi tempat untuk belajar banyak hal dan dari situlah proses pengembangan diri dimulai. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, maka kemajuan dan kematangan diperoleh. Organisasi Islam yang berhasil di Indonesia, juga menggunakan pola sebagaimana yang dijalankan oleh Muslimat NU. Mereka memfokuskan diri untuk melakukan kerja-kerja nyata dengan perspektif jangka panjang. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hal lain yang perlu dicermati dari Muslimat NU adalah perannya sebagai madrasah pertama bagi para putra-putrinya. Peran ini kini mendapat tantangan dalam era baru ketika banyak sekali ibu muda yang harus keluar rumah sehari penuh untuk bekerja sementara anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain. Hal lain adalah perkembangan teknologi informasi yang menerobos tanpa batas ke seluruh keluarga. Bagaimana Muslimat NU menyiapkan ibu-ibu dalam situasi baru, hal inilah yang mungkin harus dibahas dalam kongres ke-17 pekan ini yang berlangsung di Jakarta.

Dari sekian banyak prestasi yang telah dicapainya, ada satu persoalan penting yang juga perlu mendapat perhatian Muslimat NU. Sebuah organisasi, ditujukan untuk mampu terus bertahan sepanjang masa atau terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, mekanisme pergantian kepemimpinan harus disiapkan setiap saat. Puncak dari keberhasilan kepemimpinan bukan terjadi pada saat pemimpin saat ini masih berkuasa, tetapi adalah saat para penggantinya berhasil mempertahankan atau bahkan mengembangkan kesuksesan yang sudah diraihnya. Jangan sampai apa yang sudah dibangun dengan susah payah pada hari ini, runtuh di kemudian hari karena tidak ada penyiapan tongkat estafet kepemimpian.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tradisi yang berjalan di banyak organisasi masa kini adalah pembatasan masa kepemimpinan. Ini akan memaksa pemimpin periode yang sedang berjalan, untuk menyiapkan calon penggantinya. Ini juga akan mendorong, orang-orang paling potensial untuk berkompetisi dan menunjukkan potensi terbaiknya agar bisa berada dalam posis tertinggi. Ini juga akan mendorong para pemimpin saat ini untuk tidak selalu berada dalam area nyaman. Ia harus berusaha meraih posisi lebih tinggi yang lebih menantang di tempat lainnya jika ingin tetap mengaktualisasikan diri. Jika situasi seperti ini bisa berjalan dengan baik, organisasi akan menjadi sehat dan dinamis. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Meme Islam, Pemurnian Aqidah, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 31 Januari 2015

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun

Bekasi, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ualama (LKNU) menggelar Rapat Kerja (Raker) kedua di Hotel Santika Bekasi, Sabtu (11/3). Ketua LKNU Hisyam Said Budairi mengungkapkan Raker tersebut dilaksanakan sebagai evaluasi pelaksanaan program kerja LKNU selama setahun dan penyesuaian serta perbaikan langkah LKNU selanjutnya.

“Banyak hal yang bisa dicapai selama tahun ini, tetapi itu harus ditinjau kembali. Kondisi saat ini lumayan baik, namun ke depan tantangan tidak kalah beratnya,” kata Hisyam.

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun

Hisyam menyebut sejumlah program LKNU selama tahun 2016 terlaksana dengan baik dan berjalan lancar, di antaranya Community Empowerment of People Against Tuberculosis (CEPAT-LKNU), pengenalan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan Sub Recipient (SR) HIV.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara itu Ketua PBNU Syahrizal Syarif mengungkapkan, saat ini terdapat sejumlah persoalan kesehatan di Indonesia, seperti masih tingginya angka kematian ibu, dan gizi buruk pada anak. Hal itu harus menjadi perhatian LKNU.

Dari segi keuangan, Syahrizal mendorong adanya akuntabilitas dan transparansi setiap kegiatan dan program LKNU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kalau bisa? selain ada audit internal, juga ada audit eksternal LKNU untuk mewujudkan transparansi tersebut,” saran Syahrizal.

Selain itu, diharapkan LKNU semakin aktif di 34 provinsi. Dalam mengenalkan program LKNU berbagai pendekatan harus dilakukan, di antaranya mobilisasi massa dalam mengubah perilaku positif masyarakat dan kerja sama dengan berbagai pihak. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan News, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 24 Januari 2015

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Jepara, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Sya’roni Ahmadi mengatakan, keberadaan pesantren perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat supaya tetap eksis sebgai lembaga yang mengajarkan Islam.

Ia menyampaikan hal itu pada tausiyah tahtiman Al-Qur’an bin nadlor pesantren Roudlotul Huda dan Roudlotul Hidayah desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (16/6) sore.

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Keberadaan pesantren menurut dia, termaktub dalam Surat Baraah: 122. Intinya, orang Islam tidak baik berperang semua, namun harus ada yang menuntut ilmu agama. “Jika sudah pandai ilmu ditularkan kepada yang lain,” tambahnya.

Saking pentingnya pesantren, Kiai kharismatik asal kota Kretek tersebut menyebut beberapa madrasah di Kudus semisal Qudsiyah, TBS, Banat, Muallimat dan MAN Kudus 2 memiliki pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menjelaskan ganjaran perang hampir sama dengan menuntut ilmu. Perang yang dihukumi fardlu kifayah dikatakan sahid dunia akhirat. “Sedangkan santri yang wafat dalam majlis pengajian maka dikatakan sahid akhirat,” imbuh Kiai Sya’roni.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ke depan, santri tersebut akan menjadi pemimpin yang disegani bukan ditakuti. Pemimpin disegani ialah yang dicintai rakyatnya. Sedangkan yang ditakuti, pemimpin yang dibenci rakyat. Kiai Sya’roni menegaskan pemimpin yang disegani ialah yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Kiai, IMNU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 04 Januari 2015

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

Bangkalan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengabdian di NU tidak dibatasi oleh periodisasi waktu. Warga yang sudah tidak terlibat aktif dalam kepengurusan juga dapat terus berpartisipasi dalam organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Demikian disampaikan KH Fathurrohim A. Rahman, Wakil Ketua PCNU Bangkalan, Madura, dalam arahannya para pelantikan bersama beberapa MWCNU di Bangkalan, Ahad (12/5) yang bertempat di pendopo eks kawedanan Arosbaya.

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

KH Fathurrohim berharap semua pengurus berkomitment dengan amanat yang telah diterimanya. Kepada mantan pengurus yang pada periode kali ini tidak terpilih juga jangan menghilang, karena secara hakekat pengabdian di NU tidak dibatasi oleh masa periode waktu

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Berlakulah seperti orang memotong bambu diambil dari ujungnya, bukan dari bawah yang tidak terpilih. Semua harus menjadi pengikat dan memperkuat kepengurusan yang baru, sehingga upaya perjuangan untuk menjadikan jam’iyyah ini bermanfaat dapat segera terealisasi dan bisa dirasakan bersama,” kata adik kandung salah seorang wakil ketua PWNU Jawa Timur ini. 

Tiga kepengurusan MWCNU di wilayah eks Kawedanan Arosbaya yang meliptui MWCNU Arosbaya, Geger dan Klampis resmi dilantik dan diambil sumpahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mewakili tiga kepengurusan MWCNU yang dilantik Drs. H. Jakfar Al-Habary dalam sambutan pelantikannya mengingatkan bahwa apa yang telah dilakukan merupakan bentuk kesadaran dan ikhtiar pengabdiannya kepada jam’iyyah.

Rais Syuriyah MWCNU Klampis yang juga mantan Kasek SMAN Arosbaya ini meminta kepada semua kepengurusan yang ada, baik ranting maupun cabang untuk memberikan dukungan dan bimbingan sehingga apa yang dicanangkan untuk periode pengabdian lima tahun ke depan bisa lebih maximal dan berdaya guna baik kepada jama’ah maupun kepada jam’iyyah.

Sementara prosesi pelantikan dipimpin Wakil Rais PCNU Bangkalan KH Abdul Hannan Nawawi. Selain diisi dengan pengucapan baiat acara yang dilangsungkan secara sederhana ini juga diisi dengan pendalaman ke-NU-an dan Aswaja oleh DR. KH. Abdullah Syamsul Arifin.

Dalam mauidhohnya wakil katib PWNU Jawa Timur ini lebih banyak menerangkan tentang perlunya prilaku kolektif bagi pengurus NU. Prinsip sholat berjama’ah harus menjadi salah satu landasan kerja bagi kepengurusan, antara lain adanya kesamaan tujuan dalam segala hal, kepatuhan kepada pimpinan, serta mengenal jama’ah yang akan dipimpin

Terkait semangat kerja Gus Aab, panggilan akrab pegiat pembelaan aswaja yang juga mantan cawabup Jember ini mengajak kepada kepengurusan terpilih untuk memahami landasan didirikannya NU, yaitu Nahdlatut Tujjar (kemapanan ekonomi) Nahdlatul Wathon (nasionalisme ) dan Tasywirul Afkar (pengembangan keilmuan).

Acara pelantikan tiga MWCNU diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin ketua PCNU Bangkalan KH. Fachrillah Aschall.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 07 Desember 2014

Lewat Pentas PAI, Kemenag Ingin Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

Jakarta, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Kementerian Agama RI melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) menggelar Pentas Keterampilan dan Seni PAI pada 9-14 Oktober 2017. Penyelenggaraan Pentas PAI yang ke-8 ini mengambil tempat di Provinsi Aceh dengan mengangkat tema Merawat Keberagaman, Memantapkan Keberagamaan. 

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan, tema yang diangkat kali dalam Pentas PAI menunjukkan bahwa identitas keberagaman bangsa Indonesia harus terus dijaga dengan memupuk paham keagamaan yang menghargai terhadap sesama.

Lewat Pentas PAI, Kemenag Ingin Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Pentas PAI, Kemenag Ingin Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Pentas PAI, Kemenag Ingin Rawat Keberagaman dan Mantapkan Keberagamaan

“Karena dengan beragama yang kuat, manusia bisa merawat keberagaman,” ujar Kamaruddin dalam jumpa pers, Jumat (6/10) di Kantor Kementerian Agama Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini mengharapkan, sejumlah cabang keterampilan dan seni yang dilombakan dalam Pentas PAI mampu memperkuat sisi spiritual sekaligus sisi sosial anak didik.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Islam Imam Safei menerangkan, merawat keberagaman dan memantapkan keberagamaan anak didik adalah tanggung jawab bersama. Hal ini berangkat dari kesadaran menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Semakin mantap dan tinggi kualitas keagamaan, maka akan terwujud kehidupan harmonis dalam masyarakat yang majemuk,” jelas Imam Safei dalam kesempatan yang sama.

Pentas PAI ini akan diikuti oleh sekitar 1.200 siswa yang berasal dari SD, SMP, SMA, dan SMK dari 34 provinsi yang akan berkompetisi merebutkan prestasi tertinggi di bidang Pendidikan Agama Islam.

Kegiatan yang akan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin ini melombakan sejumlah bidang yaitu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Lomba Pidato PAI, Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ), Lomba Cerdas Cermat PAI, Lomba Kaligrafi Islam, Lomba Nasyid, Lomba Debat PAI, dan Lomba Kreasi Busana. (Fathoni)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren, Pendidikan, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 05 Desember 2014

Tak Ada Sapi, Kurban Sandal pun Jadi

Idul Adha atau Hari Raya Kurban telah berlalu. Namun, hari besar kedua umat Islam tersebut selalu menyisakan cerita menarik sekaligus menggelitik.

Suatu ketika, Kiai Jakfar memberikan khutbah Idul Adha di sebuah kampung yang penduduknya sebagian besar penduduk abangan dan Islam KTP.

Di tengah-tengah khutbah, Kiai Jakfar berkata: “Jadi, dalam beragama dan menjalankan agama itu kita harus siap berkurban, apapun itu.”

Tak Ada Sapi, Kurban Sandal pun Jadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Ada Sapi, Kurban Sandal pun Jadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Ada Sapi, Kurban Sandal pun Jadi

Kemudian dia melanjutkan: “Agama mengajarkan, Al-Muahafadzah alal qadhimissholih wal akhdzu bil jadidil ashlah yang artinya memelihara yang lama yang lebih baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik.”

Saat khutbah selesai, para jamaah pun bergegas kembali ke rumah masing-masing. Namun di tengah keriuhan jamaah keluar masjid, banyak yang kebingungan mencari-cari sandalnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Sepertinya banyak jamaah yang langsung mengamalkan khutbah kiai nih,” ujar Parmin mendatangi Kiai Jakfar.

Kiai Jakfar pun tak mau kehilangan momen untuk memberikan ceramah singkat: “Saudara-saudaraku, jangan bersedih hati, ini hari raya kurban, jadi kita harus berkurban meskipun itu berupa sandal.” (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan RMI NU, AlaSantri Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 08 November 2014

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro

Bojonegoro, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Puluhan anggota Banser NU desa Wedi kecamatan Kapas, Bojonegoro, berpenampilan ala prajurit perang. Mereka turut memeriahkan Hari Jadi ke-337 Bojonegoro dan melebur ke dalam karnaval yang bergerak dari jalan P Mas Tumapel, jalan Imam Bonjol, dan berakhir di halaman Pemkab Bojonegoro, Ahad (12/10).

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Ikuti Karnaval Hari Jadi Bojonegoro

Penampilan anggota Banser NU yang tengah menaiki kendaraan lapis baja ini menarik perhatian ribuan warga sepanjang rute karnaval. "Kaya tentara itu Banser," ujar Sidik, salah seorang penonton karnaval.

"Pawai budaya kali ini dinilai yang paling meriah, karena melibatkan berbagai unsur di antaranya tamu kehormatan dari 4 kabupaten, sektor jasa baik hotel maupun rumah makan serta masyarakat umum," terang Ketua panitia penyelenggara, Kusbiyanto.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dalam karnaval ini juga ditampilkan kearifan lokal seperti asal usul dusun Suwalan Desa Sambiroto kecamatan Kapas, asal usul desa Gading kecamatan Tambarejo serta cerita tradisional di desa Ngringinrejo kecamatan Kalitidu.

Kapolres Bojonegoro AKBP Ady Wibowo sesaat sebelum memberangkatkan peserta pawai budaya mengharapkan agar peserta pawai menjaga keselamatan diri dengan mematuhi peraturan tertib berlalu lintas.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

"Apalagi di saat kondisi ramai seperti saat ini, keselamatan harus diutamakan dan saling menghormati dengan sesama pengguna jalan," jelas Ady Wibowo. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Ulama, IMNU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan