Kamis, 30 April 2015

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat

Jombang, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Untuk dapat menciptakan lingkungan yang sehat, para santri dapat mengambil peran. Pemahaman terkait permasalahan kesehatan dan kebersihan harus menjadi perhatian agar niat mulia tersebut dapat terwujud.

Harapan ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dr Kohar Hari Santoso saat berada di Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Peterongan Jombang. Dokter Kohar hadir sebagai pemateri pada kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau Germas yang diikuti ratusan santri dari berbagai pesantren di kota santri tersebut.

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Diminta Berperan Aktif dalam Gerakan Masyarakat Sehat

Menurutnya, Germas setidaknya memiliki agenda untuk dapat melakukan perubahan perilaku. "Melakukan aktivitas fisik, kemudian meningkatnya konsumsi sayur dan buah khususnya lokal, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala," katanya, Jumat (18/11).

Keberadaan gerakan ini semakin penting untuk dapat disukseskan di pesantren. "Karena pesantren adalah tempat mendidik generasi muda penerus pembangunan yang berkualitas sekaligus sebagai agen perubahan," katanya. Apalagi kesehatan perlu mendapat perhatian khusus, lanjutnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dokter Kohar juga mengapresiasi kiprah pesantren yang berkenan menciptakan lingkungan bersih dan sehat. "Saya menyaksikan sendiri ada sejumlah pesantren yang telah membuat larangan merokok di lingkungannya," ungkapnya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa perilaku sehat telah dimulai secara serius di pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selanjutnya dia berharap komunitas pesantren dapat memiliki pengetahuan yang komprehensif terhadap sejumlah masalah kesehatan. "Termasuk masalah gizi, kesehatan lingkungan, penyakit menular, serta masalah kesehatan lainnya," ungkapnya.

Di akhir paparanya, dokter Kohar dengan didampingi pemandu acara dan narasumber lain mempraktikkan cara mencuci tangan sesuai ketentuan kesehatan. Para peserta dengan antusias mengikuti serta menirukan panduan yang dikemas dalam lagu tersebut.

Kegiatan ini dikemas dalam Talk Show? bertema "Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Melalui Gerakan Pesantren Sehat". Acara yang terselenggara atas kerja sama Lembaga Kesehatan PBNU dan Pusat Promosi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini menghadirkan sejumlah pembicara.

Sejumlah pembicara dihadirkan yakni Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Heri Wibowo, serta KH Zulfikar Asad yang juga salah seorang majelis pengasuh di PPDU. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Cerita Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jumat, 10 April 2015

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern

Probolingo, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pesantren Kiai Sekar Al Amri di Desa Sumberkedawung Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo mengembangkan pendidikan yang berpadu antara salafiyah dan modern. Tidak hanya ingin menciptakan santri yang pandai berdakwah saja, namun pengasuh pesantren juga ingin sosok santri itu cerdas secara intelektual.

Hal itu terlihat dari lengkapnya pendidikan formal yang berada di kawasan pesantren. Mulai dari TK Islam Terpadu, SD Islam Terpadu, SMP Islam Terpadu dan SMA Islam Terpadu. Saat ini pesantren tersebut memiliki santri mencapai 600 orang, dan separuhnya merupakan santri bermukim.

Pesantren Kiai Pesantren Kiai Sekar Al Amri memiliki sejarah yang panjang. Didirikan sejak tahun 1850 oleh Kiai Muhtadin atau lebih dikenal dengan Kiai Sekar. Sempat vakum karena tidak ada garis keturunan laki-laki, namun kembali aktif pada tahun 1965. Adalah Kiai Muhammad Suhud yang kembali mengaktifkan pesantren tersebut. Kiai Suhud merupakan ayah Kiai Abdullah Zamroni pengasuh sekaligus ketua yayasan pendidikan saat ini. ?

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern (Sumber Gambar : Nu Online)
Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern (Sumber Gambar : Nu Online)

Sempat Terhenti, Pesantren Kiai Sekar Al Amri Probolinggo Bangkit dengan Memadukan Metode Salafiyah-Modern

“Pesantren ini sempat vakum setelah generasi kedua, karena tidak ada garis keturunan laki-laki. Baru ketika ayah dewasa tahun 1965, diaktifkan kembali. Kemudian pada tahun 1998, pesantren ini berganti nama menjadi Pesantren Kyai Sekar Al Amri,” kata Kiai Zamroni, Selasa (14/6).

Zamroni sendiri sejak tahun 2010 menjadi ketua yayasan di pesantren ini. Sejak awal anak ketiga dari lima bersaudara ini fokus untuk bidang pendidikan. “Kalau dihitung dari segi usia, pesantren ini tergolong pesantren tua. Namun semakin lama kami juga mengikuti perkembangan zaman. Awalnya pesantren ini merupakan pesantren salaf,” jelasnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Kiai yang pernah mondok di Pondok Jauhari Kabupaten Jember ini mengaku ingin menyandingkan konsep pendidikan salaf dengan pendidikan modern. “Sejak pukul 07.00 sampai pukul 15.00 dilangsungkan kegiatan sekolah. Setelah itu, baru kegiatan pondok dilakukan seperti Tanfidz Qur’an,” tegasnya.

Pendidikan Al-Qur’an telah diajarkan sejak usia dini. Sejak TK diajarkan hafalan surat-surat pendek. Kemudian, masuk jenjang SD diajarkan hafalan juz Amma atau juz 30. Baru pada jenjang pendidikan SMP, santri diarahkan untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Perkembangan zaman pun diikuti oleh pesantren ini. Pengasuh serta guru-guru tidak menafikkan pentingnya prestasi akademik bagi siswa. “Sosok santri Al Amri diharapkan menpunyai kepribadian Islam, intelektual serta mandiri. Namun yang paling penting tujuan pondok pesantren adalah mencetak pendakwah-pendakwah,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Zunus)

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Pesantren Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Selasa, 07 April 2015

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan yang kami hormati. Tetangga kami ada yang non-Muslim, tetapi kami hidup berdampingan dengan rukun. Bahkan kami selalu saling mengunjungi satu sama lainnya, saling membantu, dan sering berbagi makanan.

Alhamdulillah bulan ini kami berniat untuk kurban. Yang ingin kami tanyakan, bagaimana hukumnya membagikan daging kurban kepada orang non-Muslim? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Nama dirahasiakan/Ciledug)

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Bagikan Daging Kurban kepada Non-Muslim

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Idul Adha memang selalu identik dengan hari raya kurban. Kaum muslimin yang mampu biasanya menyisihkan sebagain rezekinya untuk membeli hewan kurban sebagai pengamalan dari ajaran Islam itu sendiri. Karena memang berkurban itu sendiri sangat dianjurkan.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Jika seorang Muslim berkurban dan membagikan dagingnya kepada orang miskin dan para tetangga yang sama-sama Muslim, maka hal itu adalah hal yang biasa dan tidak menjadi persoalan.

Yang menjadi “gegeran” para ulama adalah ketika daging kurban itu juga diberikan kepada orang non-Muslim. Pendapat pertama “ngotot” untuk tidak memperbolehkan memberikan daging kurban kepada non-Muslim secara mutlak.

Sedang pendapat kedua menyatakan boleh, bahkan menurut keterangan dalam kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, dan pendapat ini dianggap selaras dengan ketentuan dalam Madzhab Syafi’i itu sendiri. Demikian sebagaimana keterangan yang terdapat dalam kitab Nihayatul Muhtaj.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Apabila seseorang berkurban untuk orang lain atau ia menjadi murtad, maka ia tidak boleh memakan daging kurban tersebut sebagaimana tidak boleh memberikan makan dengan daging kurban kepada orang kafir secara mutlak. Dari sini dapat dipahami bahwa orang fakir atau orang (kaya, pent) diberi yang kurban tidak boleh memberikan sedikitpun kepada orang kafir. Sebab, tujuan dari kurban adalah memberikan belas kasih kepada kaum Muslim dengan memberi makan kepada mereka, karena kurban itu sendiri adalah jamuan Allah untuk mereka. Maka tidak boleh bagi mereka memberikan kepada selain mereka. Akan tetapi menurut pendapat ketentuan Madzhab Syafi’i cenderung membolehkanya,” (Lihat Syamsuddin Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj, Beirut, Darul Fikr, 1404 H/1984 M, juz VIII, halaman 141).

Logika yang dibangun untuk mendukung pendapat ini adalah bahwa tujuan kurban itu sendiri adalah untuk menunjukkan belas kasih kepada orang-orang Muslim dengan cara memberi makan kepada mereka.

Sebab, hewan kurban adalah jamuan Allah (dhiyafatullah) untuk mereka pada hari raya Idul Adha. Konsekuensi logis dari cara pandangan seperti adalah tidak diperbolehkan memberikan daging kurban kepada non-Muslim.

Adapun argumentasi yang dibangun untuk meneguhkan pandangan yang memperbolehkan untuk memberikan daging kurban kepada orang non-Muslim adalah bahwa berkurban itu merupakan sedekah. Sedangkan tidak ada larangan untuk memberikan sedekah kepada pihak non-Muslim.

Namun kebolehan memberikan daging kurban kepada non-Muslim tidak bisa dipahami secara mutlak. Tetapi harus dibaca dalam konteks non-Muslim yang bukan harbi (non-Muslim yang tidak memusuhi orang Islam). Dan bukan kurban wajib, tetapi kurban sunah.

Dengan kata lain, diperbolehkan memberikan sedekah—termasuk di dalamnya memberikan daging kurban—selain kepada kafir harbi (non-Muslim yang memerangi atau memusuhi umat Islam).

? : ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? . ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pasal: dan boleh memberikan makan dari hewan kurban kepada orang kafir. Inilah pandangan yang yang dikemukakan oleh Al-Hasanul Bashri, Abu Tsaur, dan kelompok rasionalis (ashhabur ra’yi). Imam Malik berkata, ‘Selain mereka (orang kafir) lebih kami sukai’. Menurut Imam Malik dan Al-Laits, makruh memberikan kulit hewan kurban kepada orang Nasrani. Sedang menurut kami, itu adalah makanan yang boleh dimakan karenanya boleh memberikan kepada kafir dzimmi sebagaimana semua makanannya, (Lihat Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Beirut, Darul Fikr, cet ke-1, 1405 H, juz XI, halaman 105).

Dari penjelasan di atas, kita dapat mentarik kesimpulan bahwa dalam soal hukum memberikan daging kurban kepada non-Muslim ada dua pendapat. Ada yang melarang secara mutlak, dan ada yang membolehkan tetapi dengan syarat bukan kurban wajib dan penerimanya bukan kafir harbi.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. Perbanyak sedekah karena sedekah dapat menghindari bala.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Habib Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 28 Februari 2015

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Keberhasilan dalam sebuah berorganisasi bisa dilihat dari dua hal, pertama adalah perencanaan yang baik dan kedua adalah eksekusi yang baik dari perencanaan atau program-program yang dibuat. Rencana saja tanpa kerja atau kerja tanpa perencanaan, dua-duanya tidak mampu memberi hasil optimal. Dari aspek tersebut, salah satu perangkat NU yang layak mendapat apresiasi adalah Muslimat NU. Aksi nyata dari badan otonom NU bisa dilihat dari banyaknya layanan organisasi yang diberikan kepada masyarakat tanpa terlalu banyak ramai terlibat dalam berbagai isu “bising” yang menghabiskan energi, tetapi minim hasil.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan teladan apa yang bisa diambil oleh perangkat kelembagaan NU lain atau organisasi di luar NU? Tentu tidak ada faktor tunggal karena keberhasilan adalah kombinasi dari banyak upaya-upaya sistematis dalam memanfaatkan peluang dan tantangan yang menghadang. Tetapi hal penting yang patut dicontoh adalah kerja yang dilakukan oleh Muslimat NU adalah kerja-kerja riil yang bisa terukur dengan baik hasilnya seperti mendirikan taman kanak-kanak, koperasi, klinik dan rumah sakit, panti asuhan, dan lainnya.

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Dalam organisasi keagamaan atau pengembangan masyarakat, modal keuangan yang dimiliki sangat minim. Yang menjadi dasar adalah semangat untuk merubah kondisi masyarakat agar lebih baik. Tetapi, dengan berjalannya waktu, maka akan ada proses pembelajaran, ada akumulasi modal keuangan dan peningkatan ketrampilan mengelola lembaga tersebut. Muslimat NU juga memulai dari hal-hal kecil tapi nyata dan dari situlah mereka berkembang. Sebagaimana proses pertumbuhan manusia. Saat bayi dan anak-anak, kita semua meniru perilaku orang dewasa sampai akhirnya usia kita beranjak dan mampu bertindak atas kemampuan diri sendiri. Proses kemajuan sebuah negara juga menggunakan pola yang sama. Jepang, sebelum menjadi sebuah negara industri maju merupakan peniru dari produk-produk Barat, tetapi dengan berjalannya waktu, kualitas produksinya meningkat sampai akhirnya berhasil mengungguli produk dari Eropa dan Amerika. Strategi yang sama dikembangkan oleh Korea Selatan yang kini produknya juga sudah menguasai dunia. Dan hal yang sama kini dilakukan oleh China. Meskipun kini dikenal dengan produk dengan kualitas rendah, tetapi di masa depan, ada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas yang akhirnya bisa saja mengalahkan negara-negara lain di mana sebelumnya menjadi tempat belajar.

Muslimat NU juga belajar dengan meniru mereka yang lebih sukses, sampai akhirnya menemukan sebuah pola sendiri yang paling sesuai dengan budaya dan karakter organisasi. Muslimat tidak merancang program-program yang bombastis tapi minim aksi nyata. Hanya bermain dalam tataran wacana tetapi tidak ada eksekusi. Yang paling penting adalah memulai dari hal yang kecil tetapi nyata, dari situ bisa menjadi tempat untuk belajar banyak hal dan dari situlah proses pengembangan diri dimulai. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, maka kemajuan dan kematangan diperoleh. Organisasi Islam yang berhasil di Indonesia, juga menggunakan pola sebagaimana yang dijalankan oleh Muslimat NU. Mereka memfokuskan diri untuk melakukan kerja-kerja nyata dengan perspektif jangka panjang. ?

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Hal lain yang perlu dicermati dari Muslimat NU adalah perannya sebagai madrasah pertama bagi para putra-putrinya. Peran ini kini mendapat tantangan dalam era baru ketika banyak sekali ibu muda yang harus keluar rumah sehari penuh untuk bekerja sementara anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain. Hal lain adalah perkembangan teknologi informasi yang menerobos tanpa batas ke seluruh keluarga. Bagaimana Muslimat NU menyiapkan ibu-ibu dalam situasi baru, hal inilah yang mungkin harus dibahas dalam kongres ke-17 pekan ini yang berlangsung di Jakarta.

Dari sekian banyak prestasi yang telah dicapainya, ada satu persoalan penting yang juga perlu mendapat perhatian Muslimat NU. Sebuah organisasi, ditujukan untuk mampu terus bertahan sepanjang masa atau terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, mekanisme pergantian kepemimpinan harus disiapkan setiap saat. Puncak dari keberhasilan kepemimpinan bukan terjadi pada saat pemimpin saat ini masih berkuasa, tetapi adalah saat para penggantinya berhasil mempertahankan atau bahkan mengembangkan kesuksesan yang sudah diraihnya. Jangan sampai apa yang sudah dibangun dengan susah payah pada hari ini, runtuh di kemudian hari karena tidak ada penyiapan tongkat estafet kepemimpian.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Tradisi yang berjalan di banyak organisasi masa kini adalah pembatasan masa kepemimpinan. Ini akan memaksa pemimpin periode yang sedang berjalan, untuk menyiapkan calon penggantinya. Ini juga akan mendorong, orang-orang paling potensial untuk berkompetisi dan menunjukkan potensi terbaiknya agar bisa berada dalam posis tertinggi. Ini juga akan mendorong para pemimpin saat ini untuk tidak selalu berada dalam area nyaman. Ia harus berusaha meraih posisi lebih tinggi yang lebih menantang di tempat lainnya jika ingin tetap mengaktualisasikan diri. Jika situasi seperti ini bisa berjalan dengan baik, organisasi akan menjadi sehat dan dinamis. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Meme Islam, Pemurnian Aqidah, Quote Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 31 Januari 2015

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun

Bekasi, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan - Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ualama (LKNU) menggelar Rapat Kerja (Raker) kedua di Hotel Santika Bekasi, Sabtu (11/3). Ketua LKNU Hisyam Said Budairi mengungkapkan Raker tersebut dilaksanakan sebagai evaluasi pelaksanaan program kerja LKNU selama setahun dan penyesuaian serta perbaikan langkah LKNU selanjutnya.

“Banyak hal yang bisa dicapai selama tahun ini, tetapi itu harus ditinjau kembali. Kondisi saat ini lumayan baik, namun ke depan tantangan tidak kalah beratnya,” kata Hisyam.

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Selain Evaluasi, Raker LKNU Ungkap Capaian Kinerja Setahun

Hisyam menyebut sejumlah program LKNU selama tahun 2016 terlaksana dengan baik dan berjalan lancar, di antaranya Community Empowerment of People Against Tuberculosis (CEPAT-LKNU), pengenalan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan Sub Recipient (SR) HIV.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sementara itu Ketua PBNU Syahrizal Syarif mengungkapkan, saat ini terdapat sejumlah persoalan kesehatan di Indonesia, seperti masih tingginya angka kematian ibu, dan gizi buruk pada anak. Hal itu harus menjadi perhatian LKNU.

Dari segi keuangan, Syahrizal mendorong adanya akuntabilitas dan transparansi setiap kegiatan dan program LKNU.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Kalau bisa? selain ada audit internal, juga ada audit eksternal LKNU untuk mewujudkan transparansi tersebut,” saran Syahrizal.

Selain itu, diharapkan LKNU semakin aktif di 34 provinsi. Dalam mengenalkan program LKNU berbagai pendekatan harus dilakukan, di antaranya mobilisasi massa dalam mengubah perilaku positif masyarakat dan kerja sama dengan berbagai pihak. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan News, Bahtsul Masail Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Sabtu, 24 Januari 2015

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Jepara, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Musytasar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Sya’roni Ahmadi mengatakan, keberadaan pesantren perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat supaya tetap eksis sebgai lembaga yang mengajarkan Islam.

Ia menyampaikan hal itu pada tausiyah tahtiman Al-Qur’an bin nadlor pesantren Roudlotul Huda dan Roudlotul Hidayah desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Senin (16/6) sore.

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tersirat dalam Al-Quran Surat Baraah 122

Keberadaan pesantren menurut dia, termaktub dalam Surat Baraah: 122. Intinya, orang Islam tidak baik berperang semua, namun harus ada yang menuntut ilmu agama. “Jika sudah pandai ilmu ditularkan kepada yang lain,” tambahnya.

Saking pentingnya pesantren, Kiai kharismatik asal kota Kretek tersebut menyebut beberapa madrasah di Kudus semisal Qudsiyah, TBS, Banat, Muallimat dan MAN Kudus 2 memiliki pesantren.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ia menjelaskan ganjaran perang hampir sama dengan menuntut ilmu. Perang yang dihukumi fardlu kifayah dikatakan sahid dunia akhirat. “Sedangkan santri yang wafat dalam majlis pengajian maka dikatakan sahid akhirat,” imbuh Kiai Sya’roni.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Ke depan, santri tersebut akan menjadi pemimpin yang disegani bukan ditakuti. Pemimpin disegani ialah yang dicintai rakyatnya. Sedangkan yang ditakuti, pemimpin yang dibenci rakyat. Kiai Sya’roni menegaskan pemimpin yang disegani ialah yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Warta, Kiai, IMNU Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Minggu, 04 Januari 2015

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

Bangkalan, Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan. Pengabdian di NU tidak dibatasi oleh periodisasi waktu. Warga yang sudah tidak terlibat aktif dalam kepengurusan juga dapat terus berpartisipasi dalam organisasi untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Demikian disampaikan KH Fathurrohim A. Rahman, Wakil Ketua PCNU Bangkalan, Madura, dalam arahannya para pelantikan bersama beberapa MWCNU di Bangkalan, Ahad (12/5) yang bertempat di pendopo eks kawedanan Arosbaya.

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengabdian di NU Tak Terbatas Waktu

KH Fathurrohim berharap semua pengurus berkomitment dengan amanat yang telah diterimanya. Kepada mantan pengurus yang pada periode kali ini tidak terpilih juga jangan menghilang, karena secara hakekat pengabdian di NU tidak dibatasi oleh masa periode waktu

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

“Berlakulah seperti orang memotong bambu diambil dari ujungnya, bukan dari bawah yang tidak terpilih. Semua harus menjadi pengikat dan memperkuat kepengurusan yang baru, sehingga upaya perjuangan untuk menjadikan jam’iyyah ini bermanfaat dapat segera terealisasi dan bisa dirasakan bersama,” kata adik kandung salah seorang wakil ketua PWNU Jawa Timur ini. 

Tiga kepengurusan MWCNU di wilayah eks Kawedanan Arosbaya yang meliptui MWCNU Arosbaya, Geger dan Klampis resmi dilantik dan diambil sumpahnya.

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan

Mewakili tiga kepengurusan MWCNU yang dilantik Drs. H. Jakfar Al-Habary dalam sambutan pelantikannya mengingatkan bahwa apa yang telah dilakukan merupakan bentuk kesadaran dan ikhtiar pengabdiannya kepada jam’iyyah.

Rais Syuriyah MWCNU Klampis yang juga mantan Kasek SMAN Arosbaya ini meminta kepada semua kepengurusan yang ada, baik ranting maupun cabang untuk memberikan dukungan dan bimbingan sehingga apa yang dicanangkan untuk periode pengabdian lima tahun ke depan bisa lebih maximal dan berdaya guna baik kepada jama’ah maupun kepada jam’iyyah.

Sementara prosesi pelantikan dipimpin Wakil Rais PCNU Bangkalan KH Abdul Hannan Nawawi. Selain diisi dengan pengucapan baiat acara yang dilangsungkan secara sederhana ini juga diisi dengan pendalaman ke-NU-an dan Aswaja oleh DR. KH. Abdullah Syamsul Arifin.

Dalam mauidhohnya wakil katib PWNU Jawa Timur ini lebih banyak menerangkan tentang perlunya prilaku kolektif bagi pengurus NU. Prinsip sholat berjama’ah harus menjadi salah satu landasan kerja bagi kepengurusan, antara lain adanya kesamaan tujuan dalam segala hal, kepatuhan kepada pimpinan, serta mengenal jama’ah yang akan dipimpin

Terkait semangat kerja Gus Aab, panggilan akrab pegiat pembelaan aswaja yang juga mantan cawabup Jember ini mengajak kepada kepengurusan terpilih untuk memahami landasan didirikannya NU, yaitu Nahdlatut Tujjar (kemapanan ekonomi) Nahdlatul Wathon (nasionalisme ) dan Tasywirul Afkar (pengembangan keilmuan).

Acara pelantikan tiga MWCNU diakhiri dengan pembacaan doa yang dipimpin ketua PCNU Bangkalan KH. Fachrillah Aschall.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan Berita, Hadits Misbahul Huda Al-Amiriyah Kambangan